Sabrianto Aswad, Sabrianto
Geophysics Department, Hasanuddin University Jl. Perintis Kemerdekaan Km 10, Makassar 90245, Indonesia

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

PENENTUAN PROFIL KETEBALAN SEDIMEN LINTASAN KOTA MAKASSAR DENGAN MIKROTREMOR Syahruddin, Muhammad Hamzah; Aswad, Sabrianto; Palullungan, Erni Fransisca; Maria, -; Syamsuddin, -
Jurnal Fisika Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.059 KB)

Abstract

Di kota metropolitan yang jauh dari fokus gempa besar misalnya Kota Makassar, getaran yang paling banyak mempengaruhi kontruksi bangunan adalah gempa mikro yang bersumber dari getaran mesin, angin, tumbuhan dan aktivitas manusia. Sumber getaran di permukaan bumi dapat menyebabkan tanah di sekitarnya beresonansi. Resonansi pada lapisan tanah yang terjadi secara periodik disebut gempa mikro atau mikrotremor. Hasil pengukuran mikrotremor dari arah Kabupaten Gowa ke Kota Makassar menjadi fokus analisis dalam penelitian ini. Studi mikrotremor ini bertujuan mengetahui berapa besar frekuensi resonansi, tingkat kerentanan seismik dan pendugaan ketebalan lapisan sedimen pada lintasan mikroteremor yang dibuat melewati daerah Gowa sampai kota Makassar. Frekuensi resonansi lintasan mikrotremor Gowa-Makassar sangat bervariasi mulai dari 0,647 – 11,698 Hz, dengan frekuensi resonansi rata-rata berada pada 6,29 Hz. Nilai indeks kerentanan seismik lintasan mikrotremor Gowa-Makassar berada pada interval nilai 0,15 – 30. Tingkat kerentanan seismik Gowa-Makassar cenderung semakin besar ke arah topografi yang lebih tinggi. Hasil perhitungan ketebalan sedimen lintasan mikrotremor Gowa-Makassar menggunakan teknik S/R adalah 6 – 66 m.
MIKROZONASI KAWASAN RAWAN BENCANA GEMPABUMI DENGAN STUDI PEAK GROUND ACCELERATION MENGGUNAKAN METODE BOORE ATKINSON DAN DATA MIKROTREMOR DI DAERAH KUPANG Jamal, Rachmat Jariah; -, Lantu; Aswad, Sabrianto; Sulaiman, Cecep
JURNAL GEOCELEBES Vol 1, No 1: APRIL 2017
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.248 KB)

