Tunjung Nugraheni, Tunjung
Bagian Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Univeristas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengambilan Lentulo Patah Pada Perawatan Saluran Akar Gigi Molar Satu Kiri Bawah Nekrosis Pulpa Syafri, Muhammad; Nugraheni, Tunjung
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama prosedur preparasi saluran akar, kemungkinan patahnya instrumen selalu ada. Saat ini instrumen yang patah dapat dikeluarkan dengan menggunakan alat ultrasonik seperti jarum Miller yang dihubungkan dengan tip ultrasonik endo, selain itu diperlukan juga akses dan visibilitas yang baik sehingga memudahkan operator untuk mengeluarkan instrumen yang patah tersebut. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan keberhasilan pengambilan  lentulo patah di dalam saluran akar menggunakan jarum miller yang dihubungkan dengan tip ultrasonik endo dikombinasikan dengan hedstroem no 25. Dalam makalah ini dilaporkan satu kasus perawatan saluran akar gigi molar satu kiri bawah pulpitis irreversibel pada pasien wanita 20 tahun, namun terjadi patah lentulo saat pengaplikasian bahan sterilisasi saluran akar. Pengambilan lentulo berhasil dilakukan pada kunjungan kedua dengan menggunakan jarum miller yang dihubungkan dengan tip ultrasonik endo serta hedstroem file no 25. Visibilitas didapatkan dengan melakukan coronal flaring menggunakan heroshaper dari mikro mega yang dihubungkan dengan alat rotary. Setelah 1 minggu, gigi diobturasi dengan teknik single cone pada saluran akar distal dan teknik kondensasi lateral pada saluran akar mesiobukal dan mesiolingual. Pada kunjungan berikutnya, gigi direstorasi dengan resin komposit disertai pasak dentatus screw. Setelah 2 bulan diamati secara radiografis dan klinis, tidak ada keluhan dari pasien.ABSTRACT: Broken Lentulo Removal During Root Canal Treatment On The First Molar Mandible Sinistra With Pulp Necrosis. During root canal preparation procedure, there is always potential for instrument breakage. Nowadays, broken instruments can be removed using ultrasonic instruments such as a needle miller connected to endo ultrasonic tip, but it needs good access and visibility in order to make it easier for the operator to remove the broken instruments. The aim of this case report is to present the successful removal of a broken lentulo left in a root canal by using smooth broach connected to a ultrasonic endo tip combined with an hedstroem file no 25. This paper reports a case of molar root canal treatment of the lower left irreversible pulpitis in 20 year-old female patient, but the incident of broken lentulo occured while applying root canal medicament. The effort to remove lentulo was successful on the second visits using a needle miller connected to endo ultrasonic tip and headstrom file no 25. Visibility was obtained by using a coronal flaring of micro mega hero shaper associated with the rotary tool. In the following week, the teeth was obturated with single cone technique on the distal root canal applying the lateral condensation technique on mesiolingual and mesiobuccal root canal. In the next visit, the teeth were restored with composite resin with dowel dentatus screw. After 2 months of being observed radiographically and clinically, there is no more complaint from the patient
Restorasi Fiber Reinforced Composite Pada Gigi Premolar Pertama Kanan Mandibula Pasca Perawatan Saluran Akar Dhamayanti, Intan; Nugraheni, Tunjung
