Articles

Habitat Ikan Pelangi Arfak (Melanotaenia arfakensis ALLEN) Berdasarkan Tahap Perkembangan di Sungai Nimbai dan Sungai Aimasi, Manokwari Manangkalangi, Emmanuel; Rahardjo, M. F.; Sjafei, Djadja S.
Jurnal Natural Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.30862/jn.v8i1.332

Abstract

The habitat ontogeny of arfak rainbowfish (Melanotaenia arfakensis) in Nimbai and Aimasi streams, Prafi river system were studied from June to December 2007.  Sampling was carried out monthly in four different habitat types using hand net. Slow littoral and medium littoral are two habitat types which characterized by slowly water velocity, availability of submerged vegetation and warmer temperature, however the run and pool areas have higher water velocity and dissolve oxygen. The former habitats are essential for all developed stages, i.e. feeding, spawning and nursing of this species. On the other hand, the later habitat types particularly were only for young and adult fish, due to their swimming abilities as well as maximize of oxygen uptake. In order to maintain the population of this species, conservation is needed to all of their natural habitats for continuing their life cycles.
KOMUNITAS IKAN DI PERAIRAN SUNGAI SERAYU YANG TERFRAGMENTASI WADUK DI WILAYAH KABUPATEN BANJARNEGARA Haryono, Haryono; Rahardjo, M. F.; ., Mulyadi; Affandi, Ridwan
ZOO INDONESIA Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12589.962 KB)

Abstract

Serayu termasuk sungai besar yang alirannya melewati lima Kabupaten di Jawa Tengah dan terfragmentasi oleh waduk di wilayah Banjarnegara. Informasi mengenai biodiversitas ikan di sungai ini masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap keanekaragaman jenis ikan, potensi, status jenis, dan upaya konservasinya. Penelitian menggunakan metode survei yang dilakukan di tiga zona (di bawah waduk, kawasan waduk, dan di atas waduk). Hasil penelitian ditemukan 22 spesies yang tergolong ke dalam 13 famili, sebagian besar merupakan ikan konsumsi (54,55%), status jenisnya sebagian besar bersifat umum atau mudah ditemukan (81,82%) dan introduksi (18,18%). Ancaman terhadap kelestarian sumber daya ikan di wilayah ini beragam dan diperlukan upaya konservasinya.
POLA PERTUMBUHAN DAN FAKTOR KONDISI IKAN LUMO Labiobarbus ocellatus (Heckel, 1843) DI SUNGAI TULANG BAWANG, LAMPUNG Yudha, Indra G; Rahardjo, M. F.; Djokosetiyanto, D; Lumban Batu, Djamar T.F.
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.45 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan dan faktor kondisi relatif (Kn) ikan Labiobarbus ocellatus di Sungai Tulang Bawang, Lampung. Ikan contoh dikumpulkan setiap bulan menggunakan jaring insang dari April 2013 hingga Maret 2014. Spesimen terdiri dari 690 ikan jantan dan 651 ikan betina. Ikan lumo jantan dan betina memiliki pertumbuhan allometrik positif. Persamaan hubungan panjang bobot ikan lumo jantan adalah log W=-5,652+3,284 log L, sedangkan ikan lumo betina memiliki persamaan log W=-5,607+3,272 log L. Persamaan pertumbuhan von Bertalanffy untuk ikan lumo jantan adalah Lt=265,65*[1-e-0,14(t+0,67)] dan pada ikan lumo betina Lt=255,15*[1-e-0,23(t+0,405)]. Nilai ratarata Kn ikan lumo adalah 1,02±0,03 (jantan) dan 1,02±0,04 (betina) yang mengindikasikan bahwa ikan-ikan tersebut dalam kondisi yang baik.
MUSIM PEMIJAHAN DAN FEKUNDITAS IKAN SELAIS (Ompok hypophthalmus) DI RAWA BANJIRAN SUNGAI KAMPAR KIRI, RIAU Simanjuntak, Charles P.H.; Rahardjo, M. F.; Sukimin, Sutrisno
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.8901

