Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu
Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 25 Documents
Articles

Found 25 Documents
Search

ANALISIS ARAH PERTUMBUHAN WILAYAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIG (Studi Kasus : Kabupaten Bekasi) Alfarizi, Charisma Parasandi; Subiyanto, Sawitri; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1508.742 KB)

Abstract

ABSTRAKWilayah adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki karakteristik tertentu dan berbeda dengan wilayah yang lain. Istilah lain dari wilayah yang umum digunakan adalah region. Pesatnya pembangunan menyebabkan tingginya perubahan pola penggunaan lahan. Lahan yang dulunya merupakan lahan kosong atau lahan tidak terbangun, banyak mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Bekasi. Analisis perubahan penggunaan lahan ini dilakukan dengan penggambaran peta penggunaan lahan Kabupaten Bekasi tahun 2000, 2005, dan 2010 menggunakan Citra Landsat 7 serta tahun 2015 dengan menggunakan Citra Landsat 8 kemudian untuk mendapatkan analisis perubahan lahan digunakan metode SIG.Berdasarkan analisis pada Citra Landsat 7 tahun 2000, 2005, dan 2010 serta Landsat 8 tahun 2015 di dapatkan luas Kabupaten Bekasi sebesar 130675,8769 Ha. Kecamatan yang paling pesat perkembangannya yaitu Kecamatan Cibitung, karena pada tahun 2000 lahan permukimannya hanya seluas 1183,232 Ha dari 4387,370 Ha atau sekitar 27%, sedangkan pada tahun 2015 lahan pemukimannya bertambah menjadi seluas 2454,887 Ha atau sekitar 56%. Dalam kurun waktu kurang lebih 15 tahun lahan pemukimannya bertambah sebesar 29%.Dengan menggunakan analisis tetangga terdekat (Nearests Neighbour Analysis) untuk mengetahui pola dari pertumbuhan wilayah Kabupaten Bekasi didapatkan pola dari tiap kecamatan dalam tiap tahunnya. Sedangkan, untuk menentukan arah pertumbuhan wilayah dilakukan pembobotan nilai, yang terdiri dari 3 unsur pembobotan. Yaitu, penilaian terhadap pola pertumbuhan kecamatan, perkembangan luas pemukiman, perkembangan kawasan industri. Kemudian setelah diberi pembobotan nilai, maka nilai dari pembobotan kecamatan yang tertinggi berarti merupakan arah dari pertumbuhan wilayah Kabupaten Bekasi. Dari hasil pembobotan tersebut, didapat hasil nilai pembobotan paling banyak yaitu pada Kecamatan Cibitung dengan nilai 6, sehingga arah pertumbuhan Kabupaten Bekasi mengarah pada Kecamatan Cibitung.Kata Kunci : Analisis Tetangga Terdekat, Perubahan Penggunaan Lahan, Pola Pertumbuhan Wilayah, SIG, Wilayah. ABSTRACTTerritories are parts of the earth surface that has a certain characteristic and each of them is different from one another. Another term of territory, which is commonly used, is called region. The rapid growing development is causing significant changes of field cultivation pattern. The fields that used to be empty or unused now are experiencing the function transformation into the developed ones. The purpose of this research is to find out the changes of field cultivation in Bekasi Regency. This analysis of the changes of field cultivation is done by drawing map of field cultivation in Bekasi Regency in the year of 2000, 2005 and 2010 by using Landsat 7 Imagery and also in 2015 by using Landsat 8 Imagery. Beside that, in order to obtain the field cultivation analysis, the author used SIG method.Based on the analysis of Citra Landsat 7 year 2000, 2005, 2010 and Landsat 8 year 2015, it is known that there were 130675,8769 Ha of subdistrict which had the most rapid development and the one was Cibitung Subdistrict. Cibitung Subdistrict used to have only 1183,232 Ha of settlement field from the total of 4387,370 Ha, approximately 27% in 2000. While in 2015, the settlement field is growing at the total of 2454,887 Ha, approximately 56%. In less than 15 years, the settlement field has grown at 29%.                By using the nearest neighbor analysis ( Nearests Neighbour analysis) to determine the pattern of growth in Bekasi Regency pattern obtained from each district in each year. Whereas , for determining the direction of growth in the region should be weighted value , which consists of three elements of the weighting . Namely , assessment of the growth pattern of the sub-district , a residential area development , the development of industrial estates . Then, after being given a weighting value then the value of the weighting of the highest districts means that a direction of growth of Bekasi District . The weighting of the results , the result is the weighting value most , namely in the District Cibitung with a score of 6 , so that the direction of growth leads to the District of Bekasi Regency Cibitung. Keywords : Field Cultivation Transformation, GIS, Region, The Growth Pattern Region and The Nearest Neighbour Analysis.*) Penulis, PenanggungJawab
PERHITUNGAN VELOCITY RATE CORS GNSS DI WILAYAH PANTAI UTARA JAWA TENGAH Saputra, Rizky; Awaluddin, Moehammad; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.878 KB)

