Rosmaini Rosmaini, Rosmaini
Program Studi Pendididikan Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP KEMAMPUAN MEMPRODUKSI TEKS PROSEDUR KOMPLEKS OLEH SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 LIMA PULUH TAHUN PEMBELAJARAN 2014/2015

Basastra Vol 4, No 1 (2015): basastra
Publisher : Basastra

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhpendekatansaintifikdalammeningkatkan kemampuan memproduksiteks prosedur kompleks. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Lima Puluh dengan jumlah 250 siswa. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 34 siswa yang diambil dengan teknik random sampling. Instrumen yang digunakan untuk menjaring data tes tertulis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, tepatnya Quasi eksperimen. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji “t”.Dari pengolahan data, diperolehnilai rata-rata pre-test = 64,26,standardeviasi = 9,08, digolongkanpadakategorisangatbaik = 2,9%, kategoribaik 17,64%, kategoricukup = 41,17 %, kategorikurang = 20,5% dankategorisangatkurang = 15%. Nilai rata-rata post-test = 76,61, standardeviasi = 10,69 dandikategorikanpadakategorisangatbaik = 22,5%, baik = 42,5%, cukup = 27,5 % dankurang =17,6%. Berdasarkanujinormalitas, hasilpre-testdanpost-testdinyatakanberdistribusi normal. Setelahujinormalitasdanujihomogenitasdilakukan, makadiketahui t0sebesar 5,08. Selanjutnya t0tersebutdikonsultasikandengantabel t padatarafsignifikansi 5% dengandf= N-1, yakni 34-1=33. Dari df 33 diperolehtarafsignifikansi 5% = 2,03. Dengandemikianthitung>ttabel, yakni 5,08 > 2,03 dengandemikianhipotesisalternatif (Ha) diterima.Dengandemikian, dapatdisimpulkanbahwaPendekatanSaintifikberpengaruhpositifterhadapkemampuanmemproduksiteksprosedur komplekspadasiswakelas X SMA Negeri 1 Lima Puluhtahunpembelajaran 2014/2015. Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi para pelaksana dan penyelenggara pendidikan khususnya pada tingkat Sekolah Menengah Atas pada kelas X, guru, kepala sekolah, dan peneliti lainnya. Kata kunci :pendekatansaintifik, teks rosedur kompleks.

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) TERHADAP KEMAMPUAN MEMPRODUKSI TEKS NEGOSIASI SISWA KELAS X SMA NEGERI 20 MEDAN TAHUN PEMBELAJARAN 2014/2015

Basastra Vol 4, No 1 (2015): basastra
Publisher : Basastra

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran penemuan (discovery learning) terhadap kemampuan memproduksi teks negosiasi siswa kelas X SMA Negeri 20 Medan tahun ajaran  2014/2015 yang berjumlah 33 orang. Sampel penelitian ini adalah sampel yang ditetapkan dari sebagian jumlah populasi yang ada, yaitu sebanyak 158 orang.Penelitian ini bersifat eksperimen dengan model one group pre-test and post-test design. Dari pengolahan data diperoleh hasil pre-test dengan rata-rata 65,24, standar deviasi 6,94, dengan kategori sangat baik 0%, kategori baik 30,30%, berkategori cukup 45,45%, berkategori kurang 24,24%, dan berkategori sangat kurang 0%. Sedangkan  hasil post-test diperoleh rata-rata 81,33, standar deviasi 8,96, dengan berkategori sangat baik 66,66%,kategori baik 27,27 %, kategori cukup 12,12%, berkategori kurang 0%, dan kategori sangat kurang 0%. Dari uji homogenitas didapat bahwa sampel penelitian ini berasal dari populasi yang homogen. Setelah uji normalitas dan homogenitas, didapat t0sebesar 8,58. Setelah t0 diketahui kemudian dikonsultasikan dengan ttabel pada taraf signifikansi 5% dengan df= N-1= (33-1)=32, dari df 32 diperoleh taraf signifikan 5%=2,03, karena to yang diperoleh lebih besar dari ttabel, yaitu 8,58 >2,03 maka hipotesis alternatif (ha) diterima.Berdasarkan analisis data di atas dapat disimpulkan Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)berpengaruh positif Terhadap Kemampuan Memproduksi   Teks Negosiasi Siswa Kelas X SMA Negeri 20  Medan Tahun Ajaran  2014/2015. Kata kunci :  Model Discovery Learning, memproduksiteks negosiasi.

