Soekarsono Hardjono, Soekarsono
Bagian Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

Perawatan Maloklusi Kelas I Bimaksiler Protrusi disertai Gigi Berdesakan dan Pergeseran Midline menggunakan Teknik Begg Rahmawati, Erna; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.8164

Abstract

Maloklusi Angle kelas I  dengan bimaksiler protrusi merupakan maloklusi yang paling sering dijumpai. Kelainan yang banyak menyertai maloklusi kelas I bimaksiler protrusi adalah gigi depan berdesakan dan pergeseran midline.  Adanya persepsi negatif di masyarakat terhadap gigi dan bibir yang protrusi mendorong pasien untuk melakukan perawatan ortodontik. Perawatan pada kasus ini bertujuan untuk  mengurangi kecembungan wajah dengan meretraksi gigi anterior atas maupun bawah, mengoreksi midline rahang atas dan bawah serta gigi berdesakan anterior dengan perawatan ortodontik teknik Begg sehingga dapat memperbaiki estetik wajah.  Pasien wanita usia  34 tahun mengeluhkan gigi depan atas dan bawah sangat berdesakan dan pasien mengalami  kesulitan dalam menutup mulut. Diagnosis pasien adalah Maloklusi Angle kelas I dengan bimaksiler protrusi disertai gigi berdesakan anterior, pergeseran midline rahang atas dan rahang bawah. Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg. Sebelum perawatan dilakukan pencabutan gigi premolar pertama rahang bawah kanan dan kiri dan rahang atas kanan. Pada rahang atas kiri dilakukan pencabutan gigi insisivus lateral yang berada diluar lengkung. Kesimpulan perawatan setelah 2 tahun terlihat bimaksiler protrusi, gigi berdesakan anterior dan midline terkoreksi.
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 1 Disertai Crowding dan Openbite menggunakan Teknik Begg Winarti, Heri Susilo; Pudyani, Pinandi Sri; Hardjono, Soekarsono; Suparwitri, Sri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi Angle Klas II divisi I dapat disertai dengan crowding, open bite dan deep bite. Tujuan perawatan adalah untuk mengoreksi crowding, open bite anterior, diastemata rahang bawah, memperoleh overjet dan overbite normal, serta hubungan oklusal yang stabil. Pasien laki-laki berumur 19 tahun, dengan keluhan gigi-gigi rahang atas berjejal dan maju sehingga sulit menutup mulut, serta gigi-gigi rahang bawah renggang. Pasien didiagnosis Maloklusi Angle klas II divisi I dengan hubungan skeletal klas II disetai open bite, crowding dan protrusif gigi-gigi anterior rahang atas,  diastemata gigi-gigi rahang bawah, molar pertama bawah kanan dan kiri telah dicabut, dan impaksi gigi kaninus kanan bawah. Perawatan menggunakan teknik Begg yang diawali dengan pencabutan kedua gigi premolar pertama rahang atas. Tahap pertama perawatan menggunakan multiloop arch wire 0,014” dan elastik intermaksiler klas II. Kesimpulan dari hasil perawatan setelah 16 bulan, crowding dan open bite anterior terkoreksi, diastemata menutup, dan pasien sudah tidak kesulitan dalam menutup mulut. Pasien masih dalam tahap  penyelesaian perawatan.
