Freshty Yulia Arthatiani, Freshty Yulia
Peneliti pada Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Jalan K.S. Tubun Petamburan VI Nomor 19, Jakarta Pusat

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

PERAN PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL (PPNS) PERIKANAN DALAM PROSES PENEGAKAN HUKUM KASUS IUU FISHING DI INDONESIA Arthatiani, Freshty Yulia
Widyariset Vol 17, No 1 (2014): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.149 KB)

Abstract

This study aimed at describing the role of Fisheries Civil Servant Investigators (PPNS) in the law process of Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) fishing in Indonesia. It utilized a descriptive qualitative method to analyse the primary and secondary data, which had been collected through interviews, observations and FGDs from a purposively chosen sample with a juridis normative approach. Definitively, IUU fishing is the act of fishing within the Indonesian, other country’s jurisdiction, or the open waters without permit, not reported, and not regu- lated. The law No. 45 year 2009 concerning the amendment of Law No. 31 Year 2004 on Fisheries stated that there are three sorts of law enforcers who have the rights to conduct investigations on offense in the fisheries sectors: the Civil Servant Investigators, the Navy Investigating Officers and the National Police Investigators. Despite the fact that the Civil Servant Investigators have been playing an active role in the law enforcement, especially for the IUU fishing cases, the function has not yet been very effective due to the lack of inter-institution coordination as well as communication among the law enforcers. Hence, matching perception, investigation mechanism as well as enforcement among the law enforcers are of utmost importance to alleviate the effectiveness of combat against IUU Fishing in Indonesia.
ANALISIS POLA KONSUMSI DAN MODEL PERMINTAAN IKAN MENURUT KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA DI INDONESIA Arthatiani, Freshty Yulia; Kusnadi, Nunung; Harianto, Harianto
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1292.667 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v13i1.6967

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pola konsumsi ikan di Indonesia dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan ikan menurut karakteristik rumah tangga di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data SUSENAS yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik pada bulan Maret 2016. Pola konsumsi ikan dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan model permintaan ikan dianalisis dengan menggunakan pendekatan model Linnear Approximation Almost Ideal Demand System (LA/AIDS). Hasil riset menunjukkan bahwa pola konsumsi rumah tangga di Indonesia dikelompokkan menjadi konsumsi ikan air laut segar sebesar 22.10 kg/kapita/tahun, ikan air tawar/payau segar sebesar 16.75 kg/kapita/tahun, udang segar sebesar 9.58 kg/kapita/tahun dan ikan olahan sebesar 4.22 kg/kapita/tahun. Dugaan model permintaan memberikan hasil cukup baik dengan 82.15% dari semua peubah berpengaruh signifikan terhadap fungsi permintaan kelompok ikan dan koefisien determinasi sebesar 27.06%. Nilai elastisitas pendapatan mengindikasikan bahwa seluruh kelompok ikan merupakan barang normal dan ikan olahan cenderung inelastis, sedangkan dari nilai elastisitas harga menunjukkan tanda negatif yang sesuai dengan teori ekonomi. Nilai elastisitas silang antar kelompok ikan menunjukkan hubungan yang bervariasi antar kelompok. Implikasi kebijakan yang dapat disarankan untuk meningkatkan konsumsi ikan segar adalah dengan peningkatan ketersediaan ikan melalui kebijakan peningkatan produksi dan peningkatan efektifitas distribusi ikan. Kebijakan promosi dan edukasi masih diperlukan untuk meningkatkan konsumsi ikan olahan karena sifatnya yang inelastis  terhadap perubahan harga dan pendapatan.Title: Analysis of Fish Consumption Patterns and Fish Demand Model Based on Household’s Characteristics in IndonesiaABSTRACTThis study aims to describe the pattern of fish consumption in Indonesia and to identify factors affecting household’s fish demand in Indonesia as well as estimating the elasticities of income and price. The data analyzed were mainly obtained from the SUSENAS Database-a nation social economy survey  conduct by the Indonesian Bureau of Statistic (BPS- during march 2016. Fish consumption patterns were analyzed using descriptive statistical analysis, while fish demand models were analyzed by Linnear Approximation Almost Ideal Demand System (LA/AIDS). Research shows that household consumption patterns in Indonesia are grouped into consumption of marine fish at 22.10 kg / capita / year, freshwater/brackish fish at 16.75 kg / capita / year, fresh shrimp at 9.58 kg / capita / year and processed fish amounted to 4.22 kg / capita / year. The estimation of the demand model gives quite good results with82,15% of all variables have a significant effect on the demand function of fish groups and the coefficient of determination is 27.06%. The value of income elasticity showed that all fish groups are normal goods and were negatively related to prices. The cross elasticities showed variation relationship between fish groups. With such result, in order for the government to be able to push the fish consumption level furtherwould require an increasing fish availbility through policies to increase production and effectiveness of fish distribution for fresh fish. Meanwhile education and promotion policies are necessary to increase consumption of processed fish because of their inelastic demand for changes in prices and income.
KINERJA EKSPOR TUNA INDONESIA : SUATU PENDEKATAN ANALISIS BAYESIAN Yusuf, Risna; Arthatiani, Freshty Yulia; Maharani, Hertria
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.463 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i1.5746

