Dewi Yulianti Bisri, Dewi Yulianti
Departement of Anesthesiology and Intensive Care, Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, Indonesia

Published : 44 Documents
Articles

Pengelolan Perioperatif Stroke Hemoragik Bisri, Dewi Yulianti; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke hemoragik merupakan penyakit yang mengerikan dan hanya 30% pasien bertahan hidup dalam 6 bulan setelah kejadian. Penyebab umum dari perdarahan intrakranial adalah subarachnoid hemorrhage (SAH) dari aneurisma, perdarahan dari arteriovenous malformation (AVM), atau perdarahan intraserebral. Perdarahan intraserebral sering dihubungkan dengan hipertensi, terapi antikoagulan atau koagulopati lainnya, kecanduan obat dan alkohol, neoplasma, atau angiopati amiloid. Mortalitas dalam 30 hari sebesar 50%. Outcome untuk stroke hemoragik lebih buruk bila dibandingkan dengan stroke iskemik dimana mortalitas hanya sekitar 10-30%. Stroke hemoragik khas dengan adanya sakit kepala, mual, muntah, kejang dan defisit neurologik fokal yang lebih besar. Hematoma dapat menyebabkan letargi, stupor dan koma. Disfungsi neurologik dapat terjadi dari rentang sakit kepala sampai koma. Pengelolaan dini difokuskan pada : 1) pengelolaan hemodinamik dan jantung, 2) jalan nafas dan ventilasi, 3) evaluasi fungsi neurologik dan kebutuhan pemantauan tekanan intrakranial atau drainase ventrikel atau keduanya.Perioperative Management of Hemorrhage StrokeHemorrhagic stroke is devastating disease and only 30% patients survive in 6 months after event. The common cause of intracranial hemorrhage are subarachnoid hemorrhage (SAH) from aneurysm, bleeding from arteriovenous malformation (AVM) or intracerebral hemorrhage. Intracerebral hemorrhage common correlation with hypertension, anticoagulant therapy, or other coagulopathi, drug and alcohol addict, neoplasm, or amyloid angiopathi. Mortality in 30 days is 50%. Outcome for hemorrhagic stroke worst than ischemic stroke with mortality arround 10-30%. Hemorrhagic stroke typically presents with headache, nausea, and vomiting as well as seizure and focal neurological deficits. Neurological dysfunction variated between headache untill coma. Early treatment focused on: 1) hemodynamic and cardiac, 2) airway and ventilation, 3) neurological function evaluation and the needed intracranial pressure monitoring or ventricular drainage or both. 
Supine Hypotension Syndrome pada Kehamilan Bisri, Dewi Yulianti; Redjeki, Ike Sri; Bisri, Tatang
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Supine hypotension syndrome (SHS) dapat terjadi mulai kehamilan trimester 2 dan didefinisikan sebagai penurunan tekanan sistol ≥30% pada posisi supine dibanding dengan lateral. Tujuan penelitian mengetahui insidensi SHS pada wanita hamil aterm di Indonesia. Penelitian observasional pada 200 wanita hamil aterm, kehamilan pertama dan kedua, usia 18–40 tahun, tidak memiliki penyakit sertaan, dan akan dilakukan seksio sesarea elektif di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda dalam periode Maret–Juli 2012. Pasien diberikan 500 cc cairan kristaloid Ringer laktat sebagai pengganti puasa, kemudian dilakukan pemeriksaan tekanan sistol, diastol, rata-rata, laju nadi, dan saturasi oksigen selama 5 menit dengan jarak 1 menit pada posisi supine dan miring kiri 45O. Hasil pengukuran tekanan sistol supine 113,49 (13,20) mmHg, miring 105,20 (12,08) mmHg dengan nilai p=0,93. Tekanan diastol supine  69,05 (7,31) mmHg dan miring 58,58 (7,73) mmHg (p=0,51). Tekanan darah rata-rata supine 84,59 (8,38) mmHg dan miring 75,87 (8,82) mmHg (p=0,62). Laju nadi supine 88,95 (12,19) x/menit, dan miring 86,26 (11,47) x/menit, (p=0,86). SpO2 supine 99,95 (1,11)% dan miring 99,64 (0,67)% (p=0,07). Simpulan, tidak ada perbedaan tekanan sistol, diastol, rata-rata, laju nadi, dan SpO2 wanita hamil aterm pada posisi berbaring dengan posisi miring kiri 450. [MKB. 2015;47(2):102–8]Kata kunci: Posisi supine, posisi miring kekiri, supine hypotension syndrome, wanita hamil atermSupine Hypotension Syndrome in PregnanciesAbstractSupine hypotension syndrome (SHS) can occur starting from the second trimester of pregnancy and is defined as a reduction of systolic