Articles

Found 11 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANALGETIK EKSTRAK ETANOLIK DAUN KEREHAU (Callicarpa longifolia Lamk.) PADA MENCIT PUTIH Syamsul, Eka Siswanto; Andani, Fitriya; Soemarie, Yulistia Budianti
Majalah Obat Tradisional Vol 21, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/tradmedj.12824

Abstract

Nyeri merupakan perasaan sensoris dan emosional yang berkaitan dengan adanya kerusakan jaringan. Daun kerehau dikenal oleh masyarakat suku dayak dan kutai sebagai obat nyeri pasca persalinan. Daun kerehau telah lama dikenal oleh masyarakat karena banyak memiliki khasiat pada pengobatan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas daya analgetik ekstrak etanol daun kerehau (Callicarpa longifolia Lamk.) pada mencit putih jantan (Mus Musculus). Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental, dengan metode acak lengkap pola sear06ah. Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok dengan masing-masing perlakuan 5 ekor mencit. Kelompok I (Na CMC 0,5% kontrol negative), Kelompok II (ibuprofen sebagai kontrol positif), Kelompok III-V (ekstrak etanol daun kerehau dosis 150 mg, 300 mg dan 600 mg/ Kg BB). Induktor nyeri yaitu asam asetat 0,5%. Diamati jumlah geliat mencit selama 1 jam dan dihitung persen analgetik. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini memiliki khasiat sebagai analgetik dengan daya analgetik dosis I: 51,65%, dosis II: 65,40%, dan dosis III: 75,98%.
FORMULASI SERBUK EFFERVESCENT EKSTRAK AIR UMBI BAWANG TIWAI (Eleuterine palmifolia ) SEBAGAI MINUMAN KESEHATAN Syamsul, Eka Siswanto; Supomo, Supomo
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/tradmedj.8227

Abstract

Penggunaan tanaman obat oleh masyarakat saat ini masih dalam bentuk tradisional, yaitu dengan cara direbus atau diseduh, sehingga diperlukan inovasi dalam penggunaannya yang lebih praktis, nyaman dikonsumsi, dan berkhasiat dengan dosis yang tepat. Tanaman yang dikembangkan adalah Bawang Tiwai (Eleuterine palmifolia (L) Merr) yang secara tradisional digunakan untuk obat kanker payudara, pelancar air susu ibu dan antioksidan yang dikembangkan dalam sediaan serbuk Effervescent. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri atas 3 kelompok dengan Formulasi yang berbeda pada komposisi effervescent mix yang mengandung asam tartrat, asam sitrat dan natrium bikarbonat atas dasar kaidah stokiometri, yaitu: Formula A (50%), Formula B (55%), dan Formula C (60%). Pengujian meliputi sifat fisik dan kimia serbuk serta uji hedonis (kesukaan). Formula B merupakan yang terbaik, dengan hasil uji kadar air (0,6%), kecepatan alir (11,36g/detik), kompressibilitas (12,5%), waktu larut (1,52 menit), dan pH larutan (5). Hasil tersebut memenuhi kriteria serbuk yang baik. Hasil uji Hedonis yang telah dilakukan menunjukkan Formula B sebagai produk yang paling disukai.
FORMULASI SERBUK EFFERVESCENT EKSTRAK AIR UMBI BAWANG TIWAI (Eleuterine palmifolia ) SEBAGAI MINUMAN KESEHATAN Syamsul, Eka Siswanto; Supomo, Supomo
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ19iss3pp113-117

Abstract

Penggunaan tanaman obat oleh masyarakat saat ini masih dalam bentuk tradisional, yaitu dengan cara direbus atau diseduh, sehingga diperlukan inovasi dalam penggunaannya yang lebih praktis, nyaman dikonsumsi, dan berkhasiat dengan dosis yang tepat. Tanaman yang dikembangkan adalah Bawang Tiwai (Eleuterine palmifolia (L) Merr) yang secara tradisional digunakan untuk obat kanker payudara, pelancar air susu ibu dan antioksidan yang dikembangkan dalam sediaan serbuk Effervescent. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri atas 3 kelompok dengan Formulasi yang berbeda pada komposisi effervescent mix yang mengandung asam tartrat, asam sitrat dan natrium bikarbonat atas dasar kaidah stokiometri, yaitu: Formula A (50%), Formula B (55%), dan Formula C (60%). Pengujian meliputi sifat fisik dan kimia serbuk serta uji hedonis (kesukaan). Formula B merupakan yang terbaik, dengan hasil uji kadar air (0,6%), kecepatan alir (11,36g/detik), kompressibilitas (12,5%), waktu larut (1,52 menit), dan pH larutan (5). Hasil tersebut memenuhi kriteria serbuk yang baik. Hasil uji Hedonis yang telah dilakukan menunjukkan Formula B sebagai produk yang paling disukai.
AKTIVITAS ANTIDIABETES KOMBINASI EKSTRAK TERPURIFIKASI HERBA SAMBILOTO (Andrographis paniculata (Burn.F.) NESS.) DAN METFORMIN PADA TIKUS DM TIPE 2 RESISTEN INSULIN Syamsul, Eka Siswanto; Nugroho, Agung Endro; Pramono, Suwijiyo
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss3pp%p

