Articles

Found 37 Documents
Search

Perubahan Ukuran Folikel Ovarium dan Kualitas Oosit Ikhwan, Nurul; Solihati, Nurcholidah; Rasad, Siti Darodjah; Widyastuti, Rini
Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran Vol 16, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.035 KB)

Abstract

Preservasi merupakan salah satu upaya penanganan ovarium untuk mempertahankankualitas oosit yang telah diambil dari tubuh ternak agar dapat dimanfaatkan untuk Fertilisasi InVitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu preservasi ovarium dombalokal terhadap ukuran folikel dan kualitas oosit. Sampel yang digunakan adalah ovarium domba lokal yang diperoleh dari tempat pemotongan hewan setempat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental, dengan pemberian tiga perlakuan dan enam kali ulangan yaitu: P1= preservasi ovarium pada suhu 37o-38oC selama 2 jam, P2= preservasi ovarium pada suhu 4o-5oC selama 11-12 jam, dan P3= preservasi ovarium pada suhu 4o-5oC selama 24-25 jam. Hasil penelitian menunjukan waktu preservasi ovarium memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap ukuran folikel kualitas oosit.Kata kunci: domba lokal , folikel, oosit, preservasi
Penguatan Kelompok Tani Ternak Kerbau dan Introduksi Teknologi Reproduksi untuk Peningkatan Produktivitas Kerbau Lumpur di Kelompok Tani Ternak Kerbau Warnasari Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon Widyastuti, Rini; Indika, Deru; Syamsunarno, Mas Rizky Anggun Adipurna; Budinuryanto, Dwi Cipto
Dharmakarya Vol 7, No 3 (2018): September
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Populasi kerbau di kelompok Tani Ternak Kerbau Warnasari Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon sekitar 328 ekor.  Walaupun telah terbentuk kelompok tani di wilayah tersebut belum dapat berfungsi secara optimal karena belum terbentuk struktur organisasi serta masih minimnya dinamika di dalam kelompok tersebut. Permasalahan lain yang dihadapi kelompok tersebut adalah terus menurunnya populasi kerbau disebabkan oleh rendahnya tingkat reproduksi kerbau, keterbatasan memanajemen ternak kerbau dan minimnya pengetahuan tentang aplikasi teknologi reproduksi. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan untuk penguatan kelompok budidaya kerbau, pengaktifan dinamika pada kelompok peternak kerbau, dan pengenalan teknologi reproduksi. Metode pengabdian yang dilakukan adalah melakukan pelatihan organisasi dan pengenalan teknologi reproduksi kepada kelompok ternak kerbau Warnasari. Kegiatan yang telah dilakukan penyuluhan dengan materi meliputi:  penguatan organisasi kelompok tani dan. pengenalan teknologi reproduksi dalam beternak kerbau.  Hasil yang dipeoleh adalah terbentuknya struktur organisasi dan meningkatnya pemahaman masyarakat dalam penerapan manajemen beternak kerbau seta aplikasi teknologi reproduksi untuk meningkatkan produktivitas kerbau.
Tingkat Pengetahuan dan Respon Peternak Kambing Perah terhadap Penyakit Hewan Studi Kasus: Kelompok Tani “Simpay Tampomas” Cimalaka, Sumedang Widyastuti, Rini; Wira, Dwi Wahyudha; Ghozali, Mohammad; Winangun, Kikin; Syamsunarno, Mas Rizky Anggun Adipurna
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.952 KB)

