Zafril Imran Azwar, Zafril Imran
Departemen Budidaya Perairan Institut Pertanian Bogor

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

PEMBERIAN EKSTRAK ENZIM KASAR DARI CAIRAN RUMEN DOMBA PADA TEPUNG BUNGKIL KEDELAI LOKAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA Kurniasih, Titin; Fitriliyani, Indira; Azwar, Zafril Imran
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.247-256

Abstract

Kendala utama yang dihadapi dalam upaya pencarian bahan baku lokal sumber protein alternatif untuk mendapatkan pakan yang ekonomis dan efisien antara lain kualitas bahannya yang tidak sebaik tepung ikan dan tepung bungkil kedelai impor. Enzim protease, amylase, dan selulase bermanfaat untuk meningkatkan kecernaan bahan baku yang mengandung protein kompleks, karbohidrat, dan serat yang tinggi. Cairan rumen ternak domba telah dideteksi banyak mengandung enzim yang dapat membantu meningkatkan kecernaan bahan baku nabati. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sumber enzim alamiah yang murah dan tersedia cukup banyak di Indonesia, yaitu cairan rumen domba, untuk menghidrolisis bahan baku tepung bungkil kedelai lokal (TBKL). Penelitian ini terdiri atas dua tahap yaitu in vitro dan in vivo. Penelitian in vitro bertujuan mengevaluasi kadar produk hidrolisis yang dihasilkan setelah TBKL diinkubasi dengan ekstrak enzim kasar dari cairan rumen domba (EEK CRD) dengan dosis 0, 200, 400, 600, dan 800 mL/kg TBKL, dan hasilnya adalah bahwa kadar total gula dan protein terlarut pada TBKL terhidrolisis meningkat apabila konsentrasi EEK CRD bertambah. Penelitian in vivo bertujuan menguji pemakaian TBKL yang telah dihidrolisis dengan dosis yang terpilih (dosis 800 mL EEK CRD/kg TBKL) dalam formulasi pakan ikan nila dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Ikan uji adalah nila berukuran rata-rata 2,48 ± 0,0183 g per ekor, dan dipelihara di 15 akuarium berukuran 50 cm x 60 cm x 50 cm yang diisi masing-masing 10 ekor selama 40 hari percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan TBKL terhidrolisis dalam formulasi pakan menghasilkan peningkatan signifikan (P<0,05) pada parameter efisiensi pakan dibandingkan pakan kontrolnya, tetapi tidak signifikan (P>0,05) untuk parameter laju pertumbuhan, konsumsi pakan, retensi protein, dan retensi lemak. Tidak ada perbedaan signifikan (P>0,05) untuk tingkat sintasan di antara kelima perlakuan. EEK CRD dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan melalui predigestion terhadap nutrien protein kompleks dan karbohidrat dalam suatu bahan.
PENGARUH SISTEM PERGANTIAN AIR YANG BERBEDA PADA PEMELIHARAAN BENIH IKAN BETUTU (Oxyeleotris marmorata Blkr.) Taufik, Imam; Azwar, Zafril Imran; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.53-61

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui sistem pergantian air yang paling baik pada pemeliharaan benih ikan betutu. Wadah penelitian: 12 unit bak kayu berlapis plastik (1,9m x 0,8m x 0,5m) diisi air 500 L, ditempatkan dalam ruang terlindung dan dilengkapi dengan aerasi. Hewan uji: benih ikan betutu ukuran bobot 0,96±0,08 g/ekor, padat tebar 1 ekor/5 liter air, diberi pakan alami secara berlebih dengan waktu pemeliharaan selama 12 minggu. Perlakuan berupa perbedaan sistem pergantian air: (a) resirkulasi, (b) semi-statis, dan (c) continous flow. Parameter yang diukur: sintasan, pertumbuhan, dan produktivitas benih ikan betutu serta sifat fisika-kimia air pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergantian air dengan sistem resirkulasi memberikan sintasan yang paling baik terhadap benih ikan betutu (33,0%) dibanding continous flow (28,3%) dan berbeda nyata (P<0,05) dengan sistem semi-statis (21,3%). Laju pertumbuhan spesifik benih ikan betutu antara perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai secara berturut-turut sebesar: 1,41%; 1,31%; dan 1,50%.The aim of this experiment is to obtain the information on survival rate and growth of sand goby fries. The experiment was conducted at research station CibalagungBogor. Twelve container of 1.9m x 0.8m x 0.5m were used in this experiment, each container was stocked with 1 fish/5L of sand goby fry with 0.96±0.08 gram weight. Three different water exchange were aplied i.e (a) recirculation, (b) semi static, and (c) continous flow. Each treatment was done in three replicates. The result showed that the recirculation gave the best result on survival rate (33.0%) compared with continous flow (28.3%) and significantly different from semi static (21.3%).
PEMANFAATAN MAGGOT SEBAGAI PENGGANTI TEPUNG IKAN DALAM PAKAN BUATAN UNTUK BENIH IKAN BALASHARK (Balanthiocheilus melanopterus Bleeker) Priyadi, Agus; Azwar, Zafril Imran; Subamia, I Wayan; Hem, Saurin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.367-375

