Ema Mulyawati, Ema
Bagian Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

The apical leakage of mineral trioxide aggregate as the retrograde filling material with various mixing agents Mulyawati, Ema
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.244 KB) | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p102-106

Abstract

Background: Mineral trioxide aggregate (MTA) is relatively considered as a new material in endodontic. It even has been used as retrograde filling material due to its biocompatibility, antibacterial effect, sealing ability and anti-moist effect. Some materials have been used as mixing agent to achieve an appropiate setting of MTA. Purpose: The aim of this study is to investigate the effect of the mixing agents of MTA towards the apical leakage when they are used together as retrograde filling materials. Method: The samples of this research consist of 30 human extracted upper central incisors. First, the crown of each tooth is sectioned. The root canals are prepared by using the conventional technique and then are obturated with gutta percha. After cutting the root apex, 2 mm from apical, class 1 cavities are prepared by using fissure bur with the depth of 3 mm. The samples then are divided into 3 groups with 10 teeth for each. Group I uses aquabidest as mixing agent of MTA (MTA-aquabidest), group II uses saline (MTA-saline), while group III uses 0.12% chlorhexidine (MTA-chlorhexidine). The apex of each group then is filled with the mixing MTA determined already. Afterwards, clearing method is used to evaluate the apical leakage. The apical leakage actually is determined by measuring the depth of methylene blue penetration with stereomicroscope. The statictical analyses of the linear dye penetration then are performed with analysis of varians ANOVA. Result: The dye penetration for both MTA-aquadest and MTA-saline groups indicates the lowest penetration, and there is even a significant difference compared with MTA-0.12% chlorhexidine group (p<0.005). Conclusion: It can be concluded that aquabidest and saline as mixing agents of MTA produce less apical leakage compared with 0.12% chlorhexidine.Latar belakang: Mineral trioxide aggregate (MTA) merupakan bahan yang relatif baru dalam bidang endodontik. Bahan tersebut diindikasikan sebagai bahan pengisi retrograd karena bersifat biokompatibel, antibakteri, kerapatannya bagus dan tidak terpengaruh kelembaban.Untuk mendapatkan settingnya, beberapa bahan telah digunakan sebagai bahan pencampur MTA. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan pencampur MTA sebagai bahan retrograd terhadap kebocoran apikal. Metode: Bahan penelitian berupa 30 gigi insisivus sentral atas bekas cabutan. Mahkota gigi dipotong dan saluran akar dipreparasi menggunakan teknik konvensional dan diobturasi dengan guta perca. Akar dipotong dengan jarak 2 mm dari apeks dan dibuat preparasi kavitas kelas I menggunakan bur fisura dengan kedalaman 3 mm pada ujung akar tersebut. Akar gigi tersebut dibagi dalam 3 kelompok masing-masing 10. Kelompok I menggunakan akuabides sebagai bahan pencampur MTA (MTA-akuades), kelompok II menggunakan salin (MTA-salin) dan kelompok II menggunakan Chlorhexidine 0,12% (MTA-chlorhexidine). Ujung akar kemudian diisi campuran MTA sesuai kelompoknya. Evaluasi kebocoran apikal menggunakan teknik clearing. Kebocoran apikal ditentukan dengan mengukur kedalaman penetrasi larutan biru metilen menggunakan mikroskopstereo. Hasil pengukuran dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA). Hasil: Penetrasi warna pada kelompok MTA-akuades maupun MTA-salin menunjukkan hasil yang paling kecil dan kedua kelompok tersebut berbeda secara signifikan dengan kelompok MTA-chlorhexidine 0,12% (p<0,005). Kesimpulan: Bahan pencampur akuades dan salin menghasilkan MTA dengan kebocoran apikal yang lebih kecil dibandingkan chlorhexidine.
Apeksifikasi pada Gigi Insisivus Kanan Maksila dengan Mineral Trioxide Aggregate Widiadnyani, Ni Kadek Eka; Mulyawati, Ema
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma pada gigi permanen imatur non vital dengan apikal terbuka sering terjadi dan melibatkan kurang lebih 30% populasi anak. Mineral trioxide aggregate (MTA) adalah bahan pilihan terbaik yang dipakai sebagai bahan apeksifikasi untuk pembentukan apikal barrier dan penyembuhan pada gigi imatur. Tujuan laporan kasus adalah untuk melaporkan keberhasilan penutupan apikal dengan menggunakan MTA pada gigi permanen insisivus non vital dengan apikal terbuka yang diakibatkan trauma. Pasien perempuan 18 tahun dengan keluhan gigi depan atas kanan patah dan berubah warna. Kejadian trauma sejak 6 tahun yang lalu karena jatuh dari sepeda. Pemeriksaan klinis, gigi non vital dengan fraktur Ellis klas IV disertai apikal terbuka dan diskolorasi oleh karena trauma. Periapikal radiografis menunjukkan apikal masih terbuka dengan saluran akar yang besar serta terdapat radiolusensi periapikal. Apeksifikasi dilakukan dengan MTA dilanjutkandengan  pemasangan pasak pita fiber, pembuatan inti dan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal. Simpulan hasil perawatan menunjukkan bahwa apeksifikasi dengan MTA dapat mempersingkat waktu kunjungan dengan pembentukan barier apikal yang merangsang penyembuhan dan dapat langsung dilanjutkan dengan restorasi akhir.ABSTRACT: Apexification With Mineral Trioxide Aggregate In Right Maxillary Incisor. Traumatic injury in non-vital immature permanent teeth with open apex is common, and it comprises approximately 30% of the pediatric population. Mineral trioxide aggregate (MTA) is the best material to be used as an ingredient for apexification procedure for apical calcific barrier formation and healing. The aim of the present case study is to overview the successful closure of root apex in pulpless permanent incisors with wide open apices as a consequence of trauma using MTA. The examination was conducted to an 18 year-old female patient who complained about her broken and discolored right upper front teeth. The traumatic injury of her teeth had happened since 6 years ago after she fell from bike. On clinical examination, she suffered from non-vital teeth with fracture Ellis class IV, apex open and discoloration accompanied by trauma. Periapical radiographic evaluation showed that root formation with wide open apices with root canal was large and indicated a periapical radiolucency. Therefore, apexification with MTA was performed followed by ribbon fiber-reinforced, core making and restoration of full crown porcelain fusion metal. From the treatment, it can be concluded that the time visit for apexification treatment using MTA is shortened, and MTA can heal and stimulate apical barrier formation immediately after final restoration.
Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan Pada Pulpa Nekrosis Disertai Restorasi Mahkota Jaket Porselin Fusi Metal dengan Pasak Fiber Reinforced Composit (Kasus Gigi Insisivus Sentralis Kanan Maksila) Triharsa, Surya; Mulyawati, Ema
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.48 KB)

