M. Mukhlis Kamal, M. Mukhlis
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Perairan, Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Kampus Dramaga, Bogor 16680

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

KONDISI KESEHATAN TERUMBU KARANG BERDASARKAN KELIMPAHAN IKAN HERBIVORA DI KECAMATAN PULAU TIGA KABUPATEN NATUNA

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 17, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.814 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di perairan Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepu-lauan Riau dari bulan April hingga Agustus tahun 2009. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesehatan terumbu karang dengan kondisi kelimpahan dan komposisi kelompok ikan-ikan herbivora yang secara tidak langsung dapat dijadikan sebagai bioindikator kesehatan ekosistem terumbu karang bila dilihat dari tingkat pemulihannya di Kecamatan Pulau Tiga. Metode yang digunakan adalah transek kuadrat yang dimodifikasi dengan transek garis menyinggung (LIT) untuk menentukan kondisi terumbu karang, pertumbuhan karang muda dan tutupan alga (DCA), sedangkan untuk penentuan struktur komunitas ikan herbivora menggunakan modifikasi transek garis menyinggung (LIT), transek kuadrat dan sensus visual ikan bawah air (UVC). Analisis yang digunakan adalah analisis ekologi standar, uji korelasi, regresi linear, dan analisis multivariate untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan ikan herbivora, alga (DCA), dan terumbu karang. Hasilnya menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang di daerah tersebut masih berada dalam kondisi baik dengan rata-rata tutupan karang hidup sebesar 63,17%. Hasil analisis multivariate menunjukkan bahwa semakin tinggi kelimpahan ikan herbivora, maka tutupan karang hidup dan pertumbuhan karang muda meningkat dan menurunnya tutupan alga di ekosistem terumbu karang. Hasil uji korelasi, analisis multivariate, dan regresi linear (uji t-student) menunjukkan bahwa dari 24 spesies ikan herbivora yang terdata, terdapat tiga jenis ikan herbivora yang berperan dalam aktivitas herbivori dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang di Kecamatan Pulau Tiga, antara lain Chlorurus microrhinos, Scarus rivulatus, dan Siganus doliatus.Kata kunci: DCA (karang mati yang ditutupi alga), ikan herbivora, herbivori, kesehatan terumbu karang, pertumbuhan karang muda, Pulau Tiga

KARAKTERISTIK KUALITAS AIR DAN ESTIMASI RESIKO EKOBIOLOGI HERBISIDA DI PERAIRAN RAWA BANJIRAN LUBUK LAMPAM, SUMATERA SELATAN

Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan rawa banjiran Lubuk Lampam (RBLL) merupakan ekosistem khas yang mempunyai arti penting terutama secara ekologi sebagai habitat ikan khas rawa banjiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kualitas air di RBLL terkait dengan perubahan muka air dan adanya masukan bahan antropogenik terutama dari kegiatan perkebunan kelapa sawit yang berada di dalam dan sekitar area RBLL. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa curah hujan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perubahan muka air di RBLL. Fluktuasi muka air yang tidak ekstrim sebagai akibat dari curah hujan yang relatif merata sepanjang tahun menyebabkan karakteristik kualitas air antar periode musim menjadi cenderung sama. Secara umum, karakteristik kualitas air RBLL dicirikan dengan pH cenderung asam, kandungan oksigen rendah, kekeruhan tinggi serta konsentrasi total nitrogen dan total fosfor yang tinggi. Bahan antropogenik berupa herbisida dari jenis paraquat dan glyfosat ditemukan dalam konsentrasi relatif kecil (rataan 0,004 mg/L dan 0,003 mg/L), sehingga berdasarkan nilai resiko (Risk Quotient, RQ) kedua jenis herbisida ini memiliki resiko ekobiologi rendah (<0,01) sampai dengan sedang (0,01<RQ≤0,1).