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi sumber protein tepung ikan dengan tepung maggot telah diteliti terhadap ikan hias balashark. Sebanyak 1.500 ekor benih ikan balashark dengan bobot awal rata-rata 2,26 ± 0,08 g dan panjang 5,18 ± 0,06 cm ditebar dalam 15 unit bak tembok berukuran 1,2 m x 0,7 m x 0,5 m, sistem resirkulasi dan dilengkapi aerasi dengan padat penebaran 100 ekor/bak dan dipelihara selama 60 hari. Pakan buatan dengan perbedaan substitusi maggot terhadap tepung ikan sebagai pengganti protein diberikan sebagai perlakuan yaitu (a) 0%; (b) 10%; (c) 20%; (d) 30%; dan (e) 40% maggot substitusi. Perlakuan substitusi maggot nyata mempengaruhi (P<0,05) pertambahan bobot, panjang total, pertumbuhan spesifik, retensi protein, dan rasio efisiensi protein. Substitusi maggot hingga level 16,47% memberikan respons terbaik terhadap penampilan tumbuh benih ikan balashark.The objective of this research was to study the effect of maggot meal as an alternative protein source to partially substitute fish meal in artificial feed for balashark fry. This research was conducted at the Research Institute for Ornamental Fish in Depok, West Java. Fifteen concrete tanks each of 1.2 m x 0.7 m x 0.5 m, provided with aerated recirculation water system, were used as culture tanks. Balashark fry averaging 2.26±0.08 g in body weight and 5.18±0.06 cm in body length were stocked into the tanks at a density of 100 fries per tank. The dietary treatments tested were five different levels of maggot meal, namely: (a) 0% substitution; (b) 10% substitution; (c) 20% substitution; 30% substitution, and e) 40% substitution. Feeding of the fries lasted for 60 days. Results of the research showed that, based on body weight gain, total body length, specific growth rate, protein retention, protein efficiency ratio, and lipid retention, the effect of maggot meal to substitute for fish meal was significant (P<0.05). The best growth performance of the balashark fries was achieved by the feed containing maggot meal substitution for fish meal of 16.47%.
ISOLASI, SELEKSI, DAN IDENTIFIKASI BAKTERI DARI SALURAN PENCERNAAN IKAN LELE SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK Kurniasih, Titin; Widanarni, Widanarni; Mulyasari, Mulyasari; Melati, Irma; Azwar, Zafril Imran; Lusiastuti, Angela Mariana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.8.2.2013.277-286

Abstract

Penambahan probiotik pada pakan telah banyak diaplikasikan pada kegiatan akuakultur dan terbukti bermanfaat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan. Probiotik yang ditujukan untuk membantu meningkatkan aktivitas pencernaan dalam saluran pencernaan ikan, akan lebih baik apabila diisolasi dari saluran pencernaan ikan itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bakteri probiotik dari saluran pencernaan ikan lele, mengisolasi, menyeleksi, serta mengidentifikasi bakteri yang didapatkan. Lambung dan usus lele, digerus dan diencerkan, kemudian dikultur dengan teknik cawan sebar. Koloni yang didapat dimurnikan dan diseleksi dengan uji zona hidrolisis protein dan uji patogenisitas, dan diidentifikasi secara biokimiawi dan molekuler. Tahap isolasi mendapatkan 10 isolat, tahap uji zona hidrolisis protein mendapatkan 4 isolat dengan zona hidrolisis tertinggi, sedangkan uji patogenisitas hanya meloloskan 2 isolat, yaitu A1 dan L1. Hasil uji identifikasi biokimiawi dan molekuler menunjukkan bahwa isolat A1 adalah Staphylococcus epidermidis dan L1 adalah Bacillus cereus. Bacillus cereus merupakan spesies yang sebagian besar anggotanya merupakan probiotik bagi hewan darat dan ikan, dengan demikian dari penelitian ini didapatkan bahwa Bacillus cereus merupakan kandidat bakteri yang berpeluang untuk dijadikan probiotik.
PENGARUH FERMENTASI MENGGUNAKAN Trichoderma viride DAN Phanerochaete chrysosporium SERTA GABUNGAN KEDUANYA TERHADAP KOMPOSISI NUTRIEN TEPUNG JAGUNG SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN Melati, Irma; Mulyasari, Mulyasari; Azwar, Zafril Imran
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (April 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.7.1.2012.41-47

