Articles

Found 16 Documents
Search

Pragmatisme dalam Filsafat Kontemporer: Analisa atas pemikiran Charles S. Peirce Mustaqim, Mustaqim
Al-Mabsut Vol 3, No 1 (2012): (SEPTEMBER 2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filsafat menurut bahasa berasal dari Griek (Yunani) berasal dari kata Pilos (cinta), Sophos (kebijaksanaan), “Mahabatul Hikmah” pecinta ilmu pengetahuan. Filsafat menurut term: ingin tahu dengan mendalam (cinta pada kebijaksanaan). Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak sesuai untuk manusia . tiap-tiap orang yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya, namun ia tidak akan mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, maka kita bukan ahli pengetahuan, melainkan pencari dan pencinta pengetahuan.Secara istilah, Penulis mengutip pendapat Muhtar yahya bahwa berfikir filsafat ialah “pemikiran yang sedalam-dalamnya yang bebas dan teliti bertujuan hanya mencari hakikat kebenaran tentang alam semesta, alam manusia dan dibalik alam”.Pragmatisme dalam Filsafat Kontemporer: Dalam bidang filsafat ilmu, pemikiran Charles Sanders Peirce merupakan suatu hal yang mendasar bagi siapa saja yang berminat mengkaji Islam, karena akar pemikiran studi agama terdapat dalam struktur pemikiran Peirce. Dikenal sebagai perintis dan tokoh utama aliran filsafat pragmatisme.  Pierce juga termasuk salah satu pioner dalam logika matematika abad ke-19.  Secara profesional, ia adalah seorang ilmuwan praktisi ahli geodesi, astronomi, dan kimia. Epistemologi Peirce berlatar belakang prgamatis dan ahli logika, epistemologinya banyak disampaikan melalui logikanya, oleh karenanya epitemologi Peirce digolongkan sebagai epistemologi kontemporer. Peirce dengan filsafat pragmatisme (filsafat bertindak), memandang bahwa; suatu hipotesa dianggap benar apabila mendatangkan manfaat. Pragmatisme dikatagorikan dalam teori kebenaran. Peirce membagi kebenaran menjadi dua, yakni kebenaran transendental dan kebenaran kompleks. Kebenaran kompleks terdiri dari kebenaran etis (psikologis) yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diyakini si pembicara, dan kebenaran logic (literal) yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. Dari kritiknya terhadap tiga filosof Eropah Rene Descartes, John Locke dan Darwin, Peirce menggagas teori baru The New Logic dan The Logic of Inquiry, ia menggagas lima konstruksi pemikiran, yaitu; belief, habit of mind, doubt, inquiry (research), and the new logic of theory. Sedangkan usaha mencari keyakinan yang benar dengan cara; a priori, trial and error, otoritas, serta melalui metode ilmiah dan investigasi.
IJTIHAD KONTEMPORER (Problem dan Solusinya) Mustaqim, Mustaqim
Al-Mabsut Vol 2, No 1 (2011): (APRIL 2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ijtiha>d adalah merupakan bahasan yang tak henti-hentinya menjadi kajian ketat para ulama sejak dulu sampai kini, seperti imam al-Ghaza>li> membahas dalam bukunya al mustasfa, demikian juga imam assyaukani membahas dalam bukunya irsyadul puhul dan masih banyak lagi ulama yung membahas dalam masalah ijtiha>d ini, Begitu juga dari kalangan ulama kontemporer seperti, Shaykh Ah}mad Ibra>hi>m, Shaykh ‘Abd al-Wahha>b Khala>f, Dr. Yu>suf al-Qarad}awi>, Dr. T{a>ha> Jabi>r dan masih banyak lagi selain mereka.Bersama itu, pintu ijtiha>d tak pernah tertutup, karena kehidupan masih terus berlanjut, dan kejadian-kejadian masih terus berkembang, timbulnya krisis ekonomi dan sosial, rangkaian masalah dan berbagai macam solusinya, desakan kejadian yang tak pernah dipersiapkan oleh manusia yang menimbulkan aneka ragam kesulitan, dan terus mengakar sampai menyelami kehidupan tekhnologi, perdagangan, atau kehidupan individu dan umum.Berawal dari sini maka merupakan cambuk bagi seorang muslim dengan kebebasan berpikirnya untuk mengerahkan segala kemampuannya terhadap seluruh masalah, sebab islam adalah agama kehidupan yang mencakup segala aspek, Islam bukan hanya berurusan dengan masalah akhirat saja, tapi Islam lahir dalam bentuk yang luas, mampu mengobati penyakit sosial, ekonomi, internasional, dll, dan fiqih sendiri bukan hanya merupakan peraturan belaka, melainkan fiqih mencakup segala masalah tergantung kejadian dan kebutuhan, fiqih masih siap menerima perubahan selama masih tetap dalam rel qur’an dan sunnah, dari sinilah perlu adanya ijtiha>d, Ijtiha>d merupakan hal yang terbuka bagi seorang muslim agar merasakan kebebasan berfikir yang sempurna karena ijtiha>d adalah merupakan sebuah bukti akan luas dan mudahnya syariat islam.
