Adventus Panda, Adventus
Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pasca Sarjana, UGM, Yogyakarta

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

AKUMULASI MERKURI PADA IKAN BAUNG (Mytus nemurus) DI SUNGAI KAHAYAN KALIMANTAN TENGAH Panda, Adventus; Nitimulyo, Kamiso Handoyo; Djohan, Tjut Sugandawaty
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 10, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah mengalami tekanan lingkungan karena adanya limbah merkuri yang berasal dari aktivitas penambangan emas tradisional. Di tempat tersebut terdapat 10a4 tempat penambangan emas sepanjang sungai dari hulu sampai hilir. Merkuri dalam sedimen sungai secara berturut-turut mengalami metilasi (methylation) oleh reduksi sulfat bakteri. Riset ini merupakan studi akumulasi merkuri (FIg) dalam Mytus nemurus, sedimen dan air, dari hulu ke hilir di sungai Kahayan. Total jarak dari hulu sekitar 296 km. Data dikumpulkan dari 3 lokasi sepanjang sungai. Dalam tiap lokasi tapak sampling berada di dataran baniir (floodplain). Penelitian dilaksanakan selama musim hujan. lkan ditangkap menggunakan rengge (gillnet). Penentuan metil merkuri digunakan metode modified CV-AAS (cold vapor atomic absorption spectrophotometry). Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara sample yang diukur, akumulasi tertinggi masing-masing berada dalam sedimen sungai (0,336 mg.) dikutip dengan daging M. numerus (0,303 mg.g-1 + 0.342). dan air (0.058 mg-1). Merkuri memiliki tendensi meninggi menuju hilir. Hal ini disebabkan oleh tekstur sedimen yang didominasi oleh silt. Kondisi ini berpotensi untuk metilasi. Turbiditas, arus, dan pH menyumbangkan kenaikan tingkat merkuri di hilir. Asupan merkuri mingguan yang dapat ditoleransi menurut WHO adalah 171,42 mg adalah sama dengan 24,4 mg sehari jika seseorang mengkonsumsi 100 g daging M. numerus sehari. dimungkinkan bahwa akan ada 30,3 mg.g-1 yang masuk ke tubuh. Hal ini berarti bahwa merkuri disepanjang sungai Kahayan mengancam penduduk yang mengkonsumsi ikan dari sungai tersebut.
Linking Zoopharmacognocy with Ethnomedication, An Evidence Base from Sebangau National Park, Central Kalimantan Indonesia Panda, Adventus; Gunawan, Yohanes Edy
Journal of Tropical Life Science Vol 8, No 3 (2018)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.234 KB)

Abstract

The ability of animal to perform self-medication has been studied decades, as well as their relationship with medication practices by communities. Long-term observation of Orangutans behaviour (Pongo pygmaeus wurmbii), by communities surround Sebangau National Park, has suggested as their modes to today ethno-medication practice. The study was aimed to study the relationship of Orangutans self-medicate behavior with ethno-medication practice, in Sebangau area. The research was conducted in Punggualas, SNP, from 29 April to 03 October 2017. A number of 13 traditional healers (TH) from Karuing (n = 4), Baun Bango (n = 4), and Jahanjang (n = 5) have been interviewed. All plants are listed and photograph. Plants parts, and their mechanism of utilization were also kept for record. Meanwhile, the behavior followed the Orangutan protocol, with focus on their feeding behavior. All data were analyzed descriptively, while the relationship was analyzed using chi-square and F test. We have recorded a total 131 plants at various life forms, in Baun Bango (n = 59), Jahanjang (n = 41), and Karuing (n = 21). Plants that were found similar among three villages, removed, were only 95 left. We observed one female, showing the ability to perform self-mediaction. It is characterized by selectively choosing young leaves of Mezzetia sp., pulp of the Dyera lowii and Ilex cymosa, and lastly chew the entire leaves of Belang Handipek. It suggests a form of prevention against fatigue conditions, and the combination of these three plants species assume to be relating to fitness. This study shows that there is a relationship between the plant part used by the traditional healer and the orang- utan (x2 = 43,887; n = 115, df = 11, p-value = 0.0000), the relationship between the use of plant parts utilized by the traditional healer and orangutans (x2 = 15, 647; n = 50, df = 8, p-value = 0.0000). Furthermore, there is a relationship between the practice of traditional healer treatment using plant parts and Orang-utan (F1, 113 = 230.158; p-value = 0,000). The study urges to isolate secondary metabolites for further investigation, especially in terms of phyto-pharmacy.
Komposisi Takson Tingkat Suku Serangga yang Terperangkap dalam Kantong Nepenthes spp. di Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah Panda, Adventus; Gunawan, Yohanes Edi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serangga merupakan ordo penting dalam kelas Arthropoda, karena serangga merupakan salah satuindikator keseimbangan dan kesehatan suatu ekosistem. Peran ekologis anggota ordo ini sangat penting, terutama dalam hal interaksi hewan-tumbuhan, termasuk hubungannya dengan manusia.Salah satu bentuk interaksi tersebut adalah tingkat tropik. Dalam konteks komunitas, tingkatan tropik juga terjadi dalam skala mikro, seperti pada Kantong Nepenthes spp.Nepenthes spp. Modifikasi daun serupa kantong pada Nepenthes spp. hanya dapat dijumpai tumbuh liar pada tanah yang miskin unsur hara, seperti pada tanah gambut di Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari komposisi takson tingkat suku serangga yang terperangkap dalam kantung Nepenthes spp. Penelitian menggunakan teknik survey, dengan sistem jalur dikombinasikan dengan plot berpetak (transects with nested plot). Pengambilan data dilakukan di dua lokasi berbeda di Taman Nasional Sebangau, yakni kawasan Habaring Hurung (SPTN Wilayah I Kota Palangkaraya) pada Juli 2016, dan kawasan Eks. Kanal PT. Sanitra Sebangau Indah (SSI), yang merupakan wilayah SPTN Wilayah II Pulang Pisau, pada September 2016. Pemilihan lokasi didasarkan pada kelimpahan Nepenthes spp., perbedaan tipe habitat dan kemudahan aksesibillitasHasil pengambilan data berupa spesimen, dibawa ke laboratorium dan dilanjutkan dengan identifikasi sampai pada tingkat suku. Hasil penelitian menunjukkan takson tingkat suku serangga yang terperangkap dalam Kantong Nepenthes yang ditemukan selama penelitian di Resort Habaring Hurung, adalah sebanyak sembilan takson suku serangga. Sementara itu di area Kanal Eks PT. SSI Taman Nasional Sebangau menunjukkan delapan takson suku serangga. Takson suku yang secara konsisten dijumpai hampir di seluruh specimen kantung pada dua lokasi kajian adalah dari kelompok takson suku Formicidae (Semut), Culicidae (Nyamuk) dan Thormisidae (Laba-laba kepiting)