Articles

Found 13 Documents
Search

Pemodelan Tsunami di Sekitar Laut Banda dan Implikasi Inundasi di Daerah Terdampak Rahmawati, Nisrina Ikbar; Santosa, Bagus Jaya; Setyonegoro, Wiko; Sunardi, Bambang
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.032 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25864

Abstract

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 67% tsunami terjadi di Indonesia timur, salah satunya di sekitar laut Banda. Penelitian terbaru membuktikan adanya palung terdalam Indonesia di Laut Banda, yang pernah memicu tsunami besar pada tahun 1674. Oleh karena itu, pemodelan tsunami di wilayah tersebut penting dilakukan sebagai upaya mitigasi tsunami di masa datang. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan sumber, penjalaran dan run-up tsunami di sekitar Laut Banda serta menganalisis inundasi di area terdampak menggunakan software L2008. Pemodelan tsunami dilakukan menggunakan skenario gempabumi 26 Desember 2009 dengan memodifikasi kekuatan menjadi Mw=8.3, kedalaman 33 km dan mekanisme sumber gempabumi ditentukan dengan software ISOLA. Dimensi patahan dan slip diperkirakan menggunakan persamaan empiris dari Papzachos (2004), Hanks and Kanamori (1979) dan Wells & Coppersmith (1984). Analisis inundasi mengacu pada persamaan Hills, J. G. & Mader, C. L., 1997. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan nilai vertical displacement maksimal sekitar 7,7 m, penjalaran tsunami ke segala arah dan  pertama kali memasuki daerah Seram bagian timur pada menit ke 05.40. Run up tertinggi dijumpai di Tual sekitar 7,71 m dan inundasi tsunami berkisar antara 64,18 m di Kepulauan Aru hingga 1.009,49 m di Kota Tual.
An Estimation of Earthquake Impact to Population in Makassar by Probabilistic Approach Sunardi, Bambang; Sulastri, Sulastri
Forum Geografi Vol 30, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.327 KB) | DOI: 10.23917/forgeo.v30i2.2591

Abstract

Makassar is one of Indonesian big cities with rapid growth rate, but not totally safe from earthquake hazard. This condition led study on affected population by earthquakes in this city are important to do. This paper estimated the population of Makassar City threatened by the probabilistic earthquake hazard. In this current study, earthquake hazard in the forms of peak ground acceleration (PGA) and spectral acceleration,  estimated by using Probabilistic Seismic Hazards Analysis (PSHA). The PSHA result then overlaid with administration map and population data to obtain distribution and percentage of population threatened by the probabilistic earthquake hazard. The results showed the smallest value of ground acceleration located in the south-west (Tamalate sub district), further north increased and reached the highest value in the northeast (Biring Kanaya sub district). Both Tamalate and Biringkanaya can be classified as rural area with low population density.  The urban area of Makassar, which is the concentration of population, located in the centre of Makassar, got the middle earthquake hazard.
Variasi Gas Radon dan Aktivitas Kegempaan di Sekitar Patahan Opak Sunardi, Bambang
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2498.195 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v9i1.166

Abstract

Monitoring gas radon di dalam tanah telah dilakukan secara kontinyu selama dua tahun terakhir di sekitar patahan Opak Yogyakarta sebagai salah satu upaya mitigasi bencana gempa. Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi radon dan aktivitas kegempaan yang terjadi di sekitar patahan Opak serta mengeksplorasi munculnya prekursor untuk gempa lokal. Monitoring data radon dilakukan di dua lokasi yaitu di daerah Pundong dan Piyungan, sedangkan aktivitas gempa di sekitar patahan Opak diperoleh dari data repositori gempabumi BMKG.  Eksplorasi anomali radon untuk melihat adanya prekursor gempa dilakukan dengan menerapkan metode korelasi. Anomali radon ditetapkan apabila rasio simpangan koefisien korelasi (Sk) dengan deviasi standar (Ds) lebih kecil dari -1.  Hasil penelitian menunjukkan peningkatan emisi gas radon berkorelasi dengan kenaikan frekuensi kejadian gempa. Penerapan metode korelasi memperlihatkan beberapa anomali radon yang dapat diklasifikasikan sebagai prekursor gempa di sekitar patahan Opak. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat konsistensi hasil monitoring anomali radon dengan kejadian gempa di sekitar patahan Opak.
Analisis Kecepatan Gelombang Geser (Vs) Sebagai Upaya Mitigasi Bencana Gempabumi di Kulonprogo, DIY Susilanto, Pupung; Ngadmanto, Drajat; Sunardi, Bambang; Rohadi, Supriyanto
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.215