blood pressure of ≥30% in the supine position compared to lateral position. The purpose of this study was to determine the incidence of SHS in full term pregnant women in Indonesia. An observational study on 200 full term pregnant women, first and second pregnancy, aged 18−40 years, no coexisting diseases, and was going to have an elective cesarean section in Melinda Woman and Child Hospital in the period of March–July 2012. Patients were given 500 cc of Ringer’s lactate crystalloid fluid instead of fasting. Systolic and diastolic blood pressure, mean blood pressure, pulse rate, and oxygen saturation for 5 minutes were then examined every  minute. The examination was conducted in the supine and left lateral position of 45O. The results show a systolic blood pressure in supine position of 113.49 (13.20) mmHg and in lateral position of 105.20 (12.08) mmHg (p=0.93). Meanwhile, the supine diastolic blood pressure was  69.05 (7.31) mmHg and lateral position was 58.58 (7.73) mmHg (p=0.51). The mean blood pressure in supine position was 84.59 (8.38) mmHg and 75.87 (8.82) mmHg (p=0.62) in lateral position . The pulse rates for supine and lateral position were 88.95 (12.19)x/min and 86.26 (11.47) x/min (p=0.86), respectively. Supine SpO­2 was 99.95 (1.11) % and lateral SpO2 was 99.64 (0.67) % (p=0.07). In conclusion, there is no differences in systolic, diastolic, mean blood pressure, pulse rate and SpO2 of full term pregnant women in supine or left lateral position of 45O. [MKB. 2015;47(2):102–8]Key words: Full term pregnant women, left lateral decubitus, supine hypotension syndrome, supine DOI: 10.15395/mkb.v47n2.461
Supine Hypotension Syndrome pada Kehamilan Bisri, Dewi Yulianti; Redjeki, Ike Sri; Bisri, Tatang
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Supine hypotension syndrome (SHS) dapat terjadi mulai kehamilan trimester 2 dan didefinisikan sebagai penurunan tekanan sistol ≥30% pada posisi supine dibanding dengan lateral. Tujuan penelitian mengetahui insidensi SHS pada wanita hamil aterm di Indonesia. Penelitian observasional pada 200 wanita hamil aterm, kehamilan pertama dan kedua, usia 18–40 tahun, tidak memiliki penyakit sertaan, dan akan dilakukan seksio sesarea elektif di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda dalam periode Maret–Juli 2012. Pasien diberikan 500 cc cairan kristaloid Ringer laktat sebagai pengganti puasa, kemudian dilakukan pemeriksaan tekanan sistol, diastol, rata-rata, laju nadi, dan saturasi oksigen selama 5 menit dengan jarak 1 menit pada posisi supine dan miring kiri 45O. Hasil pengukuran tekanan sistol supine 113,49 (13,20) mmHg, miring 105,20 (12,08) mmHg dengan nilai p=0,93. Tekanan diastol supine  69,05 (7,31) mmHg dan miring 58,58 (7,73) mmHg (p=0,51). Tekanan darah rata-rata supine 84,59 (8,38) mmHg dan miring 75,87 (8,82) mmHg (p=0,62). Laju nadi supine 88,95 (12,19) x/menit, dan miring 86,26 (11,47) x/menit, (p=0,86). SpO2 supine 99,95 (1,11)% dan miring 99,64 (0,67)% (p=0,07). Simpulan, tidak ada perbedaan tekanan sistol, diastol, rata-rata, laju nadi, dan SpO2 wanita hamil aterm pada posisi berbaring dengan posisi miring kiri 450. [MKB. 2015;47(2):102–8]Kata kunci: Posisi supine, posisi miring kekiri, supine hypotension syndrome, wanita hamil atermSupine Hypotension Syndrome in PregnanciesAbstractSupine hypotension syndrome (SHS) can occur starting from the second trimester of pregnancy and is defined as a reduction of systolic blood pressure of ≥30% in the supine position compared to lateral position. The purpose of this study was to determine the incidence of SHS in full term pregnant women in Indonesia. An observational study on 200 full term pregnant women, first and second pregnancy, aged 18−40 years, no coexisting diseases, and was going to have an elective cesarean section in Melinda Woman and Child Hospital in the period of March–July 2012. Patients were given 500 cc of Ringer’s lactate crystalloid fluid instead of fasting. Systolic and diastolic blood pressure, mean blood pressure, pulse rate, and oxygen saturation for 5 minutes were then examined every  minute. The examination was conducted in the supine and left lateral position of 45O. The results