Em Yunir, Em
Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia, Jakarta

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

Profile and analysis of diabetes chronic complications in Outpatient Diabetes Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta Tarigan, Tri J.E.; Yunir, Em; Subekti, Imam; Pramono, Laurentius A.; Martina, Diah
Medical Journal of Indonesia Vol 24, No 3 (2015): September
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.752 KB) | DOI: 10.13181/mji.v24i3.1249

Abstract

Background: Chronic complications of diabetes mellitus have a significant role in increasing morbidity, mortality, disability, and health cost. In the outpatient setting, the availability of data regarding to the chronic complications of type 2 diabetes is useful for evaluation of prevention, education, and patient’s treatment. This study aimed to describe the characteristic of type 2 diabetes chronic complications in outpatient diabetes clinic.Methods: A cross-sectional study was done using 155 patients in Outpatient Diabetes Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital (RSCM), Jakarta in 2010. Secondary data were used from medical record based on history taking, physical examination, diabetic foot assessment, laboratory, neurologic, cardiology, opthalmology, ankle brachial index, and electrography of the patients. Characteristic profiles of the subjects, prevalence of the chronic complications, and its association with diabetes risk factors, such as glycemic control using HbA1c, fasting blood glucose, duration of diabetes, and LDL cholesterol were analyzed using chi square test.Results: Among 155 subjects participated in the study, most of them were women (59%) and elderly (46%). The prevalence of diabetes chronic complications was 69% from all subjects. These chronic complications included microangiopathy, macroangiopathy and mixed complications, with prevalence of 56%, 7% and 27% respectively. Microangiopathy included nephropathy (2%), retinopathy (7%), neuropathy (38%) and mixed complications (53%). Macroangiopathy included coronary heart disease (46%), peripheral arterial disease (19%), stroke (18%), and mixed complication (17%). From the analysis, we found significant association between duration of diabetes and diabetic neuropathy (p = 0.003).Conclusion: Prevalence of diabetes chronic complications in Outpatient Diabetes Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital, mainly dominated by microvascular-related complications including nephropathy, retinopathy, neuropathy and mixed complications. There was statistical significance between diabetes duration and diabetic neuropathy.
Diagnosis dan Tata Laksana Acquired Hemophilia A (AHA) dengan Pemfigoid Bulosa Sihombing, Rasco Sandy; Silalahi, Henry Ratno Diono; Shatri, Hamzah; Sukrisman, Lugyanti; Rinaldi, Ikhwan; Prasetyawati, Findy; Novianto, Endy; Yunir, Em
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Acquired hemophilia A merupakan kondisi dimana faktor koagulasi VIII menjadi tidak aktif akibat pembentukan autoantibodi. Kondisi ini dikaitkan dengan kehamilan, keganasan, dan penyakit auitoimun dengan kelainan kulit. Pada kasus ini, seorang wanita berusia 66 tahun, datang dengan keluhan perdarahan paska tindakan yang disertai dengan lesi kulit. Pasien didiagnosis dengan acquired hemophilia A dengan ditemukannya inhibitor faktor VIII terkait dengan pemfigoid bulosa.Kata Kunci: Acquired hemophilia A, diagnosis, pemfigoid bulosa, tata laksana  Diagnosis and Treatment of Acquired Hemophilia A (AHA) with Bullous PemphigoidAcquired hemophilia A is a condition in which coagulation factor VIII become inactive due to autoantibody formation. This condition is related to pregnancy, malignancy, and autoimmune disease with skin disorder. In this case report, a 66 years woman with a post procedural bleeding with skin disorder. Later on, patient diagnosed with acquired hemophilia A with a factor VIII inhibitors related to bullous pemphigoid. Keywords : Acquired hemophilia A, bullous pemphigoid, diagnosis, treatment
Pengaruh Depresi Terhadap Perbaikan Infeksi Ulkus Kaki Diabetik Auliana, Arshita; Yunir, Em; Putranto, Rudi; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Pasien Diabetes Melitus (DM) dengan ulkus kaki lebih banyak yang mengalami depresi dan memiliki kualitas hidup yang buruk. Dalam tatalaksana ulkus kaki diabetik perlu diperhatikan faktor psikososial karena diperkirakan dapat mempengaruhi penyembuhan luka melalui induksi gangguan keseimbangan neuroendokrin-imun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh depresi terhadap proses perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik, serta tingkat depresi pada pasien ulkus kaki diabetik yang dirawat inap.Metode. Studi kohort prospektif dilakukan pada 95 pasien ulkus kaki diabetik terinfeksi yang dirawat di RSCM dan RS jejaring pada Maret-Oktober 2014. Subjek dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok depresi dan kelompok tidak depresi. Data klinis, penilaian depresi, dan data laboratorium diambil saat pasien masuk rumah sakit kemudian dinilai perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik dalam 21 hari masa perawatan.Hasil. Dari 95 subyek penelitian, 57 orang (60%) masuk dalam kelompok depresi, yang didominasi oleh kelompok perempuan (70%). Penyakit komorbid terbanyak adalah hipertensi, dengan angka komorbiditas dan penyakit kardivaskular lebih tinggi pada kelompok depresi. Malnutrisi dan obesitas juga lebih banyak pada kelompok depresi (64,9% dan 31,6%), demikian pula dengan kontrol glikemik yang buruk (73,7%). Sebagian besar pasien (73,7%) yang masuk dalam kelompok depresi memiliki depresi ringan. Pada kelompok depresi 40,4% mengalami perbaikan infeksi dalam 21 hari masa perawatan, sedangkan 68,4% pada kelompok tidak depresi. Depresi cenderung meningkatkan risiko atau kemungkinan tidak terjadinya perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik, walaupun setelah dilakukan penyesuaian terhadap variabel perancu, hasil tersebut tidak bermakna secara statistik (p = 0,07, adjusted OR 2,429 dengan IK 95% 0,890-6,632). Lebih banyak subjek dengan depresi sedang yang tidak mengalami perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik dibandingkan dengan subjek dengan depresi ringan (93,3% dan 47,6%).Simpulan. Depresi cenderung meningkatkan risiko atau kemungkinan tidak terjadinya perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik.
