Hartanti Sandi Wijayanti, Hartanti Sandi
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Published : 24 Documents
Articles

Found 24 Documents
Search

Dietary acid load, keseimbangan asam basa tubuh dan resistensi insulin pada remaja obesitas

Journal of Nutrition College Vol 6, No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.431 KB)

Abstract

Latar Belakang: Obesitas pada kelompok usia remaja telah menjadi salah satu masalah kesehatan yang menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Obesitas telah lama diketahui mempunyai hubungan patofisiologis dengan kondisi resistensi insulin. Diet dengan beban asam (Dietary Acid Load) tinggi, dapat menimbulkan gangguan keseimbangan asam basa tubuh, yang berpotensi menimbulkan resistensi insulin.Metode: Rancangan penelitian ini adalah Cross-Sectional dengan jumlah subjek sebanyak 38 remaja di lingkungan SMA Semarang. Skor PRAL dihitung sebagai indikator Dietary Acid Load, pH urin sebagai indikator keseimbangan asam basa, dan HOMA-IR sebagai indikator resistensi insulin. Dietary acid load dan pH urin ditetapkan sebagai variabel bebas dan resistensi insulin sebagai variabel terikat, sedangkan aktivitas fisik dan faktor asupan (energi, protein, lemak, karbohidrat) sebagai variabel perancu. Analisis bivariat menggunakan uji Rank Spearman. Analisis multivariat menggunakan analisis Multivariate Linear Backward Regression.Hasil: Ada hubungan antara skor PRAL dengan nilai HOMA-IR(r=0,886; p=0,000). Tidak ada hubungan antara pH urin dengan HOMA-IR. Uji multivariat menunjukkan dietary acid load (β=0,851; p=0,000; Adjusted R Square=82,5%) dan asupan lemak (β = 0,164; p = 0.029; Adjusted R Square = 82.5%) adalah variabel yang paling berhubungan secara signifikan terhadap nilai HOMA-IR Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara dietary acid load dengan resistensi insulin pada remaja obesitas.

HUBUNGAN KONSUMSI WESTERN FAST FOODDENGAN HIPERTENSI PADA REMAJA DI SMA N 1 SEMARANG

Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): (Oktober 2015)
Publisher : Program Studi ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi pada remaja perlu diperhatikan karena dapat mempengaruhi kesehatan ketika dewasa. Salah satu evaluasi dini yang perlu dilakukan adalah mengetahui konsumsi makan remaja, terutama western fast food. Western fast food mengandung tinggi lemak, natrium dan rendah serat yang berpotensi menimbulkan hipertensi jika dikonsumsi dengan frekuensi sering. Tujuan : Mengetahui hubungan konsumsi western fast food dengan hipertensi pada remaja di SMA N 1 SemarangMetode : Desain penelitian ini adalah cross sectionaldengan jumlah subyek 45 orang. Subyek adalah remaja SMA N 1 Semarang yang dipilih dengan simple random sampling. Data konsumsi western fast food dinilai dari frekuensi, porsi, kandungan gizi dan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan sehari yang diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner food frequencysemi-quantitative. Tekanan darah diperiksa dengan Sphygmomanometer. Status gizi diukur berdasarkan antropometri meliputi berat badan dan tinggi badan yang dinyatakan sebagai Z-score IMT/U. Analisis bivariat menggunakan uji rank  spearman.Hasil : Prevalensi hipertensi pada remaja adalah sebesar 6,66%. Sebanyak 10 subjek (22,2 %) mengonsumsi western fast food  lebih dari 2 kali/minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara frekuensi, porsi, kandungan gizi dan kontribusi western fast food dengan kejadian hipertensi (p > 0,05). Simpulan : tidak ada hubungan antara konsumsi western fast food dengan hipertensi pada remaja

PERBEDAAN ASUPAN PROTEIN, ZAT BESI, ASAM FOLAT, VITAMIN B12 DAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU NIFAS YANG MELAKUKAN MUTIH DAN TIDAK MELAKUKAN MUTIH DI KECAMATAN GEBOG, KABUPATEN KUDUS

Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): (Oktober 2015)
Publisher : Program Studi ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Mutih merupakan budaya pantang makan yang dilakukan ibu nifas dengan hanya mengkonsumsi nasi, tempe, tahu, beberapa jenis sayur dan buah. Rendahnya jumlah asupan dan variasi makanan menyebabkan ibu nifas berisiko mengalami defisiensi protein, zat besi, asam folat, dan vitamin B12. Hal tersebut dapat menjadi faktor risiko terjadinya anemia gizi pada ibu nifas.Tujuan: Menganalisis perbedaan asupan protein, zat besi, asam folat, vitamin B12, dan kejadian anemia pada ibu nifas mutih dan tidak mutih.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Jumlah sampel terdiri dari 16 ibu nifas mutih dan 16 ibu nifas tidak mutih. Pemilihan subjek penelitian dengan purposive sampling. Asupan zat gizi diperoleh dari Semiquantitative Food Frequency Questionaire dan kadar hemoglobin diukur menggunakan metode cyanmethemoglobin. Perbedaan kadar hemoglobin diuji menggunakan uji independent t-test, dan asupan zat gizi, meliputi protein, zat besi, asam folat, dan vitamin B12 menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: . Kejadian anemia pada ibu nifas mutih sebesar 93,7%, sedangkan pada ibu nifas tidak mutih hanya sebesar 25%. Terdapat perbedaan bermakna asupan protein  (p<0.01),  vitamin B12 ( p<0.01), dan kejadian anemia (p<0.01) antara ibu nifas mutih dan tidak mutih. Tidak terdapat perbedaan bermakna asupan zat besi dan asam folat antara ibu nifas mutih dan tidak mutih (p= 0.07 dan p=0.19). Asupan protein, zat besi, asam folat, dan vitamin B12 kedua kelompok tidak mencukupi kebutuhan seharusnya.Simpulan: Terdapat perbadaan kadar hemoglobin, asupan protein, dan vitamin B12 antara ibu nifas mutih dan tidak mutih. 

PERAN LINGKUNGAN SOSIAL, PENGETAHUAN GIZI DAN PENGALAMAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN IBU NIFAS UNTUK MELAKUKAN MUTIH DI KECAMATAN GEBOG, KABUPATEN KUDUS

Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): (Oktober 2015)
Publisher : Program Studi ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Mutih merupakan salah satu pantangan makanan di Kec.Gebog, Kab. Kudus yang dapat menimbulkan masalah gizi seperti anemia. Perilaku makan biasanya dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap perilaku yang berkaitan dengan tingkat pengetahuan, evaluasi terhadap hasil perilaku atau pengalaman, pandangan lingkungan sosial terhadap perilaku subjek, dan kontrol terhadap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kedudukan subjek dalam lingkungan sosial. Tujuan: Mengeksplorasi peran lingkungan sosial, pengetahuan gizi dan pengalaman dalam pengambilan keputusan ibu nifas untuk melakukan Mutih.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Informan terdiri dari 7 ibu nifas Mutih, 2 orang tua ibu nifas, seorang ibu nifas tidak Mutih dan seorang tetua desa. Pemilihan informan penelitian dengan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan pengolahan data menggunakan metode induksi.Hasil: Lingkungan sosial yang memiliki peran dalam mempengaruhi ibu nifas untuk melakukan Mutih adalah orang tua, suami dan tetangga, sedangkan tenaga kesehatan tidak mendukung ibu nifas untuk melakukan Mutih. Pengetahuan gizi ibu nifas yang kurang tentang sumber pangan serta manfaatnya mempengaruhi ibu nifas melakukan Mutih. Dampak yang dirasakan oleh ibu nifas dari pengalaman yang dialaminya mempengaruhi ibu nifas untuk melakukan Mutih. Pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan oleh ibu nifas sendiri. Alasan ibu melakukan Mutih karena merasa khawatir luka uterus tidak lekas sembuh. Simpulan: Keputusan ibu nifas untuk melakukan Mutih dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan gizi yang kurang, serta peran lingkungan sosial terutama orang tua.

