Untung Sudadi, Untung
Departemen Imu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

PRODUKSI BIODIESEL DARI BIOMASSA Chlamydomonas sp. ICBB 9113 DIKULTIVASI MENGGUNAKAN MEDIA YANG MURAH: EFEKTIFITAS DARI BEBERAPA METODE EKSTRAKSI Patmawati, Patmawati; Ibrahim, Bustami; Setyaningsih, Iriani; Sudadi, Untung
Widyariset Vol 17, No 2 (2014): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.292 KB)

Abstract

The main challenges to overcome in biodiesel production from microalgae are lower oil yield, as compared to those derived from plant and animal biomass, and expensive culture media. This work was aimed to compare the effectivity of three extraction methods differed in solvent used, e.g. n-hexane (N-hex), ethanol (Eth), and mixture of chloroform-methanol-water (CMW), to extract crude lipid and biodiesel from dry biomass of Chlamydomonas sp. ICBB 9113. This microalgae was cultivated in a cheap culture media using N and P soil fertilizers as nutrient sources. The results showed that, by using N-hex, Eth, and CMW methods, it could be extracted, respectively, 0.06%, 4.51%, and 20.45% crude lipid, and 384.2, 1333.8, and 2430.6 mg/100g biodiesel. The fatty acid profile of the studied microalgae biomass was: C8:0 (0.11%), C10:0 (0.09%), C14:0 (7.70%), 16:0 (1.39%), C18:0 (0.85%), C14:1 (5.12%), C16:1 (7.09%), C18:1 (8.28%), C18:2 (12.80%), and C18:3 (42.57%). Fatty acid characterization showed that Chlamydomonas sp. ICBB 9113 was dominated by C18: 3 and C16:0. Therefore, these microlagae were suitable to be used as raw material for biodiesel production to substitute the conventional fuel.
STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN PADI BERBASIS PREFERENSI PETANI DAN SUMBERDAYA LAHAN DI KABUPATEN BANGKA SELATAN Akbar, Ardilles; Sudadi, Untung; Gandasasmita, Komarsa
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.1.9-15

Abstract

Sebagai penghasil padi terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Bangka Selatan belum mampu mencapai swasembada beras. Meningkatnya aktivitas penambangan timah dan perkebunan di wilayah ini memicu petani padi untuk beralih profesi menjadi penambang timah atau bekerja di sektor penunjang pertambangan timah. Diperlukan strategi yang tepat untuk mengantisipasi permasalahan terkait ketahanan pangan tersebut. Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis prioritas strategi pengembangan pertanian padi berdasarkan hirarki preferensi petani, (2) mengidentifikasi sumberdaya lahan tersedia untuk pengembangan pertanian padi berbasis interpretasi citra Landsat dan evaluasi kesesuaian lahan, serta (3) menyusun arahan pengembangan lahan pertanian padi di Kabupaten Bangka Selatan. Dua strategi utama yang diprioritaskan petani adalah pengembangan infrastruktur pertanian dan sarana-prasarana produksi padi. Strategi penting lainnya yang dipilih petani daerah cukup berkembang adalah peningkatan pemasaran hasil, sedangkan petani daerah belum berkembang lebih memilih peningkatan insentif dari pemerintah. Sumberdaya lahan yang sesuai untuk budidaya padi ladang teridentifikasi berkelas S1 dan S3 masing-masing seluas 8,460 dan 12,630 ha, sedangkan untuk padi sawah berkelas S1, S2 dan S3 masing-masing seluas 8,680; 30 dan 3,070 ha. Strategi pengembangan di daerah cukup berkembang terutama diarahkan untuk peningkatan produktivitas usahatani, sedangkan di daerah berkembang untuk melindungi eksistensi aktivitas pertanian padi.
ARAHAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN LAHAN SAWAH DI WILAYAH PESISIR PROVINSI KALIMANTAN BARAT Yustian, Yustian; Sudadi, Untung; Ardiansyah, Muhammad
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.1.31-37

