Sahuri Sahuri, Sahuri
Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet, PT Riset Perkebunan Nusantara Jl. Raya Palembang--Betung Km. 29

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

TEKNOLOGI TUMPANGSARI KARET - TANAMAN PANGAN: KENDALA DAN PELUANG PENGEMBANGAN BERKELANJUTAN / Technology of Rubber-Crop Intercropping: Constraints and Opportunities of Sustainable Development Sahuri, Sahuri
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.768 KB)

Abstract

Rubber farmer income is not stable because the latex price is still fluctuative and tend to be low. The application of rubber-crop intercropping is one the strategies in increasing of land productivity and rubber farmer income. Farmers generally plant rubber with a standard single-row spacing of rubber (SR) 6-7 m x 3 m (475- 550 trees/ha), so the row-spacing area could be planted with crops up to 2 years. Furthermore, rubber canopy closure which cover surface of land could intensively reduce 55% of light intensity and 60% of crop yield. This paper explains about constraints and opportunities of development of rubber-crop intercropping technology to increase rubber farmer income and food production sustainability. One aspect that are concerned about is changing the standard single-row spacing (SR) to double-row spacing (DR). This aspect could be useful to enlarge the rubber spacing area land and thus the crops as intercropping could be properly planted. Crops are easier to get sunlight, temperature, and water if the crops are planted in DR system. However, population of rubber plant is slightly reduced and thus latex yield is also relatively declined comparing with SR system. Nevertheless, the DR system as rubber-crop intercropping has a good opportunity to develop for long term period, because light penetration area of 3-4 m from the row of rubber plant is still more than 80% on 8-9 years old of rubber plant. The development of rubber-crop intercropping technology could protect rubber farmers from fluctuation of rubber price and also enhance additional value. The analysis shows DR with upland rice, corn, and soybean is feasible to be developed with 1.98 of a marginal benefit cost ratio (MBCR).Keywords: Rubber, rubber spacing, intercropping, food-crops AbstrakPendapatan petani karet belum stabil karena harga lateks berfluktuasi dan cenderung rendah. Penerapan tumpangsari karet - tanaman pangan merupakan salah satu strategi dalam meeningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani karet. Petani umumnya menanam karet dengan sistem jarak tanam tunggal (JT) 6 - 7 m x 3 m (476 - 550 pohon/ha) sehingga lahan di antara tanaman karet hanya dapat ditanami tanaman pangan sampai tanaman pokok berumur 2 tahun. Selanjutnya tajuk tanaman karet sudah menutup permukaan lahan sehingga mengurangi intensitas cahaya sekitar 55% dan menurunkan hasil tanaman pangan sampai 60%. Tulisan ini membahas kendala dan peluang pengembangan teknologi tumpangsari karet - tanaman pangan dalam upaya peningkatan pendapatan petani dan produksi pangan secara berkelanjutan. Aspek yang menjadi perhatian dalam hal ini adalah mengubah sistem jarak tanam tunggal (JT) menjadi jarak tanam ganda (JG) agar ruang terbuka di antara tanaman karet lebih lebar untuk ditanami tanaman pangan sebagai tanaman sela. Pada areal di antara tanaman karet sistem JG, tanaman pangan lebih mudah mendapatkan sinar matahari, suhu, dan air, namun populasi tanaman karet sedikit berkurang, sehingga hasil lateks juga relatif berkurang dibanding tanaman karet sistem JT. Meski demikian, areal pertanaman karet sistem JG lebih berpeluang bagi pengembangan tumpangsari karet - tanaman pangan dalam jangka panjang, karena sampai tanaman karet berumur 8-9 tahun, penetrasi cahaya pada areal jarak 3-4 m dari barisan tanaman karet masih lebih dari 80%. Pengembangan teknologi tumpangsari karet - tanaman pangan dapat melindungi petani dari fluktuasi harga karet dan memberikan nilai tambah. Hasil analisis menunjukkan tumpangsari karet sistem JG dengan padi gogo, jagung, dan kedelai layak dikembangkan dengan marginal benefit cost ratio (MBCR) 1,98.Kata kunci: Karet, jarak tanam karet, tumpangsari, tanaman pangan
Cocopeat as Soil Substitute Media for Rubber (Hevea brasiliensis Müll. Arg.) Planting Material Cahyo, Andi Nur; Sahuri, Sahuri; Nugraha, Iman Satra; Ardika, Risal
Journal of Tropical Crop Science Vol 6 No 01 (2019): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Journal of Tropical Crop Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.761 KB)

