Afifuddin Afifuddin, Afifuddin
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

Pendidikan Dengan Pendekatan Marxis-Sosialis Afifuddin, Afifuddin
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 15, No 2 (2015): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.79 KB)

Abstract

Marxism-Socialism is a theory which is designed to build a good society. A society that negates the suppression of one class against another class, the widest possible freedom for every person to express his humanity in any production activity (economic) as the basis of human life. Marxism balked patterns of education that only prepares participants to be workers who will be squeezed by the machinery of capitalist production. In view of Marxism, Practice, in the sense of direct relevance to the realities of human and material nature, is the criterion of truth, because it underlies the knowledge of reality and because of the outcome of cognitive processes is realized in the activity of the material, human objective. Practice is the sole criterion of objective truth, in so far as it represents not only mental human, but also human linkages that exist objectively with the natural and social world that surrounds him.
Pendidikan Dengan Pendekatan Marxis-Sosialis Afifuddin, Afifuddin
Jurnal Adabiyah Vol 15, No 2 (2015): Jurnal Adabiyah
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.79 KB)

Abstract

Marxism-Socialism is a theory which is designed to build a good society. A society that negates the suppression of one class against another class, the widest possible freedom for every person to express his humanity in any production activity (economic) as the basis of human life. Marxism balked patterns of education that only prepares participants to be workers who will be squeezed by the machinery of capitalist production. In view of Marxism, Practice, in the sense of direct relevance to the realities of human and material nature, is the criterion of truth, because it underlies the knowledge of reality and because of the outcome of cognitive processes is realized in the activity of the material, human objective. Practice is the sole criterion of objective truth, in so far as it represents not only mental human, but also human linkages that exist objectively with the natural and social world that surrounds him.
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS AL-QUR’AN: Penerapan Pola Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) di Pondok Pesantren Hidayatullah Panyula Kabupaten Bone Afifuddin, Afifuddin
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 19, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.101 KB)

Abstract

This article discusses about the pattern of descent of revelation systematics applied in hidayatullah boarding school, Panyula, Bone regency. This research focuses on the implementation of the pattern of descent of revelation systematics in accordance with the qur’anic character building at the boarding school. The researcher collected and analized data by using descriptive qualitative. This research found that hidayatullah boarding school has successfully applied educational methods on quranic based to build students’ character. Based on the descent of revelation systematics, it has regenerated and internalized values as what have been done by the Prophet Muhammad in his first dakwah in Mecca. This research aims to give academic contribution to teachers in order to build Islamic character of the students.
Perbandingan Pemberian Efedrin 30 mcg/kgBB dengan Efedrin 70 mcg/kgBB Intravena terhadap Skala Nyeri dan Efek Hipotensi pada Penyuntikan Propofol di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Afifuddin, Afifuddin; Sitanggang, Ruli Herman; Oktaliansah, Ezra
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.194 KB)