MAQASID AL-SHARI‘AH SEBAGAI FILSAFAT HUKUM ISLAM (Pendekatan Sistemik versi Jasser Auda) Mustaqim, Mustaqim
Al-Mabsut Vol 6, No 1 (2013): (APRIL 2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jasser Auda melihat bahwa ide tentang maqa>s}id senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan, yang berdasarkan periodesasi waktu, dapat diklasifikasikan ke dalam empat periode: masa sahabat, masa imam mazhab, masa perkembangan teori maqa>s}id abad ke-5 sampai abad ke-8, dan masa kontemporer. Memposisikan Jasser Auda dalam wacana maqa>s}id sepanjang sejarah teori hukum Islam, tampak bahwa pandangannya tentang maqa>s}id tidak jauh berbeda dengan para ulama us}u>l sebelumnya. Karena Jasser Auda hanya melakukan penambahan dan pengembangan konsep yang pernah diajukan oleh pemikir sebelumnya. Adapun konsep yang betul-betul baru dari Jasser Auda adalah ketika dia menempatkan maqa>s}id al-shari>‘ah sebagai filsafat hukum Islam. Ini berarti bahwa maqa>s}id al-shari>‘ah ditempatkan sebagai disiplin independen dan bukan salah satu tema kajian us}u>l fiqh. Karenanya, maqa>s}id al-shari>‘ah harus difungsikan sebagai metodologi fundamental yang digunakan dalam cara kerja us}u>l fiqh 
SEKOLAH/MADRASAH BERKUALITAS DAN BERKARAKTER Mustaqim, Mustaqim
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 6, No 1 (2012): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan pendidikan Indonesia secara makro sangat diten-tukan oleh jutaan institusi mikro yang bernama sekolah. Rangkaian jutaan sekolah itulah yang akan menentukan bangunan kualitas pen-didikan di negara tercinta ini. Singkatnya, apabila mikro sekolah tersebut unggul, dapat dipastikan kualitas pendidikannya, bahkan sumber daya manusia, akan terdongkrak menjadi unggul pula. Selama ini, tidak jarang sekolah yang mengklaim dirinya sebagai sekolah unggulan. Beragam upaya dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut, di antaranya melakukan sertifikasi ISO, menaikkan status sekolah menjadi SBI (Sekolah Berstandar Internasional), menyekolahkan tenaga pengajar ke jenjang magister (S2), dan lainnya. Bahkan, berdalih sebagai sekolah unggulan, siswa yang disaring pun hanya siswa yang memiliki kualifikasi akademik tinggi. Namun satu hal yang perlu diingat, bahwa pembangunan sekolah berkualitas juga dibutuhkan budaya sekolah yang berkualitas serta mantabnya karakter sekolah menuju peningkatan kualitas pendidikan yang berkelanjutan.
تفاعلية البيئة في اكتساب اللغة العربية بمعهد دار اللغةوالدراسات الإسلامية سنينان اكور بالنجائن باميكاسن مدورا Mustaqim, Mustaqim
Analisis: Jurnal Studi Keislaman Vol 16, No 2 (2016): Analisis : Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interaksi lingkungan tidak dapat dipisahkan dari praktek berbahasanya. Kajian ini melibatkan dua pendekatan, yaitu sosio-linguitik dan psikolinguistik dalam mengkaji pemerolehan satu bahasa atau lebih di Pesantren Dar alLughah, Pamekasan, Madura. Pemerolehan bahasa kedua mempunyai kedentikan dengan pemerolehan bahasa pertama, tidak ada perbedaan langkah-langkah dalam praktek pemerolehannya. Dari hal itu, tentunya praktek dalam pemerolehan bahasa ibu juga dapat diperaktekkan dalam pemerolehan bahasa kedua. Adapun pemerolehan kemampuan bahasa Arab sebagai bahasa kedua, yaitu kemampuan medengar, kemampuan berbicara, kemampuan membaca dan kemampuan menulis, dimana kemampuantersebut dapat diperoleh dalam proses pemerolehan bahasa pertama.
