Ari Anshori, Ari
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

ANGKATAN MUDA MUHAMMADIYAH DAN DAKWAH PENCERAHAN BERBASIS HERMENEUTIKA? Anshori, Ari
Suhuf Vol 27, No 2 (2015): Nopember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orang beriman diperintah Allah dan Rasul-Nya untuk berdakwah, menyeru kepada jalan Tuhan dengan hikmah, maksudnya menunjukkan perbedaan antara yang hak dan yang batil, dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang baik. Angkatan Muda Muhammadiyah dituntut untuk berdakwah dalam multi aspek dengan berbekal sabar, amanah, adil dan istiqamah, sehingga dapat berpartisipasi membangun Indonesia yang berkemajuan. Indonesia sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya Islam, termasuk di dalamnya warga Muhammadiyah, adalah merupakan ujian bagi umat Islam untuk membuktikan perannya sebagai rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, ajaran Islam tidak seharusnya hanya dipraktikkan dalam ritual keagamaan yang artifisial saja. Melainkan harus sampai pada hakikat dan makrifat sebagai religious spirituality of Muhammadiyah Youth Association.Hermeneutika sebagaimana diutarakan oleh M. Quraish Shihab, “tidak semua ide yang diketengahkan oleh berbagai aliran dan pakar hermeneutika merupakan ide yang keliru atau negatif. Pasti ada di antaranya yang baik dan baru serta dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan, bahkan memperkaya penafsiran, termasuk penafsiran al-Qur’an”. Meski demikian kehati-hatian harus digaris bawahi bahwa bisa jadi ada kesalahan dan praktik penggunaannya ketika digunakan menafsirkan al-Qur’an.
CORAK TAFHIM AL-QUR’AN DENGAN METODE MANHAJI Anshori, Ari
Profetika Vol. 16, No. 1, Juni 2015
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.208 KB)

Abstract

many varieties and ways for someone to understand al-Qur’an or tafhim al-Qur’an. It is because one’s ability to understand and to explain about the essence of Allah’s commandment is different, based on his/her ability and understanding himself/herself. The difference in understanding is not separable from many factors, among other are: the level of intellegence, the level of education, the level of underlying religious understanding. The focus of problem in this research was to find the proper formulation of tafhim, in order that the messages contained in al-Qur’an are easy to understand correctly based on the text and the context of the referred verse. The results of the research were: that al-Qur’an has verses in the forms of muhkamat and mutasyabihat, therefore, to understand them, aided tools are needed such as tafhim manhaji, in order that the messages contained on them can be understood correctly based on the referred text and context. Although it is proper to appreciate if every effort of tafhim and interpretation of al-Qur’an always uses a method or strategy of new study, including a new style contained in the tafhim manhaji of al-Qur’an, because the method of tafhim manhaji is considered as being able to reduce many kinds of abstruse in understanding the verses of Allah written in al-Qur’an or verses which are broadly spread on this universe.
PROBLEMATIKA PERKADERAN DI PERGURUAN TINGGI MUHAMMADIYAH (PTM) Anshori, Ari
Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah Vol 15, No 1 (2017): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.632 KB)

Abstract

Pada hakikatnya ber-Muhammadiyah, ialah memimpinkan Islam kepada warga Muhammadiyah, dalam konteks Civitas Akademika PTM ialah memimpinkan Islam kepada segenap warga almamater di lingkungan PTM. Dalam konteks persyarikatan, kini ke depan yang diperlukan adalah pengayaan (enrichment) dalam tajdid Muhammadiyah, baik yang berdimensi purifikasi maupun dinamisasi, termasuk dalam memaknai pendekatan bayani, burhani, dan irfani dalam manhaj tarjih Muhammadiyah. Terpaku dalam dinamisasi dan purifikasi sebagai jalan tengah tidak boleh bersifat pasif-doktriner belaka, karena keduanya memerlukan pengayaan dalam subtansi dan metodologinya. Pemurnian dan pembaruan yang berjargon belaka apalagi kering dari teori dan metodologi hanya akan menjadi lapuk dalam slogan moderasi yang pasif
ANGKATAN MUDA MUHAMMADIYAH DAN DAKWAH PENCERAHAN BERBASIS HERMENEUTIKA? Anshori, Ari
Suhuf Vol 27, No 2 (2015): Nopember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11007.007 KB)