Abstract

AbstrakLetak geografis Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama; Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik, menjadikan Indonesia sebagai kawasan rawan gempabumi. Berdasarkan data yang dirilis oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) terdapat 28 wilayah rawan gempa dan tsunami termasuk Kupang. Kupang terletak di zona busur sangat aktif dan tepian benua aktif. Kegiatan tektonik yang berlangsung saat ini dicirikan dengan kejadian gempa tektonik yang melanda daerah pedalaman, akibat dari aktifnya sesar-sesar yang terdapat di perbukitan sekitar Kota Kupang. Salah satu upaya mitigasi yang dilakukan adalah pengukuran mikrotremor menggunakan metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio) untuk mengetahui nilai frekuensi dominan yang akan menjadi penentu tingkat kerawanan bencana gempabumi. Nilai frekuensi dominan akan menghitung nilai kecepatan gelombang S hingga kedalaman 30 meter (Vs30) yang selanjtnya digunakan untuk menentukan nilai PGA dan amplifikasi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai periode dominan berada pada rentang 0.1-0.97 sekon, nilai PGA antara 92.87-142.84 gal dan nilai amplifikasi adalah 0.99-4.38 dan 2.12-9.43 kali. Maka dapat disimpulkan bahwa daerah penelitian termasuk kategori rawan bencana gempabumi terutama pada bagian tenggara.Kata Kunci : Amplifikasi, Mikrotremor, Periode Dominan, PGAAbstractGeographically, Indonesia located at the meeting of three major tectonic plates; Indo-Australian Plate, Eurasian Plate, and Pacific Plate, that make Indonesia as earthquake-prone area. Based on data released by the Directorate of Volcanology and Geological Hazard Mitigation (DVMBG), there are 28 earthquake and tsunami prone areas including Kupang that the area located in the very active arc zone and the edge of the active continent. The tectonic activity that is currently taking place is characterized by the tectonic earthquake that attacks to countryside areas, resulting from the active fault-faults found in the hills around the area. One of the mitigation efforts is microtremor measurement using HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio) method to find out the dominant frequency for determination of the magnitude of the earthquake. The predominant frequency value will determine the Shear wave velocity up to 30 meters (Vs30) which are further used for the PGA and amplification values. The result of data analysis shows that the dominant period value is in the range 0.1-0.97 second, PGA value between 92.87-142.84 gal and the amplification value is 0.99-4.38 and 2.12-9.43 times. The conclusion, the area is categorized as earthquake-prone, especially in the southeast region.Keywords: Amplification, Microtremor, Dominant Period, PGA
DIFRAKSI DAN EFEK SMILING PADA DATA SEISMIK Gedo Sea, Johannes; Massinai, Muh. Altin; Aswad, Sabrianto; Djajadihardja, Yusuf Surachman
JURNAL GEOCELEBES Vol 1, No 1: APRIL 2017
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.005 KB)

Abstract

