Erwan Sugiatno, Erwan
Bagian Prostodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

Retainer Kaitan Presisi Ekstrakorona Pada Kasus Kennedy Klas I Rahang Bawah Kartika, Fajar; Wahyuningtyas, Endang; Sugiatno, Erwan; AK, Heriyanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rehabilitasi gigi yang hilang dengan gigi tiruan sebagian lepasan adalah untuk memperbaiki fungsi pengunyahan, estetika, fungsi bicara, mempertahankan gigi dan jaringan yang masih ada, menjaga stabilitas oklusi, serta mengembalikan kenyamanan pasien. Penggunaan gigi tiruan dengan retainer kaitan presisi menjadi pilihan karena dapat meningkatkan kenyamanan pasien dalam memakai gigi tiruan. Kaitan presisi adalah suatu perangkat interlocking kecil untuk menghubungkan gigi tiruan dengan gigi pegangan yang dapat memberikan manfaat biomekanik dan estetis. Laporan kasus ini bertujuan memberikan informasi tentang gigi tiruan dengan kaitan presisi ekstrakorona pada kasus Kennedy klas I rahang bawah untuk meningkatkan kenyamanan pasien dalam memakai gigi tiruan. Pasien perempuan usia 56 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof. Soedomo ingin dibuatkan gigi tiruan baru. Pasien sebelumnya telah mengunakan gigi tiruan kerangka logam pada rahang atas (RA) dan rahang bawah (RB), namun merasa kurang percaya diri dan tidak nyaman dengan gigi tiruannya. Pasien ingin dibuatkan gigi tiruan yang tidak menggunakan plat yang melintang pada rahang bawahnya. Pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan rahang bawah dengan retainer kaitan presisi ekstrakorona. Tatalaksana perawatan 1)Pencetakan rahang untuk model diagnostik, 2)Preparasi gigi penyangga, 3)Pencetakan model kerja dan pembuatan mahkota sementara, 4)Try in coping kaitan presisi RB, 5)Pencatatan hubungan RA-RB, 6)Prosesing lab, 7)Insersi, 8)Kontrol. Gigi tiruan sebagian lepasan rahang bawah dengan retainer kaitan presisi ekstrakorona dapat digunakan pada kasus Kennedy klas I untuk meningkatkan kenyamanan pasien.ABSTRACT: Mandibular Extracoronal Precission Attachment Retainer On Mandibular Kennedy Class I Cases. Rehabillitation of missing teeth with removable partial denture is to restore mastication, aesthetic, speech functional, preserve the teeth and remaining tissue, maintaining the occlusal stabilities, and to restore patient comfort of using removable partial denture. Removable partial denture with precision attachment become an option because it can increase patient comfort when using denture. Precision attachment is a small interlocking device to connect prosthesis and abutments that offer a variety of solutions to the challenge of balance between biomechanical benefit and aesthetic appeal. This case report aims to provide more option of removable partial denture with extracoronal precision attachment on mandibular Kennedy class I cases to enhance patient comfortability when using dental prosthesis. A 56 years old female patient came to the Prosthodontics clinic of RSGM Prof. Soedomo want to made a new denture. The patient had previously been using metal frame denture on the upper jaw and mandible, but feel less confident and uncomfortable with the denture. Patient want to be made a new denture that do not use transverse plate on the lower jaw. Removable partial denture with extracorona precision attachment for the lower jaw was suggested. The case management were: 1) Jaw impression for diagnostic model, 2) Abutment preparation, 3) Working cast impression and temporary crown make, 4) Lower jaw precision attachment try in coping, 5) Upper and lower jaw relation recording, 6) Lab. Processing, 7) Insertion, 8) Control. Conclusion: Removable partial denture for lower jaw with extracorona precision attachment can be used to improved patients comfort.
