Articles

Found 19 Documents
Search

PEMBUATAN BIODIESEL BIJI KEPUH DENGAN PROSES TRANSESTERIFIKASI

Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2614.058 KB)

Abstract

Adanya tendensi peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia setiap tahunnya, sedang di pihak lain terjadi suplai yang semakin menurun. Hal ini menyebabkan kesenjangan yang semakin besar antara suplai dan permintaan BBM. Oleh karena itu, strategi nasional memfokuskan kepada produksi bahan bakar nabati (BBN) sebagai bahan bakar pengganti BBM. Kepuh (Sterculia foetida) adalah salah satu tanaman BBN yang berasal dari daerah hutan yang tersebar luas di Indonesia dan memiliki potensi untuk dibuat biodiesel sebagai pengganti BBM. Pada penelitian ini, optimalisasi reaksi transesterifikasi dilakukan pada minyak kepuh dengan variabel konsentrasi metanol dan KOH dengan evaluasi fokus kepada analisis bilangan asam, parameter kualitas lain seperti kadar air, viskositas kinematik dan densitas. Selain itu, dilakukan pengamatan terhadap perubahan keasaman minyak atau biodiesel selama penyimpanan, kemudian hasilnya akan dibandingkan dengan standar SNI. Biodiesel kepuh terbaik dihasilkan menggunakan metanol 20% dan KOH 1% dengan memberikan nilai bilangan asam 0,36 mg KOH/g, viskositas kinematik sebesar 4,28 cSt dan densitas 880,7 kg/m3. Bilangan asam pada saat proses penyimpanan baik untuk minyak mentah, minyak hasil degumming maupun biodiesel, mengalami kenaikan yang signifikan.

PEMBUATAN BIODIESEL DARI BIJI KESAMBI (Schleichera oleosa L.)

Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4895.1 KB)

Abstract

Biodiesel adalah senyawa alkil ester yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk mesin diesel, berasal dari turunan minyak atau lemak nabati/hewani. Minyak kesambi merupakan salah satu sumber bahan baku yang diduga dapat dijadikan biodiesel, karena kandungan asam-asam lemaknya tidak jauh berbeda dengan kandungan dari minyak nabati lainnya yang sudah terbukti bisa dijadikan biodiesel. Proses produksi biodiesel umumnya melalui reaksi esterifikasi, transesterifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan proses terhadap kualitas biodiesel yang dihasilkan. Dalam penelitian ini dicoba memvariasikan faktor tahapan proses, jumlah metanol yang digunakan dan waktu esterifikasi. Pada penelitian utama digunakan rancangan percobaan acak lengkap faktorial dengan tiga faktor yaitu tahapan reaksi, jumlah metanol dan waktu esterifikasi. Faktor tahapan reaksi terdiri dari empat taraf yang terdiri dari kombinasi esterifikasi (E), transesterifikasi (T) dan netralisasi (N). Empat taraf untuk tahapan proses yaitu esterifikasi- transesterifikasi (ET), esterifikasi-esterifikasi-trans-esterifikasi (EET), esterifikasi-netralisasi- transesterifikasi (ENT) dan esterifikasi-transesterifikasi-netralisasi (ETN). Faktor jumlah metanol terdiri atas dua taraf yaitu penggunaan nisbah molar metanol-minyak dengan perbandingan 15:1 dan 20:1. Untuk waktu esterifikasi juga terdiri atas dua taraf, 30 menit dan 60 menit. Biodiesel yang diperoleh kemudian dianalisis. Analisis yang dilakukan meliputi analisis bilangan asam, kadar air, rendemen, viskositas dan densitas. Hasil analisis sifat fisikokimia biodiesel menunjukkan kadar air 0,10 - 0,82%. Bilangan asam biodiesel yang diperoleh antara 0,625 - 1,330 mg KOH/g minyak, viskositas kinematik 12,70 - 16,40 cSt, densitas 0,906 - 0,920 g/cm3dan rendemen biodiesel setelah deguming 63,01- 96,93%. Proses ENT merupakan proses terbaik dibandingkan dengan proses lainnya.