HUBUNGAN KONSUMSI KOPI DAN SCREEN-TIME DENGAN LAMA TIDUR DAN STATUS GIZI PADA DEWASA

Journal of Nutrition College Vol 6, No 4 (2017): Oktober 2017
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.886 KB)

Abstract

Background: Nutritional problem such as underweight or obesity in adolescents is an important issue that can lead into some disease.1 BMI can be affected with some factor, there were coffee consumption, screen-time and sleep duration. Sleep duration can be affected by coffee consumption and screen-time.Objective: Knowing the relationship of coffee consumption and screen-time with sleep duration and BMI among Adult.Method: A cross-sectional study was conducted on 52 adult in Semarang Café. We measured weight and height as BMI (kg/m2). Subject interviewed about coffee consumption, screen-time, sleep duration and physical activity. Bivariate analysis used Pearson test and Rank-Spearman test. Multivariate analysis used Multivariate Linear Regression analysis of Backward.Result: Bivariate analysis showed there was a significance relationship between coffee volume and night screen-time with sleep duration (r=-0,3,p=0,03 and r=-0,3,p=0,01). There was a significance relationship between 1 day screen-time and physical activity with BMI (r=0,2, p=0,04 and r=-0,27, p=0,04). Multivariate analysis showed there was a significance relationship between physical activity with BMI (β=-0,26, p=0,05).Conclusion: The volume of coffee consumption and screen-time was the factor that caused sleep deprivation. Physical activity was the factor of increased nutritional status.

Perbedaan perilaku makan dan pola asuh pemberian makan antara balita gemuk dan non gemuk di Kota Semarang

Journal of Nutrition College Vol 6, No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.828 KB)

Abstract

Latar Belakang : Kegemukan kini tidak hanya ditemukan pada orang dewasa saja melainkan juga pada anak balita. Pola asuh pemberian makan dan perilaku makan balita merupakan dua faktor yang dapat mempengaruhi status gizi balita, sehingga peran keluarga khususnya ibu sangat penting untuk mengatasi kasus kegemukan dengan mengontrol asupan makan anak sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan pola asuh pemberian makan dan perilaku makan antara balita gemuk dan balita non gemuk di Kota Semarang.Metode : Subjek penelitian adalah pasangan ibu dan balita berusia dua sampai lima tahun yang terdiri dari 22 subjek kelompok kasus dan 22 subjek kelompok kontrol. Desain penelitian adalah case control. Penelitian dilakukan di Kelurahan Bangetayu Kulon dan Jangli, Semarang. Data yang diteliti meliputi perilaku makan dan pola asuh pemberian makan yang diperoleh melalui kuesioner. Analisis data yang dilakukan adalah uji komparatif kategorik Chi-square.Hasil : Kelompok balita gemuk sebagian besar memiliki skor penyuka makanan yang tinggi (95.5%), sedangkan dari kelompok non gemuk tidak terdapat balita dengan skor penyuka makanan tinggi (0.0%). Sementara itu, skor penghindar cenderung tinggi pada kelompok non gemuk (72.7%), sedangkan kelompok gemuk dengan skor penghindar makanan tinggi berjumlah lebih sedikit (27.3%). Pola asuh pemberian makan yang dominan pada kelompok gemuk adalah tipe pengabaian (59.0%), sedangkan pada kelompok non-gemuk adalah tipe demokratis (54.5%). Terdapat perbedaan perilaku penyuka makanan (p<0.01), perilaku penghindar makanan (p=0.07) dan pola asuh pemberian makan antara kedua kelompok (p<0.01).Simpulan : Terdapat perbedaan perilaku penyuka makanan, perilaku penghindar makanan dan pola asuh pemberian makan antara balita gemuk dan non-gemuk di Kota Semarang.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRAKTIK PEMBERIAN ASI DI WILAYAH PERKOTAAN, KELURAHAN PASEBAN, JAKARTA