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

BAHAS Vol 20, No 1 (2010): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang guru yang profesional harus memiliki minimal empat kompetensi, yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi profesional. Salah satu kompetensi yang  harus dikuasai guru adalah pedagogik. Dalam kompetensi ini guru harus mengetahui  berbagai teori tentang belajar dan pembelajaran, sebab teori inilah yang sering memberikan landasan bagi pendekatan dan metodologi mengajar. Dengan kata lain, pendidik adalah agen pembelajaran (learning agent) yang berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, dan perekayasa pembelajaran. Untuk itu pendidik harus mampu mengaplikasikan berbagai pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang inovatif untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang maksimal.  

PENERAPAN MODEL MIND MAPPING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS

BAHAS No 75TH XXXVI (2009): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kendala yang dihadapi pembelajar pada saat menyusun makalah, laporan, maupun  skripsi bagi mahasiswa adalah bagaimana menuangkan ide yang ada di kepala dalam bentuk tulisan  yang baik, runtut, logis, dan koheren. Inti dari semua itu adalah kemampuan penggunaan bahasa Indonesia melalui sarana tulis yang merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Keterampilan menulis ini dapat diajarkan dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah dengan pemetaan pikiran (mind mapping) yang dimulai dari menulis ide pokok di tengah lembar kertas, kemudian dikembangkan menjadi cabang-cabang pemikiran ke segala arah. Pemetaan pikiran ini dapat membantu pembelajar  dalam menemukan, mengorganisasikan, dan menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Permasalahan yang muncul adalah “bagaimana langkah-langkah pembelajaran yang ditempuh pembelajar dalam menulis dengan model mind mapping sehingga mencapai hasil maksimal?” Terkait dengan permasalahan tersebut, Hernowo (2003) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran menulis dengan model mind mapping sebagai berikut. (1) Pengembangan intuisi. Intuisi merupakan kemampuan memahami sesuatu tanpa dipelajari. Pengembangan intuisi ini dilakukan dengan pembuatan peta pikiran. Langkah-langkahnya adalah (a) menulis gagasan utama di tengah-tengah kertas, (b) menambahkan sebuah cabang yang keluar dari pusatnya untuk setiap gagasan utama. (c) menulis kata kunci pada tiap-tiap cabang yang dikembangkan lebih detail, dan (d) menambahkan simbol-simbol dan ilustrasi untuk mendapatkan ingatan yang lebih baik (DePorter, 2005). (2) Berlatih menulis. Pelatihan menulis ini dilakukan berdasarkan peta pikiran yang dibuat secara spontan. Proses penulisannya dilakukan secara cepat tanpa berhenti atau memperbaiki tulisan tersebut. (3) Tahap setelah menulis. Pada tahap ini dilakukan pengoreksian tulisan. Koreksi bisa dilakukan oleh diri sendiri ataupun orang lain untuk mendapatkan masukan secara objektif. Langkah-langkah tersebut akan menuntun pembelajar menghasilkan tulisan dengan organisasi yang sistematis.   Kata Kunci : Mind Mapping

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

BAHAS Vol 19, No 1 (2010): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang guru yang profesional harus memiliki minimal empat kompetensi, yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi profesional. Salah satu kompetensi yang  harus dikuasai guru adalah pedagogik. Dalam kompetensi ini guru harus mengetahui  berbagai teori tentang belajar dan pembelajaran, sebab teori inilah yang sering memberikan landasan bagi pendekatan dan metodologi mengajar. Dengan kata lain, pendidik adalah agen pembelajaran (learning agent) yang berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, dan perekayasa pembelajaran. Untuk itu pendidik harus mampu mengaplikasikan berbagai pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang inovatif untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang maksimal.   Kata kunci: Pembelajaran Inovatif

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

BAHAS Vol 19, No 1 (2010): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Seorang guru yang profesional harus memiliki minimal empat kompetensi, yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi profesional. Salah satu kompetensi yang  harus dikuasai guru adalah pedagogik. Dalam kompetensi ini guru harus mengetahui  berbagai teori tentang belajar dan pembelajaran, sebab teori inilah yang sering memberikan landasan bagi pendekatan dan metodologi mengajar. Dengan kata lain, pendidik adalah agen pembelajaran (learning agent) yang berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, dan perekayasa pembelajaran. Untuk itu pendidik harus mampu mengaplikasikan berbagai pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang inovatif untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang maksimal.   Kata kunci: Pembelajaran Inovatif

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar PPKn dan Pembentukan Karakter Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Siswa Kelas I Madrasah Ibtidaiyah Swasta Teladan GUPPI Kota Tebing Tinggi Tahun Pelajaran 2014/2015