Abstract

The aim of this research was to know the reproductive biology of Ompok hypophthalmus included gonadal development stages and spawning season.The study was conducted from June to December 2006 in floodplain of Kampar Kiri River. Samplings were carried out monthly with purposive sampling method. Fish samples were cathed by gillnet, trapnet, hand line and long line. A total of 474 individuals were captured ranged 80-310 mm in total length and 2-143 g in weight. The female and male reached sexual maturity at 115 mm and 214 mm in total length respectively. The spawning season for this species ranges from June to December where a peak season found in October which examined based on variations in gonado somatic index (GSI) and the existence of mature male and females. The fecundity varied from 688-15180 eggs. The correlation coefficient between fecundity with total length and fecundity with weight were very weak. It lead to suggested that the coefficient cannot be used to predict O. hypophthalmus fecundity.
ASPEK REPRODUKSI IKAN OSKAR (Amphilophus citrinellus Günther, 1864) DI WADUK IR H. DJUANDA, JAWA BARAT Tampubolon, Prawira A.R.P.; Rahardjo, M. F.; Krismono, Krismono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.974 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.2.2015.67-75

Abstract

Ikan oskar (Amphilophus citrinellus) merupakan ikan asing di Waduk Ir. H. Djuanda yang saat ini merupakan ikan yang paling banyak tertangkap di waduk tersebut. Penelitian ini dilakukan pada Oktober 2011–Januari 2012 di Waduk Ir. H. Djuanda, Jawa Barat, dengan tujuan untuk mengetahui beberapa aspek yang berkaitan dengan pemijahan ikan oskar. Contoh ikan ditangkap menggunakan jaring insang. TKG diamati secara visual dan fekunditas dihitung menggunakan metode gravimetrik. Total ikan contoh yang tertangkap selama penelitian berjumlah 460 ekor yang berasal dari enam stasiun pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan panjang total dan bobot tubuh ikan berkisar antara 62–210 mm dan 4,81–187,18 gram. Rasio kelamin ikan seimbang. Ukuran ikan jantan dan betina terkecil yang ditemukan matang gonad adalah 125 mm dan 121 mm. Ikan yang matang gonad paling banyak ditemukan pada bulan Desember untuk ikan betina dan Januari untuk ikan jantan. Fekunditas total berkisar antara 729–3.299 butir. Ikan oskar merupakan ikan pemijah bertahap.
Diet of scalloped perchlet, Ambassis nalua (Hamilton, 1822) in Pabean Bay, West Java Santi, Eda Putri; Rahardjo, M. F.; Sulistiono, .
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 17, No 1 (2017): February 2017
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1609.319 KB) | DOI: 10.32491/jii.v17i1.303

Abstract

The objective of the present study was to describes the diet of scalloped perchlet (Ambassis nalua) based on the time and fish length. This study was conducted from July to December 2015 in Pabean Bay, Indramayu. The fish were collected monthly in three zones i.e. at the mouth of river, midle and out of estuarine. Fish samples were collected using trammelnet and trapnet. The index of preponderance was used to analysis the diet composition of the fish. The stomach content of a total of 407 fish samples of 283 females, 118 males, and 6 juveniles were analyzed. The analysis showed the scalloped perchlet fed on crustaceans, juvenile of fish, isopod, and amphipod, indicate a carnivorous feeding habit. The crustaceans was the main for item of scalloped perchlet AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis makanan ikan seriding (Ambassis nalua) menurut waktu dan ukuran panjang ikan. Penelitian dilaksanakan di perairan Teluk Pabean, Indramayu dari bulan Juli hingga Desember 2015. Penangkapan ikan dilakukan pada tiga zona, yaitu bagian dalam yang berupa muara sungai, bagian tengah, dan bagian luar estuari dengan interval satu bulan. Alat tangkap yang digunakan adalah sero dan jaring. Analisis makanan menggunakan Indeks Bagian Terbesar. Jumlah ikan seriding yang diamati saluran pencernaannya adalah 407 ekor dengan komposisi betina 283 ekor, jantan 118 ekor, dan yuwana 6 ekor. Ikan seriding merupakan ikan karnivora dengan menu makanan terdiri atas empat kelompok organisme yaitu krustase, yuwana ikan, amfipoda, dan isopoda. Ikan seriding menunjukkan menu makanan utama yang sama yaitu krustase baik berdasarkan waktu maupun ukuran ikan.
Dimorfisme seksual dan mikroanatomi ovarium ikan endemik rono (Adrianichthys oophorus, Kottelat 1990) di Danau Poso Sulawesi Tengah [Sexual dimorphism and ovarian microanatomy of the endemic eggcarrying buntingi Adrianichthys oophorus, Kottelat 1990 in Lake Poso, Central Sulawesi] Gundo, Meria Tirsa; Rahardjo, M. F.; Hadie, Wartono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.447 KB) | DOI: 10.32491/jii.v13i1.111