AbstrakDifraksi dan efek smiling merupakan artefak yang sering terdapat pada data seismik. Difraksi timbul pada data sebelum dilakukan proses migrasi sedangkan efek smiling timbul setelah dilakukan proses migrasi. Dalam penelitian ini akan dibahas efek smiling pada penampang hasil migrasi yang pada wilayah tersebut merupakan tempat terjadinya difraksi sebelumnya. Kata Kunci: Difraksi, Efek Smiling, MigrasiAbstractDiffraction and smiling are the two effects that often present in a seismic data. Diffraction occurs before the migration process, while the smiling occurs after the migration process. This research will discuss the effect of smiling on a cross section of the result of migration, which is the diffraction happened in an area of investigationKeywords: Diffraction, Smiling Effect, Migration
IDENTIFIKASI POLA SEBARAN INTRUSI BATUAN BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN METODE GEOMAGNET DI SUNGAI JENELATA KABUPATEN GOWA Nurdin, Nur Hidayat; Massinai, Muh. Altin; Aswad, Sabrianto
JURNAL GEOCELEBES Vol 1, No 1: APRIL 2017
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.633 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan di Sungai Jenelata, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan mengunakan metode geomagnet . Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi struktur geologi bawah permukaan pada daerah penelitian. Jumlah titik pengukuran sebanyak 248 dengan area seluas 70 × 300 meter. Akuisisi data dilakukan dengan menggunakan satu alat magnetometer. Sementara pengolahan data menggunakan koreksi harian dan koreksi IGRF serta filter upward continuation. Pemodelan dilakukan dengan metode forward modeling dengan menggunakan perangkat lunak Mag2DC. Medan magnetik total berkisar antara 42.456 sampai 43.111,6 nT. Berdasarkan interpretasi kualitatif pada kontur anomali magnetik lokal didapatkan variasi nilai anomali antara -320 sampai 240 nT. Sedangkan interpretasi kuantitatif menunjukkan adanya batuan basalt dengan nilai suseptibilitas sampai SI, yang menerobos batuan pyroclastic dengan nilai suseptibilitas hingga SI dalam dalam bentuk dyke. Kata Kunci: Geomagnet, dyke, Suseptibilitas, Sungai Jenelata.AbstractThis research has been conducted using geomagnetic method at Jenelata River, Gowa regency, South Sulawesi. The purpose of this study is to identify subsurface geological structure of the study area. The number of measurement points as much as 248 points with area 70 × 300 meters. The process of data acquisition using a magnetometer. Data processing was carried out with the diurnal correction and IGRF correction and using filter upward continuation. Modelling conducted using forward modeling using the software Mag2DC. The total magnetic field ranges from 42,456 to 43,111.6 nT. Based on a qualitative interpretation obtain local magnetic anomaly contour variations values between -320 to 240 nT. While the quantitative interpretation indicates basalt rocks with susceptibility values  to SI, which breached pyroclastic rocks with susceptibility values to SI, in the form of dyke. Keywords: Geomagnetic, dyke, Susceptibility, Jenelata River
MIKROZONASI KAWASAN RAWAN BENCANA GEMPABUMI DENGAN STUDI PEAK GROUND ACCELERATION MENGGUNAKAN METODE BOORE ATKINSON DAN DATA MIKROTREMOR DI DAERAH KUPANG Jamal, Rachmat Jariah; -, Lantu; Aswad, Sabrianto; Sulaiman, Cecep
JURNAL GEOCELEBES Vol 1, No 1: APRIL 2017
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.248 KB)