Pembuatan Adhesive Bridge dengan Fiber Reinforced Composite untuk Perawatan Kehilangan dan Kegoyahan Gigi Anterior Rahang Bawah Wijaya, Demmy; Indrastuti, Murti; Sugiatno, Erwan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu perawatan kehilangan gigi anterior untuk tujuan estetis adalah dengan adhesive bridge. Fiber Reinforced Composite (FRC) adalah bahan struktural yang terdiri dari 2 konstituen yang berbeda. Komponen penguat (fiber) memberikan kekuatan dan kekakuan, sedangkan matriks (resin komposit) mendukung penguatan. Bahan FRC dapat digunakan untuk pembuatan adhesive bridge dan juga dapat digunakan sebagai stabilisasi gigi yang mengalami kegoyahan. Adanya gigi pendukung yang sehat juga sangat membantu keberhasilan perawatan ini. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang penatalaksanaan perawatan kehilangan dan kegoyahan gigi anterior rahang bawah menggunakan FRC. Seorang pasien laki-laki berusia 33 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof. Soedomo ingin dibuatkan gigi tiruan. Pasien kehilangan gigi 31, gigi 32, gigi 41 dan mengalami kegoyahan derajat 2 disertai resesi gingiva. Kondisi tersebut akibat pasca pembuatan gigi tiruan di tukang gigi. Pasien tidak ingin giginya yang goyah dilakukan pencabutan. Tatalaksana kasus: pencetakan rahang untuk model diagnostik, pembuatan mock-up pontik gigi 31 pada model diagnostik, pembuatan index dengan mencetak bagian lingual dan 1/3 incisal menggunakan putty, preparasi gigi penyangga (gigi 32, 33, 41, 42, 43), pemasangan fiber dengan bantuan index putty, pembentukan bagian labial pontik dengan komposit, finishing dan polishing. Kesimpulan: Fiber reinforced composite dapat dipakai untuk pengelolaan pasien yang mengalami kehilangan dan kegoyahan gigi anterior rahang bawah.ABSTRACT: Adhesive Bridge of Fiber Reinforced Composite to Treat Tooth Missing and Luxation of Lower Anterior Teeth. One of the anterior tooth loss treatments for esthetic purposes is the adhesive bridge. Fiber Reinforced Composite (FRC) is a structural material that consists of two different constituencies. Amplifier components (fiber) provide strength and stiffness, while matrix (resin composite) support reinforcement. FRC materials can be used in the manufacture of adhesive bridge and can also be utilized for a tooth stabilization for luxation case. The existence of supporting healthy teeth is also very helpful the success of this treatment. Objective: The aim of this case report was to provide information about management of missing teeth and luxation of lower anterior teeth using the FRC. Case: Thirty-three years old male patient came for a denture to the Prosthodontics Clinic of the Prof. Soedomo Hospital. The patient lost tooth 31, the teeth 32 and 41 had a luxation degree 2 with gingival recession. The condition is due to post-manufacture of artificial teeth in dental technician. The Patient did not want to extract the teeth. Managing cases: Impression of teeth for diagnostic models, mock-ups of the pontic tooth 31 on diagnostic models, manufacturing of index scoring lingual and 1/3 incisal using putty, preparation of the abutment (32, 33, 41, 42, 43), the installation of fiber with index putty, forming the labial pontic with composite continued with finishing and polishing. Conclusion: Fiber reinforced composite can be used for the management of patients who experienced a loss and shakiness lower anterior teeth
Protesa Mata: Rehabilitasi Pasien Waskitho, Arief; Sugiatno, Erwan; Ismiyati, Titik
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus kehilangan bola mata dapat menimbulkan masalah fungsi, psikis, dan estetik. Salah satu perawatan rehabilitatif pada kasus ini   adalah dengan protesa mata. Tujuan pembuatan protesa mata adalah untuk mempercepat penyembuhan fisik dan psikis serta memperbaiki estetik. Pasien laki-laki usia 50 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof. Soedomo FKG UGM dengan kondisi kehilangan mata sebelah kanan akibat trauma 3 tahun yang lalu.Pemeriksaan soket mata menunjukkan konjungtiva yang sehat dan tidak terdapat infeksi. Rencana perawatan adalah pembuatan protesa mata non fabricated berbahan resin akrilik. Prosedur perawatan dilakukan dengan tahap-tahap yaitu pencetakan mata dengan sendok cetak mata perorangan dan pengisian hasil cetakan dilakukan 2 tahap. Pembuatan model malam sklera, mencoba pola malam sklera, membuat sklera akrilik, mencoba sklera akrilik, dan penentuan lokasi dan diameter iris, melukis iris dan pupil, penyelesaian protesa mata, serta insersi protesa mata, pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah retensi, stabilisasi, dan kenyamanan protesa mata. Kontrol setelah 1 minggu protesa mata menunjukkan hasil yang baik, tidak ada keluhan rasa sakit, dan tidak ada peradangan. Pasien lebih percaya diri dan nyaman dengan protesa mata ini karena bentuknya sesuai soket mata. Pemakaian protesa mata dapat meningkatkan kepercayaan diri pasien sehingga dapat diterima dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 178–183.