Abstract

To establish rubber plantations smallholders in South Sumatra, Indonesia, plant materials are planted in polybags fi lled with top soil media from the local area. Good quality media is very important to ensure optimal growth of the rubber planting materials. The availability of top soil has become increasingly limited. In order to fulfi ll the need of planting media, cocopeat, which is available in abundance in the area, can potentially be an alternative to top soil. Cocopeat can potentially be used alone, or in combination with other type of media. In this study, cocopeat was mixed with soil at several mixture ratios to determine the best formula of cocopeat based planting media for rubber planting material. The study was conducted from August 2016 to January 2017 in the Nursery of Sembawa Research Centre Experimental Field, Palembang, South Sumatra, Indonesia. A completely randomized design was employed with six combinations of cocopeat and soil, replicated three times. This study showed that the best mixture ratio is 80% cocopeat and 20% soil, whereas 100% soil or 100% cocopeat is not recommended. The use of cocopeat as planting media should be followed by balanced fertilization in order to provide nutrients that are not available in cocopeat.
POLA TUMPANG SARI KARET-PADI PADA TINGKAT PETANI DI LAHAN PASANG SURUT (Studi Kasus Di Desa Nusantara, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI, Provinsi Sumatera Selatan) Sahuri, Sahuri; Cahyo, Andi Nur; Nugraha, Iman Satra
Warta Perkaretan Vol 35, No 2 (2016): Volume 35, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.17 KB)

Abstract

Usahatani padi sebagai tanaman sela karet berpengaruh terhadap pertumbuhan lilit batang karet, meningkatkan produktivitas lahan, meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan pemeliharaan tanaman karet. Pengkajian dilaksanakan di lahan pasang surut tipe luapan C Air Sugihan, Sumatera Selatan pada bulan Juni dan Oktober 2014. Tujuan pengkajian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan karet pola tumpangsari padi, hasil padi sebagai tanaman sela karet dan pendapatan petani pola tumpangsari karet-padi di daerah pasang surut. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pertumbuhan lilit batang karet klon PB 260 umur 3 tahun pola tumpangsari karet-padi dengan sistem bedengan 16,52% lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan lilit batang karet monokultur tanpa sistem bedengan. Produksi padi sebagai tanaman sela karet adalah 2.800 kg/ha GKG. Usahatani padi sebagai tanaman sela karet pada saat harga rendah masih menguntungkan dengan R/C ratio 1,46, sedangkan pada saat harga tinggi sangat  menguntungkan dengan R/C ratio 1,94. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani padi sebagai tanaman sela karet di daerah pasang surut secara ekonomis menguntungkan dan layak untuk dikembangkan, terutama pada areal karet rakyat. Pola tumpangsari karet-padi di daerah pasang surut sebaiknya dilakukan dengan sistem bedengan yaitu memberikan air irigasi, membuat tinggi muka air tetap agar lapisan di bawah perakaran tanaman karet dan padi dalam kondisi jenuh air sehingga mampu menekan keracunan pirit (FeS2). Selain itu, memperbaiki unsur hara serta menggunakan klon dan varietas yang adaptif untuk meningkatkan produktivitas tanaman karet dan padi.
UJI ADAPTASI SORGUM MANIS SEBAGAI TANAMAN SELA DI ANTARA TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN Sahuri, Sahuri
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 35, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.349 KB)

Abstract

Lahan di antara tanaman karet belum menghasilkan (TBM) memiliki potensi untuk peningkatan produksi sorgum manis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tanaman sela sorgum terhadap pertumbuhan tanaman karet dan mempelajari beberapa parameter agronomi sorgum. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa dari bulan Juni sampai Oktober 2013. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Faktor perlakuan meliputi tiga belas genotipe sorgum yaitu : Patir-1, Patir-2, Patir-3, Patir-4, Patir-5, Patir-6, Patir-7, Patir-8, Patir-9, Patir-10, Patir-11, Patir-12, Patir-13, Pahat, Kawali dan Mandau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sorgum sebagai tanaman sela memiliki efek positif terhadap pertumbuhan tanaman karet. Hasil uji adaptasi sorgum manis menunjukkan bahwa genotipe Patir-5, Patir-9, dan Kawali nyata memiliki diameter batang, berat batang, dan kandungan nira lebih tinggi. Genotipe Patir-5, dan Kawali nyata memiliki berat biji per malai, berat 100 biji, dan hasil biji lebih tinggi.
MODEL PENDUGAAN VOLUME POHON KARET SAAT PEREMAJAAN DI SEMBAWA, SUMATERA SELATAN Sahuri, Sahuri
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1275.556 KB)