Abstract

Perawatan saluran akar satu kunjungan dapat memperkecil resiko adanya kontaminasi bakteri serta mengurangi jumlah kunjungan. Restorasi gigi insisvus sentralis maksila setelah perawatan saluran akar harus mempertimbangkan sisa jaringan keras gigi yang masih ada. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk menginformasikan hasil perawatan saluran akar satu kunjungan dengan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal dengan pasak Fiber Reinforced Composit (FRC) pada gigi insisivus sentralis kanan maksila. Pasien perempuan 32 tahun datang ke klinik konservasi Gigi RSGM Prof Soedomo FKG UGM ingin merawat gigi depan atas dengan tumpatan yang telah berubah warna. Berdasarkan pemeriksaan subjektif, objektif dan radiografis diperoleh diagnosis pulpa nekrosis. Selanjutnya dilakukan perawatan saluran akar satu kunjungan, dan restorasi mahkota jaket porselin dengan pasak  FRC. Hasil evaluasi klinis saat kontrol tidak ada keluhan rasa sakit gigi dan gigi bisa berfungsi dengan normal.  ABSTRACT: One Visit Root Canal Treatment On Necrosis Pulp Followed by Fused Porcelain Metal Jacket Crown with Fiber Reinforced Composit (A Case on Right Maxillary Central Incisivus Teeth). One visit root canal treatment is more beneficial to reduce the risk of bacteria and also shorten the time during the treatment in restoring maxillary incisor, considering the on rest of hard tissue. The objective of this case report is to inform the result of restoration teeth 11 to necrotic pulp after one visit root canal treatment. A 32 year-old female came to RSGM Prof Soedomo FKG UGM to have a treatment on her maxillary central teeth restoration for tooth whose color has changed. After an objective and radiograph examination, it was diagnosed that she suffered from necrotic pulp. The treatment chosen was a one visit root canal treatment followed by porcelain fused to metal jacket crown with fiber post reinforced composit. Based on the clinical evaluation, there was no more pain after the treatment, and the aesthetic aspect was also achieved. The patient was satisfied.
Mineral Trioxide Aggregate sebagai Penutup Perforasi Akar Lateral Premolar Mandibula Disertai Restorasi Onlei Resin Komposit Kusumastuti, Nanda; Mulyawati, Ema
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4437.734 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16487

