Rinidar -, Rinidar
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

ANALISIS PROKSIMAT KADAR LEMAK IKAN NILA YANG DIBERI SUPLEMENTASI DAUN JALOH YANG DIKOMBINASI DENGAN KROMIUM DALAM PAKAN SETELAH PEMAPARAN STRES PANAS

Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.35 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar proksimat lemak pada ikan nila yang diberi suplemen tepung daun jaloh yang dikombinasi kromium dan dipapar stres panas. Sebanyak 30 ekor ikan nila dengan panjang 1,3-1,5 cm, dibagi menjadi enam perlakuan dengan lima kali ulangan yang terdiri atas pakan komersil pada suhu 29±1° C (P1S1), pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh pada suhu 29±1° C(P2S1), pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh dan kromium suhu pada 29±1° C (P3S1), pakan komersil pada suhu 35±1°C (P1S2), pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh pada suhu 35±1° C (P2S2), dan pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh dan kromium pada suhu 35±1° C (P3S2). Setelah 15 hari, dihitung kadar proksimat lemak menggunakan metode Soxhlet dan Folsch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan kadar proksimat lemak menurun. Berdasarkan uji statistik rancangan acak lengkap faktorial menunjukkan adanya pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) oleh suhu dan pakan serta interaksi suhu dengan pakan juga berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar proksimat lemak. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pakan komersil yang dikombinasikan daun jaloh dengan kromium dapat menurunkan kadar proksimat lemak ikan nila yang terpapar stres panas.

STUDI INTERAKSI KURKUMIN-ARTEMISIN DAN TURUNANNYA TERHADAP RESEPTOR SARCOENDOPLASMA RETICULUM Ca+2 SECARA IN SILICO

Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 2 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.775 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan memodelkan interaksi molekuler enzim Sarcoendoplasmic Reticulum Ca+ (SERCA) oleh kurkumin-artemisin dan turunannya secara in silico. Penelitian ini menggunakan 10 senyawa obat yaitu kurkumin, analog 1, analog 2, analog 3, analog 4, artemisin, dihidroartemsin, artemeter, artesunat dan ATP. Senyawa penambatan yang digunakan adalah 2EAS yang didapat dari situs Protein Data Bank (PDB). Senyawa ujinya yaitu kurkumin, analog 1, analog 2, analog 3, analog 4, artemisin, dan turunannya. Semua ditambatkan menggunakan aplikasi ArgusLab 4.0.1. Proses penambatan dilakukan dengan metode ArgusDock. Hasil analisa menunjukkan semua senyawa uji mampu berikatan dengan reseptor SERCA. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa kurkumin dan analognya mampu menghambat  ikatan ATPreseptor secara kompetitif yang ditandai dengan energi Gibs (ΔG) yang lebih besar. Hal ini menunjukkan ikatan kurkumin dan analognya lebih stabil daripada ikatan ATP terhadap reseptornya, sedangkan artemisin dan turunannya mampu berikatan dengan SERCA pada site binding domain ion FePenelitian ini bertujuan memodelkan interaksi molekuler enzim Sarcoendoplasmic Reticulum Ca+ (SERCA) oleh kurkumin-artemisin dan turunannya secara in silico. Penelitian ini menggunakan 10 senyawa obat yaitu kurkumin, analog 1, analog 2, analog 3, analog 4, artemisin, dihidroartemsin, artemeter, artesunat dan ATP. Senyawa penambatan yang digunakan adalah 2EAS yang didapat dari situs Protein Data Bank (PDB). Senyawa ujinya yaitu kurkumin, analog 1, analog 2, analog 3, analog 4, artemisin, dan turunannya. Semua ditambatkan menggunakan aplikasi ArgusLab 4.0.1. Proses penambatan dilakukan dengan metode ArgusDock. Hasil analisa menunjukkan semua senyawa uji mampuberikatan dengan reseptor SERCA. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa kurkumin dan analognya mampu menghambat  ikatan ATPreseptor secarakompetitif yang ditandai dengan energi Gibs (ΔG) yang lebih besar. Hal ini menunjukkan ikatan kurkumin dan analognya lebih stabil daripada ikatan ATP terhadap reseptornya, sedangkan artemisin dan turunannya mampu berikatan dengan SERCA pada site binding domain ion Fe+2

EFEK EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) TERHADAP PERKEMBANGAN SEL SPERMATID TIKUS (Rattus norvegicus)

Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.466 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek pemberian ekstrak daun pegagan terhadap perkembangan sel spermatid tikus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola one way analysis of varian (ANOVA). Tikus yang digunakan adalah tikus jantan berumur 3,5 bulan dengan bobot badan 150-250 g sebanyak 12 ekor tikus. Tikus-tikus tersebut dikelompokkan menjadi empat kelompok perlakuan dengan masing-masing tiga ulangan. Kelompok pertama merupakan kelompok kontrol (K0) yang tidak diberi perlakuan, sedangkan kelompok K1, K2, dan K3 diberi perlakuan berupa ekstrak daun pegagan dengan dosis bertingkat, yaitu 125, 250, dan 500 mg/kg bobot badan selama 30 hari. Pada akhir perlakuan, tikus dikorbankan dengan diberi eter, lalu testis dinekropsi untuk selanjutnya dibuat preparat histologis.Preparat histologis diwarnai dengan pewarnaan periodic acid Schiff (PAS) untuk mengetahui perkembangan sel spermatid dengan cara mendeteksi karbohidrat netral pada tudung akrosom sel spermatid tersebut. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rataan jumlah sel spermatid mengalami penurunan dibandingkan kontrol (K0). K0 mempunyai rataan jumlah sel spermatid tertinggi yaitu 308,00±56,33; diikuti oleh K1 yaitu 234,38±19,81; K2 yaitu 218,50±5,48; dan K3 yaitu 208,05±27,35. Hasil uji statistikmenunjukkan adanya pengaruh yang signifikan (P<0,05) antara dosis dan rataan jumlah sel spermatid antara K0 dengan K2 dan K0 dengan K3. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun pegagan dapat mengurangi laju perkembangan sel spermatid tikus.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica(L.) Urban) TERHADAP KONSENTRASI TESTOSTERON PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus)

Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.981 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun pegagan terhadap konsentrasi testosteron pada tikus putih jantan.  Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola one way analysis of varian (ANOVA). Tikus yang digunakan adalah tikus jantan berumur 3-3,5 bulan dengan berat badan 150-250 g sebanyak 12 ekor. Tikus-tikus tersebut dikelompokkan menjadi empat kelompok perlakuan dengan masing-masing tiga ulangan. Kelompok pertama yang merupakan kelompok kontrol (K0) diberikan pakan komersil (T794P, Pokphand), kelompok K1, K2, dan K3 diberi pakan dan ekstrak daun pegagan dengan dosis bertingkat yaitu 125, 250, dan 500 mg/kg bobot badan selama 30 hari. Pada akhir perlakuan, diambil darah tikus sebanyak 1-2 ml pada vena orbitalis lalu disentrifus sehingga diperoleh plasma darah. Konsentrasi testosteron dalam plasma darah diperiksa dengan menggunakan metode enzim-linked immunosorbent assay (ELISA). Data dianalisis dengan ANOVA. Rataan konsentrasi testosteron pada K0; K1; K2; dan K3 masing-masing 4,66±1,93; 4,28±3,70; 4,01±4,93; dan 3,71±0,83.Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ekstrak daun pegagan tidak berpengaruh terhadap konsentrasi testosteron (P>0,05).

ANALISIS PROKSIMAT KADAR KOLESTEROL IKAN NILA YANG DIBERI SUPLEMEN DAUN JALOH DAN DIKOMBINASI DENGAN KROMIUM DALAM PAKAN SETELAH PEMAPARAN STRES PANAS

Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.915 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar proksimat kolesterol ikan nila yang diberi suplemen tepung daun jaloh yang dikombinasikan dengan kromium dan diberi pemaparan stres panas. Sebanyak 30 ekor ikan nila dengan panjang 1,3-1,5 cm, dibagi menjadi enam perlakuan dengan lima kaliulangan yang terdiri dari pakan komersil pada suhu 29±1° C (P1S1), pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh pada suhu 29±1º C (P2S1), pakan komersil yang dikombinasikan dengan tepung daun jaloh dan kromium suhu pada 29±1º C (P3S1), pakan komersil pada suhu 35±1° C (P1S2), pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh pada suhu 35±1° C (P2S2), dan pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh dan kromium pada suhu 35±1° C (P3S2). Setelah 22 hari, kadar proksimat kolesterol dihitung dengan menggunakan metode Liebermann-Burchad. Rata-rata kadar kolesterol ikan nila setelah diberikan perlakuan adalah P1S1 (1,125±0,086), P2S1 (1,007±0,015), P3S1 (0,763±0,026), P1S2 (1,190±0,0115), P2S2 (0,679±0,016), dan P3S2 (0,974±0,018). Hasil statistik menunjukkan bahwa kombinasi pakan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar kolesterol ikan nila. Pemberian kombinasi pakan dapat menurunkan kadar kolesterol ikan nila. Kesimpulan, pakan komersil yang dikombinasikan daun jaloh dengan kromium dapat menurunkan kadar kolesterol ikan nila yang terpapar stres panas.

NILAI INHIBITION CONCENTRATION (IC50) EKSTRAK METANOL DAUN SERNAI (Wedelia biflora) TERHADAP Plasmodium falciparum YANG DIINKUBASI SELAMA 32 dan 72 JAM

Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 1 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.143 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menilai  aktivitas antiplasmodium ekstrak metanol daun Wedelia biflora terhadap Plasmodium falciparum pada ikubasi 32 dan 72 jam secara in vitro. Kultur Plasmodium  menggunakan metode candle jar dan uji aktivitas antiplasmodium dilakukan dengan metode mikrokultur seacara in vitro. Aktivitas antiplasmodium dinyatakan dengan nilai inhibition concentration (IC50) yaitu   kemampuan menghambat 50% pertumbuhan Plasmodium.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa  nilai IC50  pada kultur selama 32 dan 72 jam berturut-turutsebesar 5,253 dan 276,142 µg/ml. Disimpulkan bahwa ekstrak dari daun sernai (Wedelia biflora) mempunyai aktivitas sebagai antiplasmodium dan daya kerjanya paling baik pada kultur 32 jam.