Articles

Found 18 Documents
Search

PROSPEK PENGEMBANGAN KOMODITAS PERKEBUNAN DI WILAYAH BOLIYOHUTO KABUPATEN GORONTALO Rahman, Rival; Baskoro, Dwi Putro Tedjo; Tjahjono, Boedi
TATALOKA Vol 17, No 4 (2015): Volume 17 Number 4, November 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.17.4.209-222

Abstract

Agricultural land use planning is essential for a region in developing their agricultural commodities. Boliyohuto region is a region which has the potential for very large land resources, especially for the development of agricultural commodities.The purpose of this study was to see how the development prospects of plantation commodities in the commodity Boliyohuto based economic development as well as physical resources of land. Data analysis method used is the image interpretation, Location Quotient (LQ) and Shift Share Analysis (SSA) to determine the main commodity and Land Suitability Analysis.The analysis showed the extent of the potential for development of superior commodities is an area of 24.655 ha. Then seeded commodities in this region are coconut, coffee, cocoa and cotton. Based on the results analsisi land suitability, land suitability classes for each commodity is moderately suitable (S2), marginally suitable (S3), and is not suitable (N). From these results, the prospects for the development of plantation commodities in the region Boliyohuto covers, palm development potential area of 16133.44 hectares, an area of 13159.41 ha of coffee, and cocoa area of 13543.94 ha.
PERENCANAAN KOTA HIJAU YOGYAKARTA BERDASARKAN PENGGUNAAN LAHAN DAN KECUKUPAN RTH Ratnasari, Amalia; Sitorus, Santun R.P; Tjahjono, Boedi
TATALOKA Vol 17, No 4 (2015): Volume 17 Number 4, November 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.17.4.196-208

Abstract

Green City concept is a concept of sustainable urban development that harmonize the natural environment and man made environment as a response to environmental degradation. Actualizing the green city, one of its attributes green open space is strictly regulated in Law No. 26 Year 2007 about Spatial Planning. The total area of the city 30% must be used as green open space (RTH), 20% as public RTH and 10% as private RTH. The purposes of this research are identifying vast and distribution of land use and RTH existing in Yogyakarta city, analyzing the adequacy of RTH based on vast territory and total population, determining areas that could potentially be developed for RTH, and arranging development strategy toward to Yogyakarta Green City. Several methods were used in this research, among others : image interpretation and analysis the adequacy of RTH is calculated based on vast territory and total population. The results showed that RTH eksisiting is 584.45 ha or 17.78%, consisting public green open space covering an area of 329.63 ha and private green open space for 254.82 ha. Based on vast territory, Yogyakarta city still needs 390.55 ha of  green open space , while based on total population, green open space still lack for 220.91 ha. Potential area in Yogyakarta City is 30.94 ha. RTH development strategy of Yogyakarta City focused on maintaining and increasing the quality of existing RTH, adding unused area as public RTH and developing green corridor. This indicates that green open space in Yogyakarta city is not sufficient based on the standard needed toward Green City.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN KOMODITAS UNGGULAN DAN ARAHAN PENGEMBANGANNYA DI WILAYAHKABUPATEN CIANJUR Nowar, Wistha; Baskoro, Dwi Putro Tejo; Tjahjono, Boedi
Jurnal Tataloka Vol 17, No 2 (2015): Volume 17 Number 2, May 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.17.2.87-98

Abstract

Regional development can be carried out with an emphasis on the basic sectors and leading commodities. The purpose of this study is twofold. The first is to determine the basic sectors, sub-sectors, and leading commodities, and the second is to analyze the suitability and allocation directives of land for leading commodities. The data used include gross regional domestic product (GDP) of West Java and the harvested area in 2011-2013.The other data are land suitability requirement, map soil types, rainfall, temperature, grade slope, erosion, map of soil units, land use, spatial plans, and administrative maps. Location Quotient (LQ) method is used to determine the basic sectors and sub-sectors. Meanwhile, the LQ and Differential Shift and Share are used to determine the leading commodities. The land suitability of leading commodities is spatially analyzed using Geographical Information System (GIS). The results have shown that the agriculture is the basic sector and food crop agriculture is and the basic sub-sector. The leading commodities are soybean, peanut, and rice. The land suitability classes are S2 and S3. The available allocation areas are 27.984 Hectares for wet-field paddy, 17.984 Hectares for peanuts, and 38.835 Hectares for soybean.
PEMANFAATAN CITRA QUICK BIRD UNTUK VERIFIKASI PETA BERBASIS KEPEMILIKAN LAHAN (STUDI KASUS: DELTA CIPUNAGARA, KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT) Munibah, Khursatul; Iswati, Asdar; Tjahjono, Boedi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitl.14.1.37-43