Abstract

Latar belakang. Kegagalan memperoleh arah preparasi saluran akar yang lurus merupakan salah satu penyebab utama perforasi akar lateral. Pemakaian mineral trioxide aggregate (MTA) pada penutupan perforasi akar lateral memberikan kerapatan yang lebih baik dibandingkan bahan yang lain. Tujuan. Penulisan laporan ini untuk melaporkan penutupan perforasi akar lateral menggunakan MTA pada perawatan saluran akar gigi premolar dua kanan mandibula nekrosis pulpa dilanjutkan restorasi onlei resin komposit sehingga !ungsi gigi dapat tereapai kembali. Kasus dan penanganan. Pasien laki-Iaki berusia 35 tahun datang ke klinik Konservasi RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan ingin melanjutkan perawatan gigi belakang kanan bawahnya yang pernah dirawat di dokter gigi sebelumnya tetapi tidak selesai. Pada pemeriksaan CE negati!, perkusi positi!, palpasi dan mobilitas negati!. Gambaran radiogra! terlihat adanya area radiolusen pada 1/3 akar lateral bagian mesial. Diagnosis gigi 45 adalah karies profunda dengan nekrosis pulpa disertai perforasi akar lateral. Preparasi saluran akar dilakukan dengan teknik crown down menggunakan protaper hand use. MTA setebal 3 mm ditempatkan dalam saluran akar yang mengalami perforasi akar lateral dan selanjutnya saluran akar diobturasi dengan teknik single cone. Tiga bulan setelah penutupan perforasi akar lateral, pasien tidak ada keluhan serta pada pemeriksaan perkusi, palpasi dan mobilitas negati! kemudian dilanjutkan dengan restorasi onlei resin komposit. Kesimpulan. Kasus premolar dua kanan mandibula yang mengalami perforasi akar lateral dapat disembuhkan dengan penggunaan MTA sebagai bahan penutup perforasi. Evaluasi pasea pengaplikasian MTA dilakukan pada bulan ke-3 menunjukkan hasil yang eukup memuaskan dengan ditandai daerah radiolusensi yang mengeeil pada daerah perforasi.
Pasak Customized Fiber Reinforced Composite Indirect pada Gigi Incisivus Lateralis Kiri Atas dengan Dinding Saluran Akar yang Tipis Subroto, Monika Prima Dewi Ayuningtyas; Mulyawati, Ema; Santoso, Pribadi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 1, No 1 (2015): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.924 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.9030