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi yang telah dilakukan perawatan saluran akar membutuhkan restorasi yang tepat untuk mencegah terjadinya fraktur. Restorasi menggunakan fiber reinforced composite (FRC) memiliki resistensi yang tinggi terhadap fraktur dan estetiknya memuaskan. Laporan kasus ini bertujuan melaporkan restorasi menggunakan FRC pada gigi premolar pertama kanan mandibula pasca perawatan saluran akar. Pada kasus ini, pasien wanita 35 tahun, gigi premolar pertama kanan mandibula mengalami nekrosis pulpa. Untuk mengatasi kasus ini dilakukan perawatan saluran akar dengan metode crown down dan obturasi dengan single cone. Restorasi menggunakan FRC dibuat sebagai restorasi akhir. Kesimpulan penanganan kasus, restorasi menggunakan FRC dapat menjadi pilihan restorasi pada gigi premolar pertama kanan mandibula pasca perawatan saluran akar.ABSTRACT: Fiber Reinforced Composite Restoration on Right Mandibular First Premolar Tooth after Root Canal Treatment. Endodontically treated tooth requires precise restoration that can prevent fracture. Restoration using fiber reinforced composite (FRC) has high resistance to the fracture and aesthetical satisfaction. This case report aims to describe the restoration using FRC on right mandibular first premolar tooth after root canal treatment. In this case, the patient was a 35 year-old woman who suffered from pulp necrosis on her right mandibular first premolar tooth. To treat this case, root canal treatment with crown down method and single cone’s obturation was done. Restoration using FRC is made as the final restoration. From treatment, it can be concluded that restoration using FRC can be an option for restoration of right mandibular first premolar tooth after root canal treatment
Pengaruh Konsentrasi dan Lama Aplikasi Sodium Hipoklorit (NaOCL) sebagai Bahan Irigasi Saluran Akar terhadap Kekuatan Geser Perlekatan Siler Berbahan Dasar Resin Pada Dentin Saluran Akar Nugraheni, Tunjung
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Salah satu tahap penting perawatan saluran akar yaitu preparasi saluran akar. Pada preparasi saluran akar digunakan bahan Irigasi sodium hipoklorit (NaOCI), dengan konsentrasi 0,5%-5.25%. Penggunaan NaOCL berpengaruh pada struktur permukaan dentin saluran akar, yang selanjutnya mempengaruhi perlekatan dentin saluran akar dengan bahan pengisi saluran akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan lama aplikasi NaOCI terhadap kekuatan geser perlekatan siler berbahan dasar resin pada dentin saluran akar. Metode Penelitian. Tiga puluh gigi premolar dipotong arah bukolingual, jaringan pulpa dibersihkan dan permukaan dentin saluran akar diratakan. Gigi difiksasi resin akrilik, sisi dentin saluran akar menghadap ke atas. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing 15 gigi, kelompok 1 di rendam dalam 6ml NaOCI 2,5%. Kelompok II direndam dalam 6 ml NaOCI 5%. Kelompok I dan II dibagi menjadi 3 sub kelompok lama perendaman, yaitu sub kelompok a direndam selama 5 menit, sub kelompok diremdam selama 10 menit, sub kelompok direndam selama 15 menit. Cetakan siler difiksasi pada akar gigi, dilakukan insersi siler ke dalam cetakan kemudian dimasukkan inkubaror pada suhu 370 C selama 72 jam. Pengujian kekuatan geser perlekatan menggunakan Universal Testing Machine. Hasil penelitian. Hasil uji statistik AVANA dua jalur menunjukkan kekuatan geser perlekatan siler berbahan dasar resin pada dentin saluran akar setelah diirigasi dengan konsentrasi NaOCI dan lama irigasi yang berbeda terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,007). Uji LSD menunjukkan bahwa kekuatan geser perlekatan siler berbahan dasar resin berbeda bermakna pada kelompok yang diirigasi NaOCI 2,5% selama 5 menit dengan 15 menit,, pada kelompok yang diirigasi NaOCI 2,5% selama 10 menit dengan 15 menit, pada kelompok yang diirigasi NaOCI 5% selama 15 menit dengan kelompok yang diirigasi NaOCI 2,5% selama 15 menit serta pada kelompok yang diirigasi NaOCI 5% selama 5 menit dengan kelompok yang diirigasi NaOCI 5% selama 10 menit. Kesimpulan. Kekuatan geser perlekatan siler berbahan dasar resin pada dentin saluran akar berbeda setelah diirigasi NaOCI dengan konsentrasi dan waktu irigasi yang berbeda. Background. Biomechanichal preparationin of