Aswandi Aswandi, Aswandi
Graduate School of Gadjah Mada University, Jl. Agro No. 1, Yogyakarta Indonesia 55281

Published : 31 Documents
Articles

Found 31 Documents
Search

COMMON STUDENTS’ GRAMMATICAL ERRORS IN ARGUMENTATIVE ESSAY WRITING Zahraa, Safra Apriani; Aswandi, Aswandi
INOVISH JOURNAL Vol 1, No 1 (2016): INOVISH JOURNAL, Vol. 1, No. 1, June 2016
Publisher : INOVISH JOURNAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.655 KB)

Abstract

Abstract: Grammar is one of important aspects in learning English. Most students faced difficulties in applying correct grammar in their writing. This study aimed to find out common students’ grammatical error in writing. This research was a descriptive research. This study showed that the most common students’ grammatical error is in the use of preposition with the percentage 36.8%. The error was commonly caused by the interference from their first language (interlanguage error) and the students’ problems inherent within the target language. Keywords : Grammar, Errors
PERSEPSI LEMBAGA STRATEGIS TERHADAP KRITERIA DAN INDIKATOR PENGELOLAAN HUTAN ALAM PRODUKSI LESTARI Aswandi, Aswandi; Harahap, Rusli MS
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.822 KB) | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.1.1-12

Abstract

Penelitian ini  bertujuan untuk  mendapatkan informasi tentang persepsi dari berbagai lembaga strategis terhadap  setiap  kriteria  indikator Pengelolaan Hutan  Alam Produksi  Lestari (PHAPL),  hasil  pengujian penerapan kriteria dan indikator, permasalahan yang muncul, dan hasil perumusan berbagai strategi pengelolaan hutan lestari. Hasil menunjukkan bahwa pemenuhan kriteria prasyarat memiliki bobot tertinggi terhadap pencapaian pengelolaan hutan lestari khususnya indikator kepastian kawasan unit manajemen. Disadari oleh masing-masing stakeholder bahwa kepastian status unit manajemen merupakan dasar dari kepastian pengusahaan hutan dan ketidakpastian, hal ini merupakan akar dari konflik yang terjadi antara masyarakat dengan pemegang konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Masalah ini juga diakibatkan oleh tidak terakomodasikannya kepentingan masyarakat terhadap sumberdaya hutan. Oleh karena itu strategi pemecahannya harus diarahkan pada penetapan kepastian kawasan, perbaikan pasar perkayuan (termasuk pengatasan illegal trade), dan pengikursertaan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan hutan. Dalam implementasi penilaian kriteria dan indikator PHAPL, mekanisme penilaian yang terlalu spesifik dan kaku cenderung menyulitkan penilai untuk mengakomodasikan dinamika perubahan yang terjadi dan juga cenderung lebih bersifat teknis  prosedural, sehingga diperlukan perumusan kembali  terutama berkaitan dengan berbagai aspek gangguan dan kondisi spesifik hutan alam produksi.
FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEKRITISAN DAN PENGEMBANGAN KRITERIA INDIKATOR KEKRITISAN EKOSISTEM GAMBUT TROPIKA DI TRUMON DAN SINGKIL PROVINSI ACEH (Determinant Factors of Criticality and Development Criteria Indicators for Critical Tropical Peat Ecosystem in Tr Aswandi, Aswandi; Sadono, Ronggo; Supriyo, Haryono; Hartono, Hartono
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKHutan rawa gambut merupakan salah satu ekosistem spesifik dan kompleks. Terbatasnya pemahaman terhadap karakteristik biofisik dan sifat kritisnya menjadi akar masalah degradasi ekosistem gambut di Indonesia. Generalisasi penerapan kriteria lahan kritis menyebabkan penilaian menjadi tidak tepat, sehingga program rehabilitasi menjadi tidak efektif. Tujuan penelitian adalah menentukan faktor-faktor biofisik yang mempengaruhi tingkat kekritisan ekosistem gambut, dan mengembangkan kriteria dan klasifikasi tingkat kekritisan ekosistem gambut. Pengumpulan data dilaksanakan pada berbagai tipe penutupan hutan dan tingkat keterbukaan lahan gambut di Trumon dan Singkil, Provinsi Aceh. Analisis data meliputi analisis korelasi bivariat, analisis gerombol, dan analisis diskriminan. Karakteristik biofisik yang diukur adalah dinamika kedalaman muka air tanah, penurunan permukaan tanah, tingkat dekomposisi, unsur hara, kehilangan karbon, dan penutupan lahan. Hasil penelitian menunjukkan perubahan penutupan lahan dan pembangunan drainase mempengaruhi tingkat kekritisan ekosistem gambut. Perubahan tingkat dekomposisi gambut (nisbah C/N), perubahan kemasaman (pH) dan dinamika kedalaman muka air tanah merupakan penciri penting tingkat kekritisan ekosistem gambut. Ketiga faktor penciri ini diharapkan menjadi masukan dalam penyempurnaan kriteria tingkat kekritisan lahan pada Permenhut No. P.32/Menhut-II/2009 terutama pada ekosistem gambut.ABSTRACTPeat swamp forest is one specific and complex ecosystem. The limited understanding of the biophysical characteristics and critical properties are some root of problems peat ecosystem degradation in Indonesia. Generalizing in application of critical land criterions caused incorrect assessment, therefore the rehabilitation and management programs became ineffective. The objectives of the study was to determine the biophysical factors that influence the degree of criticality of peat ecosystem, and to develop criterion and classification of the criticality degree on peat ecosystem. Data collection was conducted on variety of forest cover types in Trumon and Singkil, Aceh Province. Data analysis included bivariate correlation analysis, analysis of clusters, and discriminant analysis. Biophysical characteristics were measured including the dynamics of the depth of the water table, rate of subsidence, level of decomposition, nutrient content, loss of carbon, and land/forest cover. Results showed land use change and drainage affects the critical level of peatland ecosystems. The change on level of peat decomposition (C/N ratio), soil acidity (pH) and groundwater dynamics were the identifier of critical peatland ecosystems. In addition to the criteria in Regulation No. P.32 / Menhut-II/2009, the identifier factors were expected to be considered in the refinement of the criteria of the critical level of peat ecosystem.
GROWTH AND YIELD OF Eucalyptus grandis HILL EX MAIDEN AT AEK NAULI SIMALUNGUN NORTH SUMATRA Aswandi, Aswandi
Widyariset Vol 14, No 2 (2011): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.292 KB)