Abstract

Gigi pasca perawatan saluran akar (PSA) biasanya mengalami kehilangan struktur gigi yang luas oleh karena karies, faktor iatrogenik, restorasi sebelumnya dan fraktur. Pengurangan dentin di dalam saluran akar akan menyebabkan saluran akar menjadi tipis, sehingga restorasi konvensional dengan pasak logam dapat menyebabkan fraktur akar. Untuk meminimalkan fraktur akar tersebut, telah dikenal pasak fiber yang memiliki modulus elastisitas yang sama dengan dentin. Pada saluran akar yang lebar dan ireguler serta struktur mahkota yang minimal, dibutuhkan pasak customized fiber reinforced composite dengan inti yang dapat memperkuat struktur gigi yang sudah lemah. Studi kasus ini melaporkankasus restorasi gigi non vital pasca PSA dengan dinding saluran akar tipis, yang berhasil dirawat dengan customized fiber reinforced composite indirect. Seorang pasien wanita usia 27 tahun dirujuk ke Bagian Konservasi Gigi karena mengalami over instrumentasi saluran pasak pada gigi incisivus lateralis kiri atas. Pada pemeriksaan radiograf, tampakdinding saluran akar sangat tipis. Restorasi ini dilakukan dalam 3 kali kunjungan. Pada kunjungan pertama dilakukan pencetakan saluran pasak dengan teknik double impression. Pasak customized fiber reinforced composit indirect, dibuat dalam cetakan saluran pasak menggunakan resin komposit Premise Indirect (Kerr) yang diperkuat dengan pita fiber (Construct, Kerr). Inti dan pasak yang sudah dibentuk, disinar menggunakan Light Cure selama 20 detik di setiap sisi, lalu polimerisasi disempurnakan dengan oven selama 20 menit. Pada kunjungan kedua dilakukan insersi pasak dan pencetakan mahkota jaket dengan teknik double impression. Pada kunjungan ketiga dilakukan insersi mahkota jaket. Gigi non vital pasca PSA dengan dinding saluran pasak yang tipis dapat direstorasi dengan customized fiber reinforcedcomposite indirect dengan baik. Indirect Customized Fiber Reinforced Composite Post In Upper Left Lateralis Incisivus With Thin-Walled Root. Excessive tooth structure loss after root canal treatment is usually present due to caries lesion, iatrogenic factor, previous restoration, and fracture. Intra-radicular dentin removal during root canal treatment may result in thin root canal wall structures, therefore conventional restoration using metallic post frequently leads to irreparable root fractures. In order to minimize the root fracture risk, fiber post has been known as an ideal choice because of its similar modulus elasticity characteristic to dentin. The wide and irregular root canal accompanied with minimum remaining tooth structure needs a customized fiber reinforced composite post to strengthen the preserved tooth structure. This article reports a succesfulrestoration of a non vital post root canal treatment tooth with thin root canal walls using indirect customized fiber-reinforced composite post. A 27-year-old female patient with over instrumentation in root canal of the upper left lateral incisor was referred to the Department of Conservative Dentistry. The radiograph examination finds that there was a very thin wall of the remaining root canal structure. The restoration was carried out in 3 visits. In the first visit, post canal impression was obtained using double impression technique. Indirect customized fiber reinforced composite post was made in the mold using composite resin Premise Indirect (Kerr) reinforced with fiber band (Construct, Kerr). The formed post and core were light cured for 20 seconds, and then refined by oven polymerization for 20 minutes. In the second visit, the post was inserted and crown impression was obtained using double impression technique. In the third visit, the jacket crown was inserted. The root canal treated tooth with remaining thin post canal wall could be restored with indirect customized fiber reinforced composite.
Restorasi mahkota jaket porselen fusi metal dan customed dowel pasca perawatan saluran akar satu kunjunga Arisanti, Teleseptiserngi Dian; Mulyawati, Ema
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.101 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.31958

Abstract

Estetika memegang peranan penting untuk meningkatkan kepercayaan diri, terutama gigi anterior. Masalah estetika pada gigi anterior yang sering dijumpai adalah lesi karies yang dapat menyebabkan hilangnya mahkota gigi dan perubahan warna gigi. Makalah ini bertujuan untuk melaporkan restorasi mahkota porselen fusi metal pada gigi insisivus sentralis kiri rahang atas pasca perawatan saluran akar (PSA). Seorang pasien laki-laki berusia 25 tahun ingin merestorasi gigi insisivus lateralis maksila yang berubah warna. Diagnosis dalam kasus ini adalah gigi nekrosis disertai diskolorasi. Perawatan untuk kasus ini adalah PSA satu kunjungan dilanjutkan restorasi mahkota jaket porselen fusi metal dengan custom dowel. Tiga bulan kemudian pada saat kontrol tidak terdapat keluhan saat mengunyah, tidak terdapat traumatik oklusi, dan keadaan jaringan pendukung gigi baik. Kesimpulan dari laporan kasus ini adalah restorasi gigi anterior dan PSA dapat mengembalikan fungsi gigi terutama fungsi estetik yang berpengaruh pada tingkat kepercayaan diri. ABSTRACT: Porcelain fuse to metal restoration and customed dowel post one visit endodontic treatment. Esthetic of anterior teeth has an important role to build self-confidence. Common esthetic problem on anterior teeth is caries, causing damage to the crown and discoloration. The aim of the case report is to report a porcelain fuse to metal restoration and custom dowel post one visit endodontic treatment in the left central maxillary incisor. A 25-years-old male patient came to seek care of his discolorized left central maxillary incisor. The diagnosis has been established as followed, pulp necrosis with discoloration on left central maxillary incisor. Method : In this case, we have undergone the one visit endodontics treatment followed by porcelain-fused-to-metal crown restoration and custom dowel of the left central maxillary incisor. Result: Three months evaluation post treatment, the patient had no pain during chewing, traumatic occlusion, nor periodontal tissue issue. Conclusion: The restoration on anterior teeth and endodontic treatment can reestablished the function of the teeth moreover esthetic, increasing self-confidence
Pasak fabricated FRC dan restorasi resin komposit pada insisivus sentral maksila karies sekunder dengan pulpa nekrosis Utami, Sartika Putri; Mulyawati, Ema
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.244 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.31988

