Andi Sagita, Andi
Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA TAMBAK UDANG VANNAME (Litopenaeus vannamei) DI KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Udang vanname (Litopenaeus vannamei) merupakan komoditas perikanan yang dikembangkan di Kabupaten Kendal, pengembangan budidaya udang vanname tersebut saat ini menggunakan cara pembudidayaan yang masih sederhana hingga teknologi intensif. Permasalahan dari penelitian ini adalah bahwa pengembangan yang sekarang dilakukan masih perlu penentuan strategi yang sesuai dengan potensi, daya dukung lingkungan dan kondisi wilayah pengembangan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji profil budidaya dan menentukan strategi pengembangan budidaya tambak udang vanname di Kabupaten Kendal, kemudian menentukan prioritas strategi berdasarkan analisis Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM) serta implikasi manajemen. Jenis penelitian  ini adalah penelitian deskriptif, dengan metode studi kasus (case study). Berdasarkan analisis SWOT kekuatan (S) yang paling besar pengaruhnya untuk pengembangan budidaya tambak udang vanname di Kabupaten Kendal adalah tata lingkungan budidaya (0,33), sedangkan kelemahan terbesar adalah sumber daya manusia (SDM) dan produk hasil budidaya (0,23), serta peluang (O) terbesar adalah kegiatan  manajemen tambak (0,37), dan ancaman (T) terbesar adalah penyakit viral (0,25). Dalam persaingan keunggulan strategis Kabupaten Kendal berada pada posisi persaingan aman (favorable) dengan jumlah skor pembobotan variabel internal sebesar 3,11. Total skor pembobotan dari peluang yaitu sebesar 1,72 dan dari ancaman adalah 1,07. Berdasarkan matriks SWOT diperoleh rangking strategi alternatif yaitu berturut-turut strategi SO (3,92), ST (3,27), WO (2,64) dan WT (2,01),  sedangkan berdasarkan kuadran analisis berada pada kuadran 1 (Growth Oriented Strategy). Berdasarkan analisis QSPM, Total Attractive Score (TAS) diperoleh prioritas strategi utama yaitu Strategi WO1 (TAS = 6,964) yaitu meningkatkan kompetensi dan profesionalisme SDM melalui implikasi manajemen berupa kegiatan penyuluhan rutin dan berkala, sedangkan strategi pilihan terakhir adalah strategi WO3 (TAS = 6,678) yaitu memanfaatkan sumber dana yang ada untuk meningkatkan hasil produksi budidaya melalui kegiatan partisipatif, kerjasama dan kemitraan yang saling menguntungkan. Vanname shrimp (Litopenaeus vannamei) is a commodity that is developed in Kendal, the development of vanname culture currently adapted was simple cultivation to intensive technology method. The problem of this study is that the development is now done still need to determine the appropriate strategy with  the potential,  carrying capacity of the environment and conditions of  development area. The purpose of this study is to assess profile and also development strategy of vanname shrimp brackishwater culture in Kendal, then  priorities  strategies based on Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM) analysis and implication management. This study used descriptive method that is a case study. Based on SWOT analysis, the result showed that Strength (S) for developing vannamei shrimp brackishwater culture in Kendal Regency is environmental culture management as the most influence(0.33), but the biggest weakness are human resources and culture production (0.23), while the biggest opportunity (O) is pond management (0.37) and the biggest threat (T) is viral diseases (0.25). On the competitive strategic advantage, Kendal Regency is in a safe position (favorable), with the number of weighting internal variables about 3.11. Total score weighting of opportunities and threats are 1.72 and 1.07. Ranking of alternative strategy gained based on the SWOT matrix  are SO (3.92), ST (3.27), WO (2.64) and WT (2.01) while quadrant analysis is in 1stquadrant (Growth Oriented Strategy). Based on QSPM analysis, Total Attractive Score (TAS) obtained the key strategic priority is WO1 (TAS= 6,964) which is to improve human resource competence and professionalism through management implications in the form of routine and periodic extension activities, while the last strategy choice is WO3 (TAS=6,678) by utilize the existing funding sources to increase the aquaculture production  through participatory, cooperation and partnerships activities.