Abstract

Peternakan kambing perah merupakan mata pencaharian utama masyarakat Kecapatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang. Pengelolaan peternakan masih dilakukan dengan cara tradisiona, sehingga perlu dilakukan upaya peningkatkan pengetahuan kelompok peternak kambing perah mengenai pengelolaan manajemen kesehatan kambing perah serta mencegah terjadinya kerugian akibat dampak penyakit.  Salah satunya adalah melalui kegiatan penyuluhan mengenai penyakit-penyakit pada ternak terutama dari aspek klinis. Kegiatan diawali dengan survei lokasi, pemberian vitamin pada kambing perah, penyuluhan, pengisian kuesioner, pengolahan hasil kuesioner. Pada tahap akhir, dilakukan timbal balik (feedback) pada peternak atas hasil yang didapatkan dari pengobatan dan kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa tangka pengetahuan peternak terhadap penyakit hewan dan cara pencegahannya sudah cukup baik. Kasus yang banyak berkembang di daerahpeternakan tersebut adalh Scabies, mastitis dan Bloat dengan gejala umum berkurangnya nafsu makan dan demam. Peternak biasanya memberikan pertolongan pertama dengan memberikan air asam dan obat cacing. Berdasarkan hasil tersebut, dapat bahwa peternak telah memiliki tingkatpengetahuan penyakit yang baik tetapi belum memiliki pengetahuan untuk penangann penyakit secara memadai. 
Tingkat Pengetahuan Peternak Kambing Perah Terhadap Penyakit Zoonosis Studi kasus “Kelompok Tani ternak Sympay Tampomas” Cimalaka Hartady, Tyagita; Widyastuti, Rini; Ghozali, Mohammad
Dharmakarya Vol 7, No 3 (2018): September
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan antara peternak, hewan ternak, dan lingkungan sangat signifikan sehingga diperlukan studi untuk dapat mengetahui hubungan ketiga komponen tersebut terhadap penyakit zoonosis. Kegiatan diawali dengan menilai keadaan umum lingkungan peternakan dan kondisi kambing perah melalui tanya jawab berbagai faktor risiko timbulnya penyakit zoonosis, penyuluhan kepada peternak mengenai penyakit-penyakit yang umum menyerang kambing perah dan pentingnya pengelolaan kesehatan kambing perah. Sebanyak 75% peternak telah membuat kandang kambing dengan model panggung, beralas bambu, serta memiliki kisi-kisi di dindingnya untuk memudahkan perputaran udara, 25% kandang lainnya dibuat dengan model terbuka dan kambing langsung kontak dengan lantai. Jarak antar kandang di daerah ini umumnya tidak saling berdekatan. Di sisi lain, sejumlah 16,7 % peternak merupakan kelompok peternak berumur lebih dari 47 tahun dan beresiko tinggi terhadap infeksi penyakit. Sedangkan 16,7% peternak mengerti tentang penyakit zoonosis dari kambing ke manusia didukung dengan rendahnya upaya peternak dalam melakukan tindakan pencegahan terhadap infeksi zoonosis. Sebanyak 83,3% peternak cenderung tidak melakukan pencegahan terjadinya penyakit zoonosis. Mengenai perawatan kesehatan kambing, rata-rata 48% peternak tidak melakukan tindakan-tindakan pencegahan penyakit infeksi pada kambingnya. Kondisi ini berpotensi menyebabkan  kambing terjangkit penyakit dan tidak menutup kemungkinan menular ke ternak lainnya atau ke peternak.
Penyuluhan kesehatan reproduksi sapi perah pada peternak sapi perah di Cipageran, Cimahi, Jawa Barat Hartady, Tyagita; Widyastuti, Rini
ARSHI Veterinary Letters Vol 3, No 1 (2019): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cipageran, Cimahi city, West Java has a high population of dairy cattles and one of the suppliers of milk for the West Java region. However, there are limitations in farmers' knowledge about animal health, especially reproductive disorder. Data collection was carried out in the local dairy cattle farmer group. The method used were a pre-test on the reproductive health of dairy cattles, counseling on reproductive health and prevention of reproductive disorders, discussion related to the topic provided. Based on the results of the question and answer and discussion, information on the level of knowledge of the breeders' groups on the reproductive health of dairy cattles was obtained and efforts to prevent the emergence of reproductive disorders were good enough. However, the knowledge of farmers in order to prevent, handle and care for livestock is still lacking, so better support are needed.
The influence of experience and confidence on the health man-agement of dairy goat (Case study: “Simpay Tampomas Farmer Group” Village Cilengkrang, Cimalaka District of Sumedang, West Java-Indonesia) Hartady, Tyagita; Widyastuti, Rini