GIZI INDONESIA Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian ASI pada masa dua tahun pertama penting untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Akan tetapi, praktik pemberian ASI seringkali belum dilakukan secara optimal. Faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI mungkin dipengaruhi kondisi wilayahnya, termasuk di perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI di wilayah perkotaan. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi (kuantitatif dan kualitatif) melalui wawancara kuesioner (178 orang) dan wawancara mendalam (11 orang) kepada ibu dari anak berusia 6-23 bulan. Praktik pemberian ASI eksklusif dan ASI lanjutan dilakukan oleh 2,2 persen dan 61,8 persen ibu. Persepsi bahwa ASI tidak cukup menjadi alasan utama ibu untuk memberikan makanan/minuman lain sebelum bayi berusia enam bulan. Sementara itu, pemberian ASI lanjutan dipraktikkan lebih baik pada ibu yang menjadi ibu rumah tangga dan mempunyai lebih banyak alokasi waktu untuk merawat anak. Pengalaman ibu ketika memberikan ASI pada anak sebelumnya, pengaruh/dukungan tenaga kesehatan, orangtua, suami, dan tempat kerja mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi praktik ibu dalam memberikan ASI adalah persepsi dan pekerjaan ibu, waktu ibu untuk merawat anak, pengalaman sebelumnya, serta pengaruh/dukungan dari sekitarnya. Promosi ASI kepada ibu, orang terdekat ibu, tempat kerja dan tenaga kesehatan diperlukan untuk meningkatkan praktik pemberian ASI dan dukungan untuk ibu menyusui. ABSTRACT FACTORS AFFECTING THE BREASTFEEDING PRACTICES IN URBAN AREAS, PASEBAN VILLAGES , JAKARTA Breastfeeding practice is important to optimize child’s growth and development, but it has not been optimally practiced yet. Factors affecting breastfeeding practice may be influenced by area condition. This study aimed to explore factors affecting breastfeeding practice in urban area. Mixed method was applied using questionnaire (178 persons) and in-depth interview (11 persons) to mothers of children aged 6-23 months. Exclusive and continued breastfeeding were practiced among 2.2 percent and 61.8 percent mothers. Perception that breastmilk was not enough for babies had become the mothers’ main reason to not practice exclusive breastfeeding. Continued breastfeeding was practiced better among housewives and those who had more time allocation to take care the child. Mothers’ previous experience, supports from health workers, parents, husbands and work places influenced mothers’ breastfeeding practice. It is concluded that breastfeeding practice was influenced by mothers’ perception, experience, occupation, time allocation to take care the child and supports from their surroundings. Breastfeeding promotion to mothers, their closest person, workplaces, and health workers are needed to improve mothers’ breastfeeding practice and supports for them. Keywords: exclusive breastfeeding, continued breastfeeding, urban

Perbedaan aktivitas fisik, screen time, dan persepsi ibu terhadap kegemukan antara balita gemuk dan non-gemuk di Kota Semarang

Journal of Nutrition College Vol 6, No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.575 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kegemukan merupakan masalah gizi balita yang terus meningkat. Kurangnya aktivitas fisik dan lamanya menatap layar elektronik (screen time) dapat memicu kegemukan. Kegemukan pada balita kurang disadari orang tua sebagai suatu masalah. Persepsi ibu berperan penting dalam mengelola asupan dan aktivitas fisik anak yang berpengaruh terhadap kegemukan balita.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan aktivitas fisik, screen time, dan persepsi ibu terhadap kegemukan antara balita gemuk dan non-gemuk, serta besar risikonya.Metode: Penelitian observasional dengan pendekatan kasus-kontrol dilakukan di Kelurahan Bangetayu Kulon dan Kelurahan Jangli, Semarang melibatkan 58 balita berusia 24-59 bulan beserta ibunya. Pengumpulan data meliputi identitas sampel, berat badan (BB), tinggi badan (TB), aktivitas fisik (AF), screen time (ST), dan persepsi ibu terhadap kegemukan balita. Data BB dan TB diambil melalui pengukuran antropometri, data AF, ST, dan persepsi diambil melalui wawancara dengan instrumen kuesioner, dianalisis dengan uji Chi Square.Hasil: Aktivitas fisik kurang ditemukan pada kelompok gemuk sebanyak 20(68.9%) dan kelompok non-gemuk 11(37.9%). Screen time tinggi terdapat pada kelompok gemuk sebanyak 25(86.3%) dan kelompok non-gemuk 11(37.9%). Persepsi negatif ibu terhadap kegemukan ditemukan pada kelompok gemuk sebanyak 15(51,7%) dan kelompok non-gemuk 17(58,6%). Perbedaan aktivitas fisik, screen time, dan persepsi ibu terhadap kegemukan balita ditunjukkan berturut–turut oleh p=0,034 (OR= 3,63; 95% CI:1,22;10,78), p<0,001 (OR= 10,22; 95% CI:2,80;37,33), dan p=0,792.Simpulan: Terdapat perbedaan aktivitas fisik serta screen time antara balita gemuk dan non-gemuk. Namun, tidak terdapat perbedaan mengenai persepsi ibu terhadap kegemukan balita pada kedua kelompok. Balita dengan aktivitas fisik kurang berisiko 3,63 kali lebih besar untuk mengalami kegemukan, sementara balita dengan screen time yang tinggi berisiko 10,2 kali lebih besar untuk mengalami kegemukan.