Perubahan Kendali Glikemik dan Plasminogen Activator Inhibitor-1 (PAI-1) pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe-2 yang Berpuasa Ramadhan di RSUPN Cipto Mangunkusumo Khomimah, Khomimah; Waspadji, Sarwono; Yunir, Em; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Penyandang diabetes melitus (DM) mempunyai risiko tinggi mengalami penyakit kardiovaskular (PKV), yang progresivitasnya dipercepat oleh penurunan kapasitas fibrinolisis. Penyandang DM yang berpuasa Ramadhan mengalami berbagai perubahan yang dapat memengaruhi kendali glikemik dan status fibrinolisisnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui penurunan fruktosamin dan plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1).Metode. Penelitian dikerjakan dengan metode kuasi eksperimental one group design self control study pada penyandang DM tipe-2 yang berpuasa Ramadhan dan berusia 40-60 tahun. Hasil. Penelitian ini menunjukkan sebagian besar subjek memiliki 3 faktor risiko PKV dan dengan kendali glikemik yang jelek sebelum puasa Ramadhan. Terdapat penurunan yang bermakna pada glukosa puasa plasma, tetapi tidak bermakna pada glukosa darah 2 jam setelah makan. Tidak terdapat perbedaan asupan kalori pada 18 subjek yang dianalisis. Tidak didapatkan penurunan yang bermakna pada fruktosamin serum maupun PAI-1 plasma. Kendali glikemik yang dicapai sebelum dan asupan kalori selama berpuasa Ramadhan kemungkinan merupakan faktor yang memengaruhi penurunan fruktosamin. Selain glukosa darah, faktor yang memengaruhi kadar PAI-1 plasma di antaranya adalah insulin plasma, angiotensin II, faktor pertumbuhan dan inflamasi, yang tidak diukur dalam penelitian ini.Simpulan. Tidak terdapat penurunan kadar fruktosamin serum sesudah berpuasa Ramadhan lebih dari sama dengan 21 hari pada penyandang DM tipe-2. Tidak terdapat penurunan kadar plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1) plasma sesudah berpuasa Ramadhan lebih dari sama dengan 21 hari pada penyandang DM tipe-2. 
Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta Kurniawan, Hendra Dwi; Yunir, Em; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang. Ulkus kaki diabetik terinfeksi merupakan kasus DM yang paling banyak dirawat di RS, berhubungan dengan morbiditas, mortalitas, biaya yang tinggi dan bersifat multifaktorial. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah albumin. Belum ada penelitian yang secara langsung menghubungkan konsentrasi albumin serum awal perawatan dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Belum ada batasan mengenai konsentrasi albumin yang dapat mempengaruhi perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Penelitian ini bertujuan Mendapatkan data mengenai konsentrasi albumin serum awal perawatan dan hubungannya dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik.Metode. Penelitian dengan desain kohort prospektif terhadap 71 pasien diabetes dengan ulkus kaki terinfeksi yang dirawat inap di RSUPNCM, RSPADGS atau RSP pada kurun waktu April-Agustus 2014. Diagnosis dan klasifikasi ulkus kaki diabetik terinfeksi menggunakan kriteria IDSA. Data klinis dan albumin serum diambil dalam 24 jam pertama perawatan dandiikuti dalam 21 hari perawatan dengan terapi standar untuk dilihat perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Perbedaan rerata konsentrasi albumin antara subjek yang mengalami perbaikan klinis infeksi dan yang tidak, diuji dengan uji t tidak berpasangan dengan batas kemaknaan p<0,05. Untuk analisis multivariat, digunakan analisis regresi logistik dengan koreksi terhadap variabel perancu. Kemudian dinilai kemampuan konsentrasi albumin serum dalam memprediksi perbaikan klinis dengan membuat kurva ROC dan menghitung AUC. Lalu ditentukan titik potong konsentrasi albumin serum dengan sensitivitas dan spesifisitas terbaik pada penelitian ini.Hasil. Rerata konsentrasi albumin pada kelompok yang tidak mengalami perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik dan yang perbaikan, masing-masing sebesar 2,47 (0,45) g/dL dan 2,94 (0,39) g/dL (p<0,001). Setelah penambahan variabel perancu, didapatkan adjusted OR untuk setiap penurunan konsentrasi albumin 0,5 g/dL adalah 4,81 (IK95% 1,80;10,07). Konsentrasi albumin kurang dari 2,66 g/dL dapat memprediksi bahwa ulkus kaki diabetik terinfeksi tidak akan mengalami perbaikan dalam 21 hari perawatan dengan sensitivitas 75% dan spesifisitas 69,6%.Simpulan. Terdapat hubungan antara konsentrasi albumin serum awal perawatan dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Konsentrasi albumin serum kurang dari 2,66 g/dL dapat memprediksi ulkus kaki diabetik terinfeksi tidak akan membaik dengan sensitivitas 75% dan spesifisitas 69,6%.
Obesity and central obesity in Indonesia: evidence from a national health survey Harbuwono, Dante S.; Pramono, Laurentius A.; Yunir, Em; Subekti, Imam
Medical Journal of Indonesia Vol 27, No 2 (2018): June
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.289 KB) | DOI: 10.13181/mji.v27i2.1512