PROSES TRANSESTERIFIKASI PADA PEMBUATAN BIODIESEL MENGGUNAKAN MINYAK NYAMPLUNG (Calophyllum inophyllum L.) YANG TELAH DILAKUKAN ESTERIFIKASI

Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3598.387 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi proses pembuatan biodiesel dari minyak nyamplung dengan kualifikasi produk sesuai persyaratan Standar Nasional Indonesia (Anonim, 2006). Penelitian ini terdiri dari degumming, esterifikasi dan transesterifikasi. Optimasi proses transesterifikasi dilakukan dengan mencari kondisi optimum penggunaan rasio molar metanol-minyak dan konsentrasi katalis NaOH. Peneltian pengaruh variabel proses terhadap hasil transesterifikasi meliputi pengaruh suhu, kecepatan pengadukan, rasio molar metanol-minyak dan waktu reaksi transesterifikasi. Proses transesterifikasi minyak nyamplung yang optimum diperoleh pada rasio molar metanol- minyak 6:1, katalis NaOH 1% yang dilakukan pada temperatur transesterifikasi 60 C, waktu 30 menit dan kecepatan pengadukan 400 rpm. Sifat-sifat biodiesel hasil penelitian sebagian besar telah memenuhi standar Indonesia (Anonim, 2006) meliputi massa jenis, angka setana, titik nyala mangkok tertutup, korosi kepingan tembaga, air dan sedimen, temperatur distilasi 90%, kandungan belerang, kandungan fosfor, kandungan gliserol total, kandungan gliserol bebas, kandungan alkil ester serta angka iodium, sedangkan viskositas kinematik 40 C, residu karbon, titik kabut, abu tersulfatkan dan bilangan asam belum memenuhi standar.

Kajian Pengunaan Static Mixing Reactor Pada Proses Produksi Biodiesel Secara Katalitik Dengan Sistem Continue

Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1434.285 KB)

Abstract

Produksi biodiesel secara katalitik membutuhkan katalis dan pengadukan. Sistem pengadukan yang baik akan menghasilkan campuran yang homogen antara trigliserida dan metanol juga dapat dihasilkan dengan penggunaan static mixer. Tujuan penelitian ini adalah merancang static mixing reactor dengan sistem continue pada proses produksi biodiesel secara katalitik dan mencari panjang static mixer yang dibutuhkan sehingga diperoleh kadar metil ester sesuai standar yang sudah ditetapkan. Percobaan ini dilakukan secara transesterifikasi menggunakan minyak palm olein (RBDPO) dan metanol dengan perbandingan molar 1:6 menggunakan katalis KOH 0,5%, dan suhu reaksi 65o C. Proses produksi biodiesel dilakukan pada kondisi transien. Reaktor static mixer yang digunakan terdiri dari dua buah. Perlakuan yang dikaji yaitu panjang static mixer, variasi yang dilakukan yaitu melewatkan 1 kali menuju reaktor static mixer ketika suhu tercapai  (A0 = 2 static mixer), dilewatkan 2 kali menuju reaktor static mixer (A1 = 4 static mixer), dilewatkan 3 kali menuju reaktor static mixer  (A2 = 6 static mixer), dan dilewatkan 4 kali menuju reaktor static mixer (A3 = 8 static mixer). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa untuk masing-masing perlakuan menghasilkan kadar metil ester diatas standar yang ditetapkan sebesar 96,5% w/w. Penentuan perlakuan terbaik diperoleh berdasarkan nilai terbaik pada parameter kadar metil ester dan gliserol total yang dihasilkan pada kondisi 4 kali dilewatkan reaktor static mixer (A3 = 8 static mixer) menghasilkan kadar metil ester sebesar 97,92% w/w, gliserol total 0,85 %, angka asam 0,31 mg KOH/g, angka penyabunan 202 mg KOH/g, rendemen biodiesel sebesar 98,26%, dan waktu reaksi 29 menit. 