Abstract

ABSTRAK CORS (Continuously Operating Reference Station) adalah suatu teknologi berbasis GNSS yang berwujud sebagai suatu jaring kerangka geodetik yang pada setiap titiknya dilengkapi dengan receiver yang mampu menangkap sinyal dari satelit-satelit GNSS yang beroperasi secara penuh dan kontinu selama 24 jam. Pengukuran koordinat dengan menggunakan CORS lebih efisien dengan ketelitian yang mencapai fraksi centimeter dan waktu pengukuran juga relatif cepat. Selain itu, dalam hal geodinamika bisa juga dijadikan sebagai monitoring untuk mengetahui arah pergerakan suatu titik dari tahun ke tahun beserta kecepatan pergeserannya.Penelitian ini berfokus pada penentuan kecepatan pergeseran (velocity) dan regangan (strain) dari stasiun CORS GNSS di daerah pantai utara Jawa Tengah pada tahun 2011 sampai dengan 2015. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah CORS Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, dan Purwodadi. Titik IGS yang digunakan adalah COCO, PIMO, NTUS, dan DARW. Pengolahan data menggunakan perangkat ilmiah GAMIT.Penelitian ini menghasilkan arah pergeseran menuju ke arah tenggara. Kecepatan pergeseran pada CORS Cirebon adalah 0,022 ± 0,003 m/tahun untuk komponen timur, -0,0117 ± 0,003 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0075 ± 0,013 m/tahun untuk komponen vertikal. CORS Tegal memiliki kecepatan 0,0194 ± 0,004 m/tahun untuk komponen timur, -0,0129 ± 0,003 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0094 ± 0,014 m/tahun untuk komponen vertikal. CORS Pekalongan memiliki kecepatan 0,0216 ± 0,002  m/tahun untuk komponen timur, -0,0102 ± 0,003 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0287 ± 0,012 m/tahun untuk komponen vertikal. CORS Semarang memiliki kecepatan 0,0229 ± 0,004 m/tahun untuk komponen timur, -0,0106 ± 0,003 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0092 ± 0,014 m/tahun untuk komponen vertikal. CORS Jepara memiliki kecepatan 0,0208 ± 0,006 m/tahun untuk komponen timur, -0,0107 ± 0,004 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0078 ± 0,021 m/tahun untuk komponen vertikal. CORS Purwodadi memiliki kecepatan 0,0219 ± 0,005 m/tahun untuk komponen timur, -0,0111 ± 0,003 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0103 ± 0,017 m/tahun untuk komponen vertikal. Regangan yang terjadi pada titik pengamatan berkisar -3,3498798 x 10-8 strain/year sampai dengan 3,608678 x 10-8 strain/year. Kata kunci: GAMIT, Kecepatan pergesaran, Stasiun CORS ABSTRACT CORS (Continuously Operating Reference Station) is a technology GNSS based old as a net geodetic framework which at every points is equipped with receiver that capable to capture signals from GNSS’s satellites operating in full and continuous for 24 hours. The measurement of coordinate with use CORS more efficient with precision at faction centimeter and time measurement also relatively fast. In addition, in terms of geodinamic can was also used for monitoring to know the direction of the movement of a point from year to year and velocity.This research focus on the determination of velocity and strain from the station CORS GNSS in coastal areas north Central Java in 2011 up to 2015. The data used in this research was CORS Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, and Purwodadi. The point of IGS used is COCO, PIMO, NTUS and DARW. Data processing using scientific software GAMIT.This research produce the shift towards southeast. The velocities in CORS Cirebon are 0,022 ± 0,003 m /year for the component east, -0,0117 ± 0,003 m/year for the component north and 0,0075 ± 0,013 m/year for the component vertical. The velocities in CORS Tegal are 0,0194 ± 0,004 m/year for the component east, -0,0129 ± 0,003 m/year for the component north and 0,0094 ± 0,003 m/year for the component vertical. The velocities in CORS Pekalongan are 0,0216 ± 0,002 m/year for the component east, -0,0102 ± 0,003 m/year for the component north and 0,0287 ± 0,012 m/year for the component vertical. The velocities in CORS Semarang are 0,0229 ± 0,004 m/year for the component east, -0,0106 ± 0,003 m/year for the component north and 0,0092 ± 0,014 m/year for the component vertical . The velocities in CORS Jepara are 0,0208 ± 0,006 m/year for the component east, -0,0107 ± 0,004 m/year for the component north and 0,0078 ± 0,0021 m/year for the component vertical. The velocities in CORS Purwodadi are 0,0219 ± 0,005 m/year for the component east, -0,0111 ± 0,003 m/year for the component north and 0,0103 ± 0,017 m/year for the component vertical. Strain occurring in the point of observation range -3,3498798 x 10-8 up to 3,608678 x 10-8 strain/year.Keywords: CORS station, GAMIT, Velocity *) Penulis, Penanggung Jawab
PEMANTAUAN PERUBAHAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN APLIKASI DIGITAL SHORELINE ANAYSIS SYSTEM (DSAS) STUDI KASUS : PESISIR KABUPATEN DEMAK Istiqomah, Farrah -; Sasmito, Bandi; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.108 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Perubahan garis pantai di Kabupaten Demak terjadi disebabkan oleh proses abrasi dan akresi yang terpicu karena aktivitas manusia yang intensif di wilayah pesisir. Hal ini disebabkan juga oleh banjir rob yang sering terjadi di wilayah ini dan pengaruh sifat fisik laut. Abrasi dan akresi terjadi hampir di seluruh wilayah pesisir Kabupaten Demak sehingga garis pantainya mengalami perubahan yang cukup drastis.Penelitian ini menggunakan metode penginderaan jauh sebagai kajian yang cepat untuk mendeteksi perubahan garis pantai Kabupaten Demak dengan menggunakan citra Landsat 7 tahun 2011-2012 dan citra Landsat 8 tahun 2013-2015 sebagai data primer. Informasi garis pantai diperoleh menggunakan metode rationing untuk memisahkan batas air dan darat. Informasi garis pantai tahun 2011 digunakan sebagai titik awal pengamatan perubahan garis pantai atau Baseline dan informasi garis pantai tahun 2012-2015 dihitung laju perubahannya. Perhitungan laju perubahan garis pantai menggunakan perangkat lunak Digital Shoreline Analysis System (DSAS).Hasil penelitian menunjukan terjadi perubahan garis pantai yang signifikan di Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak dengan nilai akresi maksimum sebesar 233,994 meter dan abrasi maksimum sebesar 141,037 meter. Prediksi perubahan garis pantai tahun 2016-2020 yang terbesar perubahannya terlihat pada transek A dengan akresi sebesar +280,92 meter dan terkecil pada transek H dengan abrasi sebesar -0,004. Abrasi dan akresi disebabkan oleh kurang terjaganya ekosistem mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Demak yang fungsinya berubah menjadi areal tambak atau pemukiman. Kata Kunci : garis pantai, DSAS, Kabupaten Demak, abrasi, akresi  ABSTRACT                 Shoreline changes in Demak which is caused by abrasion and accretion processes and triggered due to intensive human activities in coastal areas. It is also caused by the tidal flood that often occur in this area and the influence of physical characteristic of the ocean. Abration and accrestion occurs in almost all coastal areas and it happen quite drastic.This research use remote sensing method as a quick study to detect the shoreline changes in Demak with Landsat 7 images in 2011-2012 and Landsat 8 images in 2013-2015 as the primary data. Shorelines information obtained by using rationing method to delineated the water and the land. The 2011 shoreline used as a starting point to calculate the changes between 2012-2015 shorelines. This research use Digital Shoreline Analysis System (DSAS) to calculate the rate-of-changes between the shorelines.The results showing the most significant changes occur in Wedung, Demak with maximum accretions 233.9941 meter and maximum abrations 141.037 meter. The biggest changes at predicton of shoreline changes between 2016-2020 is transect A with accretion +280.92 meter and the lowest is transek H with abration -0.004 meter. Abration and accretion happen because of the lack to maintain the mangrove ecosystem in coastal areas of Demak whose function turned into area of ponds or settlement. Key words: shorelines, DSAS, demak, abration, accretion *)Penulis, Penanggungjawab
STUDI PENENTUAN KAWASAN RESAPAN AIR PADA WILAYAH DAS BANJIR KANAL TIMUR Gunawan, Setyo Ardy; Prasetyo, Yudo; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.218 KB)