Abstract

Wilayah Pengembangan (WP) Pesisir merupakan sentra produksi beras bahkan penyuplai untuk tiga WP lainnya di Provinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 2015, penduduk di WP Pesisir diperkirakan 2.29 juta jiwa. Bila terjadi konversi lahan basah 30,000 ha tahun-1 dan tanpa penambahan luas lahan baku sawah, ada indikasi berkurangnya suplai beras diluar WP Pesisir dan tahun 2016 bahkan mengalami defisit beras. Oleh karena itu, diperlukan arahan yang komprehensif dan strategi untuk pengembangan sawah sawah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi lahan potensial, (2) menentukan keunggulan komparatif dan kompetitif, (3) menentukan tipologi lahan dan klaster, dan (4) menyusun arah secara spasial dan strategi untuk pengembangan sawah lahan basah di WP Pesisir. Hasil analisis spasial diperoleh luasan lahan potensial 411,950 ha untuk pengembangan padi sawah dari 5,664,580 ha luas total WP Pesisir. Berdasarkan analisis LQ dan SSA ada lima dari tujuh kabupaten/kota sebagai wilayah basis pertanian padi, sedangkan analisis tipologi membentuk tiga klaster wilayah. Keseluruhan hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kubu Raya adalah Kabupaten yang paling besar luas lahan potensialnya disusul oleh Kota, merupakan wilayah basis unggulan dan aktivitas pertaniannya yang sudah berkembang sehingga paling diprioritaskan untuk pengembangan kawasan padi sawah.
POLA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG DI KABUPATEN BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH Ramadhan, Risky; Widiatmaka, Widiatmaka; Sudadi, Untung
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 6, No 2 (2016): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.148 KB) | DOI: 10.29244/jpsl.6.2.159

Abstract

Perkembangan sosial ekonomi wilayah yang dinamis memberikan dampak terhadap penggunaan lahan. Ketersediaan lahan yang tetap mengakibatkan terjadinya persaingan dalam pemanfaatan lahan, dengan konsekuensi perubahan penggunaan lahan yang semakin intensif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pola perubahan penggunaan lahan pada beberapa titik tahun (2001, 2008 dan 2015) di Kabupaten Banjarnegara, dan (2) mengevaluasi kesesuaian antara pemanfaatan ruang saat ini dengan alokasi ruang berdasarkan RTRW Kabupaten Banjarnegara. Metodologi yang digunakan adalah analisis spasial pada citra dan analisis inkonsistensi alokasi pola ruang dalam RTRW dan pemanfaatan ruang. Penggunaan lahan di Kabupaten Banjarnegara tahun 2001 didominasi kebun dengan proporsi 40.018,5 ha, tegalan 28.524 ha, sawah 18.319,1 ha , hutan 10.163,8 ha, lahan terbangun 8.895,1 ha, semak belukar 7.203,4 ha, tubuh air 1.716,4 ha dan lahan terbuka 103,2 ha. Pada tahun 2008 terjadi penambahan luasan kebun 1.781,2 ha, lahan terbangun 977,5 ha, semak belukar 618,3 ha, dan tegalan sebesar 155,1 ha. Sementara itu, hutan mengalami penurunan luasan yang siginifikan sebesar 2.498 ha, diikuti oleh sawah sebesar 1.025 ha dan lahan terbuka 9 ha. Pada tahun 2015 terjadi penambahan luasan kebun sebesar 464,1 ha, lahan terbangun 1.048,1 ha, semak belukar 238,6 ha, dan tegalan 474,1 ha. Hutan mengalami penurunan sebesar 1.342,8 ha, sawah 872,8 ha dan lahan terbuka 9,2 ha. Pengaturan alokasi lahan pada pola ruang tahun 2011-2031 Kabupaten Banjarnegara menunjukkan inkonsistensi dengan peta penunjukan kawasan hutan sebesar 13.737 ha atau 11,9% dari luas wilayah. Sementara itu, kondisi penggunaan lahan tahun 2015 di Kabupaten Banjarnegara menunjukkan inkonsistensi dengan alokasi pola ruang sebesar 37.032,7 ha atau 32,1% dari luas wilayah
ANALISIS DAN ARAHAN PENGEMBANGAN LAHAN UNTUK MENCAPAI SWASEMBADA PANGAN DI KABUPATEN MUARO JAMBI, PROVINSI JAMBI Kurniawan, Agus; Ardiansyah, Muhammad; Sudadi, Untung
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.205