Perawatan Maloklusi Kelas I Bimaksiler Protrusi disertai Gigi Berdesakan dan Pergeseran Midline menggunakan Teknik Begg Rahmawati, Erna; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi Angle kelas I  dengan bimaksiler protrusi merupakan maloklusi yang paling sering dijumpai. Kelainan yang banyak menyertai maloklusi kelas I bimaksiler protrusi adalah gigi depan berdesakan dan pergeseran midline.  Adanya persepsi negatif di masyarakat terhadap gigi dan bibir yang protrusi mendorong pasien untuk melakukan perawatan ortodontik. Perawatan pada kasus ini bertujuan untuk  mengurangi kecembungan wajah dengan meretraksi gigi anterior atas maupun bawah, mengoreksi midline rahang atas dan bawah serta gigi berdesakan anterior dengan perawatan ortodontik teknik Begg sehingga dapat memperbaiki estetik wajah.  Pasien wanita usia  34 tahun mengeluhkan gigi depan atas dan bawah sangat berdesakan dan pasien mengalami  kesulitan dalam menutup mulut. Diagnosis pasien adalah Maloklusi Angle kelas I dengan bimaksiler protrusi disertai gigi berdesakan anterior, pergeseran midline rahang atas dan rahang bawah. Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg. Sebelum perawatan dilakukan pencabutan gigi premolar pertama rahang bawah kanan dan kiri dan rahang atas kanan. Pada rahang atas kiri dilakukan pencabutan gigi insisivus lateral yang berada diluar lengkung. Kesimpulan perawatan setelah 2 tahun terlihat bimaksiler protrusi, gigi berdesakan anterior dan midline terkoreksi.
Perawatan Maloklusi Angle Kelas I disertai Impaksi Kaninus Maksila Menggunakan Alat Cekat Begg Suryani, Darmayanti Dian; Suparwitri, Sri; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi kaninus sangat penting untuk estetika dan fungsi mastikasi seseorang. Impaksi gigi adalah gagalnya gigi untuk muncul ke dalam lengkung gigi yang dapat disebabkan karena kekurangan ruang, adanya sesuatu yang menghalangi jalur erupsi gigi atau karena faktor keturunan. Prevalensi impaks gigi kaninus maksila adalah 0,9-2,2%, sedangkan impaksi gigi kaninus mandibula lebih jarang terjadi. Alternatif perawatan gigi impaksi kaninus maksila adalah operasi exposure dan diikuti dengan kekuatan ortodontik untuk membantu erupsi dengan alat cekat ortodontik. Tujuan dari perawatan adalah untuk koreksi malrelasi dan malposisi gigi geligi, khususnya koreksi gigi kaninus impaksi menggunakan teknik Begg. Pasien laki-laki, 19 tahun, gigi sangat berjejal, gigi kaninus kanan kiri rahang atas dan gigi kaninus kanan rahang bawah impaksi, kelas I, deep overbite, overjet 3 mm dan overbite 8,8 mm. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat Begg dengan tanpa pencabutan. Operasi exposure dilakukan untuk membuka gigi kaninus kanan kiri atas yang impaksi yang diikuti perekatan braket ortodontik. Kawat busur multiloop, anchorage bend dan elastik intermaksiler klas II digunakan pada tahap leveling dan unraveling. Dalam waktu 14 bulan,overbite terkoreksi, gigi kaninus kanan kiri atas sudah erupsi, overjet 3,00 mm, overbite 3,00 mm. Saat ini perawatan masih berlangsung pada tahap leveling dan unraveling untuk koreksi kaninus yang impaksi. Perawatan maloklusi angle klas I dengan berjejal dan impaksi kaninus maksila dapat dilakukan dengan operasi exposure gigi kaninus impaksi diikuti alat cekat Begg. ABSTRACT: Orthodontic Treatment of Class I Malocclussion with Canine Impaction Using Begg Fixed Appliance. Canine is very important for aesthetic and masticatory function. Impaction refers to a failure of tooth to presence into the dental arch, usually due to either space deficiencies, the presence of an entity blocking the path of tooth eruption or due to hereditary factors. Prevalence of maxillary canines impaction is 0.9 to 2.2%, while the mandibular canine impaction is less common. Alternative dental care is impacted maxillary canine exposure surgery and followed by orthodontic force for help the eruption with fixed orthodontic appliance. The goal of treatment is to correct malrelation and malposition of teeth. Patient man, 19 years old, very crowded teeth, maxillary right and left canine and mandibular right canine impaction, Angle Class I, deep overbite, 3 mm overjet and overbite 8,8 mm. Treatments performed using Begg fixed appliances without extraction. Exposure surgery is done under the right and left maxillary canine impaction followed orthodontic bracket bonding. Multiloop arch wire, bend and elastic anchorage intermaksiler class II used at the stage of leveling and unraveling. Within 14 months, overbite was corrected, maxillaryr right and left canine eruption, Angle Class I canine relationship, 3.00 mm overjet, 3,00 mm overbite. Current treatment is still ongoing at leveling and unraveling stage. Treatment angle malocclusion class I with maxillary canine impaction can be done by exposure surgery followed by Begg fixed appliances.