ANALISIS PERSEPSI NELAYAN DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN BERKELANJUTAN DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA1

TATALOKA Vol 13, No 2 (2011): Volume 13 Number 2, May 2011
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The sustainable fisheries resources management  at the Karimunjawa National Park (KNP) is a very complicated effort. One of the serious issues is that the national park was declared by government when it has been inhabited by fisherfolk community. It is therefore very important to find out fisherfolk perception on sustainable fisheries resources management within the KNP.  In the present study, a model of fisherfolk perception on sustainable fisheries resources management at the KNP, which included: fisheries resources management, national park management, community participation, law enforcement, monitoring efforts, and technical- and policy- implementations. Analysis method used Structural Equation Modeling (SEM) with program analysis Lisrel 8.52. Total respondents surveyed were 189 fishermen.Results of model analysis SEM showed that fisherfolk perception on sustainable fisheries resources management at KNP expect: (1) surveillance efforts, (2) commitment on law enforcement, and (3) involvement of fisherfolk participation. Expected policies were (1) decentralization, (2) integrated approach, (3) balance proportion between welfare and conservation, (4) fair distribution of fish catch, and (5) regulation of market mechanism.

COMMUNITY STRUCTURE OF GROUPER FISH (Serranidae) LANDED IN PEUKAN BADA SUBDISTRICT, ACEH PROVINCE

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 8, No 1 (2016): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.51 KB)

Abstract

ABSTRACTInformation on important and economic grouper fish (Serranidae family) in Peukan Bada waters, Province of Aceh is very limited. This objecives of this research were to determine spatial and temporal variabilities in species composition and community structure of grouper landed in Peukan Bada, Aceh Besar District. The research was conducted using survey method during February to June 2015 on three fish landing sites i.e., Ujong Pancu, Lamtengoh, and Lamteh. The groupers were caught by using handline. The landed fishes were therefore counted and identified up to species level. The data were also analyzed based on taxonomic information and individual number of each species, community structure using the diversity index (H’), eveness (E), and dominance (D). The results obtained 835 individual, 21 species of grouper belong to 4 genera (Aethaloperca, Cephalopholis, Epinephelus dan Variola). Based on species, Epinephelus fasciatus and Cephalopholis sonnerati were the most grouper fishes in the region.  Based on community structure, diversity value (H’) in Lam-tengoh was higher than that in Ujong Pancu and Lamteh. Total grouper fish catches were not significantly different (P>0,05) among the three region. Meanwhile, total grouper fish cacthes were significantly different between seasons (p<0,05). The diversity species variation during five months of observation was affected by the differences in catches area, the condition of aquatic enviroment, and oceanographic condition.Keywords: Groupers, Peukan Bada, species composition, community structure

SUITABILITY ANALYSIS OF FLOATING CAGE CULTURE OF GROUPER FISH USING GIS IN RINGGUNG WATERS OF LAMPUNG

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 9, No 1 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.691 KB)

Abstract

The study aims to determine suitability of floating cage (KJA) culture of grouper fish in Ringgung waters of Lampung. Data were analysed using GIS for spatial analysis at five stations.  There were 10 water quality parameters measured, such as bathimetry, current velocity, water transparency, temperature, salinity, pH, dissolved oxygen, nitrate, ammonia, and phosphate. Three suitability criteria, i.e very suitable, suitable, and not suitable were used to determine the suitability of floating cage culture of grouper fish. The results show that from 99.168,5 ha of the total area used for floating cage culture of grouper fish, about 85,94% covering 8522,16 ha were classified as very suitable, 5,64% covering 559,69 ha classified as suitable, and  8,42% covering 835 ha classified as not suitable.                                     Keywords : grouper culture, suitability, Ringgung waters, Lampung Province, GIS

BIODIVERSITY OF REEF FISHES IN MARINE PROTECTED AREA OF KARIMUNJAWA NATIONAL PARK

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 9, No 1 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.654 KB)

