Adi Bayu Mahadian, Adi Bayu
Prdi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

MAKNA KONSEP DIRI MANTAN ANAK JALANAN

Jurnal Kajian Komunikasi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.882 KB)

Abstract

Mantan anak jalanan dalam kehidupannya saat ini memiliki konsep diri atau gambaran terhadap dirinyadari apa yang sudah mereka alami dalam peristiwa dan pengalamannya di masa lalu. Melalui konsepdirinya, mantan anak jalanan menampilkan simbol-simbol yang telah mereka beri makna dan telah merekapertukarkanhingga mereka tampilkan dalam tindakannya saat ini.Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui bagaimanakah konsep diri mantan anak jalanan dan bagaimanakah makna simbolik yangdipertukarkan oleh mereka.Teori yang mendasari penelitian ini adalah teori interaksi simbolik menurutBlumer dan Mead serta teori the looking glass self menurut Cooley. Penelitian ini menggunakan pendekatankualitatif dengan fenomenologi sebagai metode penelitiannya. Dari seluruh proses penelitian yang dilakukan,didapatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dari keempat kelompok makna konsep diri yangmelekat pada diri mereka, yaitu peran ekonomi, moral, harga diri, dan aktualisasi diri, mereka melakukansebuah pertukaran simbol yang telah mereka beri makna lalu mereka tunjukkan melalui tindakan berupapenampilan dan perilaku.

PERBANDINGAN PERSEPSI KHALAYAK ANTARA IKLAN YANG MENGANDUNG HUMOR DAN TIDAK MENGANDUNG HUMOR

PRofesi Humas : Jurnal Ilmiah Ilmu Hubungan Masyarakat Vol 1, No 2 (2017): PRofesi Humas
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.107 KB)

Abstract

Periklanan menjadi salah satu komponen penting dalam komunikasi pemasaran. Sebuah iklan akan dipersepsi oleh alam pikir melalui berbagai tahapan. Berupaya menarik perhatian konsumen, pengiklan menyisipkan unsur humor yang identik dengan segala sesuatu yang membuat tertawa dan lucu, yang dijadikan salah satu daya tarik pesan dalam iklan. Penulis ingin melihat perbedaan alam pikir audience dalam mempersepsi antara iklan mengandung humor dan tidak mengandung humor. Untuk itu diperbandingkan iklan mengandung humor, Ramayana Department Store dan iklan tidak mengandung humor, Matahari Department Store. Dalam penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan persepsi audience antara iklan yang mengandung unsur humor dan tidak mengandung unsur humor. Dalam mencapai tujuan penelitian, penulis menggunakan metode kuantitatif agar mendapat pemahaman yang sistematis dan objektif. Dengan menggunakan persepsi selektif Belch dan Belch berdasarkan empat tahap proses persepsi antara lain: terpaan, perhatian, pemahaman dan ingatan terhadap iklan. Dari hasil penelitian, persepsi audience terhadap pemeran iklan, latar dalam iklan, rangkaian adegan dalam iklan serta penggunaan musik dan suara dalam kedua iklan menunjukkan tidak adanya perbedaan tingkat persepsi audience yang signifikan antara dua iklan tersebut. Saran bagi penelitian selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat menambah dan memperluas objek penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar dan representative terhadap target audience iklan agar mampu memberikan gambaran secara jelas dan nyata mengenai hasil penelitian yang diinginkan. Peneliti merekomendasikan pula bagi para pemerakarsa iklan agar menggunakaan unsur humor secara hati-hati, penggunaan humor dalam iklan harus diperhatikan agar tidak merusak pemahaman audience terhadap iklan. Serta pemilihan latar yang akan digunakan dalam iklan agar mampu dipersepsi dengan baik oleh audience.

