Articles

Found 3 Documents
Search

STATUS STOK IKAN KARANG TARGET DI KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Yuliana, Ernik; Boer, Mennofatria; Fahrudin, Achmad; Kamal, M Mukhlis; Muttaqin, Efin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.22.1.2016.9-16

Abstract

Sumber daya ikan karang di Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) mengalami tekanan eksploitasi seiring dengan peningkatan permintaan sumber daya ikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis status stok ikan karang target di TNKJ. Penelitian dilakukan di TNKJ Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, pada April-Agustus 2015. Pengumpulan data menggunakan metode survei dan observasi, mencakup data primer dan sekunder. Empat jenis ikan karang dipilih untuk mewakili ikan karang, yaitu ekor kuning, pisang-pisang, sunu macan, dan jenggot. Hasil tangkapan dianalisis dengan CPUE dan indeks musim. Mortalitas diduga dengan kurva penangkapan yang dilinierkan berdasarkan data komposisi panjang ikan. Penilaian status stok menggunakan metode analitik dengan menghitung laju eksploitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CPUE ikan karang mempunyai tren yang meningkat. Ikan karang secara agregat tersedia pada setiap bulan sepanjang tahun, tidak ada musim puncak penangkapan dan musim paceklik. Ikan pisang-pisang dan sunu macan telah dieksploitasi melebihi batas kelestariannya, yaitu 114,50% dan 154,00%.Coral reef fish resources in Karimunjawa National Park (KNP) are under exploitation pressure with increasing demand of fish for human consumption. This study is aimed to analyze the status of target reef fishes in KNP. Field survey was conducted in KNP District of Jepara, Central Java, in April-August 2015. Data consists of primary and secondary data was obtained by using survey and observation method.    Four species of reef fishes were chosen to represent reef fish, namely yellow tail fusilier (Caesio cuning), blue and gold fusilier (Caesio caerulaurea), highfin coral grouper (Plectropomus oligocanthus), and dash-and-dot goatfish (Parupeneus barberinus). Reef fish catch data was analyzed using catch per unit effort (CPUE) and seasonal index. Fish mortality was predicted by catch curve based on length-converted. The results indicate increasing trend of reef fishes CPUE. Reef fishes in aggregate are available every month in year-round and there is no seasonality trend. Fish length analysis reveals that status of blue and gold fusilier and highfin coral grouper have been exploited over maximum sustainable limit, with the rate of exploitation 114.50% and 154.00%, respectively. 
BIODIVERSITAS IKAN KARANG DI WILAYAH BENTANG LAUT LESSER SUNDA BANDA (KAB. FLORES TIMUR, ALOR DAN MALUKU BARAT DAYA), INDONESIA Setiawan, Fakhrizal; Azhar, Muttaqin; Estradivari, E; Muttaqin, Efin; Tarigan, Sukmaraharja A; Wijanarko, Tutus; Khaifin, K; Wisesa, Nara; Retrawimbi, Aditano Y; Muhidin, M; Akhrari, Hedra; Sadewa, Sanca
Jurnal Kelautan Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1108.093 KB) | DOI: 10.21107/jk.v10i1.1349