Abstract

Posisi Kulonprogo yang berbatasan langsung dengan zona subduksi lempeng Eurasia - IndoAustralia dan keberadaan patahan-patahan lokal menyebabkan sering merasakan dampak guncangan gempabumi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kecepatan gelombang geser (Vs) sebagai salah satu upaya mitigasi bencana gempabumi di Kabupaten Kulonprogo. Nilai Vs dihasilkan dengan pengolahan 28 titik pengukuran Multichannel Analysis of Surface Wave (MASW) yang tersebar di daerah Kulonprogo. Pengolahan data dilakukan dengan membuat kurva yang menghubungkan antara kecepatan fase – frekuensi dan selanjutnya dilakukan picking pada fundamental mode serta dilakukan proses inversi untuk mendapatkan profil kecepatan gelombang geser 1 dimensi (Vs 1D). Hasil Vs 1D digunakan untuk menganalisis tingkat bahaya gempabumi. Analisis dilakukan pada nilai Vs secara spasial dan teknik penampang melintang berdasarkan nilai Vs 1D.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Wates, Panjatan, Galur, dan Temon sisi Utara memiliki tingkat bahaya guncangan gempabumi yang relatif lebih besar daripada daerah lain di Kulonprogo. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut memiliki nilai Vs yang relatif lebih rendah (endapan jenis tanah lunak dan jenis tanah sedang yang cukup tebal) daripada daerah lain di Kab. Kulonprogo.
Anomalious Trends in Electromagnetic As Earthquake Precursors With Related Parameters at the Port Ratu Observatory Prayogo, Angga Setiyo; Sunardi, Bambang
Natural B Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Natural B

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.natural-b.2015.003.01.5

Abstract

Research on electromagnetic anomalies as earthquake precursor was performed in many places and time. Pelabuhan Ratu Observatory. For validation, correlation between anomaly value and time length with earthquake that recorded at Pelabuhan Ratu Geophysical Observatory and have electromagnetic anomaly. Goals of this research were analyze correlation between anomaly pattern value and time length to earthquake magnitud and Rhypo. Data processed by polarization ratio and impedance of electromagnetic at ultra low frequency spectrum, the correlation method using regression and physical analysis between parameter. Data that used was electromagnetic and earthquake data that recorded and perceived at geophysical observatories of Pelabuhan Ratu. Results of electromagnetic anomaly value with magnetic polarization ratio was varies in 0.1 until 9.5, and also time length between 4 until 39 days before earthquake. Value of anomaly with impedance method was varies in 3.01 until 16.1, and also time length between 4 until 32 days before earthquake. In conclusion, known that trend correlation of the appearance of anomalous values and ranges of magnitude and distance Rhypo with magnetic polarization method showed a positive correlation, whereas a negative correlation with the impedance method. Negative correlation also obtained on relationship between Rhypoand magnitude of the span of time and the value of the polarization anomaly 
Analisis Bahaya Kegempaan di Wilayah Malang Menggunakan Pendekatan Probabilistik Purbandini, Pambayun; Santosa, Bagus Jaya; Sunardi, Bambang
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.383 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25221

Abstract

Studi mengenai bahaya kegempaan dilakukan untuk meminimalisasi dampak dari bencana gempabumi di wilayah rawan bencana gempa. Penelitian ini mempresentasikan analisis bahaya kegempaan dengan menggunakan pendekatan probabilistik untuk wilayah Malang, Jawa Timur. Analisis PSHA yang dilakukan yaitu pada T=0 detik (PGA), T=0.2 detik (periode pendek), dan T=1 detik (periode panjang). Digunakan model sumber gempa regional dan persamaan atenuasi standar terpublikasi untuk menghitung percepatan puncak tanah dengan probabilitas 2% dalam 50 tahun di batuan dasar. Software yang digunakan pada analisis ini adalah Crisis 2007. Data gempabumi yang digunakan untuk analisis ini adalah historis gempabumi dari tahun 1900 hingga 2017 dengan kedalaman 0-300 km, magnitudo ≥ 5 Mw, dan batas koordinat 3,6o - 12.65o LS dan 108.2o - 117.2o BT dari katalog gempabumi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia dan Katalog United States Geological Survey (USGS). Hasil menunjukkan rentang nilai percepatan 0.31 – 0.43 g untuk PGA, 0.62 – 0.88 g untuk periode pendek (T = 0.2 detik), dan 0.22 – 0.28 g untuk periode panjang (T = 1 detik). Rentang bahaya wilayah Malang bagian selatan didominasi oleh sumber gempa megathrust dan untuk wilayah Malang bagian utara didominasi oleh sumber gempa fault. Hal ini menunjukkan perbedaan dengan SNI 1726:2012.
Implikasi Sesar Kendeng Terhadap Bahaya Gempa dan Pemodelan Percepatan Tanah di Permukaan di Wilayah Surabaya Harnindra, Vidya Amalia; Sunardi, Bambang; Santosa, Bagus Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.27603

