Christnawati Christnawati, Christnawati
Bagian Ortodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

Perawatan Maloklusi Klas III dengan Reverse Overjet Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Purwaningsih, Yohana Retno Wikandari; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi klas III true skeletal merupakan kasus yang sulit dirawat dan  mudah terjadi relaps. Perawatan ideal kasus ini memerlukan tindakan bedah, namun apabila hal tersebut tidak memungkinkan maka dilakukan perawatan kamuflase. Reverse overjet, atau gigitan terbalik, tipikal mempunyai penyimpangan posisi insisivus atas dan bawah akibat malrelasi maksila dan atau mandibula. Tujuan artikel ini adalah menyajikan perawatan ortodontik kamuflase menggunakan teknik Begg pada maloklusi ini. Pasien perempuan umur 24 tahun mengeluhkan gigi depan berjejal dan tidak nyaman untuk mengunyah makanan. Diagnosis kasus adalah maloklusi Angle klas III, hubungan skeletal klas III dengan protrusif bimaksilar, incisivus atas dan bawah retrusif, pergeseran median line rahang atas ke kanan, disertai edge to edge bite anterior, cross bite posterior dan openbite posterior. Pasien dirawat dengan  pencabutan gigi premolar kedua atas,dan premolar pertama  bawah untuk mengatasi kondisi kasus tersebut. Kesimpulan dua tahun setelah perawatan, tampak sudut interinsisal berkurang, reverse overjet terkoreksi, edge to edge bite, cross bite dan openbite terkoreksi.Treatment of Class III malocclusion with Reverse Overjet using Orthodontic Begg Technique. A true skeletal class III malocclusion is a difficult case to be treated as it can get easily relap. The ideal treatment of this skeletal types requires a surgery, but if it is not possible, an orthodontic camouflage can be conducted. Reverse overjet typically has upper and lower incisor position deviation due to the mesial position of the mandible in relation to the maxilla.The purpose of this article is to present camouflage orthodontic treatment using Begg orthodontic technique in Class III malocclusion case with reverse overjet. A 24 year-old female patient complained about her front teeth crowding and uncomfortable mastication. From the diagnosis, there was true dento skeletal class III malocclusion with bimaxilary protrusion, bidental retrusion and edge to edge bite. The lower incisors were shifted to the right. The posterior teeth were crossbite and openbite. The patient were treated with extraction of the right upper second premolars and lower first premolars.After 2 years of treatment, it is concluded that the interinsisal angle decreases and the reverse overjet, the edge to edge bite, the crossbite and the openbite are corrected as well.
Perawatan Ortodontik pada Maloklusi Klas II Divisi 1 dengan Overjet Besar dan Palatal Bite Menggunakan Alat Cekat Teknik Begg Kurniasari, Reni; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi Klas II divisi 1 sering disertai overjet besar dan palatal bite, koreksi overjet besar dan palatal bite akan sulit dilakukan dan membutuhkan waktu yang lama. Pada perawatan ortodontik menggunakan teknik Begg koreksi overjet besar dan palatal bite dapat dilakukan secara bersamaan karena memakai differential force. Tujuan artikel ini adalah untuk menyajikan hasil koreksi overjet besar dan palatal bite pada kasus maloklusi klas II divisi 1 menggunakan alat ortodontik cekat teknik Begg. Kasus: Pasien laki-laki usia 17 tahun, dengan keluhan gigi rahang atas berjejal dan maju. Diagnosis: maloklusi Angle Klas II divisi 1 dengan hubungan skeletal klas II, mandibular retrusif dan bidental protrusif disertai crowding sedang, overjet sebesar 10,78 mm, palatal bite dan pergeseran garis median rahang atas ke kiri 1,5 mm. Perawatan menggunakan alat cekat teknik Begg diawali pencabutan kedua gigi premolar pertama atas dan kedua premolar kedua rahang bawah. Tahap pertama perawatan menggunakan multiloop arch wire 0,014”, anchorage bend 45º dan elastik intermaksiler klas II. Setelah 7 bulan perawatan, hasil menunjukkan crowding terkoreksi, overjet besar dan palatal bite terkoreksi sempurna. Overjet menjadi 2,2 mm dan overbite menjadi 2 mm. Kesimpulan dari perawatan maloklusi klas II divisi 1 disertai overjet besar dan palatal bite menggunakan alat ortodontik cekat teknik Begg menunjukkan hasil yang bai.ABSTRACT: Orthodontic Treatment Of Class II Division 1 Malocclusion With Large Overjet and Palatal Bite Using Orthodontic Begg Technique. Class II division 1 often accompanied with large overjet and palatal bite, treatment of the large overjet and palatal bite would be difficult and time consuming. On orthodontic treatment using Begg technique correction of the large overjet