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 1 Dentoskeletal Disertai Retrusi Mandibula Dengan Alat Fungsional Bionator Luthfianty, Afini Putri; Suparwitri, Sri; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi klas II divisi 1 dentoskeletal disertai dengan retrusi mandibula dan lengkung rahang yang sempit dapat terjadi akibat dari faktor keturunan dan diperparah oleh kebiasaan buruk. Kondisi maloklusi tersebut ditandai dengan adanya palatal bite dan overjet yang besar. Perawatan maloklusi klas II divisi 1 pada masa pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat ortodontik fungsional, salah satunya adalah Bionator. Pemilihan bionator bertujuan untuk menuntun rahang bawah untuk bergerak ke posisi yang diinginkan dan memperlebar lengkung rahang. Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah menyajikan hasil kemajuan perawatan maloklusi klas II divisi 1 dengan menggunakan alat ortodontik fungsional Bionator. Pasien perempuan berumur 12 tahun mengeluhkan gigi depan atas maju sehingga mengganggu penampilan. Diagnosa kasus adalah maloklusi klas II divisi 1 dentoskeletal disertai dengan retrusi mandibula, bidental protrusif, palatal bite, kontraksi lengkung rahang dan malposisi gigi individual. Pasien dirawat dengan menggunakan alat ortodontik fungsional Bionator. Perawatan setelah tiga bulan, secara klinis terlihat profil pasien terkoreksi, overjet berkurang, palatal bite hilang, dan open bite posterior.ABSTRACT: Treatment of dentoskeletal class II division I with mandibula retrussion using Bionator appliance. Malocclusion Class II division 1 dentosceletal followed with mandibular retrusion and contraction of arch could be happened by genetic and bad habit. It was showed with severe palatal bite and overjet. In the development and growth phase, the treatment for that condition is fuctional appliance, such as Bionator. Bionator arranged lower jaw to the good position and distraction the arch. The purpose of this case report is to present the treatment of malocclusion dentosceletal Class II division 1 with fuctional appliance Bionator. A 12 years old female patient complained of front upper teeth are protrusive. Diagnosis is malocclusion Class II division 1 dentosceletal followed with mandibular retrusion, bidental protrusive, palatal bite, contraction of jaw and malposition individual teeth. The patient treated with fuctional appliance Bionator. After 3 months treatment, patient`s profile corrected, decreased overjet, no palatal bite, and open bite posterior. 
