Salnuddin Salnuddin, Salnuddin
Program Studi Ilmu Kelautan, FPIK - Universitas Khairun

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Amplitude Variations of Tidal Harmonic Constituents in Bitung Station (Variasi Amplitudo Konstituen Harmonik Pasang Surut Utama di Stasiun Bitung)

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.374 KB)

Abstract

Perhitungan konstituen harmonik pasang surut masih menggunakan metode konvensional, pengembangan metode dominan pada sistem komputasinya dan menggunakan sistem penanggalan Masehi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, apakah amplitudo konstituen harmonik yang dihitung dari pengelompokan data berdasarkan penanggalan Hijriah memberikan karakter yang relatif sama (stabil) dibulan yang sama dibandingkan dengan penanggalan Masehi. Perbandingan tersebut dilakukan pada 10 konstituen harmonik utama pasang surut, guna membandingkan perhitungan tunggang air dari nilai konstituen dan dari Metode Suku Sama (MSS). Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai deviasi amplitudo sangat kecil dari masing-masing konstituen harmonik pada perhitungan berdasarkan sistem kalender Hijriah, dimana amplitudo pada bulan Sya’ban relatif stabil dan lebih tinggi dibandingkan pada bulan lainnya. Nilai koefisien determinan (R2) untuk data awal pasang surut pada fase bulan baru (BB) dan bulan purnama (BP) lebih tinggi dibandingkan data awal pada fase bulan lainnya. ANOVAmenghasilkan konstituen K1dan S2terpengaruh jika data dimulai saat fase bulan kuartil I (KW1) dan purnama (BP), sedangkan saat fase awal kuartil 2 (KW2) terjadi pada konstituen P1 dan K2, MS4 dan M4. Dengan demikian, perhitungan amplitudo konstituen harmonik lebih optimum jika data dimulai saat fase bulan baru atau mengikuti penanggalan Hijriah.

Posisi komponen GPP terhadap variasi konstituen harmonik pasang surut bulan Muharram di Stasiun Sabang

DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2357.729 KB)

Abstract

The movement of celestial bodies produces a variation of a gravitational gradient as a tidal generation force (GPP). Position Sabang Station, declination maximum and position lunar month of Muharram aka n generate harmonic constituent character identifier of GPP, where the water level is the sum of the amplitude of harmonic constituent that generated at a certain time.This research is to determine the variation of harmonic constituents and identify the character of harmonic constituents of GPP component position characterization in Muharram month. The results show Katrakteristik tidal movement beginning of the month of Muharram in Sabang Station occurred 1-2 hours after ijtimak.. Value riding dominant water derived from the value of Mean Sea Level (> 52%), and the dominant contribution hamonik constituents derived from component M 2 (28 - 33%). Harmonic constituents M 2 does not show the position of the moon in Muharram, while the position of the sun is reflected in the constituent phase harmonic S 2..

ETHNOOCEANOGRAPHY DAN TITIK TEMU ASPEK SYAR’I DALAM PENENTUAN AWAL BULAN RAMADHAN DAN SYAWAL OLEH JOGURU KESULTANAN TIDORE

Al-Ahkam Volume 27, Nomor 1, April 2017
Publisher : Faculty of Shariah and Law, State Islamic University (UIN) Walisongo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2416.832 KB)

Abstract

Ethnooceanography and the intersection of shari aspects to determination of the early of Ramadan and Shawwal by Joguru Sultanate of Tidore. The determination of the early of the new month of Ramadan and Shawwal was very important for Muslims because it is related to the time of worship. Judge syara The Sultanate of Tidore (Joguru) has long applied the method of determining the early month of Hijri (Ramadan and Shawwal) through tidal movement observed on "akebai" included in ethooceanography and called Joguru Method (MJ). Hilal that has never been seen in Tidore and its surrounding areas in the long-term cycle of moon (34 years) caused its early moon to be inapplicable due to non-fulfillment of the requirement of hisab (hadith). MJ makes observation (rukyat) change of tidal movement on "akebai" is "ijtihād". The appropriateness of the scientific aspects of ethnoocaenography and the intersection of the shari aspects make it a comparative method of determining the beginning of the new month of Hijri in astronomy (hilāl). Required the expansion of the meaning of the “hilāl” as an indicator of the beginning of the month of the Hijri calendar.[]Ethnooceanography dan titik temu aspek Syar’i dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal oleh Joguru Kesultanan Tidore. Penentuan awal bulan baru Ramadhan dan Syawal sangat penting bagi umat Islam karena berkaitan dengan waktu ibadah. Hakim syara’ Kesultanan Tidore (Joguru) telah lama mengaplikasikan metode penentuan awal bulan baru Hijriah (Ramadhan dan Syawal) melalui pergerakan pasang surut yang terpantau pada “akebai” termasuk dalam ethooceanography dan disebut dengan Metode Joguru (MJ). Hilal yang tidak pernah terlihat di wilayah Tidore dan sekitarnya selama siklus jangka panjang (34 tahun) menyebabkan hisab awal bulan tidak dapat diaplikasikan akibat tidak terpenuhinya persyaratan hisab (hadis). MJ melakukan peng­amatan (rukyat) perubahan tinggi air pada “akebai” adalah “ijtihad”. Terdapat ke­sesuaian aspek sains dari ethnoocaenography serta titik temu aspek syar’i yang menjadikan MJ berpotensi sebagai metode utama sekaligus sebagai metode pem­banding dari metode umum dalam penentuan awal bulan baru Hijriah. Diperlukan perluasan makna kata “hilal” sebagai indikator awal bulan baru penanggalan Hijriah.

PENENTUAN KARAKTER PASANG SURUT DENGAN METODE MANZILAH UNTUK MENDUKUNG UPAYA PERENCANAAN, PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR

Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1652.133 KB)

Abstract

Aktifitas masyarakat pesisir sangat ditentukan dengan dinamika perairan, salah satu adalah pasang surut. Pengetahuan tentang variasi tinggi air sangat membantu dalam perencanaan aktifitas diwilayah pesisir. Metode dalam menetukan variasi tinggi air masih belum effektif dalam mengaplikasikannya dan berbeda dengan Metode Manzilla (MM) yang merupakan suatu pendektan ethnoastronomy terhadap ethnooceanographyn dari “suku pelaut”. MM adalah metode penentuan karakter tinggi air pasang surut berdasarkan penanggalan Hijriah dengan merujuk posisi bulan terhadap Rasi Bintang 7 (RB7). Hasil analisis diperoleh hasil bahwa terdapat karakter pergerakan pasang surut dalam siklus bulanan pergerakan pasang surut di setiap fase bulan Hijriah, Metode Manzillah effektif dalam mengidentifikasi waktu dalam penanggalan Hijriah (bulan dan tahun Hijriah); makin jauh bulan dari ekuator langit (RB 7) dengan Deklinasi negatif maka peak I < peak II pada siklus harian pergerakan pasang surut dan sebaliknya jika berdeklinasi positif maka peak I > peak II, posisi bulan berada di sekitar ekuator langit maka peak I  peak II, variasi peak pergerakan pasang surut menjadi informasi penting dalam upaya perencanaan, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir.Kata kunci : Wilayah pesisir, Metode Manzillah, Rasi Bintang 7, ethnoastronomy, ethnooceanography, peak