Articles

Found 21 Documents
Search

Aplikasi Kemometrik dalam Penentuan Mutu Tumbuhan Obat

Pharmauho Vol 4, No 2 (2018): Pharmauho
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat-obatan herbal dan sediaannya telah banyak digunakan selama ratusan tahun di seluruh dunia. Banyak pendekatan analitis modern digunakan untuk mengevaluasi kualitas tanaman obat, dan sejumlah besar data pengukuran telah dihasilkan. Studi yang melibatkan aplikasi kemometrik yang dikombinasikan dengan metode analisis, seperti HPLC, GC, spektroskopi NMR, UV dan IR telah banyak dilakukan untuk mengetahui kualitas mutu tumbuhan yang berupa diskriminasi taksonomi, penilaian kualitas atau klasifikasi antara tanaman dengan asal geografis yang berbeda. Tinjauan ini bertujuan pada penerapan aplikasi kemometrik sebagai metode yang efisien dan efektif untuk penentuan kualitas mutu tumbuhan.Kata kunci: Kemometrik, herbal, analisis, obat tradisional, mutu

Aplikasi Teknologi Nanopartikel Polimer Eter Selulosa Dalam Sistem Penghantaran Obat : Artikel Review

Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengulas tentang polimer eter selulosa yang dibentuk dengan teknologi nanopartikel dalam sistem penghantaran obat. Eter selulosa merupakan bagian dari selulosa yang ada di alam. Eter selulosa memiliki turunan diantaranya metil selulosa, etil selulosa, hidroksipropil selulosa, hidroksietil selulosa, hidroksipropil metil selulosa, hidroksi etil metil selulosa, natrium karboksi metil selulosa. Dalam artikel ini, metode yang digunakan dalam mengumpulkan data-data mengenai turunan eter selulosa yang sering digunakan dalam sediaan farmasi dan teknologi nanopartikel dalam sistem penghantaran obat diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah dan buku. Dalam farmasi, turunan eter selulosa sering digunakan dalam sediaan farmasi karena memiliki sifat yang khas. Dengan berkembangnya teknologi, banyak sediaan farmasi yang dikembangkan dalam bentuk nanopartikel seperti sistem obat dalam matriks yaitu nanoliposom, nanosfer dan nanokapsul dan sebagai kombinasi dalam sistem scaffold dan penghantaran transderma, hal ini dapat terjadi dikarenakan kemampuannya dalam menembus dinding sel, baik secara difusi, opsonifikasi maupun fleksibilitas. Polimer eter selulosa pada penerapannya memiliki sifat yang khas sehingga dapat digunakan sebagai matriks, coating tablet, granul, pengemulsi, pensuspensi dalam sistem penghantaran obat.Kata kunci : Eter selulosa, Nanopartikel, Sistem penghantaran obat

Simulasi Docking Molekuler Senyawa Xanthorrhizol sebagai Antiinflamasi terhadap Enzim COX-1 dan COX-2

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.794 KB)

Abstract

Enzim yang memengaruhi proses inflamasi, yaitu enzim COX-1 dan COX-2, berfungsi dalam pembentukan prostaglandin untuk pembentukan inflamasi. Xanthorrhizol mempunyai efek antiinflamasi sehingga dilakukan uji simulasi docking xanthorrizol terhadap enzim COX-1 dan COX-2. Penelitian dilakukan untuk mengetahui interaksi senyawa xanthorrhizol yang berasal dari tanaman temulawak (Curcuma xanthorriza) dengan sisi aktif enzim COX-1 dan COX-2. Proses docking senyawa tersebut dengan software Autodock 3.0. Hasil docking molekuler antara xanthorrhizol dengan COX-1 yaitu atom O pada xanthorrhizol berinteraksi dengan Arg120 dan Tyr355, interaksi xanthorrhizol dengan COX-2 yaitu gugus OH dari xanthorrhizol berinteraksi dengan asam amino Gln178 dan Leu338. Leu338 merupakan salah satu asam amino spesifik pada kantung ikatan COX-2. Hasil penelitian menunjukkan xanthorrhizol dapat berinteraksi dengan sisi aktif enzim COX-1 dan COX-2, memiliki afinitas yang lebih tinggi untuk berikatan pada sisi aktif COX-2 dibandingkan pada COX-1. Kata kunci: Antiinflamasi, COX-1, COX-2, docking, xanthorrhizol

Pemanfaatan Tanaman Eceng-Ecengan (Ponteridaceae) sebagai Agen Fitoremediasi dalam Pengolahan Limbah Krom

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2252.638 KB)

