Articles

Found 9 Documents
Search

Studi komparasi hasil persilangan ikan mujair (Oreochromis mossambicus) dan ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dibesarkan di tambak payau Setyawan, Priadi; Robisalmi, Adam; D., Sri Pudji S.
Zuriat Vol 23, No 1 (2012)
Publisher : Zuriat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Potensi budidaya ikan di lahan pesisir di Indonesia sangat besar. Diperlukan ikan yang dapat tumbuh dengan baik di perairan payau. Ikan nila Nirwana (Nw) mempunyai pertumbuhan yang baik di air tawar, sedangkan ikan Mujair (Mj) dapat dibudidayakan di perairan payau. Persilangan diantara keduanya diharapkan dapat menghasilkan ikan dengan laju pertumbuhan yang baik di perairan payau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa hasil persilangan ikan Nirwana dan Mujair di tambak bersalinitas sedang 10-20 ppt. Penelitian dilaksanakan di Congot, Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan Agustus-Desember 2010. Ikan yang diuji adalah hasil persilangan NwxNw, MjxNw dan NwxMj. Benih hasil pemijahan alami di air tawar diaklimatisasi 5 ppt per hari hingga 20 ppt. Pembesaran dilakukan dalam waring 5x5 m2 dengan kepadatan 10 ekor/meter. Masing-masing populasi diulang 3 kali dan dipelihara selama 5 bulan. Hasil pengujian menunjukkan rerata bobot tertinggi pada populasi NwxNw (193,62+22,53 gr) diikuti NwxMj (136,92+19,76 gr) dan MjxNw (121,23+17,92 gr). Sedangkan nilai sintasan (SR) tertinggi terdapat pada populasi MjxNw (78%) diikuti NwxMj (74%) dan NwxNw (66%). Pada akhir pemeliharaan persilangan NwxNw mempunyai rerata biomassa tertinggi (31.947 gr), diikuti NwxMj (25.467 gr) dan MjxNw (23.640 gr). Hal ini mengindikasikan ikan nila Nirwana dapat dibudidayakan pada perairan bersalinitas sedang dengan keragaan pertumbuhan terbaik diantara populasi uji lainnya.
NUTRITIVE COMPOSITION OF RED TILAPIA REARED IN FRESHWATER AND BRACKISHWATER Dewi, Raden Roro Sri Pudji Sinarni; Setyawan, Priadi; Tahapari, Evi; Robisalmi, Adam; Listiyowati, Nunuk
Indonesian Aquaculture Journal Vol 7, No 1 (2012): (June 2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.372 KB) | DOI: 10.15578/iaj.7.1.2012.19-27

Abstract

The aim of this research was to investigate the nutritive composition (especially fatty acids) in red tilapia that was reared in freshwater and brackishwater. The fatty acid contents were determined by gas chromatography. The fatty acids profile were -3 (linolenic acid, eicosapentaenoic acid/EPA, docosahexaenoic acid/DHA), -6 (linoleic acid, arachidonic acid/AA), and -9 (oleic acid). Red tilapia samples were obtained from Research Institute for Fish Breeding, Sukamandi, West Java (freshwater ponds) and Congot, Yogyakarta (brackishwater ponds; salinity 20 ppt). In this research, red tilapia reared in different ecosystems showed different fatty acid profiles. Red tilapia inhabiting brackishwater ecosystem has EPA (0.26±0.05%), DHA (3.42±0.26%), and linoleic acid (17.20±0.56%) content higher than freshwater ecosystem (EPA = 0%; DHA = 0.67±0.44%; linoleic acid = 9.08±4.76%), except for linolenic acid (0.30±0.15% vs 0.25±0.10%), arachidonic acid (0.77±0.39% vs 0.93±0.13%) and oleic acid (38.67±2.58% vs 37.44±0.74%). The ratio of -6/-3 in red tilapia inhabiting freshwater ecosystem was about 11/1. The culture tilapia in brackishwater ecosystem decrease -6/-3 ratio (4.5:1). So that for human health, it will be better to consume brackishwater red tilapia than freshwater red tilapia.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN KERAGAAN DARAH DARI TIGA STRAIN IKAN NILA TERHADAP PEMBERIAN HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN IKAN KERAPU KERTANG Listiyowati, Nunuk; Alimuddin, Alimuddin; Sukenda, Sukenda; Setyawan, Priadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.867 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.481-492