Abstract

Sambiloto (A. paniculata) merupakan tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit Diabetes Mellitus (DM). Dalam terapi DM terdapat kemungkinan pemakaian bersama-sama dengan Obat Hipoglikemik Oral (OHO), misalnya: metformin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dan metformin terhadap peningkatan efek penurunan kadar glukosa darah pada tikus DM tipe 2 resisten insulin. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode acak lengkap pola searah. Hewan uji yang digunakan dibagi 4 kelompok, kelompok 1:  pemberian metformin 45 mg/kg BB (kontrol positif), kelompok 2: pemberian ekstrak terpurifikasi herba sambiloto 434,6 mg/kg BB, kelompok 3: pemberian kombinasi metformin 45 mg/kg BB dengan ekstrak 434,6 mg/kg BB (kombinasi 1), dan kelompok 4: pemberian metformin 22,5 mg/kg BB dengan ekstrak 434,6 mg/kg BB (kombinasi 2). Hewan uji DM tipe 2 resisten insulin dibuat dengan pemberian fruktosa 1,8 g/kg BB dan makanan kaya lemak selama 50 hari. Penetapan kadar glukosa darah menggunakan reagen kit. Pengamatan ekspresi GLUT-4 pada sel otot menggunakan teknik imunohistokimia. Resistensi insulin pada tikus diuji menggunakan 3 parameter, yaitu: (1) uji kadar glukosa darah preprandial dan postprandial; (2) aktivitas hipoglikemik glibenklamid; dan (3) pengamatan ekspresi protein GLUT-4 pada jaringan otot. Hasil menunjukkan bahwa hewan uji telah resisten insulin. Hasil uji aktivitas antidiabetes menunjukkan bahwa persen daya hipoglikemik kombinasi 1 dan 2 lebih rendah dibandingkan dengan pemberian metformin atau ekstrak terpurifikasi secara tunggal (p<0,05). Dari hasil di atas disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak sambiloto terpurifikasi dengan metformin tidak meningkatkan potensi antidiabetes dari penggunaan tunggalnya.
FORMULASI EKSTRAK ETANOL UMBI BAWANG TIWAI (Eleutherine americana) DALAM SEDIAAN KRIM ANTI ACNE Syamsul, Eka Siswanto; Supomo, Supomo; Wijaya, Heri; Nugroho, Bramantyo Adi
Majalah Obat Tradisional Vol 20, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ20iss3pp149-157