HUBUNGAN KONSUMSI WESTERN FAST FOODDENGAN HIPERTENSI PADA REMAJA DI SMA N 1 SEMARANG

Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.064 KB)

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi pada remaja perlu diperhatikan karena dapat mempengaruhi kesehatan ketika dewasa. Salah satu evaluasi dini yang perlu dilakukan adalah mengetahui konsumsi makan remaja, terutama western fast food. Western fast food mengandung tinggi lemak, natrium dan rendah serat yang berpotensi menimbulkan hipertensi jika dikonsumsi dengan frekuensi sering. Tujuan : Mengetahui hubungan konsumsi western fast food dengan hipertensi pada remaja di SMA N 1 SemarangMetode : Desain penelitian ini adalah cross sectionaldengan jumlah subyek 45 orang. Subyek adalah remaja SMA N 1 Semarang yang dipilih dengan simple random sampling. Data konsumsi western fast food dinilai dari frekuensi, porsi, kandungan gizi dan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan sehari yang diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner food frequencysemi-quantitative. Tekanan darah diperiksa dengan Sphygmomanometer. Status gizi diukur berdasarkan antropometri meliputi berat badan dan tinggi badan yang dinyatakan sebagai Z-score IMT/U. Analisis bivariat menggunakan uji rank  spearman.Hasil : Prevalensi hipertensi pada remaja adalah sebesar 6,66%. Sebanyak 10 subjek (22,2 %) mengonsumsi western fast food  lebih dari 2 kali/minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara frekuensi, porsi, kandungan gizi dan kontribusi western fast food dengan kejadian hipertensi (p > 0,05). Simpulan : tidak ada hubungan antara konsumsi western fast food dengan hipertensi pada remaja

Konsumsi susu formula sebagai faktor risiko kegemukan pada balita di Kota Semarang

Journal of Nutrition College Vol 6, No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.047 KB)

Abstract

Latar belakang: Saat ini kegemukan telah banyak ditemukan pada umur dini, yakni mulai dari umur 0-5 tahun. Pemberian susu formula dengan kandungan energi dan protein yang tinggi pada awal pertumbuhan dapat meningkatkan risiko terjadinya kegemukan pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi susu formula dengan kegemukan pada balita di Kota Semarang.Metode: Desain penelitian ini adalah kasus-kontrol. Subjek penelitian terdiri dari 27 subjek pada kelompok kasus dan 27 subjek pada kelompok kontrol dengan umur 2-5 tahun. Kriteria kegemukan menggunakan indikator z-score BB/TB. Waktu pertama pemberian susu formula dan berat rata-rata konsumsi susu formula diperoleh melalui kuisioner. Asupan energi, karbohidrat, protein dan lemak dihitung dengan formulir semi quantitative-food frequency questionaire (SQ-FFQ). Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square. Analisis Multivariat menggunakan Regresi Logistik Ganda.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 85.2% subjek pada kelompok kasus pertama kali mengonsumsi susu formula sebelum umur 6 bulan, sedangkan pada kelompok kontrol hanya 48.1%. Pada kelompok kasus, 77.8% subjek mengonsumsi susu formula >100 g/hari dibandingkan dengan kelompok kontrol hanya 33.3% dari subjek. Terdapat perbedaan pada waktu pertama pemberian susu formula (p= 0.004) dan konsumsi susu formula >100 g/hari (p= 0.001) antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. Konsumsi susu formula >100 g/hari berhubungan secara signifikan dengan kegemukan pada balita setelah dikontrol dengan asupan energi, protein, karbohidrat dan lemak (p = 0.009). Balita yang mengonsumsi susu formula >100 g/hari berisiko 7 kali lipat mengalami kegemukan dibandingkan dengan balita yang mengonsumsi < 100 g/hari.Simpulan: Balita yang mengonsumsi berat rata-rata susu formula >100 g/hari berisiko 7.0 kali mengalami kegemukan.