Kiman Siregar, Kiman
Agricultural Engineering Department, Syiah Kuala University, Banda Aceh, 23111, Indonesia

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

Tinjauan Penilaian Siklus Hidup Bahan Bakar Biodiesel di Indonesia Siregar, Kiman
Rona Teknik Pertanian Vol 7, No 2 (2014): Volume 7, No. 2, Oktober 2014
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.247 KB) | DOI: 10.17969/rtp.v7i2.2648

Abstract

Abstrak. Saat ini permasalahan lingkungan menjadi pertimbangan yang sangat penting dalam produksi biodiesel. Meskipun sumber energi ini (biodiesel) dianggap sebagai karbon netral, namun dalam rangkaian proses produksinya masih menghasilkan berbagai gas berbahaya ke lingkungan. Negara-negara Eropa dan Amerika mengklaim bahwa produksi biodiesel dari minyak kelapa sawit memberikan kontribusi emisi karbon ke atmosfer sepanjang jalur produksinya. Selain itu, US EPA-NODA dan EU RED menyatakan bahwa biodiesel dari minyak kelapa sawit hanya dapat mengurangi emisi GWP 17%  dan 19% dibandingkan dengan bahan bakar berbasis fosil. Mengingat bahwa persyaratan minimum US adalah 20% dan EU adalah 35%, maka minyak kelapa sawit dari Indonesia mengalami kesulitan untuk memasuki pasar global. Pendekatan ilmiah harus dilakukan oleh Indonesia untuk mengatasi masalah ini. Tinjauan dari berbagai literatur menyebutkan bahwa keberlanjutan produksi biodiesel dari kelapa sawit lebih baik dibandingkan jarak pagar, bahkan apabila dibandingkan dengan bahan baku yang lain seperti lobak. Tinjauan dari berbagai literatur menyebutkan bahwa nilai karbon yang dapat diserap oleh hutan primer lebih tinggi dari hutan sekunder dan dari perkebunan kelapa sawit. Kondisi inilah yang menjadi alasan mengapa dunia menyebutkan bahwa Indonesia sebagai penyebab pemanasan global, meskipun penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan berdasarkan data terakhir di Indonesia. Dari kondisi ril di Indonesia diperoleh nilai GRK sebelum produksi stabil yaitu 2.575,47 kg-CO2eq./ton-minyak biodiesel (BDF) untuk minyak kelapa sawit dan 3.057,74 kg-CO2eq./ton-BDF untuk minyak jarak pagar. Ketika produksi sudah stabil diperoleh nilai GRK sebesar 1.511,96 kg-CO2eq./ton-BDF untuk minyak kelapa sawit and 380,52 kg-CO2eq./ton-BDF untuk minyak jarak pagar. Jika kita bandingkan dengan minyak solar, maka nilai emisi CO2eq. dapat diturunkan  49,27 % untuk biodiesel dari minyak kelapa sawit dan 88,45 % untuk biodiesel dari minyak jarak pagar. Review of Life Cycle Assesment of Biodiesel in Indonesia Abstract. Currently, environmental consideration becomes the most important issue in biodiesel production. Eventhough source of energy is considered as carbon neutral, the production path may release various environmentally hazardous gasses. European and American countries claim that production of biodiesel from palm oil contributes carbon emission to the atmosphere along its production path. Furthermore, US EPA-NODA and EU RED stated that palm oil based biodiesel can only reduce emission of GWP by 17 % and 19 % compared to fossil-fuel based. Considering on the minimum requirement is 20 % for US and 35 % for EU, CPO from Indonesia experiences difficulties to enter the global market. Scientific approach should be undertaken by Indonesia to address this issue. Summary of the literature mentions that the sustainability of biodiesel from palm oil is better than Jatropha curcas, compared to other sources of raw materials, such as rapeseed. Summary of the literature mentions that the value of carbon that can be absorbed by primary forest is higher than secondary forest and palm oil plantation. This is the reason why world claims Indonesia on global warming issues although further research is still needed based on the latest data. From the real condition in Indonesia, in which GHG value before stable productivity is 2 575.47 kg-CO2eq./ton-Biodiesel fuel(BDF) for oil palm and 3 057.74 kg-CO2eq./ton-BDF for Jatropha curcas. When the productivity has reached stability, the GHG value is  1 511.96 kg-CO2eq./ton-BDF for oil palm and 380.52 kg-CO2eq./ton-BDF for Jatropha curcas. If we compared to diesel fuel, CO2eq. emission is reduced up to 49.27 % and 88.45 % for BDF-CPO and BDF-CJCO, respectively.
Strategy to Reduce GHG Emission and Energy Consumption at Process Production of Biodiesel Using Catalyst From Crude Palm Oil (CPO) and Crude Jatropha Curcas Oil (CJCO) in Indonesia Siregar, Kiman
International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology Vol 5, No 5 (2015)
Publisher : International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (932.578 KB) | DOI: 10.18517/ijaseit.5.5.575