Abstract

Bawang tiwai (Eleutherine americana) have antibacterial effect to Sthapylococus epidermis. This study was conducted to formulate an ethanolic extract of bawang tiwai into antiacne cream preparations, thus Dayak community empirically considered use this as an antiacne and boils. Formula (F) was made by varying the concentration of the ethanolic extract namely: F1 (1%), F2 (2%) and F3 (4%). Anti acne cream formulation tested with phytochemical screening, organoleptic (smell, color, homogenity), type of cream, cream dispersive test, and antibacterial activity test against Staphylococcus epidermidis. Phytochemical screening result shows that its contains alkaloids, flavonoids and saponins, organoleptic test showed stability in F3, antiacne cream has a pH value = 6. Dispersive cream generated meets the requirements with a range of 5-7 cm. Cream type is type O / W (oil in water). Test result by using  agar diffusion method with Mueller Hinton Agar (MHA) medium,  inhibition zone obtained in the negative control (0), F1 (0), F2 (5.17 ± 0,19mm) and F3 (6 ± 0,17mm), LSD oneway ANOVA showed 95% (p <0.05) compared F3 all treatments. This study antiacne cream of F3 (concentration of the ethanolic extract of bawang tiwai 4%) is the best formula with the greatest potential in the medium category against Staphylococcus epidermidis.
UJI DAYA ANALGETIK EKSTRAK ETANOLIK DAUN BINAHONG [Anredera cordifolia (Ten.) Steenis] PADA MENCIT PUTIH (Mus musculus L.) JANTAN Syamsul, Eka Siswanto; Lestiani, Windi Ana; Sukawati, Yullia; -, Supomo
PROSIDING SEMINAR KIMIA SEMINAR NASIONAL KIMIA 2014
Publisher : PROSIDING SEMINAR KIMIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun binahong [Anredera cordifolia (Ten.) Steenis] merupakan tumbuhan yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit antara lain diabetes, analgetik, pembengkakan sendi-sendi, diare dan memar (Shabella, 2012). Penelitian pendahuluan menyatakan bahwa terkandung senyawa aktif flavonoid didalam Binahong (Murdianto, 2012). Penelitian in i bertujuan untuk mengetahui potensi dan berapa besar daya analgetik ekstrak etanolik daun binahong pada hewan uji mencit putih (Mus musculus L.) jantan. Pada penelitian ini d ilakukan secara eksperimental dengan menggunakan metode acak lengkap pola searah. Digunakan mencitdengan 5 kelo mpok perlakuan (tiap kelo mpok 4 ekor mencit) yaitu kontrol positif (Celebrex®), kontrol negatif (Na- CM C 0,5%), ekstrak dosis I (1 g/KgBB), ekstrak dosis II (2 g/KgBB), dan ekstrak dosis III (4 g/KgBB) yang dilakukan selama 1 jam pada masing-masing kelo mpok perlakuan. Pembuatan sediaan uji ekstrak daun binahong dibuat dengan metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Hasil penelitian dan perhitungan persen uji daya analgetik pada ekstrak etanolik daun binahong [Anredera cordifolia (Ten.) Steenis] yakni kontrol positif celebrex® (70,53%), ekstrak dosis I (48,06%), ekstrak dosis II (57,49%), dan ekstrak dosis III (69,33%). Hasil skrin ing fitokimia menunjukkan ekstrak mengandung Flavonoid. Flavonoid bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase yang dapat menurunkan sintesis prostaglandin sehingga mengurangi terjadinya vasodilatasi pembuluh darah dan aliran darah lokal sehingga migrasi sel radang pada area radang akan menurun.
POTENSI EKSTRAK AIR DAUN PACAR CINA (Aglaia odorata) SEBAGAI BIOLARVASIDA TERHADAP LARVA Aedes aegypti Syamsul, Eka Siswanto; Lestari, Dwi; Heldyana, Siti
PROSIDING SEMINAR KIMIA SEMINAR NASIONAL KIMIA 2013
Publisher : PROSIDING SEMINAR KIMIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biolarvasida adalah suatu larvasida yang bahan-bahannya didapat dari tumbuhan yang mengandung bahan kimia (bioaktif) yang toksik terhadap larva nyamuk Aedes aegypti namun mudah terurai (terdegradasi) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia. Pacar cina (Aglaia ordorata) memiliki kandungan bahan aktif minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, dan saponin yang diduga dapat digunakan sebagai biolarvasida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak air daun pacar cina sebagai biolarvasida serta untuk mengetahui kadar ekstrak air yang berkhasiat sebagai biolarvasida.Metode yang digunakan adalah metode ekperimental dengan menggunakan sampel larva Aedes aegypti yang telah mencapai instar III/IV. Pembuatan ekstrak daun pacar cina menggunakan pelarut air. Pengujian aktifitas biolarvasida dibagi menjadi 6 kelompok uji yaitu kontrol positif (bubuk abate), kontrol negatif (air), ekstrak air daun pacar cina konsentrasi 62,5 ppm, 125 ppm, 250 ppm, dan 500 ppm. Perhitungan LC 50 ekstrak air daun pacar cina dengan menggunakan analisa probit Miller-Tainner. Hasil penelitian menunjukan ekstrak air daun pacar cina 62,5 ppm (30%), 125 ppm (50%), 250 ppm (70%), 500 ppm (90%), kontrol positif (100%), dan kontrol negatif (0%) dalam waktu 24 jam pengamatan. Ekstrak daun pacar cina berpotensi sebagai biolarvasida dengan nilai LC50 sebesar 123,31 ppm.
UJI AKTIVITAS PERASAN BUAH MENTIMUN (Cucumis sativus L) SEBAGAI BIOLARVASIDA TERHADAP LARVA NYAMUK Aedes aegypti L Syamsul, Eka Siswanto; Purwanto, Eka Novitasari
JURNAL KIMIA MULAWARMAN Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.746 KB)