Interaksi Simbolik Pengajar dan Siswa di Komunitas Matahari Kecil

Jurnal Komunikasi Global Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.368 KB)

Abstract

SMP Terbuka Gading Regency is a free school founded by the Matahari Kecil community to alleviate the burden of underprivileged students. The purpose of this study was to figure out the symbols and the meaning negotiation in the interaction in forming the self-concept of teachers and students. The theory underlying this research was the symbolic interaction according to George Herbert Mead. This study used in-depth interviews and observations on four students, teachers, and supporting informants for each who were selected with purposive sampling techniques. The result showed that the interaction of teachers and students was built through formal and informal interpersonal relationship. There was an exchange of verbal and nonverbal symbols in shaping the same meaning in the interaction. The meaning formed in the interaction process affected the self-concept of the teachers and students. As a result, there was a change in self-concept of students and teachers during the interaction. The self-concept was inseparable from the role of mind, self, and society of the teachers and students.

Perilaku Menulis Fanfiction oleh Penggemar Kpop di Wattpad

Jurnal Komunikasi Global Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.509 KB)

Abstract

Wattpad is one of the sites and blogging applications that provide facilities for users to write and read, meaning that the users can write stories and also read stories created by other users. One of the postings made by the user is fanfiction which is the imagination of fans about idols especially Kpop idol in the form of writing. The purpose of the study is to understand the motivation and know the process of making fanfiction by Kpop fans who write fanfiction on Wattpad. The research method used is grounded theory in which the researcher tried to find data by online and offline interview and observation on 10 informants with criteria is Kpop fans who write fanfiction in Wattpad. The results showed that there was a motivation from inside and outside of Kpop fans and the process of making fanfiction consists of three stages: the creative process, the writing process and the editing and posting process. 

REPRESENTASI ETNIS CINA DALAM STAND UP COMEDY

Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 1 No 1 (2015): FEBRUARI 2015
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan tentang Etnis Cina di Indonesia tidak pernah benar-benar selesai hingga kini. Berbagai usaha yang dilakukan pemerintah atau pihak terkait lainnya banyak menemui kendala. Diantaranya disebabkan karena kurangnya pemahaman terhadap realitas tentang Etnis Cina di Indonesia. Dengan menggunakan metode analisis semiotik sosial yang dikemukakan oleh Theo Van Leeuwen, penelitian ini berupaya untuk memahami realitas tentang Etnis Cina yang terepresentasikan dalam pertunjukan stand up comedy oleh Ernest Prakasa. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu: Pertama, dari dari ragam wacana tentang Etnis Cina yang terepresentasikan dalam pertunjukan stand up comedy oleh Ernest Prakasa menunjukan bahwa Etnis Cina tidak nyaman dengan keminoritasannya; Kaum muda Etnis Cina mencintai sekaligus membenci tradisi dan budayanya; Etnis Cina menganggap diri sebagai ras unggul; Etnis Cina memandang penting kekayaan; dan Istilah “Cina” tidak dianggap menghina. Kedua, Etnis Cina terepresentasikan pada bagian set up dan punchline dalam struktur humor stand up comedy, dimana sebuah set up humor stand up comedy yang merepresentasikan Etnis Cina, berfungsi mengkomunikasikan kepada audiensnya tentang: keberadaan kelompok minoritas Etnis Cina di Indonesia, dengan berbagai karakteristiknya, dan berbagai budaya Cina yang menjadi bagian budaya masyarakat Indonesia. Sementara itu, sebuah punchline humor stand up comedy yang merepresentasikan Etnis Cina, berfungsi untuk mengajak audiensnya untuk mentertawakan orang Cina, dan mentertawakan pemahaman orang lain tentan Etnis Cina. Ketiga, dalam pertunjukan stand up comedy yang merepresentasikan Etnis Cina, Ernest Prakasa memilih fashion dengan mengenakan kaos oblong, celana jeans, dan memakai sepatu kets; dan berpotongan rambut side-shaves. Sementara itu, Ernest Prakasa menggunakan gaya berbicara jakartaan dalam melakukan pertunjukan stand up comedynya. Keempat, dalam pertunjukan stand up comedynya, Ernest Prakasa merepresentasikan Etnis Cina dalam bahasa yang menunjukan tingkat modalitas tinggi, dan modalitas rendah.