Hipolitus Kristoforus Kewuel, Hipolitus Kristoforus
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Good Governance and Anthropology on Preventing HIV/AIDS in Gondanglegi District of Malang

e-2477-1929 Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Institute of Research and Community Service, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Using ethnographic as qualitative approach in extracting data, the aim of this study is to reveal the causing factors of high-rate of HIV/AIDS epidemic in Gondanglegi District of Malang. It is also to disclose the extent of Malang regency administration has sought to overcome this social phenomenon. Thus, the depth information about the cause of high-rate HIV/AIDS and preventive efforts can be used to conduct mitigation measures in the future. The results showed two points. First, the causing factors of high HIV/AIDS epidemic in Gondanglegi District of Malang are the low levels of economy, high levels of migration, and the growing influence of lifestyle among the younger generation. Secondly, with the Regional AIDS Commissions (KPAD), Malang Regency Government has made prevention efforts in cooperation with NGO Paramitra and NGO Sadar Hati. One of the main programs is Warga Peduli AIDS (WPA). Through this program, the Local Government is responsible to provide the medical facilities at the health centers that have been appointed. Meanwhile, the NGO responsibility is to build the awareness of treatment and check-up, especially for the high risk communities. Keywords: good governance, anthropology, hiv/aids preventive efforts

ANALISIS ANTROPOLOGI PENDIDIKAN TENTANG PENGUATAN MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN TINGGI DALAM TATA PENDIDIKAN GLOBAL

ERUDIO (Journal of Educational Innovation) Vol 3, No 2 (2017): ERUDIO (JOURNAL OF EDUCATIONAL INNOVATION)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penilaian mutu pendidikan dewasa ini mendasarkan diri pada dua model penilaian, yakni model penilaian sektoral dan model penilaian esensial. Model penilaian sektoral mendasarkan penilaian pada aspek-aspek tertentu dari sebuah lembaga pendidikan yang dinilai. Misalnya, penilaian mutu kemudahan akses, penilaian mutu ketersediaan sarana dan prasarana, penilaian mutu pengelolaan keuangan, dan lain-lain. Model penilaian esensial mendasarkan penilaian pada keseluruhan aspek kehidupan sebuah lembaga pendidikan. Misalnya, penilaian mutu pengajaran, penilaian mutu penelitian, penilaian mutu pengabdian masyarakat, penilaian transfer ilmu atau korelasi ilmu yang diberikan dengan tuntutan dunia kerja, dan penilaian tentang wawasan internasional sebagai gambaran wawasan global keilmuan. Tahun 2015, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada menduduki peringkat 13, 14, dan 15 untuk Rangking Web of Universities di tingkat ASEAN sedangkan dalam daftar 10 Universitas terbaik ASEAN, tak satu pun Universitas dari Indonesia yang mencatatkan namanya di sana. Untunglah, dalam daftar 100 Universitas terbaik tingkat ASIA dan 800 Universitas terbaik dunia dari 70 negara, Universitas Indonesia masih tampil mewakili Indonesia dengan peringkat 79 dan peringkat di antara 601-800. Data ini menunjukkan bahwa untuk memiliki daya saing tinggi di tingkat ASEAN saja, universitas-universitas di Indonesia harus bekerja keras membenahi mutu kerjanya. Tulisan ini dimaksudkan untuk mendiskusikan beberapa titik penguatan manajemen mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Hanya dengan cara demikian, universitas-universitas di Indonesia boleh berharap mencatatkan nama di papan-papan Ranking Pendidikan Global.   Kata-kata Kunci: Penguatan Manajemen Mutu, Universitas, Indonesia, Pendidikan Global

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DAN KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ANTROPOLOGI

ERUDIO (Journal of Educational Innovation) Vol 2, No 2 (2014): ERUDIO (JOURNAL OF EDUCATIONAL INNOVATION)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan di negeri ini hampir selalu menjadi perbincangan tanpa kata sepakat. Selalu saja ada sisi yang tertinggal bahkan terlupakan pada setiap pembicaraan tentangnya. Sistem pendidikan Nasional dan Kurikulum adalah dua bentuk upaya formal tata kelola pemerintahan yang idealnya diharapkan mampu melahirkan generasi manusia Indonesia yang berwawasan Pancasila dan berkharakter Bhineka Tunggal Ika. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menganalisis benang ruwet pendidikan saat ini, tetapi lebih dimaksudkan untuk memberi sumbangan pemikiran dari kaca mata filsafat antropologi dengan asumsi bahwa melalui sistem pendidikan nasional dan kurikulum, aktivitas pendidikan harus dimulai dari dan diproses terus menerus dalam pemahaman yang benar tentang siapakah makhluk manusia itu dan bagaimana seharusnya ia didekati melalui aktivitas pendidikan. Pertama-tama, manusia harus didekati sebagai makhluk hidup yang memiliki kharakter khas yang berbeda satu dari yang lain dengan kompleksitas afektivitas yang beragam ditambah faktor budaya dan sejarah hidup masing-masing pribadi yang berbeda-beda pula. Kedua, manusia harus didekati sebagai makhluk berpikir yang mengerti, memiliki pengetahuan, dan mampu berbicara mengungkapkan pengetahuan itu sebagai hasil olah pikir yang terus berproses dalam hidupnya dari saat ke saat. Ketiga, manusia harus didekati sebagai makhluk yang memiliki kebebasan dalam menjalani hidupnya sendiri sekaligus sebagai tanda bahwa masing-masing manusia itu unik dan khas. Singkatnya, tulisan ini mau menegaskan bahwa sistem pendidikan nasional dan kurikulum harus juga selalu mempertimbangkan sisi filsafat antropologi sebagai dasar dan patokan dalam setiap program pengembangannya. 

Kudus and Its Sweet Soya Sauces Stories in Mediating Multiculturalism Learning

e-2477-1929
Publisher : Institute of Research and Community Service, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multicultural reality of Indonesian society has encouraged many conflicts. Many people have tried to create a multicultural atmosphere. The scholars, politicians, and security forces attempted in their respective fields there are theoretical, ideal, and practical. This approach of simple ethnography research at Kudus reveals the unique role of these sweet soya sauces or ketchups. That is, it is not just being a condiment for flavoring the Kudus people dishes, but also already act as multicultural learning media. The good cooperation between the two ethnic groups, the Chinese as the owner of ketchup industries and their Javanese workers, clients, and customers have shown that these Ketchups has become one of the unifying elements that are commonly depicted always in a conflict; and  the latest event clashes between Chinese and pribumi at Kudus was in 1984. Thus, by looking at the Ketchups roles, this research shown that the ketchup industries in Kudus have melted the tongue and heart of Kudus people (China-Native) taste in a delicious thickened of ketchup liquid that always served at home, food-stalls, hotels, and restaurants.Keywords: Sweet Soya Sauces , Ketchup,  Media, Multiculturalism Learning, Kudus