Abstract

Demam Berdarah Dengue (Dengue Hemorragic Fever/DHF) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, dan nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, dan trombositopenia. Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes sp. Menurut penelitian yang dilakukan oleh laeliyatun dkk (2006) buah mentimun diduga mengandung senyawa saponin dan alkaloid sehingga dapat digunakan sebagai larvasida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas larvasida perasan buah mentimun terhadap larva Aedes aegypti. Perasan buah mentimun dibuat dengan cara memeras sari buahnya. Konsentrasi sediaan uji yang digunakan yaitu 10, 20, 40, dan 80% (v/v). Pengujian larvasida dilakukan dengan cara memasukkan 10 ekor larva instar III dan IV awal ke dalam perasan buah mentimun, kontrol positif berupa abate konsentrasi 10, 20, 40, dan 60% (b/v) sebagai kontrol positif dan air PDAM adalah kontrol negatif. Perlakuan didiamkan selama 24 jam dan diamati jumlah larva yang mati kemudian dilakukan replikasi sebanyak 2 kali. Hasil perhitungan nilai LC50 dari perasan buah mentimun sebesar 43,06 dengan menggunakan metode analisis perhitungan Probit Miller - Tainner. Hal ini menunjukkan bahwa perasan buah mentimun memiliki aktivitas sebagai larvasida. Kata Kunci: Buah Mentimun, Biolarvasida, Larva Nyamuk Aedes aegypti L
AKTIVITAS ANTIDIABETES KOMBINASI EKSTRAK TERPURIFIKASI HERBA SAMBILOTO (Andrographis paniculata (Burn.F.) NESS.) DAN METFORMIN PADA TIKUS DM TIPE 2 RESISTEN INSULIN Syamsul, Eka Siswanto; Nugroho, Agung Endro; Pramono, Suwijiyo
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/tradmedj.8049

Abstract

Sambiloto (A. paniculata) merupakan tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit Diabetes Mellitus (DM). Dalam terapi DM terdapat kemungkinan pemakaian bersama-sama dengan Obat Hipoglikemik Oral (OHO), misalnya: metformin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dan metformin terhadap peningkatan efek penurunan kadar glukosa darah pada tikus DM tipe 2 resisten insulin. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode acak lengkap pola searah. Hewan uji yang digunakan dibagi 4 kelompok, kelompok 1:  pemberian metformin 45 mg/kg BB (kontrol positif), kelompok 2: pemberian ekstrak terpurifikasi herba sambiloto 434,6 mg/kg BB, kelompok 3: pemberian kombinasi metformin 45 mg/kg BB dengan ekstrak 434,6 mg/kg BB (kombinasi 1), dan kelompok 4: pemberian metformin 22,5 mg/kg BB dengan ekstrak 434,6 mg/kg BB (kombinasi 2). Hewan uji DM tipe 2 resisten insulin dibuat dengan pemberian fruktosa 1,8 g/kg BB dan makanan kaya lemak selama 50 hari. Penetapan kadar glukosa darah menggunakan reagen kit. Pengamatan ekspresi GLUT-4 pada sel otot menggunakan teknik imunohistokimia. Resistensi insulin pada tikus diuji menggunakan 3 parameter, yaitu: (1) uji kadar glukosa darah preprandial dan postprandial; (2) aktivitas hipoglikemik glibenklamid; dan (3) pengamatan ekspresi protein GLUT-4 pada jaringan otot. Hasil menunjukkan bahwa hewan uji telah resisten insulin. Hasil uji aktivitas antidiabetes menunjukkan bahwa persen daya hipoglikemik kombinasi 1 dan 2 lebih rendah dibandingkan dengan pemberian metformin atau ekstrak terpurifikasi secara tunggal (p<0,05). Dari hasil di atas disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak sambiloto terpurifikasi dengan metformin tidak meningkatkan potensi antidiabetes dari penggunaan tunggalnya.
IDENTIFIKASI RHODAMIN B PADA SAUS TOMAT YANG BEREDAR DI PASAR PAGI SAMARINDA Syamsul, Eka Siswanto; Mulyani, Reny Nur; Jubaidah, Siti
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.166 KB)

Abstract

Rhodamin B merupakan suatu pewarna sintetik berbentuk serbuk berwarna hijau yang digunakan sebagai pewarna tekstil dan sering digunakan untuk mewarnai suatu produk makanan, khususnya saus tomat. Saus tomat yang dijadikan sampel di Pasar Pagi Samarinda sebanyak 5 sampel. Penelitian ini menggunakan uji reaksi warna dan metode KLT. Hasil penelitian menggunakan uji reaksi warna menunjukkan bahwa sampel tidak mengandung pewarna sintetik rhodamin B. Hasil identifikasi dengan kromatografi lapis tipis diperoleh nilai Rf sampel A 0,46, sampel B 0,46, sampel C 0,4, sampel D 0,5 dan sampel E 0,78, nilai Rf baku rhodamin B 0,8. Dari nilai Rf tersebut sampel E mengandung rhodamin B karena warna bercak sampel dan rhodamin B sama yaitu berwarna merah muda dan selisih nilai Rf berada dikisaran ± 0,02 dari Rf baku.