root canal treatment used 0,5-5,25% sodium Hypochlorite as root canal irrigation, that may effect to physical properties of dentin. The purpose of this study was to find out the effect of concentration and duration application of sodium hypochlorite to shear bond strength of sealer resin based to root canal dentin. Methods. Thirthy premolar were splitted buccolingual then pulp tissue were cleaned out, smoothed and fixed into acrylic resin cast. They were devided into 2 group, group I were soaking into NaOCI 2,5% group II were soaking into NaOCI 5%. Group I and II were devided into 3 subgroup, group a were soaking 5 minutes, group b were soaking 10 minutes. Group c were soaking 15 minutes. Then sealer cast were fixed and filled with sealer resin-based, and incubated for 74 hours. They were tested for shear bond strength with Universal Testing Machine. The data were analyzed with two way Anava and LSD. Result. Two way Avana show that shear bond strength of sealer resin-based to root canal after irrigation with different concentration and duration application of sodium hypochlorite are significant. Conclusion. Shear bond strength of sealer resin-based to root canal dentin after irrigation with different concentration and duration application of sodium hypochlorite are different.
Composite resin shear bond strength on bleached dentin increased by 35% sodium ascorbate application Nugraheni, Tunjung; Nuryono, N; Sunarintyas, Siti; Mulyawati, Ema
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 50, No 4 (2017): (December 2017)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Restoration of the teeth immediately after bleaching with 35% hydrogen peroxide (H2O2) is contraindicated due to the remnant of free radicals that will stay inside enamel and dentin for 1-3 weeks and reduce the adhesion of composite resin. Sodium ascorbate is an antioxidant substance known to bind free radical residues, thereby shortening the delay in restoration. Purpose: The purpose of this study was to examine the resin bond strength of bleached dentin influenced by the application of 35% sodium ascorbate. Methods: Nine premolars were divided into their crown and root sections, with the crown subsequently being cut into four equal parts to obtain 36 samples. These were then divided into four groups, each containing nine samples. Group A (control): samples were bleached using35% hydrogen peroxide, immersed in an artificial saliva, stored in an incubator at 37°C for seven days and then filled with a composite resin. Group B:samples were also bleached by means of 35% H2O2 followed by one application of 0.025 ml 35% sodium ascorbate for 5 minutes and restored with composite resin. Group C: samples were bleached with 35% H2O2, followed by two applications of 0.025 ml 35% sodium ascorbate for 5 minutes, and restored with a composite resin. Group D: dentin was bleached with 35% H2O2 followed by three applications of 0.025 ml sodium ascorbate 35% for 5 minutes and restored with a composite resin. The shear bond strength of the composite resin was measured by a universal testing instrument (Zwick, USA). Data was analyzed by means of one-way Anova and LSD. Results: The highest mean shear bond strength of composite resin was in group C, while the lowest was in group B. The result of one-way Anova indicated a difference in the shear bond strength of composite resin in the four treatment groups (p < 0.05). An LSD test showed there to be a difference in shear bond strength of composite resin between group A and groups C and D or between group B and groups C and D. There was no difference in shear bond strength of composite resin between group A and group B or between group C and group D. Conclusion: Application frequency of 35% sodium ascorbate affect on shear bond strength of composite resin restoration in bleached dentin by 35% H2O2.