Abstract

Permasalahan pencemaran air yang disebabkan oleh limbah krom industri penyamakan kulit di kawasan Sukaregang, Kabupaten Garut perlu diolah dengan teknik fitoremediasi dengan tanaman dari keluarga Ponteridaceae. Penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui kadar penyerapan tanaman eceng-ecengan dan menentukan eceng mana yang paling efektif menyerap krom. Penelitian ini dilakukan dengan tahap pengumpulan bahan dan determinasi tanaman eceng-ecengan, pengolahan limbah dengan fitoremediasi selama 21 hari, dan analisis kadar krom dengan spektrofotometer serapan atom. Kapasitas penyerapan Eichhornia crassipes Solm., Heteranthera peduncularis, dan Monochoria vaginalis adalah 1,5395; 0,5728; dan 0,1057 µg/g. Berdasarkan uji Duncan, disimpulkan bahwa Eichhornia crassipes Solm. merupakan tanaman eceng paling efektif yang memiliki kemampuan paling tinggi dalam menyerap logam krom limbah penyamakan kulit. Kata kunci: Eichhornia crassipes Solm., fitoremediasi, Heteranthera peduncularis, krom, Monochoria vaginalis

REVIEW: TEKNIK ANALISIS INSTRUMENTASI SENYAWA TANIN

Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat herbal dan sintetik dari berbagai sumber senyawa kian dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kesehatan. Untuk melakukan pengembangan obat diperlukan Teknik Isolasi dan Identifikasi senyawa. Berbagai teknik yang digunakan untuk identifikasi diantaranya adalah penggunaan berbagai instrumen seperti Spektrofotometri UV-Vis, FTIR, HPLC dan NIR. Salah satu senyawa yang dapat dianalisis dengan menggunakan instrumen tersebut adalah Tanin. Tanin adalah salah satu senyawa aktif metabolit sekunder golongan polifenol yang dihasilkan oleh tanaman. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk membahas metode instrumentasi yang dapat digunakan untuk identifikasi tanin pada sampel tanaman. Metode yang digunakan dalam review ini berdasarkan studi literatur dari beberapa publikasi ilmiah baik pada jurnal nasional maupun internasional

KARAKTERISTIK SENYAWA INHIBITOR YANG BERPOTENSI SELEKTIF TERHADAP RESEPTOR INDUCIBLE NOS : REVIEW JURNAL

Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengulas tentang karakteristik senyawa inhibitor yang berpotensi selektif terhadap reseptor inducible NOS . Secara endogen, NO disintesis oleh enzim NOS yang mempunyai tiga isoenzim yaitu endothelial NOS (eNOS), neuronal NOS (nNOS), dan inducible NOS (iNOS). Ketiga

Analisis Kalium dan Kalsium pada Ikan Kembung dan Ikan Gabus

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.073 KB)

Abstract

Kalium dan kalsium merupakan makromineral, yang memiliki peran dan fungsi penting bagi tubuh, baik pada sel, jaringan, organ, dan keseluruhan tubuh. Kalium berfungsi untuk mengaktifkan enzim, serta membantu dalam menjaga tekanan osmotik dan keseimbangan antara asam dan basa, sedangkan kalsium berfungsi dalam pemeliharaan tulang dan gigi serta membantu kontraksi dan relaksasi pada otot. Salah satu sumber mikromineral yaitu ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan kalium dan kalsium pada ikan kembung dan ikan gabus. Analisis kandungan kalium dan kalsium menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), terdiri atas: preparasi sampel dengan metode destruksi basah (HNO3 35% dan H2O2 30%), validasi metode dan analisis sampel ikan kembung dan ikan gabus. Kadar kalium pada ikan kembung adalah 64.391,16 mg/100 g +97,62 dan pada ikan gabus adalah 30.988,70 mg/100 g +230,62 sedangkan kadar kalsium pada ikan kembung adalah 29.197,6607 mg/100 g +17,77 dan pada ikan gabus adalah 21.369,7065 mg/100 g +13,99. Kandungan kalium dan kalsium pada ikan kembung dan ikan gabus  sangat berbeda, hal ini dikarenakan habitat pada ikan kembung dan ikan gabus berbeda. Kata kunci: Ikan gabus, ikan kembung, kalium, kalsium, SSA

Analisis Timbal dalam Kerang Hijau, Kerang Bulu, dan Sedimen di Teluk Jakarta

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.337 KB)