Abstract

Sebagai wilayah “hinterland”, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi memiliki potensi sumberdaya lahan yang perlu dikembangkan dan diarahkan untuk mendukung penyediaan pangan di tingkat lokal maupun regional. Penelitian ini bertujuan menyusun arahan pengembangan lahan untuk mencapai swasembada pangan di Kabupaten Muaro Jambi. Hasil analisis menunjukkan potensi ketersediaan lahan prioritas untuk pengembangan padi sawah seluas 55.899 ha dengan kelas kesesuaian S3 (sesuai marginal) dan 100.870 ha lahan lainnya diarahkan untuk pertanian pangan lahan kering. Untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2031, Kabupaten Muaro Jambi membutuhkan sawah dan lahan kering masing masing seluas 30.545 ha dan 1.064 ha, sehingga potensi lahan yang tersedia masih dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan Kabupaten Muaro Jambi maupun untuk penggunaan lain. Di sisi lain, dalam Rencana Pola Ruang Kabupaten Muaro Jambi dialokasikan lahan untuk sawah dan pertanian lahan kering masing-masing seluas 6.271 ha dan 65.972 ha. Dari pola ruang lahan pangan tersebut, seluas 1.962 ha sawah dan 18.807 ha pertanian lahan kering tidak sesuai dengan kondisi eksisting. Oleh karena itu, Rencana Pola Ruang ini perlu direvisi.Kata Kunci: arahan pengembangan, swasembada pangan, kesesuaian lahan, ketersediaan lahan, pola ruangABSTRACTAs an hinterland, Muaro Jambi Regency, Jambi Province has potential land resource needs to be developed to support the provision of food both at local as well as regional levels. This research aimed to formulate a land development direction to achieve food self-sufficiency in Muaro Jambi Regency. Results of analyses showed the availability of prioritized land for rice fields development amounted to 55,899 ha with suitability class of S3 (marginally suitable), while another 100,870 ha of the land could be directed for dryland food-crop farming. To achieve the food self-sufficiency in the year 2031, Muaro Jambi Regency needs rice fields and drylands of 30,545 ha and 1,064 ha, respectively. Thus, the potentially available lands still can be developed to meet the food needs in Jambi City or allocated for other land uses as well. On the other hand, in the Spatial Regional Plan of Muaro Jambi Regency, lands allocated for rice field and dryland food-crop farming are 6,271 ha and 65,972 ha, respectively. Of this food-crop spatial pattern, area of 1.962 ha and 18,807 ha that are allocated for rice field and dryland food-crop farming do not match with the existing condition. Therefore, this Spatial Pattern Plan needs to be revised.Keywords: development direction, food self-sufficiency, land availability, land suitability, spatial pattern
ARAHAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AREAL BEKAS TAMBANG TIMAH SEBAGAI KAWASAN PARIWISATA DI KABUPATEN BANGKA Meyana, Lia; Sudadi, Untung; Tjahjono, Boedi
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.802 KB) | DOI: 10.29244/jpsl.5.1.51

