Articles

Found 26 Documents
Search

Mitigasi Beban Fosfor dari Kegiatan Budidaya dengan Penebaran Ikan Bandeng (Chanos chanos) Di Waduk Cirata, Jawa Barat Warsa, Andri; Haryadi, Joni; Astuti, Lismining Pujiyani
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v19i2.2669

Abstract

ABSTRACTThe phosphorus loading from aquaculture activity as a product of floating net cages (KJA) in Cirata Reservoir have exceeded the carrying capacity of the aquatic ecology. This results in a decrease in water quality which is characterized by uncontrolled phytoplankton growth. The stocking of fish is one of the ways used in the improvement of the aquatic environment resulting eutrophication. Phosphorus which is wasted from cultivation activity will be utilized by phytoplankton for its growth. The phytoplankton can be utilized by planktivorous fish as its natural feed. One type of fish that can be used for stocking is a planktivora fish as milkfish (Chanos chanos). The purpose of this study was to estimate the load of phosphorus and calculate the number of milkfish seeds which are planktivorous fish that can be stocked with the aim of reducing phosphorus waste from aquaculture activities in Cirata Reservoir, West Java. The result showed that P load from cultivation activity at Cirata Reservoir was 1,206 tons/year. The concentration of chlorophyll-a and the primary productivity produced by the P load from the cultivation activities were 28.6 mg/m3 and 364.6 gC/m2/year respectively. The number of milkfish seeds that can be stocked as an effort to utilize the load of phosphorus as much as 1.8 million/year. The P load can be reduced based on estimation of harvested fish biomass and phosphor requirement for milkfish of 11.52 ton/year.Keywords: Cirata Reservoir, phosphorus loading, stocking, milkfishABSTRAKBeban masukkan fosfor (P) dari kegiatan budidaya ikan dalam keramba jaring (KJA) dari pakan yang terbuang dan sisa metabolisme ikan di Waduk Cirata telah melebihi daya dukung ekologi perairan. Hal ini berdampak pada penurunan kualitas perairan yang ditandai oleh pertumbuhan fitoplankton yang tidak terkendali. Penebaran ikan merupakan salah satu cara yang digunakan dalam perbaikan lingkungan perairan akibat dari eutrofikasi. Fosfor di perairan dimanfaatkan oleh fitoplankton untuk pertumbuhannya. Fitoplankton tersebut dapat dimanfaatkan oleh ikan planktivora sebagai pakan alaminya.Salah satu jenis ikan yang dapat ditebar (stocking) adalah ikan planktivora yaitu ikan bandeng (Chanos chanos). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi beban masukkan fosfor serta menghitung jumlah benih ikan bandeng yang dapat ditebar dengan tujuan pengurangan limbah fosfor dari kegiatan budidaya di Waduk Cirata, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan beban P yang berasal dari kegiatan budidaya di Waduk Cirata sebesar 1.206 ton/tahun. Konsentrasi klorofil-a dan produktivitas primer yang dihasilkan oleh beban P dari kegiatan budidaya masing-masing sebesar 28,6 mg/m3 dan 364,6 gC/m2/tahun. Jumlah benih ikan bandeng yang dapat ditebar sebagai upaya pemanfaatan beban masukkan fosfor sebanyak 1,8 juta ekor/tahun. Beban P yang mampu dikurangi berdasarkan estimasi biomassa ikan yang dipanen dan kebutuhan fosfor untuk ikan bandeng sebesar ton 11,52 ton/tahun.Kata kunci: Waduk Cirata, beban fosfor, penebaran, bandeng
KORELASI NUTRIEN TERLARUT DENGAN STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DI TAMBAK MANGROVE BLANAKAN, KAB. SUBANG Haryadi, Joni; Hadiyanto, Hadiyanto
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 2, No 2 (2012): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.2.2.73