Abstract

Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui strategi penetrasi pasar tuna di pasar tujuan ekspor utama Indonesia. Penelitian berlangsung pada bulan March – Juli 2014 dengan metode pengumpulan data berupa studi literatur, survey dan wawancara ke informan kunci. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan bayesian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar tuna Indonesia dominan ke pasar Jepang sebesar 54%, diikuti pasar USA 24% dan pasar UE 23%. Selanjutnya komoditas dominan yang diperdagangkan adalah Tuna Kaleng dengan probabilitas sebesar 54%, yang diikuti Tuna Segar sebesar 26% dan Tuna beku sebesar 24%. Untuk daerah ekspor, lokasi ekspor dengan probabilitas tertinggi berasal dari Jakarta yaitu sebesar 49%, diikuti Surabaya sebesar 36% dan Bitung sebesar 15%. Sedangkan lokasi ekspor tersebut mendapat pasokan dari berbagai daerah. Ketiga lokasi ekspor berasal dari enam daerah dengan probabilitas Jakarta (14%), Sukabumi (21%), Jawa Timur (4%), Bitung (19%), Maluku (14%) dan Bali (26%). Pada level ini armada penangkapan yang dominan digunakan untuk ekspor tuna terdiri dari armada motor tempel (22%), dengan menggunakan jenis alat tangkap tuna handline (31% ) sebagai alat tangkap yang dominan. Oleh karena itu, untuk menjaga dan mempertahankan konsistensi kinerja tuna Indonesia, diperlukan suatu strategi pemasaran yang tepat yaitu strategi penetrasi pasar dimana pada strategi ini diperlukan berbagai  upaya yang tepat agar market share perikanan tuna Indonesia terus meningkat. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melakukan aspek penelusuran bahan baku tuna dengan memperhatikan daerah baik daerah yang mengekspor maupun daerah asal ikan tersebut ditangkap dan jumlah armada serta alat tangkap yang digunakan dalam proses penangkapan tuna Indonesia disamping upaya-upaya lain dari sisi hulu sampai hilir. Title: Performance of export tuna indonesia: A bayesian analysis approachThe purpose of this study was to determine the opportunity of Indonesian tuna in the main export markets. The study held in March -July 2014, with data collection methods such as desk study, surveys and interviews with key informants. Data collected consist primary and secondary data. Secondary data obtained from various government agencies and local institutions that related to the field fisheries are statistical data commodity export volume tuna, the policy related to tuna commodities data. Data analysis done by using bayesian approach. Results of the study showed that dominant Indonesia tuna market are Japan (54 %), followed by the USA (24 %) and the EU (23 %). The major trading are Tuna Cans with probability of 54 %, which followed Fresh Tuna 26% and Tuna canning 24 %. For the region exports, location exports with highest probability came from Jakarta that is equal to 49 %,  followed by Surabaya 36% and Bitung  15 %. This location export was getting supply from various areas. The three location exports came from six districts with probability from Jakarta (14 %), Sukabumi (21 %), East Java (4 %), Bitung (19 %), Maluku (14 %) and Bali (26 %).  In this level, a dominant fishing vehicle used for the export tuna consists of fleet outboard motors (22%), using fishing equipment type of tuna handline (31% ) as fishing equipment dominant. Therefore, to maintain the consistency of Indonesia's tuna performance, an appropriate marketing strategy is needed, which is a market penetration strategy in which this strategy is required to make appropriate efforts to increase the market share of Indonesia’s tuna. One of the efforts is by doing traceability  aspect of tuna raw material by paying attention to the area of both exporting area and the origin of area, the number of vehicle  and fishing gear used in order to catch tuna. 
DAMPAK KEBIJAKAN MORATORIUM KAPAL EKS ASING TERHADAP KONDISI PERIKANAN TUNA: STUDI KASUS DI DKI JAKARTA Arthatiani, Freshty Yulia; Apriliani, Tenny
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 5, No. 2, Tahun 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.993 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i2.1017