Abstract

Bangka Island is known by the people of Indonesia and the world as the island's largest tin producer in Indonesia and has potential natural attractions such as beaches that surround the island of Bangka.This study is motivated by the former tin mining land that is not used optimally. One of waysis used to utilize former tin mine area is to develop it as a tourism area in Bangka Regency. The aim of this study is to identify and map the former tin mining area, to find out the priority areas of tourism development, to find out the types of tourism that can be developed, and to formulate strategies in the development of the former tin mining area as a tourism area. The analytical method used is the analysis of Geographic Information Systems (GIS), schallogram analysis, AHP and A'WOT (combination of AHP and SWOT). The result showed that the area of the former tin mines in Bangka spread six sub-districts. The priority areas for the development of the former tin mining area as a tourism area directed at Riau, Parit Padang, Kuto Panji and Kenanga Village. According to the perceptions of stakeholders, the types of tourism that can be developed on a former tin mining areas prioritized in the natural attractions of water recreation, culture tourism in the form of a tourist village, and artificial tourism in the form of edutourism. The main priority strategies that can be done is to develop mining tourism as a brand image. Keywords: former tin mining, mining tourism, development strategy
PENGEMBANGAN KAWASAN BUDIDAYA JAGUNG UNTUK PENINGKATAN PEREKONOMIAN KABUPATEN PEMALANG Harimurti, Eko Fitriono; Munibah, Khursatul; Sudadi, Untung
TATALOKA Vol 20, No 3 (2018): Volume 20 Number 3, August 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.20.3.215-232

Abstract

Pemalang Regency had low economic rate, based on agriculture sector especially food crop sub-sector with Paddy and Maize as main contributor, had a high paddy fields conversion wich decreased the economic rate through Paddy production decreasement. The main objective of this research were to compose the Maize cultivation area development planning for Pemalang Regency economy improvement. The method used in this research were: mapping the Maize cultivation existing area, land suitability and availability evaluation, analysis of economic, marketing and correlation between Maize production with GDP growth and employment absorption. The results showed that there were about 1,804 ha of exsisting Maize cultivation area and 4,276 ha marginally suitable (S3) potential land. The Maize development were be feasible to be continued. Best benifit obtained from the channel that composed by Farmer-Depot-Industry, it gave lowest margin and highest farmers share. The Maize market in integrated condition. Allocation potential land and 285.66 ha of Perhutani’s area predicted gave 5.94% of agriculture sector increasement and absorb all unemployment in Pemalang Regency.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK KOMODITAS SAYURAN UNGGULAN DI KABUPATEN BATANG Raharjo, Saksono; Widiatmaka, -; Sudadi, Untung
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1160.494 KB) | DOI: 10.29244/jpsl.5.1.33

Abstract

Batang Regency has potential land resource for the development of vegetable commodity because it has a diverse agro-ecological conditions, ranging from coastal areas, plains and mountains. However, these conditions have not been matched with adequate vegetable productivity because it is still below the average productivity of Central Java province. The purpose of this study were to know the primary commodities of vegetable in Batang, to know the land availability for development of primary vegetable commodities and to know available of land suitability for development of primary vegetable commodities in Batang. The analytical method used in this study were : LQ and SSA, land availability analysis and land suitability analysis.The results showed that the primary vegetables in Batang are potato, carrot, long bean, large pepper, cucumber, cayenne pepper, eggplant, cabbage and mustard. Available land for development planning based on primary vegetable horticulture area are 28.558 hectares.The results of soil analysis showed that the potential suitability classes for potatoes, cucumbers and carrots have potential level suitability of S2 and S3. Long bean,chili large, cayenne pepper, eggplant, cabbage and mustard have a potential level suitability of S1 (highly suitable) although that area were not too large. Keywords: primary commodity, land availability, land suitability
STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERIKANAN BUDIDAYA DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Ambasari, Lia; Gandasasmita, Komarsa; Sudadi, Untung
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.358 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.83