Abstract

Sebanyak 62 titik penyelaman dilakukan untuk memberi gambaran mengenai ikan karang yang terdapat di wilayah perbatasan Propinsi NTT dan Maluku di Indonesia. Tutupan karang hidup menunjukan umumnya kondisi tutupan karang berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata 62,51%. Ikan karang yang ditemukan dalam survei ini terdiri dari 468 spesies dalam 47 Famili ikan karang dimana biomassa ikan karang tertinggi terdapat Kab. MBD (Rata-rata 12.476,32 Kg/Ha) sedangkan yang terendah terdapat di Kab. Flores Timur (rata-rata 652,83 Kg/Ha). Nilai Kelimpahan ikan karang tertinggi terdapat di Kab. MBD (rata-rata 13.308 Ind/Ha) dan yang terendah terdapat di Kab. Flores Timur (rata-rata 1.502.23 Ind/Ha). Struktur komunitas ikan karang berdasarkan indeks shanon-weinner (H’) berada kategori sedang, nilai indeks keseragaman (E) masuk kategori labil dan nilai dominansi (C) masuk dominansi rendah sehingga ekosistem masih dalam kondisi baik. Kesamaan spesies ikan karang menggunakan hasil cluster analysis pada taraf penskalaan 66,37 % dan MDS (Multi Dimensional Scalling) mengelompokkan ikan karang kedalam 2 grup yaitu ikan karang di wilayah Kab. Alor dan Flores Timur dan Kabupaten Maluku Barat Daya di kolompok lainnya. Hasil dari analisis klatser dan MDS memperlihatkan Kab. Alor dan Flores timur di Provinsi NTT yang masuk wilayah geografis Lesser Sunda memiliki perbedaan ikan karang dengan Kab. Maluku Barat Daya di Provinsi Maluku yang secara geografis masuk area Banda seascapes. Secara keseluruhan ikan karang di Kab. MBD memiliki potensi yang sangat tinggi dilihat dari kelimpahan, biomasa dan nilai ekologi lainnya. Lokasi ini bisa dikembangkan menjadi sumber protein hewani yang potensial bagi masyarakat disana maupun tingkat nasional.Kata kunci: Ikan karang, Biomassa, kelimpahan, Lesser sunda, Flores Timur, Alor, Maluku Barat Daya. REEF FISHES BIODIVERSITY OF LESSER SUNDA-BANDA SEASCAPE (EAST FLORES, ALOR AND SOUTH WEST MALUKU DISTRICT) IN INDONESIAABSTRACT A total of 62 dive sites were made to provide an overview of reef fish found in the border region of the Province of NTT and Maluku in Indonesia. Live coral cover shows the general condition of the coral cover is in good category with an average value of 62.51%. Reef fish found in this survey consists of 468 species in 47 Famili reef fish reef where fish biomass is highest Kab. MBD (average 12.476,32 kg.ha-1), while the lowest was in the district. East Flores (an average of 652,83 kg.ha-1). The value of reef fish abundance is highest in the district MBD (average 13.308 ind.ha-1) and the lowest was in the district East Flores (average 1.502,23 ind.ha-1). Reef fish community structure based-weinner Shannon index (H') was the medium category, evenness indice value (E) in the category volatile and the value of dominance (C) enters a low dominance so that the ecosystem is still in good condition. The similarity of species of reef fish using cluster analysis results at the level of scaling 66.37% and MDS (Multi Dimensional Scaling) breaks down into two groups of reef fish that reef fish in the district Alor and East Florest and district of Southwest Maluku in other group. Results of the cluster analysis and MDS showed Alor and East Flores regency in NTT Prvince incoming Lesser Sunda seascapes have different reef fish by the District of Southwest Maluku in Maluku Province incoming Sunda Banda seascapes. Overall reef fish in the district. MBD has a very high potential views of abundance, biomass and other ecological values. This location can be developed into a potential source of animal protein for the people there as well as national level. Keywords: Reef fishes, biomass, abundance, Lesser Sunda, sunda banda seascape
DAMPAK PEMUTIHAN KARANG TERHADAP EKOSISTEM TERUMBU KARANG PADA TAHUN 2010 DI PERAIRAN UTARA ACEH Muttaqin, Efin; Kamal, Mohammad Mukhlis; Hariyadi, Sigid; Pardede, Shinta; Tarigan, Sukmaraharja; Campbell, Stuart J
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 1 (2014): MEI 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.5.15-21

Abstract

Bulan April-Mei 2010 Perairan Andaman termasuk perairan Aceh mengalami kenaikan suhu permukaan air laut yang drastis. Kenaikan suhu permukaan air laut tersebut telah menyebabkan pemutihan karang di beberapa tempat di dunia, termasuk perairan utara Aceh. Survei pemutihan karang telah dilakukan untuk mengukur dampak pemutihan karang terhadap ekosistem terumbu karang yang meliputi, index pemutihan karang, tutupan karang keras dan kelimpahan ikan karang. Hasil survey menunjukkan bahwa lebih dari 35% karang keras yang memutih mengalami kematian. Genera karang yang mengalami tingkat kematian yang sangat besar adalah karang keras dari Genera Acropora dan Pocillopora. Pemutihan karang yang disertai dengan tingkat kematian karang yang tinggi telah menyebabkan penurunan tutupan karang keras di Perairan Utara Aceh secara signifikan bahkan di beberapa tempat tutupan karang dari Genera Acropora mengalami kematian sebesar 100%. Selain berdampak kepada penurunan tutupan karang keras, pemutihan karang pada tahun 2010 juga berdampak pada penurunan kelimpahan ikan karang terutama ikan karang pemakan polip karang (Corallivore) yang mengalami penurunan kelimpahan secara signifikan antara tahun 2009 dengan 2011 dan 2013. Data tersebut bisa disimpulkan bahwa, pemutihan karang pada tahun 2010 di Perairan Utara Aceh merupakan peristiwa yang paling parah yang pernah dilaporkan di Indonesia khususnya di Utara Aceh.