Retainer Kaitan Presisi Ekstrakorona Pada Kasus Kennedy Klas I Rahang Bawah Kartika, Fajar; Wahyuningtyas, Endang; Sugiatno, Erwan; AK, Heriyanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rehabilitasi gigi yang hilang dengan gigi tiruan sebagian lepasan adalah untuk memperbaiki fungsi pengunyahan, estetika, fungsi bicara, mempertahankan gigi dan jaringan yang masih ada, menjaga stabilitas oklusi, serta mengembalikan kenyamanan pasien. Penggunaan gigi tiruan dengan retainer kaitan presisi menjadi pilihan karena dapat meningkatkan kenyamanan pasien dalam memakai gigi tiruan. Kaitan presisi adalah suatu perangkat interlocking kecil untuk menghubungkan gigi tiruan dengan gigi pegangan yang dapat memberikan manfaat biomekanik dan estetis. Laporan kasus ini bertujuan memberikan informasi tentang gigi tiruan dengan kaitan presisi ekstrakorona pada kasus Kennedy klas I rahang bawah untuk meningkatkan kenyamanan pasien dalam memakai gigi tiruan. Pasien perempuan usia 56 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof. Soedomo ingin dibuatkan gigi tiruan baru. Pasien sebelumnya telah mengunakan gigi tiruan kerangka logam pada rahang atas (RA) dan rahang bawah (RB), namun merasa kurang percaya diri dan tidak nyaman dengan gigi tiruannya. Pasien ingin dibuatkan gigi tiruan yang tidak menggunakan plat yang melintang pada rahang bawahnya. Pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan rahang bawah dengan retainer kaitan presisi ekstrakorona. Tatalaksana perawatan 1)Pencetakan rahang untuk model diagnostik, 2)Preparasi gigi penyangga, 3)Pencetakan model kerja dan pembuatan mahkota sementara, 4)Try in coping kaitan presisi RB, 5)Pencatatan hubungan RA-RB, 6)Prosesing lab, 7)Insersi, 8)Kontrol. Gigi tiruan sebagian lepasan rahang bawah dengan retainer kaitan presisi ekstrakorona dapat digunakan pada kasus Kennedy klas I untuk meningkatkan kenyamanan pasien.Mandibular Extracoronal Precission Attachment Retainer On Mandibular Kennedy Class I Cases. Rehabillitation of missing teeth with removable partial denture is to restore mastication, aesthetic, speech functional, preserve the teeth and remaining tissue, maintaining the occlusal stabilities, and to restore patient comfort of using removable partial denture. Removable partial denture with precision attachment become an option because it can increase patient comfort when using denture. Precision attachment is a small interlocking device to connect prosthesis and abutments that offer a variety of solutions to the challenge of balance between biomechanical benefit and aesthetic appeal. This case report aims to provide more option of removable partial denture with extracoronal precision attachment on mandibular Kennedy class I cases to enhance patient comfortability when using dental prosthesis. A 56 years old female patient came to the Prosthodontics clinic of RSGM Prof. Soedomo want to made a new denture. The patient had previously been using metal frame denture on the upper jaw and mandible, but feel less confident and uncomfortable with the denture. Patient want to be made a new denture that do not use transverse plate on the lower jaw. Removable partial denture with extracorona precision attachment for the lower jaw was suggested. The case management were: 1) Jaw impression for diagnostic model, 2) Abutment preparation, 3) Working cast impression and temporary crown make, 4) Lower jaw precision attachment try in coping, 5) Upper and lower jaw relation recording, 6) Lab. Processing, 7) Insertion, 8) Control. Conclusion: Removable partial denture for lower jaw with extracorona precision attachment can be used to improved patients comfort.