Abstract

Karies sekunder dapat mengiritasi pulpa sehingga menyebabkan pulpa nekrosis bahkan hingga menyebabkan kelainan pada jaringan periapikal. Perawatan saluran akar (PSA) merupakan pilihan perawatan untuk menangani hal ini sebelum gigi direstorasi. Gigi anterior maksila pasca PSA membutuhkan restorasi dengan tingkat estetika yang tinggi dan juga membutuhkan retensi intrakanal yang dapat mendukung restorasi estetis. Pasak fabricated fiber-reinforced composite (FRC) adalah pilihan material yang dapat memenuhi kriteria tersebut. Penulisan ini bertujuan untuk melaporkan kasus PSA dengan restorasi resin komposit kavitas kelas IV dengan pasak fabricated FRC pada gigi insisivus sentral kiri maksila karies sekunder dengan nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Pasien perempuan berusia 22 tahun datang dengan keluhan ingin mengganti tumpatan gigi depan kiri atas yang sudah berubah warna. Gigi pernah sakit spontan 1 tahun yang lalu. Pemeriksaan radiograf menunjukkan adanya tumpatan pada permukaan mesial gigi dengan area radiolusen sepanjang margin tumpatan yang terletak dekat pulpa dengan area radiolusen berbatas difus di daerah periapikal. Perawatan saluran akar dan evaluasi satu minggu sesudahnya dilakukan sebelum dilakukan restorasi akhir berupa restorasi resin komposit kelas IV dengan pasak fabricated fiber-reinforced composite. Seleksi kasus yang tepat merupakan kunci keberhasilan suatu perawatan. Pasak fabricated FRC dengan restorasi resin komposit kavitas kelas IV merupakan pilihan yang tepat pada kasus ini untuk menangani gigi insisivus sentral maksila yang memiliki saluran akar lebar dan kehilangan jaringan keras gigi yang lebih sedikit. ABSTRACT: Fabricated FRC post with composite resin restoration on secondary caries and underlying necrose pulp of maxillary central incisor. Secondary caries can irritate the pulp, causing the pulp to necrose and even to cause abnormalities in the periapical tissue. Root canal treatment is the treatment of choice to deal with this before the tooth is restored. Maxillary anterior teeth after root canal treatment requires restoration results with a high aesthetic level and al so requires the intracanal retention that can support aesthetically restoration result. Fabricated fiber-reinforced composite (FRC) post is material that suits. To report a case of root canal treatment with class IV cavity composite resin restorations with fabricated FRC post in secondary caries with pulp necrosis with periapical lesion of left maxillary central incisor. Twenty two year-old female patient came to replace the upper left anterior tooth discolored filling. Spontaneous tooth pain 1 year ago was also reported. Radiographs showed the fillings at the mesial surface of the tooth with a radiolucent area along the fillings margin located near the pulp with a diffuse margin radiolucent area in the periapical region. Root canal treatment and evaluation a week after that performed before cavity class IV composite resin restorations with fabricated FRC post as final restoration had done. Proper case selection is the success key of a treatment. Fabricated FRC post with composite resin restorations class IV cavity are an appropriate management option in this case to deal with maxillary central incisor which has a wide root canals and less of dental hard tissue loss. 
Pengaruh bahan desensitasi pasca bleaching ekstrakoronal terhadap kekuatan geser pelekatan restorasi resin komposit Mulyawati, Ema
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.589 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11235