Perawatan Kaninus Maksila Ektopik dengan L Loop pada Alat Cekat Teknik Begg Prahastuti, Novarini; Hardjono, Soekarsono; Pudyani, Pinandi Sri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi kaninus berperan penting dalam kestabilan serta perkembangan bentuk lengkung gigi, fungsi oklusi dan kesimetrisan profil wajah. Kaninus maksila walaupun ektopik dalam perencanaan perawatan ortodontik biasanya keberadaannya tetap dipertahankan, sehingga perlu dikoreksi. Koreksi kaninus maksila ektopik membutuhkan gaya untuk mengekstrusi sekaligus distalisasi gigi tersebut. Tekukan L loop pada   wire dapat memberikan gaya ke arah vertikal - horisontal pada gigi secara bersamaan. Perawatan ortodontik dengan alat cekat teknik Begg dapat mengkoreksi malposisi gigi dengan gaya yang ringan  tanpa membutuhkan waktu lama pada tahap I. Tujuan. memaparkan hasil perawatan kaninus maksila ektopik dengan L loop pada alat cekat teknik Begg. Perempuan 28 th mengeluhkan gigi-giginya berjejal dan gingsul  sehingga mengganggu penampilan dan mengurangi rasa percaya diri. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas I tipe skeletal klas II dengan retrognatik bimaksiler, bidental protrusif, shalow bite  dan midline mandibula bergeser ke kanan 1 mm disertai crossbite, openbite serta malposisi gigi. Penanganan dilakukan menggunakan alat cekat teknik Begg dengan pencabutan 4 gigi premolar pertama. L loop pada wire dibuat untuk koreksi kaninus maksila ektopik pada tahap I perawatan Kesimpulan dari hasil perawatan menunjukkan perbaikan malrelasi, gigi berjejal, overjet dan overbite. L loop pada alat cekat teknik Begg dapat digunakan untuk mengkoreksi kaninus maksila ektopik dengan gaya yang ringan. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 208-216.
Perawatan Maloklusi Angle Klas II Divisi 1 Menggunakan Bionator Myofungsional Irawan, Ragil; Suparwitri, Sri; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi Angle klas II divisi 1 mempunyai ciri tonjol mesiobukal molar pertama atas beroklusi dengan interdental premolar kedua  dan molar pertama bawah, jarak gigit yang besar, lengkung gigi sempit dan profil cembung. Bionator pertama kali diperkenalkan oleh Balter dan merupakan alat ortodontik myofungsional yang digunakan untuk merawat diskrepansi rahang.  Tujuan pemaparan kasus adalah menyajikan kemajuan kasus maloklusi Angle Klas II divisi 1 disertai diskrepansi rahang menggunakan alat myofunctional bionator. Seorang perempuan berusia 13 tahun mengeluhkan gigi depan atas maju. Diagnosis pasien maloklusi Angle klas II divisi 1, hubungan skeletal klas II dengan protrusif maksila dan retrusif mandibula, protrusif insisivus atas disertai palatal bite, cross bite posterior, jarak gigit 11 mm, tumpang gigit 5,25 mm, SNA 84°, SNB 76°. Pasien dirawat menggunakan alat myofungsional bionator. Hasil perawatan setelah satu tahun overjet menjadi 6,25 mm dan SNB 78°. Kesimpulannya adalah alat myofungsional bionator efektif untuk merawat maloklusi Angle Klas II divisi 1 yang disertai diskrepansi rahang.ABSTRACT: Class II division 1 Angle Malocclussion Treatment  Using  Myofunctional  Bionator. Malocclusion Angle Class II division I is characterized by the upper mesio-buccal cups first permanent molars occludes in interdental second bicuspid and lower first molar permanent, increased overjet, narrow arch form, and convex profile. Bionator originally developed by Balter and used to treat jaw discrepancy. The goal of this case is to present the progress of myofunctional bionator appliance in treating malocclusion Class II division 1 with jaw discrepancies. A Female 13 years old complained protrusive anterior teeth. Diagnosis is malocclusion Angle Class II division I, class II skeletal relationship with maxilla protrusive, mandible retrusive, protrusive upper incisor, palatal bite, posterior cross bite, overjet 11 mm, overbite 5,25 mm SNA 84°, SNB 76°. Myofunctional bionator appliance used to treat the patient. Result after one year treatment, overjet reduce to 6,25 mm dan SNB 78°. The Conclusion is Myofunctional Bionator appliance effective to treat malocclusion Anlge Klas II division I with jaw discrepancies.
