Deni Kurniadi Sunjaya, Deni Kurniadi
Department of Public Health, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Published : 19 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Global Medical

The Peer Counseling Model in Adolescents Reproductive Health for Senior High School Students Nurfazriah, Indah; Sunjaya, Deni Kurniadi; Susanah, Susi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v6i3.3108

Abstract

Premarital sexual behavior in adolescents is at risk of sexual intercourse. One of the teenagers' factors in premarital sexual intercourse is a lack of knowledge about adolescent reproductive health. One method that can be given to increase knowledge about reproductive health is peer counseling. Peer counseling service improvement can be supported by the availability of modules or teaching materials to be used as a guide for peer counselors. The purpose of this study was to analyze the substance of the peer counseling module, analyze the perspective of the prospective module user on the development of peer counseling modules, and develop a model of the peer counseling module. The design of this study was the concurrent mixed method was divided into two stages, namely in-depth interviews with the experts and interviews and surveying with module users. The data was collected from the senior high school students in Cimahi and Bandung, West Java from March to July 2017. The result of this study showed that the substances developed in this module were the adolescents’ reproductive health, adolescents’ preparation in family planning, and adolescents’ ethics. Based on results of the analysis using the Rasch model, in the module user’s perspective, there is a need for the development of peer counseling modules. Evaluation of the module’s model from participants showed that they mostly agreed with the module’s model and the substances that were developed. MODEL MODUL KONSELING SEBAYA DALAM KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATASPerilaku seksual pranikah pada remaja berisiko melakukan hubungan seksual. Salah satu faktor remaja melakukan hubungan seksual pranikah adalah pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja yang kurang. Salah satu metode yang dapat diberikan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi adalah konseling sebaya. Peningkatan pelayanan konseling sebaya dapat ditunjang oleh ketersediaan modul atau bahan ajar sebagai panduan bagi konselor sebaya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis substansi modul konseling sebaya, menganalisis perspektif pengguna modul tentang pengembangan modul konseling sebaya, dan mengembangkan model modul konseling sebaya. Desain penelitian yang digunakan concurrent mixed methods  yang dibagi menjadi dua tahap, yaitu wawancara mendalam dengan para pakar serta wawancara dan survei dengan pengguna modul. Data dikumpulkan dari siswa SMA di Cimahi dan Bandung, Jawa Barat mulai Maret hingga Juli 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substansi yang perlu dikembangkan dalam modul konseling sebaya adalah kesehatan reproduksi remaja, persiapan remaja dalam perencanaan keluarga, dan etika remaja. Berdasar atas hasil analisis menggunakan model Rasch, perspektif dari para pengguna modul adalah perlu pengembangan modul konseling sebaya. Evaluasi model modul dari partisipan menunjukkan bahwa kebanyakan mereka setuju dengan model modul dan substansi modul yang dikembangkan.
Reproductive Health Problems in Adolescents in Banten Province Ismiyati, Ismiyati; Sabarudin, Udin; Sapiie, Tuti Wahmurti A.; Husin, Farid; Susanah, Susi; Sunjaya, Deni Kurniadi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v7i1.3060

Abstract

Teenagers are the next generation that needs to be the center of attention. Physical and mental development in adolescents occurs rapidly. The process of changing times with free association arises causing debate about their reproductive health. The purpose of this study was to determine the reproductive health problems of adolescents in Banten province. This study used a qualitative design and constructivism paradigm. The research method was using the in-depth interview guideline instrument with 11 informants conducted in Banten province in January−June 2017. Qualitative data analysis using content analysis. The results showed that environmental factors such as family, relationships, health workers, and the availability of prostitution practice were trigger teenagers' problems. The environment did not support them to learn about sexuality makes them seek information from sources that cannot be justified. This practice made adolescents have inappropriate knowledge about adolescent reproductive health. The availability of prostitution practice was a unique highlight for those who can channel their curiosity in fulfilling their sexual desires. In conclusions, adolescent reproductive health problems in Banten province consisted of premarital sex behavior, teenage pregnancy, teenage marriage, youth delivery, sexually transmitted diseases, and abnormal sexual behavior. These problems arise due to factors of knowledge, environment, and family economic status. PERMASALAHAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA DI PROVINSI BANTENRemaja merupakan generasi penerus yang perlu menjadi pusat perhatian. Perkembangan fisik dan mental pada remaja terjadi secara pesat. Proses perubahan zaman dengan pergaulan bebas memicu timbulnya permasalahan kesehatan reproduksi pada mereka. Tujuan penelitian ini mengetahui permasalahan kesehatan reproduksi remaja di Provinsi Banten. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dan paradigma konstruktivisme. Metode penelitian menggunakan instrumen wawancara mendalam kepada 11 informan yang dilakukan di Provinsi Banten pada bulan Januari–Juni 2017. Analisis data kualitatif menggunakan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan seperti keluarga, pergaulan, tenaga kesehatan, dan ketersediaan tempat prostitusi memicu permasalahan remaja. Lingkungan yang tidak mendukung mereka untuk belajar tentang seksualitas membuat mereka mencari informasi dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hal tersebut membuat remaja memiliki pengetahuan yang tidak tepat tentang kesehatan reproduksi remaja. Ketersediaan tempat-tempat prostitusi menjadi sorotan khusus bagi mereka yang dapat menyalurkan keingintahuan mereka dalam memenuhi hasrat seksualitas. Simpulan, permasalahan kesehatan reproduksi remaja di Provinsi Banten terdiri atas perilaku seks pranikah, kehamilan remaja, pernikahan remaja, persalinan remaja, penyakit seksual, dan perilaku seks menyimpang. Permasalahan tersebut muncul karena faktor lingkungan, pengetahuan, dan ekonomi keluarga.
Pengembangan Instrumen Pengukur Kualitas Pelayanan Kesehatan berdasar atas Harapan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional di Rumah Sakit Hadiyati, Ida; Sekarwana, Nanan; Sunjaya, Deni Kurniadi; Setiawati, Elsa Pudji
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Global Medical & Health Communication (GMHC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2403

