Asdar Iswati, Asdar
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Pembinaan Produksi Kompos Limbah Pertanian dan Pemanfaatannya di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor Iswati, Asdar; Indriyati, Lilik Tri
Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2015): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Most of agricultural lands in Pasir Eurih Village are paddy field simple irrigation system, while most of them in Sukajadi Village are upland. Farmers in both villages are used to composting organic residues, but the composts was not used maximally. The aim of the IbM activities was: (1) To guide our partners to produce better quality of composts sustainable; and(2) To motivate the community of peasant  using composts for their farm. The best compost resulted by IbM-3 guidance was made from rice straw, leaf litter, and chicken manure mixed with rice husk as their bedding by ratio of 3:2:1:1. This compost contained macronutrients (N, 0.56%, P2O5  1.09%, K2O 1.44%, Ca 5.72%, Mg 0.43%, and Na 0.08% respectively), micronutrients Fe 5.309 ppm, Mn 342 ppm, Cu 42 ppm, Zn 69 ppm, and B 33 ppm respectively), and heavy metals of Pb was 4.8 ppm and Cd 0.04 ppm. The addition of 3-4 ton/ha of this compost into paddy soil could reduce chemical fertilizers up to 50%. The addition of 3 ton/ha of this compost to upland soil planted by sweet corn produce same with application of chicken manure bedding or goat manure. Socialization of the benefit of using compost in increasing the soil fertility and crop yield have raised the peasant’s knowledge. It was showed by the mean value of this post test raised 19.67 points for fertilizer and soil fertility matter and 16.63 points for organic materials or natural fertilizers matter. 
PEMANFAATAN CITRA QUICK BIRD UNTUK VERIFIKASI PETA BERBASIS KEPEMILIKAN LAHAN (STUDI KASUS: DELTA CIPUNAGARA, KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT) Munibah, Khursatul; Iswati, Asdar; Tjahjono, Boedi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitl.14.1.37-43

Abstract

Pemetaan kadastral atau pemetaan berbasis kepemilikkan lahan telah diamanatkan oleh Pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan yaitu pada Pasal 1 ayat 3. Namun kebijakan ini belum terrealisasi secara nasional. Kantor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Kabupaten Subang, Jawa Barat telah melakukan pemetaan lahan berbasis kepemilikan lahan, yaitu peta persil lahan tambak di Delta Cipunagara yang dilakukan secara terestris. Di sisi lain, telah banyak tersedia data penginderaan jauh resolusi tinggi seperti Citra Quick Bird yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari manfaat Citra Quick Bird untuk verifikasi peta persil lahan tambak. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan bentuk Delta Cipunagara yang bersumber dari PBB dan Citra Quick Bird; (2) persil tambak yang dibatasi dengan ”galengan” saja mudah diidentifikasi dari Citra Quick Bird; (3) terdapat perbedaan posisi blok dan persil tambak antara Peta Persil dari Kantor PBB dan Citra Quick Bird; dan (4) terdapat pergeseran posisi persil tambak antara peta yang bersumber dari Kantor PBB dengan Citra Quick Bird, berkisar (1.5-57.2) m, dengan rata-rata 19.9 m. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa luas persil yang bersumber dari Kantor PBB memiliki kesesuaian yang tinggi dengan luas persil hasil pengukuran lapang (R2=93.0%). Demikian juga untuk luas persil dari Citra Quick Bird memiliki kesesuaian yang tinggi dengan luas persil dari Kantor PBB (R2=94.3%). Namun tingkat kesesuaian antara luas persil dari Citra Quick Bird dan pengukuran lapang relatif lebih rendah (R2 = 63.2%).
NERACA KARBON, EMISI DAN SERAPAN HISTORIS CO2 KARENA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KABUPATEN BANYUASIN, SUMATERA SELATAN Firyadi, Firyadi; Widiatmaka, Widiatmaka; Iswati, Asdar; Muhamad, Ardiansyah; Mulyanto, Budi
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 8, No 2 (2018): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.528 KB) | DOI: 10.29244/jpsl.8.2.178-187