Abstract

Kota Surabaya merupakan ibukota propinsi Jawa Timur Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Surabaya dapat dikategorikan sebagai kota yang cukup padat. Salah satu bahaya gempa di wilayah Surabaya berasal dari sesar Kendeng yang terbukti aktif dengan pergerakan 5 milimeter per tahun. Implikasi sesar kendeng terhadap bahaya gempa di wilayah Surabaya dapat dilakukan salah satunya dengan metode Deterministic Seismic Hazard Analisis (DSHA). Perhitungan bahaya gempa dengan metode DSHA dilakukan menggunakan modifikasi software CRISIS 2007 yang akan menghasilkan percepatan tanah di batuan dasar. Hasil dari DSHA selanjutnya dipergunakan untuk memodelkan percepatan tanah di permukaan pada lokasi (site) yang ditinjau di wilayah Surabaya dengan menggunakan software Nonlinear Earthquake site Response Analyses (NERA). Nilai percepatan tanah di batuan dasar untuk wilayah Surabaya dengan memperhitungkan keberadaan sesar Kendeng memiliki nilai berkisar antara 0.26g - 0.71g. Model percepatan tanah di permukaan untuk lokasi yang ditinjau pada koordinat 112,74830 BT dan 7,2890 LS memiliki nilai maksimum sekitar 0.34g.
KORELASI POLARISASI MAGNET Z/H UNTUK IDENTIFIKASI PREKURSOR GEMPA DI SEKITAR PELABUHAN RATU Ahyar, Asep Saepul; Sunardi, Bambang
Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 2 No 3 (2017): SPEKTRA: Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Volume 2 Nomor 3, Desember 2017
Publisher : Program Studi Fisika Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.092 KB) | DOI: 10.21009/SPEKTRA.023.03

Abstract

Abstrak Efek seismo-elektromagnetik yang berlangsung dalam rentang frekuensi luas yang mendahului gempa telah banyak dilaporkan dalam beberapa penelitian sebelumnya. Efek tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan dalam mitigasi bencana gempa. Penelitian ini membahas penerapan metode korelasi polarisasi magnet komponen Z/H untuk mengidentifikasi prekursor gempa di sekitar Pelabuhan Ratu. Data yang dipergunakan adalah data magnet tiga komponen selama 31 hari sebelum kejadian gempa. Identifikasi  anomali  geomagnet dilakukan  dengan  menerapkan metode korelasi polarisasi magnet Z/H untuk  menghitung  rasio Simpangan koefisien  korelasi (Skk)  dengan  Deviasi  standar  simpangan  koefisien korelasi  (Dskk). Ambang batas anomali adalah -1. Nilai Skk/Dskk < -1 mengindikasikan adanya anomali geomagnet. Kemunculan badai magnetik yang mempengaruhi anomali geomagnet dievaluasi menggunakan Disturbance storm time index (indeks Dst). Hasil penerapan metode korelasi polarisasi magnet Z/H pada lima kasus gempa di sekitar Pelabuhan Ratu dari Januari – Maret 2017 dengan magnitudo M  > 4 dan memenuhi radius zona manisfestasi prekursor menunjukkan kemunculan anomali geomagnet yang dikategorikan sebagai prekursor gempa. Kemunculan anomali geomagnet berkisar antara 16 – 2 hari sebelum gempa terjadi. Kata-kata kunci: korelasi, geomagnet, prekursor gempa, Pelabuhan Ratu. Abstract Seismo-electromagnetic effects occurring in wide frequency range that preceded earthquake have been widely reported in several previous studies. The effect is expected to be utilized in earthquake disaster mitigation. This study discusses application of magnetic polarization correlation method of Z / H component to identify earthquake precursors around Pelabuhan Ratu. Data used are three components magnet data for 31 days before earthquake events. Identification of magnetic anomaly was done by applying the magnetic polarization Z / H method to calculate correlation coefficient ratio (Skk) with standard deviation of correlation coefficient deviation (Dskk). The anomaly threshold is -1. Less than -1 of Skk / Dskk values indicate geomagnetic anomaly. The emergence of geomagnetic storms that affect geomagnetic anomalies is evaluated using the Disturbance storm time index (Dst index). The result of application of Z / H magnet polarization correlation method in five earthquake cases around Pelabuhan Ratu from January to March 2017 with magnitude M > 4 and meeting precursor manifestation radius zone showed the occurrence of geomagnetic anomalies categorized as earthquake precursors. The appearance of geomagnetic anomalies ranged from 16 to 2 days before earthquakes occurred. Keywords: correlation, geomagnetic, earthquake precursor, Pelabuhan Ratu.
ACCELERATION RESPONSE SPECTRUM AND EFFECTIVE DURATION OF LEBAK EARTHQUAKE JANUARY 23, 2018 IN JAKARTA REGION Hiola, Muhammad Fikri Hayqal; Sunardi, Bambang
Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 4 No 1 (2019): SPEKTRA: Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Volume 4 Issue 1, April 2019
Publisher : Program Studi Fisika Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/SPEKTRA.041.03

