Articles

Found 4 Documents
Search

Sistem Multiagen untuk Pengklasteran Pendaki Menggunakan K-Means Cendana, Maya; S.N., Azhari
IJCCS - Indonesian Journal of Computing and Cybernetics Systems Vol 9, No 1 (2015): IJCCS
Publisher : Indonesian Computer, Electronics, and Instrumentation Support Society (IndoCEISS)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.811 KB)

Abstract

Abstrak Para pendaki pemula sebaiknya melakukan pendakian gunung secara berkelompok, namun metoda pengelompokan secara manual yang sedang berjalan saat ini tidak efektif dan efisien, terutama bagi para pendaki solo yang tidak memiliki komunitas pendakian gunung. Oleh karena itu perlu dibangun sebuah media online yang mampu mengelompokkan para pendaki gunung secara otomatis.Pengelompokan dilakukan dengan algoritma klastering K-Means berbasis agen cerdas. Agen-agen tersebut akan berkolaborasi dalam proses negosiasi menentukan anggota klaster yang memiliki kesamaan kriteria. Keuntungan utama dari pemanfaatan multiagen ini adalah proses pengklasteran dilakukan secara multithread. Agen-agen yang terlibat adalah agen user, agen basisdata, agen klastering, dan agen validasi. Agen-agen tersebut dibangun di atas platform JADE dengan bahasa komunikasi FIPA ACL. Evaluasi dilakukan terhadap 10, 100 dan 200 data dengan jumlah klaster tententu untuk menghitung nilai kohesi/kepadatan dalam 1 klaster dan jarak pisah antar-klaster. Metrik pengukuran yang digunakan adalah WGAD dan BGAD. Hasil yang diperoleh adalah kualitas anggota klaster yang lebih baik dibandingkan k-means biasa. Kata kunci: agen, jade, fipa acl, wgad, bgad  AbstractThe beginner climbers should do mountain climbing as a group, however, manually grouping method that is currently running is not effective and efficient , especially for the solo climber who do not have the mountaineering community . Therefore, it is necessary to build an online media that is able to classify mountaineers automatically. The grouping is done by the algorithm K-Means clustering -based intelligent agents . The agents will collaborate in the negotiation process and determines the cluster members that have similar criteria . The main advantage of using multiagentsis multithreading proces, so the clustering process will run at once . The agentsconsists of the user agent , the database agent , clustering agents , and validation agent . The agents are implemented with JADE platform because JADE is using FIPA ACL communication language . Evaluation will calculate the value of cohesion / density in one cluster and inter - cluster separation distances with 10 , 100 and 200 data. Metric measurement used are WGAD and BGAD . Thequality of a cluster member is better than using an usual k-means . Keywords: agen, jade, fipa acl, wgad, bgad
Sistem Multiagen untuk Pengklasteran Pendaki Menggunakan K-Means Cendana, Maya; S.N., Azhari
IJCCS (Indonesian Journal of Computing and Cybernetics Systems) Vol 9, No 1 (2015): January
Publisher : IndoCEISS in colaboration with Universitas Gadjah Mada, Indonesia.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.811 KB)