Abstract

Crude palm oil (CPO) is one kind of biologic resource that has been widely produced for biodiesel fuel, including Indonesia as the world main producer of palm oil. However, CPO is a food resource. This drives Indonesia to find another alternative source for biodiesel production. One promising source is Jatropha curcas L. which is considered as non-edible industrial plant used for biodiesel fuel. Jatropha curcas could be planted in marginal soil, semi dry climate, and suitable in tropical and subtropic climate. According to those aforementioned situations, an effort to address this issue should be conducted by identifying and presenting actual condition of Indonesian palm oil and Jatropha curcas estate. In this research, LCA is used to analyze the prospect of oil palm and Jatropha curcas development. The impact assessment calculation on stable production is lower than before-stable production. By considering that 4/5 or 20 years of 25 years of its life cycle lie on stable production, appropriate calculation method is needed. Agro-chemical utilization such as fertilizer, insecticides, pesticides, and fungicides produces significant contribution to environmental impact in biodiesel production. It is accounted by 50.46% for oil palm and 33.51% for Jatropha curcas. The use of organic fertilizer very influences the reduction of GHG emission value in fertilization sub-process. It could reduce up to 96.2 % for oil palm and 76.8% for Jatropha curcas. In term of electricity generation, shows that Jatropha curcas oil based biodiesel is better than fossil fuel. The improvement of Indonesian power plant should consider the utilization of low GHG emission fuel, such as natural gas and biodiesel fuel.
Rancang Bangun Mesin Cold Storage Sistem Pendinginan Kompresi Uap Pada Penyimpanan Buah Nanas (Annanas comosus) Ferdynanda, Al Hulil Akbar; Ratna, Ratna; Siregar, Kiman
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.919 KB)