Restorasi Mahkota Jaket Porselin Fusi Metal dan Crown Lenghtening pada Gigi 11 dan 21 Pasca Trauma Saputra, Dimas Cahya; Nugraheni, Tunjung
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan perawatan kasus fraktur subgingival dua gigi anterior maksila dengan pendekatan konservatif pada sisa jaringan keras gigi yang sehat. Perawatan pada gigi 11 dan 21 didahului perawatan saluran akar kemudian dilanjutkan dengan prosedur crown lenghtening dan restorasi mahkota penuh porselin fusi metal yang diperkuat dengan pasak metal customized. Perawatan ini merupakan alternatif untuk menghindari pencabutan gigi dan mengoptimalkan jaringan keras gigi tersisa untuk membangun sebuah restorasi estetis yang fungsional. ABSTRACT: Restoration Using Jacket Crown of Porcelain Fused-to-Metal and Crown Lengthening on Post-Traumatic Teeth 11 and 21. The aim of this case report was to describe the restoration of subgingival fractured two maxillary anterior teeth conservatively on healthy remaining tooth structure. Teeth #11 and #21 were initially treated by root canal treatment followed by crown lengthening and restored using porcelain fused-to-metal full crown retained by metal customized post. This treatment was an alternative to avoid tooth extraction and designed to optimize the remaining tooth structure in order to obtain a fully functional and esthetic restoration.
Apeksifikasi Menggunakan Mineral Apeksifikasi Menggunakan Mineral Trioxide Aggregate dan Bleaching Intrakoronal pada Insisivus Sentralis Kanan Maksila Rahmawati, Caecilia Lelia; Nugraheni, Tunjung
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma pada gigi yang dialami pada saat muda dapat menyebabkan gigi immature non vital dengan apek terbuka, yang berlanjut pada infeksi pada jaringan pulpa dan diskolorasi gigi. Laporan kasus ini menyajikan penggunaan MTA (Mineral Trioxide Aggregate) sebagai bahan apeksifikasi, perawatan bleaching intrakoronal serta restorasi resin komposit dengan pasak resin komposit aktivasi kimia pada gigi insisivus sentralis kanan maksila, sehingga dapat mempertahankan dan mengembalikan fungsi gigi. Seorang pasien wanita muda datang ke RSGM Prof. Soedomo untuk merawatkan gigi insisivus sentralis kanan maksila yang patah 11 tahun yang lalu karena jatuh. Diagnosa gigi insisivus sentralis kanan maksila fraktur Kelas IV Ellis, pulpa nekrosis dengan lesi periapikal, apeks terbuka, dan diskolorasi. Prosedur perawatan diawali dengan preparasi saluran akar teknik konvensional, apeksifikasi menggunakan MTA dan bleaching intrakoronal teknik walking bleach, restorasi resin komposit kavitas kelas IV dengan teknik mock up dan pasak resin komposit. Apeksifikasi dan bleaching intra koronal disertai pasak dan restorasi resin komposit adalah perawatan yang baik yang dapat dilakukan pada gigi insisivus sentralis kanan maksila imature, dengan pulpa terbuka dan diskolorasi. Pasien merasa puas dengan perawatan yang telah dilakukan dan fungsi gigi juga telah dapat dikembalikan, antara lain fungsi estetik dan fonetik. ABSTRACT: Apexification Using Mineral Trioxide Aggregate, Intracoronal Bleaching, and Composite Resin Restoration with Dental Composite Resin Posts Right Central Maxillary. Trauma to teeth in a young age can cause non vital immature teeth with open apex, which leads to the infection in the pulp tissue and discoloration of the teeth. This case report is to present the use of MTA (Mineral Trioxide Aggregate) as apexification material, intracoronal bleaching treatments and composite resin restorations with composite resin chemical activation posts on the maxillary right central incisor, so as to maintain and restore tooth function. A young female patient came to Prof. Soedomo Dental Hospital to repair right maxillary central incisors which were broken 11 years previously because of falling. The diagnosis was right maxillary central incisor Ellis Class III fractures, pulp necrosis with periapical lesions, open apex, and discoloration. The treatment procedure began with the conventional root canal preparation techniques, apexification using Mineral Trioxide Aggregate (MTA) and intracoronal bleaching with the technique of walking bleach. The composite resin restorations class IV cavities used a mock-up technique and composite resin post. Apexification and intra-coronal bleaching with post and composite resin restorations are good treatments that can be performed on the immature right maxillary central incisor, without exposing pulp and discoloration. The patient was satisfied with the care that had been done and also; the function of her teeth could be restored, including aesthetic and phonetic functions.