Abstract

AbstrakLetak geografis Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama; Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik, menjadikan Indonesia sebagai kawasan rawan gempabumi. Berdasarkan data yang dirilis oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) terdapat 28 wilayah rawan gempa dan tsunami termasuk Kupang. Kupang terletak di zona busur sangat aktif dan tepian benua aktif. Kegiatan tektonik yang berlangsung saat ini dicirikan dengan kejadian gempa tektonik yang melanda daerah pedalaman, akibat dari aktifnya sesar-sesar yang terdapat di perbukitan sekitar Kota Kupang. Salah satu upaya mitigasi yang dilakukan adalah pengukuran mikrotremor menggunakan metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio) untuk mengetahui nilai frekuensi dominan yang akan menjadi penentu tingkat kerawanan bencana gempabumi. Nilai frekuensi dominan akan menghitung nilai kecepatan gelombang S hingga kedalaman 30 meter (Vs30) yang selanjtnya digunakan untuk menentukan nilai PGA dan amplifikasi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai periode dominan berada pada rentang 0.1-0.97 sekon, nilai PGA antara 92.87-142.84 gal dan nilai amplifikasi adalah 0.99-4.38 dan 2.12-9.43 kali. Maka dapat disimpulkan bahwa daerah penelitian termasuk kategori rawan bencana gempabumi terutama pada bagian tenggara.Kata Kunci : Amplifikasi, Mikrotremor, Periode Dominan, PGAAbstractGeographically, Indonesia located at the meeting of three major tectonic plates; Indo-Australian Plate, Eurasian Plate, and Pacific Plate, that make Indonesia as earthquake-prone area. Based on data released by the Directorate of Volcanology and Geological Hazard Mitigation (DVMBG), there are 28 earthquake and tsunami prone areas including Kupang that the area located in the very active arc zone and the edge of the active continent. The tectonic activity that is currently taking place is characterized by the tectonic earthquake that attacks to countryside areas, resulting from the active fault-faults found in the hills around the area. One of the mitigation efforts is microtremor measurement using HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio) method to find out the dominant frequency for determination of the magnitude of the earthquake. The predominant frequency value will determine the Shear wave velocity up to 30 meters (Vs30) which are further used for the PGA and amplification values. The result of data analysis shows that the dominant period value is in the range 0.1-0.97 second, PGA value between 92.87-142.84 gal and the amplification value is 0.99-4.38 and 2.12-9.43 times. The conclusion, the area is categorized as earthquake-prone, especially in the southeast region.Keywords: Amplification, Microtremor, Dominant Period, PGA
PEMETAAN WILAYAH RAWAN BENCANA GEMPABUMI BERDASARKAN DATA MIKROTREMOR DAN DATA BOR Lantu, Lantu; Aswad, Sabrianto; Fitriani, Fitriani; Marjiyono, Marjiyono
JURNAL GEOCELEBES Vol 2, No 1: April 2018
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.087 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk pemetaan wilayah rawan bencana gempabumi di wilayah Daerah Istimewa Jogyakarta berdasar data mikrotremor dan data bor. Aktivitas geodinamika pulau jawa secara umum dipengaruhi oleh pergerakan lempeng Eurasia dan lempeg Indo-Australia dengan lempeng mikro Sunda. Pertemuan kedua lempeng tersebut menyebabkan pergerakan kearah Barat – Timur , menjadi penyebab gempabumi Yogyakarta tahun 2006. Tercatat sedikitnya empat kali terjadi gempa besar di Yogyakarta menjadikan daerah ini rawan akan gempabumi. Untuk meminimalisir resiko akan bencana gempabumi yang terjadi , salah satunya melakukan pemetaan wilayah yang rentang bencana gempabumi tersebut dengan mikrozonasi berdasar data mikrotremor dan databor. Upaya mitigasi dengan  mikrozonasi dilakukan dengan menghitung nilai  HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio) untuk memperoleh nilai frekuensi dominan yang menjadi parameter tingkat kerawanan bencana gempabumi. Dalam penentuan kecepatan gelombang S hingga kedalaman 30 meter (Vs30) dengan inversi HVSR. digunakan data pendukung data bor  untuk menghindari ketidakunikan data mikrotremor. Hasil Vs30 digunakan untuk menentukan nilai amplifikasi. Hasil analisis dan interpretasi data menujukkan bahwa nilai frekuensi dominan berada pada rentang 1,314 – 14,59 Hz, nilai Vs30 berkisar antara 142,02 – 400,5 m/s dengan amplifikasi dalam rentang 1,5 – 8,02 kali dan 0,8-3,7 kali. Kesimpulan dari penelitian ini menujukkan daerah penelitian rawan bencana gempabumi, terutama daerah yang dilalui oleh sesar Opak.
DIFRAKSI DAN EFEK SMILING PADA DATA SEISMIK Gedo Sea, Johannes; Massinai, Muh. Altin; Aswad, Sabrianto; Djajadihardja, Yusuf Surachman
JURNAL GEOCELEBES Vol 1, No 1: APRIL 2017
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.005 KB)