Abstract

Abstrak. Buah nanas (Ananas Comosus) merupakan salah satu buah yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, memiliki nilai gizi yang tinggi, kaya akan vitamin A, B, C, dan mineral (kalsium, fosfor, dan besi), dan mengandung senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan (polifenol dan flavonoid). Masalah yang sering timbul pada buah nanas yaitu mempertahankan mutu dan kualitas. Hal tersebut dapat dipertahankan jika dilakukan penanganan pasca panen yang stepat salah satunya penyimpanan suhu rendah. Tujuan penelitian ini yaitu merancang mesin cold storage sistem pendinginan kompresi uap dengan suhu yang harus dicapai yaitu 7°C, menghitung lama pencapaian suhu 7°C, beban pendinginan bahan, dan COP mesin. Penelitian ini dilakukan berdasarkan 3 tahapan, pertama menggambar rancangan cold storage dengan software AutoCad. Kedua pemasangan alat dan bahan sesuai dengan gambar rancangan. Ketiga pengujian mesin cold storage dengan suhu yang harus tercapai yaitu 7°C dan pengambilan data dengan menggunakan bahan nanas sebanyak 4 buah dengan berat total 5,58 kg serta dihitung parameter penelitian seperti lama pencapaian suhu 7°C, beban pendinginan bahan, dan COP mesin. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lama waktu pencapaian suhu 7°C dari pengujian bahan dengan suhu awal 30°C dan suhu akhir 7°C yaitu 16.883 detik (4 jam 41 menit 23 detik). Beban pendinginan bahan dengan berat total nanas utuh sebesar 5,58 kg dan cp buah nanas 3,68 kJ/kg°C yaitu 472,19 kJ. COP mesin cold Storage dari penelitian ini adalah 2,45, jika nilai pada mesin cold storage semakin besar maka semakin efisien hasil kerja mesin tersebut, mesin cold storage dalam penelitian ini termasuk kedalam mesin pendinginan lambat.Design Cold Storage Machine Based on Steam Compressed Cooling System For Pineapple Fruit Storage (Annanas comosus)Abstrack. Pineapple fruit (Ananas Comosus) is one of the most popular fruits of Indonesian society, has high nutritional value, is rich in vitamins A, B, C, and minerals (calcium, phosphorus and iron), and contains potentially antioxidant compounds (polyphenols and flavonoids). Problems often arise in the pineapple is to maintain grade and quality. This can be maintained if post-harvest handling is correctly treated, one of which is cold storage. The purpose of this research is to design cold storage engine of vapor compression cooling system with temperature that must be reached that is 7 ° C, to calculate the duration of temperature 7 ° C, material cooling load, and COP of machine. The research was conducted based on 3 stages, first drawing cold storage design by using AutoCad software. The second one is to install the tools and materials in accordance with the design drawings. The third is to test the cold storage machine with temperature that must be reached is 7 ° C and data retrieval using pineapple as much as 4 pieces with total weight 5,58 kg and calculated research parameters such as temperature 7 ° C, material cooling, and COP machine . The results of this study indicate that the duration of temperature 7 ° C from material testing with the initial temperature of 30 ° C and the final temperature of 7 ° C is 16,883 seconds (4 hours 41 minutes 23 seconds). The cooling load of the material with the total weight of whole pineapple is 5.58 kg and cp pineapple 3.68 kJ / kg ° C is 472.19 kJ. COP cold storage engine of this research is 2.45, if the value of the cold storage machine is greater then the more efficient the work of the machine, cold storage engine in this study included into the slow rate cooling machine.
The Design of Power Plant Biomass in Isolated Are From National Electricty Company in Indonesia With Aplication of Tar Wet Scrubber and Filter Gas Siregar, Kiman; Alamsyah, Rizal; Ichwana, Ichwana; Sholihati, Sholihati; Tou, Saminuddin B.
Rona Teknik Pertanian Vol 10, No 2 (2017): Volume 10, No. 2, Oktober 2017
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v10i2.10007