show a systolic blood pressure in supine position of 113.49 (13.20) mmHg and in lateral position of 105.20 (12.08) mmHg (p=0.93). Meanwhile, the supine diastolic blood pressure was  69.05 (7.31) mmHg and lateral position was 58.58 (7.73) mmHg (p=0.51). The mean blood pressure in supine position was 84.59 (8.38) mmHg and 75.87 (8.82) mmHg (p=0.62) in lateral position . The pulse rates for supine and lateral position were 88.95 (12.19)x/min and 86.26 (11.47) x/min (p=0.86), respectively. Supine SpO­2 was 99.95 (1.11) % and lateral SpO2 was 99.64 (0.67) % (p=0.07). In conclusion, there is no differences in systolic, diastolic, mean blood pressure, pulse rate and SpO2 of full term pregnant women in supine or left lateral position of 45O. [MKB. 2015;47(2):102–8]Key words: Full term pregnant women, left lateral decubitus, supine hypotension syndrome, supine DOI: 10.15395/mkb.v47n2.461
Penanganan Anestesi Wanita Hamil untuk Kraniotomi Emergensi Hematoma Subdural Bisri, Dewi Yulianti; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma selama kehamilan, termasuk cedera kepala, adalah penyebab morbiditas dan kematian ibu akibat kecelakaan dan merupakan 6%-7% penyulit dari keseluruhan kehamilan dan pengelolaan pasien harus multidisiplin. Spesialis anestesiologi harus memahami perubahan fisiologi pada wanita hamil, implikasinya, dan risiko khusus pemberian anestesi selama kehamilan sehingga dapat dibuat perencaan penanganannya. Perubahan fisiologi yang unik dari kehamilan, terutama sistem kardiovaskuler, mempunyai keuntungan dan kerugian setelah trauma. Kami melaporkan seorang pasien, umur 28 tahun, dengan umur kehamilam 27-28 minggu masuk ke departemen emergensi akibat kecelakaan sepeda motor dengan Glasgow Coma Scale (GCS) E1M4Vt, tekanan darah 130/70 mmHg, laju nadi 72 x/menit, laju nafas 16 x/menit, telah diintubasi dengan pipa endotrakhea no.6.5, pupil isokor, refleks cahaya positif, laju jantung fetus 140-144 x/menit, dan hasil CT-scan menunjukkan adanya subdural hematoma temporoparietal kanan. Anestesia endotrakheal dengan isofluran, oksigen/udara dengan monitor standar dan Doppler untuk memantau laju jantung fetus. Tujuan utama intervensi bedah saraf pada wanita hamil adalah adalah untuk kelangsungan hidup ibu dan anak. Sasaran utama penanganan anestesi untuk wanita hamil yang tidak dilakukan operasi obstetri adalah mempertahankan perfusi uteroplasenta. Peranan tim multidisiplin dalam penanganan pasien parturien dengan risiko tinggi tidak dapat diremehkan Anesthetic Management of Pregnant Woman for Emergency Craniotomy Subdural Hematoma Trauma during pregnancy, including head injury, is the leading cause of accidental maternal death and morbidity, and complicates 6%-7% of all pregnancies which requires multidisciplinary patient’s management. The anesthesiologist must understand the physiological changes of pregnancy, their implications, and the specific risks of anesthesia during pregnancy, so that the best anesthetic approach can be performed. The unique physiologic changes of pregnancy, particularly on the cardiovascular system, are both have advantage and disadvantage after acute traumatic injury. We reported a 28 years old parturient patient at 27-28 weeks of pregnancy who was admitted to emergency department due to motorcycle accident with Glasgow Coma Scale (GCS) of E1M4Vt, Blood Pressure 130/70 mmHg, Heart Rate 72 x/minute, Respiratory Rate 16 x/minute.The patient was already intubated using an endotracheal tube no.6.5, the pupils were equal, round and still reactive to light stimulation, fetal heart rate (FHR) was 140-144 x/minute, and head computed tomography scan showed right temporoparietal subdural hematoma. Endotracheal anesthesia was given with isoflurane, oxygen/air, with implementation of standard monitors and Doppler for FHR. The main aim of a neurosurgical intervention in a pregnant woman is to preserve the viability of both the mother and the infant. The main goal in the management of anesthesia for pregnant woman undergoing a non-obstetric surgery is to maintain the uteroplacental perfusion. The role of a multidisciplinary team in the care of high risk parturient patients cannot be avoided.