Perawatan Estetik Kompleks Empat Gigi Anterior Maksila dengan Resorpsi Eksternal Adistya, Tasya; Nugraheni, Tunjung
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan estetik merupakan salah satu hal penting dalam perawatan kedokteran gigi restoratif dan harus sejalan dengan penampilan yang alami serta harmonis berdasarkan prinsip-prinsip estetik. Untuk menginformasikan perawatan restorasi estetik komplek dari empat gigi anterior maksila. Laki-laki berusia 17 tahun datang dengan fraktur insisal karena kecelakaan. Empat tahun yang lalu, gigi tersebut telah dirawat endodontik dan direstorasi dengan mahkota jaket namun tujuh hari yang lalu, mahkota lepas. Pemeriksaan klinis menunjukkan bahwa gigi 11 fraktur horizontal pada sepertiga mahkota. Gigi 21 ditumpat dengan komposit tetapi memiliki anatomi dan warna yang buruk. Terdapat diastema di antara gigi insisivus kiri atas. Semua gigi normal terhadap perkusi, palpasi dan probing periodontal. Radiograf periapikal menunjukkan adanya resorpsi apikal pada gigi 11 dengan radiolusensi apikal dengan diameter 3-4 mm. Setelah pemeriksaan, perawatan yang dilakukan pada gigi 11 adalah retreatment dan apeksifikasi menggunakan MTA, pemasangan pasak komposit indirek dan mahkota jaket PFM. Gigi 21 dan diastema di antara gigi insisivus maksila kiri direstorasi dengan komposit. Gigi 22 juga direstorasi dengan resin komposit untuk mendapatkan lebar ideal. Kontrol 1 bulan menunjukkan gigi asimptomatik, terlihat adanya regenerasi jaringan periapikal dan gigi berfungsi normal. Perawatan keempat gigi anterior maksila dengan mempertimbangkan kondisi estetik dan konservasi sisa jaringan keras gigi menunjukkan keberhasilan sehingga gigi dapat berfungsi normal. ABSTRACT: Aesthetic Treatment of Four Maxillary Anterior Teeth with External Resorption. Esthetic aspect has become increasingly important in the modern restorative dentistry and synonymous with a natural, harmonious appearance based on esthetic principles. This case report aimed to inform the esthetically complex restorative treatment of four maxillary anterior teeth. A 17-year-old male had a fractured incisor following a traumatic incident. Four years earlier, the tooth was treated endodontically and restored with a crown. Seven days ago, the crown fell off. A clinical examination revealed that tooth 11 was horizontally fractured on the mid-third of the crown. Tooth 21 had been previously restored using composite, but it had a bad contour and color. There was also a diastema between left maxillary incisors. All teeth responded normally to percussion and palpation and had normal periodontal probing. A periapical radiograph showed apical resorption at teeth 11 with an apical rarefaction 3-4 mm in diameter. After complete examination and esthetic analysis, several treatments were undertaken. Tooth 11 was retreated using MTA to facilitate the apexification followed by indirect, customized composite post and porcelain-fused-to-metal crown. Tooth 21 and the diastema between the left maxillary incisors were closed using composite resin. Tooth 22 was also restored using composite resin to get the ideal width of the tooth. After 2 weeks, the treated teeth were asymptomatic, radiographic examination demonstrated apparent regeneration of periapicular tissue, and the teeth functioned normally. The teeth were successfully treated by endodontic therapy and restoration with crown and composite resin to restore esthetic problems.