Abstract

Pemetaan kadastral atau pemetaan berbasis kepemilikkan lahan telah diamanatkan oleh Pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan yaitu pada Pasal 1 ayat 3. Namun kebijakan ini belum terrealisasi secara nasional. Kantor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Kabupaten Subang, Jawa Barat telah melakukan pemetaan lahan berbasis kepemilikan lahan, yaitu peta persil lahan tambak di Delta Cipunagara yang dilakukan secara terestris. Di sisi lain, telah banyak tersedia data penginderaan jauh resolusi tinggi seperti Citra Quick Bird yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari manfaat Citra Quick Bird untuk verifikasi peta persil lahan tambak. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan bentuk Delta Cipunagara yang bersumber dari PBB dan Citra Quick Bird; (2) persil tambak yang dibatasi dengan ”galengan” saja mudah diidentifikasi dari Citra Quick Bird; (3) terdapat perbedaan posisi blok dan persil tambak antara Peta Persil dari Kantor PBB dan Citra Quick Bird; dan (4) terdapat pergeseran posisi persil tambak antara peta yang bersumber dari Kantor PBB dengan Citra Quick Bird, berkisar (1.5-57.2) m, dengan rata-rata 19.9 m. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa luas persil yang bersumber dari Kantor PBB memiliki kesesuaian yang tinggi dengan luas persil hasil pengukuran lapang (R2=93.0%). Demikian juga untuk luas persil dari Citra Quick Bird memiliki kesesuaian yang tinggi dengan luas persil dari Kantor PBB (R2=94.3%). Namun tingkat kesesuaian antara luas persil dari Citra Quick Bird dan pengukuran lapang relatif lebih rendah (R2 = 63.2%).
KAJIAN GEOMORFOLOGI, BAHAYA DAN RISIKO BANJIR, SERTA APLIKASINYA UNTUK EVALUASI TATA RUANG KOTA SINTANG Pramulya, Muhammad; Gandasasmita, Komarsa; Tjahjono, Boedi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitl.13.2.63-71

Abstract

Kota Sintang di Kalimantan Barat dikenal sebagai kota yang sering tergenang banjir pada musim penghujan. Kota ini tumbuh tepat pada pertemuan dua sungai besar, yaitu Kapuas dan Melawi, atau secara geomorfologi tumbuh di dataran banjir yang luas/dataran aluvial kedua sungai. Bencana banjir pernah terjadi pada tahun 1963, menggenangi sebagian besar pemukiman, menelan banyak korban, dan kerusakan. Meskipun akhir-akhir ini banjir tidak begitu besar, namun banjir besar seperti masa lalu dapat terulang kembali di waktu mendatang. Untuk mengurangi bencana seperti ini, maka diperlukan kajian tentang banjir dan program penanggulangan bencana. Tujuan penelitian ini adalah (1) melakukan analisis dan pemetaan bahaya dan risiko banjir dan (2) evaluasi tata ruang (RDTR) Kota Sintang berdasarkan pada bahaya banjir. Pendekatan geomorfologis digunakan untuk menganalisis bahaya banjir melalui kajian morfogenesis dan morfologi bentuk lahan serta sejarah banjir. Untuk menilai risiko digunakan data bahaya banjir dan kerentanan penggunaan lahan. Scoring terhadap parameter geomorfologi dan penggunaan lahan dibuat dan dikombinasikan dengan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% wilayah Kota Sintang dibentuk dari bentuk lahan asal proses fluvial dan menurut penilaian bahaya banjir, 0.8% dari wilayah Kota Sintang terklasifikasi ke dalam bahaya sangat rendah, 57.2% rendah, 31.5% sedang, dan 10.5% tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa hampir separuh wilayah kota terancam banjir pada tingkat sedang hingga tinggi. Berdasarkan hasil analisis bahaya banjir tersebut dikaitkan dengan kerentanan penggunaan lahan, didapatkan bahwa 0.9% dari wilayah kota memiliki risiko banjir sangat rendah, 70.1% rendah, 22.5% sedang, dan 6.5% tinggi. Dua kelas terakhir, menurut persebarannya, mencakup seluruh area terbangun, seperti perumahan, perkantoran, dan kawasan komersial. Keadaan ini menandakan bahwa hampir sepertiga dari area terbangun Kota Sintang terancam oleh banjir baik pada tingkat bahaya sedang maupun tinggi. Hasil evaluasi RDTR menunjukkan bahwa hampir separuh dari alokasi ruang terbangun (44.4%) mempunyai risiko sedang dan hanya sebagian kecil (4.10%) mempunyai risiko tinggi. Dengan demikian upaya penanggulangan bencana harus menjadi prioritas utama oleh Pemerintah untuk menurunkan tingkat risiko.
Simulation on the Use of LOSAT Data for Rice Field Mapping Trisasongko, Bambang H.; Panuju, Dyah R.; Tjahjono, Boedi; Barus, Baba; Wijayanto, Hari; Raimadoya, Mahmud A.; Irzaman, Irzaman
Makara Journal of Technology Vol 14, No 2 (2010)
Publisher : Directorate of Research and Community Services, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/mst.v14i2.187