Abstract

Penyuntikan propofol menyebabkan  nyeri dan perubahan tekanan darah. Efedrin merupakan obat yang digunakan untuk mengurangi efek yang tidak diinginkan saat penyuntikan propofol. Penelitian ini bertujuan membandingkan pemberian efedrin 30 mcg/kgBB intravena dengan efedrin 70 mcg/kgBB intravena terhadap skala nyeri dan efek hipotensi pada penyuntikan propofol. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan September hingga November 2015 terhadap 60 orang  pasien dengan  American Society of Anesthesiologist  (ASA) kelas I dan II, usia 18 hingga 60 tahun yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum secara uji acak kontrol buta ganda. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, 30 orang menerima efedrin 30 mcg/kgBB dan 30 orang menerima efedrin 70 mcg/kgBB, diberikan 1 menit sebelum penyuntikan propofol. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan skala nyeri pada kelompok efedrin 30 mcg/kgBB dan efedrin 70 mcg/kgBB tidak berbeda bermakna (p>0,05), dan perubahan tekanan darah sistole dan diastole efedrin 30 mcg/kgBB dengan efedrin 70 mcg/kgBB berbeda bermakna (p<0,05). Simpulan, efedrin 30 mcg/kgBB dan efedrin 70 mcg/kgBB menurunkan skala nyeri saat penyuntikan propofol, dan efedrin 70 mcg/kgBB mencegah efek hipotensi lebih baik dibanding dengan efedrin 30 mcg/kgBB.  Comparison of 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW Intravenous Ephedrine on Pain Scale and Hypotension After Propofol Injection in  Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungInjection of propofol causes pain and blood pressure changes. Propofol can cause pain at the injection site and decrease the blood pressure while ephedrine is considered to minimize those adverse effect. The purpose of the study was to compare the effects of 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW intravenous ephedrine on pain score and blood pressure changes after propofol injection. This double-blind randomized control trial was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, September to November 2015, on 60 patients with American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status I and II, aged 18 to 60 years old. Patients were divided into 2 groups of 30 persons; the first group received 30 mcg/kgBW ephedrine and the second group received 70 mcg/kgBW ephedrine one minute before propofol injection. Statistical analysis was performed using the Mann-Whitney test. This study showed no significant difference in pain score between the group that received 30 mcg/kgBW ephedrine and 70 mcg/kgBW (p>0,05), but there were significant differences in blood pressure changes (p<0,05). It can be concluded that 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW ephedrine could reduce pain score following propofol injection with 70 mcg/kgBW ephedrine reduces the hypotension effect better than the 30 mcg/kgBW dose.  
STEROID LEVEL AND PREGNANCY RATE OF ACEH COWS IN RESPONSE TO OVULATION INDUCTION USING PRESYNCHOVSYNCH METHOD Adam, Mulyadi; Siregar, Tongku Nizwan; Wahyuni, Sri; Gholib, Gholib; Ramadhana, Cut Erika; Ananda, Riski; Afifuddin, Afifuddin
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 11, No 4 (2017): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.63 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui peningkatan level steroid dan persentase kebuntingan sapi aceh terhadap induksi ovulasi dengan metode presynch-ovsynch. Dalam penelitian ini digunakan sepuluh ekor sapi aceh betina dengan status tidak bunting, minimal dua bulan pascapartus, sudah pernah beranak, dan sehat secara klinis. Sapi dibagi atas dua kelompok, yang masing-masing terdiri atas lima ekor sapi. Kelompok pertama (K1) disinkronisasi berahi dengan metode presynch-ovsynch. Pada kelompok kedua (K2), disinkronisasi berahi menggunakan 5 ml PGF2α secara intramuskulus dengan pola penyuntikan ganda dengan interval 12 hari. Setelah  48 jam akhir perlakuan, sapi pada K1 dan K2 diinseminasi menggunakan semen beku fertil. Observasi berahi dilakukan setelah penyuntikan terakhir. Koleksi darah untuk pemeriksaan level estradiol dilakukan segera setelah inseminasi dilakukan sedangkan koleksi darah untuk pemeriksaan progesteron dilakukan pada hari ke-7 pasca-inseminasi. Level steroid diukur menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Pemeriksaan kebuntingan dilakukan 90 hari pasca-inseminasi menggunakan teknik palpasi rektal. Seluruh sapi menunjukkan gejala berahi setelah perlakuan. Level estradiol dan progesteron pada K1 vs K2 masing-masing adalah 294,98±110,48 vs 392,76±11,6 pg/ml (P>0,05) dan 23,85±15,14vs 12,69±5,64ng/ml (P>0,05). Persentase kebuntingan pada K1 vs K2 masing-masing adalah 60,0 vs 0,0%. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa metode presynch-ovsynch tidak dapat meningkatkan level steroid tetapi dapat meningkatkan persentase kebuntingan pada sapi aceh.
Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat II Terhadap Produktivitas Kerja Kepala Dinas Kesehatan Di Kota Malang Jawa Timur Afifuddin, Afifuddin; Suyeno, Suyeno
JU-ke: Jurnal Ketahanan Pangan Vol 2, No 1 (2018): JU-Ke
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.308 KB)