Reseksi apikal dan pengisian retrograde dengan MTA pada insisivus maksila imatur pasca perawatan saluran akar Gunawan, Simyardika; Nugraheni, Tunjung
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma pada gigi dapat menyebabkan retak atau frakturnya gigi tersebut. Pada keadaan yang parah, trauma pada gigi dapat menghentikan suplai nutrisi ke jaringan pulpa yang menyebabkan terjadinya nekrosis pulpa. Trauma dengan nekrosis pulpa yang terjadi pada usia dini dapat menyebabkan terhentinya pertumbuhan gigi sehingga foramen apikal terbuka lebar. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk melaporkan perawatan reseksi apikal dan pengisian retrograde menggunakan Mineral Trioxide Aggregate (MTA) pada gigi insisivus maksila imatur paska perwatan saluran akar. Seorang pasien pria berusia 22 tahun pasca perawatan saluran akar asimtomatik dengan riwayat sakit pada gigi dan gusi yang membengkak. Gigi pernah mengalami trauma saat pasien berumur 7 tahun dan pada saat itu juga gigi terasa sakit tetapi tidak dirawat ke dokter gigi. Gigi mulai terasa sakit kembali 3 minggu sebelum perawatan saluran akar dilakukan, terutama bila terkena tekanan ketika mengunyah makanan. Perawatan dilanjutkan dengan prosedur reseksi apikal dengan pengisian retrograde menggunakan Mineral Trioxide Aggregate (MTA). Kontrol paska pembedahan pada bulan ke 1 dan 2 menunjukkan regenerasi jaringan tulang yang baik dan terus dipantau hingga bulan berikutnya sebelum dilakukan pembuatan restorasi gigi permanen. Keberhasilan bedah endodontik dipengaruhi oleh prosedur dan teknik yang benar, ditandai dengan tidak adanya keluhan serta terjadinya regenerasi jaringan lunak maupun keras paska pembedahan.ABSTRACT: Apical Resection and Retrograde Filling on Immature Central Incisor Maxilla After Root Canal Treatment. Dental trauma can cause cracking or fracture of the tooth. In the case of severe dental trauma can stop the supply of nutrients to the pulp that causes pulp necrosis. Trauma with pulp necrosis occurring at an early age can lead teeth to stop developing so that the apical foramen is widely open. The objective of this paper is to report apical resection treatment with retrograde filling using Mineral Trioxide Aggregate (MTA) on immature maxillary incisor post root canal treatment. A 22-years-old male patient post root canal treatment with no symptoms with a history of dental pain and swollen gums. Teeth have experienced trauma when the patient was 7 years old and at that time not immediately treated by dentist. Dental pain begin 3 weeks before first root canal treatment procedures, especially exposed to pressure when chewing food. Treatment continued with apical resection procedures with retrograde filling using Mineral Trioxide Aggregate (MTA). Post-surgical controls at months 1 and 2 show good regeneration of bone tissue and continues to be monitored until the next month before permanent dental restoration procedures. The success of endodontic surgical are influenced by the right procedures and techniques, no symptoms as well as the soft and hard tissue regeneration after surgery.