Mannitol untuk Hipertensi Intrakranial pada Cedera Otak Traumatik: apakah masih diperlukan? Bisri, Dewi Yulianti
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kejadian cedera otak traumatika (COT) masih cukup tinggi berkisar 1,4 juta pertahun dengan angka kematian 15–20%. Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) sangat sering terjadi setelah COT yang dihubungkan dengan angka mortalitas dan morbiditas. Terapi hipertensi intrakranial harus dimulai bila tekanan intrakranial 20 mmHg atau lebih, karena makin tinggi kenaikan tekanan intrakranial makin tinggi mortalitas. Komplikasi peningkatan TIK adalah terjadinya iskemia dan herniasi otak. Pada guideline terapi hipertensi intrakranial dikenal first-tier therapy dan second-tier therapy. First-tier therapy adalah drenase cairan serebrospinalis, hiperventilasi sedang mencapai PaCO2 30–35 mmHg, dan pemberian osmotik diuretik mannitol. Mannitol mampu menurunkan volume otak dan TIK, mengurangi viskositas darah, meningkatkan aliran darah otak, sehingga akan memperbaiki pasokan oksigen. Peningkatan deformabilitas eritrosit akan membantu menurunkan TIK. Akan tetapi, Cochrane systematic review menemukan tidak cukup data untuk membuat rekomendasi penggunaan mannitol untuk pengelolaan pasien cedera otak traumatik.Terapi diuretik dengan mannitol 0,25–1 g/kg diinfuskan dalam waktu lebih dari 10 menit sampai 20 menit dan diulang setiap 3–6 jam. Osmolaritas plasma harus dipantau dan tidak boleh lebih dari 320 mOsm/L. Efek akan dimulai pada menit ke 15–30 setelah pemberian dan menetap 90 menit sampai 6 jam. Simpulannya adalah karena dari guideline Brain Trauma Foundation yang menyebutkan bahwa mannitol digunakan untuk first-tier therapy, maka pada pekerjaan sehari-hari dalam mengelola pasien cedera kepala berat dengan hipertensi intrakranial kita tetap memberikan terapi mannitol.  Mannitol for Intracranial Hypertension in Traumatic Brain Injury: is it still needed? The incidence of traumatic brain injury (TBI) remains high, about 1.4 million per year with a mortality rate of 15–20%. Increased intracranial pressure (ICP) is very common after TBI. Increased ICP is associated with incidence of mortality and morbidity. Intracranial hypertension therapy should be initiated when the ICP is 20 mmHg or more, as higher increase in ICP will increase mortality. Complications of elevated ICP include brain ischemia and brain herniation. Intracranial hypertension treatment guidelines include first-tier and second-tier therapy. First-tier therapy is cerebrospinal fluid drainage, hyperventilation, achieving PaCO2 30–35 mmHg, and osmotic diuretic: mannitol administration. Mannitol can reduce brain volume and ICP, reduce blood viscosity, improve cerebral blood flow, therefore improving the supply of oxygen. Increased erythrocyte deformability will help to reduce ICP. However, the Cochrane systematic review found insufficient data to make recommendations on the use of mannitol for the management of TBI patients. Diuretic therapy with mannitol 0.25 to 1g/kg infused in just over 10 minutes to 20 minutes and repeated every 3–6 hours. Plasma osmolarity should be monitored and should not be more than 320 mOsm/L. Effect will begin 15–30 minutes after administration and settled 90 minutes to 6 hours. Brain Trauma Foundation guidelines states that mannitol is used as first-tier therapy, therefore we administer manitol as part of management of patients with severe head injury with intracranial hypertension. 