Abstract

Karimunjawa National Park (KNP) has a high diversity of coral reef and fish. This study is aimed to analyze the biodiversity of reef fish in KNP. Field survey was conducted in KNP, District of Jepara, Central Java, in April-Juni 2015. Primary data was obtained by using survey and observation method,   includes the number of reef fish individuals per family, coral cover, turbidity, total nitrogen (N), and PO4. Secondary data were obtained from KNP authority. Belt transect method was used for counting the number of reef fish individuals, while coral cover was measured using line intercept transect (LIT) method. Abundance and biomass of reef fishes were analyzed descriptively, followed by cluster analysis. The results indicated that the average of coral cover in 2015 was 44.70%. The highest coral cover was in Taka Malang with 65.65% and the lowest was in Nirwana with 35.45%. The reef fish’s abundance in 2015 was dominated by Pomacentridae (60.46%) with an abundance of 14,850 no/ha, the second position was Caesionidae (11.77%) with an abundance of 2,892 no/ha, the third was Scaridae (6.27%) with an abundance of 1,540 no/ha. The highest biomass in 2015 was Scaridae (122.33 kg/ha), the second order was Caesionidae (104.91 kg/ha), and the third was Serranidae (50.80 kg/ha). Reef fish biodiversity in KNP is considering properly maintained, as demonstrated by high abundance and biomass of fish families.  Keywords: biodiversity, reef fish, Karimunjawa, marine protected area

STATUS PEMANFAATAN SUMBERDAYA UDANG OLEH PERIKANAN SKALA KECIL DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN CILACAP (Utilitization Status of Shrimp by Small Scale Fisheries in the Coastal Area of Cilacap District)

Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol 5, No 1 (2014): Marine Fisheries - Mei 2014
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.42 KB)

Abstract

ABSTRACTFish stock in marine is dynamic due to fluctuation in the annual total catch. Consequently, the estimate number of fish stock changes yearly, without exception in the coastal of Cilacap District. This current study was intended to reassess the condition of fish stock utilization in the coastal water of Cilacap in 2012. Data of fish production, effort, fish price, and effort cost in 1999-2012 are taken from the Office of Fisheries Agency of Cilacap District. Analysis of fish stock condition is carried out using Gordon-Schaefer bioeconomic model. The results showed that utilization of marine fish resource in the coastal water of Cilacap District was in the condition of over fishing both in terms of MSY or MEY.Key words: fish stock assessment, Gordon-Schaefer model, small scale of fisheries-------ABSTRAKStok sumberdaya ikan di suatu perairan laut selalu dinamis karena jumlah penangkapan ikan berubah setiap tahunnya. Konsekuensinya adalah bahwa dugaan stok ikan di suatu lokasi perairan juga berubah setiap tahunnya, tidak terkecuali di perairan pantai selatan Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk menduga status tingkat pemanfaatan stok udang oleh nelayan skala kecil di perairan pesisir Kabupaten Cilacap dengan tahun acuan 2012. Data produksi udang, data upaya penangkapan, data harga udang, dan data biaya per upaya penangkapan tahun 1999-2012 bersumber dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cilacap. Analisis kondisi tingkat pemanfaatan stok ikan dilakukan menggunakan model keseimbangan bioekonomi Gordon-Schaefer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumberdaya ikan laut di wilayah pesisir Kabupaten Cilacap telah berada pada kondisi lebih tangkap (overfishing) baik dari segi MSY maupun MEY.Kata kunci: pendugaan stok ikan, model Gordon-Schaefer, nelayan skala kecil

Aspek Ekologi Dan Pertumbuhan Ikan Bungo (Glossogobius Giuris, Hamilton–Buchanan 1822) Di Danau Tempe, Sulawesi Selatan

Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan No 5 (2018)
Publisher : Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.809 KB)