Perawatan Maloklusi Angle Klas I dengan Gigi Depan Crowding Berat dan Cross Bite Menggunakan Teknik Begg pada Pasien dengan Kebersihan Mulut Buruk Wahyuningsih, Sri; Hardjono, Soekarsono; Suparwitri, Sri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi depan crowding/berjejal parah dan cross bite adalah kasus yang sering dijumpai pada perawatan ortodontik. Gigi crowding dapat menyulitkan membersihkan mulut pada area gigi crowding sehingga dapat menyebabkan masalah periodontal. Salah satu keuntungan perawatan ortodontik cekat dengan teknik Begg adalah menghasilkan gaya yang ringan dalam megkoreksi gigi berjejal dan cross bite dapat memberikan kenyamanan pada pasien. Tujuan perawatan ini adalah untuk mengkoreksi gigi berjejal dan cross bite dalam waktu yang singkat menggunakan teknik Begg. Seorang pasien wanita umur 24 tahun dengan maloklusi Angle klas I dan skeletal klas III protrusif mandibula, gigi depan crowding berat dan cross bite, konstraksi lengkung pada kedua rahang, pergeseran median line rahang atas dan bawah disertai, gingivitis berat dan karies. Skaling, perawatan saluran akar dan pencabutan gigi non vital dilakukan sebelum perawatan ortodontik dilakukan. Koreksi dengan teknik Begg memerlukan waktu selama 6 bulan untuk mengkoreksi gigi crowding dan cross bite semuanya dalam waktu yang sama. Koreksi kasus gigi depan crowding berat dan cross bite disertai masalah periodontal dapat dilakukan dengan teknik Begg dalam waktu yang singkat dengan kemajuan yang bagus. ABSTRACT: Treatment of Class I Angle Malocclusion with Severe Crowding and Crossbite of Anterior Teeth Using Begg Technique in Bad Oral Hygiene Patient. The severe crowding and cross bite of anterior teeth were very common type cases in orthodontic. Crowding teeth compromised the oral hygiene due to the difficulty in oral cleansing on the crowding area that cause periodontal problem. One of advantages of fixed orthodontic treatment using Begg technique produced the light forces in correcting crowding and cross bite could give convenience to patients. The purpose of this treatment is to correct crowding and cross bite in a short period of time using Begg technique. A 24 years old female patient with Class I Angle malocclusion and class III skeletal pattern mandible protrusion, severe crowding and cross bite of anterior teeth, constricted dental arch on both jaws, mid shifting on the upper and lower arch compromised with severe gingivitis as well as caries. Scaling, root canal treatment and extraction of the non vital teeth were done before starting orthodontic treatment. The correction using Begg technique took 6 months to correct all the crowding and cross bite at the same time. The correction of the severe crowding case with cross bite of anterior teeth as well as periodontalproblem can be done with Begg technique in short period of time with a good improvement.
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 1 Disertai Crowding dan Openbite menggunakan Teknik Begg Winarti, Heri Susilo; Pudyani, Pinandi Sri; Hardjono, Soekarsono; Suparwitri, Sri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.8163

Abstract

Maloklusi Angle Klas II divisi I dapat disertai dengan crowding, open bite dan deep bite. Tujuan perawatan adalah untuk mengoreksi crowding, open bite anterior, diastemata rahang bawah, memperoleh overjet dan overbite normal, serta hubungan oklusal yang stabil. Pasien laki-laki berumur 19 tahun, dengan keluhan gigi-gigi rahang atas berjejal dan maju sehingga sulit menutup mulut, serta gigi-gigi rahang bawah renggang. Pasien didiagnosis Maloklusi Angle klas II divisi I dengan hubungan skeletal klas II disetai open bite, crowding dan protrusif gigi-gigi anterior rahang atas,  diastemata gigi-gigi rahang bawah, molar pertama bawah kanan dan kiri telah dicabut, dan impaksi gigi kaninus kanan bawah. Perawatan menggunakan teknik Begg yang diawali dengan pencabutan kedua gigi premolar pertama rahang atas. Tahap pertama perawatan menggunakan multiloop arch wire 0,014” dan elastik intermaksiler klas II. Kesimpulan dari hasil perawatan setelah 16 bulan, crowding dan open bite anterior terkoreksi, diastemata menutup, dan pasien sudah tidak kesulitan dalam menutup mulut. Pasien masih dalam tahap  penyelesaian perawatan.
