Articles

Found 5 Documents
Search

UPAYA REFORMASI MATA KULIAH USHUL FIQH PADA PRODI MUAMALAH DALAM MENGHADAPI PERKEMBANGAN EKONOMI SYARI’AH

Kodifikasia Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini berusaha mengaplikasikan teori-teori ushul fiqh dalam bidangekonomi Islam. Hal ini dilakukan karena melihat pentingnyaIlmu UshulFiqh dalam memahami hukum-hukum syara’ dan menjawabpersoalankontemporer di satu sisi, dan adanya persoalan baru yang terus menerusmuncul, khususnya yang berkaitan dengan masalah ekonomi Islam di sisilain. Teori-teori ushul fiqih yang urgen dalam mengembangkan hukum danmenjawab persoalan-persoalan kontemporer adalah teori-teori istinbathhukum, di antaranya adalah qiyas, istihsan, maslahah mursalah, sadduzzari’ah, istishhab, dan uruf. Kajian tentang hukum syara’ dan metodeistinbath hukum, tidak hanya dapat diaplikasikan dalam masalah ibadahsebagaimanaumumnyadalam pembahasan-pembahasan ushul fiqih,namun dua kajian itu juga dapat diaplikasikan dalam masalah-masalahekonomi Islam. Dengan demikian, sangat tepat, jika dalam perkuliahanushul fiqih untuk program studi Mu’amalat dan Ekonomi Islam, teori-teoritersebut diaplikasikandalam kasus-kasus ekonomi Islam agar mahasiswalebih mudah memahaminya, dan memiliki dasar hukum yang kuat dalammemahami konsep-konsep ekonomi.

IDENTITAS DAN KEARIFAN LOKAL “ISLAM SAMIN” DI ERA GLOBAL

Millah: Jurnal Studi Agama Vol. VIII, No. 2, Februari 2009 Islam dan Lokalitas Keindonesiaan
Publisher : Program Magister Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims firstly; to describe the construct of identity and local wisdom of Samin community in Kemantren village, Kedungtuban, Blora, Central Java, secondly; to explain change and continuity of their identity and local wisdom facing globalization. This research is descriptive qualitative, synthesis of library and field research. Library research studies the teaching and history of Saminism in general. Field research digs their identity and local wisdom through observation and unstructured interview. Informants were chosen purposively. The research was conducted on June-August 2007. The results are firstly; the construct of identity of Saminism comprises the identity of historicity, dress, language, house, marriage, and in agriculture. Their local wisdom was seen in personal attitude, social harmony attitude, and attitude towards nature. Secondly; there are factors and actors involving in change of their identity and local wisdom. There are external and internal factors, structural and cultural actors. The continuity of their identity and local wisdom goes through internalization, limitation of education, self sufficiency, and endogamy.

Manual Kepemimpinan dalam Naskah Sirāj al-Mulūk dan Serat Wulang Dalem: Perspektif al-Ṭurṭūshī dan Pakubuwono IX

Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2238.14 KB)

Abstract

Genre ”Mirror for Princes” -with its various terms- enlivened the Islamic literature, not only develop in Islamic centers in the Middle East, but also in other regions of the Islamic world, including Indonesia, more specifically Surakarta. One of the masterpieces of such a genre was Sirāj al-Mulūk by al-Ṭurṭūshī. The purposes of this study are to understand the background of the emergence of Sirāj al-Mulūk, to describe al-Ṭurṭūshī’s thoughts relating to leadership ethics, and try to relate it to Wulang Dalem, a work attributed to the Surakarta king of Pakubuwono IX. The findings of this study are: 1) socio-political contexts in the form of rebellion, disharmonious relationships between the government administration that occurred at the time of al-Ṭurṭūshī became the reason composing Sirāj al-Mulūk, 2) al-Ṭurṭūshī showed how politics and morality in Islam can not be separated, both are an integral and complementary, 3) this preliminary study found no direct link between the work of al-Ṭurṭūshī and PB IX, although found little common ground. --- Genre ”Mirror for Princes” -dengan beragam istilah lainnya- menghiasi literatur-literatur Keislaman, tidak saja berkembang di pusat-pusat Islam di Timur Tengah, namun juga hingga ke kawasan lain dunia Islam, termasuk Nusantara, lebih spesifik lagi Surakarta. Salah satu karya dari genre tersebut adalah Sirāj al-Mulūk karya al-Ṭurṭūshī. Tujuan penelitian ini untuk memahami latar belakang kemunculan Sirāj al-Mulūk, mendeskripsikan pemikiran al-Ṭurṭūshī terkait etika kepemimpinan atau pemerintahan, dan mencoba menghubungkannya dengan karya raja Surakarta Pakubuwono IX, Wulang Dalem. Adapun yang menjadi temuan penelitian ini: 1) konteks sosial-politik berupa pemberotakan, ketidakharmonisan hubungan antar penyelenggara pemerintahan yang terjadi pada masa al-Ṭurṭūshī menjadi alasan menulis Sirāj al-Mulūk , 2) Pemikiran al-Ṭurṭūshī di dalam Sirāj al-Mulūk menunjukkan bagaimana politik dan moral di dalam Islam tidak dapat dipisahkan, keduanya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi, 3) dalam studi awal ini tidak ditemukan kaitan langsung antara karya al-Ṭurṭūshī dengan PB IX, walaupun ditemukan sedikit kesamaan gagasan.