Abstract

ABSTRAKDAS Banjir Kanal Timur merupakan DAS yang terletak di tengah-tengah Kota Semarang yang merupakan kota terbesar di Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah pembangunan infrastruktur dan pemukiman kota yang tinggi tiap tahunnya. Bencana kekurangan air tiap musim kemarau sering dialami di sejumlah daerah DAS Banjir Kanal Timur karena jumlah air tanah dalam daerah tersebut kecil dan sulit diperbarui. Pembaharuan air tanah ini erat hubunganya dengan resapan air, kondisi resapan air yang baik mampu mengalirkan air dari permukaan ke dalam tanah untuk menjadi air tanah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi, sebaran dan pola resapan air di kawasan DAS Banjir Kanal Timur. Dalam penentuan kondisi resapan air terdapat lima parameter yaitu jenis tanah, penggunaan lahan, kelerengan, potensi air tanah dan curah hujan. Terdapat tiga metode dalam penelitian ini yaitu metode pengolahan citra optis (klasifikasi terawasi), citra radar (InSAR) dan sistem informasi geografis (SIG). Data citra terdiri dari dua jenis citra optis dan satu citra radar, diantaranya citra ALOS PRISM tahun 2010, SPOT-6 tahun 2014 dan ALOS PALSAR tahun 2008. Kriteria resapan air dibedakan menjadi enam kriteria, yaitu baik, normal alami, mulai kritis, agak kritis, kritis dan sangat kritis.Pada penelitian ini diperoleh hasil kondisi resapan air di DAS Banjir Kanal Timur dalam kondisi mulai kritis dengan luas mencapai 2607,523 Ha (33,17 %), kondisi normal alami seluas 1507,674 Ha (19,18 %), agak kritis dengan luas 1452,931 Ha (18,48 %) dan berturut-turut dengan kondisi baik, kritis dan sangat kritis dengan luas  1157,04 Ha (14,72 %), 1058,639 Ha (13,47 %),  dan 75,0387 Ha (0,95 %). Sebaran dan pola resapan air tidak merata yang tersebar di kawasan tengah dan utara DAS untuk kondisi resapan air  mulai kritis, normal alami  dan baik. Sementara kawasan selatan DAS dengan kondisi resapan air agak kritis, kritis  dan sangat kritis.Kata Kunci          : Klasifikasi Terawasi, InSAR, SIG, Resapan Air, Air Tanah    ABSTRACTBanjir Kanal Timur Watershed located in the center of Semarang. Semarang is the biggest city in central Java which infrastructure development and construction is high nowadays. The lack of fresh water become problem in dry season in watershed area because ground water is not rechargeable well. Rechargeable groundwater depends on water recharge area whether it is good or not.The objective of the study is to determine condition and dissemination of water recharge in watershed area. Recharge area conditions determined by five parameters, soil type, land use, slope, ground water potential and rainfall. In this study use three methods, supervised classification to acquire land use from optic imagery, InSAR to derive DTM from SAR Imagery and GIS. There is two types optical image, ALOS PRISM 2010 and SPOT-6 2014. While SAR image is ALOS PALSAR 2008 only. The criteria of water recharge divided into six criteria, it is good, naturally normal, begin to critical, a little bit critical, critical and very critical.The result shows that water recharge condition of Banjir Kanal Timur Watershed is in begin to critical condition with 2607,523 Ha (33,17 %), naturally normal with 1507,674 Ha (19,18 %), a little bit critical with 1452,931 Ha (18,48 %), good with 1157,04 Ha (14,72 %), critical with 1058,639 Ha (13,47 %) and very critical with 75,0387 Ha (0,95 %). The distribution of water recharge area in Banjir Kanal Timur Watershed has irreguler pattern. In northern area of watershed consists of begin to critical, naturally normal, and good condition. Meanwhile in southern area of watershed consists of a little bit critical, critical and very critical condition.Key words             : Supervised classification, InSAR, GIS, Recharge Area, Ground Water  *) Penulis Penanggung jawab
ANALISIS HARMONIK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK KUADRAT TERKECIL UNTUK PENENTUAN KOMPONEN-KOMPONEN PASUT DI WILAYAH LAUT SELATAN PULAU JAWA DARI SATELIT ALTIMETRI TOPEX/POSEIDON DAN JASON-1 Gumelar, Jaka; Sasmito, Bandi; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.469 KB)