Abstract

Research potential of nutrients and their effects on plankton in the pond was done in mangrove [tambak terbuka (TB), tambak tumpangsari (TS), tambak tanah timbul (TT) and tambak perhutani (TP)] Blanakan. Data collection was dissolved nutrients (ammonium, nitrite, nitrate and phosphate) and plankton performed at each station using a bottle and plankton net sampler no. 25. The results showed that the concentration of ammonium, nitrite, nitrate and ranged 0,0075 to 0,6247 ppm, nitrite ranged 0,0109 to 0,0289 ppm, nitrate ranged 0,0150 to 0,1040 ppm and phosphate ranged 0,0097 to 0,1816 ppm. Diversity index of plankton in mangrove ponds Blanakan ranged 1,51 to 2,34, the equitabilty index ranged 0,66 to 0,89 and dominance index ranged 0,16 to 0,32 . The results of the regression analysis to dissolved nutrient to plankton structure community showed that dissolved nutrients can increase the abundance of plankton (80, 09 % and 67 %.), dominance index (9, 94 % and 7, 49%) but lowered its diversity (7, 76% and 11, 67 %.) and equitability of plankton (81, 20 % and 62, 92 %).Keywords: correlation, nutrients, plankton, mangrove pond, Blanakan
Kajian Awal Kemunculan Hiu Paus (Rhyncodon typus, Smith 1828) di Teluk Tomini Dihubungkan dengan Faktor Fisik dan Biologi Perairan Rahman, Arip; Haryadi, Joni; Sentosa, Agus Arifin; Mujiyanto, Mujiyanto
Jurnal Akuatika Indonesia Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.83 KB)

Abstract

Kemunculan hiu paus di Desa Botubarani Teluk Tomini Gorontalo menjadi fenomena langka bagi masyarakat setempat. Kegiatan pengamatan kemunculan hiu paus (Rhincodon typus) dilakukan pada bulan April dan Mei 2016 di Teluk Tomini Gorontalo. Metode penelitian yang digunakan adalah pengamatan bawah air untuk mengidentifikasi hiu paus dan tingkah lakunya. Pengukuran kualitas air dan pengambilan sampel plankton dan larva dilakukan disekitar lokasi kemunculan hiu paus. Selama pengamatan ditemukan lima ekor hiu paus dengan ukuran berkisar 3-8 m. Tingkah laku hiu paus yang teramati oleh penyelam, hiu paus muncul dari kedalaman >100 m kemudian berenang berputar-putar pada kedalaman 15-20 m sesekali membuka mulutnya untuk menyaring makanan. Hasil pengamatan kualitas air disekitar lokasi kemunculan hiu paus, nilai salinitas berkisar antara 31,96-33,23 0/00, nilai oksigen terlarut berkisar 6,02-7,48 mg.l-1. Kelimpahan zooplankton tertinggi diperoleh pada pengamatan bulan April yaitu Acartia sp. dari kelas Crustaceae dengan kelimpahan 12385 ind.l-1. Kelimpahan larva disekitar lokasi kemunculan hiu paus didominasi oleh copepod dan larva ikan. Faktor makanan diduga menjadi salah satu faktor munculnya hiu paus di Teluk Tomini.
Struktur Komunitas Makrozoobentos di Situ Gintung, Situ Bungur Dan Situ Kuru, Ciputat Timur Rijaluddin, Alfan Farhan; Wijayanti, Fahma; Haryadi, Joni
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v18i2.1613