Reposisi Gigi Kaninus Impaksi Palatal pada Perawatan Ortodontik Cekat Teknik Begg Wirasatyawan, Iwan; Hardjono, Soekarsono; Suparwitri, Sri
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.11975

Abstract

Impaksi palatal kaninus sering mengakibatkan keluhan secara estetis. Faktor genetik merupakan faktor yang dominan serta beberapa faktor yang lain yaitu diskrepansi lengkung gigi, ukuran gigi, retensi gigi desidui, kerusakan dini, pencabutan dini , posisi yang abnormal benih gigi, agenese incisivus lateral dan kista. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk memberikan informasi tentang perawatan kasus impaksi palatal kaninus rahang atas pada maloklusi kelas I skeletal menggunakan alat cekat teknik Begg. Pasien perempuan umur 15 tahun, datang ke klinik ortodonsia RSGM Prof. Soedomo FKG UGM. Pemeriksaan subyektif, pasien terganggu dengan keadaan gigi depan yang maju dan bercelah. Pemeriksaan obyektif menunjukkan adanya rudimenter, agenese gigi incisivus lateral kanan dan kiri rahang atas, impaksi palatal kaninus kiri atas. Transposisi kaninus kanan atas ke ruang incisivus lateral kanan atas, pergeseran midline. Maloklusi angle kelas I dengan relasi skeletal kelas I dengan bimaksiler retrusif disertai protrusif incisivus maksila dan retrusif incisivus mandibula. Perawatan diawali dengan pencabutan gigi rudimenter. Tahap I menggunakan multiloop archwire untuk leveling dan unraveling gigi anterior, koreksi pergeseran midline. Tahap berikutnya adalah pemasangan button pada kaninus impaksi untuk mengaitkan kawat ligatur pada archwire yang berfungsi untuk menarik kaninus impaksi palatal pada lengkung gigi. Perawatan ortodontik pada kasus dengan impaksi palatal kaninus rahang atas pada maloklusi kelas I skeletal menggunakan alat cekat teknik Begg dapat dilakukan dengan hasil perawatan yang baik. ABSTRACT: Repositioning of Palatally Impacted Canine in Orthodontic Treatment Using Begg Fixed Appliance. Palatally impacted canine often leads to esthetic complaints. Genetic factor is dominant followed by such other factors as dental arch discrepancy, tooth size, retention of deciduous teeth, early decay, premature extraction, abnormal position of tooth germ, lateral incisor agenesis, and cysts. This article provides information about the treatment of palatally impacted maxillary canine case in a skeletal class I malocclusion using Begg fixed appliance technique. A 15-year-old female patient came to the orthodontia clinic of RSGM Prof. Soedomo FKG UGM. The subjective examination found that the patient was disturbed by her protrusive, gapped front teeth. Then, the objective examination indicated the presence of rudimentary, lateral incisor agenesis of right and left upper jaw, and upper left palatally impacted canine. In addition, there was a transposition of upper right canine to lateral incisor area as well as a midline shift. Angle class I malocclusion with class I skeletal relationship and bimaxillary retrusion along with maxillary incisor protrusion and mandibular incisor retrusion also occurred. The treatment began with rudimentary tooth extractions. The first stage used a multiloop archwire for leveling and unraveling of anterior teeth as well as correction of midline shift. The button attached to the impacted canine could tie the ligature wire to the archwire that served to attract the palatally impacted canine in the dental arch. The orthodontic treatment in cases of palatally impacted maxillary canine with skeletal class I malocclusion using Begg fixed appliance technique can be applied with a good treatment result.