Abstract

ABSTRAK Laut selatan Pulau Jawa merupakan salah satu wilayah perairan yang dimiliki oleh Indonesia. Merupakan bagian dari Samudra Hindia, perairan ini memiliki banyak potensi baik dari segi ekologi, fisika, maupun kerawanan terjadinya bencana alam. Pasang surut air laut merupakan salah satu fenomena yang bisa dijadikan referensi dalam penentuan kebijakan perihal pengelolaan sumber daya alam dan sebagai data pelengkap untuk menggambarkan kondisi laut pada masa mendatang.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komponen-komponen pasang surut dan tipe pasang surut di perairan selatan Pulau Jawa. Data yang digunakan adalah Sea Level Anomaly (SLA) dari data Satelit Topex/Poseidon tahun 1992-2002 dan data Satelit Jason-1 tahun 2002-2011. Metode interpolasi Inverse Distance Weight (IDW) digunakan untuk menentukan besar SLA pada titik normal yang kemudian dilanjutkan dengan proses analisis harmonik menggunakan teknik kuadrat terkecil dengan pembobotan untuk menentukan komponen pasang surut. Proses pengolahan analisis harmonik ini menggunakan aplikasi Microsoft Excel 2010 yang dikombinasikan dengan aplikasi Matlab 7.6.0 untuk proses interpolasi data.Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat 21 komponen yang berpengaruh dalam pembentukan pasang surut air laut pada perairan Cilacap, Sadeng, dan Prigi yang terdiri dari 4 komponen periode panjang, 8 komponen diurnal, dan 9 komponen semidiurnal. Sedangkan tipe pasang surut yang terbentuk pada perairan selatan Pulau Jawa yaitu campuran condong harian ganda. Kata Kunci : Analisis harmonik, Inverse Distance Weight, Komponen pasang surut, Pasang surut ABSTRACT South Java’s sea is one of Indonesia’s territorial waters which is part of Indian Ocean. It has a lot of potentials in terms of ecology, physics, and vulnerability to natural disasters. Tide is one phenomenon that can be used as a reference in policy decisions regarding the management of natural resources and as supplementary data to describe the condition of the sea in the future.The aim of this research was to determine the components and south Java’s sea tide types. The data used is Sea Level Anomaly (SLA) data from satellites Topex/ Poseidon in 1992-2002 and data satellite Jason-1 in 2002-2011. Inverse Distance Weight (IDW) interpolation method is used to determine the SLA at the normal point followed by harmonic analysis process using least squares with weighted technique to determine the components of the tides. Calculation of harmonic analysis process was using Microsoft Excel 2010 combined with Matlab 7.6.0 application for the interpolation of data.The result of this research showing there are 21 components that influence the formation of the tide in waters Cilacap, Sadeng, and Prigi which is consists of 9 long period component, 8 diurnal component, and 9 semidiurnal components. While the type of tidal formed in the waters south of the island of Java, which is a mixed tide prevailing semidiurnal. Keywords : Components of tide, Harmonic analysis, Invers Distance Weight, Tide *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS SEA LEVEL RISE DAN KOMPONEN PASANG SURUT DENGAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-2 Sidabutar, Yosevel Lyhardo; Sasmito, Bandi; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.45 KB)