Abstract

Makrozoobentos adalah biota yang hidup di dalam substrat maupun menempel di permukaan dasar perairan. Makrozoobentos memiliki peran penting dalam eksositem akuatik, yaitu sebagai sumber makanan biota perairan dan sebagai detritus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman makrozoobentos di Situ Gintung, Situ Bungur dan Situ Kuru. Titik pengambilan sampel terdiri dari 5 stasiun dengan masing-masing 3 ulangan. Faktor fisik kimia makrozoobentos diuji dengan t-test. Hasil t-test menunjukkan di Situ Gintung dan Situ Bungur hanya nilai pH yang berbeda (p<0,01), sedangkan Situ Kuru memiliki kondisi fisik kimia yang berbeda dengan Situ Gintung dan Situ Bungur (p<0,01). Makrozoobentos yang ditemukan di ketiga lokasi pengamatan seluruhnya terdiri dari 10 famili dan 16 jenis. Makrozoobentos dari jenis P. canaliculata terlihat mendominasi pada lokasi Situ Gintung. Sedangkan pada lokasi Situ Kuru jenis T. tubifex ditemukan lebih mendominasi. Nilai indeks keanekaragaman (H’) di Situ Gintung (1,74) dan Situ Bungur (2,29) yang tergolong sedang, mengindikasikan kedua perairan tercemar sedang. Sedangkan nilai indeks keanekaragaman Situ Kuru (0,92) yang rendah, mengindikasikan perairan tersebut tercemar berat.Kata kunci : keanekaragaman, makrozoobentos, Situ Gintung, Situ Bungur, Situ Kuru
THE ROLE OF MACROBENTHIC COMMUNITIES AS AN INDICATOR FOR THE FERTILITY OF MANGROVE POND: CASE STUDY AT BLANAKAN, SUBANG, WEST JAVA Haryadi, Joni; Hadiyanto, Hadiyanto; Patria, Mufti Petala
Indonesian Aquaculture Journal Vol 9, No 2 (2014): (December 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.37 KB) | DOI: 10.15578/iaj.9.2.2014.113-121

Abstract

Macrobenthic in mangrove ecosystems plays an important role as removal particles from the water column to the sediments. Ecology indexes of macrobenthic communities were used in this study as an indicator for the fertility of mangrove pond ecosystems. The study was carried out at mangrove pond in Blanakan, West Java. Data was collected from four sampling sites: opened pond (TB), sylvofishery pond (TS), sedimented pond (TT), and conservation pond (TP). Some ecological indexes such as Margalef’s Index (R), Shannon-Wiener Index (H’), Pielou Evenness Index (E), and Simpson Dominance Index (D) were used to analyze macrobenthic communities. The results showed that infaunal macrobenthic communities were stable at TP with R: 1.91±0.42, H’: 1.59±0.30, E: 0.74±0.14, and D: 0.29±0.12. They were unstable at TB with R: 1.63±0.80, H’: 1.36±0.32, E: 0.74±0.06, and D: 0.35±0.07. The macrobenthic communities can be used as indicator for the fertility of mangrove pond in Blanakan, West Java.
THE STUDY ON MANGROVE LITTERS AS A SOURCE OF NUTRIENTS FOR BLANAKAN MANGROVE POND, SUBANG, WEST JAVA Haryadi, Joni; Basukriadi, Adi; Muhadiono, Muhadiono
Indonesian Aquaculture Journal Vol 8, No 1 (2013): (June 2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.311 KB) | DOI: 10.15578/iaj.8.1.2013.55-64

Abstract

Mangrove litters as a source of nutrients for sylvofishery pond (TS), sedimented pond (TT), and conservation pond (TP) was studied at Blanakan mangrove pond during April until June 2008. The variables of study were litter production, litter decomposition, and dissolved nutrients (ammonium, nitrite, nitrate, and phosphate). The obtained data were analyzed using F test and continued using Least Significant Different (LSD). The results showed that litter production at TS, TT, and TP were 19.55±4.34 ton/ha/year, 15.90±1.98 ton/ha/year, and 21.67±1.89 ton/ha/year respectively. The decomposition rate at TS, TT, and TP was 0.051±0.038, 0.051±0.018, and 0.081±0.041, respectively. Mangrove litters were potentially as a source of dissolved nutrients at Blanakan mangrove pond. Increasing both litter production and decomposition rate could increase ammonium, nitrite, and phosphate. Therefore, mangrove litters were play role for determined the fertility at Blanakan mangrove pond.
POTENSI PENGEMBANGAN CACING LAUT (POLYCHAETA) SEBAGAI SUMBER PAKAN INDUK UDANG WINDU DI KABUPATEN BARRU, SULAWESI SELATAN Haryadi, Joni; Rasidi, Rasidi
Media Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.064 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.2.2012.92-98