Abstract

Abstrak. Mesin gasifikasi bertujuan untuk menghasilkan gas mampu bakar (CO, H2, CH4).  Gas mampu bakar yang dihasilkan dapat digunakan untuk menggantikan fossil fuel untuk menjalankan gas engine. Namun gas mampu bakar yang dihasilkan tersebut mengandung tar (kotoran) yang masih tinggi, sehingga terjadi pengotoran filter engine dan mengakibatkan mesin tidak dapat dioperasikan dalam waktu yang cukup lama. Penelitian ini bertujuan untuk mendisain Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) pada daerah terisolasi dari jaringan listrik PT.PLN (Persero) di Indonesia melalui aplikasi tar wet scrubber dan gas filter. Mesin gasifier yang dirancang berupa tipe downdraft dengan kapasitas terpasang 25 kW. Tambahan komponen rangkaian PLTBm yang dirancang adalah  tar wet scrubber, gas filter dan gas engine. Secara keseluruhan mesin PLTBm yang dirancang terdiri dari : (1)Tangki pengisian biomassa, (2)Tangki biomassa, (3)Reaktor tipe downdraft, (4)Cyclon, (5)Tar wet schrubber, (6)Water tank, (7)Gas filter, (8)Blower, (9)Gas engine kapasitas 25 kW, (10)Air inlet nozzle, (11)Connection pipe, (12)Termometer indicator, (13)Exhaust gas, (14)Pressure indicator. Pengurangan nilai tar selain menggunakan karbon aktif, juga menggunakan sistem perangkap kotoran gas (wet scrubber). Gasifier yang digunakan pada penelitian ini memiliki diameter reaktor 900 mm dan tinggi 1000 mm. Cyclon memiliki diameter 580 mm dengan tinggi 1766 mm. Gas filter memiliki panjang 700 mm, tinggi 700 mm dan lebar 700 mm. Tar wet scrubber terdiri dari 5 tabung (diameter tabung 300 mm) yang terangkai satu dengan yang lainnya dengan tujuan untuk menangkap tar yang masih terkandung dalam gas mampu bakar yang dihasilkan dari reaktor gasifikasi dengan dimensi total yaitu lebar 1750 mm dan tinggi 1300 mm.
Modifikasi dan Uji Kinerja Alat Pengering Energi Surya-Hybrid Tipe Rak untuk Pengeringan Ikan Teri Hanafi, Risman; Siregar, Kiman; Nurba, Diswandi
Rona Teknik Pertanian Vol 10, No 1 (2017): Volume 10, No. 1, April 2017
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.535 KB) | DOI: 10.17969/rtp.v1i1.7447

Abstract

Abstrak. Pada saat musim panen ikan, para nelayan banyak mendapatkan ikan teri sebagai hasil tangkapan dengan jumlah yang sangat besar. Karena jumlah yang sangat banyak, terkadang ikan teri tidak habis terjual. Hal tersebut mengakibatkan ikan teri membusuk jika tidak ada tempat pengawetan (cool storage). Salah satu cara yang dilakukan nelayan adalah dengan mengeringkan ikan teri tersebut secara alami (penjemuran dibawah sinar matahari). Alat pengering surya tipe rak adalah alat pengering berbentuk kotak yang memanfaatkan matahari sebagai energi termalnya. Adapun kendala dari alat pengering ini adalah hanya memanfaatkan panas dari energi matahari sehingga ketika cuaca dalam keadaan mendung atau saat malam tiba alat ini tidak bisa difungsikan. Tujuan penelitian ini adalah memodifikasi alat pengering surya tipe rak, menjadi alat pengering hybrid untuk pengeringan ikan teri. Hasil penelitian diperoleh total efisiensi penggunaan energi selama pengeringan yaitu, untuk pengeringan uji kosong hybrid adalah 0,010%, untuk pengeringan uji hybrid sebesar 0,695% dan untuk pengeringan uji surya sebesar 20,319%. Sementara untuk lamanya waktu pengeringan, uji hybrid ulangan 1 selama 7 jam, uji hybrid ulangan 2 selama 8 jam, uji surya ulangan 1 selama 10 jam dan uji surya ulangan 2 selama 11 jam. Untuk total energi tersedia, pengeringan hybrid sebesar 305,838 MJ dan pengeringan surya sebesar 9,896 MJ. Modifications and Performance Test Instrument Solar-Hybrid Dryer Type Rack for Drying AnchovyAbstract. At the time of harvest fish, fishermen get a lot of anchovy as catches with very large amount. Due to the very large number of these, sometimes anchovy is not sold out. This resulted in an anchovy rot if not done preservation (cool storage). One way in which the fisherman is by drying anchovy naturally (the drying in the sun). A tool rack type solar dryer is a box-shaped dryer that utilize the sun as thermal energy. The constraints of this tool is only utilizing the heat from solar energy, so when the weather is cloudy or at nightfall these tools can not function. The research aims to modify the tool rack type solar dryer to be a hybrid dryer for drying anchovy. The results were obtained that total efficiency of energy use during drying is for drying empty test hybrid is 0,010%, for drying hybrid test at 0,695%, and for drying solar test of 20,319%. As for the length of drying time, hybrid test replicates 1 for 7 hours, hybrid test replicates 2 for 8 hours, solar test replicates 1 for 10 hours, and solar test replicates 2 for 11 hours. For the total energy available, hybrid drying of 305,838 MJ and solar drying of 9,896 MJ.
Near Infrared Technology As a Robust and Environmental Friendly Approach To Biofuel Analysis: Rapid Biodiesel Classification and Quality Prediction Munawar, Agus Arip; Siregar, Kiman; Agussabti, Agussabti
Rona Teknik Pertanian Vol 10, No 2 (2017): Volume 10, No. 2, Oktober 2017
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.699 KB) | DOI: 10.17969/rtp.v10i2.10005