Abstract

 ABSTRAKKenaikan permukaan laut merupakan sebuah fenomena yang terjadi akibat adanya perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut dapat menyebabkan tenggelamnya wilayah pesisir dan pulau-pulau, erosi pantai, dan kerusakan ekosistem penting seperti lahan basah dan hutan bakau. Kenaikan permukaan laut memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap Perairan Bagian Barat Pulau Sumatera yang memiliki ratusan pulau-pulau kecil dan terletak pada pertemuan Samudera Hindia dan Laut Andaman.Penelitian ini menggunakan data pengamatan permukaan laut dengan menggunakan satelit altimetri Jason-2 pada periode 2011-2014 sebagai data primer. Interpolasi data satelit altimetri dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak matlab dengan menggunakan metode pembobotan invers jarak. Penelitian ini menggunakan analisis trend linear dan analisis harmonik untuk mengetahui kecepatan kenaikan permukaan laut dan nilai komponen pasang surut laut pada Perairan Bagian Barat Pulau Sumatera.Pengamatan permukaan laut dengan menggunakan data Satelit Altimetri Jason-2 pada periode 2011-2014 menunjukkan adanya fenomena kenaikan permukaan laut pada Perairan Bagian Barat Pulau Sumatera dengan rata-rata nilai kenaikan sebesar +14,88 mm/tahun. Nilai trend linier kenaikan permukaan laut rata-rata tertinggi terdapat pada Perairan Mentawai dengan nilai trend linier sebesar +22,64 mm/tahun dan trend linier kenaikan permukaan laut rata-rata terendah terdapat pada Perairan Bengkulu dengan nilai trend linier sebesar +10,12 mm/tahun. Komponen pasang surut pada daerah Perairan Bagian Barat Pulau Sumatera dengan pengamatan Satelit Altimetri Jason-2 selama tahun 2011-2014 menghasilkan nilai rata-rata amplitudo M2 sebesar 0,134 m, nilai rata-rata amplitudo S2 sebesar 0,058 m, nilai rata-rata amplitudo K2 sebesar 0,021 m, nilai rata-rata amplitudo N2 sebesar 0,032 m, nilai rata-rata amplitudo K1 sebesar 0,048 m, nilai rata-rata amplitudo O1 sebesar 0,031 m, nilai rata-rata amplitudo P1 sebesar 0,025 m, dan nilai rata-rata elevasi HHWL sebesar 0,70759 m,  nilai rata-rata elevasi MHWL sebesar 0,50083 m, nilai rata-rata elevasi MSL sebesar 0,06967 m, nilai rata-rata elevasi MLWL sebesar -0,36148 m, nilai rata-rata elevasi CDL sebesar -0,47500 m, nilai rata-rata elevasi LLWL sebesar -0,56825 m.Kata Kunci : kenaikan muka laut, laut, pasang surut laut, permukaan laut, satelit altimetri. ABSTRACTSea level rise is a phenomenon that occurs due to climate change. Sea level rise cause the sinking of coastal areas and islands, coastal erosion, and damage to important ecosystems such as wetlands and mangroves. Sea level rise has a big impact on the western part of Sumatera Island ocean that has hundreds of small islands and located at the confluence of the Indian Ocean and the Andaman Sea.This research used sea surface observational data using the altimetry satellite Jason-2 in the period 2011-2014 as the primary data. Altimetry satellite data interpolation calculated by inverse distance weighting method using matlab software. This research used linear trend analysis and harmonic analysis to determine the speed of sea level rise and the ocean tides component value in western part of Sumatra Island ocean.Sea surface observations using Jason-2 altimetry satellites data in the 2011-2014 period showed the phenomenon of sea level rise on the western part of Sumatera Island ocean with the average increase value by +14.88 mm / year. The highest average value of the linear trend found in Mentawai ocean with the average value of the linear trend by +22.64 mm / year and the lowest average value of the linear trend found in Bengkulu Ocean with the average value of the linear trend by +10.12 mm / year. The ocean tide components on the western part of Sumatra Island ocean with altimetry satellites Jason-2 observations during 2011-2014 resulted in an average amplitude value M2 amounted to 0.134 cm, the average amplitude value S2 at 0.058 cm, the average amplitude value of K2 at 0,021 cm, the average value of the amplitude of N2 at 0,032 cm, the average amplitude value K1 at 0,048 cm, the average amplitude value O1 at 0,031 cm, the average amplitude value P1 at 0.025 cm and the average HHWL elevation value at 0,70759 m,  the average MHWL elevation value at 0,50083 m, the average MSL elevation value at 0,06967 m, the average MLWL elevation value at -0,36148 m, the average CDL elevation value at -0,47500 m, the average LLWL elevation value at -0,56825 m.Keywords : sea level rise, ocean tides, sea surface, altimetry satellite. *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS FREE SPAN PADA JALUR PIPA BAWAH LAUT MENGGUNAKAN MULTIBEAM ECHOSOUNDER DAN SIDE SCAN SONAR Studi Kasus: Pipa Gas Transmisi SSWJ (South Sumatera West Java) Jalur Pipa Gas Labuhan Maringgai-Muara Bekasi PT. Perusahaan Gas Negara Persero (Tbk) Erwanti, Sindi Rahma; Sasmito, Bandi; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.703 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara dengan kondisi yang rawan terjadi bencana alam, kondisi tersebut dikenal sebagai hazard. Pemicu dari hazard ini berupa aktivitas manusia. Salah satu aktivitas manusia yang menjadi pemicu hazard yaitu pembangunan jembatan pipa bawah laut. Pada area penelitian memiliki kondisi ketidakrataan topografi dan adanya jembatan pipa bawah laut. Dampak yang ditimbulkan dari kondisi tersebut dapat menyebabkan terjadinya free span.Analisis free span dilakukan setelah proses inspeksi pasca instalasi. Pendeteksian free span pada jalur pipa bawah laut tersebut menggunakan metode multibeam echosounder dan side scan sonar. Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain raw data multibeam echosounder, data side scan sonar setelah real-time processing, data sound velocity profile dan data pasang surut. Multibeam echosounder (MBES) dimanfaatkan untuk survei batimetri, yaitu survei yang dimaksudkan untuk mendapatkan data kedalaman dan topografi dasar laut. Sedangkan, Side Scan Sonar (SSS) dimanfaatkan untuk interpretasi obyek secara kualitatif maupun kuantitatif.Penelitian ini menghasilkan kondisi dasar laut yang memiliki kondisi topografi yang relatif curam. Area penelitian yang memiliki topografi yang relatif curam terdapat pada KP 111.62 – KP 111.83. Kondisi free span teridentifikasi pada 4 lokasi di area penelitian. Lokasi FS_1 memiliki panjang span sebesar 94,4 meter dan tinggi span sebesar 3,31 meter.  Lokasi FS_2 memiliki panjang span sebesar 93,94 meter dan tinggi span sebesar 10,66 meter.  Lokasi FS_3 memiliki panjang span sebesar 58,12 meter dan tinggi span sebesar 1,87 meter.  Lokasi FS_4 memiliki panjang span sebesar 98,4 meter dan tinggi span sebesar 4,93 meter. Indikasi free span dari hasil pengolahan data multibeam echosounder dan side scan sonar tidak dapat mengidentifikasi hazard yang membahayakan pada lokasi penelitian.Kata Kunci          : Pipa, Free Span, Multibeam Echosounder, Side Scan Sonar, Hazard ABSTRACTIndonesia is a country with the condition which is prone to trigger a natural disasters and it is called a hazard. The trigger of hazard could be a human activity. The human activity which triggers hazards is the construction of pipe bridge under the sea. This research area has an unevenness topography and pipe bridge under the sea. The impact of these conditions can lead to a free span.Free span analysis carried out after post-installation inspection process. The detection of free span on the underwater pipeline uses Multibeam Echosounder and Side Scan Sonar. The data which is used for this research are raw data Multibeam Echosounder, Side Scan Sonar data after real-time processing, sound velocity profile data and tide data. Multibeam Echosounder (MBES) is used for the the bathymetric survey to obtain the depth data and the seafloor topography. Meanwhile, Side Scan Sonar (SSS) is used for the interpretation of topography qualitative and quantitative objects.This research resulted in the condition of the sea floor that is a relative steep. Areas of the research that has a relative steep topography contained in KP 111.62- KP 111.83. Conditions of the free span  identified in four locations in the study area. Location FS_1 has a span length of 94.4 meters and a span height of 3.31 meters. Location FS_2 has a span length of 93.94 meters and a span height of 10.66 meters. Location FS_3 has a span length of 58.12 meters and a span height of 1.87 meters. Location FS_4 has a span length of 98.4 meters and a span height of 4.93 meters. The free span indication which is resulted of multibeam echosounder and side scan sonar data processing can not identify the hazard on the study area.Key words             : Pipe, Free Span, Multibeam echosounder, Side Scan Sonar, Hazard*) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS POLA ARUS LAUT PERMUKAAN PERAIRAN INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN SATELIT ALTIMETRI JASON-2 TAHUN 2010-2014 Daruwedho, Haryo; Sasmito, Bandi; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1965.904 KB)

