Anisa Diniati, Anisa
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom
Articles
4
Documents
MANAJEMEN KESAN PENGGUNA MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DALAM MENGEKSISTENSIKAN PANCASILA

WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.133 KB)

Abstract

Pekan pancasila yang diselenggarakan oleh pemerintah sebagai ideologi negara Indonesia, dimeriahkan oleh generasi millennial dengan cara mengunggah foto-foto pribadi mereka di media sosial instagram dengan hashtag #SayaIndonesiaSayaPancasila. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji manajemen kesan pengguna media sosial instagram dalam mengeksistensikan pancasila. Metode penelitian yang digunakan adalah metode etnografi virtualdengan menganalisis foto-foto pribadi para pengguna instagram melalui teknik analisis framing William Gamson.Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kesan yang dibangun oleh pengguna media sosial instagram dalam mengeksitensikan pancasila dilakukan dengan menampilkan kesempurnaan fisik, citra diri, profesi, dan jati diri nasionalisme pancasila.

MAKNA KONSEP DIRI MANTAN ANAK JALANAN

Jurnal Kajian Komunikasi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.882 KB)

Abstract

Mantan anak jalanan dalam kehidupannya saat ini memiliki konsep diri atau gambaran terhadap dirinyadari apa yang sudah mereka alami dalam peristiwa dan pengalamannya di masa lalu. Melalui konsepdirinya, mantan anak jalanan menampilkan simbol-simbol yang telah mereka beri makna dan telah merekapertukarkanhingga mereka tampilkan dalam tindakannya saat ini.Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui bagaimanakah konsep diri mantan anak jalanan dan bagaimanakah makna simbolik yangdipertukarkan oleh mereka.Teori yang mendasari penelitian ini adalah teori interaksi simbolik menurutBlumer dan Mead serta teori the looking glass self menurut Cooley. Penelitian ini menggunakan pendekatankualitatif dengan fenomenologi sebagai metode penelitiannya. Dari seluruh proses penelitian yang dilakukan,didapatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dari keempat kelompok makna konsep diri yangmelekat pada diri mereka, yaitu peran ekonomi, moral, harga diri, dan aktualisasi diri, mereka melakukansebuah pertukaran simbol yang telah mereka beri makna lalu mereka tunjukkan melalui tindakan berupapenampilan dan perilaku.

ANALISIS SEMIOTIKA CITRA POLISI DALAM FILM PENDEK “JONI SOK JAGOAN” DI YOUTUBE

WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.703 KB)

Abstract

Citra Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di tengah masyarakat seringkali dianggap belum maksimal dan tidak profesional. Polisi yang biasanya digambarkan sebagai sosok profesi tidak profesional dan kerjaannya hanya menilang, film pendek Joni Sok Jagoan menggambarkan citra polisi dari sudut pandang berbeda. Pemaknaan pesan tentang citra polisi yang digambarkan dalam film pendek itulah yang menjadi fokus pada penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana citra polisi yang ditampilkan oleh film pendek Joni Sok Jagoan  melalui tanda-tanda atau pesan nonverbal tertentu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan semiotika dari Charles Sanders Peirce sebagai teknik analisisnya. Data diperoleh melalui data primer dan data sekunder. Hasilnya menunjukkan bahwa citra polisi dalam film pendek ini cukup tersampaikan dengan baik di mana masyarakat khususnya anak muda selama ini menganggap bahwa tugas polisi hanya bisa menilang dan meminta uang. Apa yang masyarakat pikirkan selama ini tentu sangat mempengaruhi citra kepolisian dalam ranah negatif. Namun, film pendek tersebut berhasil membangun citra positif polisi kembali, di mana polisi ditampilkan sebagai sosok pahlawan dengan beragam macam tugas yang harus tetap rendah hati dalam menghadapi beragam sikap para pelanggar maupun msyarakat sipil yang membutuhkan bantuan. Citra positif juga terlihat dari sikap tanggap untuk menolong orang lain meskipun orang tersebut sudah merendahkan profesinya.

Konstruksi Sosial Melalui Komunikasi Intrapribadi Mahasiswa Gay di Kota Bandung

Jurnal Kajian Komunikasi Vol 6, No 2 (2018): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 48a/E/KPT/2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.909 KB)

Abstract

Isu homoseksualitas di tengah masyarakat Indonesia masih dianggap tabu. Berbagai macam stigma negatif melekat pada individu yang berani mengakui status mereka sebagai kaum homoseksual. Kini, fenomena gay menyebar hingga tingkat perguruan tinggi, lingkungan yang identik dengan nilai akademis, etika, norma, dan intelektual. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konstruksi sosial mahasiswa gay di kota Bandung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus sebagai metode penelitiannya. Data diperoleh melalui wawancara dengan empat mahasiswa di kota Bandung yang menyatakan dirinya sebagai gay sekurang-kurangnya dalam lima tahun terakhir. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka berani menerima diri sendiri sebagai seorang gay adalah setelah mereka memasuki masa perguruan tinggi di tempat perantauannya. Adapun dalam memaknai identitas dirinya sebagai mahasiswa gay, identitas diri mereka dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu desakan internal (perception, learning, dan emotion); dan desakan eksternal (residence culture, family, dan peer group). Dalam penelitian ini, faktor yang paling dominan adalah desakan internal dimana faktor tersebut memengaruhi proses pengambilan keputusan seseorang untuk menerima dirinya menjadi seorang gay. Pengambilan keputusan yang diambil oleh dirinya juga dipengaruhi oleh adanya kebutuhan (psikologis dan sosial) serta hasrat (orientasi seksual), yang pada akhirnya membentuk suatu konstruksi sosial tentang bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungannya, khususnya di lingkungan kampus.