and palatal bite can be done simultaneously for wearing a differential force. Purpose of this article is to present the results of a large overjet correction and palatal bite in case of class II division 1 malocclusion using a fixed orthodontic appliance Begg technique. A 17 years old male patient, complained his crowding and protruding upper teeth. Diagnosis: class II division 1 Angle malocclusion, with class II skeletal relationship, mandibular retrusive and bidental protrusive accompanied moderate crowding, overjet 10.78 mm, palatal bite and upper dental centerline shift to the left 1.5 mm. Treatment using a fixed appliance Begg technique was initiated by extraction two first upper premolars extraction  of maxillary first premolar on both side and mandibular second premolar on both side. The first stage of treatment was conducted using multiloop arch wire 0.014”, anchorage band 45o and class II intermaxillary elastics. After seven month of treatment, the results showed crowding corrected, a large overjet and palatal bite perfectly corrected. Overjet of 2.2 mm and overbite to 2 mm. Orthodontic treatment of class II division 1 malocclusion with large overjet and palatal bite using orthodontic Begg technique showed a good result.
Perawatan Gigitan Terbuka Anteroposterior Tipe Skeletal dengan Teknik Straightwire Mandala, Vega; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigitan terbuka merupakan maloklusi yang bercirikan tidak terdapatnya tutup menutup gigi rahang atas dan bawah, dapat terjadi pada regio anterior maupun posterior dan dapat melibatkan dental maupun skeletal. Maloklusi ini memerlukan ketelitian dalam penentuan diagnosis dan perawatan untuk mendapatkan hasil perawatan yang baik dan kestabilan jangka panjang. Tujuan penulisan studi kasus ini adalah untuk menginformasikan manajemen pasien dengan gigitan terbuka tipe skeletal. Pasien pria berumur 19 tahun datang ke Klinik Ortodonsia FKG UGM dengan keluhan utama gigi depan yang tidak rata dan tidak dapat digunakan untuk menggigit. Pemeriksaan klinis menunjukkan pasien memiliki kebiasaan menelan dengan menjulurkan lidah. Pemeriksaan model studi menunjukkan maloklusi Angle kelas I dengan gigitan terbuka anterior dari regio premolar kedua kanan ke kiri sebesar 10,7 mm disertai malposisi gigi individual dan pergeseran garis tengah rahang bawah ke kiri. Pemeriksaan sefalometri menunjukkan relasi skeletal kelas II dengan retrusif bimaksila, rotasi mandibula searah jarum jam dan gigitan terbuka skeletal. Pasien menolak tindakan bedah ortognatik sehingga dilakukan perawatan ortodontik kamuflase. Perawatan diawali dengan latihan miofungsional untukmelatih cara penelanan yang benar dilanjutkan dengan perawatan ortodontik teknik straightwire dengan pencabutan empat gigi molar pertama. Penutupan gigitan terbuka menggunakan elastic box anterior. Hasil evaluasi menunjukkanpengurangan besar gigitan terbuka dari 10,7 mm menjadi 1,25 mm. Kesimpulannya elastic box anterior dapat digunakan untuk mengoreksi gigitan terbuka yang etiologinya melibatkan intrusi gigi anterior.  ABSTRACT: Skeletal Anteroposterior Open Bite Treatment with Straight Wire Technique. Open bite is a malocclusion with characteristic no overlapping between maxillar and mandibular teeth. This malocclusion may occur in anterior or posterior region and involved dental or skeletal. This malocclusion needed precise diagnosis and treatment to get a good treatment result and long term stability. The aim of this case report was to inform management of patient with skeletal open bite. A 19 years old male came to orthodontic clinic Faculty of Dentistry Gadjah Mada University with the chief complaint anterior crowding, and anterior teeth cannot be used to bite. Clinical finding showed patient hadtongue thrusting habit. Study model analysis showed class I Angle malocclusion with 10.7 mm anterior open bite from right second premolar to left second premolar, with individual teeth malposition and mandibular midline shifting to the left. Cephalometric finding showed class II skeletal relationship with bimaxillar retrusive, clockwise mandibular rotation and skeletal open bite. This patient refused orthognatic surgery, so he received camouflage orthodontic treatment. This treatment was started with monofunctional exercise to correct the swallowing action then continued with straight wire orthodontic treatment with four first molar extractions. Anterior box elastic was used to close the bite. Evaluation result showed open bite was decreased from 10.7 mm to 1.25 mm. The conclusion was anterior box elastic could be used in open bite correction that involved anterior teeth intrusion as an etiology.
