Articles

Found 12 Documents
Search

Perlunya Manajemen Pengelolaan Well Being Bagi Pendidik Miswari, Miswari
Jurnal Profesi Keguruan Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Profesi Keguruan
Publisher : LP3 Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.33 KB) | DOI: 10.7290/jpk.v4i1.14222

Abstract

Pendidik merupakan amanah yang amat strategis dalam menunjang proses dan hasil  pendidikan secara keseluruhan. Bahkan pendidik sebagai gerbang awal yang representatif dalam kondisi dan kinerja pendidikan. Pengaruh positif pendidik di dalam kelas amat sangat penting untuk menjawab tantangan pendidikan dan memandu pemikiran peserta didik yang masih sangat membutuhkan bimbingan menuju pengembangan potensi dirinya. Pendidik bukan hanya transfer of knowledge akan tetapi juga mendidik terkait dengan nilai-nilai, dimana memberikan, menanamkan, dan menumbuhkan nilai pada peserta didik. Maka dari itu, kinerja pendidik berdasar pada kompetensi dan berlandaskan kualitas kepribadian yang harus dapat terwujudkan secara nyata. Kompetensi pendidik dapat mewujudkan kemampuannya dalam  kualitas kepribadian untuk berinteraksi dengan lingkungan pendidikan agar kebutuhan dan tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif. Well-Being pendidik berkaitan dengan bagaimana seorang pendidik mampu berfungsi positif secara psikologis dalam hidupnya, yang diukur dari enam aspek yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan dalam hidup serta pertumbuhan pribadi. Well-Being pendidik dapat meningkatkan kesadaran kinerjanya lebih tinggi dalam kompetensi dan kewajibannya menjadi seorang pendidik. Akan lebih baik jika well-being yang dimiliki pendidik lebih terarah dan terstruktur dengan dikelola sesuai fungsi manajemen. Dengan memiliki well-being seorang pendidik dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik terhadap peserta didiknya.The educator is a very strategic mandate to support the process and the result of education as a whole. Even educators as a representative early gate in educational conditions and performance. The positive influence of educators in the classroom is very important to answer the educational challenges and guide the thinking of learners who still desperately need guidance towards the development of his potential. Educators are not only transfer of knowledge but also educate related to values, which give, instill, and grow value to the learners. Therefore, the performance of educators based on competence and based on the quality of personality that must be realized in real. The competence of educators can realize their ability in the quality of personality to interact with the educational environment so that the needs and goals of education can be achieved effectively. Well-Being educators relate to how an educator is able to function psychologically positively in his life, measured from six aspects of self-acceptance, positive relationships with others, autonomy, environmental mastery, goals in life and personal growth. Well-Being educators can raise their awareness of higher performance in competence and their obligation to become an educator. It would be better if the well-being of the educator is more directed and structured with managed according to management functions. By having a well-being an educator can interact and communicate well to learners.
SARANA OLAHRAGA DENGAN PENEKANAN RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI WADAH INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT DI KABUPATEN KUBU RAYA Miswari, Miswari
Jurnal Online Mahasiswa S1 Arsitektur UNTAN Vol 3, No 2 (2015): Jurnal online mahasiswa Arsitektur Universitas Tanjungpura
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1373.268 KB)

Abstract

Kalimantan Barat memiliki banyak potensi dari sisi geografis maupun pada sumber daya manusianya. Hal tersebut seiring dengan pembinaan dan kesehatan masyarakat yang saat ini hanya dilakukan oleh pemerintah daerah pada sebuah Sarana Olahraga Sultan Syarif Abdurahman yang berfasilitas minim dan tidak memaksimalkan potensi yang ada. Serta tidak adanya Sarana Olahraga yang mampu mewadahi setiap fasilitas olahraga serta menunjang kebutuhan olahraga dengan standar Keolahragaan baik itu untuk kepentingan atlet serta untuk kesehatan masyarakat. Berangkat dari kebutuhan dan permasalahan tersebut memberikan gagasan pada penulis berupa kajian dan perancangan sarana olahraga dengan penekanan ruang terbuka hijau sebagai wadah interaksi sosial masyarakat di bupaten Kubu Raya dengan potensi yang dimiliki Kabupaten itu sendiri. Kajian dilakukan mengingat sarana olahraga dengan penekanan Ruang Terbuka Hijau memiliki kegiatan yang kompleks. Proses yang digunakan dalam perancangan ini adalah menggunakan tahapan gagasan, pengumpulan data, analisis, sintesis, pra rancangan dan pengembangan rancangan. Pendekatan konsep yang dilakukan pada perancangan ini ialah Ruang Terbuka Hijau sebagai wadah interaksi sosial masyarakat. Hal tersebut dibuat agar atlet dan masyarakat selain mendapatkan kesehatan jasmani, mereka juga dapat bersantai dan melepas penat dalam melakukan aktifitas kerja mereka sehari-hari.   Kata Kunci: Olahraga, Ruang Terbuka Hijau, Interaksi Sosial
Mu‘ḍilat al-aqlīyah al-Masīḥīyah fī ḥudūd balad al-sharī‘ah al-Islāmīyah Miswari, Miswari
Studia Islamika Vol 25, No 2 (2018): Studia Islamika
Publisher : Center for Study of Islam and Society (PPIM) Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sdi.v25i2.6978