Abstract

Permintaan terhadap cacing laut sebagai sumber pakan induk terus meningkat. Sementara ketersediaan cacing di habitatnya sudah mulai menurun. Hal ini disebabkan telah rusaknya ekosistem pantai terutama mangrove akibat dikonversi lahan mangrove menjadi lahan budidaya tambak. Untuk itu, kajian potensi terhadap potensi cacing laut di perairan pantai. Kabupaten Barru menjadi hal menarik karena diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap kondisi terkini dari populasi dan habitat serta jumlah kebutuhan hatceri terhadap cacing sebagai sumber pakan broodstock udang. Kegiatan ini dilakukan dengan metode survai dengan teknik purposive sampling method dan intervews dengan responden yang terdiri atas pemilik hatcheri, penjual cacing, dan penangkap cacing laut. Survai dilakukan pada tanggal 11-12 April 2012 di Desa Mallawa dan Ujung Labua Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Barru. Hasil survai menunjukkan bahwa umumnya hatcheri di Kabupaten Barru menggunakan cacing laut sebagai pakan induk udang. Jumlah populasi cacing sedikit menurun, terutama di kawasan habitat yang berpasir dibandingkan dengan habitat cacing yamg berada di bawah tegakan mangrove.
PUNCAK PREVALENSI PENYAKIT KARANG JENIS SABUK HITAM (BLACK BAND DISEASE) DI KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA Johan, Ofri; Kristanto, Anang Hari; Haryadi, Joni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.374 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.307-317

Abstract

Keberadaan penyakit karang akan menyebabkan kerusakan komunitas dan populasi karang di Indonesia, sementara informasi prevalensi penyakit tersebut masih sedikit terpublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi penyakit karang jenis sabuk hitam di Kepulauan Seribu pada enam lokasi di bagian tubir dan 10 lokasi di bagian lereng terumbu yang dilaksanakan pada bulan November 2011. Metode transek sabuk digunakan untuk mendapatkan prevalensi penyakit karang dengan ukuran 1 m ke kiri dan 1 m ke kanan dari garis transek, panjang transek 20 m dan dilakukan tiga ulangan pada setiap lokasi, sehingga total luasan yang teramati adalah 120 m2. Hasil penelitian di bagian tubir berhasil mengamati jumlah koloni sebanyak 4.517, lebih tinggi dibandingkan di lereng terumbu yaitu sebanyak 3.418 koloni. Karang yang dominan ditemukan di lereng terumbu adalah Montipora sp., Acropora sp., dan Porites sp., dengan jumlah koloni berturut-turut yaitu 2.417 koloni, 1.131 koloni, dan 299 koloni, sementara pada lereng terumbu didominasi oleh karang Porites sp., Fungia sp., dan Acropora sp. dengan jumlah koloni berturut-turut yaitu 867 koloni, 596 koloni, dan 496 koloni. Prevalensi penyakit sabuk hitam pada tubir lebih tinggi (12,53%) dibandingkan dengan di lereng terumbu (0,05%), demikian juga dengan faktor penganggu kesehatan karang lebih tinggi di tubir (3,25%) dibandingkan dengan di lereng terumbu (2,68%). Data prevalensi pada penelitian ini merupakan puncak prevalensi (outbreak) dibandingkan dengan data lain yang dilakukan pengamatan selama satu tahun. Prevalensi penyakit sabuk hitam sangat dipengaruhi oleh adanya peningkatan suhu dan intensitas cahaya, sehingga prevalensi di perairan dangkal (tubir) lebih tinggi dibandingkan dengan di lereng terumbu.
PEMILIHAN LOKASI BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG MENGGUNAKAN ANALISIS MULTIKRITEIA DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI TELUK KOPONTORI, SULAWESI TENGGARA Radiarta, I Nyoman; Saputra, Adang; Haryadi, Joni; Johan, Ofri; Prihadi, Tri Heru
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1474.51 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.3.2006.337-348

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan lahan budidaya ikan laut dalam keramba jaring apung
POTENSI PENGEMBANGAN BUDIDAYA ABALON DI NUSA PENIDA, BALI Rasidi, Rasidi; Ardi, Idil; Haryadi, Joni
Media Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8843.886 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.2.2014.77-81

Abstract

Abstrak lengkap dapat dilihat di file PDF