Perawatan Maloklusi Klas III dengan Reverse Overjet Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Purwaningsih, Yohana Retno Wikandari; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi klas III true skeletal merupakan kasus yang sulit dirawat dan  mudah terjadi relaps. Perawatan ideal kasus ini memerlukan tindakan bedah, namun apabila hal tersebut tidak memungkinkan maka dilakukan perawatan kamuflase. Reverse overjet, atau gigitan terbalik, tipikal mempunyai penyimpangan posisi insisivus atas dan bawah akibat malrelasi maksila dan atau mandibula. Tujuan artikel ini adalah menyajikan perawatan ortodontik kamuflase menggunakan teknik Begg pada maloklusi ini. Pasien perempuan umur 24 tahun mengeluhkan gigi depan berjejal dan tidak nyaman untuk mengunyah makanan. Diagnosis kasus adalah maloklusi Angle klas III, hubungan skeletal klas III dengan protrusif bimaksilar, incisivus atas dan bawah retrusif, pergeseran median line rahang atas ke kanan, disertai edge to edge bite anterior, cross bite posterior dan openbite posterior. Pasien dirawat dengan  pencabutan gigi premolar kedua atas,dan premolar pertama  bawah untuk mengatasi kondisi kasus tersebut. Kesimpulan dua tahun setelah perawatan, tampak sudut interinsisal berkurang, reverse overjet terkoreksi, edge to edge bite, cross bite dan openbite terkoreksi.ABSTRACT: Treatment of Class III malocclusion with Reverse Overjet using Orthodontic Begg Technique. A true skeletal class III malocclusion is a difficult case to be treated as it can get easily relap. The ideal treatment of this skeletal types requires a surgery, but if it is not possible, an orthodontic camouflage can be conducted. Reverse overjet typically has upper and lower incisor position deviation due to the mesial position of the mandible in relation to the maxilla.The purpose of this article is to present camouflage orthodontic treatment using Begg orthodontic technique in Class III malocclusion case with reverse overjet. A 24 year-old female patient complained about her front teeth crowding and uncomfortable mastication. From the diagnosis, there was true dento skeletal class III malocclusion with bimaxilary protrusion, bidental retrusion and edge to edge bite. The lower incisors were shifted to the right. The posterior teeth were crossbite and openbite. The patient were treated with extraction of the right upper second premolars and lower first premolars.After 2 years of treatment, it is concluded that the interinsisal angle decreases and the reverse overjet, the edge to edge bite, the crossbite and the openbite are corrected as well.
Penggunaan Vertical Loop pada Perawatan Gigi Berjejal Parah dan Crossbite Anterior dengan Teknik Begg Nainggolan, Herna Juliana; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi berjejal dapat terjadi pada semua klasifikasi maloklusi. Perawatan gigi berjejal berat dengan teknik Begg menggunakan vertical loop untuk meningkatkan kelentingan busur labial supaya dapat terpasang pada gigi berjejal sehingga levelling dan unravelling gigi anterior dapat tercapai. Tujuan artikel ini untuk menerangkan manfaat dari vertical loop pada kasus gigi berjejal berat. Pada artikel ini disajikan dua kasus gigi berjejal parah dan crossbite. Kasus pertama: laki-laki 17 tahun tidak percaya diri karena berjejal dan gingsul. Diagnosis: maloklusi Angle klas III subdivisi tipe skeletal klas III dengan maksila retrusif dan mandibula prognatik, gigi berjejal parah dan crossbite anterior. Kasus kedua: perempuan 18 tahun, mengeluhkan gigi berjejal, sulit dibersihkan dan gusi sering berdarah. Diagnosis: Maloklusi Angle klas I tipe skeletal klas I dengan bimaksiler retrusif dan bidental protrusif  gigi berjejal berat dan crossbite anterior. Pada kedua kasus dilakukan perawatan dengan alat ortodontik cekat teknik Begg, pada tahap pertama digunakan archwire diameter 0,014” dengan vertical loop untuk koreksi gigi malposisi berupa gigi berjejal, membuka dan menutup ruang gigi anterior dengan menggerakkan gigi ke arah mesiolabial dan labiolingual sehingga gigi berjejal dan crossbite anterior dapat terkoreksi. Hasil: Koreksi inklinasi gigi-gigi rahang atas dan bawah, overjet dan overbite dipertahankan, penutupan sisa ruang, koreksi aksial gigi-gigi dan perbaikan interdigitasi sesuai dengan oklusi normal. Kesimpulan dari penggunaan vertical loop pada perawatan ortodontik cekat dengan teknik Begg menunjukkan sangat efektif dalam mengoreksi gigi berjejal berat dan crossbite anterior.