Abstract

Berbagai strain ikan nila sudah berhasil dibudidayakan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penambahan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus (rElGH) dalam pakan terhadap performa pertumbuhan dan imunitas tiga strain ikan nila terhadap infeksi bakteri Streptococcus agalactiae. Tiga strain nila yang digunakan adalah strain nila biru (hasil pemuliaan di Sukamandi), srikandi (toleran salinitas tinggi dari Sukamandi) dan nirwana (hasil pemuliaan di Wanayasa)dengan kisaran rerata bobot 0,24-0,4 g/ekor dan panjang standar 1,9-2,27 cm/ekor. Ikan dipelihara dalam bak fiber bulat kapasitas 1,5 ton air sebanyak sembilan buah selama 50 hari, dengan padat tebar 200 ekor/bak. Pakan mengandung rElGH dosis 2 mg/kg pakan diberikan dua hari sekali, selama dua minggu dengan frekuensi tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore) secara at satiation (sampai kenyang). Hasil penelitian menunjukkan ikan yang diberi rElGH memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kontrol, kecuali nila biru. Pertumbuhan terbaik terdapat pada nila srikandi dengan bobot 6,08 ± 1,26 g; laju pertumbuhan harian 0,12 ± 0,03 g/hari dan panjang standar 5,5 ± 0,63 cm. Ikan nila yang mendapatkan perlakuan rElGH pada pakan menunjukkan ketahanan tubuh yang berbeda ketika diuji tantang dengan bakteri S. agalactiae. Ikan nila nirwana memiliki jumlah kematian yang paling sedikit P<0,05) dibandingkan dengan ikan nila srikandi dan nila biru terhadap infeksi S. agalactiae. Nilai MTD ikan nila nirwana perlakuan rElGH dan kontrol adalah 174,3 jam dan 217,7 jam. Hasil pengamatan uji tantang menunjukkan bahwa tidak ada yang berbeda dalam parameter hematologi. Sebagai kesimpulan, strain ikan nila sangat memengaruhi efektivitas pemberian rElGH dalam memacu pertumbuhan dan imunitasnya.
THE IMPACTS OF FASTING PERIODS ON FOOD INTAKE, GROWTH RATE, COMPENSATORY GROWTH, AND EFFICIENCY OF FEED UTILIZATION IN BLUE TILAPIA (Oreochromis aureus) REARED IN BRACKISH WATER PONDS Setyawan, Priadi; Robisalmi, Adam; Listiyowati, Nunuk; Dewi, Raden Roro Sri Pudji Sinarni; Imron, Imron
Indonesian Aquaculture Journal Vol 7, No 2 (2012): (December 2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1364.039 KB) | DOI: 10.15578/iaj.7.2.2012.149-156

