Suharto Widjojo, Suharto
Badan Informasi Geospasial

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

The Development of Coastal and Marine

Forum Geografi Vol 13, No 2 (1999)
Publisher : Forum Geografi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Planning and development process of oastaland marine resources tends centralized and adopted top down policy, without any active participations from coastal and marine communities. In order to reach integrated and sustainable development in coastaland marine areas, people should have both complete and up to date information, so that planning and decision making for all aspect of the environment can be done easily. People should give a high attention of surveis, mappings, as well as science and technology of coastal and marine sectors, in order to change the paradigm of development from inland to coastal and marine. Moreover, people should give high attention of potential resources of coastal and marine areas.

The Development of Coastal and Marine

Forum Geografi Vol 13, No 2 (1999)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Planning and development process of oastaland marine resources tends centralized and adopted top down policy, without any active participations from coastal and marine communities. In order to reach integrated and sustainable development in coastaland marine areas, people should have both complete and up to date information, so that planning and decision making for all aspect of the environment can be done easily. People should give a high attention of surveis, mappings, as well as science and technology of coastal and marine sectors, in order to change the paradigm of development from inland to coastal and marine. Moreover, people should give high attention of potential resources of coastal and marine areas.

Peranan Sistem Informasi Geografi dalam Pengelolaan Sumber Daya Hutan di Indonesia

Forum Geografi Vol 5, No 2 (1991): December 1991
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.71 KB)

Abstract

Eksploitasi sumberdaya hutan yang berlangsung secara cepat perlu diimbangi dengan pengelolaan yang cukup baik agar sumberdaya yang tersedia tidak punah. Pengelolaan sumberdaya yang dilakukan secara konvensional akan menyita waktu, biaya dan tenaga disamping sulit diperoleh keseragaman data. Dengan dikembangkannya teknologi sistem informasi geografi (GIS/SIG) diharapkan dapat membantu pengelolaan sumberdaya hutan yang ada yang akhirnya akan mempermudah pemanfaatan sumberdaya yang tersedia secara optimal.

INVENTARISASI PRODUKSI PADI DENGAN MENGGUNAKAN DATA CITRA MODIS DI KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1688.13 KB)

Abstract

ABSTRAKMemantapkan ketahanan pangan merupakan prioritas utama pembangunan, karena pangan merupakankebutuhan yang paling dasar bagi manusia. Salah satu pilar penting dalam membangun ketahanan pangan adalahketersediaan pangan. Aspek produksi menjadi salah satu aspek terpenting dalam ketersediaan pangan. Penelitian inibertujuan untuk melakukan inventarisasi produksi, pola musim tanam dan pola musim panen padi sawah denganmenggunakan Enhanced Vegetation Index (EVI) citra MODIS. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah estimasiproduksi tanaman padi sawah di Kabupaten Lebak pada tahun 2011 yaitu sebesar 489.947 ton atau 2% lebih kecildibandingkan dengan angka perhitungan produksi tanaman padi sawah dari Dinas Pertanian Kabupaten Lebak.Secara umum, Kabupaten Lebak mengalami 3 periode musim tanam dan panen dalam setahun. Musim tanam terjadipada bulan Januari, Mei dan November, sedangkan musim panen terjadi pada bulan Maret, April, Agustus danSeptember.Kata Kunci: Estimasi Produksi Padi, Penginderaan Jauh, Enhanced Vegetation Index.ABSTRACTStrengthening food security is one among top priorities of development because food is the most basic need ofhumans’ life. One of the important pillars in building food security is ensuring food availability. For this respect, foodproduction aspect is the most important aspects in ensuring food availability. This study aims to inventory foodproduction, planting and harvesting patterns of wetland rice crop by using the Enhanced Vegetation Index (EVI)derived from MODIS imagery. The results of this study shows that the estimation of rice crop production in LebakRegency in 2011 amounted to 489,947 tons or 2% less compared to paddy crop production data provide by the LebakRegency Agriculture Office. In general, there are 3 (three) periods of paddy planting and harvesting yearly in LebakRegency. The planting season in the months of January, May and November, while the harvesting season in March,April, August or September.Keywords: Rice Production Estimation, Remote Sensing, Enhanced Vegetation Index.