Perawatan Pergeseran Mandibula dan Kliking Menggunakan Teknik Edgewise dan Trainer Utami, Rully; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus ini terjadi pada perempuan usia 22 tahun yang bersedia dipublikasikan untuk kepentingan  ilmu pengetahuan. Keluhan utama mandibula dan dagunya bergeser ke kanan, gigitan terbuka posterior dan bunyi click di persendian temporomandibular. Diagnosis pasien adalah maloklusi Angle kelas III tipe dento skeletal, pergeseran garis tengah mandibula dan dagu ke kanan, gigitan terbuka posterior dan clicking pada sendi temporomandibular. Perawatan dilakukan dengan teknik Edgewise dan trainer. Leveling dan unraveling dilakukan menggunakan kawat stainless steel bulat diameter 0,014 mm dengan multiloop. Trainer digunakan untuk koreksi pergeseran mandibula. Perawatan dilakukan selama 11 bulan, dan menunjukkan hasil hubungan molar pertama kanan menjadi kelas I. Overjet meningkat dari 0,1 mm menjadi 2 mm, overbite meningkat dari 0,2 mm menjadi 2,57 mm, garis tengah mandibula yang semula bergeser ke kanan 4,38 mm menjadi 2,53 mm, gigitan terbuka posterior dan clicking telah terkoreksi.ABSTRACT: Compromised Treatment of Class III Malocclusion with Mandibular Shifting, Posterior Openbite and Clicking Using Edgewise Technique and Trainer In Adult. This case report described the treatment of an adult female 22 years old who complained that her mandibula and chin shift to the right, posterior openbite and clicking. The patient diagnosed class III molar relationship, skeletal class III malocclusion, mandibular midline and chin shift to the right, posterior openbite and clicking on temporomandibular joint. Treatment was conducted using combination between  Edgewise Technique and trainer.  Leveling and unraveling are achieved by round stainless steel archwire 0,014 mm with multiloop. Trainer used to corrected the mandibular shifting. Result after 1 years treatment showed that the right molar relationship became class I, overjet increased  from 0,1 mm to 2 mm, overbite increased  from 0,2 mm to 2,57 mm, mandibular midline shifting decresed from 4,38 mm to 2,53 mm,  posterior openbite and clicking have been corrected.
Perawatan Ortodontik menggunakan Teknik Begg pada Kasus Pencabutan Satu Gigi Insisivus Inferior dan Frenectomy Labialis Superior Novianty, Shella Indri; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencabutan gigi insisivus rahang bawah merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mendapatkan ruang pada perawatan ortodontik. Seleksi kasus yang ketat harus dilakukan sebelum menentukan pencabutan gigi tersebut, agarmendapatkan hasil perawatan yang baik. Artikel ini memaparkan hasil perawatan menggunakan alat cekat teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas I disertai dengan spacing anterior rahang atas dan pencabutan satu gigi insisivus sentralis rahang bawah, serta frenektomi frenulum labialis superior pada seorang wanita berumur 47 tahun yang datang dengan diagnosa kasus maloklusi Angle klas I, skeletal klas I disertai protrusif bimaksiler, bidental protrusif, spacing anterior rahang atas, crowding anterior rahang bawah dan beberapa malposisi gigi individual pada kedua rahang. Frenektomi pada frenulum labialis superior dan pencabutan insisivus sentralis kiri rahang bawah dilakukan untuk mencapai tujuan perawatan. Perawatan aktif dimulai pada bulan September 2012 menggunakan alat cekat teknik Begg dan berakhir pada bulan September 2013. Retraksi anterior dilakukan pada rahang atas sebesar 5,0 mm dan rahang bawah sebesar 2,5 mm. Observasi pada hasil akhir perawatan terlihat ada perubahan yang baik pada profil, susunan gigi geligi dan analisis sefalometri. Pada pemeriksaan studi model diperoleh hasil bahwa overjet akhir 3,5 mm, overbite 3,0 mm, interdigitasi baik, dan median line rahang atas dan rahang bawah tidak segaris. Pencabutan satu gigi insisivus sentralis rahang bawah pada kasus maloklusi Angle klas I dengan spacing anterior rahang atas dan dilakukan perawatan dengan alat cekat teknik Begg, memberikan hasil perawatan yang cukup memuaskan. ABSTRACT: Orthodontic Treatment Using Begg Technique In The Case of Extraction of One Inferior Incisor Tooth and Superior Labial Frenectomy. Extraction of lower