Abstract

Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia penting peranannya untuk menopang kerja aparatur pemerintah dan administrasinya yang tinggi dan kompetensi yang mencakup kompetensi manajerial dan teknis serta kompetensi kepemimpinan khusus bagi pemegang jabatan struktural, sebagai salah satu prasyarat bagi terciptanya manajemen pemerintahan dan pembangunan. Kurang profesionalnya sumber daya manusia di lingkungan pemerintah Kota Malang terutama di Dinas Kesehatan menjadi kendala dalam rangka pencapaian produktivitas kerja pegawai secara maksimal. Kualitas sumber daya manusia ini merupakan faktor yang sangat menentukan tingkat keberhasilan pemerintah Daerah. Dengan menggunakan metode eksplanasi (explanatory research), sesuai dengan tujuan penelitian ini yang akan menjelaskan hubungan antara dua variabel, yaitu pendidikan dan pelatihan dengan produktivitas kerja Kepala Dinas. Adapun hasilnya menyebutkan bahawa mutu pegawai naik maka produktivitas kinerja Kepala Dinas Kesehatan menurun, karena proses pendidikan dan pelatihan kepemimpinan tidak dibutuhkan lagi jika pegawai sudah bermutu. Sehingga fungsi kepemimpinan Kepala Dinas Kesehatan tidak lagi berjalan secara maksimal karena pegawai sudah memahami tugas dan fungsi masing-masing. Oleh karena itu produktivitas kepala dinas hanya sebagai pengendali. Sedangkan proses pendidikan dan pelatihan kepemimpinan pada aspek dimensi pengembangan sikap, tingkah laku, keterampilan, dan pengetahuan akan berpengaruh positif terhadap produktivitas kerja  Kepala Dinas Kesehatan di Kota Malang Jawa Timur, dalam artian apabila dimensi pengembangan sikap, tingkah laku, keterampilan, dan pengetahuan ditingkatkan maka produktivitas kerja Kepala Dinas Kesehatan di Kota Malang Jawa Timur juga meningkat. Key words : pendidikan dan pelatihan, produktivitas kinerja, pengembangan sikap, tingkah laku, keterampilan, pengetahuan.
العلاقة الجنسية في القرآن الكريم؛ دراسىة من خلال مقاربة موضوعية Afifuddin, Afifuddin
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 18, No 2 (2018): Islamic Studies
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3462.87 KB)

Abstract

هذه المقالة تدرس حكم العلاقة الجنسية في القرآن الكريم. والقرآن الكريم، إلى جانب حديثه عن الجنس وإشباع الرغبة الجنسية بصورة شرعية، فهو أيضا يقدم تقديرا وشرعية للرغبة الجنسية لدى الإنسان، كما يعطي له الحرية للوصول إلى رضاه الجنسي. هذه الدراسة تستخدم دراسة مكتبية من خلال مقاربة موضوعية، وذلك بجمع الآيات التي تتعلق بالعلاقات والسلوكيات الجنسية في القرآن الكريم، ثم القيام بتصنيفها وتأويلها من خلال عدد من التفسيرات المعتبرة، حتى يتكون مفهوم حول العلاقة الجنسية في القرآن الكريم، ويتخذ مادة تربوية. والتربية الجنسية في أساسها تعطي توجيها للمسلمين، والجيل الشاب منهم خاصة، حول فهم الرغبة الجنسية للإنسان وطريقة إشباعها التي شرعها الله تعالى، وهي الزواج والأمور المتعلقة به من أجل تحقيق الحياة السعيدة بين الزوجين
PLURALISME KEAGAMAAN PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM TRADISIONAL (Studi Sosiologis Filosofis tentang Pluralisme pada Pondok Pesantren di Kabupaten Bone) Afifuddin, Afifuddin
Al-Qalam Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.669 KB)