Abstract

Since the launch of LAPAN-TUBSAT satellite in 2007, Indonesia has been developing mission on earth observation missions for various applications. The next generation mission, called LAPAN-ORARI Satellite (LOSAT), is currently under development and expected to be launched in 2011. In order to facilitate the applications, a thorough assessment of the sensor should be made. This paper presents an examination of simulated LOSAT data for rice monitoring and mapping purposes coupled with QUEST statistical tree. We found that three-band simulated LOSAT data were suitable for the task with reasonably high accuracy.
Komposisi Formula Biobakterisida Berbahan Aktif Rizobakteri untuk Pengendalian Penyakit Busuk Lunak Pada Anggrek Phalaenopsis Hanudin, Hanudin; Nawangsih, Abdjad Asih; Marwoto, Budi; Tjahjono, Boedi
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.684 KB) | DOI: 10.21082/jhort.v23n3.2013.p244-254

Abstract

Penyakit busuk lunak (PBL) yang disebabkan oleh Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum atau Pseudomonas viridiflava merupakan kendala utama dalam budidaya anggrek. Serangan patogen tersebut sangat merugikan petani, mengingat biaya investasi produksi anggrek tergolong tinggi. Oleh karena itu patogen tersebut harus dikendalikan menggunakan metode pengendalian yang ramah lingkungan, yaitu dengan mengaplikasikan biobakterisida berbahan aktif rizobakteri, seperti Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens. Tujuan penelitian ini ialah (1) mendapatkan komposisi bahan aktif dan bahan pembawa biobakterisida yang efektif mengendalikan penyakit busuk lunak pada anggrek Phalaenopsis, (2) mengetahui perubahan reaksi kimia formula biobakterisida dan pertumbuhan populasi bahan aktif (rizobakteri B. subtilis dan P. fluorescens) pada kondisi sebelum dan setelah difermentasikan, dan (3) mengetahui kompatibilitas antara B. subtilis, P. fluorescens, dan bahan pembawa biobakterisida. Percobaan dilaksanakan mulai Bulan Mei sampai dengan Desember 2009 di Laboratorium Bakteriologi Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, dan Laboratorium Bakteriologi serta Rumah Kaca, Balai Penelitian Tanaman Hias, di Segunung, Cianjur, Jawa Barat. Ruang lingkup penelitian meliputi pembuatan propagul rizobakteri sebagai bahan aktif biobakterisida, pembuatan formula biobakterisida, uji viabilitas bahan aktif, dan uji kemangkusan biobakterisida pada tanaman anggrek di rumah kaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan gabungan antara B. subtilis B12 dan P. fluorescens Pf10 yang difermentasikan dalam media ekstrak kotoran cacing (kascing) dan molase, merupakan perlakuan yang konsisten dapat menekan PBL pada anggrek Phalaenopsis dengan persentase penekanan sebesar 80%, (2) reaksi kimia formula biopestisida pada kondisi sebelum dan setelah fermentasi diindikasikan dengan perubahan pH basal medium yang sebelum fermentasi menunjukkan pH 3,75 dan berubah menjadi pH 3,50 setelah difermentasikan. Pertumbuhan populasi mikrob antagonis setelah fermentasi meningkat secara signifikan bila dibandingkan pada kondisi sebelum difermentasikan, dan (3) isolat bahan aktif (B. subtilis dan P. fluorescens) bersifat kompatibel dengan bahan pembawanya (ekstrak kascing dan molase).
Penilaian bahaya lahar Gunung Salak (Suatu pendekatan morfometri) Mahardi, Rusdi; Tjahjono, Boedi; baskoro, D.P. Tejo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6634.264 KB)