Abstract

Land use change is the cause of carbon loss from land. The loss of this carbon becomes a source of carbon dioxide (CO2) in the atmosphere that can cause global warming. Intensive land use and land cover occurred in Kabupaten Banyuasin from 2004-2014. The purpose of this study. to create carbon balance, emissions and sequestration of CO2 during the period of 2004 - 2014 in Banyuasin Regency caused by land use change and land cover change. The method used to create carbon balance using land use change matrix, carbon calculation of each carbon pool by allometric method, destructive sample and organic C by Walkley and Black method. Stock diference method for analysis of changes in carbon storage, CO2 emissions and CO2 sequestration. The results of this study indicate that the 2004-2014 carbon balance in Banyuasin Regency is negative, with a carbon loss of 22,033,277 tons with an average annual carbon loss of 2,203,327 tons. CO2 sequestration of 29,298,966 tons and CO2 emissions 118,044,141 tons, while net emissions 88,745,175 tons. Average net CO2 emissions from above ground carbon pools, carbon necromassa pools, litter carbon pools and underground carbon pools are 7 tonnes ha-1 year-1, whereas CO2 emissions from organic soil C 0.61 tonnes ha- 1 year-1. The largest contributor of CO2 emissions in Banyuasin Regency are sequentially caused by changes in peat swamp forests, secondary mangrove forests, primary mangrove forests and secondary swamp forests. While the source of sequestration is the change of monoculture rubber peat, oil palm, rubber monoculture and shrubs.
PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN REGULASI PENGELOLAAN LAHAN BARU DI DELTA CIPUNAGARA, SUBANG, JAWA BARAT Munibah, Khursatul; Iswati, Asdar; Tjahjono, Boedi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.37 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.130

Abstract

Perubahan garis pantai dapat terjadi karena faktor alam atau campur tangan manusia seperti perkembangan delta atau reklamasi pantai, Dalam beberapa kasus, perubahan garis pantai dapat membentuk lahan baru yang disebut delta atau lahan timbul. Lahan baru yang terjadi di Delta Cipunagara terus mengalami penambahan seluas 138,9 ha (1962-1972); 757,3 ha (1972-1990) dan 623,0 ha (1990-2008) dengan laju masing-masing sebesar 13,9 ha/tahun, 42,1 ha/tahun dan 34,6 ha/tahun. Penggunaan lahan di lahan baru didominasi oleh tambak sebesar 26,0% (1972); 50,0% (1990) dan 67,8% (2008). Saat ini, lahan baru di Delta Cipunegara dikelola oleh masyarakat setempat dengan seijin kepala desa, yang diujudkan dalam bentuk Surat Izin Mengelola (SIM). Kenyataan menunjukkan bahwa penguasaan lahan baru belum jelas secara yuridis, sehingga dapat menjadi pemicu konflik. Oleh karena itu, kepastian kepemilikan lahan baru perlu segera ditangani oleh pemerintah untuk meminimumkan konflik sosial di masa datang.Kata kunci: Lahan Baru, Garis Pantai, Konflik Sosial ABTRACTCoastline change occurred by natural or anthropogenic processes such as delta development or land coastal reclamation. In some cases, coastline change can create the new land that called delta or emergence land. The new land in Delta Cipunagara has enlarged about 138,9 ha (1962-1972); 757,3 ha (1972-1990) dan 623,0 ha (1990-2008) with rate 13,9 ha/year; 42,1 ha/year and 34,6 ha/year, respectively. Land use in the emergence land are dominated by pound about 26,0 % (1972); 50,0% (1990) and 67,8% (2008). Now, the new lands in Delta Cipunagara are occupied by the local people based on Chief of Village Certificate. In reality, the owner of the new land is unknown judicially so that canprovoke a social conflict. This situation should be clarified judicially by government in order to minimize a social conflict in the future.Keywords: Emergence Land, Coastline, Social Conflict
ANALISIS KESELARASAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN SAAT INI DENGAN ALOKASI RUANG DAN STATUS LAHAN (STUDI KASUS KABUPATEN BOGOR BAGIAN BARAT) Yogaswara, Laila Mardlotillah; Darmawan, Darmawan; Iswati, Asdar
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.2.75-82

Abstract

Pemekaran wilayah sudah banyak dilakukan dan tampaknya akan terus terjadi, seperti wacana pemekaran Kabupaten Bogor bagian Barat. Pembentukan wilayah otonomi baru memerlukan persiapan yang penting. Antara lain dalam level pemanfaatan sumberdaya fisik wilayah. Analisis keselarasan antara penggunaan lahan saat ini dengan alokasi ruang dan status lahan sangat relevan dengan rencana pemekaran suatu wilayah. Informasi yang diperoleh merupakan dasar dalam penataan ruang wilayah baru. Analisis tumpangtindih antara penggunaan lahan saat ini, alokasi ruang yang ada dan status lahan di wilayah Kabupaten Bogor bagian Barat telah dilakukan. Hasilnya menjelaskan bahwa terdapat ketidakserasian antara Kawasan Hutan Konservasi karena adanya penggunaan lahan lain selain hutan yaitu: kebun campuran, permukiman, perkebunan, pertambangan, sawah dan tegalan dengan status lahan Hak Guna Usaha dan Hak Milik. Dalam Kawasan Perkebunan status Hak Guna Usaha terdapat aktivitas masyarakat bercocok tanam. Kebun campuran hasil dari aktivitas masyarakat yang dijumpai pada seluruh alokasi ruang dan status lahan yang berbeda dengan luas yang beragam.