Abstract

ABSTRACTEstimation model of rubber (Hevea brasiliensis) tree volume compiled pursuant to one independent variable of stem girth. This study aimed to develop a model of mathematical equations to estimate the volume of rubber trees of clones GT 1, PR 255, PR 261, and the combined clones. The experiment was conducted at the Sembawa Research Station, South Sumatra. Sampling was purposive. The results showed that the volume of rubber tree clones of GT1, PR255, PR261 and mixed clones affected by stem girth at breast height and affected by clone.The model of PR255 clone volume, VPR255=0.5827G1.7182 (R2=95.6%), klon GT1 VGT1=0.5818G1.0352, (R2=97.8%), klon PR261 VPR261=0.5651G0.6471(R2=93.5%) and the mixed clones, V=0.5806G0.5696(R2=98.6%). At replanting time, rubber wood has a potential used for sawn timber, plywood, veneer and MDF raw materials. The biggest utilization of rubber wood is for MDF raw materials, because in MDF processing all parts of the trees can be utilized.Keywords: Clone, hevea brasiliensis, stem girth, and volume estimation  ABSTRAKModel penduga volume pohon karet (Hevea brasiliensis) disusun berdasarkan satu peubah bebas lilit batang. Penelitian ini bertujuan menyusun model persamaan matematis untuk menduga volume pohon karet jenis klon GT 1, PR 255, PR 261, dan klon gabungan. Penelitian dilaksanakan pada areal peremajan karet di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa, Sumatera Selatan. Pengambilan sampel pohon dilakukan secara purposive. Model penduga volume pohon karet klon GT1, PR255, PR261, dan klon gabungan dipengaruhi oleh lilit batang setinggi dada dan dipengaruhi oleh jenis klon. Model penduga volume klon PR255, VPR255=0,5827G1,7182 (R2=95,6%), klon GT1 VGT1=0,5818G1,0352 (R2=97,8%), klon PR261 VPR261=0,5651G0,6471 (R2=93,5%), dan klon gabungan, V=0,5806G0,5696 (R2=98,6%). Pada saat peremajaan, kayu karet memiliki potensi untuk digunakan dalam industri kayu gergajian, kayu lapis, veneer, dan bahan baku MDF. Pemanfaatan kayu karet terbesar adalah untuk bahan baku MDF, karena pada pengolahan MDF semua bagian pohon dapat dimanfaatkan.Kata kunci: Hevea brasiliensis, klon, lilit batang, dan pendugaan volume
ANALISIS USAHATANI DAN OPTIMALISASI PEMANFAATAN GAWANGAN KARET MENGGUNAKAN CABAI RAWIT SEBAGAI TANAMAN SELA Sahuri, Sahuri; Rosyid, M. J.
Warta Perkaretan Vol 34, No 2 (2015): volume 34, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.771 KB)

Abstract

Usahatani cabai rawit (Capsicum frutescens Linn.) sebagai tanaman sela karet muda berpengaruh terhadap keragaan pertumbuhan lilit batang tanaman karet, meningkatkan produktivitas lahan, dan meningkatkan pendapatan petani. Pengkajian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa, Desa Sembawa, Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan dan pada musim hujan (MH) tahun 2013 di lahan kering dataran rendah. Tujuan pengkajian adalah untuk meningkatkan produksi cabai rawit dengan penerapan teknologi tumpang sari cabai rawit + karet, mengetahui pengaruhnya terhadap tanaman karet dan mengetahui peningkatan pendapatan petani. Hasil pengkajian menunjukkan pertumbuhan tanaman karet tidak mengalami kelambatan dan tumbuh lebih dari kondisi normal karena adanya tanaman sela cabai rawit. Produksi buah segar cabai rawit sebagai tanaman sela karet adalah 6.750 kg/ha. Usahatani cabai rawit sebagai tanaman sela karet pada saat harga rendah masih menguntungkan dengan R/C ratio 1,50 dan B/C ratio 0,50, sedangkan pada saat harga tinggi sangat  menguntungkan dengan R/C ratio 4,29 dan B/C ratio 3,29. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pola tanam cabai sebagai tanaman sela karet secara ekonomis menguntungkan dan layak untuk dikembangkan pada areal perkebunan karet baik perkebunan karet besar maupun perkebunan karet rakyat.
Effort to increase rubber farmers’ income when rubber low prices Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Sahuri, Sahuri
Jurnal Perspektif Pembiayaan dan Pembangunan Daerah Vol 6 No 3 (2018): Journal of Perspectives on Financing and Regional Development
Publisher : Program Magister Ilmu Ekonomi Pascasarjana Universitas Jambi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.855 KB)