Abstract

Background: Obesity and central obesity have become serious public health problems in developing countries such as Indonesia. Although 10 years have passed since the largest national health survey was conducted in 2007, no further analysis and publication concerning obesity and central obesity in Indonesia have been conducted based on the survey. The aim of this study is to determine the prevalence of obesity and central obesity, and its association with sociodemographic characteristics and comorbidities in Indonesia.Methods: A cross-sectional study was conducted based on the National Basic Health Survey 2007 using total sampling method from 33 provinces. Obesity is defined as body mass index ≥25 according to the Asia-Pacific standard for obesity. Central obesity is defined as waist circumference &gt;90 cm for men and &gt; 80 cm for women according to the Asia-Pacific standard for central obesity.Results: The prevalence of obesity and central obesity in the Indonesian adult population are 23.1% and 28%, respectively. Both rates are higher in females than in males. Obesity and central obesity are associated with the risk of diabetes and hypertension.Conclusion: Prevalence of obesity and central obesity is high in the Indonesian adult population. Interventional programs are important to promote awareness of obesity and healthy lifestyle changes in the community.
Pengaruh Depresi Terhadap Perbaikan Infeksi Ulkus Kaki Diabetik Auliana, Arshita; Yunir, Em; Putranto, Rudi; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 4 (2015)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.108 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v2i4.88