Analisis Manajemen Pemasaran Jasa Lembaga Pendidikan Islam : Pondok Pesantren Amtsilati Darul Falah Bangsri Jepara Mustaqim, Mustaqim
Nadwa Vol 12, No 1 (2018): Islamic Education and Peace
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study is to find out how the marketing strategy and marketing services and how its implementation in marketing education services MI, MTS, MA in Pondok Pesantren Darul Falah Bangsri Jepara. This research approach is qualitative with analytic descriptive type. The results of this study found that: The leadership of Darul Falah boarding school (boarding school Amtsilati) perform three strategies. first; analyzing the real needs of santri as potential service users in the form of products / books that are really needed. They find it difficult to understand the yellow book. second: compose a book khulasah (summary) Alfiyah which then called Amtsilati. The number of ba'it (Nazam) is 184, which is the "core" of 1000 ba'it Alfiyah book, Third: using amtsitai as branding in permitting Islamic educational institutions with the advantage of easy to understand the science of nahwu and sharaf in a short time.AbstrakTujuan Penelitian ini untuk mengetahui, bagaimana strategi dan teknik pemasaran jasa pendidikan dan bagaimana implementasinya dalam pemasaran jasa pendidikan  MI, MTS, MA di Pondok Pesantren Darul Falah Bangsri Jepara. Pendekatan penelitian ini kualitatif dengan jenis deskriptif analitik. Hasil penelitian ini menemukan bahwa: Pimpinan pondok pesantren Darul Falah ( pondok pesantren Amtsilati) melakukan tiga strategi.  pertama ; menganalisis kebutuhan riil santri sebagai calon pengguna jasa berupa produk /kitab yang benar-benar dibutuhkan. Mereka mengalami kesulitan untuk memahami kitab kuning. kedua : menyusun buku khulasah (ringkasan) Alfiyah yang kemudian disebut Amtsilati. Jumlah ba'it (Nazam) nya 184, yang merupakan “inti” dari 1000 ba'it kitab Alfiyah,  Ketiga : menggunakan  amtsitai sebagai branding dalam memperkenakan lembaga pendidikan Islam dengan keunggulan berupa mudah memahami ilmu nahwu dan sharaf dalam waktu yang singkat. 
PENGEMBANGAN MODEL PERMAINAN KERETA AIR UNTUK PENGENALAN AIR BAGI PEMULA USIA 6-8 TAHUN DI KLUB RENANG AMARTA AQUATIC KOTA MALANG Mustaqim, Mustaqim; Rusdiyanto, Rusdiyanto
Edcomtech Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.25 KB)

Abstract

ABSTRAK: Pengembangan model permainan air adalah latihan bagi para pemula yang memang belum pernah berenang sebelumnya. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghilangkan rasa takut terhadap air dan mengenalkan sifat air seperti dingin, basah dan tahanan air bagi pemula usia 6-8 tahun. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model Borg and Gall yang terdiri dari tujuh tahapan yaitu analisis kebutuhan, pembuatan rancangan produk awal, evaluasi para ahli, uji coba kelompok kecil, revisi produk, dan uji coba kelompok besar. Subjek uji coba kelompok kecil yaitu 10 perenang sedangkan subjek uji coba kelompok besar yaitu 30 perenang kelas toddler klub renang Amarta Aquatic Kota Malang. Aspek yang diukur pada uji coba kelompok kecil dan kelompok besar yaitu kemenarikan, kemudahan dan kesenangan. Hasil rata-rata persentase uji coba kelompok kecil yaitu 85% (sangat baik) sedangkan uji coba kelompok besar yaitu 85% (sangat baik). Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yaitu pengembangan model permainan kereta air untuk pengenalan air bagi pemula usia 6-8 tahun di klub renang Amarta Aquatic Kota Malang sangat valid sehingga layak untuk diguakan dalam pengenalan air. Kata kunci: Permainan, pengenalan air, renang ABSTRACT: The development of a water game model is an exercise for beginners who have never swam before. This development research aims to eliminate the fear of water and introduce the nature of water such as cold, wet and water resistance for beginners aged 6-8 years. This research and development use Borg and Gall model consisting of seven stages: requirement analysis, initial product design, expert evaluation, small group trial, product revision, and large group trial. The subjects of small group trials are 10 swimmers while the subjects of large group trials are 30 class swimming pool toddler swimming pool Amarta Aquatic Malang. Aspects that are measured on small group trials and large groups are attractiveness, ease and pleasure. The average result of the percentage of small group trials is 85% (very good) while large group trials are 85% (very good). The conclusion based on the research results is the development of water train model for water introduction for beginners aged 6-8 years in the pool club Amarta Aquatic Malang is very valid so it is feasible to use in the introduction of water. Keywords: Game, water recognition, swimming.
