Trisasi Lestari, Trisasi
Magister Manajemen Rumahsakit Universitas Gadjah Mada

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

LAMA WAKTU YANG DIHABISKAN PASIEN DI UGD RSPAU dr. S. HARDJOLUKITO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Murtiningrum, Sri; Lestari, Trisasi; Widodo, Kuncoro Harto
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Salah satu keluhan pasien yang paling sering muncul adalah lama waktu yang dihabiskan pasien di unit gawat darurat setelah mereka mendapatkan penanganan pertama. Pasien harus menunggu sebelum mereka bisa pulang, atau dipindahkan ke bangsal perawatan, ke ICU atau menjalani operasi. RSPAU Dr Suhardi Hardjolukito adalah RS tipe B dengan kapasitas 215 tempat tidur. Tujuan: untuk mengukur lama waktu yang dihabiskan pasien di UGD dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi lama waktu tunggu tersebut. Metode: Ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilakukan di unit gawat darurat RSPAU Dr Suhardi Hardjolukito, yang memiliki kapasitas 15 tempat tidur, pada bulan November 2014. Observasi dilakukan selama 7 hari pada shift pagi, sore, dan malam. Sejumlah 305 pasien menjadi sampel penelitian dan diamati selama pasien berada di UGD. Hasil: Rata-rata waktu perawatan di UGD RSPAU dr.S.Hardjolukito masih sangat bervariasi, berkisar antara 8 s/d 270 menit (4.5 jam). Tahapan pelayanan yang memiliki waktu tunggu paling lama adalah pelayanan di laboratorium dan radiologi. Sementara karakteristik kunjungan yang paling besar pengaruhnya terhadap lama pelayanan di UGD adalah kunjungan pada hari kerja, jenis kelamin pasien perempuan, diagnosis emergency, dan waktu kunjungan pagi hari.  Kesimpulan dan Rekomendasi: Waktu yang dihabiskan pasien di UGD RSPAU dr.S.Hardjolukito sangat bervariasi. Banyak penyebab waktu tunggu tersebut sebenarnya tidak penting dan bisa dicegah. Rumah sakit harus mengurangi kepadatan UGD pada waktu-waktu sibuk dengan meningkatkan efisiensi RS, memperbaiki alur pasien, dan menggunakan metode maajemen operasional dan teknologi informasi 
LAMA WAKTU YANG DIHABISKAN PASIEN DI UGD RSPAU dr. S. HARDJOLUKITO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Murtiningrum, Sri; Lestari, Trisasi; Widodo, Kuncoro Harto
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Salah satu keluhan pasien yang paling sering muncul adalah lama waktu yang dihabiskan pasien di unit gawat darurat setelah mereka mendapatkan penanganan pertama. Pasien harus menunggu sebelum mereka bisa pulang, atau dipindahkan ke bangsal perawatan, ke ICU atau menjalani operasi. RSPAU Dr Suhardi Hardjolukito adalah RS tipe B dengan kapasitas 215 tempat tidur. Tujuan: untuk mengukur lama waktu yang dihabiskan pasien di UGD dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi lama waktu tunggu tersebut. Metode: Ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilakukan di unit gawat darurat RSPAU Dr Suhardi Hardjolukito, yang memiliki kapasitas 15 tempat tidur, pada bulan November 2014. Observasi dilakukan selama 7 hari pada shift pagi, sore, dan malam. Sejumlah 305 pasien menjadi sampel penelitian dan diamati selama pasien berada di UGD. Hasil: Rata-rata waktu perawatan di UGD RSPAU dr.S.Hardjolukito masih sangat bervariasi, berkisar antara 8 s/d 270 menit (4.5 jam). Tahapan pelayanan yang memiliki waktu tunggu paling lama adalah pelayanan di laboratorium dan radiologi. Sementara karakteristik kunjungan yang paling besar pengaruhnya terhadap lama pelayanan di UGD adalah kunjungan pada hari kerja, jenis kelamin pasien perempuan, diagnosis emergency, dan waktu kunjungan pagi hari.  Kesimpulan dan Rekomendasi: Waktu yang dihabiskan pasien di UGD RSPAU dr.S.Hardjolukito sangat bervariasi. Banyak penyebab waktu tunggu tersebut sebenarnya tidak penting dan bisa dicegah. Rumah sakit harus mengurangi kepadatan UGD pada waktu-waktu sibuk dengan meningkatkan efisiensi RS, memperbaiki alur pasien, dan menggunakan metode maajemen operasional dan teknologi informasi 
EVALUASI IMPLEMENTASI CLINICAL PATHWAY APPENDICITIS ELEKTIF DI RS BETHESDA YOGYAKARTA Rahmawati, Caecilia Lelia; Pinzon, Rizaldy Taslim; Lestari, Trisasi
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 3 (2017): Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana
Publisher : Medical Faculty of Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v2i3.70