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi dan mendeskripsikan dampakkebijakan moratorium kapal eks asing yang tercantum dalam Permen KP Nomor 56 Tahun 2014 tentangPenghentian Sementara (Moratorium) Perizinan Usaha Perikanan Tangkap Di Wilayah PengelolaanPerikanan Negara Republik Indonesia terhadap kondisi perikanan tuna terutama di wilayah DKIJakarta sebagai salah satu daerah ekspor tuna. Penelitian dilakukan dengan pendekatan retrospektifdimana analisis kebijakan dilakukan terhadap akibat-akibat kebijakan setelah suatu kebijakandiimplementasikan dan biasanya disebut sebagai model analisis evaluatif sehingga diharapkan dapatmenghasilkan informasi yang dapat meningkatkan kualitas dari kebijakan yang diterapkan pemerintah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa DKI Jakarta sebagai salah satu daerah ekspor utama tunaIndonesia dengan komoditas dominanya adalah tuna beku tidak mengalami dampak secara langsungterhadap pemberlakuan kebijakan moratorium kapal eks asing. Data yang diperoleh menunjukkan bahwauntuk periode bulan Oktober-Maret sebelum dilaksanakanya moratorium kapal eks asing dibandingkandengan periode yang sama sesudah dilaksanakanya moratorium kapal eks asing menunjukkan adanyapenurunan volume produksi sebesar 5%. Namun hal ini lebih disebabkan karena dampak kebijakanmoratorium kapal transshipment. Hal ini sangat jelas terlihat pada terjadinya perubahan (shifting) produktuna yang dihasilkan setelah adanya kebijakan dimana ekspor tuna segar mengalami penurunan sebesar24%, disisi lain ekspor tuna beku justru mengalami kenaikan sebesar 8%. Rekomendasi yang dihasilkandari analisis ini adalah perlu untuk disiapkan armada penangkapan ikan dari lokal dan penguatanSDM, kemudian perlu adanya evaluasi terhadap pelarangan kapal eks asing, verifikasi secara benardan pengawasan melekat terhadap kepemilikan kapal sangat penting untuk dilakukan, serta perlunyapemberlakuan pelaporan SHTI bagi semua pelaku usaha penangkapan ikan untuk menjamin asalusulkapal tidak hanya terbatas bagi pelaku usaha dengan tujuan ekspor uni eropa. Selain itu jugaperlu adanya peningkatan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan moratorium kapal eks asingsehingga tepat sasaran.Title: Impact of Policy Moratorium For The Licensing of Ex-Foreign FishingVessels on Tuna Fishing: Case Study on DKI JakartaThe aim of this study is to provide information and describe the impact of the policy moratoriumfor the licensing of ex-foreign fishing vessels contained in Regulation of the Minister of Marine Affairsand Fisheries No. 56 Year 2014 about Business Licensing moratorium Fishing in Regional FisheriesManagement of the Republic of Indonesia on the condition of tuna fisheries, especially in the areaof Jakarta as one of the tuna exports. The study was conducted by a retrospective approach, policyanalysis carried out on the consequences of the policy after a policy is implemented and is usuallyreferred to as an evaluative analysis model that is expected to yield information that can improve thequality of the policies implemented by the government. The results showed that Jakarta as one of themain export of tuna Indonesia with main commodities are frozen tuna does not affect direct impact onthe implementation of the moratorium policy. The data obtained show that for the period from October toMarch months before the implementation of the moratorium on ex-foreign fishing vessels compared tothe same period after the implementation of the moratorium showed a decrease in production volume by 5%. However this is mainly due to the impact of the moratorium ship transshipment. It can be explainedby the change (shifting) tuna products produced after the policy whereby fresh tuna exports decreasedby 24%, on the other hand frozen tuna exports actually increased by 8%. The recommendations fromthis analysis is the need to increase the readiness of the local fishing vessels and human resourcescapacity building, and the need for an evaluation of the banning of ex-foreign fishing vessels, verifyproper and oversight attached to the ownership of the vessel is very important to do, as well as theneed for enforcement of reporting SHTI for all fishing businesses to guarantee the origin of the ship isnot limited to businesses with the aim of European Union exports. There was also a need to increasesupervision of the implementation of the moratorium on ex-foreign fishing vessels right on target inaccordance with policy objectives.
PELUANG OPTIMALISASI PENGEMBANGAN BUDIDAYA KEPITING SOKA DI WILAYAH KIMBIS CAKRADONYA KOTA BANDA ACEH Opportunities to Optimize Soft Shell Crab Cultivation on KIMBis Cakradonya Area in Banda Aceh Arthatiani, Freshty Yulia; Luhur, Estu Sri; Zulham, Armen; Haryadi, Joni
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 4 No. 2, Tahun 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.922 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i2.601