Abstract

Abstract. The use of ethanol and biodiesel, which are alternative fuels or biofuels, has increased in the last few years. Modern official standards list 25 parameters that must be determined to certify biodiesel quality. In order to determine biofuel quality, several methods were already widely used in which most of them were based on solvent extraction followed by other laboratory procedures. Yet, these methods are expensive, laborious and complicated processing for samples. Near infrared reflectance spectroscopy (NIRS) can be considered as a fast, pollution-free and non-destructive method in determining biofuel quality parameters. The objective of this study is to apply near infrared technology in classifying biodiesel based on KOH (0.3, 0.5 and 0.7) and to predict related biodiesel quality properties (water content, linolenic fatty acid, oleic acid,  and stearic acid) based on its infrared reflectance. Biodiesel infrared spectrum was acquired in wavelength range from 1000 to 2500 nm for different mentioned three KOH content. Principal component analysis (PCA) with non-iterative partial least square (NIPALS) was applied to analyze biodiesel spectral data. The result showed that two principal components (PC1=97% ad PC2 = 2%) based on infrared reflectance data were successfully able to recognize and classify biodiesel based on their used KOH. Moreover, the wavelength range of 1000 – 1140 were to be believed related to linolenic fatty acid whilst 1450 nm and 1930 nm were associated with water content. Stearic acid can be predicted in wavelength range of 1330 – 1380 nm and wavelength range of 1725 – 1790 nm were related to oleic acid of biodiesel. This may conclude that infrared technology was feasible to use as a rapid, effective and non-invasive method in biofuel classification and evaluation.
Peningkatan Kinerja Mesin Diesel dengan Produksi Biodiesel dari Kelapa (Coconut Nufera) dan Unjuk Kinerjanya Berbasis Transesterifikasi dengan Sistim Injeksi Langsung Harsono, Soni Sisbudi; Siregar, Kiman
Rona Teknik Pertanian Vol 8, No 2 (2015): Volume 8, No. 2, Oktober 2015
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.785 KB) | DOI: 10.17969/rtp.v8i2.3004