Abstract

Sustainable forest management need an effective yield regulation. This is depend on precision of growth  and yield prediction on determination of rotation, harvesting intensity, thinning regime and another silviculture option. The objective of the study was to develop growth and yield model and defi ned optimum cutting rotation for Eucalyptus grandis Hill ex Maiden timber estate at Aek Nauli Simalungun North Sumatra. Current growth estimation and yield prediction models were studied using data from 15 permanent sampling plots. Data from annual measurement were used to formulate the models which include stand diameter and height function, basal area and stand volume function. Site quality was calculated using site index equation SI = H*{(1+10.03*e)/(1+10.03*e. This equation was developed based on relationship dominant height with stand age. Site index in that region have varies from 18.99 to 35.26. According on interception of curva Current Annual Increment (CAI) and Mean Annual Increment (MAI) were defi ned optimum cutting rotation at 6 year. Volume yield at this end rotation is 165,24 m -0.59*1/83/hawith MAI (Mean Annual Increment) 27,54 m /ha/yr. Yield prediction model were developed by regression analysis. The optimum of equations of mean of diameter, height, basal area and stand volume showed as follow: a. Stand dbh model : ln D = 0.743 + 0.363 ln A + 0.142 lnS + 0.313 ln B; b. Stand mean height model: lnH = - 0.206 + 0.247 lnA + 0.100 lnB + 0.822 lnS; c. Volume yield model : ln V = - 1.96 + 0.526 ln A + 0.548ln B + 1.38 ln S. Where D : dbh (cm), H: mean height (h), V : stand volume (m33 ha), A : age (yr), B: basal area (m), and S : site index. 2-1-0.59A
MODEL ANALISIS SISTEM DINAMIKA PERTUMBUHAN DAN PENGATURAN HASIL HUTAN RAWA BEKAS TEBANGAN DI RIAU Aswandi, Aswandi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.658 KB) | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.3.239-249