Abstract

Orang beriman diperintah Allah dan Rasul-Nya untuk berdakwah, menyeru kepada jalan Tuhan dengan hikmah, maksudnya menunjukkan perbedaan antara yang hak dan yang batil, dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang baik. Angkatan Muda Muhammadiyah dituntut untuk berdakwah dalam multi aspek dengan berbekal sabar, amanah, adil dan istiqamah, sehingga dapat berpartisipasi membangun Indonesia yang berkemajuan. Indonesia sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya Islam, termasuk di dalamnya warga Muhammadiyah, adalah merupakan ujian bagi umat Islam untuk membuktikan perannya sebagai rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, ajaran Islam tidak seharusnya hanya dipraktikkan dalam ritual keagamaan yang artifisial saja. Melainkan harus sampai pada hakikat dan makrifat sebagai religious spirituality of Muhammadiyah Youth Association.Hermeneutika sebagaimana diutarakan oleh M. Quraish Shihab, “tidak semua ide yang diketengahkan oleh berbagai aliran dan pakar hermeneutika merupakan ide yang keliru atau negatif. Pasti ada di antaranya yang baik dan baru serta dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan, bahkan memperkaya penafsiran, termasuk penafsiran al-Qur’an”. Meski demikian kehati-hatian harus digaris bawahi bahwa bisa jadi ada kesalahan dan praktik penggunaannya ketika digunakan menafsirkan al-Qur’an.
PEMIKIRAN BAKR BIN ABDULLAH DAN ABDUL QADIR BIN ABDUL AZIZ TENTANG ADAB DAN AKHLAK PENUNTUT ILMU Anshori, Ari; Fanany, Abdullah Ali
Profetika Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 2 Desember 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.019 KB) | DOI: 10.23917/profetika.v18i2.7431