Pembuatan Obturator Mata pada Pasien dengan Kehilangan Mata Akibat Cacat Bawaan Rosalina, Clara; Sugiatno, Erwan; Mustiko, Haryo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus kehilangan mata pada pasien dapat menimbulkan masalah fungsi dan estetik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki masalah estetik adalah dengan membuatkan protesa mata kepada pasien tersebut. Tujuan pembuatan obturator mata pada pasien yang kehilangan mata adalah untuk membantu pasien dalam memperbaiki estetik. Pasien wan ita usia 35 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM FKG UGM dengan kondisi kehilangan mata sebelah kanan yang merupakan cacat bawaan. Pemeriksaan wajah menunjukkan muka asimetris. Pada mata kanan tampak adanya cheloid yang timbul setelah operasi pengangkatan bola mata. Perawatan dilakukan dengan pembuatan protesa mata non fabricated dengan tahap-tahap: pencetakan mata dengan sendok cetak mata perorangan dan pengisian hasil cetakan terdiri dari dua bagian, yang pertama diisi dengan gips keras sampai bagian terlebar dari cetakan dasar soket dan dibuat tiga retensi sebagai kunci, kedua sampai menutupi seluruh hasil cetakan. Pembuatan model malam sklera, mencoba pola malam sklera dan packing model malam sklera. Oef/asking dan polishing untuk membuat sklera akrilik, mencoba sklera akrilik dan penentuan lokasi diameter iris, melukis iris dan pupil, penyelesaian protesa mata, packing sklera dan iris, def/asking dan polishing untuk membuat protesa mata serta insersi protesa mata. Kontrol setelah 2 minggu menunjukkan hasil yang baik, tidak ada keluhan rasa sakit, tidak ada peradangan, volume dan frekuensi air mata menjadi berkurang jumlah dan frekuensinya.
Protesa Maxillofacial Thermoplastic Nylon dengan Hollow Bulb pada Kasus Klas I Aramany Pasca Hemimaxillectomy Oetami RS, Sri; Saleh, Suparyono; Sugiatno, Erwan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang. Operasi pembedahan yang dilakukan pad a daerah wajah akan mengakibatkan cacat wajah, gangguan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik serta kejiwaan penderita dan dapat timbul masalah pada rehabilitasinya. Bahan protesa maxillofacial thermoplastic nylonini digunakan sebagai alat rehabilitasi pasca hemimaxillectomy karena bahan ini selain non toxic juga ringan dan lentur. Tujuan. Penulisan laporan ini untuk menginformasikan bahwa defek atau cacat pada daerah wajah dapat dibuatkan suatu protesa maxillofacial gigi tiruan sebagian dan juga sebagai obturator dengan hollow bulb untuk mengembalikan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik serta kejiwaan penderita. Laporan Kasus. Pasien laki-Iaki berusia 19 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo atas kemauan sendiri karena merasa terganggu dengan adanya cacat wajah akibat operasi pembedahan palatumnya. Operasi hemimaxillectomy dilakukan oleh dokter THT R.S Bethesda dan obturator pasca bedah sudah dipasang setelah operasi. Dua minggu kemudian dibuatkan protesa maksilofasial resin akrilik dengan hollow bulp. Setelah 6 bulan menggunakan obturator resin akrilik pasien merasa sakit dan tidak nyaman karena ada kekambuhan jaringan sehingga dilakukan operasi lagi. Kemudian dibuatkan obturator definitif kerangka logam dengan hollow bulb tetapi hanya bertahan selama 3 bulan pasien merasa kesakitan, dalam pemeriksaan obyektif tampak defek mengalami pengkerutan ada infiltrasi jaringan. Operasi yang ketiga dilakukan kembali kemudian dibuatkan obturator definitif dari bahan thermoplastic nylon dengan hollow bulp. Pembahasan. Bahan Thermoplastic nylon untuk protesa maxillofacial dengan hollowbulp dipilih karena merupakan bahan yang non toxic, ringan dan stabil. Saat insersi diperiksa retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan. Kontrol dilakukan 1 minggu dan 1 bulan kemudian tidak tampak iritasi jaringan lunak, pengunyahan lebih stabil karena alat lebih ringan dan tidak goyang, sehingga lebih nyaman. Kesimpulan. Protesa maxillofacial thermoplastic nylon dengan hallow bulb merupakan alat rehabilitasi yang dapat mengembalikan estetik, fungsi bicara, mengunyah dan membantu proses penyembuhan jaringan dari trauma psikologis penderita.