Perbandingan Peningkatan Laju Nadi dan MAP antara Laringoskopi Menggunakan Bilah Laringoskop Macintosh dan McCoy Hutariyus, Andy; Fuadi, Iwan; Bisri, Dewi Yulianti
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.76 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n1.1509

Abstract

Tindakan laringoskopi dan intubasi dapat menyebabkan peningkatan kadar katekolamin di dalam darah sehingga meningkatkan respons hemodinamik seperti takikardi, peningkatan tekanan darah, peningkatan tekanan intrakranial, aritmia, dan perubahan segmen ST. Respons ini tergantung dari seberapa banyak manipulasi di daerah lidah, faring, laring, dan epiglotis pada saat laringoskopi direk. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan peningkatan laju nadi dan mean arterial pressure (MAP) antara laringoskopi intubasi menggunakan bilah Macintosh dan McCoy. Metode penelitian ini adalah uji klinis acak terkontrol buta tunggal pada 40 pasien yang menjalani operasi dengan anestesi umum di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari bulan Juli 2018 hingga Agustus 2018. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, kelompok MI laringoskopi intubasi dengan Macintosh dan kelompok MC laringoskopi intubasi dengan McCoy. Data hasil penelitian di uji secara statistik menggunakan uji t tidak berpasangan dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan laju nadi dan MAP setelah intubasi pada kelompok McCoy lebih rendah dibanding Macintosh pada menit ke-1, menit ke-2,5, dan menit ke-5 dengan perbedaan signifikan (p˂0,05). Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa laringoskopi dengan bilah laringoscop McCoy dapat mengurangi peningkatan laju nadi dan MAP dibanding dengan Macintosh.
Perbandingan Status Nutrisi Minggu Pertama pada Pasien Pascacedera Otak Traumatik Sedang dan Berat yang Dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Dinilai dengan Subjective Global Assessment (SGA) Saputra, Tengku Addi; Bisri, Dewi Yulianti; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v7i3.16

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Penilaian status nutrisi merupakan hal vital untuk menentukan rencana pemberian nutrisi dan memperbaiki luaran pasien dengan cedera otak traumatik (COT). Pada pasien COT terjadi hipermetabolisme, hiperkatabolisme, dan intoleransi glukosa yang dapat mempengaruhi luaran pasien. Penilaian status gizi dilakukan dengan Subjective Global Assessment (SGA). Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan status nutrisi antara pasien COT sedang dan berat yang dinilai dengan SGA.Subjek dan Metode: Penelitian observasional analitik cross sectional ini dilakukan pada 22 pasien COT yang dirawat di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung sejak November 2016 - Juli 2017, yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu COT sedang dan berat. Status nutrisi subjek penelitian dinilai dengan SGA selama 7 hari. Analisis data dilakukan dengan Chi Square, Kolmogorof-Smirnof dan Exact Fisher. Hasil: Terdapat perbedaan status nutrisi yang signifikan antara kelompok COT sedang dan berat pada hari perawatan ke-6 dan 7, dimana lebih banyak didapatkan malnutrisi berat pada kelompok COT berat (p<0,05).Simpulan: Pada penelitian ini malnutrisi lebih banyak terjadi pada pasien dengan COT berat, disebabkan oleh perlambatan pemberian nutrisi akibat disfungsi gastrointestinal yang terjadi pada pasien COT berat sehingga diperlukan strategi pemberian nutrisi khusus pada kelompok COT berat.Comparison of a One Week Nutritional Status between Moderate and Severe Traumatic Brain Injury Patient in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Assessed with Subjective Global Assessment (SGA)Background and Objective: Assessment of nutritional status is vital in determining nutritional plans and improving outcomes of traumatic brain injury (TBI) patients. Hypermetabolism, hypercatabolism, and glucose intolerance occur in patients with TBI can affect its outcome. The used nutritional status assessment is Subjective Global Assessment (SGA). The aim of this study was to compare nutritional status in moderate and severe TBI patients assesed with SGA.Subject and Method: This cross sectional observational analytic study was conducted on 22 TBI patients treated in RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung since November 2016 - July 2017, divided into 2 groups, moderate and severe TBI. Assessment of SGA in study subjects was conducted for 7 days. Data was analyzed with Chi Square, Kolmogorof-Smirnof and Exact Fisher test. Results: This study showed a significant difference in nutritional status between moderate and severe TBI groups during the 6th and 7th treatment days, whereas more severe malnutrition was found in the severe TBI group (p <0.05).Conclusion: Compares to patients with moderate TBI, malnutrition is more prevalent in patients with severe TBI, because of delayed of nutrient delivery due to gastrointestinal dysfunction occurring in severe TBI patients requiring specific nutritional strategies in severe TBI group.