Abstract

The endemic fish, egg-carrying buntingi (Adrianichthys oophorus) is a small fish that consumed by local people around Lake Poso, Central Sulawesi. Local people catch this species with non-environment friendly activities and probably this species would be threatened. Scientific information is required to determine the appropriate management strategies, for example fish reproductive biology; while the information about reproductive biology of egg-carrying buntingi is still unkown. The study was conducted in four months (October 2011- February 2012) at Bio-Macro Laboratory, Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Science and Histopathology Laboratory, Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University. All egg-carrying buntingi were collected from the fishermen at Lake Poso and preserved in 5% formalin. Microanatomy of ovarian made by HE staining method and observed by using light microscope. The result showed that egg-carrying buntingi has sexual dimorphism (t-test, a = 0.05), where female one has a longer pelvic fins size than male. Pelvic fin in female has a function to incubate the eggs. This fish has a single ovary with oval-shaped pouch. The Largest ovarian size has about 5 mm length and 3 mm width, which the position is extending under the stomach. Based on macroscopic analysis, the developmental level of egg-carrying buntingi ovarian are divided into four phases i.e. I (initial development phase), II (development phase), III (maturation phase), and IV (spent phase). AbstrakIkan endemik rono (Adrianichthys oophorus) merupakan ikan berukuran kecil yang dikonsumsi masyarakat di sekitar Danau Poso. Penangkapan ikan ini tidak ramah lingkungan sehingga ketersediaannya di alam menjadi terancam. Diperlukan berbagai informasi ilmiah untuk menetapkan strategi pengelolaan yang tepat, di antaranya informasi biologi reproduksi ikan ini. Hingga saat ini informasi tersebut masih sangat kurang. Untuk mengisi kekurangan informasi tersebut maka penelitian ini dilakukan. Penelitian dilakukan selama empat bulan (Oktober 2011-Februari 2012) di Laboratorium Biomakro Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan FPIK dan Laboratorium Histopatologi FKH IPB. Ikan rono diambil dari hasil tangkapan nelayan di Danau Poso, diawetkan dalam larutan formalin 5%. Preparat mikroana-tomi ovarium dibuat dengan metode pewarnaan HE, selanjutnya pengamatan dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya. Ikan rono memiliki dimorfisme seksual yaitu ikan betina memiliki ukuran sirip perut yang lebih panjang daripada ikan jantan. Sirip dada ikan rono betina lebih panjang yang berfungsi sebagai tempat untuk mengerami sekumpulan telurnya sampai menetas. Ikan ini memiliki ovarium tunggal berbentuk kantung oval. Ukuran ovarium terbesar memiliki panjang sekitar 5 mm dan lebar 3 mm dengan posisi lateral di bawah rongga perut. Ovarium ikan rono memiliki oosit dengan semua fase perkembangan, digolongkan ke dalam tipe ovarium yang perkembangan oosit-nya tidak bersamaan. Berdasarkan analisis makroskopis ovarium ikan rono, tingkatan perkembangan ovarium dibagi dalam empat fase yaitu: I (fase perkembangan awal), II (fase perkembangan), III (fase pematangan), dan IV (fase salin). 
ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI DAN PERTUMBUHANIKAN LEMURU (Sardinella longiceps C.V.) DI PERAIRAN TELUK SIBOLGA [ Reproductive Biology and Growth of Sardine {Sardinella longiceps C.V.) in Sibolga Bay] Tampubolon, Riama Verawaty; Sukimin, Sutrisno; Rahardjo, M. F.
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2002): Juni 2002
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v2i1.207