Abstract

The background of this study is that the study is closely related to morals and manners, the companions of Allah's Apostle Shallallahu alaihi wasallam began studying to learn manners and morals. Having manners and morals will make easy science to be learned from a teacher, so blessing and will be absorbed into the benefits of life. Knowing the purpose of this study is the concept of the sheikh Bakr bin Abdullah and Shaykh Abdul Qadir bin Abdul Aziz on manners and morals prosecution of science. Tracing paper is Ḥilyah Ṭālib al-‘Ilm sheikh Bakr and works sheikh Abdul Qadir Al Jāmi` fī Ṭolabil `Ilmisy Syarīf. As well as knowing the differences and similarities view of Sheikh Bakr bin Abdullah and Sheikh Abdul Qadir Abdul Aziz on manners and morals prosecution of science. Difficulties encountered in this study is a book by Shaykh Abdul Qadir bin Abdul Aziz Al Jāmi` fī Ṭolabil `Ilmisy Syarīf unsold `free. He was a prisoner and was sentenced to life imprisonment by the Egyptian government because its association with global jihad. The method used is the literature using this type of comparative research, the approach used in this study is a philosophical approach, which is to examine the figures and reveal the thinking behind the visible nature of things. Methods of data collection in this study using the method of document review. The results showed that the First: Comparison of manners and morals prosecution of science in the eyes of the sheikh Bakr and Sheikhs Abdul Qadir refer book Ḥilyah Ṭālib al-‘Ilm and book Al Jāmi` fī Ṭolabil `Ilmisy Syarīf does not have much difference. Both are consistent with the Qur'an and Sunnah, as well as determine the good and bad morals through the Qur'an and the Sunnah and not others. Second: Second: the conclusion of the book Al Jāmi` fī Ṭolabil `Ilmisy Syarīf by Sheikh Abdul Qadir morals relating to `Alim and Muta'alim is sincere in the intention, really use the time, occupy yourself with your most important science, right in choosing the source (reference) book, beginning with science, patience to study and teach it. Third: The conclusion of book Ḥilyah Ṭālib al-‘Ilm is a self-contained in the claimant of science such as Science is worship, follow the path of the salafus ṣolih, always fear Allah Subhānahu wa ta'ālā. Manners in the scientific life of the spirit in science, passionate in studying, traveling far in their studies, keep the knowledge in writing. Invalidate-canceling this provision include resentment, envy, prejudice, sit together heretical, stepped to the forbidden. Latar belakang penelitian ini adalah bahwa menuntut ilmu berkaitan erat dengan akhlak dan adab, para sahabat Rasulallah Shallallahu alaihi wasallam mulai menimba ilmu dengan belajar adab dan akhlak. Memiliki adab dan akhlak akan menjadikan mudahnya ilmu yang akan dipelajari dari seorang guru, sehingga berbarokah dan akan terserap menjadi manfaat dalam hidup. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui konsep syeikh Bakr bin Abdullah dan syeikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz tentang adab dan akhlak penuntut ilmu. Menelusuri karya syeikh Bakr yaitu Ḥilyah Ṭālib al-‘Ilm dan karya syeikh Abdul Qadir Al Jāmi` fī Ṭolabil `Ilmisy Syarīf. Serta mengetahui perbedaan dan persamaan pandangan Syeikh Bakr bin Abdullah dan Syeikh Abdul Qadir Abdul Aziz tentang adab dan akhlak penuntut ilmu. Kesulitan yang dihadapai dalam penelitian ini yaitu buku karya syeikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz Al Jāmi` fī Ṭolabil `Ilmisy Syarīf tidak terjual bebas. Beliau menjadi tahanan dan divonis penjara seumur hidup oleh pemerintah Mesir sebab keterkaitannya dengan jihad global. Metode penelitian yang digunakan adalah kepustakaan (library research) menggunakan jenis penelitian perbandingan atau komparatif, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan filosofis, yaitu untuk meneliti pemikiran tokoh dan mengungkapkan dibalik hakikat segala sesuatu yang nampak. Metode pengumpulan data dalam kajian ini menggunakan metode telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertama: Perbandingan adab dan akhlak penuntut ilmu menurut pandangan syeikh Bakr dan syeikh Abdul Qadir merujuk pada buku Ḥilyah Ṭālib al-‘Ilm dan buku Al Jāmi` fī Ṭolabil `Ilmisy Syarīf tidak memiliki perbedaan yang jauh. Keduanya bersesuaian dengan al Qur’an dan as Sunnah, serta menentukan baik dan buruk akhlak melalui al-Qur’an dan Sunnah, bukan yang lain-lainnya. Kedua: kesimpulan buku Al Jāmi` fī Ṭolabil `Ilmisy Syarīf karya syeikh Abdul Qadir adab-­adab yang berkaitan dengan Alim dan Muta’aalim ialah ikhlas dalam niat, betul­-betul memanfaatkan waktu, menyibukkan diri dengan ilmu-­ilmu yang paling penting, tepat dalam memilih sumber (referensi) buku, berawal dengan ilmu, sabar untuk menuntut ilmu dan mengajarakannya. Ketiga: Kesimpulan buku Ḥilyah Ṭālib al-‘Ilm karya syeikh Bakr ialah: Adab-adab diri penuntut ilmu diantaranya Ilmu adalah ibadah, ikutilah jalan para salafus ṣolih, selalu takut kepada Allah Subhānahu wa ta’ālā. Adab dalam kehidupan ilmiah diantaranya semangat tinggi dalam ilmu, bergairah dalam menuntut ilmu, melakukan pekerjaan jauh dalam menuntut ilmu, menjaga ilmu secara tertulis. Pembatal-pembatal bekal ini diantaranya dendam, dengki, buruk sangka, duduk bersama ahli bid'ah, melangkahkan kaki kepada yang diharamkan.
Al-‘Asher School: the Philosophical Reflection of KH. Ahmad Dahlan’s Character Education Khoirudin, Azaki; Anshori, Ari
Iseedu: Journal of Islamic Educational Thoughts and Practices Vol.2, No.1, May 2018 (In Press)
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/iseedu.v2i1.6211

Abstract

This article is a philosophical reflection of KH. Ahmad Dahlan educational practice. Based on the historical fact that KH. Ahmad Dahlan undertook the character education contained in Surah Al-Ashr to his students for 7-9 months. This educational practice is manifested in the form of “Pengajian Wal-Ashri” for young women and “Wal-Ashri Cadre School” for male youth. This makes the spirit and ethos of al-Ashr embedded in young men and women, thus creating a "theology of pious charity" (amal shaleh). The theology encourages the spirit of praxis and activism of Muhammadiyah followers to perform humanitarian work in the fields of education, health, social, economics, community empowerment, philanthropy and others later known as " al-Maun theology" and "Al-‘Ashr theology ". Using the perspective of the philosophy of reconstructionist education of George Count and Bourdieus sociology approach to social practice, it can be concluded that Muhammadiyah education gave birth to a religious-transformative character inspired by Surah Al-Ashr.
CORAK TAFHIM AL-QUR’AN DENGAN METODE MANHAJI Anshori, Ari
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 1, Juni 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.208 KB) | DOI: 10.23917/profetika.v16i1.1831