Abstract

Rumah sakit memiliki komitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang mengutamakan mutu dan keselamatan pasien. Salah satu upayanya adalah dengan menjalankan clinical pathway. Sebagai sebuah instrumen yang menstandarisasikan proses dan outcome pelayanan, clinical pathway selayaknya mampu menjadi solusi perbaikan manajemen kualitas berkelanjutan. Hingga kini bukti mengenai efektivitas clinical pathway masih diperdebatkan. Untuk mengetahui hasil luaran length of stay, infeksi luka operasi dan penurunan biaya perawatan dalam implementasi clinical pathway appendicitis acuta tanpa komplikasi di RS Bethesda Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cohort retrospective, dimana peneliti mengambil dua kelompok subyek yang berbeda dalam populasi yang sama. Kelompok kasus adalah kelompok pasien yang menjalani perawatan dengan clinical pathway, setelah pemberlakuan clinical pathway, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok pasien yang diidentifikasi sebelum pemberlakuan clinical pathway. Peneliti menilai dampak penerapan clinical pathway terhadap outcome length of stay, infeksi luka operasi saat pemulangan (surgery site infection discharge) dan biaya perawatan.Berdasarkan karakteristik subyek, jumlah wanita (59,3%) lebih banyak daripada pria (40,7%), subyek usia 18-30 (62,7%) merupakan yang terbanyak. Pemberian terapi antibiotika Ceftriaxone dan Non Ceftriaxone, berbeda sebelum dan pasca clinical pathway (p>0,05). Terdapat penurunan yang bermakna (p0,05); terdapat perbedaan yang bermakna biaya rawat inap sebelum dan pasca pemberlakuan clinical pathway (p
Intervensi pada perilaku bidan tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini dengan menggunakan layanan pesan singkat Lionita, Widya; Emilia, Ova; Lestari, Trisasi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.796 KB) | DOI: 10.22146/bkm.11653

Abstract

Intervention on midwife behavior about early initiation of breastfeeding practice using short message servicePurposeThis research examined the effects of an intervention by delivering short message service towards midwife behavior.MethodsThis research was a quasi-experimental study with pre and post test design using control group. A total of 64 midwives in Palembang participated until data extraction. About 18 themes of short messages were delivered through participants’ mobile phone. Data were analyzed by univariate, bivariate, and linear regression tests.ResultsResults showed that the intervention improved early breastfeeding perceptions by about 7.3% (p= 0.0308). Participants’ knowledge was increased after intervention although there was no significant mean difference between groups. Almost all participants (over 80%) practiced imperfect early breastfeeding, especially in giving information since antenatal care, short-duration, and directing baby for sucking mother’s nipple.ConclusionNot all of participants facilitated early breastfeeding in every birth because of other factors such as unsupported mother and infant’s condition. Early initiation of breastfeeding is not easily implemented by health staff. It is better that midwives could motivate mothers to breastfeed within 1 hour since antenatal care. The important keys are having high commitment and confidence which contribute to midwives’ belief for practicing every step in every birth. We concluded that this research should be continued for long-term-analysis to give more significant results.
Persepsi masyarakat kota Bima terhadap inisiasi kawasan tanpa rokok di terminal Dara Hayati, Zahratul; Prabandari, Yayi Suryo; Lestari, Trisasi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.023 KB) | DOI: 10.22146/bkm.10549

Abstract

Bima community perceptions on initiation of non-smoking area in Dara terminalPurposeThis study aimed to determine the passengers’ perceptions about the effort to authorize Dara terminal of Bima city as a non-smoking area.MethodsThis study was a qualitative research with a phenomenological approach. Data were collected by observation in August for 2 weeks and through in-depth interviews with 20 informants among terminal users. Data were analyzed using content analysis technique.ResultsTerminal users understand that: (1) smoking can cause serious illness and even can cause death, (2) the public are benefited from the terminal as a non-smoking area, because they can access the terminal without fear of the exposure, and (3) cooperation is needed with other parties to reduce the number of smokers in the terminal. Obstacles that may be present in this effort to authorize the non-smoking area are smoking habits in the terminal which are considered normal and traders who feel threatened because cigarette smoking is the goods that are often bought by smokers in the terminal. A non-smoking area is considered can be implemented if the regulation is realistic, well socialized to people, and the communities obey to the regulation.ConclusionsThe initiation of a non-smoking area in Dara terminal of Bima city can be accomplished if there is a policy of non-smoking areas, in cooperation with relevant parties and followed by a thorough socialization so that people who access the terminal can determine and adhere to the non-smoking area policies that will be formed.
Implementasi metode Global Trigger Tool IHI (Institute for Healthcare Improvement) untuk identifikasi kejadian tak diinginkan (KTD) di pelayanan kebidanan RSUD Pariaman Provinsi Sumatera Barat Aladin, Aladin; Kuntjoro, Tjahjono; Lestari, Trisasi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v42.i2.p62-69.2019