PENGOLAHAN DEKSTRIN SAGU (METROXYLON RUMPHII) SECARA ENZIMATIS

Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 1 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4370.559 KB)

Abstract

Sago tree (Metroxylon rumphii) is a potential source of starch and an important contributor of non timber forest products for foodstuff reserve because it has a high carbohydrate content particularly starch. The idea of converting sago starch into dextrin compound is to enhance wider use and increase the economic value of the this commodity. Dextrin has been known for its use as additives in textile industries, pulp/paper industries and pharmaceutical industries.A laboratory trial has been conducted to convert sago into dextrin harnessing the activities of particular enzymes. The aim of this trial was to figure out optimum condition of enzymatic sago-processing into satisfactory-quality dextrin, able to comply with the requirement of Indonesian National Standard (INS). The target is to obtain appropriate technology development in sago-derived dextrin.The result revealed that the optimum condition was obtained at substrate concentration of 25 percent with enzyme dosage at 0,9 gram per kg of substrate (dry-weight). In this condition, the dextrin solubility complies with the INS requirement; i.e 25 percent with enzyme dosage at 0,5 gram per kg of substrate (dry- weight).

PENGARUH PEMEKATAN KONSENTRASI FENOL DARI LINDI HITAM DALAM PEMBUATAN PEREKAT FENOL FORMALDEHIDA

Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 21, No 2 (2003): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5081.628 KB)

Abstract

This investigation was a successive series of experiments aimed at assessing the manufacture of phenol formaldehydeglue utilized the black liquor from soda-process-based pulp mill.At first,  the phenol in the black liquor was concentrated by adding crystal phenol.  The ratios in weight between crystal phenol as added and black liquor were consecutively 1:5, 1:10,  1: 15, 1:20, and 1:25,  and as such yielded the concentrated phenol in the liquor at four levels as well.The results  revealed that efficiency recovery of phenol obtained by vacuum distillation  was 12 percent.  Such efficiency was because most of the phenol  in black liquor was associated with  other elements  in  the lignin  structure  or  other  compounds. The phenol was further  reacted with formaldehyde, and the resulting phenol formaldehyde (PF) used as glue in plywood bonding.Results  revealed that moisture content  of plywood with  PF glue where the phenol was from  the mixture of concent tended black liquors  phenol  and crystal phenol  varied at  8.80  to 9.61 percent. The moisture contended to increase with the increase in the ratio of crystal phenol to the black liquor distillate.The density of plywood was about 0.5710  - 0.6431  gram per cm3,  and tended to increasewith the increase in the ratio of crystal phenol  as well.                                                                                •The bonding strength  of plywood without boiling-treatment   was in the range of 11.173-23.722 kg per cm2, where by the lowest strength occurred at implementing 1 : 20 ratio (A4) and the highest at 1 : 5(A1). Meanwhile, the bonding-strength test with boiling-treatment  revealed the value at 1.924 - 18.306  kg per cm2 in that the lowest value was at 1 : 25 ratio (A5) and the highest at 1 : 5 ratio (Al).

PENGARUH CARA EKSTRAKSI TERHADAP SIFAT FISIKA DAN KIMIA SAGU

Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 1 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6093.673 KB)

Abstract

The aim of this investigation is to evaluate  the effect of extraction methodes on physical  and chemical properties  of sago. Extraction  methodes  comprise  of  fermentation,  mechanical, and  traditional.The result indicated that sago yield varies from 20,19%  - 40,12%, acidity  0,89 - 0,98,  moisture  13,39% -14,29%, ash 0,15%  - 0,32%, protein 0,38%  - 0,46%, crude  fiber 0,27%  - 0,31%,  fat  0,17%  - 0,23%  and amylum  72,64%  - 88,12%.Mechanical  extractions  gave  the  highest  yield  and  amylum  content. Fermentation  methode  show more  acid  than traditional.  The traditional  methode presents the  highest ash content. This included that the mechanical methode  seemed to be preferable   for  commercial application.

