Articles

Found 6 Documents
Search

Diagnosis Infeksi Streptococcus suis serotipe-2 pada Babi Secara Serologi dengan Muramidase Released Protein (SEROLOGICALLY DIAGNOSE OF STREPTOCOCCUS SUIS SEROTYPE-2 INFECTION IN PIGS BASED ON MURAMIDASE RELEASED PROTEIN) Salasia, Siti Isrina Oktavia; Artdita, Clara Ajeng; Slipranata, Mitra; Artanto, Sidna
Jurnal Veteriner Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Streptococcus suis is a bacterial pathogen causing disease of pigs that characterized by meningitis,bronchopneumonia, arthritis, pericarditis, polyserositis and septicaemia. S. suis especially serotype 2 caninfect human (zoonotic) with a special symptom of meningitis. The aim of this research was to detect S.suis infection based on muramidase released protein (MRP), as an important virulence marker of S. suis.S. suis serotype 2 strain P171 with phenotype of MRP+EF+ was used in this research. The MRP antigen wasextracted using lysozyme and separated by using sodium dodecyl sulphate-polyacrylamide gel electrophoresis(SDS-PAGE). Balb/c mice were imunized with 136 kDa MRP to produce antibody against MRP. Theantibody was evaluated by using enzyme linkage immunosorbent assay (ELISA). The results of the researchshowed that the antibody against MRP with molecular weight of 136 kDa could be produced on Balb/Cmice with the highest absorbance of 3,889 and could be used to detect field sera from infected pigs with200x dilution using ELISA antigen capture. Antibody against MRP could detect serologically of S. suisinfection in pigs in Papua with 50% seropositivy by using ELISA antigen capture and 40% by using dot blot.
Evaluation of rapid detection kit against avian influenza A virus and H5 subtype for field Sample Wibowo, Michael Haryadi; Untari, Tri; Artanto, Sidna; Putri, Krisdiana; Amanu, Surya; Asmara, Widya
Indonesian Journal of Biotechnology Vol 21, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Avian influenza virus is poultry viral disease, which causes high economic losses. Various efforts have been made to control the disease. One effort is required screening fast and precise diagnostic test. This study was aimed to determine the potential of rapid test kit of AIV/H5 Anigen Rapid Test for the detection of AI virus types A and subtype H5 in the field. Some tests were carried out, e.g.: the potential test, cross-reaction test, sensitivity and specificity test. Potency test was done to evaluate potential of detection limits of the kit, by having the test of serial dilution of AI virus positive control. Cross-reaction test was done to detect antigens other than AI virus H5N1, e.g.:  IB virus of Massachuset strain, IBV strain 4-91, Newcastle Disease virus, and Escherichia coli. Sensitivity and specificity test were applied to the filed samples which clinically and laboratory were confirmed as H5N1 positive. To confirm the result of rapid test was then being done by reverse transcriptase polymerase chain reaction. Based on these results it can be concluded that, Anigen Kit AIV/H5 Ag Rapid Test can detect antigen-containing samples having AI virus HA titer up to 26of type A virus, and up to 25 for subtype H5 virus. Anigen Kit AIV/H5 Ag Rapid Test showed no cross-reactions with Infectious Bronchitis virus, Newcastle Disease virus, and Escherichia coli. Anigen A Rapid Test Kit AIV Ag showed a sensitivity of 50% and specificity of 100%, while Anigen Ag Rapid Test Kit AIV/H5 showed a sensitivity of 25% and specificity is 100%.