KAJIAN DETEKSI DEGRADASI HUTAN DENGAN DATA MODIS DAN LANDSAT DALAM MEMAHAMI SKENARIO PENERAPAN REDD

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.025 KB)

Abstract

Dalam studi ini data multi temporal satelit Landsat resolusi spasial 30 meter periodetahun 2003, 2006 dan 2009 dan data MODIS tahun 2003 dan 2008 digunakan untuk deteksi degradasi hutan wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur. Deteksi level degradasi hutan menggunakan metode deteksi perubahan (change detection) dan analisa fragmentasi (fragmentation analysis). Kategori fragmentasi ditentukan berdasar pengelompokkan hutan dengan klas edge, perforated dan patch, sementara hutan alami dikelompokkan atas dalam hutan core pada buffer 250 sampai 500 acre. Selanjutnya dilakukan analisa faktor dasar (baseline factor) untuk memahami penerapan REDD sebagai respon terjadinya degradasi hutan. Hasil analisa data MODIS 2003-2008 menunjukkan terjadinya kecenderungan perubahan penurunan luas hutan sebesar 23,5% (7.256.931 ha). Dari 23,5% tersebut, sekitar 70,0% (5.089.851,7 ha) berupa perubahan penurunan pada hutan alami dan sekitar30,0% (2.167.079,3 ha) berupa penambahan hutan yang terkategori degradasi. Sebaliknya terjadi pula penambahan pada areal bukan hutan sekitar 30% (2.167.079,3 ha). Sementara analisa dengan data Landsat menunjukkan hasil kebalikan, yaitu selama periode 2003 – 2009 terjadi kenaikan jumlah hutan alami sebesar 3,5% (961.313 ha). Dari jumlah 3,5% tersebut, sebesar 7,8% (1.519.694 ha) berupa penambahan pada luasan hutan alami, dan berupa penurunan hutan terkategori degradasi sebesar 6,8% (558.381 ha) dan penurunan atas area bukan hutan sebesar 3,7% (961.313 ha). Adaptasi REDD pada masyarakat Kalimantan timur tersebar pada kelompok hutan terdegradasi (Patch, Perforated dan Edge). Kata Kunci: Hutan Tropis Basah, MODIS, Landsat, REDD, Hutan TerdegradasiABSTRACTSThis study used multi-temporal satellite Landsat imageries with 30-meter spatialresolution period in 2003, 2006 and 2009 and MODIS data in 2003 and 2008 for detection of forest degradation in Kalimantan region, especially East Kalimantan. Detection of degradation level was done using change detection method and fragmentation analysis. Categories were determined by grouping of forest fragmentation by class of edge, perforated and patches, while natural forests in the forest cores were grouped on the buffer 250 to 500 acres. Further analysis was conducted on baseline factors to understand the application of REDD as a response to forest degradation. Analysis result of MODIS data in 2003-2008 shows a trend of decreased forest area by 23.5% (7,256,931 ha). Of 23.5%, approximately 70.0% (11,793,319 ha) were in the form of changes to a decrease in natural forest and approximately 30.0% (4,536,388 ha) of forests are categorized addition of degradation. In contrast, there were also addition to non-forest area of about 30% (7,252,525 ha). Meanwhile, Landsat data analysis shows the opposite result. For example, during the period 2003 – 2009 there was an increase of 3.5% (961,313 ha) of natural forests. Out of the total 3.5% of these, 7.8% (1,519,694 ha) were in the form of addition to the natural forest area, and a decrease in forest degradation as many as 6.8% (558,381 ha) and a decrease of nonforest area of 3.7% (961,313 ha). Adaptation of REDD in East Kalimantan communities scattered in groups of degraded forests (Patch, Perforated and Edge).Keywords: Tropical Rain Forest, MODIS, Landsat, REDD, Degraded Forest