Penatalaksanaan Anestesi Untuk Kliping Ruptur Aneurisma Serebral Bisri, Dewi Yulianti; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aneurisma cerebral merupakan suatu kelainan vaskuler intraserebral, dengan angka kejadian sekitar 5% dari jumlah populasi pada usia 45-60 tahun. Perdarahan subarachnoid (Subarachnoid Hemorrhage /SAH) merupakan gejala serius dari aneurisma yang ruptur dengan angka kejadian berkisar antara 10-15 kasus per 100.000 populasi. Aneurisma yang pecah ulang atau iskemia merupakan masalah utama pada pengelolaan perioperatif pasien dengan aneurisma serebral. Seorang wanita berusia 73 tahun, berat badan 80 kg dengan aneurisma sakuler dari arteri vertebralis kanan bagian proksimal dari arteri sereberal posterior inferior (Posterior Inferior Cereberal Artery /PICA) dengan gambaran SAH, GCS 7, tekanan darah 200/160 mmHg, nadi 100 x/ menit, respirasi 18 x/permenit dengan Kriteria Hunt and Hess III-IV. Dilakukan intubasi dan penanganan tekanan darah di Unit Gawat Darurat dan pasien dirawat di ICU. Di ICU pasien diventilasi, dengan sedasi propofol 1 mg/kgBB/jam, diberikan perdipine 0,5 mg/kg BB/menit, dan pasien dapat diekstubasi hari ke-10 setelah perawatan di ICU. Operasi dilakukan pada perawatan hari ke 17, dengan keadaan prabedah GCS 13, tekanan darah 160/80 mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi 14 x/menit SpO2 100% dengan binasal canul, dan direncanakan dilakukan kliping aneurisma. Dipasang alat pantau tekanan darah non-invasif, EKG, SpO2, dan urine kateter. Pasien tanpa premedikasi, induksi dengan propofol, fentanyl, lidokain, dan fasilitas intubasi dengan rocuronium 0,9 mg/kg BB. Rumatan anestesi dengan Sevofluran - Oksigen 40% - propofol kontinyu 1-3 mg/kg/jam - vecuronium 0,1 mg/kgBB/jam. Pemasangan arteri line setelah induksi anestesi. Untuk pengaturan tekanan darah sebelum dan saat kliping temporari dan permanen dengan nitrogliserin titrasi. Pascabedah pasien dipindahkan ke ICU, tidak diekstubasi, dan dilakukan ventilasi mekanis selama 24 jam, dan dirawat selama 12 hari, dengan mendapatkan terapi hipertensi dengan menaikkan tekanan darah maksimal 20% dari nilai dasar. Pasien di pindahkan ke ruangan GCS 15, Tekanan darah 140/90 mmHg, Nadi 80x/menit, respirasi 12x/menit SpO2 100%. Komplikasi pada post operasi aneurisma adalah hidrocephalus, rebleeding, kejang dan vasospasme. Adanya penurunan kesadaran pascabedah terutama disebabkan karena menurunnya aliran darah otak akibat vasospasme. Pencegahan dan penanganan kemungkinan terjadinya komplikasi ini dapat memperbaiki luaran pasien. Penatalaksaanaan preoperasi, intraoperatif dan postoperatif yang benar dapat memperbaiki luaran pasien.Anesthesia Management For Clipping Cerebral Aneurysm RuptureCerebral aneurysm is considered an intra cerebrovascular structural dysfunction, with the incidence rate around 5% of total 45-60 years of age population. Subarachnoid Hemorrhage (SAH) is considered a serious symptom of ruptured aneurysm and the incidence rate is around 10-15 cases per 100.000 human population. Re-ruptured or ischemia are the main problems in perioperative management of patient with cerebral aneurysm. A 73-year-80 kg BW female with saculler aneurysm on the right vertebral artery proximal to Posterior Inferior Cereberal Artery (PICA) and the appearance of subarachnoid haemorrhage (SAH), GCS 7, blood pressure 200/160 mmHg, heart rate 100 beats/minute, respiration rate 18 beats/minute with the Hunt and Hess Criteria III-IV was admitted to the hospital. Performed intubation and hypertension management at the emergency ward and the patient was treated at the ICU. At the ICU, the patient was on ventilator, sedated