I Gusti Made Krisna Erawan, I Gusti Made Krisna
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana
Articles
5
Documents
Antigen Ekskretori-Sekretori Cacing Jantung (Dirofilaria immitis) Jantan dan Betina yang Berpotensi Sebagai Marka Diagnosis (EXCRETORY-SECRETORY ANTIGENS OF MALE AND FEMALE HEART WORMS (DIROFILARIA IMMITIS) WHICH POTENTIALLY AS A DIAGNOSTIC MARKER)

Jurnal Veteriner Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Heart worm (Dirofilaria immitis) is the causative agent of a serious parasitic disease in dogs.Dirofilariasis is generally diagnosed by microfilariae examination and specific antigen testing. Microfilariaeexamination has low sensitivity due to occult infections. The available antigen test at this time is able todetect circulating antigens secreted by adult female worms only. The aim of the present study was toidentify male (MES) and female (FES) heart worms excretory-secretory antigens which have the potentialas a diagnostic targets. Identification of antigen was done by sodium dodecyl sulphate polyacrylamide gelelectrophoresis (SDS-PAGE) and Western Blotting analysis. The results of this study indicated that therewere differences between the MES and the FES profiles. The results showed 12 bands in MES (14–118kDa) and 18 bands in FES (10–205 kDa). Protein with a molecular weight of 59 kDa has the potential asdiagnostic markers of dirofilariasis.

Produksi Antibodi Anti-Dirofilaria immitis Untuk Pengembangan Diagnosis Dirofilariasis Pada Anjing

Buletin Veteriner Udayana Vol. 8 No. 2 Agustus 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dirofilaria immitis (D. immitis) sebagai agen penyebab penyakit cacing jantung tidak hanya menimbulkan masalah pada hewan tetapi juga bersifat zoonosis. Untuk mendiagnosis dirofilariasis (penyakit yang disebabkan oleh D. immitis) secara serologis dibutuhkan antibodi anti-D. immitis.  Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi antibodi terhadap antigen ekskretori-sekretori cacing jantan dan cacing betina untuk pengembangan diagnosis berbasis deteksi antigen. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa antigen ekskretori-sekretori jantan (male excretory-secretory antigens/MES), antigen ekskretori-sekretori betina (female excretory-secretory antigens FES) dan antigen ekskretori-sekretori jantan dicampur dengan betina (MES+FES) D. immitis dapat merangsang pembentukan antibodi poliklonal pada mencit BALB/c dengan pola produksi yang sama. Antibodi telah terbentuk pada hari ke-21 dan titernya mencapai puncak pada hari ke-35 setelah imunisasi.

Prevalensi dan Intensitas Infeksi Ancylostoma Spp. pada Anjing di Jawa

Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (2) 2016
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ancylostoma spp. dilaporkan menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang dan masyarakat miskin. Tingginya prevalensi infeksi Ancylostoma spp. pada anjing memainkan peran penting dalam memberikan kontribusi terhadap kejadian cutaneous larva migrans pada populasi manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi dan intensitas infeksi cacing Ancylostoma spp. pada anjing di Pulau Jawa. Pada penelitian ini diperiksa 13 sampel tinja anjing berasal dari Yogyakarta, 88 sampel tinja anjing dari Jawa Tengah, dan 40 sampel tinja anjing dari Jawa Barat. Pemeriksaan tinja dilakukan dengan metode apung dan Mc.Master. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi infeksi Ancylostoma spp. pada anjing yang berasal dari Yogyakarta adalah 92,31%, Jawa Tengah adalah 88,64%, dan Jawa Barat adalah 92,5%. Disimpulkan bahwa angka prevalensi infeksi Ancylostoma spp. pada anjing di Pulau Jawa sangat tinggi dengan intensitas infeksi dari ringan sampai berat.

Hemogram Anjing Penderita Dermatitis Kompleks

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 5 (2018): Volume 7 (5) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hemogram anjing penderita dermatitis kompleks. Sampel penelitian ini adalah darah anjing yang mengalami dermatitis kompleks yang didapatkan dari daerah sekitar Denpasar. Dermatitis kompleks adalah radang kulit yang disebabkan oleh komplikasi berbagai agen penyebab seperti parasit, bakteri dan jamur. Komplikasi dari berbagai agen itu menyebabkan kerusakan pada kulit dan terganggunya proses vaskularisasi ke kulit, hal ini menyebabkan terjadi pembusukan pada kulit sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap, kerontokan rambut, dan luka borok. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 15 ekor anjing. Pemeriksaan darah untuk mendapatkan nilai hemogram digunakan mesin Animal Blood Counter iCell-800Vet, China. Setelah penghitungan diferensiasi leukosit dari preparat ulas darah dengan pengamatan mikroskop, data dianalisis secara deskriptif. Hasil hemogram anjing penderita dermatitis kompleks adalah anemia, neutropenia, dan basofilia. Neutropenia yang terjadi pada anjing penderita dermatitis kompleks disertai peningkatan neutrofil stab/neutrofil muda, hal tersebut mengindikasikan adanya peradangan yang bersifat akut. Temuan hemogram yang paling umum pada anjing penderita dermatitis kompleks adalah anemia, neutropenia dan basofilia. Neutropenia yang terjadi disertai dengan peningkatan neutrofil muda (stab/band).

Laporan Kasus: Anaplasmosis pada Anjing Pomeranian

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 6 (2018): Volume 7 (6) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seekor anjing ras Pomeranian, berjenis kelamin jantan, bernama Dodo, berumur tiga tahun dengan bobot badan 8,5 kg  mengalami epistaksis pada kedua lubang hidung sejak seminggu sebelum dilakukan pemeriksaan. Anjing kasus tampak lemas dan pada bagian punggung ditemukan caplak Rhipichepalus. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia, eosinofilia, dan trombositopenia. Pada pemeriksaan ulas darah tipis tidak teramati agen asing secara jelas. Untuk membantu menegakkan diagnosis dilakukan pemeriksaan dengan rapid test kit yang dapat mendeteksi antobodi E. canis dan Anaplasma sp.  Hasil rapid test kit menunjukan pada darah anjing kasus terdeteksi antibodi Anaplasma sp. Berdasarkan anamnesis, gejala klinis, dan hasil pemeriksaan laboratorium, anjing kasus didiagnosis menderita anaplasmosis dengan prognosis fausta. Setelah diberikan pengobatan selama 10 hari dengan antibiotik doxycicline, asam traneksamat, dan Livron B-pleks anjing kasus secara klinis tampak sehat.