Abstract

Abstrak Para pendaki pemula sebaiknya melakukan pendakian gunung secara berkelompok, namun metoda pengelompokan secara manual yang sedang berjalan saat ini tidak efektif dan efisien, terutama bagi para pendaki solo yang tidak memiliki komunitas pendakian gunung. Oleh karena itu perlu dibangun sebuah media online yang mampu mengelompokkan para pendaki gunung secara otomatis.Pengelompokan dilakukan dengan algoritma klastering K-Means berbasis agen cerdas. Agen-agen tersebut akan berkolaborasi dalam proses negosiasi menentukan anggota klaster yang memiliki kesamaan kriteria. Keuntungan utama dari pemanfaatan multiagen ini adalah proses pengklasteran dilakukan secara multithread. Agen-agen yang terlibat adalah agen user, agen basisdata, agen klastering, dan agen validasi. Agen-agen tersebut dibangun di atas platform JADE dengan bahasa komunikasi FIPA ACL. Evaluasi dilakukan terhadap 10, 100 dan 200 data dengan jumlah klaster tententu untuk menghitung nilai kohesi/kepadatan dalam 1 klaster dan jarak pisah antar-klaster. Metrik pengukuran yang digunakan adalah WGAD dan BGAD. Hasil yang diperoleh adalah kualitas anggota klaster yang lebih baik dibandingkan k-means biasa. Kata kunci: agen, jade, fipa acl, wgad, bgad  AbstractThe beginner climbers should do mountain climbing as a group, however, manually grouping method that is currently running is not effective and efficient , especially for the solo climber who do not have the mountaineering community . Therefore, it is necessary to build an online media that is able to classify mountaineers automatically. The grouping is done by the algorithm K-Means clustering -based intelligent agents . The agents will collaborate in the negotiation process and determines the cluster members that have similar criteria . The main advantage of using multiagentsis multithreading proces, so the clustering process will run at once . The agentsconsists of the user agent , the database agent , clustering agents , and validation agent . The agents are implemented with JADE platform because JADE is using FIPA ACL communication language . Evaluation will calculate the value of cohesion / density in one cluster and inter - cluster separation distances with 10 , 100 and 200 data. Metric measurement used are WGAD and BGAD . Thequality of a cluster member is better than using an usual k-means . Keywords: agen, jade, fipa acl, wgad, bgad
Pemanfaatan Sosial Media sebagai Strategi Promosi bagi Sustainability Bisnis UMKM Permana, Silvester Dian Handy; Cendana, Maya
ETHOS (Jurnal Penelitian dan Pengabdian) Vol 7 No.2 (Juni, 2019) Ethos: Jurnal Penelitian dan Pengabdian (Sains & Teknologi)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : The financial climate in Indonesia is now growing and developing especially for MSME businesses. In moving the small and medium economy, many Indonesians become small traders who market products to others. They seek their fortune to become traders for profit. Some traders sell their wares in stalls and others that sell around. Many of Indonesian traders have not used information technology to sell. While information technology can be utilized only from one hand through social media. Social media like Facebook Instagram and Twitter can be used to sell merchandise. This service activity provides complete information on social media for MSME business traders or entrepreneurs. This activity will also provide a strategy to win the social media market. This activity is expected to help people who are doing MSME business to sell their business online through social media.Abstrak : Iklim perekonomian di Indonesia sekarang sedang tumbuh dan berkembang terutama untuk bisnis UMKM. Di dalam menggerakkan perekonomian mikro kecil dan menengah, Banyak masyarakat Indonesia menjadi pedagang kecil yang memasarkan suatu produk kepada orang lain. Mereka mencoba peruntungan nasib menjadi pedagang untuk mencari keuntungan. Beberapa pedagang menjual dagangannya di lapak dan lainnya ada yang menjual keliling. Banyak dari pedagang Indonesia belum memanfaatkan teknologi informasi untuk berjualan. Padahal teknologi informasi dapat dimanfaatkan hanya dari genggaman tangan salah satunya melalui media sosial. Media sosial seperti Facebook Instagram dan Twitter dapat digunakan untuk menjual barang dagangannya. Kegiatan pengabdian ini memberikan informasi secara menyeluruh mengenai media sosial untuk para pedagang atau pegiat bisnis UMKM. Kegiatan ini akan memberikan juga strategi untuk memenangkan pangsa pasar dalam media sosial. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang berbisnis UMKM untuk menjual bisnisnya secara online melalui media sosial.
PENENTUAN LOKASI WISATA PANTAI DAN PULAU TERBAIK DI PROVINSI SUMATERA BARAT MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS Ardiana, Irma; Cendana, Maya; Syahputra, Ade
Jurnal Mantik Vol 3 No 1,Juni (2019): Manajemen dan Informatika
Publisher : Jurnal Mantik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.293 KB)

Abstract

Berdasarkan hasil identifikasi masalah melalui penyebaran data kuesioner dan wawancara terhadap para pengunjung wisata pantai dan pulau yang ada di Sumatera Barat, didapatkan beberapa kendala dalam pengembangan pariwisata, terutama dalam hal pemilihan tempat wisata yang tepat bagi para wisatawan. Hal ini disebabkan banyaknya alternatif kriteria yang mempengaruhi pilihan-pilihan yang ada. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan cara membuat Sistem Pendukung Keputusan (DSS) dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Tahapan metode AHP dimulai dengan menentukan bobot kriteria dari setiap alternatif yang ada hingga perankingan alternatif lokasi terbaik untuk pengambil keputusan. Lokasi yang terpilih sebagai peringkat pertama adalah Pantai Padang dengan nilai 50,2 dilanjutkan dengan Pantai Air Manis, Pulau Carocok Painan, Pantai Pasir Jambak, Pulau Pemutusan, Pulau Pasumpahan dan peringkat terakhir adalah Pulau Sikuai dengan nilai 4,4. Berdasarkan hasil evaluasi, maka diketahui bahwa Metode AHP dapat membantu dalam menentukan lokasi wisata pantai dan pulau terbaik di Provinsi Sumatera Barat.