Abstract

Kota Banda Aceh merupakan ibukota Provinsi Aceh yang berada di pulau Sumatera yangsangat potensial untuk pengembangan budidaya kepiting, namun masih menghadapi berbagai kendaladalam optimalisasi potensi yang dimiliki. Klinik IPTEK Mina Bisnis (KIMBis) Cakradonya di Kota BandaAceh merupakan sebuah kelembagaan yang dibentuk pada tahun 2011 dengan tujuan peningkatankesejahteraan masyarakat terutama di sektor kelautan dan perikanan. Tulisan ini bertujuan untuk dapatmendeskripsikan peranan KIMBis dalam mengoptimalisasi peluang pengembangan budidaya kepitingcangkang lunak yang biasa disebut kepiting soka. Penelitian dilaksanakan di Kota Banda Aceh yangmerupakan wilayah Kerja KIMBis Cakradonya dengan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatifuntuk menjelaskan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh KIMBis dalam mengoptimalkan peluangpengembangan usaha kepiting soka. Hasil penelitian menunjukkan KIMBis Cakradonya berperan dalammensosialisasikan peluang usaha kepiting soka terutama kepada stakeholders sehingga diharapkandapat memberikan dukungan kebijakan bagi pengembangan usaha ini, selain itu KIMBis juga berperandalam memperkenalkan penggunaan teknologi budidaya kepiting soka dan pengolahan limbah hasilbudidaya kepiting yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas usaha. Namun optimalisasipeluang pengembangan kepiting soka mengalami berbagai kendala dari sisi teknologi, sumberdayamanusia modal dan juga input produksi. Oleh karena itu kedepannya diharapkan dapat dilaksanakanupaya tindak lanjut untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi baik itu dari sisi pengadaan benihkepiting, maupun aplikasi penerapan teknologi yang efisien serta peningkatan kemampuan pembudidayakepiting soka dalam mengakses permodalan sehingga usaha ini dapat berkembang secara optimal bagipeningkatan kesejahteraan masyarakat.Title: Opportunities to Optimize Soft Shell Crab Cultivation onKIMBis Cakradonya Area in Banda AcehBanda Aceh is the capital of Aceh Province that has great potential in crab cultivation. KlinikIPTEK Mina Bisnis (KIMBis) Cakradonya in Banda Aceh is an institution established in 2011 with the aimof improving the welfare of the community, especially in the marine and fisheries sector. This paper aimsto describe the role of KIMBis to optimize the chances of developing soft shell crab farming on BandaAceh. This research was conducted in Banda Aceh with qualitative descriptive data analysis methods.The results showed that KIMBis Cakradonya has role in disseminating of soft-shelled crabs businessopportunities especially to the stakeholders that are expected to provide policy support. KIMBis alsohad a role in the activities of introducing the use of soft-shelled crab cultivation technology and wastetreatment of cultured crabs to increase business productivity. However, the development of soft-shelledcrabs are still constrained in terms of technology, human resources and capital inputs. Therefore, in thefuture is expected to be implemented in various ways to overcome the problems in the soft shell crabcultivation such as crab seed procurement, as well as the application of efficient application of technologyand the increased capacity in the soft-shelled crab farmers to access capital so that businesses candevelop optimally for improvement public welfare.
ANALISIS DAMPAK MORATORIUM KAPAL EX-ASING TERHADAP KONDISI PASAR TUNA INDONESIA Saptanto, Subhechanis; Yusuf, Risna; Apriliani, Tenny; Arthatiani, Freshty Yulia
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 5, No. 2, Tahun 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.941 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i2.1028