Abstract

The aim of this study is to explaine biology aspect of sardine (Sardinella longiceps) that is reproductive biology (sex ratio, gonad maturity, fecundity and spawning season) and growth (growth parameter, length-weight relationship and condition factor). The study was conducted in Sibolga bay during one mounth (August-September 1999). Sex ratio of sardine is balanced. The fish in condition immature most few than mature fish. Fecundity is between 28.973 - 93.573 eggs, with spawning season in July-August. Growth model L =317,6 {1 - e" "-21 <l "'419,J with growth pattern is isometric. Condition factor of male and female fish is between 0,57 - 1,40 dan’ 0,53 - 1,46.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan aspek biologi ikan lemuru (Sardinella longiceps) yang meliputi biologi reproduksi (rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, fekunditas dan musim pemijahan) dan aspek pertumbuhan (parameter pertumbuhan, hubungan panjang-berat dan faktor kondisi). Penelitian ini ikan lemuru dilakukan selama satu bulan (Agustus-September 1999) di perairan teluk Sibloga. Rasio kelamin ikan lemuru seimbang. Ikan yang belum matang gonad terdapat lebih sedikit di perairan dibandingkan dengan ikan yang telah matang gonad. Fekunditas ikan lemuru berkisar antara 28.973 -93.573 butir, dengan musim pemijahan diduga pada bulan Juli-Agustus. Model persamaan pertumbuhan L =317,6 {1 - e" "-21 <l "'419,J dengan pola pertumbuhan isometrik. Nilai faktor kondisi ikan j an tan dan betina berkisar antara 0,57-1,40 dan 0,53-1,46.
KEBIASAAN MAKANAN IKAN TEMBANG Sardinella flmbriata Val. (Fam. Clupeidae) DI PERAIRAN TELUK KENDARI SULAWESI TENGGARA [Study on Food Habits of Fringescale Sardinella, Sardinellafimbriata Val. (Fam. Clupeidae) in Kendari Bay, Southeast Sulawesi] Asriyana, nFN; Sulistiono, nFN; Rahardjo, M. F.
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v4i1.256

Abstract

A study on food habit of Fringescale Sardinella, Sardinella fimbriata Val. in Kendari Bay was conducted from March to December 2003. This research aims to observe food habits and feeding periodicity of the fish and relation of the food habits and plankton, food habit was determined by using Index of Relative Importance method. Result of the study indicates that fringescale Sardinella is plankton feeder and taking its food by filtering. Important diet of fish is Bacillariophyceae and Crustacea.
FAUNA I KAN DI SUNGAI CIMANUK, JAWA BARAT [Fish Fauna of Cimanuk River, West Java] Sjafei, Djadja S.; Wirjoatmodjo, S.; Rahardjo, M. F.; Susilo, Setyo Budi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 1, No 1 (2001): Juni 2001
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v1i1.149

Abstract

Fish fauna exploration al Cimanuk River was conducted from June 1999 up to January 2000. Two months interval of sampling were done at the three segments of the river (the upper stream = Garut area, the middle stream = Sumedang area and the down stream = Indramayu area). About 40 species of 20 families, were recorded. The fish fauna were dominated by species belongs to Cyprinidae, and Rasbora laterisiriata found in the three segments. Each segment has different number of species. The existing fish were potential to be developed as fish food and ornamental species for aquarium. ABSTRAKUpaya untuk mendapatkan informasi tentang kcragaman jenis ikan di Sungai Cimanuk dilakukan antara Bulan Juni 1999 dan Januari 2000 dengan pengambilan contoh selang dua bulan, Sungai Cimanuk dibagi menjadi tiga segmen sungai yaitu hulu (Garut). tengah (Sumedang). dan hilir (Indramayu). Selama penelitian ditemukan ikan sebanyak 40 jenis yang tercakup di dalam 20 famili. Famili Cyprinidae mempunyai spesies yang paling banyak ditemukan. Satu-satunya spesies/jenis ikan yang ditemukan di tiga segmen sungai ialah ikan paray (Rasbora laterisiriata). Jumlah jenis ikan pada masing-masing segmen sungai tidak merata. Ikan di sungai Cimanuk dapat dikembangkan sebagai ikan konsumsi dan ikan hias.