Abstract

Kesalahan yang terjadi dalam proses perawatan medis berpotensi dan dapat menyebabkan cedera pada pasien yang merupakan peristiwa buruk. Institute for Healthcare Improved Global Trigger Tool adalah salah satu metode analisis retrospektif yang menggunakan "pencetus" atau "pemicu" untuk mendeteksi kemungkinan peristiwa buruk. Pentingnya rumah sakit dalam memberikan layanan dan dalam rangka meningkatkan perawatan kebidanan, maka IHI dapat menjadi alternatif jawaban masalah yang ada. Tujuan: Untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi efek samping pada perawatan kebidanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pariaman berdasarkan metode IHI Global Trigger Tool. Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus dengan desain penyelesaian masalah. Identifikasi instrumen insiden keselamatan pasien menggunakan alat Pemicu IHI digunakan untuk melakukan tinjauan rekam medis pasien sekunder data kebidanan RSUD Pariaman. Hasil: Ditemukan 41 (41,7%) pasien dengan pemicu (+) jumlah pemicu 92, rata-rata 2,04 pemicu per pasien. Ditemukan 9 (9,4%) pasien dengan efek samping 12, rata-rata 1:33 efek samping per pasien. Jumlah yang terluka adalah 12 dengan proporsi cedera parah sebanyak 16,7%. Karakteristik pasien yang paling banyak adalah 20-29 tahun (45,8%) dan umumnya terjadi dalam kasus rujukan darurat (70,8%). Simpulan: Tidak ada hubungan antara usia dan keberadaan pemicu sementara status rujukan secara signifikan terkait dengan pemicu. Unit layanan kamar kebidanan merupakan unit pemicu yang paling umum (43,9%), dan unit rawat inap adalah unit yang paling banyak terjadinya kejadian buruk (44,4%). Sedangkan unit perawatan intensif adalah unit di mana pemicunya berpotensi tertinggi untuk menjadi peristiwa buruk (100%). Hasil audit medis dalam rangka meningkatkan layanan dalam bentuk presentasi kasus salah satu pasien. Audit medis merupakan salah satu upaya untuk menemukan solusi perbaikan pelayanan kebidanan RSUD Pariaman.
FIDELITY CASE MANAGEMENT SYSTEM PADA PASIEN STROKE RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS GADJAH MADA Alfajri, Novi Zain; Pinzon, Rizaldy Taslim; Lestari, Trisasi
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 3, No 1 (2018): Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana
Publisher : Medical Faculty of Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v3i1.67

Abstract

Latar Belakang: Koordinasi asuhan pasien masih bermasalah di RS UGM khususnya dalam perencanaan perawatan dan proses transisi. RS UGM menerapkan case management system untuk memperbaiki koordinasi asuhan kasus kompleks salah satunya stroke. Evaluasi dilakukan terhadap sistem baru tersebut. Tujuan: Mengevaluasi fidelity case management pasien stroke rawat inap dan mengidentifikasi faktor-faktor implementasinya Metode: Penelitian implementasi, desain concurrent mixed method, dilaksanakan November 2016 – Januari 2017 di RS UGM. Pengambilan data dengan wawancara mendalam terhadap case manager, diskusi kelompok terarah paramedis, dan observasi proses koordinasi. Fidelity yang dinilai meliputi kepatuhan terhadap cakupan dan konten. Evaluasi luaran dibatasi pada lama hari rawat dan angka kematian. Hasil dan Pembahasan: Kepatuhan konten alur case management masih rendah yaitu sebesar 2%. Alur skrining dan follow up post discharge belum sesuai karena kepatuhan dan pemahaman pelaksana serta belum lengkapnya petunjuk teknis. Ketidaksesuaian skrining mempengaruhi rendahnya cakupan kasus yaitu 19%. Faktor pendukung implementasi adalah ketersediaan panduan, pelatihan, dukungan pimpinan, dan respon tim. Kendala implementasi adalah kurangnya petunjuk teknis, kendala waktu koordinasi, dan kendala sosial edukasi pasien. Evaluasi luaran menunjukkan angka kematian menurun, rerata lama hari rawat memanjang. Responden merasakan manfaat case management dalam memperbaiki koordinasi tim. Kesimpulan dan Saran: Fidelity implementasi case management system di RS UGM rendah ditandai dengan rendahnya kepatuhan konten dan cakupan kasus. Rerata lama hari rawat memanjang, tetapi rentang hari rawat memendek. Angka kematian kasus lebih kecil. Respon partisipan adalah faktor pendukung implementasi tetapi strategi fasilitasi belum dilakukan dengan optimal sehingga mempengaruhi fidelity yang rendah. Strategi fasilitasi perlu ditingkatkan dengan kebijakan dan petunjuk teknis yang komprehensif terutama pada alur skrining dan follow up post discharge, pelatihan case manager, sosialisasi, dan monitoring evaluasi berkelanjutan Kata kunci: fidelity, stroke, case management system