Abstract

Timbal merupakan logam berat yang dihasilkan dari limbah industri dan ditemukan dalam perairan. Timbal dalam jumlah kecil tidak berbahaya bagi manusia namun jika jumlahnya melampaui batas dapat menyebabkan keracunan akut maupun kronis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam berat timbal dalam kerang hijau, kerang bulu, dan sedimen di perairan Teluk Jakarta. Metode yang digunakan adalah Spektrofotometri Serapan Atom, meliputi validasi metode analisis yang terdiri atas penetapan linieritas, batas deteksi dan batas kuantitasi, akurasi dan presisi, serta analisis kadar timbal pada sampel. Hasil  penelitian  menunjukkan nilai linieritas 0,9971, batas deteksi 0,04 µg/g, batas kuantitasi 0,14 µg/g, akurasi untuk sampel kerang dan sedimen berturut-turut adalah 99,66% dan 87,64%, nilai koefeisen variasi untuk sampel kerang dan sedimen berturut-turut adalah 0,64% dan 1,07%. Hasil analisis kadar timbal dalam kerang hijau adalah 13,98±1,924 µg/g, kerang bulu adalah 33,64±4,66 µg/g, dan sedimen adalah 28,6720±1,06 µg/g. Hasil analisis kadar timbal dalam sampel menunjukkan bahwa kandungan timbal berada di atas ambang batas yang ditetapkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan No.HK.00.06.1.52.4011 yaitu 1,5 µg/g.Kata kunci: Kerang, sedimen, spektrofotometri serapan atom, timbal

Inulin dari Akar Jombang (Taraxacum officinale Webb.) sebagai Prebiotik dalam Yoghurt Sinbiotik

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.088 KB)

Abstract

Jombang (Taraxacum officinale Webb.) dikenal dengan taraksakum (Jawa), dandelion (Inggris), pu gong ying (China), mempunyai kandungan inulin pada akarnya. Inulin merupakan polimer dari monomer-monomer fruktosa yang dapat berfungsi sebagai prebiotik. Untuk lebih mengetahui manfaat inulin dari akar jombang sebagai prebiotik dan mengaplikasikannya dalam yoghurt sinbiotik.  Tahapan penelitian meliputi ekstraksi inulin dari akar jombang, identifikasi inulin, uji aktivitas prebiotik, pembuatan bibit yoghurt, fermentasi yoghurt sinbiotik, dan uji analisis yoghurt. Ekstraksi inulin dilakukan dengan cara pengendapan menggunakan campuran etanol-air dan pemucatan dengan karbon aktif, diperoleh rendemen serbuk inulin sebesar 5,12%. Uji aktivitas prebiotik secara in vitro terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri Lactobacillus burgaricus dan Bifidobacterium bifidum. Serbuk inulin dari akar jombang dengan konsentrasi 0, 3, 5, dan 7% dapat meningkatkan jumlah bakteri asam laktat dalam yoghurt sinbiotik masing-masing memberikan viabilitas sebesar 1,7; 3,65; 4,55; dan 7,2 cfu/mL (x108).Kata kunci: Inulin, jombang, prebiotik, yoghurt sinbiotik

Karakterisasi Carboxymethyl Cellulose Sodium (Na-CMC) dari Selulosa Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms.) yang Tumbuh di Daerah Jatinangor dan Lembang

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.677 KB)

Abstract

Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms.) berpotensi sebagai sumber bahan baku pembuatan carboxymethyl cellulose sodium (Na-CMC) karena memiliki kandungan selulosa yang tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik Na-CMC serta mengetahui signifikansi perbedaan parameter WHC (Water Holding Capacity) dan OHC (Oil Holding Capacity) dari Na CMC yang disintesis dari selulosa eceng gondok yang tumbuh di Jatinangor dan Lembang. Dilakukan isolasi α-selulosa menggunakan natrium hidroksida 30%,  sintesis Na-CMC melalui tahap alkalinasi menggunakan natrium hidroksida 40% dan karboksimetilasi dengan natrium monokloroasetat; penambahan crosslinker epiklorohidrin; dan karakterisasi Na-CMC berdasarkan Farmakope Indonesia, dan JECFA. Diperoleh rendemen α-selulosa hasil isolasi dari eceng gondok Jatinangor sebesar 20,80% dan Lembang sebesar 18,60% dengan kadar α-selulosa masing-masing 76,53% dan 71,35%; hasil sintesis diperoleh rendemen Na-CMC sebesar 96,87% dan 85,03%; penambahan crosslinker menghasilkan rendemen Na-CMC sebesar 439,14% dan 221,81%. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa Na-CMC telah memenuhi persyaratan organoleptis, kelarutan, foam test, pembentukan endapan, viskositas dan kandungan logam berat. Beberapa parameter lain seperti susut pengeringan, kandungan natrium dan derajat substitusi belum memenuhi persyaratan, namun mempunyai nilai yang lebih baik dibandingkan dengan Na-CMC baku. Uji statistika komparatif menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada nilai WHC namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai OHC dari Na-CMC hasil sintesis dari tanaman eceng gondok yang tumbuh di Jatinangor dan Lembang.