Abstract

ABSTRAK  Arus adalah gerakan mengalir suatu massa air yang disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan densitas, atau pergerakan gelombang panjang. Akuisisi data arus menggunakan alat konvensional sangat sulit dilakukan untuk wilayah luas dan memerlukan biaya yang besar, oleh karena itu digunakan data dari satelit Altimetri Jason-2 yang menawarkan data mengenai arah dan kecepatan angin yang nantinya melalui metode perhitungan didapatkan data arus laut permukaan Perairan Indonesia.Penelitian ini mengambil lokasi di wilayah perairan Indonesia dengan letak geografis 6°08 LU - 11°15 LS, dan dari 94°45 BT - 141°05 BT. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data GDR (Geophysical Data Record) Satelit Altimetri Jason-2 tahun 2010-2014. Data GDR berisikan 36 pass (jalur orbit) dalam satu cycle, dimana satu cycle di tempuh dalam waktu sepuluh hari. Metode yang digunakan adalah perhitungan arah dan kecepatan arus laut permukaan tiap cycle dengan persamaan Stewart.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Saat terjadi angin muson Barat, angin bertiup dari Barat menuju Timur, sehingga arus juga bergerak dari arah Benua Asia menuju ke Benua Australia. Saat terjadi angin muson Timur, angin bertiup dari arah Timur menuju Barat, sehingga arus juga bergerak dari arah Benua Australia menuju ke Benua Asia. Sedangkan saat terjadi musim peralihan, baik saat peralihan dari muson Barat ke muson Timur maupun saat peralihan dari muson Timur ke muson Barat pergerakan arus tidak teratur dan cenderung terbagi menjadi dua arah yakni dari Benua Asia menuju Benua Australia dan dari Benua Australia menuju Benua Asia namun kecepatan arusnya rata-rata adalah lemah di hampir seluruh perairan di Indonesia. Pola arus laut permukaan hasil pemodelan menunjukkan beberapa arah arus yang tidak megikuti model arus Wyrtki, namun tedapat juga beberapa arah arus yang memiliki kemiripan dan mengikuti model arus Wyrtki di lokasi perairan yang dijadikan sampel seperti di Laut Arafuru, perairan sekitar pulau Jawa, perairan sebelah barat pulau Sumatera, perairan sebelah utara pulau Papua, dan Selat Karimata. Kata Kunci : Arus Laut Permukaan, Model Arus Wyrtki, Satelit Altimetri Jason-2   ABSTRACT Ocean Current is a mass movement of flowing water caused by wind, differences in density, or long wave movement. At the present time many ocean currents used for various purposes that support human life. However, current data acquisition using conventional tools is very difficult for the vast territory and require a huge cost, therefore we use data from altimetry satellites. With the development of altimetry satellite system, one of the Jason-2 altimetry satellites which offer data on wind direction and the speed of wind that will go through the calculation method to get the surface ocean currents data of Indonesian waters.This study took place in Indonesian waters which is located within 6 ° 08 N - 11 ° 15 S and 94 ° 45 E - 141 ° 05 E. The data used in this research is GDR (Geophysical Data Record) data of Jason-2 altimetry satellites in 2010-2014. GDR data contains 36 pass (the orbital paths) in a single cycle, which one cycle can be reached within ten days. The method used is the calculation of the direction and speed of ocean currents surface of each cycle with Stewart equation.The results of this study indicate that when West monsoon occurs from December to February, the wind is blowing from the West to the East, so the current is also moving from the Asian continent towards the Australian Continent. In the event of East monsoon which is from June to August, the wind is blowing from the East to the West, so the current is also moving from the Australian continent towards the Asian continent. Meanwhile, during a transitional season either the transition from monsoon West to monsoon East which is from March to May and during the transition from monsoon East to monsoon West which is from September to November, the current’s movement is irregular and tend to fall into two directions, ie from the Asian continent towards Australian continent and from the Australian continent to the Asian continent, but the average speed of the current is weak in almost all Indonesian waters. The current pattern of sea surface modeling results indicate some current directions are not the same as Wyrtki current model, but some current directions are also the same as Wyrtki current model in several water location samples such as Arafuru Sea, the water around the Java island, the water west of the Sumatra island, the water north of the Papua island, and the Strait of Karimata. Keywords : Ocean Surface current, Wyrtki current model, Altimetry Satellite Jason-2  *) Penulis Penanggung Jawab