Pengaruh volumetrik e-glass fiber terhadap kekuatan transversal reparasi plat gigi tiruan resin akrilik Aditama, Pramudya; Sugiatno, Erwan; Nuryanto, Muhamad Rifqi Tri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The effect of e-glass fiber volumetric on transverse strength of an acrylic resin denture plate repair. Acrylic resin is the most commonly material for the denture base. A disadvantage of acrylic resin is that it is easily to be cracked. One of the ways to resolve this problem is by adding the E-glass fibers. The purpose of this research was to find out the effect of volumetric E-glass fiber on transverse strength of an acrylic resin denture plate repair. The experiment involved thirty plates of heat cured acrylic with the dimensions of 65 × 10 × 2.5 mm. The specimens were prepared to create a 3-mm gap and 45° bevel. Subjects were divided in to 3 groups, each of which contained 10. Group I (control) was with no fiber reinforcement, group II was reinforced with 3.7vol % E-glass fiber, and group III was reinforced with 7.4 volume % E-glass fiber. All plates were soaked in distillation water for one day at 37 °C. Plates were tested for transverse strength with Universal Testing Machine and all data obtained was analyzed with one way anova at 95% confidence level (α= 0.05). The significant difference was found between the transversal force of acrylic resin plat enforced with fiber and other group without being reinforced with fibers (p<0.05). Group reinforced with 7.4 vol % E-glass fibers showed a significant difference (higher) than the group reinforced with 3.7 volume % fibers. The addition of E-glass fibers in an acrylic resin plate repair material increased the transverse strength. The increase in volumetric fibers might improve the transverse strength of an acrylic resin plate repair material.ABSTRAKResin akrilik merupakan bahan yang sering digunakan dalam pembuatan basis gigi tiruan. Kekurangan dari bahan resin akrilik adalah mudah patah. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menambahkan E-glass fiber. Tujuan untuk mengetahui pengaruh volumetrik E-glass fiber terhadap kekuatan transversal reparasi plat gigi tiruan resin akrilik. Penelitian ini menggunakan tiga puluh plat resin akrilik kuring panas dengan ukuran 65 × 10 × 2,5 mm. Spesimen dipreparasi untuk membentuk jarak 3 mm dan sudut bevel 45°. Subjek kemudian dibagi menjadi 3 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 10 plat. Kelompok I (kontrol) tanpa diberikan penguat fiber, kelompok II diperkuat dengan 3,7 vol % E-glass  ber, dan kelompok III diperkuat dengan 7,4 vol % E-glass fiber. Seluruh plat kemudian direndam dalam air destilasi selama satu hari pada suhu 37 °C. Plat resin akrilik kemudian diuji menggunakan Universal Testing Machine untuk mengetahui kekuatan transversal dan data yang didapatkan dianalisis menggunakan Anova satu jalur dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kekuatan transversal plat resin akrilik yang diperkuat dengan fiber dengan kelompok tanpa diperkuat fiber (p < 0,05). Kelompok yang diperkuat dengan 7,4 vol % E-glass fiber menunjukkan perbedaan signi kan (lebih tinggi) dibandingkan kelompok yang diperkuat dengan 3,7 vol % fiber. Kesimpulan bahwa peningkatan volume dari E-glass fiber dapat meningkatkan kekuatan transversal reparasi plat gigi tiruan resin akrilik.