Abstract

The Effect of desensitizing agent in post-extracoronal bleaching on shear bond strength of composite resin. The dentinal hypersensitivity is a common condition among patients after extracoronal bleaching treatment that usually needs the application of desensitizing agent. The purpose of this study was to evaluate the composite resin restoration shear bond strength with and without desensitizing application after extracoronal bleaching using 40% of H2O2. Twenty one extracted permanent human incisor teeth were randomly divided into 3 groups of 7 each. Group I was with the application of 40% H2O2 without any desensitizing agent. Group II was with the application of 40% of H2O2 with desensitizing agent and group III served as the control. The teeth were immersed in artificial saliva and stored in 37 °C incubator for 7 days. The teeth were restored using composite resin. After restoring the shear bond strength of composite resin was tested using a universal testing machine. Result and conclusion. there is no significant difference between bleaching group with and without desensitizing agent. The application of desensitizing agent after extracoronal bleaching did not impact the composite resin shear bond strength.ABSTRAKDentin hipersensitif merupakan kondisi yang biasa dialami pasien setelah perawatan bleaching ekstrakoronal yang biasanya memerlukan aplikasi bahan desensitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan desensitasi pasca bleaching ekstrakoronal menggunakan H2O2 40% terhadap kekutan geser pelekatan restorasi resin komposit. Dua puluh satu gigi permanen insisivus yang telah dicabut dibagi dalam tiga kelompok masing-masing 7 gigi. Kelompok I dilakukan bleaching ekstrakoronal dengan H2O2 tanpa bahan desensitasi. Kelompok II dilakukan bleaching setelah itu diaplikasikan bahan desensitasi dan kelompok III sebagai kelompok kontrol. Semua gigi-gigi tersebut di rendam dalam saliva buatan dan dimasukkan inkubator selama 7 hari pada suhu 37 °C. Selanjutnya seluruh gigi dilakukan restorasi resin komposit menggunakan light cure halogen. Setelah itu dilakukan pengujian kekuatan geser pelekatan menggunakan universal testing machine. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal - Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kekuatan geser pelekatan pada semua kelompok perlakuan (p > 0,05). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh aplikasi bahan desensitasi pasca bleaching ekstrakoronal terhadap kekuatan geser pelekatan restorasi resin komposit.
Sifat fisik hidroksiapatit sintesis kalsit sebagai bahan pengisi pada sealer saluran akar resin epoxy (Physical properties of calcite synthesized hydroxyapatite as the filler of epoxy-resin-based root canal sealer) Mulyawati, Ema; HNES, Marsetyawan; Sunarintyas, Siti; Handajani, Juni
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.449 KB) | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p207-212

