Retna Siwi Padmawati, Retna Siwi
Unit Epidemiologi Klinik dan Biostatistik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Published : 28 Documents
Articles

Found 28 Documents
Search

Analisis pelaksanaan kebijakan program keluarga berencana (KB): studi kasus di Kabupaten Malinau Bawing, Priscilla; Padmawati, Retna Siwi; Wilopo, Siswanto Agus
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 12 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.3 KB) | DOI: 10.22146/bkm.26301

Abstract

Tujuan: Penelitian ini menganalisis pelaksanaan kebijakan program keluarga berencana di Kabupaten Ma­linau.Metode: Studi kasus melalui wawancara mendalam pada 18 responden.Hasil: Kebijakan pemerintah daerah Malinau adalah empat anak lebih baik. Perbedaan persepsi antara stakeholder, pro­vider dan user mengenai KB dapat mempengaruhi sosial, ekonomi, budaya, keyakinan berdampak ter­hadap penggunaan kon­trasepsi di Malinau. Penggunaan kontrasepsi tidak dilarang bagi masyarakat yang memiliki indikasi medis untuk ber KB, namun masyarakat harus mengakses kontrasepsi secara mandiri di sektor swasta.Implikasi praktis: Pemerintah daerah wajib menjamin ketersediaan dan pelayanan KB yang berkualitas bagi masyarakat atas dasar hak kesehatan reproduksi.Keaslian: Kebijakan pemerintah daerah Malinau dalam menghentikan suplai alokon ke fasilitas kesehatan pemerintah sejak tahun 2012 merupakan upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan jumlah penduduk di wilayah pedalaman dan perbatasan. Ketidaktersediaan alat kontrasepsi di fasilitas kesehatan pemerintah dan terbatasnya pemberian KIE KB menimbulkan persepsi yang berbeda antara stakeholder, provider, dan user. SKPD perlu mengadvokasi kepada DPRD Malinau dan Bupati. 
POLA PENCARIAN PENGOBATAN DAN PEMELIHARAAN KESEHATAN ANAK JALANAN DI KOTA YOGYAKARTA Arifin, Purwadi; Supardi, Suharyanto; Padmawati, Retna Siwi
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 10, No 1 (2003)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mendiskripsikan pola pencarian pengobatan dan pemeliharaan kesehatan anak jalanan di Yogyakarta. Studi ini mencakup pula konsep kesehatan clan penyakit dari anak-anak jalanan dan perilaku mereka yang menyangkut resiko kesehatan. Studi ini menggunakan design kualitatif. Data dikumpulkan melalui FGD (Focus Group Discussion), wawancara, dan pengamatan langsung di lapangan, Studi ini dilakukan di daerah Malioboro Yogyakarta pada tahun 2001. Data divalidasi dengan menggunakan metode Trianggulasi, sedangkan reabilitas datanya dilakukan dengan metode data audit. Hasil studi menunjukkan bahwa konsep kesehatan dan penyakit dari anak jalanan hampir sama dengan orang-orang pada umunmya, menurut tingkat pendidikan yang menekankan pada karakter sehat dan sakit. Anak jalanan menghadapi resiko kesehatan, sebagai konsekuensi dari perilaku mereka ditambah dengan lingkungan yang mendukung penyakit tertentu atau gangguan kesehatan. Rokok, alkohol, penyalahgunaan obat dan narkotika, dan sex bebas adalah bagian dari kehidupan mereka. Yang paling buruk adalah perilaku mereka yang disebabkan oleh kecanduan narkoba. Pola pencarian pengobatan anak jalanan bervariasi, tcrgantung pada tempat dimana mereka berada, baik mereka yang bebas maupun yang ada dalam lingkungan organisasi pemerintah. Mereka yang bertempat tinggal dalam suatu rumah yang disediakan oleh organisasi non pemerintah berhubungan dengan sistim pemeliharaan kesehatan. sedangkan mereka yang tidak berkaitan dengan organisasi pemerintah biasanya mereka mencari pengobatan melalui pengobatan yang irasional.
Kebiasaan merokok keluarga serumah dan pneumonia pada balita Alnur, Rony Darmawansyah; Ismail, Djauhar; Padmawati, Retna Siwi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.761 KB) | DOI: 10.22146/bkm.12832