Arah Perkembangan Teknologi Sistem Informasi Geografi di Indonesia

Forum Geografi Vol 8, No 2 (1994): December 1994
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1140.546 KB)

Abstract

Pada dekade mendatang, teknologi sistem informasi geografik terus berkembang dengan cepat. Perkembangan akan semakin nampak pada kecepatan, kapasitas penyimpanan dan sistem komputasi. Peranan sistem informasi yang berorientasi pada referensi di permukaan bumi atau spasial akan semakin dominan dalam pengambilan keputusan untuk perencanaan dan operasionalisasi pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Banyak tantangan dan harapan yang perlu dihadapi dalam perkembangan informasi spasial yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. Makalah ini mencoba mengulas beberapa harapan dan kendala atau tantangan dalam perkembangan sistem informasi geografik di Indonesia.

Pengenalan Proses Citra secara Digital

Forum Geografi Vol 6, No 1 (1992): July 1992
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.32 KB)

Abstract

Teknologi penginderaan jauh telab berkembang dengan pesat di Indonesia semenjak awal 1970-an. Berbagai jenis aplikasi telah diterapkan baik oleh instansi pemerintah maupun swasta. Pada awal penggunaannya teknologi interpretasi yang dominan dipergunakan oleh para pemakai adalah interpretasi secara visual. Sejalan dengan perkembangan teknologi komputer, analisa citra berkembang pula ke arah digital. Makalah ini mencoba mengenalkan teknologi interpretasi secara digital yang memungkinkan data tersebut diintegrasi dengan sistem informasi geografi yang terus berkembang di Indonesia.

BUDIDAYA RUMPUT LAUT DAN DAYA DUKUNG PERAIRAN TIMUR INDONESIA

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.384 KB)

Abstract

Karakteristik kepulauan Indonesia dengan mayoritas wilayah permukiman berada di pesisir, ditunjang dengan luas wilayah lautnya yang mencakup hampir 70% luas wilayah NKRI, menjadikan laut sebagai salah satu tumpuan penyediaan kebutuhan pangan nasional. Rumput laut merupakan salah satu komoditas andalan rakyat di daerah pesisir. Budidaya ini berkembang karena merupakan salah satu usaha budidaya yang secara ekonomi maupun teknologi mudah dijangkau oleh masyarakat nelayan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan kajian daya dukung budidaya rumput laut yang terintegrasi. Dengan berkembangnya usaha budidaya rumput laut di Konawe Selatan diharapkan akan menumbuhkan diversifikasi usaha bagi nelayan untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi ketergantungan terhadap sumberdaya alam seperti penangkapan ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode scoring untuk data spasial dan benefit cost ratio untuk analisa kelayakan usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan pesisir Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara sesuai untuk budidaya rumput laut. Analisa kelayakan usaha menunjukkan bahwa budidaya rumput laut layak dikembangkan di kabupaten ini dengan memperhatikan beberapa faktor antara lain kestabilan harga dan kelancaran pemasaran produk.Kata Kunci: Budidaya Rumput Laut, Daya Dukung, Konawe Selatan ABSTRACTCharacteristic of the Indonesian archipelago is that majority of the settlements are lining along the coastal area, and supported by the water area that reaching almost 70% of the territory, bring out the marine resources as one of the national main food sources. Seaweed is one of the commercial marine culture commodities that people in the coastal areas can cultured it easily. The aim of this research is to develop an integrated carrying capacity assessment of an integrated seaweed culture in Konawe Selatan. The development of seaweed culture is expected to bring implications to the diversity activities for fishermen to increase their income and less dependable to the natural resource products such as captured fishing. The method of scoring for spatial data and benefit cost ratio for the economy feasibility analysis were used in this study. The results show that the coastal waters of Konawe Selatan Regency are suitable for seaweed culture. However, the culture activities should also consider the factors of price stability and marketing of the product.Keywords: Seaweed Culture, Carrying Capacity, Konawe Selatan