Abstract

Abstrak. Sampai sekarang, penggunaan biodiesel khususnya biodiesel dari kelapa di Indonesia belum menyentuh kepada penggunaan sebagai bahan bakar, baik untuk bahan bakar transportasi ataupun bahan bakar industri. Dari perkembangan yang ada terutama di luar negeri bahan bakar biodiesel sudah digunakan sebagai bahan bakar transportasi meskipun hanya dalam bentuk campuran. Ketersediaan bahan bakar minyak bumi semakin hari semakin terbatas. Selain karena alasan ketersediaan minyak bumi yang terbatas, pengembangan produk biodiesel dari minyak tumbuhan seperti minyak sawit, juga diarahkan pada sifat bahan bakunya yang dapat diperbaharui. Secara teknis hasil pengujian laboratorium terhadap unjuk kerja mesin diesel menghasilkan bahwa campuran biodiesel 30% dengan 70% solar mempunyai daya maksimum 5,36 HP pada 2.190 rpm lebih rendah bila dibandingkan dengan solar 100%, 5,41 HP pada 2.200 rpm. Sedangkan torsi maksimum campuran biodiesel 30% adalah 1,748 Nm lebih rendah dari solar 100% 1,761 Nm. Kandungan carbon monoxide campuran biodiesel dan hydro carbon campuran 30% biodiesel dengan 70% solar juga lebih rendah daripada solar 100%.Improved Performance of Diesel Engines With the Production of Biodiesel From Coconut (Coconut Nufera) and Performanced Based on Direct Injection System With TransesterificationAbstract. Use of biodiesel especially from CPO has not been popularly used either for transportation nor for industrial fuel, while in foreign countries, it has been used for transportation fuel even just be blended. As the available of fosil fuel ten to decrease, the use of a renewable fuel biodiesel will be promising. This study aimed to evaluate the performance of amall diesel engine using biodiesel as fuel source. Performance test of small diesel engine using biodiesel was conducted in the laboratory by using engine dynamometer. The results shown that mixing 30% of biodiesel and 70% fosil fuel (petro diesel) gave the best performance among other percentage mixture. Mixing 30% of biodiesel and 70% fosil fuel gave maximum power 5.36 HP at 2190 rpm and maximum torque 1.748 Nm. Its lower comparing than pure petro diesel that gave 5.41 HP at 2200 rpm and maximum torque 1.761 Nm. The gas emission was also evaluated simultaneously. The results shown that the mixing 30%: 70% produced low carbon monoxide (CO) and low hydrocarbon (HC) than petro diesel. 
Pendugaan Umur Simpan Tepung Biji Durian (Durio Zibethinus) Dengan Menggunakan Persamaan Arrhenius Suhaimi, Suhaimi; Ratna, Ratna; Siregar, Kiman
Rona Teknik Pertanian Vol 9, No 1 (2016): Volume 9, No. 1, April 2016
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.747 KB) | DOI: 10.17969/rtp.v9i1.4409