Abstract

Pendahuluan. Pasien Diabetes Melitus (DM) dengan ulkus kaki lebih banyak yang mengalami depresi dan memiliki kualitas hidup yang buruk. Dalam tatalaksana ulkus kaki diabetik perlu diperhatikan faktor psikososial karena diperkirakan dapat mempengaruhi penyembuhan luka melalui induksi gangguan keseimbangan neuroendokrin-imun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh depresi terhadap proses perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik, serta tingkat depresi pada pasien ulkus kaki diabetik yang dirawat inap.Metode. Studi kohort prospektif dilakukan pada 95 pasien ulkus kaki diabetik terinfeksi yang dirawat di RSCM dan RS jejaring pada Maret-Oktober 2014. Subjek dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok depresi dan kelompok tidak depresi. Data klinis, penilaian depresi, dan data laboratorium diambil saat pasien masuk rumah sakit kemudian dinilai perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik dalam 21 hari masa perawatan.Hasil. Dari 95 subyek penelitian, 57 orang (60%) masuk dalam kelompok depresi, yang didominasi oleh kelompok perempuan (70%). Penyakit komorbid terbanyak adalah hipertensi, dengan angka komorbiditas dan penyakit kardivaskular lebih tinggi pada kelompok depresi. Malnutrisi dan obesitas juga lebih banyak pada kelompok depresi (64,9% dan 31,6%), demikian pula dengan kontrol glikemik yang buruk (73,7%). Sebagian besar pasien (73,7%) yang masuk dalam kelompok depresi memiliki depresi ringan. Pada kelompok depresi 40,4% mengalami perbaikan infeksi dalam 21 hari masa perawatan, sedangkan 68,4% pada kelompok tidak depresi. Depresi cenderung meningkatkan risiko atau kemungkinan tidak terjadinya perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik, walaupun setelah dilakukan penyesuaian terhadap variabel perancu, hasil tersebut tidak bermakna secara statistik (p = 0,07, adjusted OR 2,429 dengan IK 95% 0,890-6,632). Lebih banyak subjek dengan depresi sedang yang tidak mengalami perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik dibandingkan dengan subjek dengan depresi ringan (93,3% dan 47,6%).Simpulan. Depresi cenderung meningkatkan risiko atau kemungkinan tidak terjadinya perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik.
Perubahan Kendali Glikemik dan Plasminogen Activator Inhibitor-1 (PAI-1) pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe-2 yang Berpuasa Ramadhan di RSUPN Cipto Mangunkusumo Khomimah, Khomimah; Waspadji, Sarwono; Yunir, Em; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.204 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v1i1.37

Abstract

Pendahuluan. Penyandang diabetes melitus (DM) mempunyai risiko tinggi mengalami penyakit kardiovaskular (PKV), yang progresivitasnya dipercepat oleh penurunan kapasitas fibrinolisis. Penyandang DM yang berpuasa Ramadhan mengalami berbagai perubahan yang dapat memengaruhi kendali glikemik dan status fibrinolisisnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui penurunan fruktosamin dan plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1).Metode. Penelitian dikerjakan dengan metode kuasi eksperimental one group design self control study pada penyandang DM tipe-2 yang berpuasa Ramadhan dan berusia 40-60 tahun. Hasil. Penelitian ini menunjukkan sebagian besar subjek memiliki 3 faktor risiko PKV dan dengan kendali glikemik yang jelek sebelum puasa Ramadhan. Terdapat penurunan yang bermakna pada glukosa puasa plasma, tetapi tidak bermakna pada glukosa darah 2 jam setelah makan. Tidak terdapat perbedaan asupan kalori pada 18 subjek yang dianalisis. Tidak didapatkan penurunan yang bermakna pada fruktosamin serum maupun PAI-1 plasma. Kendali glikemik yang dicapai sebelum dan asupan kalori selama berpuasa Ramadhan kemungkinan merupakan faktor yang memengaruhi penurunan fruktosamin. Selain glukosa darah, faktor yang memengaruhi kadar PAI-1 plasma di antaranya adalah insulin plasma, angiotensin II, faktor pertumbuhan dan inflamasi, yang tidak diukur dalam penelitian ini.Simpulan. Tidak terdapat penurunan kadar fruktosamin serum sesudah berpuasa Ramadhan lebih dari sama dengan 21 hari pada penyandang DM tipe-2. Tidak terdapat penurunan kadar plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1) plasma sesudah berpuasa Ramadhan lebih dari sama dengan 21 hari pada penyandang DM tipe-2. 
Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta Kurniawan, Hendra Dwi; Yunir, Em; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.375 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v2i1.62