using propofol 1 mg/kgBW/hr, perdipine 0,5 mg/kgBW/minute, and the patient was extubated on the day-10 after ICU treatment. The surgery was performed on the day-17, and the presurgery descriptions were GCS 13, blood pressure 160/80 mmHg, heart rate 90 beats/minute, respiration rate 14 beats/minute, SpO2 100% with oxygenation using binasal canule, and the patient was scheduled for aneurysm clipping. A non-invasive monitor was installed for blood pressure, ECG, SpO2 and urine foley catheter was also installed. The patient was without premedication, inducted using propofol, fentanyl, lidocain, and facilitate intubation with rocuronium 0,9 mg/kgBW. Anesthetic maintenance using Sevoflurane - oxygen 40% - propofol continuously 1-3 mg/kgBW/hr - vecuronium 0,1 mg/kgBW/hr. Installation of arterial line was performed right after anesthetic induction. Nitrogliserin titration was used to manage blood pressure before and during temporary and permanent clipping. After surgery, the patient was transferred to ICU, unextubated, and was on mechanical ventilator for 24 hr, being treated for 12 days, and received hypertension therapy by increasing the blood pressure 20% maximum from the baseline. The patient was then transferred to the inpatient ward at GCS 15, blood pressure 140/90 mmHg, heart rate 80 beats/minute, respiration rate 12 beats/minute, and SpO2 100%. Complications that may occur at the post aneurysm surgery were hidrocephalus, re-bleeding, seizure and vasospasm. The awareness decline post surgery may due to the decreasing of intra cerebral blood circulation due to vasospasm. Anticipation and management the possibility of those complications may determine the patient’s outcome. The correct management of pre-surgery, intrasurgery and post surgery will improve the patient outcome as well.
Penatalaksanaan Anestesi pada Pasien dengan Tumor Supratentorial Berukuran Besar Suspek Konveksitas Meningioma Wullur, Caroline; Bisri, Dewi Yulianti
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penatalaksanaan anestesi untuk kasus meningioma memiliki beberapa hal khusus yang penting untuk dilaksanakan. Jaringan otak tertutup oleh tulang kranium. Karena hubungan kontinu dari aliran darah dan volume jaringan otak, maka resiko perdarahan dan edema sangat tinggi. Tanpa pendekatan anestesi yang tepat, maka dapat meningkatkan resiko edema dan perdarahan otak karena manipulasi operasi. Pada kasus ini dilaporkan pasien berusia 35 tahun dengan keluhan nyeri kepala di daerah frontal disertai dengan penurunan penglihatan sejak 1 tahun sebelum masuk rumah sakit. Pasien tidak pernah mengalami kejang ataupun penurunan kesadaran. Pasien didiagnosa dengan tumor supratentorial ec suspek conveksitas meningioma yang direncanakan dilakukan pembedahan kraniotomi untuk pengangkatan tumor. Status fisik ASA 2 dengan defisit neurologis. Pasien dilakukan dengan anestesi umum dengan intubasi. Induksi dengan fentanil, propofol dan vecuronium. Operasi berlangsung selama 7,5 jam. Pascabedah, pasien dirawat di Unit Perawatan Intensif selama 2 hari sebelum pindah ke ruangan. Perlakuan anestesi dan pengaturan faktor fisiologi mempunyai dampak yang besar terhadap jaringan otak. Dokter anestesi harus mempunyai pengetahuan mengenai efek obat dan manipulasi lainnya untuk mencapai hasil operasi yang baik. Anaesthetic Management of a Patient with Large Supratentorial Brain Tumor Suspected Convexity MeningiomaAnesthesia for meningioma cases has several specific important considerations. The brain is enclosed in a rigid skull. Brain tissue is highly vascularized therefore the risk of bleeding and edema are very high. Without the correct anaesthetic