Abstract

This article aims to find out the facts about the dilemmas faced by Christians as a minority in Aceh Tamiang regarding their desire to have houses of worship. All this while, Christians can only worship in their own houses. Indeed, their worship activities are always suspected and monitored by majority citizens, who are predominantly Muslim. The government and majority citizens are not at all concerned with the needs of Christian worship facilities. Actually, FKUB is a government institution that should be objective for this case, but they almost failed to defend for the needs of minorities. FKUB is only able to convey religious aspirations to government, but they have no power at all to deal with the case in the face of the regime. Rules made by the central government make difficulties for minority to establish their houses of worship. In addition, certain policies regulated by the Governor of Aceh have also contributed to create impossibility for Christian who would like to build their houses of worship. The sincere tolerance can only be realized by arousing the sympathy of the Muslims as the majority. They must be vehemently able to feel how if they are in position as minority.DOI: 10.15408/sdi.v25i2.6978
Peningkatan Kompetensi Guru PAUD dalam Rangka Pengembangan Metode Tahsin Al Qur’an untuk Perfomansi Peserta Didik di Wilayah Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, Purwodadi) Mawanti, Dwi; Hasona, Ahmad Hasmi; Miswari, Miswari
Dimas: Jurnal Pemikiran Agama untuk Pemberdayaan Vol. 16 No. 1 Tahun 2016
Publisher : LP2M of Institute for Research and Community Servises- State Islamic University (UIN) Wali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.128 KB) | DOI: 10.21580/dms.2016.161.897

Abstract

Community service activities such as mentoring in training methods tahsin quran aims to provide mentoring, knowledge and skills in Tahsin method for early childhood teachers for early childhood and kindergarten in kedungsepur region. This activity will be an innovative stimulus that Raudhatul Athfal and kindergarten teachers can interact and brainstorm in addressing the needs of the introduction of increasingly complex, particularly related to methods tahsin quran. The target audience in the activities is teachers Raudhatul Athfal and kindergartens in the region kedungsepur totaling 100 people. Assistance in the development of methods tahsin done with lectures, demonstrations and exercises are accompanied by question and answer. Lecture method is used to explain the concept of tahsin method. Demonstration methods used to denote a work process ie development stages tahsin learning the Qur’an, while the method of exercise to practice learning methods tahsin. While the question and answer method to allow participants to consult in overcoming obstacles in the learning method tahsin quran.The availability of sufficient expertise in the development of teaching tahsin methods for teacher’s Raudhatul Athfal or kindergartens in the region Kedungsepur, the enthusiasm of the participants, support of school principals on the implementation of activities and funding support from Islamic Higher Education Directorate of Religious Affairs in 2015 is implementation supporting these activities. The constraints faced is limited time for training.The benefits that can be obtained by the participants of this activity can know the various methods tahsin quran, such as: Nuroniyah, Qiraati, Ummi, and Yanbua. Kegiatan pengabdian pada masyarakat berupa pendam­pingan dalam pelatihan metode tahsin al-quran bertujuan untuk memberikan pendampingan, pengetahuan dan keterampilan dalam Metode Tahsin Untuk Anak Usia Dini Bagi Guru-Guru Paud Dan TK Di wilayah kedungsepur. kegiatan ini akan menjadi rangsangan inovatif agar para guru RA dan TK dapat saling berinteraksi dan brainstorming dalam menyi­kapi kebutuhan pengenalan yang kian kompleks, khususnya terkait metode tahsin al-quran. Khalayak sasaran dalam kegiatan PPM ini adalah guru-guru RA dan TK di wilayah kedungsepur yang berjumlah 100 orang. Pendampingan dalam pengembangan metode tahsin dilakukan dengan metode ceramah, demonstrasi dan latihan yang disertai tanya jawab. Metode ceramah digunakan untuk menjelaskan konsep metode tahsin. Metode demons­trasi dipakai untuk menunjukkan suatu proses kerja yaitu tahap-tahap pengembangan pembelajaran tahsin al-quran, sedangkan metode latihan untuk memprak­tikkan pembelajaran metode tahsin. Sementara metode tanya jawab untuk memberi kesempatan para peserta berkonsultasi dalam mengatasi kendala dalam pembelajaran metode tahsin al-quran.Ketersediaan tenaga ahli yang memadai dalam pengem­bangan pembelajaran metode tahsin bagi guru RA dan TK di wilayah kedungsepur, antusiasme peserta, dukungan kepala sekolah terhadap pelaksanaan kegiatan dan dana pendukung dari Diktis Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama tahun 2015 merupakan pendukung terlak­sananya kegiatan ini. Adapun kendala yang dihadapi adalah keterbatasan waktu untuk pelatihan.Adapu manfaat yang dapat diperoleh peserta dari kegiatan ini antara lain dapat mengenal beragam metode tahsin al-quran, seperti : Nuroniyah, Qiraati, Ummi, dan Yanbua.
PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU BAHASA ARAB: UPAYA PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN BAHASA ARAB Miswari, Miswari
Tadib Vol 15, No 02 (2010): Pendidikan Islam
Publisher : Faculty of Education and Teaching, Raden Fatah State Islamic University of Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.878 KB)