Pembuatan Cantilever Bridge Anterior Rahang Atas sebagai Koreksi Estetik Sumartati, Yusrina; Dipoyono, Haryo Mustiko; Sugiatno, Erwan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Kehilangan gigi anterior rahang atas mengakibatkan gangguan fungsi fonetik dan estetik. Gangguan fungsi estetik menyebabkan pasie menjadi rendah diri. Kondisi ini dapat diatasi oleh dokter gigi, salah satunya dengan pembuatan cantilever bridge. Tujuan. Penulisan ini yaitu untuk memberi informasi bahwa pada kasus kehilangan gigi-gigi anterior rahang atas dengan space yang telah menyempit dan malposisi gigi dapat dibuatkan protesa berupa gigi tiruan cekat dengan desain cantilever bridge. Kasus dan perawatan. Laporan kasus ini membahas tentang pasien perempuan umur 39 tahun yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo, dengan keluhan merasa kurang percaya diri karena gigi depan rahang atas hilang sejak 5 tahun yang lalu akibat kecelakaan. Gigi-gigi anterior rahang atas yang masih ada mengalami malposisi akibat pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yang tidak baik. Perawatan yang dilakukan adalah dengan pembuatan cantilever bridge pada gigi 11, 12, 13 dan 21, 22, 23. Kesimpulan. Gangguan fungsi estetik pada gigi anterior rahang atas dapat diatasi dengan pembuatan cantilever bridge. Background. Maxillary anteriortooth loss resulting in impaired function of phonetic and aesthetic. Impaired function of aesthetic cause patients to become self conscious. This condition can be treated by a dentist, one with a cantilever bridge. Purpose. To inform that in case of missing anterior teeth of the upper jaw with a space that has been narrowed, and malposition of teeth can be made prosthesis denture fixed bridge with a cantilever design. Case and treatment. This case report discusses the 39 years old female patient who came to he Dental Hospital Prof. Soedomo, with complaints of feeling less confident due to the maxillary front teeth missing since 5 years ago due to an accident. Anterior teeth of the upper jaw are still experiencing malposition due to the use of removable partial dentures are not good. The treatment is done is by cantilever bridge on teeth 11, 12, 13 and 21, 22, 23. Conclusion. Impaired function of the aesthetic in the maxillary anterior teeth can be solved by a cantilever bridge. 
Rehabilitasi Prostetik Paska Hemimaksilektomi pada Pasien Edentulos Tenripada, Novi; Tjahjanti, M.Th Esti; Sugiatno, Erwan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Hemimaksilektomi adalah reseksi sebagian maksila pada satu sisi. Defek yang dihasilkan setelah hemimaksilektomi akan menyebabkan kecacatan pada wajah serta akan menimbulkan gangguan stomatognatik. Rehabilitasi prostetik merupakan suatu bagian yang penting dalam rekonstruksi rongga mulut pasien pasca pembedahan kanker rongga mulut. Upaya rehabilitasi ini mencakup bentuk perawatan yang melibatkan kerjasama multidisipliner dengan bagian ilmu penyakit mulut, bedah onkologi dan prostodonsi. Tujuan. Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan rehabilitasi prostetik pasca hemimaksilektomi untuk pasien edentulous. Kasus dan penanganan. Pasien laki-laki berumur 65 tahun datang ke RSGM Prof Soedomo dengan diagnose kanker di palatum dan akan dilakukan hemimaksilektomi di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Protesa yang digunakan dalam rehabilitasi prostetik ini adalah obturator imidiat, obturator interim dan obturator definitive. Obturator definitif pada pasien edentulous berupa gigi tiruan lengkap dengan bulb pada sisi defek. Bentuk obturator dibuat dengan mengoptimalisasi retensi dari struktur anatomi yang tersisa. Kesimpulan. Rehabilitasi prostodontik pada pasien edentulous pasca hemimaksilektomi adalah dengan obturator imidiat, obturator interim dan obturator definitive berupa gigi tiruan lengkap dengan bulb. Background. Hemimaxillectomy is resection on unilateral side of maxilla. Maxillary defect that occurred after hemimaxillectomy result in facial deformities and stomatognatic disfunction. Prosthetic rehabilitation is essential part in oral reconstruction after patient undergone oral cancer surgery. Rehabilitative efforts involve treatment modalities involving multidiscipliner teamwork with oral pathologist, oncologist and prosthodontist. Purpose. Purpose of the report was to inform the prosthetic rehabilitation after hemimaxillectomy in completely edentulous patient. Case and treatment. A 65 years male diagnosed cancer on palatal referred to RSGM Prof Soedomo in order to prepare prosthodontic rehabilitation after hemimaxillectomy in RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta. Prosthesis used in this rehabilitation were immediate obturator, interim obturator and definitive obturator. Obturator for completely edentulous patients is complete denture with the bulb on defect side. The shape of obturator was designed to optimalize retention from the remaining anatomical structure. Conclusion. Prosthetic rehabilitation for hemimaxillectomy edentulous patient were immediate obturator, interim obturator and definitive obturator.