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model analisis sistem dinamika struktur tegakan dan pengaturan hasil hutan rawa tidak seumur di Riau. Model disusun berdasarkan pada seri data petak ukur permanen di hutan alam bekas tebangan pada kawasan pengusahaan hutan PT. Diamond Raya Timber, Provinsi Riau. Dinamika struktur tegakan terdiri atas ingrowth, upgrowth, dan mortality. Model yang dibangun didasarkan pada kelompok jenis (Dipterocarpaceae, non-Dipterocarpaceae, dan non-komersial). Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan siklus tebang 35 tahun, tegakan pada siklus tebang kedua belum mencapai kondisi semula. Memperpanjang siklus tebang hingga 40 tahun atau menurunkan limit diameter hingga kelas diameter 40 cm merupakan alternatif untuk menjaga kelestarian hasil. Siklus tebang yang semakin panjang ini juga didukung oleh riap diameter yang lebih kecil dari satu cm/tahun yang menjadi dasar penetapan siklus tebang 35 tahun.
MODEL SIMULASI PENJARANGAN HUTAN TANAMAN EKALIPTUS Aswandi, Aswandi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.746 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan model hipotetis penjarangan hutan tanaman jenis ekaliptus (Eucalyptus  grandis  Hill  ex  Maiden)  berdasarkan  pendekatan  analisis  sistem.  Pada  saat  ini  di  lokasi penelitian kegiatan penjarangan belum dilakukan karena orientasi pengusahaan masih pada hasil biomassa. Model sistem yang dibangun digunakan untuk mengetahui waktu dan intensitas penjarangan yang optimal. Berdasarkan simulasi terhadap berbagai skenario preskripsi penjarangan, intensitas penjarangan 25 % dengan rotasi penjarangan 15 tahun memberikan hasil maksimal sebesar 40,7 m3 per ha per tahun atau 610,5 m3 per ha tegakan dengan rata-rata diameter 39,0 cm. Hasil total tersebut diperoleh dari kegiatan penjarangan sebesar 80,1 m3  per ha dan hasil tebangan akhir daur sebesar 530,4 m3  per ha. Model yang dibangun merupakan model hipotetis sehingga validasi sangat perlu dilakukan dengan membangun petak ukur penjarangan di lapangan. 
MODEL ANALISIS SISTEM DINAMIKA PERTUMBUHAN DAN PENGATURAN HASIL HUTAN RAWA BEKAS TEBANGAN DI RIAU Aswandi, Aswandi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.658 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model analisis sistem dinamika struktur tegakan dan pengaturan hasil hutan rawa tidak seumur di Riau. Model disusun berdasarkan pada seri data petak ukur permanen di hutan alam bekas tebangan pada kawasan pengusahaan hutan PT. Diamond Raya Timber, Provinsi Riau. Dinamika struktur tegakan terdiri atas ingrowth, upgrowth, dan mortality. Model yang dibangun didasarkan pada kelompok jenis (Dipterocarpaceae, non-Dipterocarpaceae, dan non-komersial). Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan siklus tebang 35 tahun, tegakan pada siklus tebang kedua belum mencapai kondisi semula. Memperpanjang siklus tebang hingga 40 tahun atau menurunkan limit diameter hingga kelas diameter 40 cm merupakan alternatif untuk menjaga kelestarian hasil. Siklus tebang yang semakin panjang ini juga didukung oleh riap diameter yang lebih kecil dari satu cm/tahun yang menjadi dasar penetapan siklus tebang 35 tahun.
PERSEPSI LEMBAGA STRATEGIS TERHADAP KRITERIA DAN INDIKATOR PENGELOLAAN HUTAN ALAM PRODUKSI LESTARI Aswandi, Aswandi; Harahap, Rusli MS
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.822 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini  bertujuan untuk  mendapatkan informasi tentang persepsi dari berbagai lembaga strategis terhadap  setiap  kriteria  indikator Pengelolaan Hutan  Alam Produksi  Lestari (PHAPL),  hasil  pengujian penerapan kriteria dan indikator, permasalahan yang muncul, dan hasil perumusan berbagai strategi pengelolaan hutan lestari. Hasil menunjukkan bahwa pemenuhan kriteria prasyarat memiliki bobot tertinggi terhadap pencapaian pengelolaan hutan lestari khususnya indikator kepastian kawasan unit manajemen. Disadari oleh masing-masing stakeholder bahwa kepastian status unit manajemen merupakan dasar dari kepastian pengusahaan hutan dan ketidakpastian, hal ini merupakan akar dari konflik yang terjadi antara masyarakat dengan pemegang konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Masalah ini juga diakibatkan oleh tidak terakomodasikannya kepentingan masyarakat terhadap sumberdaya hutan. Oleh karena itu strategi pemecahannya harus diarahkan pada penetapan kepastian kawasan, perbaikan pasar perkayuan (termasuk pengatasan illegal trade), dan pengikursertaan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan hutan. Dalam implementasi penilaian kriteria dan indikator PHAPL, mekanisme penilaian yang terlalu spesifik dan kaku cenderung menyulitkan penilai untuk mengakomodasikan dinamika perubahan yang terjadi dan juga cenderung lebih bersifat teknis  prosedural, sehingga diperlukan perumusan kembali  terutama berkaitan dengan berbagai aspek gangguan dan kondisi spesifik hutan alam produksi.
Performance of Broiler Fed on Commercial Ration Containing Banana Tuber Meals Aswandi, Aswandi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.65 KB)