Abstract

Kabupaten Lampung Timur ditetapkan sebagai kawasan minapolitan pada Tahun 2010 sehingga merancang strategi pengembangan perikanan budidaya menjadi hal yang penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komoditas unggulan, kesesuaian lahan, memetakan arahan pengembangan perikanan budidaya dan merancang strategi pengembangan perikanan budidaya di Kabupaten Lampung Timur. Hasil analisis menunjukkan bahwa rumput laut, kerang hijau, udang vaname, udang windu, ikan bandeng, ikan nila, ikan patin dan ikan gurame merupakan komoditas unggulan budidaya di Kabupaten Lampung Timur. Kesesuaian lahan untuk budidaya perikanan di Kabupaten Lampung Timur sebagian besar memiliki kriteria sangat sesuai (S1) dan sesuai (S2). Pengembangan budidaya laut diarahkan pada wilayah laut sepanjang pantai Kabupaten Lampung Timur seluas 38.871 ha, sedangkan untuk pengembangan budidaya air payau diarahkan di dua kecamatan yaitu Labuhan Maringgai dan Pasir Sakti. Pengembangan budidaya air tawar diarahkan pada lahan seluas 53.304 ha yang tersebar di delapan kecamatan yaitu Kecamatan Bumi Agung, Batanghari, Sekampung, Raman Utara, Purbolinggo, WayBungur, Way Jepara dan Jabung. Strategi yang bisa menjadi alternatif untuk ditempuh adalah meningkatkan kualitas SDM berbasis pengetahuan, meningkatkan kelembagaan pembudidaya, meningkatkan kelembagaan pemasaran danmeningkatkan penyediaan sarana dan prasarana.Kata Kunci: Komoditas Unggulan, Perikanan Budidaya, Kesesuaian Lahan.ABSTRACTLampung Timur Regency appointed as a minapolitan area in 2010 so designing  aquaculture development strategy becomes important. The purpose of this study are to analyze the prime commodities of aquaculture, land suitability, mapping the direction of the development of aquaculture and formulate strategies for developing aquaculture in Lampung Timur regency. The analysis showed that aquaculture prime commodities are seaweed, green mussel, vaname shrimp, black tiger shrimp, milkfish, tilapia, catfish and gurame. Land suitability for aquaculture in LampungTimur regency mostly fall ini highly suitable and suitable criteria. Aquaculture development is directed to marine areas along the coast of Lampung Timur district covering 48,871 ha, while for brackish water aquaculture development is directed at two districts namely Labuhan Maringgai and Pasir Sakti. Freshwater aquaculture development is directed at an area of 53,304 ha of land that spread over 8 districts, those are Bumi Agung District, Batanghari, Sekampung, Raman Utara, Purbolinggo, Way Bungur, Way Jepara, and Jabung. The alternative strategy to improve the human resources quality is development based on knowledge, improvement institutional farmers, marketing institutions and the provision of facilities and infrastructure.Keywords : Prime Commodities, Aquaculture, Land Suitability
Acacia auriculiformis DAN Eragrostis chariis: VEGETASI POTENSIAL DARI LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH PULAU BANGKA SEBAGAI FITOREMEDIATOR Pb DAN Sn Sari, Eka; Giyanto, Giyanto; Sudadi, Untung
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitl.18.1.1-7

Abstract

Timbal (Pb) dan Timah (Sn) merupakan logam berat yang paling umum ditemukan di lahan bekas tambang timah, Pulau Bangka. Pemulihan tanah tercemar logam berat dapat dilakukan dengan teknologi fitoremediasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi dan struktur vegetasi di lahan bekas tambang timah, mengevaluasi akumulasi Pb dan Sn di dalam tanah dan jaringan vegetasi dominan, serta menentukan vegetasi potensial untuk dimanfaatkan sebagai fitoremediator Pb dan Sn. Pengamatan dilakukan di lahan bekas tambang timah yang sudah direklamasi (LBTR), lahan bekas tambang timah yang belum direklamasi (LBTB), dan lahan hutan sekunder sebagai kontrol. Vegetasi dominan ditentukan berdasarkan kurva spesies area dan analisis vegetasi dengan metode Kuadrat. Akumulasi Pb dan Sn dalam tanah dan jaringan vegetasi dominan masing-masing ditetapkan menggunakan pengekstrak Morgan dan toxicity characteristic leaching procedure (TCLP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sn-tanah  tidak terdeteksi. Kadar total Pb-tanah di LBTR dan LBTB melebihi baku mutu. Kadar total Pb-tanah tertinggi terukur di LBTR. Kadar Pb dan Sn pada jaringan vegetasi dominan tidak melebihi batas normal. Acacia auriculiformis di lahan hutan sekunder dan Eragrostis chariis di LBTB berpotensi sebagai fitoremediator Pb dan Sn. Kata kunci: Acacia auriculiformis, Eragrostis chariis, Pb, fitoremediator, Sn