Abstract

ABSTRAKSalak merupakan gunung api strato tipe A aktif di Provinsi Jawa Barat. Sejak letusan pada tahun 1938 sampai sekarang, gunung api ini jarang menunjukkan aktivitas yang signifikan, namun gunung api ini masih berbahaya bagi daerah sekitarnya. Salah satu bahaya vulkanik Salak yang sangat penting adalah bahaya lahar, karena curah hujan tahunan relatif tinggi, dan sebagian besar wilayah di sekitar lembah sungai di daerah distal terdapat pemukiman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi geomorfologi Gunung api Salak, serta menilai bahaya lahar menggunakan pendekatan morfometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Cikuluwung memiliki tingkat bahaya lahar tertinggi (84,74 %), apalagi sungai terhubung langsung ke kawah aktif, yaitu Kawah Ratu. Karena kawah terletak di bagian lereng yang lebih rendah, maka lahar bisa mengalir menuju daerah distal dengan lebih cepat dari puncak, sehingga pengelolaan daerah distal di sekitarlembah Sungai Cikuluwung (terutama kawasan pemukiman) memerlukan konsep yang spesifik.Kata kunci: bahaya lahar, Gunung api Salak, morfometri, Sungai CikuluwungABSTRACTSalak is an a type of active stratovolcano in West Java Province. Since its eruption of 1938 until now, the volcano rarely showed significant activity, however the volcano is still dangerous for the surrounding area. One of important volcanic hazards for Salak is lahar hazard, since the annual rainfall is relatively high and most of river valleys in distal areas and the surrounding occupied by settlements. The purpose of this study is to identify the geomorphological condition of Salak Volcano, and to assess lahar hazard using morphometric approach. The results showed that Cikuluwung River has the highest level of lahar hazard (84,74 %), moreover the river is directly connected to active crater, the so-called Kawah Ratu. Since the crater is located in lower flank, the lahar can flow toward the distal area faster then usual (from the peak), so the management of distal area around the Cikuluwung River valley (especially the settlement areas) require specific concepts.Keywords: lahar hazard, Salak Volcano, morphometry, Cikuluwung
ARAHAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AREAL BEKAS TAMBANG TIMAH SEBAGAI KAWASAN PARIWISATA DI KABUPATEN BANGKA Meyana, Lia; Sudadi, Untung; Tjahjono, Boedi
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.802 KB) | DOI: 10.29244/jpsl.5.1.51

Abstract

Bangka Island is known by the people of Indonesia and the world as the island's largest tin producer in Indonesia and has potential natural attractions such as beaches that surround the island of Bangka.This study is motivated by the former tin mining land that is not used optimally. One of waysis used to utilize former tin mine area is to develop it as a tourism area in Bangka Regency. The aim of this study is to identify and map the former tin mining area, to find out the priority areas of tourism development, to find out the types of tourism that can be developed, and to formulate strategies in the development of the former tin mining area as a tourism area. The analytical method used is the analysis of Geographic Information Systems (GIS), schallogram analysis, AHP and A'WOT (combination of AHP and SWOT). The result showed that the area of the former tin mines in Bangka spread six sub-districts. The priority areas for the development of the former tin mining area as a tourism area directed at Riau, Parit Padang, Kuto Panji and Kenanga Village. According to the perceptions of stakeholders, the types of tourism that can be developed on a former tin mining areas prioritized in the natural attractions of water recreation, culture tourism in the form of a tourist village, and artificial tourism in the form of edutourism. The main priority strategies that can be done is to develop mining tourism as a brand image. Keywords: former tin mining, mining tourism, development strategy
VARIASI NILAI INDEKS VEGETASI MODIS PADA SIKLUS PERTUMBUHAN PADI Panuju, Dyah R.; Heidina, Febria; Trisasongko, Bambang H.; Tjahjono, Boedi; Kasno, A; Syafril, H.A.
GEOMATIKA Vol 15, No 2 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-2.254

Abstract

Remote sensing technology has been employed extensively for food crops mapping and monitoring. Despite its widespread utilization, analyses have been limited to single set of data. Rice monitoring, ideally, requires time series data and therefore needs high revisit satellite configuration. Nonetheless, very limited research has been dedicated to time series data. This paper presents a study on the use of MODIS time series data for understanding various stages of rice growth in Subang Regency. Two widely-recognized vegetation indices were compared, namely Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) and Enhanced Vegetation Index (EVI). It is shown that 8-day temporal compositing scheme was unable to provide a proper dataset for this application. This suggests that detailed rice growth could be monitored solely in dry season.Keywords: MODIS, paddy phenology, NDVI, EVI.ABSTRAKPerkembangan teknologi penginderaan jauh telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang, termasuk diantaranya bidang pertanian pangan. Namun demikian, fokus utama pemanfaatan masih terbatas pada penggunaan data akuisisi tunggal. Aplikasi pemantauan tanaman pangan, terutama padi, yang memiliki siklus pertumbuhan sangat cepat sangat membutuhkan konfigurasi deret waktu. Telaah literatur menunjukkan bahwa analisis deret waktu sangat terbatas disajikan. Makalah ini menyajikan analisis data serial untuk memantau berbagai fase pertumbuhan padi di Kabupaten Subang memanfaatkan data MODIS yang tersedia secara gratis. Dua indeks kehijauan yaitu Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan Enhanced Vegetation Index (EVI) dibandingkan dalam kajian ini. Makalah ini menunjukkan indikasi bahwa citra komposit multitemporal 8 hari belum mampu menyediakan data untuk tujuan pemantauan pertumbuhan padi. Dengan demikian, analisis data hanya dapat dimungkinkan pada musim kemarau.