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kebiasaan merokok keluarga serumah dengan kejadian pneumonia pada balita.Metode: Penelitian observasional analitik dengan menggunakan pendekatan case control study ini melibatkan sampel 80 orang balita pada kelompok kasus dan 80 orang balita pada kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara non probability sampling.Hasil: Penelitian ini menemukan hubungan kebiasaan merokok keluarga serumah dengan kejadian pneumonia pada balita di Kabupaten Bantul (OR= 2,31; 95% CI: 1,13-4,69; p=0,03). Obat nyamuk bakar, status gizi, dan kepadatan hunian adalah faktor lain yang berhubungan dengan kejadian pneumonia balita.Implikasi praktis: Promosi kesehatan perlu dilakukan pada keluarga tentang dampak kebiasaan merokok di rumah terhadap balita, terutama pada rumah tangga yang padat penghuni. Pemerintah harus komitmen untuk menciptakan peraturan rumah bebas asap rokok.Keaslian: Penelitian ini memberikan kontribusi pengetahuan bahwa kebiasaan merokok orang serumah dan faktor lingkungan merupakan faktor risiko pneumonia balita.
Evaluasi Program Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ) di Wilayah Puskesmas Galur II Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta Wasniyati, Akrim; LB, Bambang Hasthayoga; Padmawati, Retna Siwi
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.414 KB) | DOI: 10.22146/jkki.36354

Abstract

Background: Community-based mental health services is a solution to bridging the limited access of the society to the healthcare facilities. Calculation of utilization of mental health healthcare at primary health care, secondary healthcare, and tertiary healthcare levels revealed a disparity of 90%. It means that only 10% of the mental health patients had been cared for by the healthcare facilities. Accordingly, primary healthcare facilities have become the spearhead in the implementation of mental healthcare since they can easily be accessed by the community due to geographical proximity, avoid the risk of stigma, and reduced the required cost. DSSJ program was an implementation of primary healthcare with the concept of community mental health nursing. Objective: The objective of the research is to describe implementation of DSSJ program in the working area of Puskesmas Galur II, Kulon Progo Regency. Method: This was a qualitative research using case study design. Informants were those individuals related to the DSSJ program from the planning to the implementation phase. The data were collected through in-depth interviews and observation. The research was conducted from November 2012 to January 2013. Results: Planning of the program was limited to the technical implementation phase and there is no plan for any annual monitoring and evaluation program. In general, no program had been implemented to improve human resource capacity at the level of both Health Center and Mental Hospital. The program was faced with some obstacles, including limited human resource, limitation on communication, fund, regionalism, and policy. The study found that the program could run consistently and continuously at the time when there are some university students had community internship at the Health Centers. Conclusion: The planning phase did not identify local human resource potentials and thus implementation was not optimum. Participation of educational institutions should be planned more thoroughly in line with DSSJ program for sustainability of the program. Latar belakang. Pelayanan kesehatan jiwa berbasis komunitas merupakan salah satu solusi untuk menjembatani keterbatasan akses masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan perhitungan utilisasi layanan kesehatan jiwa di tingkat primer, sekunder, dan tersier terdapat kesenjangan pengobatan sebesar 90%. Pelayanan kesehatan dasar ( puskesmas) merupakan ujung tombak dalam mengimplementasikan pelayanan kesehatan jiwa yang dapat dengan mudah dijangkau masyarakat karena akses yang dekat, mengurangi stigma, dan mengurangi biaya. DSSJ merupakan salah satu implementasi primary health care dengan pendekataan konsep community mental health nurse. Tujuan. Untuk mengetahui pelaksanaan program DSSJ di Wilayah Puskesmas Galur II Kabupaten Kulon Progo. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Informan penelitian ini adalah pihak- pihak yang terkait dalam program DSSJ berjumlah 16 orang. Data penelitian diambil dengan wawancara mendalam dan observasi. Penelitian dilakukan November 2012-Januari 2013 Hasil : Perencanaan program di RSG baru pada tahap pelaksanaan teknis kegiatan. Peningkatkan kapasitas SDM baik di puskesmas maupun RSG belum dilakukan. Terdapat beberapa hambatan dalam pelaksanaan program, diantaranya adalah faktor SDM, komunikasi, dana, kewilayahan, dan kebijakan. Penelitian menemukan bahwa program dapat berjalan secara konsisiten dan kontiyu pada saat mahasiswa institusi pendidikan melakukan praktek komunitas di puskesmas. Kesimpulan Perencanaan DSSJ belum mengidentifikasi potensi sumber daya setempat secara lebih luas dan tidak merencanakan monitor evaluasi tahunan. Implementasi belum dilaksanakan secara optimal. Adanya keterlibatan institusi pendidikan menjadikan program DSSJ lebih sustainable.
Evaluasi Program Terpadu Pengendalian Malaria, Pelayanan Ibu Hamil dan Imunisasi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan Rogayah, Hanifah; Mahendradhata, Yodi; Padmawati, Retna Siwi
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.348 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v4i1.36088