Abstract

Background: The filler addition to resin based sealers will enhance the physical properties of the polymer. Because of its biological properties, the synthetic hydroxyapatite (HA) has been proposed as filler for dental material such as composite resin. The calcite synthesized HA is the HA produced of calcite minerals that came from many Indonesian mining. Purpose: The aim of study was to determine the effect of different concentration of calcite synthesized HA as the filler of the epoxy-resin-based root canal sealer on the physical properties such as its contact angle, the film thickness and the microhardness. Methods: The crystal of the calcite synthesized hydroxyapatite with the size between 77.721-88.710 nm and the ratio of Ca/P 1.6886 were synthesized at Ceramic Laboratory, Mechanical Engineering, using wet method of hydrothermal microwave. The powders of the epoxy- resin were prepared by added the synthesized hydroxyapatite crystal in 5 different weight ratios (e.g.: HA-10%, HA-20%, HA-30%, HA-40% and HA-50%). Each of these was mixed with the paste of 3:1 ratio using spatula on a glass plate until homogen and then measuring the contact angle and the film thickness. Microhardness test was conducted after the mixture of experimental sealer was stored for 24 hrs at 37 oC to reach perfect polymerization. Results: All of contact angles were <90o and were not significantly different to each other (p= 0.510). All groups had a film thickness in accordance with ISO 6876 (<50 um) and with no statistical difference (p= 0.858). In the HA of 10%, 20%, 30% seen that the microhardness were increased, while in the HA-50% was decreased and in the HA-40% has the same microhardness to the control groups (HA-0%). Conclusion: Calcite synthesized HA as the filler did not affect contact angle and film thickness of the sealer. Microhardness of the epoxy-resin based sealer could be increased using maximum 30% of the calcite synthesized HA as the filler.Latar belakang: Penambahan bahan pengisi pada sealer berbahan dasar resin akan meningkatkan sifat fisik polimer. Karena sifat biologis bagus, hidroksiapatit (HA) sintetis digunakan sebagai bahan pengisi material kedokteran gigi seperti resin komposit. Hidroksiapatit sintesis kalsit merupakan HA yang hasilkan dari mineral kalsit berasal dari berbagai daerah pertambangan di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh berbagai konsentrasi HA sintesis kalsit sebagai bahan pengisi sealer berbahan dasar resin epoksi terhadap sifat fisiknya yaitu sudut kontak, ketebalan film dan kekerasan mikronya. Metode: Kristal HA sintesis kalsit yang berukuran 7,721-88,710 nm dengan rasio Ca/P 1,6886 diperoleh dari sintesis di Laboratorium Keramik, Teknik Mesin, Universitas Gadjah Mada menggunakan wet method dengan microwave hidrotermal. Serbuk resin epoksi dipersiapkan dengan menambahkan kristal HA sintesis kalsit dalam lima konsentrasi yang berbeda yaitu HA-10%, HA-20%, HA-30%, HA-40% dan HA-50% (dalam berat). Masing-masing serbuk diaduk dengan pasta resin epoksi dengan perbandingan 3:1 menggunakan spatula di atas glassplate hingga homogen, selanjutnya dilakukan pengukuran sudut kontak dan ketebalan film. Pengukuran kekerasan mikro dilakukan setelah sealer disimpan dalam inkubator 37 oC selama 24 jam sehingga mencapai polimerisasi sempurna. Hasil: Semua kelompok menunjukkan bahwa sudut kontak <90o dan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (p=0,510). Semua kelompok menunjukkan bahwa ketebalan filmnya sesuai dengan ISO 6876 (<50 um) dan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (p=0,858). Pada kelompok HA-10%, 20% dan 30% kekerasan mikronya meningkat, sedangkan pada HA-50% menurun dan HA-40% kekerasannya sama dengan kelompok kontrol (HA-0%). Simpulan: Penambahan hingga 50% HA sintesis kalsit sebagai bahan pengisi sealer resin epoksi tidak mempengaruhi sudut kontak dan ketebalan film. Kekerasan sealer dapat ditingkatkan dengan menambahkan HA sintesis kalsit maksimum hingga 30%.
Sealing ability of hydroxyapatite as a root canal sealer: in vitro study Witjaksono, Widowati; Naing, Lin; Mulyawati, Ema; Samsudin, AR.; Tin Oo, Mon Mon
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 40, No 3 (2007): (September 2007)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.778 KB) | DOI: 10.20473/j.djmkg.v40.i3.p101-105

Abstract

Hydroxyapatite (HA) is the most thermodynamically synthetic calcium phosphate cement, and has indicated useful as a sealer because can seal a furcation perforation, is shown to be biocompatible and also has potential to promote the healing of bone in endodontic therapy. The objective of this study is to determine the sealing ability of HA produced by School of Engineering, Universiti Sains Malaysia (USM) when used as a sealer in root canal obturation, compare with Tubli-seal (Zinc-Oxide base) and Sealapax (Calcium Hydroxyde base) sealers. Forty five single rooted human anterior teeth were instrumented and randomly divided into three experimental groups of 15 teeth each. All teeth in the experimental groups were obturated with laterally condensed gutta percha technique. Teeth in the first group were sealed using Zinc-Oxide (ZnO) based sealer and those of second group using Calcium Hydroxide (CaOH) based root canal sealer. Third experimental group was sealed using HA from School of Engineering USM. Teeth were then suspended in 2% methylene blue. After this, teeth were demineralized dehydrated and cleared. Linear dye penetration was determined under magnifying lense with calibrated eye piece. Statistical analyses of the linear dye penetration were performed with Kruskal Wallis test. The intergroup comparison between HA and ZnO groups and CaOH groups were analyzed by Mann-Whitney test. The dye penetration for group which were sealed with HA exhibited the lowest penetration and it showed that there was a statistically significant difference both between HA and ZnO groups and also between HA and CaOH groups (p < 0.001).In conclusion, it was found that value added HA based endodontic material which were produced by USM can be used as a root canal sealing materials when it used in combination with epoxy resin since it leaked comparatively less as compared to ZnO and CaOH sealers. Before reaching a definitive conclusion, this material requires further extensive exploration both clinically and in vitro.