Abstract

Peraturan Menteri No. 56 yang dikeluarkan pada bulan Nopember 2014 tentang moratoriumkapal eks asing diduga memberikan dampak terhadap sektor perikanan termasuk komoditas tuna.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak moratorium kapal ex-asing terhadap kondisi pasartuna Indonesia. Waktu penelitian dilakukan dari bulan April hingga bulan Mei 2015 dengan mengambillokasi di Jakarta dan Bali. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dansekunder. Data primer berasal dari wawancara dengan pelaku usaha eksportir tuna dan data sekunderbersumber dari data produksi, pola pemasaran, dan ekspor perikanan. Sumber data berasal dariPelabuhan, Dinas KP di lokasi penelitian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Data-datayang digunakan dalam penelitian diperoleh melalui penelusuran pustaka (desk study) yang relevandengan kegiatan penelitian dan survey lapang. Data-data yang telah dikumpulkan kemudian ditabulasidan dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Selanjutnya hasil analisisakan diinterpretasikan untuk menghasilkan informasi yang dapat menjawab tujuan dari penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya Permen No. 56 ini memberikan pengaruh pada triwulanpertama (bulan januari sampai Maret), volume ekspor ikan tuna segar mengalami penurunan untuktuna segar mengalami penurunan sebesar 13% sedangkan nilainya mengalami kenaikan sebesar 1%.Hal ini mengindikasikan Penurunan volume produksi yang dapat berdampak pada penurunan volumeekspor hendaknya harus diimbangi dengan adanya peningkatan harga ekspor sehingga nilai eksportidak mengalami penurunan. Jika terjadi penurunan maka dapat berdampak pada penerimaan devisanegara yang secara makro dapat menyebabkan penurunan kontribusi PDB dari sektor perikanan.Title: Impact Analysis of Ex - Foreign Ships Moratorium onMarket Condition of Indonesia TunaDecree of Minister of Marine and Fisheries No. 56 was issued on November 2014 about amoratorium on ex-foreign ship assumed giving an impact on fishing sector including tuna. This studywas aimed to analyze the impact of ex-foreign ships moratorium on Indonesian tuna market conditions.The research was conducted from April to May 2015. The location of research was in Jakarta and Bali.Data used in this study are primary and secondary data. Primary data was based on interviewing toentrepreneurs and exporters of tuna and secondary data was based on data of tuna consist of production,marketing patterns, and fisheries exports. Source of data were obtained by Port, agency of marine affairsand fisheries, Ministry of Marine Affairs and Fisheries (MMAF). The approach of the research was notonly by desk study to explore data that relevan of the research but also it by survey. The data have beencollected, tabulated and analyzed descriptively and presented on tables and figures. Furthermore, theanalysis results are interpreted to generate information that can answer the purpose of research. Theresults showed that the Decree of Minister of Marine and Fisheries No. 56 have given impact on the firstquarter (in January to March). In generally fresh tuna export volume was decreased by 13% but its valuewas increased by 1%. This result indicated that decreasing of production volume will have an impactto the decreasing of export volume. Therefore, we must concern about the price of export tuna so thatvalue of export tuna has not decreased and it will give an impact to the decreasing of foreign exchangeand also it will make decreasing in GDP contribution of the fisheries sector.
Diseminasi dan Adopsi Inovasi Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan (Studi Kasus: Kegiatan Iptekmas BBRP2BKP di Yogyakarta) Yuliaty, Christina; Arthatiani, Freshty Yulia; Nasution, Zahri
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 6, No. 1, Tahun 2011
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1199.558 KB) | DOI: 10.15578/marina.v6i1.5807