Strategi Pemanfaatan Perairan Pesisir untuk Budi Daya Kerang Hijau (Perna viridis L.) di Kuala Langsa, Provinsi Aceh

Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol 22, No 3 (2017): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.906 KB)

Abstract

Development of green mussel culture currently still requires the determination of strategies in accordance with the potential and conditions of coastal areas as well as management culture system. This research aims to formulate strategies of the utilization coastal waters for green mussel culture in coastal Kuala Langsa, Aceh Province. Data collected to identify internal factors and external, including primary and secondary data, while the determination of respondents using purposive sampling method. SWOT Analysis is used for strategy determined while prioritizing strategy using Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM) analysis. Based on SWOT analysis, identified 9 strength factors, 4 weakness factors, 6 opportunity factors, and 5 threat factors and 8 strategies, then the priority of strategies is determined with QSPM analysis, the sequence of the most important priority is: counseling and training to improve the management of green mussel culture for coastal communities (WO1); green mussel culture can be integrated with the involvement of coastal communities as stakeholders (WO2); optimization of coastal waters for green mussel culture is supported by ecology conditions (SO1); green mussel culture can be done with longline method with a density of 20 individuals/basket 5.30 l (SO3); site selection for culture and spat collection of green mussel should consider coastal oceanographic factors (ST1); controlling the level of waste disposal from the mainland so as not to pollute coastal areas (ST2); and to formulate practical guidance of management of green mussel culture based on the food security principle.

BUDIDAYA KERANG HIJAU (Perna viridis L.) DENGAN METODE DAN KEPADATAN BERBEDA DI PERAIRAN PESISIR KUALA LANGSA, ACEH

Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.718 KB)

Abstract

Kerang hijau merupakan komoditas budidaya laut yang sangat prospektif untuk dikembangkan pada suatu sistem budidaya, karena dapat dilakukan dengan biaya produksi yang rendah namun menghasilkan profitabilitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode dan kepadatan yang paling optimal untuk budidaya kerang hijau di perairan pesisir Kuala Langsa, Aceh. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial yang terdiri atas faktor metode (long line dan stick) dan faktor kepadatan (20, 30, dan 40 individu/kantong 5,30 L), masing-masing diulang sebanyak empat kali. Berdasarkan sidik ragam data Specific Growth Rate (SGR) dari panjang (SGL L) dan bobot (SGR W) menunjukkan semua perlakuan metode, kepadatan dan interaksi berbeda signifikan pada taraf uji 5% (P<0,05), di mana perlakuan yang paling optimal yaitu perlakuan metode long line dengan kepadatan 20 individu/kantong 5,30 L diperoleh rata-rata nilai SGR (L) sebesar 0,86 ± 0,01%/hari dan SGR (W) sebesar 1,18 ± 0,04%/hari dengan sintasan mencapai 92,50 ± 2,89%. Parameter kualitas perairan selama periode budidaya masih sesuai untuk mendukung kehidupan kerang hijau di mana suhu berkisar 27,5-34,0°C; salinitas 28,5-33,0 ppt; pH 7,8-8,6; dan oksigen terlarut 4,5-6,5 mg/L; serta kecepatan arus 0,1-0,3 m/s. Budidaya kerang hijau dengan metode long line pada kepadatan 20 individu/kantong 5,30 L merupakan pola budidaya yang paling optimal untuk diterapkan di perairan pesisir Kuala Langsa, Aceh.Green mussel is a very prospective marine aquaculture commodity due to its low cost production but with high profitability. This research aimed to determine the most optimal method and densities for green mussel culture in coastal waters of Kuala Langsa, Aceh. The research used a completely randomized factorial design consisting of methods factor (long line and stick) and densities factor (20, 30, and 40 individuals/basket 5.30 L), each repeated four times. Based on the variance analysis of specific growth rate (SGR) data of the length (SGR L) and weight (SGR W), all treatments of different methods and densities as well as their interactions were significant different (P<0.05). This study suggested that long line method with a densities of 20 individuals/basket 5.30 L was found to be the most optimal treatment for green mussel culture in coastal waters of Kuala Langsa. With this long line method an average SGR (L) value of 0.86 ± 0.01%/day, SGR (W) value of 1.18 ± 0.04%/day, and survival rate of 92.50 ± 2.89% were obtained. Water quality parameters during the culture period are still within the suitable range for green mussel culture, with the range of temperature 27.5-34.0°C, salinity 28.5-33.0 ppt, pH 7.8-8.6, dissolved oxygen 4.5-6.5 mg/L, and current velocity 0.1-0.3 m/s.