Abstract

Latar Belakang. Ulkus kaki diabetik terinfeksi merupakan kasus DM yang paling banyak dirawat di RS, berhubungan dengan morbiditas, mortalitas, biaya yang tinggi dan bersifat multifaktorial. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah albumin. Belum ada penelitian yang secara langsung menghubungkan konsentrasi albumin serum awal perawatan dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Belum ada batasan mengenai konsentrasi albumin yang dapat mempengaruhi perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Penelitian ini bertujuan Mendapatkan data mengenai konsentrasi albumin serum awal perawatan dan hubungannya dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik.Metode. Penelitian dengan desain kohort prospektif terhadap 71 pasien diabetes dengan ulkus kaki terinfeksi yang dirawat inap di RSUPNCM, RSPADGS atau RSP pada kurun waktu April-Agustus 2014. Diagnosis dan klasifikasi ulkus kaki diabetik terinfeksi menggunakan kriteria IDSA. Data klinis dan albumin serum diambil dalam 24 jam pertama perawatan dandiikuti dalam 21 hari perawatan dengan terapi standar untuk dilihat perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Perbedaan rerata konsentrasi albumin antara subjek yang mengalami perbaikan klinis infeksi dan yang tidak, diuji dengan uji t tidak berpasangan dengan batas kemaknaan p<0,05. Untuk analisis multivariat, digunakan analisis regresi logistik dengan koreksi terhadap variabel perancu. Kemudian dinilai kemampuan konsentrasi albumin serum dalam memprediksi perbaikan klinis dengan membuat kurva ROC dan menghitung AUC. Lalu ditentukan titik potong konsentrasi albumin serum dengan sensitivitas dan spesifisitas terbaik pada penelitian ini.Hasil. Rerata konsentrasi albumin pada kelompok yang tidak mengalami perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik dan yang perbaikan, masing-masing sebesar 2,47 (0,45) g/dL dan 2,94 (0,39) g/dL (p<0,001). Setelah penambahan variabel perancu, didapatkan adjusted OR untuk setiap penurunan konsentrasi albumin 0,5 g/dL adalah 4,81 (IK95% 1,80;10,07). Konsentrasi albumin kurang dari 2,66 g/dL dapat memprediksi bahwa ulkus kaki diabetik terinfeksi tidak akan mengalami perbaikan dalam 21 hari perawatan dengan sensitivitas 75% dan spesifisitas 69,6%.Simpulan. Terdapat hubungan antara konsentrasi albumin serum awal perawatan dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Konsentrasi albumin serum kurang dari 2,66 g/dL dapat memprediksi ulkus kaki diabetik terinfeksi tidak akan membaik dengan sensitivitas 75% dan spesifisitas 69,6%.
Faktor-Faktor Determinan dan Nilai Tambah Osteoprotegerin (OPG) dalam Mendeteksi Penebalan Tunika Intima-Media (TIM) Karotis pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Tedjasaputra, Shirly Elisa; Yunir, Em; Wijaya, Ika Prasetya; Setiati, Siti
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.138 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v5i2.185