Pembuatan Kue Bhoi dengan Substitusi Tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) dan Penambahan Bubuk Kopi (Production of Bhoi with MocafAs A Substituional Material and Ground Coffee As A Flavour Agent) Mustaqim, Mustaqim; Erfiza, Novia Mehra; Widayat, Heru Prono
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tepung terigu banyak digunakan dalam pengolahan kue, salah satunya kue bhoi. Pada penelitian ini dikaji pembuatan kue bhoi dengan substitusi tepung mocaf, juga dilakukan variasi kue bhoi dengan penambahan bubuk kopi.  Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, terdiri dari dua faktor, yaitu perbandingan tepung mocaf dan tepung terigu (M) dan penambahan bubuk kopi (K). Perbandingan tepung Mocaf dan tepung terigu terdiri dari 4 taraf, yaitu: M1 = 75 : 25, M2 = 50 : 50, M3 = 25 : 75, M4 = 0 : 100. Faktor penambahan bubuk kopi (K) terdiri dari dua taraf yaitu: K1 = penambahan bubuk kopi (3%) dan K2 = tanpa penambahan bubuk kopi. Banyaknya perlakuan adalah 8 dan diulang 3 kali sehingga diperoleh 24 satuan percobaan. Parameter yang dianalisis yaitu karakteristik organoleptik (hedonik warna, aroma, tekstur, dan rasa) terhadap semua perlakuan, dengan skala 1 (sangat suka), 2 (suka), 3 (netral), 4 (tidak suka) dan 5 (sangat tidak suka). Karakteristik kimia yang diuji yaitu kadar air, abu,  protein,  lemak, dan karbohidrat  terhadap sampel dengan perlakuan terbaik dari hasil uji organoleptik dan uji ranking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan tepung mocaf dan tepung terigu (M) serta penambahan bubuk kopi (K) berpengaruh sangat nyata (P ≤ 0,01) terhadap hedonik warna, aroma, tekstur dan rasa dari kue bhoi. Adapun interaksi antara perbandingan tepung mocaf dan tepung terigu dengan penambahan bubuk kopi (MK) berpengaruh sangat nyata terhadap hedonik rasa. Kue bhoi yang dihasilkan memiliki tingkat kesukaan warna berkisar dari 1,83 (suka)–3,51 (tidak suka), aroma 2,11 (suka)–3,06 (netral), tekstur 2,00 (suka)–3,43 (netral) serta rasa 2,11 (suka)–2,86 (netral). Bhoi dengan perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan perbandingan tepung mocaf dan tepung terigu 25:75 dan tanpa penambahan bubuk kopi, dimana bhoi memiliki kadar abu 1,40%, kadar air 11,79%, kadar protein 0,74%, kadar lemak 17,30% serta kadar karbohidrat 68,77%. Abstract. Wheat flour is frequently used in variousfood processing, including in Bhoi production. In this study, mocaf (modified cassava flour) was introduced as a substituion material to wheat and ground coffee as a flavour agent. A complete randomized design was applied as an experimental design with two factors; ratio of mocaf and what flour (M) and addition of ground coffee (K), consisted of two factors, ratio of mocaf and what flour (M) and addition of coffee powder (K). Ratio of mocaf and wheat flour (M) consisted of 4 levels(M1 = 75 : 25, M2 = 50 : 50, M3 = 25 : 75, M4 = 0 : 100) and addition of ground coffee consisted of 2 levels(K1 = with addition of coffee powder, K2 = without addition of coffee powder). There were 8 levels and 3 replicates, so that it consisted of 24 units of experimental trials. Food quality analyzed includedorganoleptic (colour, aroma, texture, and taste) for all of trial units and chemical charactristics such as water content, ash, protein, fat, and carbohydrate for sample with the best organoleptic characteristics. A “5-point hedonic scale” was used to describe the organoleptic characteristics; 1 (like very much), 2 (like), 3 (neutral/neither like nor dislike), 4 (dislike), and 5 (dislike very much). The result showed that ratio of mocaf and wheat flour (M) and also addition of ground (K) very significantly affected on colour, aroma, texture, and taste of Bhoi. Interaction of mocaf and wheat flour and addition of ground (MK) was very significantonly on organoleptic character of taste. Bhoi had a scale of colour in range of 1.83 (like)–3.51 (dislike), aroma 2.11 (like)–3.06 (neutral), texture 2.00 (like)–3.43(neutral) and taste 2.11 (like)–2.86 (neutral). The best treatment was Bhoi with ratio of mocaf and wheat of 25:75 and without addition of ground, which contained ash 1.40%, water 11.79%, protein 0.74%, and carbohydrate 68.77%.