Abstract

Abstrak. Suhu merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perubahan mutu tepung biji durian. Oleh karena itu dalam menduga kecepatan penurunan mutu selama penyimpanan faktor suhu harus selalu diperhitungkan. Keadaan suhu penyimpanan tetap dari waktu ke waktu maka penurunan mutu cukup dengan menggunakan persamaan arrhenius. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui pengaruh larutan natrium metabisulfit (Na2S2O5) dan pengukusan terhadap warna tepung biji durian yang dihasilkan, dan menduga umur simpan tepung biji durian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa umur simpan tepung biji durian pada suhu 30 0C tanpa perlakuan = 55,70 hari, perlakuan natrium = 61,05 hari, perlakuan pengukusan 10 menit = 53,21, perlakuan pengukusan 20 menit = 61,32 hari dan perlakuan pengukusan 30 menit = 44,07 hari. Pada suhu 35 0C tanpa perlakuan = 51,82 hari, natrium perlakuan = 53,83 hari, perlakuan pengukusan 10 menit = 48,96 hari, perlakuan pengukusan 20 menit = 63,18 hari dan perlakuan pengukusan 30 menit = 42,59 hari. Pada suhu 40 0C tanpa perlakuan = 50.50 hari, perlakuan natrium = 46.23 hari, perlakuan pengukusan 10 menit = 65,80 hari, perlakuan pengukusan 20 menit = 54,86 hari, dan perlakuan pengukusan 30 menit = 39,40 hari. Suhu 55 0C tanpa perlakuan = 19,83 hari, perlakuan natrium = 22,78 hari, perlakuan pengukusan 10 menit = 18,65 hari, perlakuan pengukusan 20 menit = 26,73 hari, dan perlakuan pengukusan 30 menit = 27,14 hari. Dari penelitian ini didapat lima model yaitu K = 291339554,8 e-6443(1/T),K = 114691,3 e-4025(1/T), K = 35596,4 e-3676(1/T), K = 23155,7 e-3570(1/T), K = 211,6 e-2016(1/T).  Estimation Save Life Flour Seeds Durian (Durio zibethinus) Using Arrhenius Equation Abstract. Temperature is a factor affecting the change in the quality of durian seed flour. Therefore the suspect speed deterioration during storage temperature factors should be taken into account. State storage temperature fixed from time to time, the degradation simply by using the Arrhenius equation. The purpose of this study was to determine the effect of sodium metabisulfite (Na2S2O5) and steaming towards color durian seed flour produced, and suspect the shelf life of durian seed flour. The results of this study indicate that the shelf life of durian seed flour at 30 0C without treatment = 55.70 days, sodium treatment = 61.05 days, treatment steaming 10 minutes = 53.21, steaming treatment 20 minutes = 61.32 days and steaming treatment 30 minutes = 44.07 days. At a temperature of 35 0C without treatment = 51.82 days, sodium treatment = 53.83 days, treatment steaming 10 minutes = 48.96 days, treatment steaming 20 minutes = 63.18 days and steaming treatment 30 minutes = 42.59 days. At a temperature of 40 0C = 50,50 days without treatment, treatment of sodium = 46.23 days, treatment steaming 10 minutes = 65,80 days, treatment steaming 20 minutes = 54.86 days, and treatment of steaming 30 minutes = 39.40 days. Temperature 55 0C without treatment = 19.83 days, the treatment of sodium = 22.78 days, treatment steaming 10 minutes = 18.65 days, treatment steaming 20 minutes = 26.73 days, and treatment of steaming 30 minutes = 27.14 days. From this study, obtained five models, namely K = 291339554,8 e-6443(1/T), K = 114691.3 e-4025(1/T), K = 35596.4 e-3676(1/T), K = 23155.7 e-3570(1/T), K = 211.6 e-2016(1/T).
RANCANG BANGUN MESIN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOMASSA (PLTBm) PADA DAERAH TERISOLASI DARI JARINGAN LISTRIK PT.PLN (Persero) DI INDONESIA MELALUI APLIKASI TAR WET SCRUBBER DAN GAS FILTER Siregar, Kiman; Alamsyah, Rizal; Ichwana, Ichwana; Sholihati, Sholihati; B.Tou, Saminuddin
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL FKPT-TPI 2017
Publisher : Jurnal Sains dan Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.875 KB)

Abstract

Mesin gasifikasi bertujuan untuk menghasilkan gas mampu bakar (CO, H2, CH4). Gas mampu bakar yang dihasilkan dapat digunakan untuk menggantikan fossil fuel untuk menjalankan gas engine. Namun gas mampu bakar yang dihasilkan tersebut mengandung tar (kotoran) yang masih tinggi, sehingga terjadi pengotoran filter engine dan mengakibatkan mesin tidak dapat dioperasikan dalam waktu yang cukup lama. Penelitian ini bertujuan untuk mendisain Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) pada daerah terisolasi dari jaringan listrik PT.PLN (Persero) di Indonesia melalui aplikasi tar wet scrubber dan gas filter. Mesin gasifier yang dirancang berupa tipe downdraft dengan kapasitas terpasang 25 kW. Tambahan komponen rangkaian PLTBm yang dirancang adalah tar wet scrubber, gas filter dan gas engine. Secara keseluruhan mesin PLTBm yang dirancang terdiri dari : (1)Tangki pengisian biomassa, (2)Tangki biomassa, (3)Reaktor tipe downdraft, (4)Cyclon, (5)Tar wet schrubber, (6)Water tank, (7)Gas filter, (8)Blower, (9)Gas engine kapasitas 25 kW, (10)Air inlet nozzle, (11)Connection pipe, (12)Termometer indicator, (13)Exhaust gas, (14)Pressure indicator. Pengurangan nilai tar selain menggunakan karbon aktif, juga menggunakan sistem perangkap kotoran gas (wet scrubber). Gasifier yang digunakan pada penelitian ini memiliki diameter reaktor 900 mm dan tinggi 1000 mm. Cyclon memiliki diameter 580 mm dengan tinggi 1766 mm. Gas filter memiliki panjang 700 mm, tinggi 700 mm dan lebar 700 mm. Tar wet scrubber terdiri dari 5 tabung (diameter tabung 300 mm) yang terangkai satu dengan yang lainnya dengan tujuan untuk menangkap tar yang masih terkandung dalam gas mampu bakar yang dihasilkan dari reaktor gasifikasi dengan dimensi total yaitu lebar 1750 mm dan tinggi 1300 mm. Kata kunci : PLTBm, energi terbarukan, tar wet scrubber, biomassa, gas filter 
Analisis Pindah Panas pada Ruang Fermentasi Biji Kakao (Theobroma cacao L) dengan Menggunakan Kotak Kayu dan Styrofoam Rahmi, Fazzatul; Zulfahrizal, Zulfahrizal; Siregar, Kiman
Rona Teknik Pertanian Vol 10, No 1 (2017): Volume 10, No. 1, April 2017
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.448 KB) | DOI: 10.17969/rtp.v1i1.7448