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 3 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dairy goat is profitable object since the productivity is relatively brief, easy in maintenance and does not require much investment. Dairy goat become one of the important commodity for farmers in the village Cilengkrang, Cimalaka District of Sumedang. This study used a qualitative approach where 18 farmers who become interviewees. Collected data were observed and compared with the evaluation on the participants’ routine. The majority farmers are depending on individual experiences and conclusions without related guidance and supported references of diseases and procedures in nurturing dairy goats (61.1%), while the rest are consulting the problem to the vet or the group (83,3%). Some of them used the conventional treatment. However, when the condition of sick animal never improved, only 83,3% of farmers who contact veterinarian and the rest would prefer sell the animal in the market. It can be concluded that the majority farmers in the village, has experienced to overcome certain diseases of dairy goats. Nevertheless, the knowledge and sources of supporting references are still limited that affect to the use of inappropriate traditional herbs or regular human medicines from nearby stalls is still relatively high, so the awareness and knowledge of breeders about health management of dairy goat of breeders needs to be improved.
Perbandingan Viabilitas Oosit Pascavitrifikasi pada Dua Tingkat Konsentrasi Sukrosa yang Berbeda Widyastuti, Rini; Khoirinaya, Candrani; Ridlo, M. Rosyid; Syamsunarno, Mas Rizky A. A
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vitrifikasi merupakan suatu teknik kriopreservasi tanpa disertai pembentukan kristal es, baik intraseluler maupun ekstraseluler. Tingkat keberhasilan vitrifikasi sangat dipengaruhi oleh jenis dan konsentrasi krioprotektan yang digunakan. Sukrosa merupakan krioprotektan ekstraseluler yang mempunyai peranan dalam menjaga kestabilan membran sel pada saat proses dehidrasi. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji efek penambahan sukrosa dalam dua level konsentrasi yang berbeda pada morfologi dan persentase hidup oosit pascavitrifikasi dengan menggunakan oosit domba yang telah dimatangkan secara in vitro sebagai model. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Bioteknologi, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran periode September 2016–Desember 2016. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua kelompok perlakuan, yaitu penambahan 0,5 M sukrosa atau 0,65 M sukrosa pada media vitrifikasi. Parameter yang diamati adalah persentase oosit hidup dan morfologi oosit yang mati pascavitrifikasi-pencairan kembali. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa persentase oosit hidup pascavitrifikasi meningkat 20% setelah penambahan sukrosa 0,65M. Fraktur zona pelusida merupakan kerusakan morfologi yang banyak ditemukan pada oosit yang divitrifikasi dengan penambahan 0,5 M sukrosa dalam larutan vitrifikasi. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa penambahan sukrosa 0,65 M sebagai krioprotektan ekstraseluler meningkatkan peluang hidup oosit setelah proses vitrifikasi. Kata kunci: Krioprotektan, morfologi oosit, sukrosa, vitrifikasiComparison of Oocyte Viability after Vitrification with Two Different Sucrose Concentration LevelVitrification is a cryopreservation technique without the formation of ice crystals, both intracellular and extracellular. The success of vitrification depends on the type and concentration of cryoprotectants.  Sucrose is one of the extracellular cryoprotectants that play a role in maintaining cell membrane during dehydration process. The purpose of this study was to examine the effect of the addition of two different sucrose concentration levels on the morphology and viability of oocyte after vitrification using matured sheep oocytes as a model. This study was conducted at the Research and Biotechnology Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Universitas Padjadjaran during September–December 2016. The oocytes were randomly assigned into groups with two different concentrations of sucrose in vitrification media: i.e. 0.5 M and 0.65 M. The parameters observed were the percentage of live oocytes and the dead oocyte morphology after vitrification-thawing.  The results showed that the percentage of live matured oocytes post-vitrification increased by 20% after the addition of 0.65M sucrose. Fracture of pellucida zone was the major finding in the post-vitrification dead oocytes  in 0.5 M sucrose group. This indicates that vitrification using 0.65M sucrose as extracellular cryoprotectant presents a higher oocyte survival after vitrification-thawing. Key words: Cryoprotectant, oocytes morphology, sucrose, vitrification
Perbandingan Viabilitas Oosit Domba Pasca Vitrifikasi dengan Menggunakan Hemistraw dan Cryotop Winangun, Kikin; Widyastuti, Rini; Adipurna Syamsunarno, Mas Rizky Anggun
Jurnal Agripet Vol 17, No 2 (2017): Volume 17, No. 2, Oktober 2017
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.681 KB)