Abstract

Pesantren dalam peranannya sebagai social change adalah lembaga yang dapat mengubah struktur-stmkturide dan pemikiran dalam masyarakat. Karena itu pesantren dapat menjadi institusi yang penting dalampembentukan masyarakatpluralis dengan terlebih dahulu mengembangkan hal tersebut dalam lingkungannyasendiri. Penelitian yang dilakukan di pesantren al-Junediyyah Biru dan pondok pesantren al-Ikhlas Ujungdengan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Hasilpenelitian ini menunjukkan di dua PondokPesantren di Kabupaten Bone telah dikembangkan pluralisme dalam konteks gagasan, ide, sikap dan pemikirankiai, ustazd, dan para santri. Saranayang efektif untuk penanaman nilai ini adalah melalui proses pembelajarandan pendidikan. Pola hidup dan tradisi keilmuan yang akrab dengan perbedaan dan kemajemukan pemikiranpada kenyataannya menumbuhkan budaya kepesantrenan yang pluralis.
Perbandingan Pemberian Efedrin 30 mcg/kgBB dengan Efedrin 70 mcg/kgBB Intravena terhadap Skala Nyeri dan Efek Hipotensi pada Penyuntikan Propofol di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Afifuddin, Afifuddin; Sitanggang, Ruli Herman; Oktaliansah, Ezra
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.194 KB)

Abstract

Penyuntikan propofol menyebabkan  nyeri dan perubahan tekanan darah. Efedrin merupakan obat yang digunakan untuk mengurangi efek yang tidak diinginkan saat penyuntikan propofol. Penelitian ini bertujuan membandingkan pemberian efedrin 30 mcg/kgBB intravena dengan efedrin 70 mcg/kgBB intravena terhadap skala nyeri dan efek hipotensi pada penyuntikan propofol. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan September hingga November 2015 terhadap 60 orang  pasien dengan  American Society of Anesthesiologist  (ASA) kelas I dan II, usia 18 hingga 60 tahun yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum secara uji acak kontrol buta ganda. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, 30 orang menerima efedrin 30 mcg/kgBB dan 30 orang menerima efedrin 70 mcg/kgBB, diberikan 1 menit sebelum penyuntikan propofol. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan skala nyeri pada kelompok efedrin 30 mcg/kgBB dan efedrin 70 mcg/kgBB tidak berbeda bermakna (p>0,05), dan perubahan tekanan darah sistole dan diastole efedrin 30 mcg/kgBB dengan efedrin 70 mcg/kgBB berbeda bermakna (p<0,05). Simpulan, efedrin 30 mcg/kgBB dan efedrin 70 mcg/kgBB menurunkan skala nyeri saat penyuntikan propofol, dan efedrin 70 mcg/kgBB mencegah efek hipotensi lebih baik dibanding dengan efedrin 30 mcg/kgBB.  Comparison of 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW Intravenous Ephedrine on Pain Scale and Hypotension After Propofol Injection in  Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungInjection of propofol causes pain and blood pressure changes. Propofol can cause pain at the injection site and decrease the blood pressure while ephedrine is considered to minimize those adverse effect. The purpose of the study was to compare the effects of 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW intravenous ephedrine on pain score and blood pressure changes after propofol injection. This double-blind randomized control trial was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, September to November 2015, on 60 patients with American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status I and II, aged 18 to 60 years old. Patients were divided into 2 groups of 30 persons; the first group received 30 mcg/kgBW ephedrine and the second group received 70 mcg/kgBW ephedrine one minute before propofol injection. Statistical analysis was performed using the Mann-Whitney test. This study showed no significant difference in pain score between the group that received 30 mcg/kgBW ephedrine and 70 mcg/kgBW (p>0,05), but there were significant differences in blood pressure changes (p<0,05). It can be concluded that 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW ephedrine could reduce pain score following propofol injection with 70 mcg/kgBW ephedrine reduces the hypotension effect better than the 30 mcg/kgBW dose.