Abstract

Diseminasi inovasi Teknologi pengolahan hasil perikanan merupakan salah satu kegiatan yang tertuang dalam bentuk Iptekmas di lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kelautan dan Perikanan. Makalah ini bertujuan memaparkan hasil evaluasi diseminasidan adopsi inovasi teknologi pengolahan tersebut di wilayah Yogayakarta. Kegiatan Iptekmas ini dilakukan oleh Balai Besar Riset pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBRP2BKP) pada tahun 2009 dan dievaluasi hasilnya pada tahun 2010. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif terkait dengan kriteria tepat guna bagi suatu inovasi teknologi. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan pengolah hasil perikanan yang menerima inovasi teknologi. Teknik analisis data yang digunakan deskripsi kualitatif. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa inovasi teknologi pengolahan hasil perikanan yang didiseminasikan pada tahun 2009 telah diadopsi oleh penerima teknologi sesuai dengan kebutuhannya. Teknologi tersebut berupa inovasi peralatan dan metode pengolahan. Inovasi teknologi yang diadopsi dapat secara mudah diadopsi dan secara ekonomi telah menguntungkan serta meningkatkan pendapatan penerima teknologi. Di sisi lain diperlukan adanya difusi inovasi teknologi serupa kepada pengolah lainnya sehingga mereka mendapatkan manfaat yang sama.
Assesment Blue Economy: Implementasi Integrated Multi-Tropic Aquaculture (IMTA) pada Kawasan KIMBis Cakradonya di Banda Aceh Zulham, Armen; Luhur, Estu Sri; Haryardi, Joni; Arthatiani, Freshty Yulia
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 8, No. 2, Tahun 2013
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1498.504 KB) | DOI: 10.15578/marina.v8i2.3021

Abstract

Salah satu prinsip dari ekonomi biru (blue economy) adalah memanfaatkan limbah berbagai usaha kelautan dan perikanan pada masyarakat menuju zero waste. Tiga prinsip lain yang mendukung pencapaian zero waste adalah teknologi yang digunakan harus inovatif dan adaptif, usaha tersebut harus memiliki inklusi sosial dan mampu mendorong multiplier effect yang luas dalam perekonomian. Dengan empat prinsip tersebut pada tahun 2013, KIMBis Cakradonya di Banda Aceh melakukan implementasi ekonomi biru dengan menggunakan teknologi Integrated Multitropic Aquaculture (IMTA). Teknologi ini mengutamakan budidaya kepiting soka sebagai komoditas target, diintegrasikan dengan komoditas bandeng dan rumput laut sebagai komoditas non-target. Tulisan ini bertujuan untuk memberi gambaran hasil pelaksanaan implementasi prinsip ekonomi biru dengan menggunakan teknologi IMTA. Hasil implementasi menunjukkan bahwa kondisi perairan kawasan implementasi IMTA sangat baik untuk dikembangkan budidaya kepiting soka, rumput laut dan bandeng secara terpadu. Sementara itu, data pertambahan berat kepiting soka selama 45 hari adalah: 11 gram per ekor dengan tingkat kematian 10%. Pertambahan berat rumput laut menunjukkan hasil yang sangat baik karena mengalami pertambahan 100% dibandingkan dengan berat awal penanaman. Namun, ikan bandeng tidak mengalami pertumbuhan yang cukup baik bila dibandingkan dengan pertumbuhan nener bandeng dibesarkan di kolam pada umumnya. Penerapan prinsip Blue Economy pada budidaya kepiting soka berpotensi menghasilkan limbah cangkang kepiting sekitar 1 kuintal per hektar per hari, sehingga jika usaha ini berkembang sekitar 100 hektar akan terdapat potensi limbah yang dapat dimanfaatkan sebanyak 100 kuintal per hari (10 ton). Implementasi Blue Economy ini sangat bergantung pada tingkat partisipasi para pemangku kepentingan di luar satker litbang. Oleh sebab itu, hasil kegiatan ini mengusulkan perlu dilakukan sosialisasi lanjutan kepada SKPD dan masyarakat, termasuk enterpreneur agar level partisipasi mereka dalam kegiatan KIMBis berada pada level involvement. Dengan level partisipasi tersebut maka implementasi blue economy dapat memenuhi prinsip-prinsip minimize waste, inklusi sosial, teknologi inovatif dan adaptif serta memiliki multiplier effect yang luas.