Abstract

many varieties and ways for someone to understand al-Qur’an or tafhim al-Qur’an. It is because one’s ability to understand and to explain about the essence of Allah’s commandment is different, based on his/her ability and understanding himself/herself. The difference in understanding is not separable from many factors, among other are: the level of intellegence, the level of education, the level of underlying religious understanding. The focus of problem in this research was to find the proper formulation of tafhim, in order that the messages contained in al-Qur’an are easy to understand correctly based on the text and the context of the referred verse. The results of the research were: that al-Qur’an has verses in the forms of muhkamat and mutasyabihat, therefore, to understand them, aided tools are needed such as tafhim manhaji, in order that the messages contained on them can be understood correctly based on the referred text and context. Although it is proper to appreciate if every effort of tafhim and interpretation of al-Qur’an always uses a method or strategy of new study, including a new style contained in the tafhim manhaji of al-Qur’an, because the method of tafhim manhaji is considered as being able to reduce many kinds of abstruse in understanding the verses of Allah written in al-Qur’an or verses which are broadly spread on this universe.
PENGARUH HAFALAN AL-QUR’AN DAN INTENSITAS SHOLAT TAHAJUD TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN QUR’AN-HADIS Awaliah, Sayidatun Wihardina; Hasan, Moh. Abdul Kholiq; Anshori, Ari
Profetika Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.363 KB) | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6339

Abstract

The aim of the compiling of the study was to find out and explain the academic matters, was to find out how big the effect of memorizing al-Qur’an and the intentity of tahajud prayer toward academic achievement of Qur’an Hadis either collectively or partially. The study was quantitative with education as its scope. Rather it used the combination of library and field research as its research place. The collecting data used questionnaire and documentation. The validation of the research instrument by analizing items was counted with correlation formula ‘Product Moment’, and the reliability was counted by formula Alpha Cronbach. The technique of analizing data to examine hypothesis was correlation analysis technique of Product Moment and technique double regression two predictors. The result of the study showed that significance level 5% was acquired by the value of t count of either memorizing al-Qur’an or intentity of tahajud prayer was 0,182 and 0,579, whereas the value of t table was 2,026. Since t count < t table, it can be inferred that neither memorizing al-Qur’an nor intentity of tahajud prayer has significant effect toward academic achievement of Qur’an Hadis. In addition, based on the result of the study, the test value of F count was 0,389 and based on the table, the value of F table was 3,245. Since F count < F table, the conclusion was that there was no significant effect of memorizing al-Qur’an and intentity of tahajud prayer on academic achievement of Qur’an Hadis collectively. Based on the analizing, the researcher found the other factor that could influence students academic achievement was motivation, either motivation of memorizing al-Qur’an or tahajud prayer.Disusunnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan hal-hal yang terkait dengan problem akademik, yaitu:mengetahui seberapa besar pengaruh hafalan al-Qur’an dan intensitas salat tahajud baik secara bersama-sama atau parsial terhadap prestasi belajar Qur’an Hadis. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif dengan pendidikan sebagai ruang lingkup penelitiannya dan menggabungkan kepustakaan (library research) dan lapangan (field research)sebagai tempat penelitiannya.Metode pengambilan data menggunakan angket dan dokumentasi. Validitas instrument penelitian dilakukan dengan analisis butir hitung dengan rumus korelasi product moment. Reliabilitas instrument dihitung dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Teknik analisis data yang dipakai untuk menguji hipotesis adalah teknik analisis korelasi Product moment dan teknik regresi ganda 2 prediktor.Hasil penelitian menunjukkan dengan taraf signifikan 5% diperoleh nilai t hitung hafalan al-Qur’an dan intensitas salat tahajud secara berurutan sebesar 0,182 dan 0,579, sedangkan  t tabel 2,026.  Karena  t hitung < t tabel  maka dapat disimpulkan bahwa  baik hafalan al-Qur’an maupun intensitas salat tahajud tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar Qur’an Hadis. Kemudian berdasar hasil penelitian diperoleh nilai uji F hitung sebesar  0,389 dan berdasar tabel diperoleh nilai F Tabel sebesar 3,245. Karena F hitung < F tabel  maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama sama antara hafalan al-Qur’an dan intensitas salat tahajud terhadap nilai mata pelajaran Qur’an Hadis. Berdasarkan analisis yang dilakukan, peneliti menemukan faktor lain yang bisa mempengaruhi prestasi belajar santriwati, yaitu motivasi. Baik motivasi menghafal al-Qur’an ataupun motivasi salat tahajud.
METODE PEMBELAJARAN TAḤFĪẒ AL-QUR’AN DI MADRASAH ALIYAH TAḤFĪẒ NURUL IMAN KARANGANYAR DAN MADRASAH ALIYAH AL-KAHFI SURAKARTA Suryono, Suryono; Anshori, Ari; Muthoifin, Muthoifin
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.702 KB) | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5295