TABULARASA Vol 12, No 2 (2015): Jurnal TABULARASA
Publisher : TABULARASA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar PPKn dan karakter siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Metode penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas, jumlah subjek adalah sebanyak 30 siswa yang berasal dari siswa kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah Swasta Teladan GUPPI Kota Tebing Tinggi Tahun Akademi 2014/2015. Penulis melakukan pengumpulan data dengan cara melakukan observasi terhadap kegiatan guru dan siswa, tes hasil belajar siswa serta angket. Dari hasil penelitian berupa kegiatan awal, kegiatan lanjutan (siklus I ) dan Siklus II ternyata penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada pembelajaran tema 5 “Pengalamanku” sub tema 1 ”Pengalaman masa kecil” dapat meningkatkan hasil belajar PPKn siswa. Hal itu diketahui dari hasil penilaian yang sudah dilaksanakan oleh peneliti yang dilakukan selama 2 siklus. Pada siklus 1 perolehan nilai rata-rata pada observasi (ranah afektif) untuk kegiatan guru sebesar 72,73 dan 89,77% pada siklus 2 dan untuk kegiatan siswa sebesar 74,67% pada siklus 1 dan menjadi 86,59% pada siklus 2. Ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus 1 adalah 71,67% dan pada siklus 2 95,0%. Hasil perolehan rata-rata angket karakter siswa adalah 76,08% (kategori cukup) pada siklus 1 dan 87,33% (kategori baik) pada siklus 2. Berdasarkan data hasil belajar menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada pembelajaran tema 5 “Pengalamanku” sub tema 1 ”Pengalaman masa kecil” dapat meningkatkan hasil belajar PPKn dan karakter siswa.

KETERAMPILAN LITERASI UNTUK MENINGKATKAN BUDAYA SUKA BACA DI SEKOLAH AMALIA

JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 23, No 4 (2017): OKTOBER - DESEMBER
Publisher : LPM Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHampir 70% siswa kelas satu dan dua di sekolah Amalia kemampuan membacanya rendah. Dan lebih dari 50% siswa kelas tiga keterampilan membaca khusunya membaca pemahaman juga masih rendah. Tak jauh berbeda dengan keterampilan membaca,, lebih dari 70% siswa kelas tiga memiliki kemampuan mengarang rendah. Begitu juga dengan TK Amalia lebih dari 50% siswanya belum memiliki kemampuan dan keterampilan membaca yang baik, dan kesadaran fonologis yang masih rendah. Peran serta guru dalam mengikuti pelathan-pelatihan yang bertujuan meningkatkan sumber daya juga masih rendah. Sekolah jarang diundang untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh dinas setempat.Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran khusunya keterampilan literasi. Dengan kegiatan tersebut, dapat menumbuhkan minat membaca dan budaya suka baca pada siswa SD dan TK di Sekolah Amalia.Kata kunci : keterampilan literasi, mini book, minat membacaAbstractAlmost 70% of first and second graders at Amalias school have a low reading ability. And more than 50% of students of grade 3 reading skills especially reading comprehension are still low. Not much different from reading skills, more than 70% of third graders have low writing skills. Likewise with Amalia kindergarten more than 50% of students do not have the ability and good reading skills, and phonological awareness is still low. Participation of teachers in follow-training training aimed at improving resources is also low. Schools are rarely invited to attend trainings organized by local agencies. Therefore it is necessary to do activities that can improve the understanding and skills of teachers in conducting learning innovations especially literacy skills. With these activities, can foster interest in reading and reading culture in elementary and kindergarten students at Amalia School.Keywords: literacy skills, mini book, reading interest

PENERAPAN MODEL MIND MAPPING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS

BAHAS No 75TH XXXVI (2009): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kendala yang dihadapi pembelajar pada saat menyusun makalah, laporan, maupun  skripsi bagi mahasiswa adalah bagaimana menuangkan ide yang ada di kepala dalam bentuk tulisan  yang baik, runtut, logis, dan koheren. Inti dari semua itu adalah kemampuan penggunaan bahasa Indonesia melalui sarana tulis yang merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Keterampilan menulis ini dapat diajarkan dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah dengan pemetaan pikiran (mind mapping) yang dimulai dari menulis ide pokok di tengah lembar kertas, kemudian dikembangkan menjadi cabang-cabang pemikiran ke segala arah. Pemetaan pikiran ini dapat membantu pembelajar  dalam menemukan, mengorganisasikan, dan menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Permasalahan yang muncul adalah “bagaimana langkah-langkah pembelajaran yang ditempuh pembelajar dalam menulis dengan model mind mapping sehingga mencapai hasil maksimal?” Terkait dengan permasalahan tersebut, Hernowo (2003) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran menulis dengan model mind mapping sebagai berikut. (1) Pengembangan intuisi. Intuisi merupakan kemampuan memahami sesuatu tanpa dipelajari. Pengembangan intuisi ini dilakukan dengan pembuatan peta pikiran. Langkah-langkahnya adalah (a) menulis gagasan utama di tengah-tengah kertas, (b) menambahkan sebuah cabang yang keluar dari pusatnya untuk setiap gagasan utama. (c) menulis kata kunci pada tiap-tiap cabang yang dikembangkan lebih detail, dan (d) menambahkan simbol-simbol dan ilustrasi untuk mendapatkan ingatan yang lebih baik (DePorter, 2005). (2) Berlatih menulis. Pelatihan menulis ini dilakukan berdasarkan peta pikiran yang dibuat secara spontan. Proses penulisannya dilakukan secara cepat tanpa berhenti atau memperbaiki tulisan tersebut. (3) Tahap setelah menulis. Pada tahap ini dilakukan pengoreksian tulisan. Koreksi bisa dilakukan oleh diri sendiri ataupun orang lain untuk mendapatkan masukan secara objektif. Langkah-langkah tersebut akan menuntun pembelajar menghasilkan tulisan dengan organisasi yang sistematis.   Kata Kunci : Mind Mapping

MEMBACA BERIMBANG DALAM MENINGKATKAN MINAT MEMBACA SISWA SEKOLAH DASAR DI KOTA MEDAN

JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 24, No 1 (2018): JANUARI - MARET
Publisher : LPM Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHampir 90% siswa kelas rendah terutama kelas satu dan dua di SDN 066055 belum mampu membaca dengan baik dan lebih dari 50% siswa kelas tiga belum paham dengan apa yang dibacanya. Sementara kemampuan membaca siswa di SD IT Ulul Ilmi lebih baik dibanding SDN 066055, hampir 90% siswa kelas satu dan duanya mampu membaca dan lebih dari 50% siswa kelas tiganya paham dengan apa yang dibacanya. Namun strategi guru dalam mengajarkan membaca pada kedua sekolah tersebut masih konvensional. Dimana guru masih mengajarkan membaca dengan cara mengeja, abjad, suku kata tanpa ada variasi. Kemampuan anak juga berbeda-beda, ada anak yang mampu membaca tapi tidak paham dengan apa yang dibacanya. Bahkan ada anak yang belum mampu membaca dalam makna yang sebenarnya. Perbedaan kemampuan anak ini mengakibatkan perlunya pendekatan yang berbeda pula. Minimnya pengetahuan guru tentang teknik pengajaran membaca mengakibatkan banyak anak hanya mampu membaca dalam artian hanya mengeluarkan bunyi saja. Hal tersebut disebabkan sedikitnya guru yang mempunyai pengalaman dalam pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan inovasi pembelajaran khusunya pembelajaran membaca pada kelas rendah sekolah dasar. Oleh karena itu perlu dilakukan inovasi untuk meningkatkan minat membaca anak, sehingga dapat menumbuhkan sikap positif anak dalam belajar khususnya membaca, dengan mengadakan kegiatan membaca berimbang pada guru-guru SD di kota Medan.Kata Kunci: Membaca berimbang, Minat membaca, Sekolah DasarAbstract Nearly 90% of low grade students, especially first and second grade in SDN 066055 have not been able to read well and more than 50% of third graders have not understood what they read. While students reading ability in SD Ulul Ilmi is better than SDN 066055, almost 90% of first and second graders are able to read and more than 50% of third graders are familiar with what they read. But the teachers strategy in teaching reading on both schools is still conventional. Where teachers still teach reading by spelling, alphabet, syllables without any variation. The ability of children is also different, there are children who are able to read but do not understand what he read. There are even children who have not been able to read in the true meaning. Differences in the ability of these children lead to the need for different approaches. The lack of knowledge of teachers about reading teaching techniques resulted in many children only able to read in the sense that only the sounds. This is due to the lack of teachers who have experience in trainings related to learning innovation, especially reading learning in low grade elementary school. Therefore it is necessary to innovate to increase interest in reading children, so that it can grow a positive attitude of children in learning especially reading, by holding a balanced reading activity in elementary school teachers in the city of Medan. Keywords: Reading balance, reading interest, elementary school