Kusmono Kusmono, Kusmono
Department of Mechanical and Industrial Engineering, Gadjah Mada University

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Evaluasi Mikrobiologi dan Sifat Mekanik Kateter Penghisap yang Dipakai Ulang: Perbandingan antara Dua Prosedur Pemrosesan

Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Pemakaian ulang kateter penghisap telah biasa dilakukan di Indonesia, namun sejauh inibelum ada penelitian mengenai sterilitas dan keamanannya.Tujuan. Mengevaluasi sterilitas, sifat mekanik, dan permukaan serta kualitas matriks kateter penghisap yangdipakai ulang setelah diproses dengan dua jenis prosedur pengolahan yang berbeda.Metode. Kateter penghisap yang dipakai ulang setelah diproses dan disterilisasi menggunakan gas etilen oksida(EO), atau menggunakan sterilisasi pemanasan kering (kelompok B). Semua sampel dibersihkan dan didesinfeksidengan prosedur yang hampir sama. Kateter penghisap baru dipakai sebagai standar. Mikroba yang tumbuh padamedium kultur diidentifikasi. Semua sampel menjalani uji tarik dan kompresi. Analisis mikrostruktur dilakukandengan menggunakan mikroskop elektron (SEM) dan energi-dispersif spektroskopi sinar-X (EDX).Hasil. Kultur positif bakteri komensal pada 6 di antara 15 sampel pada kelompok A, dan 6 dari 17 sampelpada kelompok B. Terdapat perbedaan yang bermakna dari sifat mekanik sampel penelitian (p<0,05).Sampel dari kelompok A memiliki kekuatan yang paling rendah. Sampel dari kedua kelompok penelitianmengalami perubahan kelenturan dan keuletan dibanding standar. Analisis mikrostruktur menggunakanXPS dan EDX pada permukaan dalam ujung kateter penghisap yang dipakai ulang menunjukkan degradasikomponen matriks. Analisis SEM mendeteksi beberapa partikel tambahan dan rekahan. Analisis EDX padapartikel tambahan menunjukkan pengayaan sinyal na+ dan ca++. Secara keseluruhan, didapatkan tandakontaminasi serta kerusakan material.Kesimpulan. Kedua metode pengolahan ulang kateter penghisap memberikan hasil sterilitas yang sebanding.Sampel yang dipakai ulang mengalami penurunan kekuatan, menjadi lebih lentur, dan tidak ulet.Ditemukan tanda kontaminasi, perubahan sifat permukaan dan kerusakan matriks dari kateter penghisapyang dipakai ulang.

Properties of endotracheal tubes reprocessed by two procedures

Paediatrica Indonesiana Vol 51 No 2 (2011): March 2011
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background Reusing endotracheal tubes (EITs) has been performed in Indonesia with no evidence of its safety. Objective To evaluate sterility, as well as the mechanical, surface, and matrix properties of reused EITs following 2 different reprocessing procedures.Methods Reused EITs were cleaned and disinfected, then sterilized by ethylene oxide gas sterilization (group A) or dry heat sterilization (group B). New EITs were used as the standard for comparison. Microbes were identified and microbial counts were determined as colony forming units (CFUs). Evaluation of mechanical properties was perfonned by a Universal Testing machine. All samples underwent tensile and compression tests.Load defonnation curves were recorded from F max and strain at F max. Microstructure analysis was done using X􀁅ray photoelectron spectroscopy (XPS), scanning electron microscopy (SEM), and energy-dispersive X-ray spectroscopy (EDX).Results Positive cultures of commensal bacteria were found in 2/12 samples in group A, and 5/17 samples in group B. T here was no statistically significant difference between them (P =0.07). Pseudomonas aeruginosa or other common pathogens were not found. Samples from both groups showed equal flaccidity, compared to the standard. Surface microstructure analysis of reused EITs With XPS and EDX showed degradation of the matrixcomponent. SEM analysis detected some large particles and fissures. EDX analysis on the large particles detected sodium and calcium signals. Altogether, signs of contamination and material damage were very strong.Conclusion Both reprocessing methods of reused EITs gave comparable results on sterility and mechanical behavior, but reprocessing may cause decreased surface and matrix quality. 

THE POTENTIAL OF IRON SAND FROM THE COAST SOUTH OF BANTUL YOGYAKARTA AS RAW CERAMIC MAGNET MATERIALS

Jurnal Teknologi Vol 5 No 1 (2012): Jurnal Teknologi
Publisher : Jurnal Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.616 KB)

Abstract

Magnet merupakan bahan teknik yang kebutuhannya meningkat seiring dengan meningkatnya perkembangan industri elektronika di Indonesia, akan tetapi kebutuhan magnet di Indonesia masih diimpor dari luar negeri. Sementara bahan baku magnet berupa besi oksida tersedia cukup banyak di Indonesia, salah satunya pasir besi di pantai Selatan Yogyakarta. Pasir besi mengandung sifat magnetik karena adanya mineral magnetite (Fe3O4) berwarna hitam, maghemite  ( -Fe2O3), Rutil (FeTiO3), yang besifat magnetik. Mineral magnetit dapat dikembangkan menjadi bahan magnet contohnya untuk pita magnetik, magnet speaker, magnet motor listrik dan lain-lain. Pasir besi di pantai selatan Bantul Yogyakarta berwarna abu-abu kehitaman menunjukan adanya kandungan material magnetik dalam jumlah besar. Hasil pengujian dengan menggunakan magnet, rata-rata 66.32% berat menempel pada magnet, dari hasil tersebut dilakukan pemisahan dengan metode sieving persentase jumlah terbesar sebanyak 32% pada ukuran bukaan <+212 m. Pengujian dilakukan pada pasir yang menempel pada magnet dan hasil sieving pada jumlah terbesar. Hasil karakteristik material magnetik menggunakan Vibrating Sample Magnetometer (VSM), menunjukan saturation magnetisation (Ms) adalah 13,18 emu/gr dan 36,49 emu/gr, magnetik remanen (Mr) 4,15 emu/gr dan 7,95 emu/gr, koersivitas (Hc) 230 Oe dan 186 Oe, suseptibilitas massa ( ).1,45 ×10-4 m3/kg dan 4,31 ×10-4 m3/kg. Hasil uji XRD menunjukan dominasi magnetite dan maghemite pada pasir besi. Berdasarkan kajian tersebut, bahwa pasir pantai Selatan Bantul Yogyakarta merupakan material magnetik. Material mangetik yang terkandung pada pasir pantai memiliki potensi sebagai bahan keramik magnet (MO.xFe2O3).