Abstract

Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit perlu dilakukan secara berkesinambungan. Pengukuran kualitas pelayanan kesehatan dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, di antaranya berdasar atas harapan pasien. Dengan menggali harapan pasien, aspek pelayanan kesehatan yang dianggap penting bagi pasien dapat dipahami oleh penyedia layanan. Pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), di Indonesia belum terdapat instrumen pengukur kualitas pelayanan berdasar atas harapan pasien sehingga peneliti bermaksud menyusun instrumen untuk mengukur kualitas pelayanan kesehatan berdasar atas harapan pasien. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan terhadap 39 peserta JKN di Instalasi Rawat Jalan, RSUD Al-Ihsan, Kabupaten Bandung pada November 2016?Januari 2017. Pasien peserta JKN yang berobat rawat jalan lebih dari satu kali, dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, dan berpendidikan minimal SMA atau sederajat dilibatkan menjadi responden dalam penelitian ini. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan instrumen yang disusun dari penelitian kualitatif mengenai kualitas pelayanan berdasar atas harapan pasien. Data yang diperoleh merupakan data ordinal yang merupakan tingkatan harapan pasien. Metode analisis yang digunakan untuk uji validitas dan reliabilitas adalah analisis pemodelan Rasch. Diperoleh instrumen pengukur kualitas pelayanan kesehatan berdasar atas harapan pasien yang terdiri atas 11 aspek, yakni sarana prasarana, karyawan, pelayanan medik, pelayanan administrasi, keamanan, kepercayaan, akses, transparansi informasi, kesetaraan, iur biaya, dan kualitas antarbagian. Nilai reliabilitas instrumen 0,92 dan alfa Cronbach 0,94. Terdapat 43 butir pertanyaan yang memiliki nilai outfit mean square di antara +2,0 dan +0,5; nilai outfit z-standard di antara +2,0 dan ?2,0; serta nilai point measure correlation yang positif. Simpulan, diperoleh instrumen pengukur kualitas pelayanan kesehatan berdasar atas harapan pasien JKN yang valid dan reliabel, terdiri atas 11 aspek dan 43 butir pertanyaan.DEVELOPMENT OF A HEALTH CARE QUALITY INSTRUMENT BASED ON NATIONAL HEALTH INSURANCE PATICIPANT'S EXPECTATION AT HOSPITALImproving healthcare quality at the hospital should be done continually. Quality of healthcare can be evaluated using some methods, one of them is measuring patient?s expectation. Exploring patient?s expectation describes important aspects of healthcare that should be understood by healthcare provider. In this era of the National Health Insurance, in Indonesia there?s still no health care quality instrument available yet, especially based on patients? expectation. The author aimed to develop an instrument measuring quality of health care based on patient?s expectation at hospital. A qualitative study designed by cross-sectional was conducted to 39 participants of National Health Insurance at Outpatient Installation of Al-Ihsan Bandung District Hospital in November 2016?January 2017. National Health Insurance participants who had treatment more than once, could speak Indonesian fluently, and graduated from senior high school was involved in this study. The data was obtained by an interview using an instrument which was developed from a qualitative study. The data was an ordial scale measurement describing level of patient expectation. The method to analyze validity and reliability of the instrument was the Rasch model. Instrument measuring health care quality based on patient expectation consists of 11 aspects, those are facility and infrastructure, hospital staff, medical service, administrative service, safety, trustworthiness, access, transparacy of information, equality, cost sharing, and interdepartment quality. The reliability index of the instrument was 0.92 and Cronbach?s alpha index was 0.94. There were 45 items which have outfit mean square index between +2.0 and +0.5, outfit z-standard index between +2.0 and -2.0, and positive point measure correlation index. In conclusion, the instrument measuring quality of health care based on patient?s expectation is valid and reliable, contains 11 dimensions and 43 items.