approach, the risk of bleeding and edema due to surgical manipulation may be increased. This phenomenon may have negative impact since the visual of surgical field will be limited. In this case, we reported a 35-year old female patient with severe headache at the frontal region accompanied with visual impairment since 1 year prior to hospital admittance. This patient was never experienced any seizures or inconsiousness. Patient was diagnosed with supratentorial tumor caused by suspect of convexity meningioma and was planned tumor removal craniotomy. ASA II physical status with neurological deficit. The patient was on general anaesthesia with intubation. Induction was performed using fentanyl, propofol and vecuronium while continuous propofol and vecuronium were used for maintenance. The surgery lasted for 7.5 hours. After surgery, the patient was treated in the Intensive Care Unit for 2 days prior to inpatient ward transfer. Anaesthetic management and physiological factors control have a positive impact on the brain tissue. Anaesthesiologist must have the comprehensive knowledge on drug effects and other manipulations to achieve positive result of a surgery.
Pengelolaan Perioperatif Cedera Medula Spinalis Servikal karena Trauma dengan Tetraparesis Frankle C Asia Basuki, Wahyu Sunaryo; Bisri, Dewi Yulianti; Saleh, Siti Chasnak; Wargahadibrata, A. Hmendra
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v7i1.24

Abstract

Cedera medula spinalis akut relatif jarang namun menjadi salah satu kejadian trauma yang berakibat fatal. Kejadian ini sering terjadi pada laki-laki dewasa muda. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama dari kejadian ini, disusul oleh kejadian trauma di rumah, industri dan olahraga. Tujuan utama dari pengelolaan cedera medula spinalis akut adalah mencegah medula spinalis dari cedera sekunder dan memperbaiki fungsi neurologis, mencegah perubahan alignment dan menjaga stabilitas columna vertebralis untuk mendapatkan hasil pemulihan neurologis dan rehabilitasi yang maksimal. Ahli anestesi berperan besar mulai awal pengelolaan secara optimal cedera medula spinalis akut ini. Seorang laki-laki, 57 tahun, dibawa kerumah sakit karena kecelakaan sepeda motor. Pada pemeriksaan fisis, didapatkan laju nafas 24x/menit, nadi 70x/menit, tekanan darah 110/61 mmHg, perfusi baik, GCS 15, dan tetraparesis. Dalam perawatan selanjutnya, terjadi bradikardia (nadi 50-61 x/menit) dan hipotensi (tekanan darah 80-90/40-60 mmHg). Dilakukan laminoplasti dekompresi stabilisasi segera.Perioperative Management Traumatic Cervical Spinal Cord Injury with Tetraparesis Frankle C AsiaAcute spinalis cord injury (SCI) is relatively rare but can be a fatal trauma event. Young adult men are most commonly affected. Traffic accident is a frequent cause, followed by accidents at homes, industries, and in sports. The primary goals of the management of acute SCI are to prevent secondary injury of the spinal cord, improve neurological functions, prevent disruption in alignment, and maintain the stability of the vertebral columns. These serve to achieve neurological recovery and maximal rehabilitation. Anesthesiologists play an important role in the optimal management of acute SCI. A 57-year-old man was brought to the hospital due to a motorcycle accident. Physical examination revealed respiratory rate 24 x/minutes, heart rate 70 x/minutes, blood pressure 110/61 mmHg, good perfusion, GCS 15, and tetraparesis. During hospitalization, the patient developed bradycardia (heart rate 50-61 x/minutes) and hypotension (blood pressure 80-90/40-60 mmHg). Immediate decompressive laminoplasty stabilisation was performed.