Abstract

Blue tilapia (Oreochromis aureus) has known as euryhaline species refers to wide range of salinity tolerance. The pure population or hybrid with other strain of tilapia can be a good candidate in marginal coastal land use. Tilapia is the most important aquaculture species in Indonesia. Refers to FAO 2010, Indonesia is the third biggest of tilapia production after China and Egypt. One of the main problems in aquaculture is their feed as the major cost in fish farming. Various techniques had carried out to reduce of feed cost such as improving fish quality, sex reversal and feed management. This research aimed to determine of compensatory growth in tilapia as one technique in feed management. Fry obtained from natural spawning in freshwater pond. Acclimatization in 20 ppt made in aquarium for 4 days after one month reared in hapas. Fish reared in 2 m x 1 m hapas with five treatments and three replications. This research had conducted at brackish water pond in Yogyakarta. The treatments is A: one day fasting and six days feeding (1/6), B: 2/5, C: 3/4, D: 4/3 and E is control. Results showed that the biggest of average weight gain is treatment of E (68.36 g) followed by A (66.38 g), B (62.44 g), C (43.56 g), and D (27.30 g) respectively. One-way ANOVAs analysis with 95% of interval confidences continued with Tukey’s Pairwaise comparison showed that nothing significant different between E, A, and B. The biggest of daily growth rate and specific growth rate is E (0.75 g/day and 4.68 %bw/day) followed by A (0.73 g/day and 4.65 %bw/day); B (0.69 g/day and 4.58 %bw/day); C (0.48 g/day and 4.18% bw/day) and D (0.29 g/day and 3.65% bw/day) respectively. Survival rate of A is 73.00% followed by E. 72.00%, C. 71.00%, D. 69.69%, and B. 67.00% respectively. Feed conversion ratio of D is 0.83 followed by C (0.87), B (0.98), A (1.16), and E (1.41). Food efficiency ratio of D is 127.06% followed by C (118.75%), B (106.09%), A (88.87%), and E (73.38%). These results indicate that fasting of one day and two days has no significant effect on fish growth. Treatment A and B is the better treatment for fish culture refers to the better value of FCR, FER, and total weight gain.
PELUANG PEMANFAATAN IKAN NILA BIRU (Oreochromis aureus) DI INDONESIA SEBAGAI KOMODITAS PROSPEKTIF PERIKANAN Setyawan, Priadi
Media Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1548.973 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.2.2014.97-102

Abstract

Abstrak lengkap dapat dilihat di file PDF
EVALUASI RESPONS PERTUMBUHAN DAN NILAI HERITABILITAS IKAN NILA MERAH F-2 HASIL SELEKSI FAMILI PADA TAMBAK BERSALINITAS TINGGI Robisalmi, Adam; Setyawan, Priadi; Gunadi, Bambang
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.816 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.313-323

Abstract

Dalam rangka peningkatan produksi ikan nila, maka dilakukan kegiatan pembentukan ikan nila toleran salinitas tinggi strain nila merah yang tumbuh cepat di perairan payau. Kegiatan perbaikan genetik pada ikan nila merah ini dilakukan melalui jalur seleksi famili. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan bobot dan mengetahui heritabilitas nyata ikan nila merah F-2 di tambak. Pembenihan dilakukan di air tawar menggunakan metode pemijahan secara fullsib dengan perbandingan induk jantan dan betina1:1. Jumlah famili yang dipelihara sampai pembesaran di tambak adalah 16 famili. Sebelum penebaran di tambak, benih ikan nila merah diaklimatisasi dengan air laut sebanyak 5 salinitas 25 ppt. Kegiatan uji respons seleksi dilakukan di tambak bersalinitas 25-45 ppt selama tiga bulan. Selama pembesaran populasi jantan dan betina dipelihara secara terpisah. Parameter yang diamati adalah: pertumbuhan, nilai heritabilitas nyata, dan respons seleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi F-2 ikan nila merah seleksi mempunyai pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding populasi F-2 kontrol. Nilai pertumbuhan bobot mutlak populasi jantan sebesar 100,37±7,43 g dengan laju pertumbuhan spesifik 1,44% bobot/hari dan pertumbuhan bobot mutlak populasi betina 80,85±3,62 g dengan pertumbuhan spesifik 1,5% bobot/hari. Nilai selisih bobot seleksi dengan kontrol pada populasi jantan 19,23 g dan betina 17,57 g. Nilai heritabilitas nyata yang diperoleh populasi F-2 ikan nila merah jantan dan betina sebesar 0,34 dan 0,41 dengan respons seleksi 18,10% dan 21,70%.
PERBAIKAN PERTUMBUHAN DAN TOLERANSI SALINITAS IKAN NILA SRIKANDI (Oreochromis aureus x O. niloticus) MELALUI HIBRIDISASI DAN BACK-CROSS DENGAN O. aureus F-1 DI KARAMBA JARING APUNG LAUT Setyawan, Priadi; Robisalmi, Adam; Gunadi, Bambang
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.039 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.471-479