Abstract

Abstrak. Fermentasi merupakan kegiatan untuk melepaskan zat lendir dari permukaan kulit biji dan menghasilkan biji mutu dan aroma yang baik. Selain itu fermentasi juga dilakukan untuk menghindari tumbuhnya jamur selama masa penyimpanan. Selama fermentasi berlangsung akan terjadinya perpindahan panas/ suhu di dalam kotak fermentasi. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian yaitu untuk melihat perubahan suhu selama proses fermentasi, mengetahui pengaruh bahan kotak (kayu dan styrofoam) terhadap perpindahan panas di dalam kotak fermentasi dan perpindahan panas dari dalam kotak fermentasi terhadap lingkungan luar. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa suhu ideal fermentasi pada kotak kayu dihasilkan pada hari ke-5, sedangkan kotak styrofoam suhu ideal dihasilkan pada hari ke-3. Perpindahan panas pada bahan kayu suhunya lebih tinggi dibandingkan dengan bahan styrofoam. Hal ini disebabkan karena panas pada kotak kayu keluar lebih cepat, sehingga suhu pada proses fermentasi bisa lebih rendah dibandingkan menggunakan kotak styrofoam. Hasil fermentasi biji kakao dengan menggunakan kotak kayu didapatkan biji kakao yang bagus yaitu pada hari ke-5 fermentasi dan kotak styrofoam pada hari ke-5 fermentasi didapatkan biji kakao yang berjamur. Analysis Of Transfer Heat Room Of Cocoa Seed Fermentation (Theobroma cacao L.) Using Wood Box and StyrofoamAbstract. Fermentation is an activity to remove mucous substances from the skin surface to produce quality of seed and good aroma. In addition, fermentation also done to avoid the growth of mold during storage period. During fermentation, the heat transfer / temperature will be happen inside the fermentation box. The aim of this study is to observe the changes of temperature during the fermentation process, knowing the effect of packaging materials (wood and styrofoam) to heat transfer in the fermentation box and heat transfer from inside of fermentation box to the environment in the outside. The results showed that the ideal temperature of fermentation in wooden boxes was obtained in the fifth day, while the ideal temperature of fermentation in styrofoam was obtained in the third day. Heat transfer in the wood material is higher than in the Styrofoam material. This was due of the heat in a wooden box go out faster, so that the temperature in the fermentation process may be lower than using a styrofoam box.The result of cocoa seed fermentation using a wooden box obtained a good cocoa seed on the fifth day of fermentation and while using a styrofoam box cocoa seed were moldy in the fifth day.