Resa Setia Adiandri, Resa Setia
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Karakteristik Mutu Fisikokimia Jamur Merang (Volvarella Volvacea) Selama Penyimpanan Dalam Berbagai Jenis Larutan Dan Kemasan Adiandri, Resa Setia; Nugraha, Sigit; Rachmat, Ridwan
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v9n2.2012.77-87

Abstract

Jamur merang merupakan komoditas sayuran yang bernilai ekonomi tinggi dan prospektif. Tetapi dalam keadaan segar daya simpannya sangat terbatas karena kadar airnya cukup tinggi dan setelah panen masih mengalami respirasi menghasilkan senyawa kimia yang dapat mempercepat kerusakan jamur merang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mutu fisikokimia jamur merang selama penyimpanan dalam berbagai jenis larutan dan kemasan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah jenis larutan yang terdiri dari: A1 (asam askorbat 0,05%); A2 (asam sitrat 1% ), A3 (garam dapur 2%), A4 (asam askorbat 0,05% + asam sitrat 1 % + garam dapur 2%), A5 (natrium metabisulfit 0,1% + garam dapur 0,2% + asam askorbat 0,1% + asam sitrat 0,1% + kalium karbonat 0,1%), dan A6 (kontrol). Sedangkan faktor kedua adalah jenis kemasan yaitu B1 (standing pouch) dan B2 (gelas plastik). Suhu penyimpanan untuk semua perlakuan sekitar 16 ± 5oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan cenderung mengalami perubahan mutu fisikokimia selama penyimpanan yang berpengaruh terhadap daya simpannya. Perlakuan dalam kemasan standing pouch dengan penambahan larutan asam askorbat 0.05% + asam sitrat 1% + garam 2% menunjukkan perlakuan dengan daya simpan terlama yaitu 9 hari (10 hari setelah panen) dengan karakteristik mutu fisikokimia sebagai berikut: indeks browning 157,89, tekstur 865,67 gram, konsentrasi CO2 10,49 %, nilai kejernihan larutan 25,60%, pH 4,24, dan hasil uji hedonik untuk warna 4,67, tekstur 4,41 dan aroma 4,45.
EVALUATION OF THE PHYSICO-CHEMICAL AND ORGANOLEPTIC PROPERTIES OF TEMPE DERIVED FROM VARIOUS OF SOYBEAN VARIETY Hidayah, Nikmatul; Adiandri, Resa Setia; Astuti, Mary
Widyariset Vol 15, No 2 (2012): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.271 KB)

Abstract

Imported soybean as raw material for making tempe was preferred than local soybean due to better qualities in colour and uniform seed size. This study was carried out to evaluate the physical, chemical and organoleptic properties of tempe derived from both local and imported soybean. Five local soybean varieties and an imported soybean were examined in this research. This study consisted of two steps: (1) making of the tempe from various of soybean variety; (2) characterizing the tempe such as the physical properties (density, texture, pH, yield), chemical properties (water content, ash content, protein, fat, carbohydrate), and organoleptic properties (colour, smell, flavour, preference). The result showed that tempe derived from local soybean had a better quality than imported soybean tempe for its physical, chemical and organoleptic properties. Galunggung tempe had the highest yield and Anjasmara tempe had the highest protein content. Based on organoleptic properties, it shows that Bromo tempe had the highest preference value.
Evaluasi karakteristik pengeringan jamur meraug kering (Volvariella voivacea) menggunakan Far Infra Red (FIR) Rachmat, Ridwan; Adiandri, Resa Setia
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v12n1.2015.45-50