Abstract

AbstrakDifraksi dan efek smiling merupakan artefak yang sering terdapat pada data seismik. Difraksi timbul pada data sebelum dilakukan proses migrasi sedangkan efek smiling timbul setelah dilakukan proses migrasi. Dalam penelitian ini akan dibahas efek smiling pada penampang hasil migrasi yang pada wilayah tersebut merupakan tempat terjadinya difraksi sebelumnya. Kata Kunci: Difraksi, Efek Smiling, MigrasiAbstractDiffraction and smiling are the two effects that often present in a seismic data. Diffraction occurs before the migration process, while the smiling occurs after the migration process. This research will discuss the effect of smiling on a cross section of the result of migration, which is the diffraction happened in an area of investigationKeywords: Diffraction, Smiling Effect, Migration
INVESTIGASI ZONA AKUIFER MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER DI PANTAI PARANGLUHU KECAMATAN BONTOBAHARI, KABUPATEN BULUKUMBA Wahyuni, Wahyuni; ., Jamaluddin; Aswad, Sabrianto; Armin, La Ode
JURNAL GEOCELEBES Vol 2, No 2: Oktober 2018
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1084.603 KB)

Abstract

Water is a natural resource that is essential for needs of living things, especially human beings. Most groundwater widely utilized because the standards compliance of clean water and proper use. However there is a difference in the conditions and quality of the groundwater in different areas, one of which on the territory of coastal zone that can store brackish ground water – salty. This is a lot going on in various parts of the territory of one of the coastal zone subdistrict of Bontobahari. Related conditions, this research was conducted with the aim to find out the characteristics of the aquifer and the salty soil water distribution in the region of coastal zone subdistrict of Bontobahari, Bulukumba. The methods used in this research is the geoelectric resistivity injection using the Schlumberger configuration. Based on the measurement and data processing, resisvity values of aquifer have about 29,4 – 36,1 Ωm and it can be found at a depth of 6,50 – 19,7 m.
IDENTIFIKASI POLA SEBARAN INTRUSI BATUAN BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN METODE GEOMAGNET DI SUNGAI JENELATA KABUPATEN GOWA Nurdin, Nur Hidayat; Massinai, Muh. Altin; Aswad, Sabrianto
JURNAL GEOCELEBES Vol 1, No 1: APRIL 2017
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.633 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan di Sungai Jenelata, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan mengunakan metode geomagnet . Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi struktur geologi bawah permukaan pada daerah penelitian. Jumlah titik pengukuran sebanyak 248 dengan area seluas 70 × 300 meter. Akuisisi data dilakukan dengan menggunakan satu alat magnetometer. Sementara pengolahan data menggunakan koreksi harian dan koreksi IGRF serta filter upward continuation. Pemodelan dilakukan dengan metode forward modeling dengan menggunakan perangkat lunak Mag2DC. Medan magnetik total berkisar antara 42.456 sampai 43.111,6 nT. Berdasarkan interpretasi kualitatif pada kontur anomali magnetik lokal didapatkan variasi nilai anomali antara -320 sampai 240 nT. Sedangkan interpretasi kuantitatif menunjukkan adanya batuan basalt dengan nilai suseptibilitas sampai SI, yang menerobos batuan pyroclastic dengan nilai suseptibilitas hingga SI dalam dalam bentuk dyke. Kata Kunci: Geomagnet, dyke, Suseptibilitas, Sungai Jenelata.AbstractThis research has been conducted using geomagnetic method at Jenelata River, Gowa regency, South Sulawesi. The purpose of this study is to identify subsurface geological structure of the study area. The number of measurement points as much as 248 points with area 70 × 300 meters. The process of data acquisition using a magnetometer. Data processing was carried out with the diurnal correction and IGRF correction and using filter upward continuation. Modelling conducted using forward modeling using the software Mag2DC. The total magnetic field ranges from 42,456 to 43,111.6 nT. Based on a qualitative interpretation obtain local magnetic anomaly contour variations values between -320 to 240 nT. While the quantitative interpretation indicates basalt rocks with susceptibility values  to SI, which breached pyroclastic rocks with susceptibility values to SI, in the form of dyke. Keywords: Geomagnetic, dyke, Susceptibility, Jenelata River
IDENTIFIKASI BATUAN DASAR DAERAH PANTAI LUMPUE KOTA PAREPARE MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI WENNER Pratama, Iswar Edis; Muhtar, Indra Jaya; Syamsuddin, Syamsuddin; Aswad, Sabrianto
JURNAL GEOCELEBES Vol 3, No 1: April 2019
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.616 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk memperoleh informasi mengenai posisi dan kondisi perlapisan batuan dasar (bedrock) di sekitar Pantai Lumpue, Kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan dengan menggunakan metode geolistrik resistivitas. Dengan adanya informasi mengenai perlapisan batuan dan kedalaman bedrock, dapat digunakan sebagai informasi pendukung saat melakukan pembangunan, serta memberikan gambaran tentang jenis batuan yang ada di daerah penelitian. Berdasarkan hasil pengukuran 2D geolistrik tahanan jenis konfigurasi Wenner, didapatkan nilai resitivitas berkisar antara 0,91 Ωm – 514 Ωm, dengan bedrock berupa batuan beku trakit dengan kedalaman bervariasi antara 2,5 m – 24 m.