Abstract

Ketergantungan dunia akuakultur terhadap bungkil kedelai sangat besar. Dalam formulasi pakan ikan pemakaian bungkil kedelai bisa mencapai 30%. Padahal hampir sebagian besar bungkil kedelai masih mengandalkan impor sehingga harga pakan ikan mahal. Jagung berpotensi sebagai alternatif pengganti bungkil kedelai. Kendala yang dihadapi dalam pemanfaatannya sebagai bahan baku pakan adalah masih rendahnya nilai nutrien jagung dibandingkan bungkil kedelai. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh fermentasi menggunakan Trichoderma viride dan Phanerochaete chrysosporium serta gabungan keduanya (1:1) terhadap komposisi nutrien tepung jagung. Proses fermentasi dilakukan selama lima hari dengan dosis 10% (v/b) dan diinkubasi pada suhu ruang (30oC). Parameter yang diukur yaitu kadar nutrien tepung jagung meliputi kadar air, protein, lemak, abu serat kasar, dan BETN. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan T. viride, P. chrysosporium, dan gabungan keduanya sangat mempengaruhi nilai nutrien tepung jagung yaitu peningkatan kadar protein (54,18%-131,45%); lemak (25,18%-228,58%); dan abu (1,61%-2,31%); serta penurunan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Peningkatan protein paling tinggi diperoleh pada tepung jagung yang difermentasi menggunakan gabungan T. viride dan Phanerochaete chrysosporium yaitu sebesar 131,45% (dari 7,25% menjadi 16,78%).
EVALUASI PEMANFAATAN PAKAN DENGAN SUMBER KARBOHIDRAT BERBEDA UNTUK PERTUMBUHAN BENIH IKAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal) Suhenda, Ningrum; Azwar, Zafril Imran; Sulhi, M.; Moreau, Y.
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.171-179