Abstract

Background: To reduce child and maternal mortality, as well as mortality and morbidity of malaria, an integrated malaria control program along with antenatal care and immunization has been implemented through malaria screening and provision of LLIN to pregnant women and the provision of LLIN to children under five who received full immunization. Objective: The objective of this study is to evaluate integrated malaria control program in Hulu Sungai Selatan District and Banjarbaru City, South of Kalimantan Province by exploring input, process and output of the program. Method: The study uses evaluation formative approach using qualitative method with exploratory qualitative design. Data is collected through in-depth interviews, focus group discussion, checklist of observation and documents related to the integrated program. Data analysis was performed with the reduction and presentation of the data, visualization, conclusions, and verification that describe the input, process and output variabels relevant to integrated malaria control program. Result: The dominant challenges in the input are commodity, funds, as well as the organization of integrated programs. Implementation of the integrated program is not optimal in the form of policies, capacity building, QA, supervision, and recording and reporting. The integrated program did not achieve the intended output in terms of LLIN coverage for children under f ive as well as pregnant women ANC coverage (Trimester I and IV). Conclusion: The implementation of integrated malaria control program in general was relatively weak in terms of input, process and output. Adequate inputs and processes to strengthen the implementation of the integrated program are necessary, so it can be one of the exit strategies for malaria control in pregnant women and children under five. Latar Belakang: Dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak serta angka kesakitan dan kematian akibat malaria, telah dilaksanakan program terpadu pengendalian malaria, pelayanan ibu hamil dan imunisasi melalui skrining malaria dan pemberian kelambu berinsektisida pada ibu hamil serta pemberian kelambu pada balita yang mendapat imunisasi lengkap.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program terpadu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan dengan mengeksplorasi input, proses dan output program. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi formatif, dengan metode kualitatif dan desain penelitian kualitatif eksploratif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah serta observasi dan checklist dokumentasi. Hasil: Tantangan yang paling besar dan dominan pada input adalah komoditi, dana, serta organisasi program terpadu. Belum optimalnya pelaksanaan proses program terpadu berupa kebijakan, capacity building, QA , supervisi, serta pencatatan dan pelaporan. Tidak tercapainya output program terpadu yaitu cakupan kelambu pada balita dan cakupan kunjungan ANC ibu hamil (K1 atau K4). Kesimpulan: Program terpadu pengendalian malaria, pelayanan kesehatan ibu hamil dan imunisasi belum optimal pada komponen input, proses dan output. Adekuatnya input dan proses dapat memperkuat pelaksanaan program terpadu, sehingga dapat menjadi salah satu exit strategi pengendalian malaria pada ibu hamil dan balita.
Kebijakan Pembakaran Limbah Medis Padat dengan Insenerator di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin HM, Rusdiana; Kusnanto, Hari; Padmawati, Retna Siwi
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.489 KB) | DOI: 10.22146/jkki.36353