arch incisive was the alternative way for space gainingon orthodontic treatment. Case selection is needed before deciding the extraction in order to achieve optimal orthodontic treatment result. The Objectives of this study is to report the result of orthodontic treatment using Begg technique appliance on Angle’s class I malocclusion with spacing anterior at the upper arch, extraction of one incisive central at the lower arch and frenectomy of frenulum labial superior. A 47 years old woman was diagnosed as Angle’s class I malocclusion, class I skeletal with bimaxillary protrusion, bidental protrusion, spacing anterior on the upper arch, crowding anterior on the lower arch, and tooth malposition on both arches. Frenectomy at frenulum labii superior and extraction of one incisive central at the lower arch were done for the orthodontic treatment. Orthodontic treatment was started on September 2012 and finished on September 2013. The upper anterior were 5 mm retracted and the lower anterior were 2.5 mm retracted. An observation at the end of treatment showed improvement in profile, alignment of the teeth, and skeletal appraisal. Study model observation showed 3.5 mm of overjet, 3.0 mm of overbite, good interdigitation, and median line shifting of the lower arch anterior. Extraction of one incisive central at the lower arch, for Orthodontic treatment on Angle’s class I malocclusion with spacing anterior at the upper arch using Begg technique appliance showed an excellent result.
Perawatan Teknik Begg Pada Maloklusi Klas I Dengan Kaninus Impaksi dan Insisivus Lateral Agenesis Gunawan, Kristina Wijaya; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Impaksi kaninus maksila sering dijumpai pada sisi palatal daripada labial. Agenesis adalah anomali pertumbuhan akibat tidak ada satu atau lebih benih gigi. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan kemajuan perawatan kasus Maloklusi klas I dengan kaninus impaksi dan insisivus lateral agenesis menggunakan alat cekat teknik Begg. Seorang pasien usia 20 tahun datang mengeluhkan gigi-gigi depan atas dan bawah yang berjejal sehingga mengganggu penampilan. Perawatan bertujuan untuk koreksi Maloklusi Angle klas I tipe dentoskeletal dengan deepbite, crossbite gigi 25 terhadap 35, pergeseran midline dental maksila dan mandibula ke kanan sebesar 2,5 mm dan 3,0 mm, 13 impaksi vertikal pada sisi labial, 42 agenesis, dan edentulous parsial regio 36. Koreksi dilakukan dengan pencabutan 14, 25, pemanfaatan ruang bekas pencabutan 36 dan exposure gigi kaninus yang impaksi. Tahap pertama teknik Begg adalah leveling, unraveling, dan bite opening, diikuti dengan koreksi midline dan penutupan sisa ruang bekas pencabutan. Kesimpulan: perawataan ortodontik menggunakan teknik Begg yang dilakukan simultan dengan exposure kaninus impaksi labial dengan closed eruption technique dapat memberikan hasil yang memuaskan.ABSTRACT: Treatment for Class I Malocclusion with Impacted Canine and Agenesis Lateral Incisor Using Begg Technique. Maxillary canine impaction occurs commonly on the palatal than labial side. Agenesis is a developmental anomaly condition because of the absence of one or more tooth buds. This case report aims to explain the treatment progress of class I malocclusion with impacted canine and agenesis lateral incisor using fixed appliance through Begg technique. A 20-year-old female patient complained about her upper and lower anterior dental crowding that disturbed her appearance. The treatment aims to correct the Angle class I malocclusion dentoskeletal types with deepbite, crossbite 25 to 35, maxillary and mandibulary dental midline shift to the right by 2.5 mm and 3.0 mm, 13 labially vertical impacted, 42 agenesis, and partial edentulous 36. The correction was obtained through extraction 14 and 25, and the use of former space from extraction 36 and exposure of impacted canine. The first step of treatment using Begg technique is to leveling, unraveling, and bite opening. The second step is midline correction and space closure. Finally, it can be concluded that orthodontic treatment using Begg technique which is done simultaneously and exposure of labial- canine impaction with closed eruption technique can give satisfactory results.