Abstract

Penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi pemanfaatan beberapa sumber karbohidrat sebagai upaya penghematan penggunaan protein pada benih ikan patin jambal.  Benih ikan patin jambal dengan bobot awal rata-rata 4,95 gram ditebar dalam akuarium volume 100 liter dengan padat penebaran 50 ekor/akuarium.  Akuarium dilengkapi dengan sistem resirkulasi dan water heater dengan debit air 4 liter/menit.  Ikan uji diberi pakan selama 4 minggu.  Sebagai pakan uji yaitu pakan tanpa penambahan sumber karbohidrat, dan dengan penambahan tepung jagung, tapioka, dedak padi, dan terigu sebagai sumber karbohidrat. Ransum harian diatur agar tiap pakan ikan uji dapat memasok 17 g protein/kg ikan/hari; 9,0 g lemak/kg ikan/hari dan 24 g pati/kg ikan /hari kecuali untuk pakan tanpa penambahan karbohidrat 15 g protein/kg ikan/hari, 7 g lemak/kg ikan/hari dan 8 g pati/kg ikan/hari.  Pakan diberikan dalam bentuk remah, 3 kali per hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan tanpa sumber karbohidrat dan dengan sumber karbohidrat berbeda memberikan hasil yang berbeda nyata (P<0,05) untuk semua parameter yang diuji kecuali untuk nilai retensi protein.  Nilai retensi protein untuk semua perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05).  Nilai konversi pakan terbaik (0,8) diperoleh pada pakan tanpa penambahan karbohidrat dan selanjutnya diikuti oleh tepung jagung (1,1), tapioka (1,2), terigu (1,2), dan dedak  padi (1,3).  Retensi lemak terendah (28,3%) diperoleh untuk tepung jagung dan nilainya tidak berbeda nyata dengan dedak padi (30,6%) serta tertinggi (42%) untuk terigu.  Bobot rata-rata pada akhir penelitian yang tertinggi diperoleh pada pakan dengan penambahan tepung jagung yaitu 15,7 g tetapi tidak berbeda dengan dedak padi (15,3 g). Demikian pula dengan nilai laju pertumbuhan spesifik tubuh diperoleh pada pakan dengan tepung jagung (4,1%).  Nilai laju pertumbuhan spesifik protein yang terendah (4,7%) diperoleh pada pakan tanpa penambahan sumber karbohidrat, untuk tepung jagung (4,9%), dedak padi (5,2%) sedangkan untuk tapioka dan terigu sama nilainya yaitu 5%.  Berdasarkan data yang diperoleh ternyata benih patin jambal dapat memanfaatkan karbohidrat dengan baik untuk mendukung pertumbuhan dan sintasannya. ABSTRACT:     Evaluation of feed utilization by different carbohydrate sources on the growth of Asian catfish (Pangasius djambal), By: Ningrum Suhenda, Zafril Imran Azwar, M. Sulhi, and Y.MoreauCarbohydrates are least expensive nutrient of dietary energy both for human and domestic animals but their utilization by fish varies by species.  The study was conducted to evaluate the utilization of some sources of carbohydrate in Pangasius djambal.  Fifty fingerling average 4.95 g individual body weight were stocked in each of 15 aquaria filled with 100 liters of water.  Water was recycled using a closed system and each aquaria was equipped with water heater.  The fish were fed daily for four weeks with diets containing different carbohydrate sources such as corn meal, cassava meal, rice bran, and wheat flour. The daily nutrients allowance were the same for all diets.  7 g protein kg-1. day-1, 9.0 g fat kg-1.day-1, and 24 g NFE kg-1.day-1 except for non carbohydrate source diet the NFE allowance was 8 g  kg-1.day-1. The feed was given in crumble form three times a day at 8.00; 12.00; and 16.00 hours. There were significant differences (P < 0.05) among treatments for all parameters except for protein retention. The protein retention were not significant different (P > 0.05) among treatments.  Pangasius djambal fed with non carbohydrate source diet reach the best feed conversion ratio (0.8) and are followed by corn meal  (1.1), cassava meal (1.2), wheat flour (1.2), and rice bran (1.3).  The average final body weight for corn meal diet (15.7 g) and rice bran (15.3 g) and  these values were higher than those for another diets. The lowest fat retention (28.3%) was found for corn meal diet and the highest (42%) was reach by wheat flour diet.  Body specific growth rate for corn meal diet (4.1%) and for rice bran diet (4.0%).  These values were higher than another diets.  Based on the observed data, carbohydrates were well utilized by P. djambal fingerlings for their growth and survival rates.
PERBAIKAN KUALITAS PAKAN DAN KINERJA PERTUMBUHAN IKAN NILA DENGAN PENAMBAHAN ENZIM PROTEASE BAKTERI PADA PAKAN FORMULASI Kurniasih, Titin; Utomo, Nur Bambang Priyo; Azwar, Zafril Imran; Mulyasari, Mulyasari; Melati, Irma
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.87-96

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pemberian enzim protease bakteri pada pakan formulasi terhadap kecernaan nutrien, efisiensi pakan, dan pertumbuhan ikan nila. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu pakan formulasi kontrol tanpa penambahan enzim (FK 28), pakan formulasi yang ditambah enzim protease yang diproduksi oleh bakteri Bacillus cereus (FBc), pakan formulasi yang diberi enzim protease yang diproduksi oleh bakteri Staphylococcus epidermidis (FSe), pakan komersial berkadar protein 28% (KK 28), dan pakan komersial berkadar protein 31% (KK 31). Penelitian menggunakan ikan nila berukuran awal 4,07±0,25 g, dilakukan pada 15 buah akuarium berukuran 60 cm x 50 cm x 50 cm yang dilengkapi sistem resirkulasi selama enam puluh hari pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian enzim protease bakteri Bacillus cereus secara signifikan mampu meningkatkan efisiensi pakan dan pertumbuhan ikan nila dibandingkan dengan pakan kontrol. Kecernaan protein dan total pakan meningkat secara signifikan dengan adanya penambahan enzim protease bakteri Staphylococcus epidermidis dan Bacillus cereus. Penambahan enzim bakteri Staphylococcus epidermidis dan Bacillus cereus juga secara nyata meningkatkan retensi protein dan palatabilitas pakan formulasi. Sintasan tidak berbeda nyata di antara kelima perlakuan. Diperoleh kesimpulan bahwa enzim protease kedua bakteri tersebut efektif untuk meningkatkan kualitas pakan dan kinerja pertumbuhan ikan nila.
PENGARUH SUPLEMENTASI ASKORBIL FOSFAT MAGNESIUM SEBAGAI SUMBER VITAMIN C DALAM PAKAN TERHADAP REPRODUKSI INDUK IKAN GURAME, (Osphronemus gouramy Lac) Setijaningsih, Lies; Azwar, Zafril Imran; Nugroho, Estu; Sulhi, Muhammad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.1.3.2006.437-445