Abstract

Background: Hospital activities produce waste that can be the medium of transmission of diseases and environmental pollution. The waste should be destroyed. RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin have solid medical waste destruction policy use incinerator. Many things qualify for solid medical waste management is good and does not cause adverse effects to workers, patients, the public and environment. Objective: To determine how the use of an incinerator, waste management procedures, the efforts made to minimize the risk arising from operational incinerator at RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin. Methods: This study is a qualitative using case study design. Result: RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin established the policy implementation as refers to the government regulations. Although the separation of medical and non-medical wastes has been done, but building an incinerator close to several building. This can cause negative effects, especially for staff working close to incinerator building. Ash disposal using open dumping system. Separation of medical and non medical waste has been done. Transportation using special trolley. Transporting and burning activities are recorded and reported. Utilization of solid medical waste is carried out by former utilization infusion bottles. Officer of the incinerator only one person, sometimes not fuel available, the capacity of the incinerator and sometimes less damage. Disturbance of operational incinerator fumes and odors, especially in the mental ward. Conclusion: Some things should be included in the planning of the hospital incinerator repositioning away from the room, routine monitoring and inspection of the quality of incinerator ash and gas, manufacturing waste incinerator ash landfills are safe and supervision is supported by the decisive and obvious regulations. Latar Belakang: Kegiatan rumah sakit menghasilkan berbagai limbah yang dapat menjadi media penularan penyakit dan sumber pencemaran lingkungan. Limbah tersebut harus dimusnahkan, salah satu caranya adalah dengan insenerator. RSUD. Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin menetapkan kebijakan pemusnahan limbah medis padat melalui pembakaran dengan insenerator. Banyak hal dipersyaratakan untuk pengelolaan limbah medis padat yang baik sehingga tidak menimbulkan dampak buruk bagi petugas, pasien, masyarakat dan lingkungan. Tujuan: Mengetahui bagaimana pemanfaatan insenerator, prosedur pengelolaan limbah, dampak serta upaya yang dilakukan untuk memperkecil resiko yang ditimbulkan dari operasional insenerator di RSUD. Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Metode: Merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Hasil: RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin menetapkan kebijakan pelaksanaan pengelolaan limbah yang mengacu kepa- da peraturan pemerintah. Walaupun pemisahan limbah medis dan non medis telah dilakukan, tetapi bangunan insenerator berdekatan dengan beberapa ruangan. Hal ini dapat menimbul- kan dampak buruk terutama bagi petugas yang bekerja dekat dengan bangunan insenerator apalagi pembuangan abu hasil pembakaran menggunakan sistem open dumping. Pengang- kutan menggunakan troli khusus, kegiatan pengangkutan dan pembakaran dicatat dan dilaporkan. Pemanfaatan limbah medis padat yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan bekas botol infus. Kendala dalam pengelolaan limbah adalah jumlah operator insenerator hanya satu orang, bahan bakar kadang tidak tersedia serta kondisi insenerator yang mempunyai kapa- sitas pembakaran kurang dan kadang mengalami kerusakan. Gangguan yang ditimbulkan dari operasional insenerator berupa asap dan bau terutama di ruang perawatan jiwa Kesimpulan : Beberapa hal sebaiknya dimasukkan dalam perencanaan rumah sakit yaitu penempatkan insenerator yang jauh dari ruangan, pemantauan dan pemeriksaan rutin kualitas abu dan gas buangan insenerator, pembuatan tempat pembuangan abu yang aman serta pengawasan yang di dukung dengan peraturan pengelolaan limbah medis padat yang tegas dan jelas.
Peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja SMA di kota Tegal Pratiwi, Nadia Ade; Padmawati, Retna Siwi; Wahyuni, Budi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.922 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37719

Abstract

Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui hubungan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja SMA di Kota Tegal. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Kota Tegal dan lebih menekankan pada remaja yang sedang berada di kelas XI SMA atau berusia antara 15 sampai 19 tahun. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa dan siswi yang bersekolah di SMA X. Besar sampel dalam penelitian inisebanyak 254 responden. Pengumpulan data mengunakan kuesioner. Analisis bivariat menggunakan Chi square dan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik dengan tingkat kepercayaan 95% dan α <0,05. Hasil: Sebagian besar peran teman sebaya mendukung untuk melakukan seksual pranikah sebesar 62,60%. Perilaku seksual pranikah pada responden sebagian besar 62,60% beresiko. Peran teman sebaya memiliki hubungan yang signifikan (p<0,05) dengan perilaku seksual pranikah pada remaja SMA. Remaja yang melakukan perilaku seksual pranikah beresiko dan didukung oleh teman sebaya lebih besar 1,75 kali dibandingkan dengan yang tidak mendukung. Akses dan Kontak media pornografi memiliki hubungan yang signifikan (p<0,05) dengan perilaku seksual pranikah pada remaja SMA. Remaja yang melakukan perilaku seksual pranikah beresiko dengan akses dan kontak media pornografi lebih besar 1,92 kali dibanding dengan akses dan kontak media pornografi yang rendah. Simpulan: Peran teman sebaya berhubungan dengan perilaku seksual pranikah pada remaja SMA di Kota Tegal.
Persepsi mahasiswa Program Studi Gizi Kesehatan terhadap citra tubuh ahli gizi Tejoyuwono, Agustina Arundina Triharja; Sudargo, Toto; Padmawati, Retna Siwi
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 8, No 1 (2011): Juli
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, Fakultas Kedokteran UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.748 KB) | DOI: 10.22146/ijcn.17730