Abstract

Ikan bungo merupakan salah satu ikan endemik di Danau Tempe dan bernilai ekonomis tinggi yang mengalami penurunan populasi akibat tingginya tingkat eksploitasi dan perubahan kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ekologi habitat dan pertumbuhan ikan bungo di Danau Tempe. Ikan sampel ditangkap dengan menggunakan Jabba, yaitu alat tangkap yang berbentuk segi empat dari bahan jaring besi yang berfungsi sebagai perangkap ikan. Penelitian dilakukan pada bulan Juli hingga Desember 2013 pada 4 stasiun dengan karakteristik yang berbeda. Parameter penelitian ini meliputi kualitas air secara fisika dan kimia, serta data panjang dan bobot ikan. Hasil penelitian ini menunjukkan data kualitas air pada habitat ikan bungo di Danau Tempe adalah suhu berkisar antara 28–29.50C, kecerahan berkisar antara 40–70 cm, oksigen terlarut antara 6.5–7.5 ppm, karbondioksida terlarut antara 0.5–1.5 ppm, pH berkisar antara 6– 7.5 dan alkalinitas antara 68–104.89 mg/l. Berdasarkan hubungan panjang dan bobot pola pertumbuhan baik untuk ikan jantan maupun betina adalah alometrik negatif, dengan persamaan hubungan panjang–berat ikan jantan adalah W = 0.000055 L 2.6254, r = 0.935 dan ikan betina W = 0.000114 L 2.4726, r = 0.946. Nilai faktor kondisi relatif ikan jantan adalah 0.36–2.27, sedangkan ikan betina 0.54–2.58. Kata Kunci: Glossogobius giuris, ekologi, pertumbuhan, Danau Tempe. 

BIOLOGIGAL REPRODUCTIVE OF ESTUARINE FISH COMPARING BETWEEN DEMERSAL (LONG TONGUE SOLE, Cynoglossus lingua)AND PELAGICAL: (MUTACHED THRYSSA, Thryssa mystax) ASSEMBLAGES

Indonesian Fisheries Research Journal Vol 15, No 2 (2009): (December 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4836.129 KB)

Abstract

An investigation on biological reproductive of demersal (represented by the long tongue-sole, Cynoglossrrs lingua) and pelagic (represented by Thryssa mystax) marine fish was carrted out in Ujung Pangkah Estuary during 2005-2006 representing 12 months period, so that a yearly-rotlnd reproductive pattern is known.

KEANEKARAGAMAN HAYATI SUMBER DAYA IKAN DI ESTUARI SEGARA ANAKAN, CILACAP JAWA TENGAH

BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 1 (2015): (April 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.152 KB)

Abstract

Estuari Segara Anakan dikenal sebagai salah satu estuari yang potensial dan menjadi habitat penting dalam menyediakan ruang bagi beragam fauna akuatik, khususnya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikeanekaragaman sumber daya ikan di Estuari Segara Anakan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret - Juni 2014. Pengambilan contoh dilakukan di 4 zona, yaitu mulut estuari, muara sungai, paparan laguna, dan alur sungai berhutan mangrove. Spesimen ikan dikumpulkan dengan alat tangkap jaring apong, jaring kantong, jaring tek tek (tram-mel net), surungan, dan widey. Ikan yang terkumpul sebanyak 23.521 ekor, terdiri atas 45 famili dan 87 spesies yang didominasi oleh famili Ambassidae, Engraulidae, Leognathidae, Mugilidae, Atherinidae, dan Bagridae. Berdasarkan habitat yang didiami, spesies terbanyak ditemukan di mulut estuari sebanyak 55 spesies, 53 spesies ditemukan di laguna, 54 spesies di muara sungai, dan 50 spesies di alur sungai berhutan mangrove, dan 22 spesies ditemukan diseluruh tipe habitat. Keberadaan juvenil ikan sebagai bagian dari komposisi terbesar dari spesies menunjukkan peran ekologis penting estuari sebagai daerah pemijahan, asuhan dan pembesaran, serta sumber makanan.