Abstract

Penelitan yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi askorbil fosfat magnesium sebagai sumber vitamin c terhadap reproduksi induk ikan gurame
ISOLASI DAN SELEKSI BAKTERI SALURAN PENCERNAAN IKAN LELE SEBAGAI UPAYA MENDAPATKAN KANDIDAT PROBIOTIK UNTUK EFISIENSI PAKAN IKAN Kurniasih, Titin; Lusiastuti, Angela Mariana; Azwar, Zafril Imran; Melati, Irma
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.9.1.2014.99-109

Abstract

Bakteri yang diisolasi dari saluran pencernaan yang mempunyai aktivitas amilolitik (mencerna karbohidrat), proteolitik (mencerna protein), dan lipolitik (mencerna lemak) dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya cerna bahan pakan. Penelitian ini bertujuan mendapatkan bakteri dari saluran pencernaan ikan lele yang memiliki aktivitas amilolitik, proteolitik, dan lipolitik serta berpotensi menjadi probiotik pakan. Tahapan penelitian meliputi kultur dan isolasi bakteri pada media universal dengan penambahan pati, kasein, dan minyak zaitun masing-masing sebanyak 2%, dilanjutkan dengan uji hidrolisis karbohidrat (pati), protein (kasein), dan lemak (minyak zaitun). Hasilnya didapatkan dua isolat dari kelompok bakteri proteolitik, dua isolat dari kelompok amilolitik dan tiga isolat dari kelompok lipolitik. Kandidat bakteri probiotik tersebut berasal dari genus Staphylococcus, Micrococcus, Corynebacterium, Bacillus, Lactobacillus, Aerococcus, dan Streptococcus.
FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN DAN TEKNOLOGI PRODUKSI IKAN BETUTU ( Oxyeleotris marmorata Blkr) DENGAN SISTEM TERKONTROL Azwar, Zafril Imran; Melati, Irma
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.6.3.2011.447-456

Abstract

Suatu percobaan untuk memperbaiki sintasan ikan betutu fase “Growth out” telah dilakukan di Laboratorium Basah Balai Riset Perikanan Budidaya Ar Tawar, Bogor. Wadah percobaan yang digunakan adalah fiber glass berdiameter 1,5 m dan ketinggian 0,5 m. Wadah dirancang sistem resirkulasi, melalui bak stok air (2,5 m3) dan bak pemanasan air (0,6 m3), kemudian pada masing-masing wadah pemeliharaan dirancang biofilter yang berfungsi membersihkan air. Air dari bak stok, dialirkan ke dalam bak pemanasan, kemudian didistribusikan ke wadah pemeliharaan (6 unit) secara gravitasi. Dengan adanya sistem pemanasan suhu air dalam bak pemeliharaan dipertahankan 28oC-29oC. Pada masing-masing bak ditebar 25 ekor ikan betutu ukuran sekitar 40±3,7 g. Sebagai perlakuan dalam percoban ini adalah frekuensi pemberian pakan yaitu pemberian 2 kali (pukul 08.00 dan 16.00); 3 kali (pukul 08.00, 12.00, dan 16.00); dan 4 kali (pukul 08.00, 12.00, 16.00, dan 20.00). Percobaan dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok, dan terdiri atas tiga kelompok periode waktu sebagai ulangan (blok). Setiap periode percobaan dilaksanakan selama 60 hari. Pakan yang digunakan dalam percobaan adalah ikan rucah, Tubifex beku, dan diberikan dengan prinsip dikenyangkan (ad satiasi). Parameter yang dievaluasi adalah penambahan bobot badan, laju pertumbuhan spesifik, dan sintasan. Sebagai parameter penunjang adalah laju pengosongan lambung dan usus, serta profil enzim protease pada usus. Untuk mendapatkan data ini dilakukan percobaan terpisah, dengan menggunakan ikan berbobot sekitar 40 g sebanyak 60 ekor. Ikan diberi pakan hingga kenyang, kemudian dilakukan sampling setiap 30 menit, isi organ pecernaan diamati dan ditimbang, juga dilakukan pengamatan enzim protease. Hasil percobaan memperlihatkan, bahwa laju pertumbuhan spesifik dan penambahan bobot tertinggi dicapai pada pemberian pakan 2 kali/hari. Lambung ikan betutu akan kosong setelah 6 jam dari saat pemberian pakan, sedangkan profil enzim protease memperlihatkan pola yang sejalan dengan laju pengosongan lambung.