Abstract

Background: As health professionals, nutritionists are supposed to have good body image, although nutritionists may be overweight or obese. Body image of nutritionists will determine the quality of nutrition service particularly in giving evidence and assurance to the clients. As nutritionist-to-be, nutrition students are expected to have good knowledge and appearance because these will reflect quality of nutritionists in the future.Objective: To identify perception of students of health nutrition study program of the Faculty of Medicine about body image of nutritionists.Method: The study used qualitative descriptive method and case study design. It was carried out in Yogyakarta from October to December 2008. Subject of the study were 23 undergraduate students of Health Nutrition Study Program of Gadjah Mada University of both class A and B. Data were obtained through focus group discussion and in-depth interview. Data validity and reliability used source and method triangulation to 7 lectures of health nutrition Gadjah Mada University.Results: Body image was someone’s physical appearance as viewed by one or others and the effect of mass media in the assessment of body image was relatively significant. Body image of nutritionists was important because it would affect trust of the clients and success in counseling. Nutritionists had responsibility in giving an exemplary healthy life to the community either in physical image or appearance so that nutritionists were supposed to have ideal body posture and good body performance.Conclusion: Good body image for nutritionists would determine quality of counseling and trust of the clients. Nutritionists had responsibility to give an exemplary healthy life to the community. Therefore it was necessary to do monitoring and socialization from the academics as well as related institutions such as association of nutritionists about body image of nutritionists and nutrition students from now on and in the future.
Peran Stakeholder Kunci dalam Kebijakan Penanggulangan dan Pencegahan HIV/AIDS Studi Kasus di Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat Mitsel, Mitsel; Mahendradhata, Yodi; Padmawati, Retna Siwi
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.286 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v4i2.36096