Abstract

Feedstuff availability is one of the problems in the poultry meat production system, which uses corn as the main energy source in the ration. One of the alternative solutions is to identify the feedstuff that has potential, qualitative and quantitative, to substitute it. Banana tuber contains high carbohydrate and low fiber components so that it can be used as energy source in the ration. The aim of research was to compare the benefit between the ration containing banana tuber meals, which was provided from batu and kapok banana tuber, and the commercial broiler ration. One hundred and ninety two of broiler chicks were raised for 30 days and were randomly allotted to one of four treatment diets according to completely randomized design with four replications for each treatment. The experimental rations were P0 (control, 100%of commercial feed), P1 (60% of commercial feed + 30% of banana tuber meal + 10% fish meal), P2 (70% of commercial feed + 20% of banana tuber meal + 10% fish meal), and P3 (80% of commercial feed + 10% of banana tuber meal + 10% fish meal).The results of the study indicated that the average body weight gain was 58.75, 54.65, 51.95, and 48.68 g/d for the treatment P0, P1, P2, and P3, respectively. In conclusion, the use of 30% banana tuber meals in the commercial feed mixtures does not deteriorate the performance (daily gain) of the broiler.
MODEL SIMULASI PENJARANGAN HUTAN TANAMAN EKALIPTUS Aswandi, Aswandi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.2.195-209

Abstract

Penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan model hipotetis penjarangan hutan tanaman jenis ekaliptus (Eucalyptus  grandis  Hill  ex  Maiden)  berdasarkan  pendekatan  analisis  sistem.  Pada  saat  ini  di  lokasi penelitian kegiatan penjarangan belum dilakukan karena orientasi pengusahaan masih pada hasil biomassa. Model sistem yang dibangun digunakan untuk mengetahui waktu dan intensitas penjarangan yang optimal. Berdasarkan simulasi terhadap berbagai skenario preskripsi penjarangan, intensitas penjarangan 25 % dengan rotasi penjarangan 15 tahun memberikan hasil maksimal sebesar 40,7 m3 per ha per tahun atau 610,5 m3 per ha tegakan dengan rata-rata diameter 39,0 cm. Hasil total tersebut diperoleh dari kegiatan penjarangan sebesar 80,1 m3  per ha dan hasil tebangan akhir daur sebesar 530,4 m3  per ha. Model yang dibangun merupakan model hipotetis sehingga validasi sangat perlu dilakukan dengan membangun petak ukur penjarangan di lapangan