Protesa Mata: Rehabilitasi Pasien Waskitho, Arief; Sugiatno, Erwan; Ismiyati, Titik
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus kehilangan bola mata dapat menimbulkan masalah fungsi, psikis, dan estetik. Salah satu perawatan rehabilitatif pada kasus ini adalah dengan protesa mata. Tujuan pembuatan protesa mata adalah untuk mempercepat penyembuhan fisik dan psikis serta memperbaiki estetik. Pasien laki-laki usia 50 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof. Soedomo FKG UGM dengan kondisi kehilangan mata sebelah kanan akibat trauma 3 tahun yang lalu.Pemeriksaan soket mata menunjukkan konjungtiva yang sehat dan tidak terdapat infeksi. Rencana perawatan adalah pembuatan protesa mata non fabricated berbahan resin akrilik. Prosedur perawatan dilakukan dengan tahap-tahap yaitu pencetakan mata dengan sendok cetak mata perorangan dan pengisian hasil cetakan dilakukan 2 tahap. Pembuatan model malam sklera, mencoba pola malam sklera, membuat sklera akrilik, mencoba sklera akrilik, dan penentuan lokasi dan diameter iris, melukis iris dan pupil, penyelesaian protesa mata, serta insersi protesa mata, pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah retensi, stabilisasi, dan kenyamanan protesa mata. Kontrol setelah 1 minggu protesa mata menunjukkan hasil yang baik, tidak ada keluhan rasa sakit, dan tidak ada peradangan. Pasien lebih percaya diri dan nyaman dengan protesa mata ini karena bentuknya sesuai soket mata. Pemakaian protesa mata dapat meningkatkan kepercayaan diri pasien sehingga dapat diterima dalam kehidupan sosial bermasyarakat.  Ocular Prosthesis: Patient Rehabilitation. The loss of eyeballs may lead to problems in function, psychology, and aesthetics. One of rehabilitative treatments for this case is by making prosthesis eyes. The purpose of this treatment is to heal the physical and psychological function quickly and to fix the aesthetics. A 50-year-old male patient who came to RSGM Prof. Soedomo FKG UGM’s Prostodontia Clinic complained that he lost his right eye because of traumatic injury 3 years ago. After checking the eye socket up, it was found that his conjunctiva lining was healthy, and there was no infection. The treatment plan was to make non-fabricated ocular prosthesis from acrylic resin. For the treatment procedure, the steps are as follow: minting the individual eye by using minted spoon and pouring the minting result of the eye by two phases; making the model of wax sclera followed by trying on the wax sclera pattern to the patient eye socket and making an acrylic version of sclera followed by trying on the acrylic sclera to the eye socket, and then determining the location and iris diameter to draw the iris and pupil. The finishing process of the eye prosthesis is by inserting the eye prosthesis to the patient eye socket. The checkup is needed to know the retention, stabilization and fitting the eye prosthesis. After medical check-up during a week, the eye prosthesis showed the good result, absence of pain and inflammation. The patient was more confident psychologically and comfortable using this eye prosthesis because the shape was compatible with the eye socket. Using eye prosthesis can improve the patients’ confidence as they can be accepted in social life.