Abstract

Pendahuluan. Kalsifikasi vaskular yang ditandai dengan penebalan tunika intima-media (TIM) karotis pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan faktor prediktor terhadap kejadian serebro-kardiovaskular. Osteoprotegerin (OPG) merupakan penanda disfungsi endotel yang dapat digunakan sebagai prediktor terhadap penebalan TIM karotis. Penggunaan ultrasonografi (USG) karotis untuk menilai ketebalan TIM karotis masih terbatas di Indonesia sehingga diperlukan metode diagnostik lain yang lebih cost effective. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan faktor-faktor determinan yang bermakna dan nilai tambah diagnostik pemeriksaan OPG dalam mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2.Metode. Studi potong lintang dilakukan di poliklinik Metabolik Endokrin dan poliklinik spesialis Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada bulan April–Juni 2012 pada pasien DM tipe 2 tanpa komplikasi serebro-kardiovaskular, tanpa komplikasi penyakit ginjal kronik (PGK) stadium III–V dan tidak merokok. Pada penelitian ini dilakukan analisis bivariat dan multivariat pada variabel lama menderita DM, hipertensi, dislipidemia, HbA1c, dan OPG. Selanjutnya, ditentukan nilai tambah pemeriksaan OPG dalam mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 17.0.Hasil. Dari 70 subjek penelitian, didapatkan jumlah subjek dengan peningkatan OPG dan penebalan TIM karotis adalah sebesar 45,7% dan 70%. Dari 49 subjek dengan penebalan TIM karotis, didapatkan 61,2% subjek dengan peningkatan OPG. Lama menderita DM (OR 26,9; IK 95% 2–365,6), hipertensi (OR 22; IK 95% 2,3–207,9), dislipidemia (OR 85,2; IK 95% 3,6-203,6) dan OPG (OR 12,9; IK 95% 1,4–117,3) berhubungan secara bermakna dengan penebalan TIM karotis. Pemeriksaan OPG mempunyai spesifisitas dan nilai duga positif tinggi (90,5% dan 84%). Nilai tambah diagnostik OPG hanya sebesar 2,3% dalam mendeteksi penebalan TIM karotis.Simpulan. Faktor-faktor determinan yang bermakna untuk mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2 adalah lama menderita DM, hipertensi, dislipidemia dan OPG. Nilai tambah diagnostik dari pemeriksaan OPG adalah sebesar 2,3% dalam mendeteksi penebalan TIM karotis pada pasien DM tipe 2.Kata Kunci: Diabetes melitus (DM) tipe 2, Faktor determinan, Osteoprotegerin (OPG), Penebalan tunika intima-media (TIM) karotis Determinant Factors and Added Value of Osteoprotegerin (OPG) to Detect Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) in Type 2 Diabetes Mellitus Patient Introduction. Vascular calcification measured by carotid intima-media thickness (CIMT) in type 2 diabetes mellitus (DM) patient is a predictor for cerebro-cardiovascular event. Osteoprotegerin (OPG) as a marker for endothelial dysfunction can be used as a predictor for increased CIMT. Applicability of carotid ultrasonography (USG) in Indonesia is still limited, therefore other diagnostic method that is more cost effective is needed. This study aims to determine the significant determinant factors and the diagnostic added value of OPG to detect increased CIMT in type 2 DM patient. Methods. Cross sectional study was conducted in Metabolic Endocrine and Internal Medicine outpatient clinic Cipto Mangunkusumo Hospital between April and June 2012 in type 2 DM patient without history of cerebro-cardiovascular event, without history of chronic kidney disease (CKD) stage III–V and without smoking. Bivariate analysis and multivariate analysis were performed to variables duration of DM, hypertension, dyslipidemia, HbA1c and OPG, followed by determining the diagnostic added value of OPG to detect increased CIMT in t ype 2 DM patient. Results. From 70 subjects, there were 45,7% subject with increased OPG and 70% subject with increased CIMT. From 49 subject with increased CIMT, 61,2% subject had increased OPG. Duration of DM (OR 26,9; IK 95% 2–365,6), hypertension (OR 22; IK 95% 2,3–207,9), dyslipidemia (OR 85,2; IK 95% 3,6–203,6) and OPG (OR 12,9; IK 95% 1,4–117,3) were correlated significantly to increased CIMT. OPG measurement had high specificity and positive predictive value (90,5% and 84%). Diagnostic added value of OPG was only as 2,3% to detect increa sed CIMT in type 2 DM patient. Conclusions. The significant determinant factors for detection of increased CIMT in type 2 DM patient were duration of DM, hypertension, dyslipidemia and OPG. The diagnostic added value of OPG was 2,3% to detect increased CIMT in type 2 DM patient.