Abstract

Rubber is a plantation crop that has high economic value and the largest foreign exchange producer 10. Rubber producers in Indonesia consist of the islands of Sumatra and Kalimantan. Indonesia is one of the largest rubber producers after Thailand with the number of people involved in rubber farming reaching 2.2 million households. The recent decline in rubber prices has affected the decline in rubber farmers' income. So a strategy is needed to increase the income of rubber farmers. This paper provides an overview of the strategies that rubber farmers need to increase their income. The strategy that was carried out was an increase in the adoption of superior clones at the farmer level, optimization of rubber plantations by modifying the distance of rubber plants to be wider so that they could be used to plant intercrops during the rubber crop cycle and farmers using rubber marketing through UPPB (row rubber material processing and marketing unit)because it could increase the share price received by farmers so farmers get high prices.
KOMODITI GAMBIR SEBAGAI TANAMAN SELA DIANTARA KARET UNTUK PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI KARET (STUDI KASUS : DESA TOMAN, SUMATERA SELATAN) Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Sahuri, Sahuri
Warta Perkaretan Vol 37, No 2 (2018): Volume 37, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1956.473 KB)

Abstract

Gambir (Uncaria gambir Roxb) adalah salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Komoditas ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan petani karet melalui sistem usahatani terpadu yaitu sebagai tanaman sela karet. Tujuan tersebut sangat membantu karena saat ini harga karet masih rendah dan dapat meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Di Sumatera Selatan gambir hanya dapat menghasilkan getah yang tinggi di desa Toman karena spesifik lokasi sehingga petani di desa Toman melakukan integrasi gambir dengan karet untuk meningkatkan pendapatan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, pendapatan yang diterima dari usahatani gambir lebih besar 11 % dibandingkan pendapatan dari karet. Pendapatan gambir sebesar Rp 2.792.944,- per ha per bulan sedangkan pendapatan usahatani karet sebesar Rp 2.507.500,- per ha per bulan. Rendahnya pendapatan dari karet disebabkan oleh harga karet yang belum stabil ditingkat dunia sehingga berdampak kepada harga ditingkat petani. Oleh karena itu, upaya untuk menjaga pendapatan petani diperlukan tanaman sela gambir dengan modifikasi jarak tanam karet melalui sistem jarak ganda untuk memperpanjang tanaman sela gambir.
Peningkatan Produktivitas Lahan dan Pendapatan Petani Melalui Tanaman Sela Pangan Berbasis Karet Sahuri, Sahuri
Jurnal Lahan Suboptimal : Journal of Suboptimal Lands Vol 6, No 1 (2017): JLSO
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.449 KB)

Abstract

Sahuri et al, 2017. Increasing of Land Productivity and Smallholders Income through Rubber Based Food Crops Intercropping System. JLSO 6(1):33-42.The land between a row of immature rubber period has a potential to produce food crops. The objective of this research was to study the effect of rubber+food crops intercropping system on increasing the land productivity of rubber, the growth of immature rubber trees and smallholders income. The experiment was conducted at the Sembawa Research Station from September 2013 to April 2014. The experiment was carried out as using randomized block design (RBCD). The treatments were four-planting patterni.e: PT1: rubber+upland rice; PT2: rubber+sweet corn; PT3: rubber+soybean; and PT4: rubber monoculture, with three replications.The results showed that food crops as rubber intercrops significantlyeffect on increasing the land productivity of rubber andthe growth of rubber. The added value of planting food crops as rubber intercrops are the efficiency of farming cost and farmer income increase of IDR 4,318,300/planting season/ha with RC ratio 1.38. Farmers have food availability for daily needs during the second year of immature rubber period.
Modification of Rubber (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Spacing for Long-term Intercropping Sahuri, Sahuri; Cahyo, Andi Nur; Ardika, Risal; Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Nurmansyah, Nurmansyah
Journal of Tropical Crop Science Vol 6 No 01 (2019): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Journal of Tropical Crop Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.445 KB)

Abstract

Low prices of rubber has been a serious problem to rubber growers in Indonesia. Rubber-based intercropping systems offers a practical solution to this issue and increasing overall productivity, for example by growing upland rice and maize between the rubber tree rows. This study was aimed to determine the suitable spacing in rubber planting to facilitate long-term rubber-based intercropping systems. A field experiment was established in a smallholder rubber plantation in the Tanah Laut Regency, South Kalimantan with area of 50 ha. Two planting patterns of rubber clone PB260 were tested: (1) single row planting pattern (SR) by 6 m x 3 m, and (2) double row planting pattern (DR) by 18 m x 2 m x 2.5 m. The experiment showed that the girth of the rubber trees with the SR system at the 1st tapping year was slightly larger than that in the DR system, even though statistically it was not signifi cant. The latex yield per tree of SR and DR systems were similar, however, latex yield per hectare of SR system was higher than the DR system due to a higher tree population in the SR system. The DR system was technically suitable for long term intercropping, because when the rubber tree reached 8 to 9-year-old, the light penetration was > 80% at distance of about 4 m from the rubber tree rows. Economically, DR system can increase the added values for rubber farmers because it allows long term intercropping. Rubber-based intercropping with DR system is suitable to be applied, especially by smallholders, with a marginal benefi t cost ratio of around 2.07. Keywords: Hevea, intercropping system, rubber planting pattern, spatial arrangement