Scaffolding process Based on Diagnosis Students Difficulties in Solving Linear Program by Using Mapping Mathematic Mustaqim, Mustaqim
Jurnal Pendidikan Sains Vol 1, No 1: Maret 2013
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses Scaffolding Berdasarkan Diagnosis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Program Linear dengan Menggunakan Mapping Mathematic Abstract: Diagnosis difficulties are important for teachers in teaching. By making a diagnosis, the teacher can know in which part of students experiencing difficulties and then provide appropriate alternative solutions. Diagnosis can be done by using mathematic mapping. The subjects were students of class XI Agribusiness Program Ruminant SMKN I Maesan Bondowoso as many as six students were selected based on an error in diagnostic tests and communication skills. This research data is the result of students work, recording during the test and the scaffolding, important notes, and sheets scaffolding.  Accumulated data is done by testing techniques, interviews, and provide scaffolding. The provision of scaffolding in this study as the scaffolding strategies expressed by Anghilery. Activity data analysis is a data reduction step, step presentation of data, and conclusions step data. Based on the results of the study, it is found that the provision of scaffolding in part difficult experienced by students can reduce / eliminate the difficulties students. Key Words: diagnosis, mapping mathematic, scaffolding Abstrak: Diagnosis kesulitan merupakan hal yang lebih penting bagi guru dalam mengajar. Dengan melakukan diagnosis, guru dapat mengetahui di bagian mana siswa mengalami kesulitan dan kemudian memberikan alternatif solusi tepat. Diagnosis bisa dilakukan dengan menggunakan mapping mathe-matic. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Agribisnis Ternak Ruminansia SMKN I Maesan Bondowoso sebanyak 6 siswa yang dipilih berdasarkan kesalahan dalam tes diagnosis dan kemampuan komunikasi. Data penelitian ini adalah hasil karya siswa, rekaman selama tes dan proses scaffolding, catatan penting, dan lembaran scaffolding. Akumulasi data dilakukan dengan uji teknik, wawancara, dan memberikan scaffolding. Pemberian scaffolding dalam penelitian ini seperti dalam strategi scaffolding yang dinyatakan oleh Anghilery. Aktivitas analisis data adalah langkah reduksi data, langkah penyajian data, dan langkah kesimpulan data. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pemberian scaffolding di bagian sulit yang dialami siswa dapat mengurangi/menghilangkan kesulitan siswa.Kata kunci: diagnosis, mapping mathematic, scaffolding
PELAKSANAAN SELF ASSESMENT SYSTEM MENURUT PERSEPSI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI Laila, Nur; Mustaqim, Mustaqim
Jurnal Analisis Bisnis Ekonomi Vol 4 No 2 (2006): Volume 4, Nomor 2, Oktober 2006
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.105 KB)

Abstract

The aim of this research is to investigate the empirical evidence about influence perception personal tax payer to bring about self assesment system. Self assesment system is system of tax collection that give to tax payer o calculate, to report, to Tx Servanter Office, and the deposite by him/hisself him/his taxses to Cash of State. This research was to examine whether are there influence perceptions between personal tax payer to bring about selt assesment system. The analysis is based on the answer from respondent where its data are gathered trough questionaires in which ita distribution at Magelang. The sample of this research are personality, who take from employee and official from governmental office. The respondents of this research are 40 respondents. Convenience sampling have used in this research. The method of analysis data are descriptive statistic, validity and reability, and regression, and partial t-test. Result showed that, the data in this research is valid and reliable. The results showed taht perception personal tax payer are influence to bring about self assesment system. The analysis perception personal tax payer to bring about self assesment system have influence with t-test 7.069 and p=0.000, p<0.05.