Abstract

Ikan nila Srikandi merupakan hasil persilangan antara ikan nila hitam (Oreochromis niloticus) dan ikan nila biru (O. aureus) yang dapat tumbuh baik pada salinitas 10-30 g/L. Kendala yang sering dihadapi dalam pengembangan budidaya di tambak adalah mortalitas tinggi akibat tingginya fluktuasi salinitas air tambak. Perairan laut mempunyai fluktuasi salinitas yang rendah sehingga dapat dijadikan solusi. Namun demikian, salinitas di atas 30 g/L menyebabkan penurunan laju pertumbuhan dan sintasan ikan. Persilangan antara ikan nila biru F-1 (AuF1) hasil seleksi famili dengan ikan nila hitam Nirwana 2 (Nw2) atau nila Srikandi (Sr) diharapkan dapat meningkatkan toleransi salinitas dan pertumbuhan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan toleransi salinitas ikan nila hibrida hasil persilangan dengan AuF1 di karamba jaring apung (KJA) laut di Kabupaten Brebes. Penelitian eksperimental dengan tiga ulangan dilakukan pada lima populasi hasil kombinasi perkawinan Nw2 x AuF1, Sr x AuF1, Nw x Au (Nirwana x Aureus atau Srikandi), Nw2 x Nw2 dan AuF1 x AuF1. Benih berukuran 3-5 cm diaklimatisasi hingga salinitas laut. Pemeliharaan dilakukan pada jaring 3 m x 5 m x 2 m dengan padat tebar 10 ekor/m3 selama tiga bulan. Pemberian pakan komersial berprotein 30% dilakukan dua kali sehari sebanyak 3%-5% biomassa. Hasil pengujian menunjukkan rerata bobot akhir pada seluruh populasi berkisar antara 126,9-182,7 g dengan rerata sintasan 14,67%-70,13%. Ikan nila biru F-1 dapat meningkatkan karakter sintasan 33,54% pada hasil hibridisasi Nw2xAuF1 dan 35,27% pada persilangan backcross (Sr x AuF1) dibandingkan dengan ikan nila Srikandi, sedangkan pada karakter bobot badan meningkat sebesar 4,34% pada populasi hibrida dan 11,68% pada populasi backcross. Populasi Nw2 x AuF1 dan Sr x AuF1 menghasilkan biomassa panen yang lebih tinggi dibandingkan ikan nila Srikandi sehingga dapat dijadikan kandidat untuk budidaya ikan nila di KJA laut.
Effect of different male and female sex ratio on growth of juvenile blue tilapia Oreochromis aureus (Steindachner 1864) Robisalmi, Adam; Setyawan, Priadi; Gunadi, Bambang
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 17, No 1 (2017): February 2017
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1227.941 KB) | DOI: 10.32491/jii.v17i1.304