EVALUASI KIT DETEKSI CEPAT TERHADAP SAMPEL OTAK ANJING TERINFEKSI VIRUS RABIES Wibowo, Michael Haryadi; Untari, Tri; Artanto, Sidna; Amanu, Surya; Wahyuni, AETH.; Asmara, Widya
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi kit deteksi cepat Anigen® rapid test kit rabies Ag dalam mendeteksi virus rabies pada sampel otakanjing yang diperoleh dari lapangan yang meliputi batas deteksi, kecepatan reaksi, uji reaksi silang, uji sensitivitas, dan spesifisitas. Batas deteksi ditentukan dengan pengenceran secara serial kontrol positif virus rabies dan selanjutnya diuji dengan rapid test kit sesuai petunjuk produsen. Uji reaksi silang dilakukan dengan canine parvovirus, Escherichia coli, dan Salmonella sp. Uji sensitivitas dan spesifisitas dilakukan terhadap sampel otak yang telah dikonfirmasi positif rabies dengan uji fluorescent antibody technique. Konfirmasi uji rapid test tersebut dilakukan dengan reverse transcriptase polymerase chain reaction. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Anigen® rapid test kit rabies Ag mampu mendeteksi sampel yang mengandung virus rabies dengan titer 0,5 x log 106,5/0,03 ml, dengan rata-rata kecepatan reaksi 1,8 menit 29,35 detik (kurang dari 2 menit). Di samping itu Anigen® rapid test kit rabies menunjukkan tidak terdapat reaksi silang dengan canine parvovirus, Escherichia coli, dan Salmonella sp. serta mempunyai sensitivitas 92,30% dan spesifisitas 97,90%
Deteksi Molekuler Virus Infectious Bursal Disease (IBD) pada Samp l Bursa Fabrisius yang Diperoleh dari Ayam Terdiagnosa Penyakit IBD Wibowo, Michael Haryadi; Fadiar, Radhian; Anggoro, Dito; Artanto, Sidna; Amanu, Surya; Wahyuni, Agnesia Endang Tri Hastuti
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus penyakit Infectious Bursal Disease (IBD) dewasa ini masih sering ditemukan pada peternakan ayam komersial baik layer maupun broiler di Indonesia. Diagnosis penyakit IBD sejauh ini mengandalkan lesi patologik spesifik dan kultur in ovo dengan mengamati lesi makroskopis embrio, serta diidentifikasi dengan uji agar gel presipitasi (AGP). Penelitian ini bertujuan menerapkan diagnosis dengan teknik reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) dari sampel Bursa Fabrisius (BF) sebagai konfirmasi pada kasus terdiagnosa IBD. Deteksi serologis virus IBD dengan uji AGP dengan sumber antigen chorioallantoic membrane (CAM) dan embrionya, untuk melihat potensinya sebagai sumber antigen uji AGP. Sampel BursaFabrisius sebanyak 5 yang diperoleh pada kasus terdiagnosa IBD, dikoleksi dari peternakan ayam komersial di Yogyakarta. Konfirmasi diagnosis dilakukan dengan metode RT-PCR. Sampel positip uji RT-PCR yang mengamplifikasi fragmen gen VP2. Isolasi virus IBD yang dilakukan kultur in ovo pada telur ayam berembrio (TAB) antibodi negatif terhadap virus IBD, berumur 11 hari. Desposisi materi inokulasi dilakukan pada (CAM), diinkubasi selama lima hari. Panen virus dilakukan dengan mengkoleksi membran korioalantois dan embrio, selanjutnya diamati lesi makroskopis yang timbul akibat infeksi virus IBD. Membran korioalantois dan embrioselanjutnya digerus dan diproses sebagai suspensi antigen yang digunakan dalam uji AGP. Hasil uji RT-PCR terhadap lima sampel Bursa Fabrisius yang dikoleksi dari peternakan ayam terdiagnosa penyakit IBD, tiga sampel menunjukkan hasil positif teramplifikasi fragmen gen VP-2 virus IBD dengan produk amplifikasi sebesar 440 bp, sedangkan dua sampel sisanya menunjukkan hasil negatif. Uji AGP dengan sumber antigen CAM menunjukkan hasil positip 2 dari 3 sampel yang diuji, sedangkan sumber antigen embrio menunjukkanhasil negatif. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa uji RT-PCR dapat digunakan dalam mendeteksi virus IBD dari sampel BF terdiagnosa IBD. Uji AGP dengan sumber antigen CAM menunjukkan hasil lebih baik dari pada embrionya.