PEMBUATAN BIOGAS DENGAN PROSES RUDAD Biogas production by using RUDAD process (Rumen derived anaerobic)

Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 2 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3818.453 KB)

Abstract

This experiment deals with anaerobic decomposition of organic materials into biogas and compost materials using the so called RUDAD (Rumen Derived Anaerobic Digestion) process. the inoculum used in the process was ruminantia microbes living in fistula liquid of goat stomach. The predominantly microbes involved were cilliate protozoa, phycomycetes fungi, anaerobic bacteria. substrates used were King grass, city waste and saw dust with and without agitation during the treatments.The Results showed that the highest biogas production was obtained from King grass i.e 1.06 1/d and 1.20 1/d for those without and with agitation treatments respectively. the highest volatile solid reduction was also obtained from King grass with the reduction of 6.4 percent for the process without agliation and 7.4 percent for the agitated treatment. king grass again showed the highest COD reduction, i.e. 2.0 g/g and 2.3 g/g for those without and with agitation, respectively. Either for cellulose and lignin degradation,King grass gave the highest cellulose reduction of 13.2 percent for the process without and 14.5 percent for the process with agitations, while lignin reductions were 1. 8 percent for the first and 0. 6 percent for the second treatments.

(Kerancuan • dalam beberapa metode penetapan Nitrogen Bagian 1. Penetapan beberapa senyawa Nitrogen)

Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 5 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11258.128 KB)

Abstract

Penetapan lhirteralnitrogen menurut metode MgO, Devarda,penetapan organik nitrogen menurut metode Kjeldahl dan penetapan  total  nitrogen menurut  metode  persulphat adakzh sangat umum  dan digunakan aecara  luaa di aeluruh dunia, karena sederhana dengan ketelitian yang memenuhi ryarat. Namun hasil pengamatan akhir-akhir ini menunjuk- kan  bahwa tidak   aemua jenis  organik nitrogen atau  mineral nitrogen dapat ditetapkan kadarnya aecara  teliti dengan menggunakan metode analisis te18ebut.Penelitlan..  ini bertujuan untuk  mengetahui ketelitian  penetapan kadar nitrogen dengan metode  te18ebutdi ataa untuk  11 jeniB aenyawa organik dan  mineral nitrogen. Hasil penelitian menur.;ukkan bahwa aenyawa azo •dan  benzo aangatrendah ketelitiannya bila ditetapkan dengan metode Kjeldahl dan ge1Bulphat. Senyawa nitro dan nitroso ketelitian- nya rendah bila ditetapkan dengan metode. Kjeldahl, tetapi sedikit lebih tinggi bila ditetapkan dengan metode pe18ulphat.

PRODUKSI BIOGAS DARI LIMBAH PENGOLAHAN KELAPA SAWIT DENGAN PROSES FERMENTASI PADAT

Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 21, No 3 (2003): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6361.359 KB)

Abstract

The aim of this investigation was to evaluate the characteristic of biogas produced from the wastes of palm-oil solid fermentation processing, the assessment on its potential prospect was also studied. The wastes consist of the mixture of empty bunches, pericarp, and sludge. The mixing ratio in weight was 1.3: 1.2: 1.0 respectively. The conditions implemented in the fermentation process were temperature (55° C), and content of dry matters or substrate (i.e. mixture of empty bunches, pericarp, and sludge) in the fermentation digester (35 %). The fermentation was conducted either in batch or continuous system. The weight ratios between substrate and inoculum were consecutively 25 : 500, 50 : 500, 75 : 500, and 100 : 500.Results revealed that fermentation in the batch system at 25 : 500 ratio as such afforded biogas with the highest yield (145 ml per liter-hour) and the most intense degradation on the organic matters (32.3 % VS). meanwhile, the fermentation using continuous system at 25 : 500 brought out biogas with the highest production (1623.7 ml per liter-d). Keywords : Palm oil processing, wastes, fermentation, substrate, and inoculum.