Relationship Between Dental Arch and Vertical Facial Morphology on Deutero-Malays Population Christnawati, Christnawati; Karunia, Dyah
The Indonesian Journal of Dental Research Proceeding Book
Publisher : The Indonesian Journal of Dental Research

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Vertical facial morphology characterized by steepness on mandibular plane (MP-SN) is an important variable in determining orthodontic diagnosis and treatment plan. Subjects with steepest mandibular plane angle tend to have larger teeth and narrower dental arch. The purpose of this study was to determine the relationship between dental arch and vertical facial morphology on Deutero-Malays population. Materials and Methods: Lateral cephalograms were obtained from 50 subjects. Inclusion criteria of subjects were including: 1) at least two original generation of Deutero-Malays; 2) never or not under orthodontic and orthognathic treatment; 3) having Class I Angle first molar relationship; 4) having full dentition except third molars; 5) showing regular or mild degree of irregularity according to Mal-alignment Index (Mal I); 6) no cups or interproximal caries; 7) overjet 2-4 mm; and 8) overbite 1/3 incisally lower incisor teeth. Vertical facial morphology was measured by determining steepness of mandibular plane (MP-SN) on lateral cephalogram using DBSWIN program. The measurement of dental arch perimeter length and width was conducted. Collected data was tabulated and analysed using correlation test. Result: The results of this study showed no significant correlation between steepness of mandibular plane and dental arch perimeter length and width on upper and lower arch. Conclusion: In conclusion, there was no relationship between vertical facial morphology and dental arch perimeter length as well as dental arch width on upper and lower arch.
Perawatan Teknik Begg Pada Maloklusi Klas I Dengan Kaninus Impaksi dan Insisivus Lateral Agenesis Gunawan, Kristina Wijaya; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Impaksi kaninus maksila sering dijumpai pada sisi palatal daripada labial. Agenesis adalah anomali pertumbuhan akibat tidak ada satu atau lebih benih gigi. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan kemajuan perawatan kasus Maloklusi klas I dengan kaninus impaksi dan insisivus lateral agenesis menggunakan alat cekat teknik Begg. Seorang pasien usia 20 tahun datang mengeluhkan gigi-gigi depan atas dan bawah yang berjejal sehingga mengganggu penampilan. Perawatan bertujuan untuk koreksi Maloklusi Angle klas I tipe dentoskeletal dengan deepbite, crossbite gigi 25 terhadap 35, pergeseran midline dental maksila dan mandibula ke kanan sebesar 2,5 mm dan 3,0 mm, 13 impaksi vertikal pada sisi labial, 42 agenesis, dan edentulous parsial regio 36. Koreksi dilakukan dengan pencabutan 14, 25, pemanfaatan ruang bekas pencabutan 36 dan exposure gigi kaninus yang impaksi. Tahap pertama teknik Begg adalah leveling, unraveling, dan bite opening, diikuti dengan koreksi midline dan penutupan sisa ruang bekas pencabutan. Kesimpulan: perawataan ortodontik menggunakan teknik Begg yang dilakukan simultan dengan exposure kaninus impaksi labial dengan closed eruption technique dapat memberikan hasil yang memuaskan.Treatment for Class I Malocclusion with Impacted Canine and Agenesis Lateral Incisor Using Begg Technique. Maxillary canine impaction occurs commonly on the palatal than labial side. Agenesis is a developmental anomaly condition because of the absence of one or more tooth buds. This case report aims to explain the treatment progress of class I malocclusion with impacted canine and agenesis lateral incisor using fixed appliance through Begg technique. A 20-year-old female patient complained about her upper and lower anterior dental crowding that disturbed her appearance. The treatment aims to correct the Angle class I malocclusion dentoskeletal types with deepbite, crossbite 25 to 35, maxillary and mandibulary dental midline shift to the right by 2.5 mm and 3.0 mm, 13 labially vertical impacted, 42 agenesis, and partial edentulous 36. The correction was obtained through extraction 14 and 25, and the use of former space from extraction 36 and exposure of impacted canine. The first step of treatment using Begg technique is to leveling, unraveling, and bite opening. The second step is midline correction and space closure. Finally, it can be concluded that orthodontic treatment using Begg technique which is done simultaneously and exposure of labial- canine impaction with closed eruption technique can give satisfactory results.