Abstract

Jakarta is the capital city of Indonesia with a very high population density low to the upper distribution of buildings which causes many areas of Jakarta to have a high vulnerability to natural disasters, one of which is an earthquake. One of the earthquakes felt this year was Lebak Banten Earthquake January 23, 2018, with a magnitude 6.1 at 13.34 local time. The depth of the earthquake was 61 Km at -7.09o S - 106.03o E, in the South Indian Ocean of Java Island. The epicenter was 43 km from Cilangkahan Village, Malingping Sub-district, Lebak District, Banten. We analyze the ground motion characteristics in the Jakarta area using 3 component acceleration data at Jakarta City Hall Office (JAKO) and Tanjung Priok Maritime Station (JATA) with dynamic statistical analysis method. The effective duration and earthquake response spectrum are determined using the acceleration data. In this study, the active period of the earthquake was calculated using the Trifunac and Brady method. The results of the analysis show that the most significant acceleration spectrum at JAKO station is found in component E of 0.07742 g in the period of 0.54 s while for the most significant acceleration spectrum JATA station found in component N of 0.04572 g in the period of 0.58 s. The effective duration obtained at JAKO stations was 56.76 s and JATA station 63.47 s. These results indicate that in the case of the Lebak earthquake, the further region from the epicenter of the earthquake has an effective duration which is relatively longer.
THE ANALYSIS OF SEISMOTECTONICS, PERIODICITY, AND CHANGING OF QUAKES LEVEL IN WEST NUSA TENGGARA AREA BASED ON 1973 – 2015 DATA Istiqomah, Melinda Utami; Sunardi, Bambang; Marzuki, Marzuki; Minardi, Suhayat
Indonesian Physical Review Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.853 KB) | DOI: 10.29303/ipr.v2i1.20

Abstract

This research was conducted as one of the earthquake disaster mitigation efforts in Nusa Tenggara Barat region, because this region is one of the regions in Indonesia which has a relatively high level of seismicity. The purpose of this research is to determine seismotectonic parameter, earthquake periodicity along with the average of seismicity rate changes in Nusa Tenggara Barat region. The data used in this research is the data sourced from the United States Geological Survey (USGS) and Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) from Januari 1973 until February 2015 for Bali Strait region up to Banda Sea with coordinate boundaries of 1140–1300 East Longitude and 40-130 South Latitude. This research was conducted using the maximum likelihood method with second party of software Zmap ver 6.0 also software ArcGis ver 10 to map seismotectonic parameter, periodicity and the average velocity of seismicity rate changes. Variation b value range between 0.972–1.44, a low value of b are associated with high stress levels, and vice versa. The a value range between 6.67- 9.1, its show that the regions with high a value experience a relatively high earthquake incidence rate, and vice versa. The density of earthquake is about -2.63 to -2.01 logN/km2 or the occurrence of earthquakes in the area is very rare. Earthquake periodicity with magnitude (M) 6 SR is 5 to 18 year, M 6.5 SR is 16 to 67 year, M 7 SR is 54 to 304 year, and M 7.5 SR is 178 to 1.386 year. The average of seismicity rate changes on a case that occurred in Sumbawa in 1982 is more than 125%, meanwhile the earthquake that occurred in 2009 is more than 75%.Copyright © 2019IPR. All rights reserved.