Abstract

Arabic subject is very important as a tool to  study and understand Islamic teaching. Arabic is not only important for the student at senior high level, but also for the college student. So, the subject has to be taught by competence teachers or lecturers. There are many ways to be professional as Arabic teacher. Among the ways are teacher should master the Arabic subject, learn more and feel that his knowledge has to be improved every time. Teachers also can improve the quality of learning process based on the standard, understand deeply about learning concept, and improving Arabic language countinously.
Mengelola Self Efficacy, Perasaan dan Emosi dalam Pembelajaran melalui Manajemen Diri Miswari, Miswari
Cendekia: Jurnal Kependidikan Dan Kemasyarakatan CENDEKIA VOL 15 NO 1 TAHUN 2017
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/cendekia.v15i2.910

Abstract

This study is grounded from the reality there are many students who do not yet have self efficacy during the learning process. This reality is a major problem of the declining quality of teaching and learning activities. This reality became a concern teacher to find a solution. This study aimed to describe the urgency, the rule and functions and methods that can be used teachers to foster self efficacy learners. The type of this study is a research library with a logical approach unrealistic. The data obtained through the study of assosiated libraries with realities on theground. While the results of the study is: first, self efficacylearners is very important in the learning process quality. Since he became the internal factors of learners to be ready to receive the knowledge.Second, the role and function of self efficacy in self learners can improve learning outcomes that a better qualified, because of the self-learners have the feeling that sure can judge him, controlling him, causing positive emotions about what he faced. Third, how to do to foster self efficacy is to train the management of self-learners. Self-management starts with the train-ability learners specify learning objectives, and be able to motivate and provide reinforcement to ourselves. هذه الدراسة تستندت على واقع الكفاءة الذاتية أثناء عملية التعلم. هذه احلقيقة هي املشكلة الرئيسية يف تدهور نوعية األنشطة التعليمية والتعلم. هذه احلقيقة هي أيضا مصدر االهتمام للمعلمني إلجياد حله. هدفت هذه الدراسة إىل وصف االستعجال، والقواعد، وظائف واألساليب اليت ميكن استخدامها من قبل املعلمني لتعزيز املتعلمني الكفاءة الذاتية. هذا البحث هو مكتبة األحباث مع نهج منطقي ليست واقعية. مت احلصول على البيانات من خالل باحث مكتبة مع الواقع على األرض. يف حني أن نتائج البحث هي: أوال، الكفاءة الذاتية للطالب أمر مهم جدا يف جودة العملية التعليمية. منذ توليه العوامل الداخلية املتعلمني لتكون جاهزة الستقبال املعرفة. ثانيا، دور ووظيفة الكفاءة الذاتية يف املتعلمني الذاتي ميكن أن حتسن نتائج التعلم العالي اجلودة، وذلك ألن الطالب لديهم شعور واضح ميكن تقييم والسيطرة على أنفسهم اليت ميكن أن تسبب املشاعر االجيابية حول ما واجه. ثالثا، كيفية زراعة املتعلمني الكفاءة الذاتية. هو خدعة لتدريب اإلدارة الذاتية املتعلمني. تبدأ اإلدارة الذاتية، مع القدرة على تدريب الطالب على حتديد أهداف التعلم وحتفيز وتوفري التعزيز لنفسه.
POSTMODERNISME SEBAGAI SOFISME: STUDI KRITIS HUMANIORA, EPISTEMOLOGI DAN SAINS PASCA MODERN Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 9 No 1 (2016): Vol. 9 No 1 Juni 2016
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah telah membuktikan bahwa sofisme adalah penyakit intelektual dan penyakit sosial yang sangat berbahaya. Sofisme muncul dari pandangan yang menolak objektivitas realitas. Pandangan demikian juga berlaku bagi penyakit skeptisme lainnya seperti sinisme dan romantisme. Gejala yang ditimbulkan oleh postmodernisme adalah sama dengan gejala-gejala yang memunculkan berbagai penyakit skeptisme. Tulisan ini berusaha membuktikan bahwa gagasan dan penemuan saintifik era postmodernisme adalah gejala-gejala yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit intelektual dan penyakit sosial sebagaimana pernah ditimbulkan oleh sofisme.
GAGASAN NURUDDIN AR-RANIRI DALAM TIBYAN FI MARIFAH AL-ADYAN Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 11 No 1 (2018): Vol. 11 No 1 Juni 2018
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.735 KB) | DOI: 10.32505/at.v11i1.527