PENGOLAHAN DATA GPS MENGGUNAKAN SOFTWARE GAMIT 10.6 DAN TOPCON TOOLS V.8 PADA PENGUKURAN DEFORMASI BENDUNGAN JATIBARANG TAHUN 2015 Aji, Yogi Wahyu; Sudarsono, Bambang; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.158 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Bendungan adalah suatu tembok penahan air yang dibentuk dari berbagai batuan dan tanah. Bendungan juga merupakan salah satu sarana multifungsi yang memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia. Suatu bangunan jika mendapat tekanan akan mengalami perubahan dimensi atau bentuk. Akibat gaya tekanan ini maka tubuh bendungan kemungkinan akan dapat mengalami deformasi. Maka diperlukan suatu bentuk pemeliharaan dan perawatan yang memadai guna menghindari kerusakan pada bendungan tersebut. Bentuk pemeliharaan dan perawatan tersebut salah satunya adalah dengan melakukan pemantauan deformasi pada tubuh bendungan. Pemantauan deformasi pada tubuh bendungan harus dilakukan secara berkala dan terus menerus.Penelitian ini adalah tentang pengolahan data GPS menggunakan software GAMIT 10.6 dan Topcon Tools V.8 pada pengukuran deformasi bendungan Jatibarang tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan GPS dual frequency pada enam titik pengamatan bendung utama Bendungan Jatibarang. Pengolahan data pengamatan GPS menggunakan perangkat lunak GAMIT 10.6 dan Topcon Tools V.8. Pengamatan dilakukan selama tiga periode yaitu : Maret, April dan Mei 2015. Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pengolahan data menggunakan perangkat lunak GAMIT 10.6 dan Topcon Tools V.8, serta untuk mengetahui ada tidaknya pergeseran yang signifikan pada tubuh Bendungan Jatibarang.Setelah dilakukan pengolahan data menggunakan scientific software GAMIT 10.6 didapatkan nilai perubahan koordinat dengan rata-rata nilai perubahan koordinat toposentrik 3 dimensi pada sumbu X = 1,369 ± 9,729 mm, sumbu Y = 5,642 ± 5,926 mm, dan sumbu Z= 6,417 ± 4,418 mm. Sedangkan pada Topcon Tools V.8 didapatkan nilai perubahan koordinat dengan rata-rata nilai perubahan koordinat toposentrik 3 dimensi pada sumbu X = 0,168 ± 0,467 m, sumbu Y = 0,253 ± 1,547 m, dan sumbu Z = 0,261 ± 1,108 m. Dalam penelitian ini hasil pengolahan data menggunakan scientific software GAMIT 10.6 yang dianggap benar sehingga disimpulkan bahwa tiap titik pengamatan mengalami deformasi secara numeris. Namun setelah dilakukan uji statistik dengan selang kepercayaan 95% dinyatakan bahwa keenam titik monitoring bendungan tidak memiliki pergeseran yang signifikan. Berdasarkan hasil uji statistik, dapat disimpulkan bahwa tiap titik pengamatan tidak mengalami deformasi. Kata Kunci : deformasi, GPS, GAMIT, Topcon Tools ABSTRACT                 Dam is a water-retaining wall formed from a variety of rock and soil. Dams also amultifunctional tool which has an important role in human life. A building if get the pressure will change the dimension or shape. As a result of this pressure, the body of dam may be deformed. It would require some form of maintenance and adequate care to avoid damage to the dam. Forms of maintenance and care of one of them is by monitoring the deformation in the dam body. Dam deformation monitoring should be done regularly and continuously.This research is about GPS data processing using GAMIT 10.6 and Topcon Tools V.8 software for Jatibarang dam deformation measurement on 2015. the research method is using GPS dual-frequency at six points of monitoring which located on main dam. Data processing of GPS observation using GAMIT 10.6 and Topcon Tools V.8. observation takes three period : March, April, and May 2015. The purpose of this research was to determine the result of data processing using GAMIT 10.6 and Topcon Tools V.8 and also  to determine whether there is a significant shift in the main dam of Jatibarang Dam.After data processing using GAMIT 10.6, earned value change of coordinates with the average value of three-dimensional toposentric coordinate changes on the X axis = 1.369 ± 9.729 mm, Y axis = 5.642 ±5.926 mm and Z axis = 6,417 ± 4,418 mm. While on Topcon Tools V.8, earned value change of coordinates with the average value of three-dimensional toposentric coordinate changes on the X axis = 0,168 ± 0,467 m, Y axis = 0,253 ± 1,547 m, and Z axis = 0,261 ± 1,108 m. In this research, the results of data processing using scientific software 10.6 is considered correct one. Thus concluded that each point of observation deformed numerically. However, after a statistical test with confidence interval 95% stated that the six monitoring stations, dams do not have a significant shift. Based on the results of statistical tests, it can be concluded that each point of observation is not deformed. Keyword : deformation, GPS, GAMIT, Topcon Tools *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS PENGUKURAN BIDANG TANAH DENGAN MENGGUNAKAN GNSS METODE RTK-NTRIP PADA STASIUN CORS UNDIP, STASIUN CORS BPN KABUPATEN SEMARANG, DAN STASIUN CORS BIG KOTA SEMARANG Rasyid, Rizki Widya; Sudarsono, Bambang; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.841 KB)