Abstract

Background.: The problem of HIV in Indonesia today has become a major problem not only in health but also has led to problems of social, culture, economic and politic. Cases of HIV in Sorong District in 2007 reached 16 cases, but on 1 July 2014 at increased to 1.029 cases. Data from Sorong KPAD showed a huge increase in the periode of 7 years. Increase in the number of cases should be a considered serious concern by the local goverment in make commitments and allocating budgets particularly in reduction and prevention of HIV in Sorong. Objective: To determine the role of key stakeholders in the policy of reduction and prevention of HIV in District of Sorong, West Papua. Method: This is a qualitative research with case study de- sign. Case study approach is used for the purpose of techni- cal research, in principle is to answer “why there is no spe- cific policy of the local goverment in the response to HIV pre- vention and how the role of the key stakeholders in the reduc- tion and HIV prevention policy in health district of Sorong.This research is carried out in District Sorong, West Papua. The subjects of this study were BAPPEDA, DPRD,Sub-Dinas PP&PL, Health Office of Distrist Sorong and KPAD as the key stakeholders in policy making at the local level. Result : The result showed that the advocacy of the key stakeholders in prevention and reduction of HIV/AIDS by KPAD and Health Department has not gone well, which there are no reports to the key stakeholders as an policy makers, resulting in weak support for the allocation of funds in prevention and reduction of HIV /AIDS in Sorong District, West Papua. Until now there is no local regulation on HIV/AIDS. Conclusion. Advocacy of the key stakeholder in this regard KPAD and Health district of Sorong should be more active as a key policymakers to both the executive (BAPPEDA) and legis- lative (DPRD) so that the response to HIV/AIDS in Distrist Sorong can run optimally. Latar Belakang : Permasalahan HIV/AIDS pada saat ini telah menjadi masalah besar di Indonesia. Peningkatan Kasus HIV/ AIDS di Kabupaten Sorong mencapai 16 kasus tahun 2007 namun meningkat menjadi 1.029 per Juli tahun 2014. Data dari KPAD Kabupaten Sorong ini menunjukkan peningkatan yang sangat besar dalam periode 7 tahun terakhir. Peningkatan jumlah kasus ini merupakan masalah yang seharusnya menjadi perhatian serius oleh Pemda Kabupaten Sorong dalam membuat komitmen dan mengalokasikan anggaran dari APBD secara khusus dalam Kebijkan Penanggulangan dan Pencegahan HIV/ AIDS. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui peran Stakeholder Kunci dalam kebijakan penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat. Metode Penelitian : Jenis penelitian adalah penelitian kulaitatif dengan rancangan studi kasus. Pendekatan studi kasus digunakan karena tujuan penelitian ini pada prinsipnya adalah untuk menjawab mengapa (why) belum ada kebijakan secara khusus dalam kebijakan Pemerintah Kabupaten Sorong dalam upaya Penanggulangan dan Pencegahan HIV/AIDS dan bagaimana (how) Peran advokasi Stakeholder Kunci dalam Kebijakan Penanggulangan dan Pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Sorong. Penelitian dilakukan di Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat, subyek penelitian ini adalah BAPPEDA, DPRD, Subdin P2&PL Dinas Kesehatan, dan KPAD sebagai Stakeholder Kunci dalam membuat kebijakan di tingkat daerah Kabupaten Sorong. Hasil . Hasil penelitian menunjukkan bahwa advokasi dari stakeholder kunci dalam penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS oleh KPAD dan Dinas Kesahatan belum berjalan dengan baik, belum ada laporan ke stakeholder kunci pembuat kebijakan, membuat lemahnya dukungan alokasi dana dalam upaya pencegahan dan penangulangan HIV/AIDS di Kabupaten Sorong. Sampai saat ini belum ada Perda HIV/AIDS. Kesimpulan dan saran. Advokasi dari stakeholder kunci yaitu KPAD dan Dinas Kesahatan harus lebih giat dilakukan terhadap stakeholder kunci yang membuat kebijakan baik kepada eksekutif (BAPPEDA) maupun legislatif (DPRD) agar upaya penanggulangn dan pencegahan HIV/AIDS di kabuapen Sorong bisa berjalan dengan maksimal,
Kelas Edukasi Menyusui Sebagai Penunjang Keberhasilan Memberikan ASI Eksklusif Anggraini, Shelly Puspa; Padmawati, Retna Siwi; Julia, Madarina
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 6 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.233 KB) | DOI: 10.22146/bkm.24547

Abstract

INTISARI Latar Belakang: upaya yang dapat dilakukan agar ibu dapat berhasil menyusui secara eksklusif adalah dengan mengikuti kelas edukasi menyusui. Penelitian ini dilakukan Untuk mengkaji perbedaan keikutsertaan ibu dalam kelas edukasi menyusui AIMI dan keberhasilan memberikan ASI eksklusif. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Kualitatif berupa wawancara mendalam untuk mendukung data kuantitatif. Responden merupakan ibu-ibu yang sudah pernah mengikuti kelas edukasi menyusui AIMI Yogyakarta. Hasil: sebanyak 88,6% responden memberikan ASI eksklusif. pada yang mengikuti satu kelas saja, sebanyak 88,9% memberikan ASI eksklusif, sedangkan 88,6% pada kelompok yang mengikuti dua kelas edukasi memberikan ASI ekslusif. Tidak terdapat perbedaan antara ibu yang mengikuti satu kelas atau dua kelas edukasi terhadap keberhasilan ASI eksklusif.Kata Kunci: kelas edukasi, ASI eksklusif, AIMI ABSTRACT Background: Participated in breastfeeding education class can increase the rate of exclusive breastfeeding. Objective of this study is to assess the different in maternal participation in breastfeeding education class and the success of exclusive breastfeeding. Method: The study use quantitative approach with cross-sectional design and qualitative in-depth  interviews to support quantitative data. Participants are mothers who have attended breastfeeding education class, which held by AIMI Yogyakarta.  Result: There are 88,6% mothers who exclusively breastfeed their infants. Mothers who attended only one session of breastfeeding education class and mahaged to give exclusive breastfeeding are 88,9%, while mothers who attended both session of breastfeeding education class and managed to give exclusive breastfeeding are 88,6%. There is no difference in the success of exclusive breastfeeding between those who attend only one class  and those who attend both.Keywords: educational class, exclusive breastfeeding, AIMI