Restorasi Fiber Reinforced Composite Pada Gigi Premolar Pertama Kanan Mandibula Pasca Perawatan Saluran Akar Dhamayanti, Intan; Nugraheni, Tunjung
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi yang telah dilakukan perawatan saluran akar membutuhkan restorasi yang tepat untuk mencegah terjadinya fraktur. Restorasi menggunakan fiber reinforced composite (FRC) memiliki resistensi yang tinggi terhadap fraktur dan estetiknya memuaskan. Laporan kasus ini bertujuan melaporkan restorasi menggunakan FRC pada gigi premolar pertama kanan mandibula pasca perawatan saluran akar. Pada kasus ini, pasien wanita 35 tahun, gigi premolar pertama kanan mandibula mengalami nekrosis pulpa. Untuk mengatasi kasus ini dilakukan perawatan saluran akar dengan metode crown down dan obturasi dengan single cone. Restorasi menggunakan FRC dibuat sebagai restorasi akhir. Kesimpulan penanganan kasus, restorasi menggunakan FRC dapat menjadi pilihan restorasi pada gigi premolar pertama kanan mandibula pasca perawatan saluran akar.Fiber Reinforced Composite Restoration on Right Mandibular First Premolar Tooth after Root Canal Treatment. Endodontically treated tooth requires precise restoration that can prevent fracture. Restoration using fiber reinforced composite (FRC) has high resistance to the fracture and aesthetical satisfaction. This case report aims to describe the restoration using FRC on right mandibular first premolar tooth after root canal treatment. In this case, the patient was a 35 year-old woman who suffered from pulp necrosis on her right mandibular first premolar tooth. To treat this case, root canal treatment with crown down method and single cone’s obturation was done. Restoration using FRC is made as the final restoration. From treatment, it can be concluded that restoration using FRC can be an option for restoration of right mandibular first premolar tooth after root canal treatment
Pengambilan Lentulo Patah Pada Perawatan Saluran Akar Gigi Molar Satu Kiri Bawah Nekrosis Pulpa Syafri, Muhammad; Nugraheni, Tunjung
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama prosedur preparasi saluran akar, kemungkinan patahnya instrumen selalu ada. Saat ini instrumen yang patah dapat dikeluarkan dengan menggunakan alat ultrasonik seperti jarum Miller yang dihubungkan dengan tip ultrasonik endo, selain itu diperlukan juga akses dan visibilitas yang baik sehingga memudahkan operator untuk mengeluarkan instrumen yang patah tersebut. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan keberhasilan pengambilan  lentulo patah di dalam saluran akar menggunakan jarum miller yang dihubungkan dengan tip ultrasonik endo dikombinasikan dengan hedstroem no 25. Dalam makalah ini dilaporkan satu kasus perawatan saluran akar gigi molar satu kiri bawah pulpitis irreversibel pada pasien wanita 20 tahun, namun terjadi patah lentulo saat pengaplikasian bahan sterilisasi saluran akar. Pengambilan lentulo berhasil dilakukan pada kunjungan kedua dengan menggunakan jarum miller yang dihubungkan dengan tip ultrasonik endo serta hedstroem file no 25. Visibilitas didapatkan dengan melakukan coronal flaring menggunakan heroshaper dari mikro mega yang dihubungkan dengan alat rotary. Setelah 1 minggu, gigi diobturasi dengan teknik single cone pada saluran akar distal dan teknik kondensasi lateral pada saluran akar mesiobukal dan mesiolingual. Pada kunjungan berikutnya, gigi direstorasi dengan resin komposit disertai pasak dentatus screw. Setelah 2 bulan diamati secara radiografis dan klinis, tidak ada keluhan dari pasien.Broken Lentulo Removal During Root Canal Treatment On The First Molar Mandible Sinistra With Pulp Necrosis. During root canal preparation procedure, there is always potential for instrument breakage. Nowadays, broken instruments can be removed using ultrasonic instruments such as a needle miller connected to endo ultrasonic tip, but it needs good access and visibility in order to make it easier for the operator to remove the broken instruments. The aim of this case report is to present the successful removal of a broken lentulo left in a root canal by using smooth broach connected to a ultrasonic endo tip combined with an hedstroem file no 25. This paper reports a case of molar root canal treatment of the lower left irreversible pulpitis in 20 year-old female patient, but the incident of broken lentulo occured while applying root canal medicament. The effort to remove lentulo was successful on the second visits using a needle miller connected to endo ultrasonic tip and headstrom file no 25. Visibility was obtained by using a coronal flaring of micro mega hero shaper associated with the rotary tool. In the following week, the teeth was obturated with single cone technique on the distal root canal applying the lateral condensation technique on mesiolingual and mesiobuccal root canal. In the next visit, the teeth were restored with composite resin with dowel dentatus screw. After 2 months of being observed radiographically and clinically, there is no more complaint from the patient