Abstract

 ABSTRAKTanah merupakan sumberdaya yang penting dalam menunjang kehidupan dan penghidupan manusia, sehingga segala sesuatu yang menyangkut tanah akan selalu mendapat perhatian. Namum dewasa ini seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, kegiatan pengukuran dan pemetaan bidang tanah dapat dilakukan dengan menggunakan GNSS metode RTK-NTRIP untuk mendapatkan informasi mengenai posisi secara cepat dan tingkat akurasi yang tinggi.Dalam penelitian ini kegiatan yang dilakukan adalah pengukuran bidang tanah dengan kriteria kondisi daerah terbuka dan daerah yang memiliki banyak obstruksi menggunakan GNSS metode RTK-NTRIP pada stasiun CORS UNDIP, stasiun CORS BPN Kabupaten Semarang dan stasiun CORS BIG Kota Semarang yang selanjutnya hasil dari pengukuran bidang tanah tersebut dibandingkan dengan hasil pengukuran bidang tanah dengan metode terestris dengan menggunakan Total Station.Perbandingan pengukuran bidang tanah dengan metode rapid static dan metode RTK-NTRIP berdasarkan posisi horizontal (X,Y) diperoleh rata-rata kesalahan pergeseran nilai jarak atau lateral terkecil sebesar 0,305 m dengan nilai standar deviasi ( S) sebesar ± 0,499 m pada base station BPN Kabupaten Semarang, berdasarkan jarak antar titik diperoleh rata-rata kesalahan jarak antar titik terkecil sebesar 0,262 m dengan nilai standar deviasi ( D) sebesar ± 0,495 m pada base station BIG Kota Semarang, dan berdasarkan luas bidang tanah diperoleh rata-rata kesalahan luas bidang tanah terkecil sebesar 3,837 m² dengan nilai standar deviasi ( L) sebesar ± 6,503 m² pada base station BPN Kabupaten Semarang. Akurasi dari pengukuran bidang tanah dengan menggunakan metode RTK-NTRIP terhadap pengukuran terestris menggunakan Total Station berdasarkan posisi horizontal (X,Y) diperoleh nilai standar deviasi ( S) terkecil sebesar ± 0,422 m pada base station BIG Kota Semarang, berdasarkan jarak antar titik diperoleh nilai standar deviasi ( D) terkecil sebesar ± 0,322 m pada base station BPN Kabupaten Semarang, dan berdasarkan luas bidang tanah diperoleh nilai standar deviasi ( L) terkecil sebesar ± 5,331 m² pada base station BIG Kota Semarang.Berdasarkan uji t (Distribusi Student) dengan selang kepercayaan 95 %, hasil pengukuran GNSS dengan metode RTK-NTRIP memenuhi standar toleransi ukuran luas berdasarkan Peraturan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Kata Kunci : Bidang Tanah, GNSS, CORS, NRTK, RTK-NTRIP ABSTRACTLand is an important resource in supporting human life and livelihood, so that everything related to the land will always get attention. but today along with the development of science and technology advances, the act of measuring and mapping land parcels can be done using GNSS RTK-NTRIP methods to obtain information about the position quickly and a high degree of accuracy.In this research activity undertaken is the land plots measurement with criteria conditions of open areas and areas that have a lot of obstruction using GNSS RTK-NTRIP methods on base station CORSUNDIP, base station CORS BPN District Semarang, and base station CORS BIG Semarang City, and using GNSS rapid static methods which further results from the measurement land plots compared with the results of the measurement land plots with terrestrial methods using a Total Station.Comparative measurements of land plots by the method of rapid static and method of RTK-NTRIP by the horizontal position (X, Y) obtained an average error value shifts distance or smallest lateral of 0,305 m with a standard deviation scores (σS) around ± 0.499 m at the base station BPN District Semarang, based on the distance between the point obtained an average error distance between the smallest point of 0.262 m with a standard deviation (σD) around± 0,495 m at the base stationBIG Semarang City, and based on areas of land plots obtained an average smallest error areas of land plots of 3.837 m² with a standard deviation (σL)around± 6.503 m² at the base station BPN District Semarang. Accuracy of measurement plots using the RTK-NTRIP against the terestrial measures using Total Station based on the horizontal position (X,Y) obtained value of the smallest standard deviation (σS)around± 0.422 m at the base station BIG Semarang City, based on the distance between the point obtained value of the smallest standard deviation (σD)around± 0.322 m at the base station BPN District Semarang, and based on areas of land plots obtained value of the smallest standard deviation (σL)around± 5,331 m² at the base station BIG Semarang City.By t test (Student Distribution) with 95% confidence level, the results of measurement using GNSS RTK-NTRIP methods meet the standards of tolerance spacious plots under The Rules of The National Land Agency (BPN). Keyword : Land Plots, GNSS, CORS, NRTK, RTK-NTRIP*) Penulis, Penanggung jawab