Abstract

Evaluasi karakteristik pengeringan jamur meraug kering (Volvariella voivacea) menggunakan Far Infra Red (FIR). Makalah ini memaparkan hasil studi penerapan radiasi Far Infra Red (FIR) yang dirancaug untuk pengeringan jamur merang (Volvariella voivacea). Radiasi FIR dengan panjang gelornbang 25-1000 urn dipilih sebagai pengeriug yang digunakan dalam penelitian ini. Radiasi FIR 'efektif dalam menurunkan waktu pengeringan dengan perubahan warna minimal. Tujuan dari studi ini mengevaluasi (I) Kinerja teknologi pengeringan FIR; (2) karakteristik fisiko kimia produk kering meliputi warna, asam askorbat, aroma dan klorofiJ. Pembahasan meliputi laju pengeringan jamur merang dalarn bentuk irisan pada suhu 50, 60, 65 dan 75oC. Kandungan nutrisi maupun karakteristik fisiko kimia. Radiator FIR dengan panjang gelombang 8,7 urn dengan jarak optimum antara konveyor dan FIR radiator (18±2 em) serta suhu lorong pada rentang.60 oc. Penampilan warna produk jamur basil pengeringan dengan metoda pcngeringan FIR dan proses blansir dengan 0,1% larutan Natrium meta bisulfate menghasilkan produk dengan rasio rehidrasi sebesar 65,42±5,08%. Hasil studi ini rnenyirnpulkan bahwa penerapan teknologi pengeringan FIR rnerupakan metoda yang prospekti f untuk rnenghasilkan jamur kering yang berkualitas.
Efek Pengeringan Infrared Terhadap Perubahan Mikrostruktur, Sifat Fisik Dan Kapasitas Rehidrasi Bahan Pangan Adiandri, Resa Setia; Rahayu, Eka; Rachmat, Ridwan
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 9, No 1 (2013): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengeringan infrared memberikan beberapa keuntungan dibandingkan dengan pengeringan konvesional pada kondisi pengeringan yang sama. Beberapa keuntungan dari pemanfaaatan infrared yaitu laju pengeringannya cukup tinggi, hemat energi, dan distribusi suhu yang seragam sehingga menghasilkan mutu produk yang lebih baik. Dalam perkembangannya, radiasi infrared tidak hanya diapalikasikan secara tunggal tetapi dikombinasikan dengan metode pengeringan lainnya untuk memperbaiki karakteristik mutu produk akhir. Kondisi proses dan intensitas radiasi infrared yang diaplikasikan pada pengeringan bahan pangan berpengaruh terhadap karakterisitik produk akhir. Makalah ini membahas efek pengeringan infrared (tekstur, porositas, warna) dan kapasitas rehidrasi bahan pangan. Dari sejumlah literatur diketahui bahwa radiasi infrared memberikan efek terhadap dan kapasitas rehidrasi. Dengan radiasi infrared, mikrostruktur produk kering menjadi lebih berongga dan poros sehingga porositas dan kapasitas rehidrasinya lebih tinggi dan tekstur yang dihasilkan lebih renyah namun terjadi penyusutan pada produk kering. Laju pengeringan radiasi infrared yang cukup tinggi menyebabkan penguapan berlangsung cepat, kontak suhu panas dengan bahan relatif singkat sehingga degradasi warna pada produk akhir dapat diminimalisasi.
Pelayuan dan Pengeringan Bawang Merah Menggunakan Instore Drying Untuk Mempertahankan Mutu Dan Mengurangi Tingkat Kerusakan Nugraha, Sigit; Adiandri, Resa Setia; Yulianingsih, nFN
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v8n2.2011.72-81

Abstract

Proses pelayuan dan pengeringan umbi bawang merah yang tidak berlangsung dengan baik akan menyebabkan kadar air pada bagian leher umbi bawang merah masih terlalu tinggi, sehingga dapat mengakibatkan rendahnya kualitas dan daya simpan. Penelitian ini bertujuan untuk mempertahankan mutu dan mengurangi tingkat kerusakan bawang merah melalui proses pelayuan dan pengeringan dengan instore drying. Penelitian dilaksanakan di Gapokar (Gabungan kelompok penangkar) desa Tengguli, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Bahan yang digunakan yaitu bawang merah varietas Bima yang telah masak optimum dengan umur 65 hari setelah tanam, hasil panen dari anggota kelompok penangkar benih. Pada penelitian ini proses pelayuan dan pengeringan dilakukan dengan dua cara yaitu dengan instore drying dan cara petani (penjemuran) sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelayuan bawang merah dengan instore drying berlangsung lebih cepat (12 jam) dari pada cara petani (27 jam) dengan nilai susut bobot masing-masing 4,97% dan 4,03%. Pada proses pengeringan dengan instore drying waktu pengeringannya lebih cepat 2 hari dibandingkan pengeringan cara petani dengan tingkat kerusakan lebih rendah (0,83% untuk instore drying dan 3,82% untuk cara petani). Sifat fisik dan kimia bawang merah yang mengalami proses pelayuan dan pengeringan dengan instore drying adalah sebagai berikut: kadar abu 0,70%, VRS 7,60%, kadar air 82,32%, susut bobot 18,59%, dan kekerasan 4, I 0 kg/m-. Curing and Drying Of Onion Using Instore Drying To Maintain The Quality and Decrease Level Of DamageUn properly curing and drying process of onion bulb caused the moisture content in the neck part of onion bulb remain high, it could lower its quality and shorter storage life. The objective of this research was to maintain quality and decrease the damage level of onion by applying curing and drying process using instore drying. Research was conducted in seed producer group at Tengguli village, Tanjung subsdistrict, Brebes district, Central Java. Onion from Bima variety produced by seed producer group were used as raw material. It was harvested at optimum maturity (65 days after planting). Curing and drying process were conducted using two methods: instore drying method and farmer method (sun-drying) as comparison. Research result indicated that curing process in the instore drying was faster (12 hours) than in fanner method (27 hours) with weight loss value of 4.97% and 4.03% respectively. The duration of drying process in the instore drying was two days faster than the farmer method, with lower level of damage (0.83% for instore drying and up to 3.82% for farmer method). The physical and chemical properties of onion which was cured and dried using instore drying were as following: ash content 0.70%, VRS 7.60%. moisture content 82.32%, weight loss 18.59%, hardness 4.10 kg/m-, and level of damage 0.83%.