KEBANGKITAN MUSLIM TRADISIONAL DI SURAKARTA

IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Vol 14 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IAIN Purwokerto

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.212 KB)

Abstract

Islamic resurgence has taken place in the Muslim worlds, including in Indonesia. Representations of this resurgence are depicted by “the outer” dimensions of Islam, and almost represented by the “Bermazhab Islam” groups, both modernist and revivalist voices by neglecting “the inner” dimensions of Islam and the traditionalist voice (the “Islam Bermazhab” groups). This research aims to describe and explain the resurgence among the traditional Islam through majelis zikir, shalawat, taklim, and hadrah. Some interviews, observations, and literature studies were conducted to collect the data. The results are; first, the picture of Islamic resurgence is not balanced. The inner dimensions of Islam and voice of traditional Islam are the forgotten aspects regarding with Islamic resurgence. Second, there is an on-going resurgence among the traditionalists in the form of “santrinisasi” (becoming more pious) and “tradisinasi” (habituating) process of Ahlussunah wal-Jamaah teachings and practices. Third, majelis zikir, shalawat, taklim, and hadrah are means to preach and protect the thoughts and practices of the traditionalists. Fourth, there are internal and external factors in this resurgence process. Fifth, the dynamics of this resurgence consist of the resurgence of identity and literature of traditional Islam.

KONSEP JIHAD ‘ABDULLAH B. AL-MUBARAK DAN JIHAD GLOBAL

MISYKAT: Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran, Hadist, Syari'ah dan Tarbiyah Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : INSTITUT ILMU AL QURAN JAKARTA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abdullah b. Al-Mubarak (118-181/736-797) merupakan generasi tabi’ tabi’in, salah satu generasi terbaik dalam Islam dan dianggap oleh penulis biografi Islam klasik sebagai penulis pertama tentang jihad, yang penulisannya berbeda dengan penulis sebelumnya. Karyanya berjudul Kitab al-Jihad, Diwan  ibnu al-Mubarak (mengandung tema jihad) dan sebuah kitab Hadis, Musnad ibnu al-Mubarak. Artikel ini merupakan hasil dari penelitian kepustakaan yang menggunakan tiga karya Ibnu al-Mubarak baik sumber primer maupun karya lain yang bertemakan jihad, juga bersumber dari penulis klasik maupun kontemporer sebagai sumber sekunder. Untuk melihat relevansi pemikirannya tentang jihad dalam konteks sekarang, maka artikel ini berusaha untuk melihat kemungkinan hubungan pemikian jihad Ibnu al-Muba>rak dengan gagasan jihad global yang diusung oleh para mujahid global di antaranya oleh ‘Abdullah ‘Azzam. Tiga pertanyaan yang dajukan: bagaimana konteks sejarah dan sosial yang dialami oleh Ibnu al-Mubarak yang melatarbelakangi kemunculan pemahamannya dalam masalah jihad?, bagaimana formulasi gagasan-gagasannya dalam masalah jihad?, dan bagaimana relevansi pemikiran jihad Ibnu al Mubarak bagi munculnya gerakan jihad global yang diusung oleh tokoh-tokoh mujahid global kontemporer? Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu al-Mubarak dalam masalah jihad meliputi tentang kedudukan jihad, hukum jihad, keutamaan dan ganjaran bagi mujahid, syahid dan pembagiannya, menjaga wilayah Islam, perang dan Hari Akhir. Dalam hubungannya dengan kemunculan jihad global dewasa ini terlihat tidak ada ketertaitan langsung antara pemikiran Ibnu al-Mubarak dengan pemikiran para jihadis global, kecuali bahwa yang pertama dijadikan sebagai role model dan inspirator bagi yang kedua di dalam menggugah semangat jihad.Kata Kunci : Jihad, ayat al-qital, ayat as-saif, dan jihad global