Abstract

Madrasah Aliyah (MA) is an educational institution under the ministry of religion affair that have special features to deliver next-generation learners become knowledgeable, proficient in science and morality. MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta, both these madrassas have a role in educating students, families and the nation by organizing educational programs with the national curiiculum, ministry of religion affairs and the flagship program in the form of taḥfīẓ al-Qur'an. This study was a qualitative research to describe the data collected as the scope of its research and field as a place of research (field research). The nature of this research more towards research comparative studies, since the object of research comparing the learning method taḥfīẓ al-Qur'an in MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta. Analyzed is done by way of organizing data. The data collected by using documentation, observation and interviews. All data that has been collected by a variety of techniques organized, sorted, grouped and categorized so you can find an appropriate theme taḥfīẓ method of learning the al-Qur'an at MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta. Researchers concluded that the method applied in teaching taḥfīẓ al-Qur'an in MA Taḥfīẓ Nurul Iman there are seven methods, namely: juz’i, simā’i, tasmī’, murāja’ah, jama’, linking verses with meaning and kitābah, and its implementation has been effective and efficient. Whereas in MA al-Kahfi Surakarta there are five methods, namely: juz'i, jama’, simā’i, tasmī’, and muraja'ah. The operation has been effective but not efficient. Then bring up a comparison that in target taḥfīẓ al-Qur’an  in MA Taḥfīẓ Nurul Iman are more than the target MA al-Kahfi, MA Taḥfīẓ Nurul Iman methods applied more than in MA al-Kahfi and the views of the value produced both have been equally effective, MA Nurul Iman has been efficient while MA al-Kahfi has not been efficient. Madrasah Aliyah (MA) merupakan sebuah lembaga pendidikan di bawah kementerian agama yang memiliki ciri khusus untuk mengantarkan peserta didik menjadi generasi yang berwawasan luas, cakap dalam keilmuan dan berakhlak mulia. MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta, kedua madrasah ini memiliki peran dalam mencerdaskan peserta didik, keluarga dan kehidupan bangsa dengan menyelenggarakan program pendidikan dengan kurikulum pendidikan nasional (diknas), kementerian agama (kemenag) dan program unggulan berupa Taḥfīẓ al-Qur’an. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan menjabarkan data-data yang terkumpul sebagai ruang lingkup penelitiannya dan lapangan sebagai tempat penelitiannya (field research). Sifat dari penelitian ini lebih ke arah pada penelitian studi komparasi, karena objek penelitian membandingkan metode pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi, observasi dan wawancara. Semua data yang telah dikumpulkan dengan berbagai teknik diatur, diurutkan, dikelompokkan dan dikategorikan sehingga dapat ditemukan tema yang sesuai dengan metode pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta. Peneliti menyimpulkan bahwa Metode yang diterapkan dalam pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman terdapat tujuh metode yaitu: juz’i, simā’i, tasmī’, murāja’ah, jama’, mengaitkan ayat dengan maknanya dan kitābah, serta pelaksanaannya sudah efektif dan efisien. Sedangan di MA al-Kahfi Surakarta terdapat lima metode yaitu: juz’i, jama,’simā’i, tasmī’, dan  murāja’ah. Adapun pelaksanaannya sudah efektif akan tetapi belum efisien. Kemudian memunculkan perbandingan bahwa target hafalan al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman lebih banyak dari pada target di MA al-Kahfi, metode yang diterapkan di MA Taḥfīẓ Nurul Iman lebih banyak dari pada di MA al-Kahfi dan dilihat dari nilai yang dihasilkan keduanya sudah sama-sama efektif, MA Nurul Iman sudah efisien sedangkan MA al-Kahfi belum efisien.