Abstract

Tulisan ini hanya mengulas tentang narasi dalam  Tibyan fi Marifah Al-Adyan karya Nuruddin Ar-Raniri. Penulis berpendapat, redaksi klasik yang disampaikan Ar-Raniri dalam kitab tersebut sulit dipahami oleh pembaca kontemporer. Untuk itu, penulis hanya berusaha merarasikan ulang pesan-pesan Ar-raniri dalam Tibyan fi Marifah Al-Adyan. Tulisan ini diharapkan dapat mempermudah pemahaman atas gagasan Ar-Raniri. Tibyan fi Marifah Al-Adyan ditulis untuk meneguhkan identitas Ahlus-Sunnah Waljama’ah d Aceh pada Abad ke-16. Diharapkan para peneliti atas pemikiran Ar-Raniri dapat merujukartikel ini untuk memudahkan pemahaman atas Tibyan fi Marifah Al-Adyan.
KESADARAN EKSISTENSIAL Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 10 No 1 (2017): Vol. 10 No 1 Juni 2017
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.351 KB)

Abstract

Gagasan Islam Nusantara yang dikampanyekan belakangan ini merupakan hasil dari niat baik untuk meredam arus radikalisme berbungkus agama. Gagasan ini seyogiyanya tidak hanya sebatas gagasan sosiologis atau ritual semu tetapi harus memiliki landasan ontologi dan epistemologi yang mendalam. Ajaran sufi telah terbukti ampuh dalam meredam arus radikalisme. Ajaran ini pula sesuai dengan watak masyarakat Nusantara yang sebenarnya sangat menghargai perbedaaan dan menjunjung tinggi kedamaian. Hamzah Fansûrî  sebagai tokoh sufi Nusantara yang telah memberi banyak kontribusi bagi perkembangan intelektual dan kebudayaan Nusantara adalah sosok yang pemikirannya patut dijadikan rujukan kembali dalam upaya membangun fondasi Islam Nusantara. Pemikirannya tentang konsep Wujud yang satu yang darinya segala wujud yang menjelma berasal adalah gagasan yang harus dijadikan prinsip dan pedoman bagi warga Nusantara untuk mewujudkan kesadaran bahwa keberagaman adalah kekayaan yang harus kita rawat bersama. Gagasan Hamzah Fansûrî  dapat disebut sebagai Kesadaran Eksistensial sebab bila dipahami dengan baik akan menciptakan kesadaran yang melampaui inteleksi dan emosi. Ajaran Hamzah Fansuri tentang Kesatuan Wujud (Wahdat al-Wujûd) membuktikan bahwa seluruh makhuk berwujud dari Wujud Haqq Ta’ala. Karena itu, ajaran ini dapat menjadi pegangan yang jelas untuk menumbuhkan kesadaran melindungi dan merawat semua makhluk Allah. Kesadaran eksistensial ini adalah ajaran yang melampaui doktrin ortodoksi dan luapan emosi. Karena ajaran ini memiliki status ontologis yang tepat dan sistem epistemologi yang jelas.
THE KITE RUNNER OF KHALED HOSSEINI Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 11 No 2 (2018): Vol. 11 No 2 desember 2018
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.628 KB) | DOI: 10.32505/at.v11i2.738

Abstract

It is necessary for the writer to extract the description upon the contents of character analysis. The result of study might have produced the writer to expose the descriptive of the characters. The writer got starting to dig some advantages of describing the characters in the novel of ‘The Kite Runner’ through the story that is taking us from Afghanistan in the final days of the monarchy to the present, ‘The Kite Runner’ is the unforgettable, beautifully told story of the friendship between two boys growing up in Kabul. The Kite Runner is a novel about friendship, betrayal, and the price of loyalty. It is about the bonds between fathers and sons, and the power of their lies. Written against a history that has not been told in fiction before, The Kite Runner describes the rich culture and beauty of a land in the process of being destroyed. But with the devastation, Khaled Hosseini also gives us hope: through the novels faith in the power of reading and storytelling, and in the possibilities he shows for redemption.