Pengembangan Deteksi Aeromonas hydrophila pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dengan Metoda Agar Gel Presipitasi di Yogyakarta Amanu, Surya; Untari, Tri; Wibowo, Michael Haryadi; Artanto, Sidna
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aeromonas hydrophila telah diidentifikasi sebagai agen penyebab penyakit pada ikan Nila.Mikroorganisme ini diketahui patogen terhadap manusia terutama sebagai penyebab gastroentritis, meskipun demikian, belum dilaporkan adanya infeksi pada manusia di Yogyakarta. Uji karakteristik biokimiawi dapat mengarahkan pada diagnosa yang kurang akurat, oleh karena itu terdapat kebutuhan untuk mengembangkan metode yang lebih spesifik dan akurat, yaitu dengan metode agar gel presipitasi (AGP). Dua sampel yang dikoleksi berasal dari lokasi budidaya ikan Nila di Yogyakarta yang terjadi outbreak A. hydrophila dengan mortalitas lebih dari 50%. Antigen terlarut yang tahan terhadap panas dipersiapkan dari 4 kultur isolat murni yang diperoleh untuk uji AGP. Antiserum yang digunakan untuk uji pada sumuran adalah antiserum A. hydrophila (ATCC 35654) yang diproduksi dengan menginokulasikan whole-cell antigen (heat-stable) dan antigen flagellar (formalin-killed) pada kelinci. Kontrol positif yang digunakan untuk uji ini berasal dari A. hydrophila (ATCC 35654), dan kontrol negatif berasal dari Edwardsiella tarda (E. tarda) ATCC 15947 dan Aeromonas salmonicida (A. salmonicida). Antiserum yang digunakan terhadap kultur isolat murni dan juga kontrol positif menunjukkan adanya reaksi positif saat diujikan menggunakan metode AGP. Hasil reaksi positif adalah dengan adanya pembentukan garis presipitasi diantara sumuran antiserum dan antigen, sedangkan hasilnegatif tidak menunjukkan adanya garis presipitasi tersebut. Hasil dari uji ini menunjukkan bahwa AGP dapat dianggap sebagai metode yang dapat digunakan dan diandalkan (reliable) untuk mengidentifikasi A. hydrophila. Hasil yang sama ditunjukkan melalui uji AGP terhadap antiserum pada isolat A. hydrophila yang berasal dari isolat sampel ikan Nila dari Yogyakarta serta A. hydrophila sebagai kontrol positif (ATCC 35654).
MP-16 Characterization of Avibacterium paragallinarum Caused Infectious coryza/Snot: Satellite Colony Phenomenon Wahyuni, Agnesia Endang Tri hastuti; Tabbu, Charles Rangga; Artanto, Sidna; Aryani, Tati; Prakasita, Vinsa Cantya
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.497 KB)

Abstract

Infectious coryza (IC) is an acute upper respiratory disease of poultry that can appear in all ages. Some of clinical signs that are commonly seen in IC are rhinitis, facial swelling or edema, lacrimation, anorexia, and retarded growth in young poultry [1.2.3]. The disease can be found worldwide, especially in tropical countries [4]. Infectious coryza is very important in the chicken farm industry in developed and developing countries, including Indonesia [5]. The large economic losses due to IC such as increased number of culling, decreased egg production (10-40%), decreased body weight, stunting growth, and some mortality (2-10%) [4].Avibacterium paragallinarum which was previously classified as Haemophilus paragallinarum is a causative agent of infectious coryza in laying and broiler chickens, quail, pearl chicken, turkey, and peacocks [4,6,7,8]. The bacteria is commensal in the mucous membrane of the upper respiratory system, is sensitive to preservation and does not last long outside the host body [8]. Factors X and V are needed for the growth of several types of A. paragallinarum. According to in vitro growth requirements, A. paragallinarum can be either nicotinamide adenine dinucleotide (NAD) independent or NAD-dependent. The reduced form of NAD (NADH; 1.56-25 µg/ml) and the oxidized form (20-100 µg/ml) is required for in vitro growth in most isolates A. paragallinarum that show satellitic colony on a medium [9]. The description of the need for V factor of field isolates A. paragalinarum has been few reported. The aim of this research is to find out the phenomenon of satellite colonies from a variety of poultry isolates.