Abstract

Blue tilapia is one strain of tilapia potential to be developed. This fish has highly tolerant of low temperatures and salinity. In the development of aquaculture of tilapia, male monosex give higher production than mix male-female culture. This activity aims to determine the growth performance of juvenile blue tilapia reared by different ratio of male and female. The study was conducted for 90 days at the Research Institute for Fish Breeding Sukamandi. The fish used are blue tilapia stocking with the initial weight 32.32±2.34 g. Rearing juvenile of blue tilapia using net 2x1 m2 with stocking density 30 fish per net. The treatment is a difference in the ratio of male and female i.e A (100% male), B (75% male: 25% female), C (50% male: 50% female), D (25% male: 75% female), and E (100% female). The fish were fed with formulated food (32% protein) twice daily as much as 5 % of the biomass. The parameters observed were absolute growth, specific growth rate, daily growth rate, feed conversion ratio and survival rate. The results showed A, blue tilapia with 100% male had highest growth performance, longest and the highest weight i.e 8.33±0.67cm and 136.50± 11.92g; with highest specific growth rate, food conversion and survival rate, i,e 1.76±0.05 weight day-1, 1.52±0,20 and 96.66%. While the lowest growth and feed conversion was D, fish mix culture of blue tilapia (25% male: 75% female). Blue tilapia male 100% monosex is recommended to use in aquaculture because it showed the highest growth with lower feed conversion. AbstrakIkan nila biru (Oreochromis aureus) merupakan satu jenis ikan yang potensial untuk dikembangkan. Ikan ini memiliki keunggulan toleran terhadap suhu rendah dan salinitas tinggi. Dalam perkembangan budi daya, populasi ikan nila tung-gal kelamin jantan diyakini memberikan hasil produksi lebih baik dibandingkan kelamin campuran. Kegiatan ini bertu-juan untuk mengevaluasi performa pertumbuhan yuwana ikan nila biru yang dipelihara dengan nisbah kelamin jantan dan betina berbeda. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan Sukamandi selama 90 hari. Ikan yang di-gunakan adalah ikan nila biru dengan bobot awal tebar 32,32±2,34 g. Yuwana nila biru dipelihara di hapa berukuran 2x1 m2 dengan padat tebar 30 ekor per hapa. Perlakuan adalah perbedaan nisbah kelamin jantan dan betina yaitu A (100% jantan), B (75% jantan : 25% betina), C (50% jantan : 50% betina), D (25% jantan : 75% betina) dan E (100% betina). Selama pemeliharaan ikan diberi pakan berkadar protein 32% dengan frekuensi dua kali sehari sebanyak 5% dari bobot ikan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, laju pertumbuhan harian, nisbah konversi pakan, dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan populasi ikan nila biru yang dipelihara 100% jantan mempunyai performa pertumbuhan panjang dan bobot tertinggi sebesar 8,33±0,67cm dan 136,50±11,92 g dengan laju pertumbuhan spesifik yang tinggi sebesar 1,76±0,05% bobot hari-1, konversi pakan 1,52±0,20 dan sintasan 96,66%, sedangkan pertumbuhan terendah pada populasi ikan nila biru campuran (25% jantan : 75% betina). Pengguna-an ikan nila biru monoseks jantan 100% dianjurkan untuk digunakan dalam kegiatan budi daya karena mempunyai pertumbuhan tertinggi dengan konversi pakan yang rendah.
A SIMPLE PARAFFIN EMBEDDED PROTOCOL FOR FISH EGG, EMBRYO, AND LARVAE Wijayanti, Gratiana Eka; Setyawan, Priadi; Kurniawati, Indah Dwi
Scripta Biologica Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.039 KB) | DOI: 10.20884/1.sb.2017.4.2.420

Abstract

This paper describes a simple protocol of paraffin-embedded histological section for fish eggs, embryo and larvae of the hard-lipped barb and the giant gourami. The specimens were fixed in Bouin solution, washed in 70% ethanol, then were dehydrated in a series of ethanol solution of increasing concentration until absolute ethanol was reached. The specimens were cleared in graded xylene and were infiltrated with liquid paraffin then were embedded in pure paraffin. Upon sectioning, at 4–5 µm thick the specimens were attached to the gelatin-coated glass slide and let to dry at room temperature or 37°C overnight. The specimens were deparaffinized in xylene, rehydrated then were stained with hematoxylin and eosin. After being dehydrated in graded ethanol, the specimens were cleared in xylene and were mounted with an organic mounting agent. Any step in preparing histological section including samples collection, fixation, dehydration, infiltration and embedding might contribute to the quality of histological features. A proper knowledge of the tissues beeing processed, fixative solution and the histological techniques is essential to gain good results. Bouin fixative is preferable to fix fish larvae and produce a good histological feature. Decalcification is necessary to produce a good histological section on the specimens containing bone.