Abstract

ABSTRAK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji efek vitrifikasi dengan menggunakan dua buah system carrier yang berbeda terhadap viabilitas oosit domba yang telah dimaturasi secara in vitro. Oo­sit dibagi menjadi dua kelompok perlakuan, yaitu (i) divitrifikasi dengan menggunakan hemistraw (ii) divitrifikasi dengan menggunakan cryotop. Viabilitas oosit dievaluasi berdasarkan reekspansi, warna dan homogenitas sitoplasma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa viabilitas oosit setelah vi­trifikasi serupa pada kedua jenis carrier yang digu­nakan untuk vitrifikasi. Oosit diletakkan dalam larutan equilibrasi yang mengandung konsentrasi permeable kriopro­tektan setengah dari larutan vitrifikasi. Se­telah 15 menit, oosit ditransfer ke dalam media vitrifikasi yang mengandung 17% EG+17% DMSO +0, 65M sukrosa di dalam modified PBS yang dis­uplementasi dengan 20% fetal bovine serum. Total waktu yang digunakan untuk memaparkan oosit ke dalam laru­tan vitrifikasi adalah 30 detik. 5-8 oosit dipipet menggunakan kapiler gelas dan diletak­kan/loading ke dalam carrier yang digunakan (hemistraw atau cryotop) kemudian langsung di paparkan ke dalam nitrogen cair. Viabilitas oosit dievaluasi berdasarkan reekspansi, warna dan homogenitas sitoplasma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa viabilitas oosit setelah vi­trifikasi serupa pada kedua jenis carrier yang digu­nakan untuk vitrifikasi(Comparation of sheep oocyte viability after vitrification using hemistraw and cryotop)ABSTRACT. The aim of this study was to examine the effect vitrification using two different carrier system on the matured sheep oocytes viability. Oocytes were devided into two group (i) vitrified using hemistraw (ii) vitrified using cryotop. Oocytes placed into equilibration solution which is containing a half concentration permeable cryoprotectant of vitrification solution. After 15 minute, oocytes were transferred into vitri­fication solution containing 17% EG+17% DMSO +0, 65M sucrose in modified PBS supplemented with 20% fetal bovine serum. The total exposure time of oocytes to vitrification solution was 30 sec. Oocytes were pipetted into a glass capillary into group 5-8, and loaded into carrier (hemistraw or cryotop) then plugged into liquid nitrogen. After a week cryopreservation, oocytes were warmed and cultured in TCM 199 suplemented with 10% fetal bovine serum at 38.50 C under 5% CO2 for 3h. Oo­cytes viability was evaluated by re expansion, color and homogeneity of oocyte cytoplasm. Our results indicated that the oocytes viability after vitrification was similar from both of carrier for vitrification
Pregnancy Rate after Intrauterine Insemination with the Presence or Absence of Leukocytospermia in Sperms Prepared using Density Gradient Method Widyastuti, Rini; Pangayoman, Julius; Riyanti, Aida; Lubis, Alkaustariyah; Syamsunarno, Mas Rizky Anggun Adipurna
International Journal of Integrated Health Sciences VOL 6, NO 2 September (2018)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: To examine the association between different concentrations of leukocyte and sperm recovery rate after sperms are prepared using density gradient method and pregnancy rate after intrauterine insemination (IUI). Increased leukocytes in semen have been associated with increased reactive oxygen species (ROS) that reduces sperm quality.Methods: Semen samples that were collected from 31 male partners of couples undergoing infertility investigation were analyzed for sperm concentration, motility, and leucocytes concentration. Semen samples were then divided in two groups based on their leucocytes concentrations (category A: >0 to <1 × 106/mL; category B: >1 x 106/mL. Semen samples were processed using density-gradient centrifugation technique. Results: There was a significant difference in the number of sperms harvested and sperm motility after preparation. Interestingly, pregnancy rate after IUI was higher (p<0.05) in non-leukocytospermia semen (39%) when compared to leukocytospermia semen (30%).Conclusions: Seminal leukocytes (PMNL) concentration affects pregnancy rate after intrauterine insemination. Keywords: Density gradient method, sperm recovery rate, intrauterine insemination, pregnancy rate DOI: 10.15850/ijihs.v6n2.1318
Tingkat Pengetahuan dan Respon Peternak Kambing Perah terhadap Penyakit Hewan Studi Kasus: Kelompok Tani “Simpay Tampomas” Cimalaka, Sumedang Widyastuti, Rini; Wira, Dwi Wahyudha; Ghozali, Mohammad; Winangun, Kikin; Syamsunarno, Mas Rizky Anggun Adipurna
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.952 KB)

Abstract

Peternakan kambing perah merupakan mata pencaharian utama masyarakat Kecapatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang. Pengelolaan peternakan masih dilakukan dengan cara tradisiona, sehingga perlu dilakukan upaya peningkatkan pengetahuan kelompok peternak kambing perah mengenai pengelolaan manajemen kesehatan kambing perah serta mencegah terjadinya kerugian akibat dampak penyakit.  Salah satunya adalah melalui kegiatan penyuluhan mengenai penyakit-penyakit pada ternak terutama dari aspek klinis. Kegiatan diawali dengan survei lokasi, pemberian vitamin pada kambing perah, penyuluhan, pengisian kuesioner, pengolahan hasil kuesioner. Pada tahap akhir, dilakukan timbal balik (feedback) pada peternak atas hasil yang didapatkan dari pengobatan dan kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa tangka pengetahuan peternak terhadap penyakit hewan dan cara pencegahannya sudah cukup baik. Kasus yang banyak berkembang di daerahpeternakan tersebut adalh Scabies, mastitis dan Bloat dengan gejala umum berkurangnya nafsu makan dan demam. Peternak biasanya memberikan pertolongan pertama dengan memberikan air asam dan obat cacing. Berdasarkan hasil tersebut, dapat bahwa peternak telah memiliki tingkatpengetahuan penyakit yang baik tetapi belum memiliki pengetahuan untuk penangann penyakit secara memadai.