PENILAIAN KONDISI EKOLOGI PERAIRAN UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA KERANG HIJAU (Perna viridis L.) DI PESISIR KUALA LANGSA, ACEH

BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 1 (2018): April (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.168 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi ekologi untuk pengembangan budidaya kerang hijau di pesisir Kuala Langsa, Aceh. Data ekologi perairan dikumpulkan di 12 titik sampling pada Agustus, September dan Oktober 2016 untuk mewakili musim hujan, serta Maret, April dan Mei 2017 untuk mewakili musim kemarau. Data dianalisis dengan analisis komponen utama (principal component analysis/PCA). Suhu perairan pesisir Kuala Langsa berkisar 25,5 – 35,6 oC dengan rata-rata 30,5 ± 1,7 oC; salinitas 25,9 – 34,0 ppt dengan rata-rata 29,9 ± 1,3 oC; pH 7,0 – 9,2 dengan rata-rata 8,1 ± 0,3; oksigen terlarut 3,9 – 6,8  mg/l dengan rata-rata 5,5 ± 0,5 mg/l; kecepatan arus berkisar 0,1 – 0,9 m/s dengan rata-rata 0,3 ± 0,1 m/s; serta kelimpahan fitoplankton berkisar 1,32 x 105 sel/m3 hingga 6,86 x 105 sel/m3 dengan rata-rata 3,88 x 105 ± 1,08 x 105 sel/ m3. PCA yang diaplikasikan pada seluruh data menghasilkan dua komponen utama, yaitu PC1 dan PC2 dengan nilai akar ciri (eigenvalue) sebesar 2,096 dan 1,770; dimana PC1 secara kumulatif dapat menjelaskan ragam seluruh data sebesar 34,9% yang dibangun oleh parameter salinitas, suhu dan plankton, sedangkan PC2 sebesar 64,4% yang dibangun oleh parameter oksigen terlarut dan salinitas.  Berdasarkan analisis dengan membandingkan parameter ekologi perairan untuk budidaya kerang hijau berdasarkan literatur maka dapat disimpulkan bahwa kondisi ekologi perairan pada musim hujan dan kemarau dapat mendukung pengembangan budidaya kerang hijau di pesisir Kuala Langsa, Aceh. The research aims to assess the waters ecology condition for the development of green mussel cultivation in the coastal of Kuala Langsa, Aceh. Parameters of waters ecology collected at 12 sampling points in August, September and October 2016 to represent the rainy season, while March, April and May 2017 to represent the dry season. Principal component analysis (PCA) used to assess the waters ecology. The temperature ranged 25.5 – 35.6 oC average by 30.5 ± 1.7 oC; salinity by 25.9 – 34.0 ppt average by 29.9 ± 1.3 oC; pH by 7.0 – 9.2 average by 8.1 ± 0.3; dissolved oxygen from 3.9 – 6.8 average by 5.5 ± 0.5 mg/l; current velocity by 0.1 – 0.9 m/s average by 0.3 ± 0.1 m/s; and abundance of phytoplankton ranged 1.32 x 105 cell/m3 to 6.86 x 105 cell/m3. Two principal component was PC1 and PC2 with a eigenvalue of 2.096 and 1.770 extracted from PCA; where PC1 on cumulatively can explain 34.9% of all data collected, mainly contributed by parameters of salinity, temperature and plankton, while PC2 was 64.4% contributed by parameters dissolved oxygen and salinity. Based on the analysis by comparing waters ecology parameters for green mussel culture based from literate study, it suggests that the waters ecology condition could support the development of green mussel culture in the coastal of Kuala Langsa, Aceh.